Rss

Sunset on Third Street (Jilid 4)

coversunset4

Judul: Sunset on Third Street (Jilid 4)

Sub Judul: Kumpulan Cerita Terbaik Chapter 4 “Pertokoan Kota Yuuhi”

Judul Asli: Sanchome no Yuuhi Kessaku Shu

Komikus: Saigan Ryohei

Penerjemah: Frisian Yuniardi

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 256

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792334449

cooltext-blurb

Nobuo, pemilik toko alat tulis Usui, berusia 29 tahun. Ia masih bujangan. Padahal ia cowok yang rajin, pekerja keras dan cukup ganteng. Ibunya berniat menjodohkannya, tapi Nobuo tidak mau. Suatu hari, Ippei, anak pak Suzuki pemilik bengkel Suzuki Auto, memergoki Nobuo memainkan morse dengan cewek yang tinggal di rumah besar yang ada di atas bukit. Ippei pun penasaran.

cooltext-review

Setelah beberapa lama saya membaca komik yang memiliki tensi tinggi dan menegangkan, kali ini saya mencicipi komik dengan tema slice of life yang sederhana dan biasa saja. kalau menengok info di goodreads sih, komik ini memiliki tanggapan yang cukup positif karena kesederhanaan cerita yang mampu menghangatkan hati pembacanya. Benarkah demikian?

Komik ini memilih setting tempat di area pertokoan Kota Yuuhi di blok tiga pada tahun 1955. Saat itu ceritanya Kota Yuuhi sedang dalam masa berbenah diri setelah mengalami perang dunia. Banyak toko yang hancur. Banyak pula korban jiwa yang berjatuhan. Satu persatu toko-toko mulai bangkit kembali dan merintis masa depan yang diharapkan akan lebih baik.

17 cerita lepas yang disajikan di komik jilid keempat ini terasa sangat padat. Satu cerita mengisahkan satu toko yang ada di blok tiga Kota Yuuhi. Jadi total ada tujuh belas cerita dari tujuh belas toko yang ada. Sangat menarik. Oh iya, karena toko-toko tersebut masih dalam satu blok, maka jangan heran banyak tokoh dari cerita lain yang berseliweran di cerita toko lainnya.

Selembar Foto adalah salah satu chapter yang menarik. Toko yang dibahas adalah Studi Foto Takagi. Toko yang dikelola Takagi Tomi ini sangat mengedepankan kebahagiaan pelanggannya. Selain berusaha keras agar hasil foto tampak menarik tanpa bantuan photoshop ataupun media digital lain, Tomi memiliki keahlian tentang kamera dan foto yang diwarisi dari sang ayah.

Meskipun ini adalah cerita rekaan, banyak diselipkan info yang cukup banyak tentang tujuh jenis kamera. Informasi ini ditampilkan disetiap sudut-sudut sepanjang cerita. Di akhir kisah, ada tambahan halaman khusus yang memuat info kamera tersebut yang sangat panjang dan cukup rinci. Kalau boleh saya katakan mungkin itu layaknya wikipedia hehehehe.

Meskipun kalau orang lain yang melihatnya tidak merasa menarik, tapi bagi dirinya, itu adalah kenang-kenangan yang sangat berharga… Tidak perlu foto seni untuk membuat banyak orang terkesan. (Halaman 55)

Toko Alat Tulis Usui adalah salah satu chapter yang unik juga. Sesuai judulnya, toko yang dibahas disini adalah Toko Alat Tulis Usui yang dikelola oleh Usui Nobuo. Ia adalah sosok lelaki mapan yang tampan di usia 29 tahun. Hingga saat itu, dia belum ada tanda-tanda akan menikah. Sering sekali tetangga yang lewat membicarakan status Nobuo yang masih perjaka.

Siapa sangka langkah diam-diam yang diambil Nobuo dalam rangka mencari pendamping hidup ternyata bisa dipecahkan oleh Suzuki Ippei, anak kecil yang biasa membeli dagangan Nobuo. Meski awalnya Ippei hanya menciptakan alat pembuat sandi morse dan ingin menggunakannya untuk bermain, ternyata alat itu bisa mengendus perilaku Nobuo. Hmm :)

Besok jam 6 sore di jejak kaki raksasa… Apa, ya? Jejak kaki raksasa? Rasanya aku sudah pernah dengar itu? (Halaman 89)

Chiyoko, Hiroko, dan Yumiko adalah tiga sahabat karib sejak kecil. Ketika menghadiri festival kembang api akhir tahun, ketiganya secara tidak sengaja melihat bintang jatuh. Sontak ketiganya meminta permohonan pada bintang itu agar kelak bisa terkabul. Obrolan mengalir hingga topik rencana sekolah mereka ke jenjang SMA. Chiyoko tidak bisa lanjut sekolah.

