Rss

Angan Senja & Senyum Pagi

coverangan

Judul: Angan Senja & Senyum Pagi

Penulis: Fahd Pahdepie

Penerbit: Falcon Publishing

Jumlah Halaman: 360

Terbit Perdana: Maret 2017

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2017

ISBN: 9786026051455

Format: Paperback

cooltext-blurb

Hujan malam itu lambat dan panjang. Angan dan Pagi saling mematung, terpisah jarak dari kisah mereka yang beku di ujung waktu. Lanskap taman seolah tak ingin menunjukkan diri, lampu merkuri temaram di antara mereka berdua, dikaburkan rintik hujan.

Angan memerhatikan wajah Pagi. Wajah itu, wajah yang pertama kali ia lihat belasan tahun lalu dan membuat matanya nyalang semalaman, wajah yang entah bagaimana diciptakan Tuhan dengan alis yang sempurna, hidung yang sempurna, bibir yang sempurna… Tak pernah bisa pergi dari inti memorinya selama ini.

Angan melangkah mendekat ketika payung miliknya lepas dari genggaman. Kemudian ia menarik ujung payung bening milik Pagi. Angan masih bisa melihat wajah Pagi dari balik payung bening itu, meski titik-titik hujan masa lalu sedikit mengaburkannya. Namun, itu cukup buat Angan… Itu cukup. Sebab ketika ia mengecup payung itu, seolah di kening Pagi, ia tak perlu menjelaskan apa-apa lagi…

Tentang Angan Senja yang tak pernah berhenti menanti Senyum Pagi.

“Kisah cinta yang dewasa. Liris. Manis. Puitis.” —Reza Rahadian, Aktor

“Novel yang indah. Ada rasa kesal, lega, sedih, haru, kecewa, bahagia. Semua jadi satu.” —Bunga Citra Lestari, Aktris dan Penyanyi.

cooltext-review

CLBK sering digunakan sebagai akronim Cinta Lama Bersemi Kembali. Namun, kadang ada pula yang mengatakan CLBK adalah kependekan dari Cinta Lama Belum Kelar. Novel berjudul Angan Senja & Senyum Pagi ini sepertinya mengangkat kepanjangan CLBK yang kedua sebagai inti utama kisahnya. Cinta belasan tahun kemudian antara dua sejoli yang menghiasi buku sepanjang 360 halaman ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Penasaran?

Mari berkenalan dengan tokoh utama pria, Angan Senja. Pemuda berusia 35 tahun ini adalah seorang akuntan hebat di bidang pajak dan keuangan yang sangat sukses berkarir di Jakarta. Statusnya yang masih lajang belum cukup ditutupi oleh berbagai prestasi membanggakan sejak masa sekolah hingga dewasa. Perhatian serius dari ibunya sendiri yang tidak terlalu dianggap oleh Angan berujung pada perginya Ibun –panggilan ibu Angan– menghadap Sang Khalik.

Tapi males aja. Di Indonesia jadi ilmuwan nggak ada masa depannya. Ekonomi lebih asyik… (Halaman 51)

Sepeninggal Ibun, Angan menghadapi sebuah wasiat dari almarhumah yang meminta Angan segera membina rumah tangga. Bahkan Ibun telah mempersiapkan calon istri untuk anak semata wayangnya itu. Meskipun demikian, Angan justru teringat pada masa-masa sekolah menengah. Saat ia merasakan cinta, kebahagiaan, sekaligus penderitaan hingga hampir tujuh belas tahun terakhir karena seorang perempuan.

Adalah Senyum Pagi, sang primadona sekolah penyuka musik dari Dewa 19 sekaligus perebut hati Angan. Perjumpaan tak sengaja di sebuah bilik tak terpakai di sudut sekolah antara Angan dan Pagi membuat mereka semakin dekat. Meskipun terpaut dua jenjang tingkatan kelas, Pagi berencana mengungkapkan perasaannya pada adik kelasnya yang langganan juara olimpiade matematika itu. Sayang, rencana yang matang harus berakhir tanpa ungkapan.

Hidup tetap indah, kok, meski kita tak bisa menyelesaikan hitungan-hitungan matematika. Sebab hidup jadi indah karena kita tak selalu dapat memperhitungkannya, kan? (Halaman 66)

Kondisi yang satu merasa tidak pantas untuk yang lain akhirnya memupuskan hari penting itu. Hujan deras seakan mewakili perasaan Pagi yang harus menyingkir dari kehidupan Angan selama-lamanya. Tujuh belas tahun berselang, Pagi telah tumbuh menjadi ibu tunggal berusia 36 tahun dari seorang anak perempuan bernama Embun. Bakat alami sang anak membawanya berjumpa dengan Angan, masa lalu yang ia coba hapus dari memorinya.

Musik itu matematika perasaan. Mungkin ia bisa dikalkulasi, tapi punya kemungkinan yang tak terbatas… Infinity. (Halaman 183)

Perjumpaan antara Senyum Pagi dan Angan Senja tidak bisa dibilang mulus. Meski keduanya telah “menyelesaikan” apa yang seharusnya diakhiri belasan tahun yang lalu, keduanya tidak bisa memaksakan keadaan. Terlebih Pagi berencana menikah dengan seorang pengacara sukses bernama Hari beberapa pekan lagi. Pun demikian dengan Angan yang merasa bersalah karena masa lalu akhirnya mencoba menunaikan wasiat Ibun dengan melamar sepupu jauhnya, Dini.

