Rss

A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 3)

coverdirection3

Judul: A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 3)

Komikus: Yamada J-Ta

Penerjemah: Ine Martiana

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 178

Terbit Perdana: Juli 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juli 2008

ISBN: 9789792317800

cooltext-blurb

Dua gadis kembar harus “menukar waktu” supaya bisa menemukan batu itu. Artinya, salah satu dari mereka harus bertukar tempat dengan Nyonya Kikuko. Dengan begitu, nyonya Kikuko kembali menjadi muda.

cooltext-review

*WASPADA! Review ini kemungkinan mengandung spoiler jilid sebelumnya!* jilid ketiga tentang lika-liku kehidupan Karada dan Shouko yang terkabul permohonannya semakin lama semakin berkembang. Lima chapter yang disuguhkan dengan dua chapter utama, dua chapter khusus, dan satu chapter utama ini terasa banyak membahas hal diluar cerita utama.

Tetsu yang semakin merasa bersalah akibat perbuatannya pada Karada saat di festival ternyata sungguh terlambat. Karada dan Hiro sudah pindah dari tempat tinggalnya. Tetsu tidak tahu kemana mereka berdua pindah. Yang jelas, ia berpikir untuk menemukan batu permohonan agar bisa bertemu kembali dengan Karada. Hal ini menyibak memori masa lalu Tetsu saat kecil.

Itu kan nggak mungkin! Kalau salah, pasti akan dimarahi. Semua orang juga begitu.

Meninggalkan nostalgia Tetsu dan Karada saat masih kelas 2 SD, pada dua chapter spesial ini saya diajak menyelami apa yang dirasakan oleh kakak Tetsu. Posisinya sebagai kakak dari sang pewaris tunggal kekayaan keluarga Amino membuat sang kakak sangat tersiksa. Berkali-kali ia dimarahi Kakek karena tidak menjaga Tetsu dengan baik. Semua perhatian hanya untuk Tetsu.

… Kenapa… Tetsu terus yang dipikirkan? Apa karena dia penerus Kakek? Memangnya penggantiku ada? Keluarga ini aneh! Aku sudah muak!

Kembali ke masa kini. Tetsu berjumpa dengan seorang nenek misterius bernama Nyonya Kikuko. Entah bagaimana, Nyonya Kikuko mengetahui tentang batu permohonan yang dicari-cari Tetsu dan berupaya mencari keberadaan batu permohonan untuk dirinya sendiri. Karena sudah renta, beliau didampingi oleh sepasang gadis kembar bernama Sae dan Yumiya.

Sae dan Yumi bersekolah di sebuah SMP yang akan dimasuki Tetsu tahun depan. Di sekolah itu ada seorang siswa kutu buku bernama Sasazuka. Perjumpaannya dengan Yumi membuatnya terpana dan ingin berkenalan dengan gadis itu. Sayangnya, Sasazuka adalah cowok yang lemah di hadapan cewek. Jangankan berbincang, menyapa Yumi saja ia tidak berani. Hadeh.

Secara kebetulan, Tetsumasa Amino berada di perpustakaan yang menjadi tempat favorit Sasazuka. Tetsu merasa Sasazuka adalah orang yang tepat yang bisa membantunya mencari batu permohonan karena Sasazuka sangat menguasai literatur di perpustakaan itu. Sasazuka yang terpaksa membantu Tetsu lambat laun justru membantu Yumi yang mencari info serupa.

Hanya saja, kita tidak tahu. Apakah batu ini hanya mitos atau sungguh-sungguh bisa mengabulkan permohonan. Syarat lainnya, bukan soal apakah batu itu mitos atau bukan. Tapi “menukar waktu”.

Well, saya ternyata salah menyebutkan pada review jilid kedua yang lalu bahwa komik ini akan tamat di jilid ketiga. Nyatanya, jilid empat adahal muara akhir kisah tentang batu permohonan ini. Naas, saya tidak memiliki jilid penutupnya. Pantas saja saat hampir menyentuh halaman terakhir, kok saya tidak menemukan jawaban tentang jalan keluar masalah Karada dan Shouko.

By the way, di jilid ini tidak ada Shouko lagi. Ia pergi dengan mencari sendiri jawaban atas masalahnya itu. Hal ini ia lakukan karena tak lain dan tak bukan setelah mendengarkan Hiro mengigau tentang masa lalunya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa saya sangat dibuat gemas dengan tamatnya cerita yang masih menggantung karena belum di jilid keempat. Huft.

Oh iya, dua chapter tambahan yang ada di jilid ini terasa tidak berguna karena menurut saya sama saja, baik utama atau sampingan, masih mendukung dengan garis besar cerita utama. Hanya saja, sangat disayangkan sekali Karada dan SHouko yang menjadi tokoh utama justru hilang dan digantikan oleh kemunculan Nyonya Kikuko, Sae, dan Yumi. I don’t like them at all.

Tidak ada halaman pada setiap lembar komik ini adalah hal yang saya kecewakan sejak jilid pertama. Penerbit m&c! kenapa pelit sekali mencantumkan nomor halaman sih? Padahal nomor halaman itu penting untuk menandai bagian-bagian yang menarik atau sebagai pengingat sebuah kejadian yang dirasa sangat berpengaruh untuk tokoh utama.

Akhir kata, saya merasa ini adalah komik yang aneh dari segi penyampaian cerita. Padahal gambarnya sudah cuup bagus dan idenya juga cukup menarik. Sayangnya hingga akhir jilid ketiga ini saya masih tidak paham bagaimana alur yang digunakan komikus untuk membangun jalinan cerita yang baik dan menaik untuk dinikmati pembaca. Sungguh disayangkan sekali.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*