Telepon Umum & Kecoak Nungging

coverlupusa

Judul: Telepon Umum & Kecoak Nungging

Seri: Lupus ABG

Penulis: Hilman Hariwijaya & Boim Lebon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 96 halaman

Terbit Perdana: Oktober 1999

Kepemilikan: Cetakan Keempat, September 2004

ISBN: 9789796554194

cooltext1660180343

Lupus jail!

Semua orang tau!

Lupus usil!

Semua orang ngerti!

Lupus centil!

Semua orang juga, eh, enggak ding!

Gara-gara ber-ail-ria dengan kecoak nungging, si Lupus bisa mesra ama Prudence!

“Cayangku, kamu tau nggak hewan bersel satu?”

“Amuba, honey.”

“Kalo hewan bersel banyak?”

“Enggak tau, tuh.”

“Amuba lagi kampanye! Hehehe!”

Tapi gara-gara kecoak nungging itu ngedatenya juga jadi berantakan!

Apa istimewanya kecoak nungging itu, kok bisa-bisanya bikin Lupus senang sekaligus sengsara? Pengen tau? Baca aja!

cooltext1660176395

Lupus sekarang sudah ABG alias Anak Baru Galau *eh. Maksudnya Anak Baru Gede, atau bahasa resminya sih Remaja. Ketika masih remaja, saya teringat dengan perilaku seenaknya sendiri dan semau gue, tapi tak jarang menimbulkan penyesalan ataupun malapetaka. Kalo istilah jaman sekarang sih, ababil kali ya. Begitu pula yang dialami oleh Lupus.

Di buku ini ada delapan cerita mengenai kehidupan Lupus yang beranjak remaja. Mulai dari mengenal cinta-cintaan, pacaran, pergaulan diluar sekolah, dan sebagainya. Dari sekian kisah tersebut, saya suka dengan cerita berjudul “Biasa, Tujuh Belasan Lagi”. Cerita ini mengangkat problema Lupus yang tergabung dengan Karang Taruna kompleks rumahnya. Lupus dan anak muda sekompleks berencana mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia (aduh jadi kangen masa-masa di karang taruna desa saya dulu).

Tetapi masalahnya, selain anak muda, bapak-bapak dan ibu-ibu komplek rumah Lupus juga mengadakan acara peringatan kemerdekaan pula. Otomatis dana yang diperoleh Lupus cs jadi berkurang. Lha donaturnya sibuk bikin acara juga. Bukan Lupus namanya jika tidak kreatif. Ia sukses menemukan ide untuk sokongan dana sebagai bekal acara itu. Meski dengan pinjaman Bang Aziz, sang ketua Karang Taruna. Namun akhirnya malah menemui hal yang sangat menyedihkan bagi Lupus, Bang Aziz, dan anggotanya yang lain.

“Itu juga betul. Tapi, Pus, kamu tau kan kalo pahlawan-pahlawan kita berkorban tanpa pamrih. Mereka rela mengorbankan segala-galanya, dari mulai uang, tenaga, pikiran, ya semuanya dikorbankan demi kemerdekaan bangsa kita. Coba kamu bandingkan dengan pengorbanan kita ini. Nggak ada apa-apanya, kan?” (hal. 43) 

Bagus banget gak sih kata-katanya Bang Aziz itu. Saya sendiri merasa tersindir juga karena kurang (bahkan tidak) bisa menghargai pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Selain kisah diatas, yang menurut saya menarik adalah cerita berjudul “Tamu Tak Diundang Itu Bernama Dadang”. Kisah ini terdiri dari dua bagian yang sekaligus menjadi penutup rangkaian kisah di buku ini. Membaca istilah tamu tak diundang, saya langsung teringat sejenis-setan-yang-kamu-pasti-sudah-tau. Tetapi perkiraan saya meleset sodara-sodara.

Jadi, Dadang itu adalah teman Mami waktu masih SMA dulu. Atau lebih tepatnya mungkin adalah kekasih Mami ketika SMA. Nah, si Dadang ini tiba-tiba muncul di depan rumah Mami setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar. Tentu saja Mami kaget sekaligus senang bisa bertemu dengan cinta masa lalunya *ahem CLBK ni yee*.

Hal ini membuat Papi menjadi jealous. Ya iya lah, suami mana yang gak cemburu coba. Jadi Papi berusaha dengan keras mencari tahu hubungan Mami dan Dadang itu. Yah siapa tau tiba-tiba ada sesuatu yang dirahasiakan. Saya suka dengan kata-kata Papi di akhir cerita ini. Sangat makjleb banget.

“Ya, sebetulnya Papi ngerti kalo Mami sedang berada dalam sebuah kenangan manis. Tapi yang namanya kenangan hanya boleh diingat-ingat aja, nggak usah berharap kenangan itu menjadi nyata lagi.” (hal. 84)

Seperti seri Lupus Kecil, buku ini masih mempertahankan hobi Lupus (dan Lulu) yaitu bermain tebakan. Setiap cerita ada aja tebakan yang bisa saya comot ketika ngumpul bareng teman-teman. Kemajuannya, tebakan yang tersaji di buku ini tidak terlalu banyak dan fokus kepada inti cerita. Konflik dan problematika yang disuguhkan sangat dekat dengan kejadian sehari-hari. Sehingga memahami dan menarik kesimpulan juga sangat terbantu.

Selain itu, setiap kisah pasti ada pesan moralnya, atau minimal ada kata-kata mutiara seperti diatas. Sehingga saya rasa kisah tersebut tidak hanya lucu, namun ada goal yang tercapai. Karikatur yang menhiasi setiap cerita (biasanya dua karikatur) membuat proses membaca jadi happy. Soalnya imut sekali gitu lho hehehe. Oh iya, di bagian tengah buku, ada delapan halaman mengenai tips & trik dalam menghadapi masalah sehari-hari. Tentu saja ditulis hanya untuk lucu-lucuan saja.

Sayangnya, edisi perdana tahun 1999 membuat berbagai macam hal di buku ini menjadi ketinggalan jaman. Contohnya adalah kado yang dibeli Lupus untuk Lulu yaitu sebuah pager seharga dua puluh ribu perak. Saya gak tau ya tingkat nilai rupiah jaman itu seperti apa, tapi hal ini membuat saya jadi berpikir sepertinya buku ini memang untuk generasi om tante saya. Selain itu penyebutan mobil menjadi boil juga sempat membingungkan saya yang tidak mengerti maksudnya. Oh iya, bagaimana dengan cerita “Telepon Umum & Kecoak Nungging” yang tercantum di cover? Sungguh disayangkan, saya sama sekali tidak bisa mengerti kenapa judul cerita itu yang dipilih sebagai headline (selain berada di urutan pertama tentu saja). Karena saya rasa kisah itu justru biasa-biasa saja dan tidak terlalu greget.

Lupus ABG ini menurut saya sangat cocok dibaca bagi segala umur. Karena bahasa yang sangat mudah dipahami dan tidak kaku, serta kelucuan yang dikemukakan juga sesuai dengan jamannya. Sebab meskipun sudah ABG, Lupus masih seorang anak yang baik dan mengutamakan keluarga. Berbeda dengan ABG jaman sekarang yang bertransformasi jadi cabe-cabean dan terong-terongan. *halah malah OOT*

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*