Mungkin aku tak akan bisa melupakan Pagi. Tapi, bersama Dini aku bisa bahagia, meski tak sama dengan saat aku bersama Pagi. (Halaman 258)

Novel ini memiliki 35 bab utama beralur maju dengan latar masa kini serta 10 bab sampingan berisi flashback masa SMA yang terdiri atas empat bab dari sudut pandang Pagi dan enam lainnya dari sudut pandang Angan. Melalui sepuluh bab masa lalu inilah pembaca bisa merasakan betapa kuatnya rasa cinta yang dialami kedua tokoh utama saat itu.

Akhir masa SMA tidak turut mengkahiri kisah cinta Angan dan Pagi. Persepsi kebahagiaan yang kelak akan ditemui membuat satu sama lain harus menelan pahitnya kehilangan tanpa ada kejelasan. Namun, siapa sangka tujuh belas tahun kemudian Angan dan Pagi dipertemukan ketika situasi tak lagi sama dengan sebelumnya. Inilah saat pendirian keduanya diuji.

Pada umumnya kejujuran bisa menyelesaikan masalah. Pun demikian dengan masalah Angan dan Pagi yang mengganjal dimasa lalu. Keduanya memang tidak jujur pada perasaan masing-masing. Mereka memahami perasaan mereka sendiri namun tidak saling tahu tentang perasaan yang lain. Naas, kejujuran mereka sekarang justru menimbulkan masalah baru.

Rasa cinta akan menemukan jalan dan muaranya masing-masing. Sekuat apa pun setiap orang menahannya, sejauh apa pun jalan yang harus ditempuh… Jika mereka ditakdirkan bersama dan saling mencintai, mereka akan bersama pada waktunya. (Halaman 159)

Setiap halaman buku ini sejak awal hingga hampir akhir membawa pembaca turut hanyut pada perasaan Pagi dan Angan. Sudut pandang orang ketiga membuat eksplorasi perasaan tokoh tidak ada yang lebih unggul. Semua mengundang simpati pembaca. Bahkan tokoh yang pada awalnya terasa kurang baik ternyata menyimpan suatu hal yang cukup mengecoh.

Novel ini memiliki jumlah halaman yang cukup tebal dengan tulisan yang tidak terlalu kecil. Seharusnya jumlah halaman bisa dikurangi dengan sedikit mengecilkan ukuran huruf. Atau tetap mempertahankan halaman yang tebal dengan mengecilkan tulisan, tetapi ditambah beberapa bagian yang kurang. Misalnya kisah perjuangan Angan setelah berpisah dengan Pagi.

Bab pertama hingga bab 32 yang sangat mengagumkan seolah merupakan tanda bahwa lima bintang patut disematkan untuk novel indah karya Fahd Pahdepie ini. Sayang, bab 33 dan bab 34 sanggup menggugurkan satu bintang penilaian. Akhir kisah yang terasa amat dipaksakan dan kurang realistis justru merusak sederhananya kepingan kisah yang tersaji sebelumnya.

Meskipun demikian, novel ini termasuk karya yang bagus. Penulis tidak menggunakan istilah sulit dan bahasa tinggi, melainkan dengan lugas menyampaikan maksud melalui kalimat yang pendek dengan diksi yang sangat kaya. Perpindahan latar waktu masa kini dan masa lalu terlihat jelas perbedaannya sehingga pembaca tidak dibuat bingung.

Chemistry yang terbangun antar tokoh juga tidak bisa dilupakan begitu saja. Semua memiliki porsi masing-masing, tetapi tidak mengikis eratnya hubungan yang terjalin satu sama lain. Sejak awal hingga akhir cerita, sang penulis piawai memperhatikan ikatan tersebut meskipun banyak gejolak penting yang mengiringi kehidupan sang tokoh. Sangat bagus.

Tambahan bintang penilaian juga disebabkan oleh banyaknya singgungan matematika dan musik yang dapat menyatu sehingga menghasilkan alunan nada indah. Bahkan Embun berpartisipasi pada acara bertajuk Mathematical Concert. Meski awalnya kurang jelas konsep itu, penjelasan Angan tentang frekuensi dari senar alat musik sedikit menghalau rasa penasaran.

Satu lagi hal yang sangat unik dari novel ini adalah nama para tokohnya yang sangat Indonesia. Selain Angan Senja dan Senyum Pagi, sebut saja Embun Fajar, Nyala Cakrawala, Dini Cahya Wulan, Wak Siti, hingga Wak Sabar dan Pakde Slamet. Hal ini seolah mengindikasikan kata-kata dalam bahasa Indonesia sangat keren saat menjelma menjadi nama seseorang.

Kegelisahan perasaan Angan, kalutnya pikiran Pagi, kerasnya kemauan Hari, serta santunnya seorang Dini adalah hal-hal yang sangat memukau di novel ini. Hangatnya keseharian Angan dan Pagi saat masa sekolah serta bimbangnya masa kini yang dijalani oleh keduanya membuat novel ini sulit ditinggalkan sebelum halaman terakhir tanpa menyisakan rasa penasaran.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*