Rss

Simple Thinking About Blood Type 2

coverblood2

Judul: Simple Thinking About Blood Type 2

Komikus: Park Dong Sun

Penerjemah: Silvanisaa NA

Penerbit: Haru

Jumlah Halaman: 302

Terbit Perdana: Mei 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2014

ISBN: 9786027742321

cooltext-blurb

Pernahkah kamu merasa tidak diperhatikan oleh orang lain? Pernahkah kamu mendapat luka dari perkataan teman baikmu?

Itu semua karena setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Dalam berinteraksi dengan orang lain, tidak ada salahnya kita mencoba mengerti apa yang dirasakan oleh teman dekat ataupun orang lain yang belum kita kenal.

Nah, di komik Simple Thinking about Blood Type 2 ini, kamu akan menemukan bermacam-macam cerita terbaru dan sifat-sifat unik berdasarkan golongan darah.

Semoga komik ini bisa membantumu mencari jawaban yang selama ini dicari, ya. Semoga kamu juga dapat tersenyum saat membacanya.

cooltext-review

Hai hai. Ketemu lagi dengan review saya (yaiyalah). Saya lagi malas intermezo terlalu panjang, jadi langsung saja. Ini adalah buku sekuel dari Simple Thinking About Blood Type yang sebelumnya sudah saya ulas dan tayangkan beberapa hari yang lalu. Meskipun saya kurang menikmati buku pertama, semoga sekuel ini bisa memperbaiki kesan saya terhadapnya *tsah.

Empat bagian utama plus epilog yang disuguhkan di buku ini terasa sangat banyaaaaak. Tentu saja, jumlah halamannya bertambah sekitar 50 halaman dibandingkan buku pertamanya. Yang saya suka dari buku kedua ini adalah sudah ada kelompok tema yang sangat jelas dibandingkan buku pertama yang terasa sangat campur aduk.

Taman Kanak-Kanak yang memiliki sembilan belas cerita adalah judul bagian pertama. Kali ini para golongan darah masih berwujud anak-anak karena masih bersekolah di TK. Layaknya anak-anak pada umumnya, terlihat jelas bahwa setiap golongan darah telah memiliki sikap dan perilaku dasar yang mencerminkan golongan darah mereka yang unik.

Contohnya pada cerita Pertengkaran. Saya suka bagaimana setiap golongan darah bersikap ketika menghadapi konflik dengan teman lainnya. Seperti biasa, sikap golongan darah B yang cuek benar-benar mirip dengan saya hahaha. Kalau diingat-ingat, saya memang enggan bertengkar karena menurut saya hal itu hanya buang-buang waktu saja.

Anehnya, golongan darah B tidak suka bertengkar. Menurutnya itu melelahkan. (Halaman 56)

Bagian kedua adalah Sekolah yang menyuguhkan delapan belas cerita. Setelah tahap anak-anak yang masih TK, kali ini setiap golongan darah telah memasuki usia yang lebih tinggi sehingga mulai sekolah dan bergelut dengan permasalahan-permasalahan khas anak sekolah. Salah satu yang saya sukai adalah cerita Ambisi Untuk Menang. Lagi-lagi saya ambil golongan darah B.

Tidak dapat dipungkiri, masa sekolah juga turut membentuk kepribadian orang menjadi ambisius. Mulai dari berambisi mendapat nilai bagus, populer di sekolah, ataupun target yang lain. Saya mengingat sepertinya saya memang tidak berambisi apa pun ketika sekolah. Tetapi ada beberapa hal yang saya ingin capai juga saat itu. Deskripsi golongan darah B memang tepat.

Golongan darah B peringkat kedua. Ambisi golongan darah B bergantung pada ketertarikannya pada satu barang. Jika sudah terpacu memainkan game maka ambisi akan cepat meningkat drastis. (Halaman 93)

TK sudah, sekolah sudah, kali ini memasuki tahap kehidupan baru yaitu Kantor yang memuat tiga belas cerita. Dunia karir memang lumrah dihadapi manusia setelah selesai berekolah di lembaga pendidikan. Meskipun demikian, proses pembelajaran tidak selesai sampai di situ saja. Saat bekerja, tiap golongan darah juga harus “belajar” menghadapi dunia profesinya itu.

