Rss

A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 2)

coverdirection2

Judul: A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 2)

Komikus: Yamada J-Ta

Penerjemah: Ine Martiana

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 178

Terbit Perdana: Juni 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juni 2008

ISBN: 9789792317794

cooltext-blurb

Badan dewasa, tapi jiwa masih anak-anak, pastinya akan menimbulkan perasalahan. Tidak saja untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Begitu yang dialami Karada dan Shouko. Akibatnya, mereka ingin kembali ke kondisi semula. Tapi, apa bisa?

cooltext-review

*WASPADA! Review ini kemungkinan mengandung spoiler jilid sebelumnya!* Lima chapter yang disuguhkan di jilid kedua ini terasa sangat jauh perbedaannya dibandingkan jilid pertama yang lalu. Alurnya cenderung lebih cepat meskipun tidak terlalu kilat. Pada jilid kedua ini juga ada beberapa fakta yang mengejutkan saat Karada dan yang lainnya mencari batu.

Jilid pertama yang lalu diakhiri dengan terkejutnya Tetsu saat berada tepat di depan pintu gerbong kereta tatkala secara tidak sengaja Shouko yang sudah menjadi anak kecil memanggil gadis dewasa di depannya sebagai Karada. Awalnya Hiro dan Shouko tidak ingin melibatkan Tetsu, namun apa mau dikata. Semua sudah menjadi bubur.

Anak-anak memerlukan teman untuk berbagi rahasia. Kita berdua, adalah orang  dewasa, kan?

Demikianlah, Tetsu ikut bersama mereka ke kota lain untuk mencari batu permohonan lain yang bisa mengembalikan mereka seperti semula. Sebuah kenyataan menyakitkan yang harus ditemui ketika ingin melihat batu tersebut ternyata bukan akhir dari berbagai hal mengejutkan hari itu. salah satunya ketika festival di dekat penginapan yang dihadiri Karada dan Tetsu.

Tidak. Tidak mungkin itu anakku, kan? Youko juga tidak mungkin berpikir begitu, kan? Tapi aku merasa itu tidak ada hubungannya denganku.

Di tempat lain, Shouko sedang bersama Hiro di hotel. Saat itu ternyata Hiro sedang mabuk-mabukan di kamar karena merasa tertekan tidak bisa menghadapi kenyataan yang ada di hadapannya. Igauannya ketika sedang mabuk berat yang melibatkan Youko, adik ibu Hiro, membuka memori kelam tentang masa lalu pahit yang tidak seharusnya diketahui oleh Shouko.

Kenapa jadi begini? Menjadi dewasa itu menakutkan. Aku merasa semuanya menghilang.

Saya sangat terkejut dengan hal-hal yang terjadi di jilid kedua ini. saat jilid perdana yang lalu, saya merasa cerita komik ini akan sederhana dan bisa dibaca semua umur. Memang sih, di cover terlihat bahwa komik ini sebaiknya dibaca minimal oleh usia remaja. Tetapi saya jadi ragu tentang bobot kejadian yang ada di komik ini apakah sesuai dengan usia remaja atau tidak.

Contohnya saja ketika festival kembang api di dekat penginapan. Tetsu yang masih berusia akhir SD justru “mengotori” Karada yang masih polos dan lugu. Yah, meskipun tidak “terlalu kotor” tetapi tetap saja bkan hal yang pantas untuk dibaca oleh remaja. Jujur saya sangat benci dengan tokoh Tetsu yang sangat bodoh. Sebaliknya, saya sangat simpati dengan Karada.

Selain itu, flashback masa lalu yang dikisahkan ketika Hiro secara tidak sengaja menceritakan masa remajanya membuat saya lagi-lagi geleng-geleng kepala. Ini beneran komik remaja? Kok ada muatan seksual begitu? Memang tidak eksplisit sih, tetapi 99% sudah bisa ditebak arahnya kemana. Apalagi yang dialami Hiro ini sudah ranah yang sangat menjijikkan (menurut saya).

Overall, saya sudah antipati dengan Hiro dan Tetsu. Untung saja komik ini hanya memiliki tiga jilid saja. saya sudah tidak sabar membaca jilid penutupnya secepatnya agar tidak terlalu lama menyaksikan Tetsu dan Hiro, dua tokoh lelaki yang seharusnya tampil mengesankan justru malah menjadi tokoh menjjikkan dalam komik ini. Huft.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*