Dragon Drive (Jilid 4)

Judul: Dragon Drive (Jilid 4)

Sub Judul: Hero

Komikus: Ken’ichi Sakura

Penerjemah: Anindhita Raghia

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 214

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792729153

cooltext-blurb

MENJELANG HARI H turnamen Dragonic Heaven di kota Yaudim, Reiji dan kawan-kawannya dijebak oleh calon lawan mereka di pertandingan pertama. Yang menolong mereka di saat genting itu adalah seorang pemuda berkacamata hitam. Siapakah dia sebenarnya? Apa yang menanti Reiji di turnamen?

cooltext-review

Setelah melalui babak penyisihan yang cukup menguras tenaga, akhirnya tim Reiji berhak melaju ke babak pertama turnamen Dragonic Heaven. Meskipun demikian, luka cukup parah yang dialami Hagiwara ahirnya membuat Yukino menggantikannya sehingga tetap genap terdirid ari tiga orang bersama Reiji Ozora dan Rokkaku. Mereka menuju kota Yaudim.

Di kota ini, sambil menunggu perhelatan babak pertama, secara kebetulan (atau disengaja, sepertinya) Reiji berurusan dengan orang kasar bernama Magna yang menindas seorang kakek tua. Meskipun demikian, untung saja ada pemuda berkacamata hitam bernama Taiyo yang menolong Reiji. Kejutan berikutnya, Taiyo adalah Sun Wols, pemenang turnamen tahun lalu.

Pada chapter Tomorrow, dikisahkan bagaimana pertandingan babak pertama, secara mengejutkan akhirnya tim Reiji melaju ke babak kedua dan (diperkirakan) akan melawan tim Sun Wols alias Taiyo. Sayang, ternyata tim Taiyo bersama Renju dan Tsubame dikalahkan telak oleh pendatang baru. Siapa mereka? Tak dinyana ternyata Kohei Kito, Hikaru, dan Sumishiba.

Singkatnya~ Semuanya kelihatan lemah, nggak ada tantangan. Jadi sekalian saja dibereskan sekaligus, ‘kan!! (Halaman 71-72)

Ya benar, Kohei dengan sangat angkuh menantang tujuh tim pemenang babak berikutnya agar melawan timnya sendiri. Jadi total 3 orang melawan 21 orang. Gila. Pada chapter berikutnya yang berjudul The Same Thought, dikisahkan bagaimana pertandingan antara tim Kohei justru berhadapan dengan tim Reiji pada malam hari sebelum babak berikutnya digelar.

Yang sangat mengagetkan, Kohei bertindak licik dengan memaksa Ikaru, sang penyegel trofi kemenangan, jinryuseki, agar menyerahkan Permata Brave Heart itu padanya. Hal ini membuat Reiji, Hagiwara, dan Rokkaku harus bertarung sengit demi merebut jinryuseki dari tangan Kohei, sebelum ia kembali ke bumi tempat Ri-On berada dan digunakan dengan serampangan.

Heh! Walau tubuhku mati jiwaku ada bersama teman-temanku! Mereka yang memiliki mimpi dan perasaan yang sama denganku, pasti bisa mengabulkannya! (Halaman 148)

Baiklah, saya sangat bersemangat membaca jilid keempat ini. hampir semuanya sudah menyuguhkan kisah pertandingan antar dragon. Sayang, pertandingan babak pertama dilaui dengan antiklimaks dan terlalu cepat. Justru perebutan jinryuseki dari tangan Kohei terlihat sangat greget. Apalagi dibumbui dengan kisah flashback Rokkaku dan kawannya, Yakou.

Hingga jilid ini, saya benar-benar tidak bisa melihat sosok dragon yang dipertandingkan sebagai sosok dragon yang…jelas. apa ya, saya akui artwork dan desain dragon yang digambar memang keren. tapi saya kurang menikmati karena tidak bisa memtakan anatomi sang dragon. Mana kepala, mana tangan, mana perut, amana kaki, terlebih jika dragonnya sangat “aneh”.

Sepengathuan saya, dragon digambarkan sebagai sosok ular bertangan dan berkaki. Seharusnya anatomi sosok seperti ini yang menjadi dasar penggambaran dragon. Jangan justru membuat sosok dragon sendiri. Apalagi jika anatomi yang seharusnya terlihat jelas jadi tertutupi oleh berbagai printilan aksesoris dragon baru yang diciptakan sang mangaka. Sorry I have to say it.

Yah, jilid keempat ini berakhir menggantung karena jinryuseki sudah berpindah tangan. Apalagi mengingat ramalan Nenek Ensui yang menyatakan kehancuran dunia apabila jinryuseki berada di tangan yang salah membuat saya jadi penasaran bagaimana cara Reiji dan kawan-kawan mengejar Kohei yang sudah kembali ke bumi dan meninggalkan mereka sendiri.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads badge add plus