Salah satu kegiatan ketika bekerja di kantor adalah presentasi. Pada cerita Presentasi I ini, digambarkan bagaimana setiap golongan darah mempersiapkan presentasinya. Lagi-lagi saya seperti bercermin dengan apa yang dilaukan golongan darah B saat presentasi. Tipikal golongan darah B yang easy going, bebas, dan tidak suka hal ribet memang sering saya lakukan hahaha.

Dalam presentasi, golongan darah B membenci hal yang rumit. Jadi, ia hanya akan menjelaskan hal-hal yang penting saja. Bahkan presentasinya pun hanya sekitar satu atau dua lembar. (Halaman 131)

Bagian keempat sebagai bagian terakhir yaitu Kehidupan Pribadi memuat jumlah cerita paling banyak yaitu 37 cerita. Namanya saja kehidupan pribadi, jadi di sini dikemukakan bagaimana setiap golongan darah bersikap dan berpikir dalam kehidupan di luar dunia sekolah ataupun pekerjaan. Tak heran 37 cerita bagian ini sangat campur aduk tidak ada pakem yang nyata.

Cerita Marshmallow: Versi Golongan Darah B adalah hal yang patut saya ungkap. Jadi, sang komikus menggambarkan kondisi keluarganya. Sang Ibu bergolongan darah B dan si komikus bergolongan darah O memberikan sikap apa yang dilakukan ketika memiliki empat apel yang berbeda kesegaran dan harus makan satu apel setiap harinya. Sangat logis menurut saya sih.

Seperti cerita mershmallow, golongan darah B patut ditiru karena ia selalu makan apa pun dengan hati yang gembira. (Halaman 250)

Jilid kedua Simple Thinking About Blood Type ini menurut saya lebih bagus dibandingkan jilid pertama. Beberapa hal yang saya sukai adalah tidak ada lagi komik berjudul Diary Bergambar Si Cowok Gila. Bukan saya tak suka, namun lebih kepada out of topic ketika membaca komik dengan berbagai hal golongan darah tiba-tiba ada sejumput hal lain yang nampang di situ.

Baru saya ketahui bahwa Diary Bergambar Si Cowok Gila adalah karya debut komikus sebelum Simple Thinking About Blood Type. Terlihat lebih baik STABT sih daripada DBSCG. Meskipun demikian, komikus masih menyelipkan beberapa hal di luar konteks cowok gundul golongan darah, misalnya keluarga, namun tetap memakai topeng golongan darah jadinya tetap sinkron.

Adanya tiga fase kehidupan yaitu taman kanak-kanak, sekolah, dan kantor menurut saya adalah sebuah hal positif dibandingkan buku terdahulu. Setiap fase seolah memberikan koridor yang jelas pada setiap cerita sehingga pembaca, khususnya saya, bisa lebih menikmati jalinan ceritanya. Sayangnya, bagian keempat membuat saya jenuh karena campur aduk zzzzz.

Kalau bicara tentang kejenuhan seperti yang saya alami pada buku pertama, sepertinya sedikit tidak terlalu jenuh ketika membaca buku kedua ini. tetapi ya muaranya sama aja sih, tetap bosan dan jenuh. Tidak konsistennya sifat dan kepribadian masing-masing golongan darah membuat saya sering malas membacanya. Padahal titik utamanya kan pada perbedaan itu.

Gambar yang menarik dan lucu sepertinya masih belum bisa menyelamatkan saya dari lembah kebosanan. Terlebih jumlah halaman yang semakin banyak justru menjadi bumerang bagi saya untuk menyelesaikannya. Padahal saya termasuk penyuka buku bergambar lho. Tetapi sayangnya buku Simple Thinking About Blood Type ini membuat saya lelah menyelesaikannya.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*