Ya benar, Chiyoko berasal dari keluarga kurang mampu sehingga ia harus putus sekolah pada jenjang SMP. Chapter Memohon pada Bintang ini sangat mengharukan ketika waktu berlalu hingga lima tahun kemudian dan Chiyoko mulai bertanya tentang masa depannya sendiri. Apakah permohonan pada bintang jatuh lima tahun yang lalu tak bisa terkabul?

Sudah lima tahun, ya… Waktu terus berjalan dan semua teman-temanku sudah sukses, sepertinya aku saja yang tertinggal. Padahal sebentar lagi umurku 20 tahun. (Halaman 132)

Pohon yang Kering adalah chapter yang menghangatkan hati. Kisahnya ada seorang nenek bernama Tokugawa Sumako. Sehari-hari ia tinggal sendiri di sebuah rumah besar sambil berjualan teh dan mengajar Chanoyu atau seni membuat teh setiap akhir pekan. Ia dikenal sebagai wanita tua yang anggun dan lembut. Banyak orang kagum kepada perangainya itu.

Di sisi lain, ada nenek lain bernama Kin Oda. Sehari-hari ia berjualan rokok dan makanan kecil di kios kecil depan rumahnya. Ia sama-sama tinggal sendiri karena suami dan anak semata wayangnya telah meninggal. Nenek Oda terasa berbeda 180 derajat dibandingkan Nenek Tokugawa. Bahkan ia cenderung benci pada nenek penjual teh itu. Bagaimana selanjutnya?

Sama-sama sebagai orang tua yang tinggal sendirian seperti ini, kenapa perbedaannya besar sekali, ya… Entah apa aku harus marah atau iri… Dunia ini tidak adil. (Halaman 170)

Tungku Arang Nenek adalah chapter palig mengharukan yang saya temui di komik jilid ini. Ishino Yoshio adalah seorang anak dari penjual tahu di Toko Tahu Ishino. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan neneknya yang telah renta. Ayah dan ibunya sibuk mengurus toko sehingga tanggung jawab merawat nenek ada pada Yoshio. Meski demikian, Yoshio tidak mengeluh.

Suatu hari, Yoshio yang sepulang sekolah harus segera pulang dan membersihkan pispot neneknya sedikit nakal dengan tidak pulang hingga malam. Yoshio tidak menyadari bahwa hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang nenek. Sungguh mengharukan melihat interaksi Yoshio dan nenek sehari-hari. Kepergian nenek juga bukan hal yang mudah bagi Yoshio.

Yoshio adalah cucu nenek yang hanya bisa duduk saja di sebelah arang karena kakinya sudah tidak bisa lagi digerakkan. (Halaman 228)

Semua cerita di komik ini bagus. Saya tidak bisa tidak menyukai cerita yang ada di sini. Setting tahun 1955 dalam suasana pasca perang sangat terasa. Bagaimana toko-toko mulai berbenah, tidak ada satupun tokoh dan toko yang kaya raya, benar-benar mengambarkan bagaimana kebahagiaan bisa terbentuk karena satu hal yang sederhana. Ada sensasi hangat di dalam dada.

Komik ini juga memuat cukup banyak fakta sejarah, khususnya sejarah Jepang pada saat itu. Mulai dari cial bakal kedai berlampion merah, macam-macam ukuran penjualan produk sake, shoyu, beras, dan lainnya, mode pakaian yang sedang berkembang, hingga penggunaan mobil jadul oleh salah seorang pemilik toko. Sungguh menarik menyaksikannya dalam bentuk komik.

Semua tokoh utama dalam setiap cerita di komik ini adalah tokoh yang miskin, menderita, atau bahkan sengsara. Saya menyukai bagaimana kemiskinan tersebut dijual dengan apik dan sederhana oleh sang mangaka sehingga membuat kemiskinan itu bukanlah hal yang menghalangi kebahagiaan. Memang kebanyakan hal sepele, namun hal itu sangat membekas.

Munculnya tokoh dari cerita lain sebagai figuran di cerita toko tertentu membuat dunia Kota Yuuhi terasa nyata. Mereka tidak hanya muncul satu kali kemudian pergi. Mereka masih ada. Mereka masih berjuang untuk toko masing-masing. Meskipun mereka hanya tampil sekilas, saya justru suka bahwa mangaka tidak melupakan dan justru melibatkan tokoh lain. Cool!

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*