Doraemon (Jilid 32)

Judul: Doraemon (Jilid 32)

Komikus: Fujiko F. Fujio

Penerjemah: Neneng Metty S.

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 1994

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 1994

ISBN: 9795377930

cooltext-review

Terdapat 18 cerita di komik Doraemon jilid 32 ini. formula yang digunakan hampir sama dengan cerita-cerita yang sudah ada. Meskipun demikian, Doraemon tidak pernah membuat saya terhibur dengan kesederhanaan kisah serta polosnya tokoh yang ada. Dan seperti biasa, saya tidak akan mengupas semua cerita. Cukup empat kisah saja yang akan saya bahas.

Cerita pertama yang menarik adalah Nobita Pun Bisa Pandai? Nobita yang baru saja dimarahi ibunya selama berjam-jam berniat minggat dari rumah. Ia sudah lelah dimarahi terus-terusan. Secara kebetulan, Doraemon baru saja memperbaiki pesawat luar angkasa yang biasa digunakan untuk ekspedisi penyelamatan. Tentu Nobita langsung menggunakan pesawat itu!

Dalam sekajap mata, Nobita membubung tinggi ke angkasa dan mendarat di sebuah planet. Yang mengherankan, ia mendarat di planet yang sama persis dengan bumi. Kotanya sama persis. Bahkan rumah dan ibu yang sama juga ada! Tidak berhenti sampai di situ, Nobita dibuat heran dengan sekolahnya. Benarkah Nobita tidak pergi ke mana-mana? Hmm menarik.

Di planet ini, sewaktu SD belajar penjumlahan dan pengurangan, di SMP belajar perkalian, di SMA belajar pembagian. (Halamana 18)

Rumah Nobita Tanpa Gaya Berat adalah cerita lucu yang kedua. Secara tiba-tiba, Nobita bercita-cita menjadi astronot dan berharap bisa mendaratkan kaki di planet Merkurius. Ia menggantung dirinya sendiri dengan tali seolah-olah tidak memiliki gaya berat. Doraemon yang tertawa terpingkal-pingkal memberikan alat ajaib agar Nobita bisa berlatih tanpa gaya gravitasi.

Mesin Penyetel Gaya Berat Bumi membuat seisi rumah Nobita tidak memiliki gaya berat. Semua benda melayang-layang, bahkan jus yang baru saja dibuka dari botol juga berbentuk gumpalan yang melayang. Nobita mengajak Shizuka untuk mencoba kondisi ini. masalah mulai muncul ketika Nobita hendak buang air kecil. Tentu saja air kencingnya ke mana-mana. Haha!

Oh, iya! Kalau seisi rumah tanpa bobot menarik sekali. Kekuatan mesin ini menjangkau ke segala arah. Kalau jangkauannya luas, bagus. (Halaman 76)

Satu cerita yang saya rasa sangat cocok dengan para kutu buku adalah Membaca Buku yang Mengasyikkan. Ayah Nobita baru saja membelikan Nobita sebuah buku biografi tokoh terkenal. Ayah yang penasaran pendapat Nobita menanyakan perihal hal itu. Kemurkaan Ayah meluap tatkala mengetahui bahwa buku itu sama sekali belum dibaca anak semata wayangnya.

Yang saya sukai dari cerita ini adalah alat ajaib Doraemon yaitu Rasa Asli Buku. Benda ajaib berbentuk bubuk ini membuat semua buku menjadi sangat menarik. Bahkan Nobita dan Shizuka dibuat penasaran ketika membaca buku kamus dan buku telepon. Wow! Andai saja Rasa Asli Buku ini sudah ditemukan di masa kini, tentu tidak ada istilah buku sampah. Hahaha!

Untuk apa…, aku ambil buku itu,… Dipegang saja kepalaku sudah… Kalau dibuka jadi demam, mata berkunang-kunang, rasanya ingin muntah. (Halaman 148)

Kisah yang cukup serius memiliki judul Kaca Pembesar untuk Menduga Pikiran. Semua bermula ketika Suneo membuka jasa detektif untuk membant siapa saja yang mengalami kesulitan, misalnya kehilangan barang ataupun mencari orang. Semua ini ia lakukan setelah mempelajari sebuah buku tentang detektif. Seperti bisa diduga, tentu saja Nobita iri dengan Suneo. Hadeeeh.

Meskipun Doraemon telah memberikan alat ajaib, Nobita masih belum puas. Bahkan ia lebih sirik lagi ketika melihat Suneo mendapatkan klien yang kehilangan sebuah koin emas bernilai tinggi. Kasus kehilangan menjadi semakin rumit ketika Suneo dengan sengaja menuduh Doraemon sebagai pelaku pencurian. Benarkah deduksi Suneo? Bagaimana nasib Doraemon?

Aku memang mengoleksi mata uang tapi,… termasuk barang yang paling penting bagi perusahaan. Meskipun disimpan di tempat yang terkunci juga lenyap seperti asap. (Halaman 165)

Komik Doraemon sejauh ini yang saya baca memang sangat dipaksa menjadi versi “Indonesia” dengan maksimal. Mulai dari penulisan nama tokoh sesuai cara pengucapan, mata uang yang digunakan bukanlan yen melainkan rupiah, hingga budaya dan adat yang terkadang tidak dibiarkan sesuai aslinya. Meskipun demikian, cerita yang disuguhkan masih menarik kok.

Artwork yang ada di komik jilid 32 ini sudah jauh lebih baik dibandingkan jilid 5 yang pernah saya baca dahulu. Semuanya lebih compact, tidak fleksibel(?), dan sudah sesuai dengan gambar yang saya kenal selama ini. Kostum setiap tokoh yang terus berganti disetiap cerita tidak membuat bingung karena pada dsarnya setiap tokoh sudah memiliki ciri khas masing-masing.

Gaya terjemahan yang diusung komik ini juga sudah baik. Tidak ada lagi kesalahan penulisan ataupun hal yang janggal. Hanya saja, ada beberapa terjemahan yang salah penempatan pada balon kata yang ada. Padahal sesungguhnya dialog-dialognya sudah nyambung. Hanya karena kesalahan penempatan, hal ini menjadi kurang nyaman meski secara konteks masih dipahami.

Saya tidak bisa memberikan rating lebih tinggi daripada ini untuk komik Doraemon. Hal ini dikarenakan yaa Doraemon memang menarik, tetapi tidak mencapai level “menarik” sehingga layak mendapatkan bintang maksimum dari saya. Meskipun demikian, Doraemon si kucing ajaib canggih dari abad ke-22 ini tidak pernah mengecewakan saya melalui cerita-ceritanya.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads badge add plus