Death Note (Jilid 9)

coverdeath9

Judul: Death Note (Jilid 9)

Sub Judul: Contact

Komikus: Ohba Tsugumi & Obata Takeshi

Penerjemah: Frisian Yuniardi

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 200

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Kedua, 2009

ISBN: 9789792316759

cooltext-blurb

Akhirnya KIRA turun tangan membantu Light dan tim penyelidik merebut Death Note dari tangan Mello. Di saat seperti itu, Soichiro Yagami kembali masuk ke dalam tim penyelidik. Light lalu membuat strategi tak terduga. Bagaimana tanggapan Soichiro terhadap strategi Light…?!

cooltext-review

*WASPADA! Review ini kemungkinan mengandung spoiler jilid sebelumnya!* Hmm masih sembilan chapter yang disuguhkan di jilid kesembilan ini. Lagi-lagi saya masih belum bisa move on dari jilid ketujuh yang lalu. Padahal pengganti sang tokoh tersebut sampai ada dua. Tapi saya tidak rela berpisah begitu cepat huhuhu. Ah baiklah mari fokus pada jilid ini saja.

Kal Snydar yang merupakan komplotan mafia pimpinan Mello adalah pemilik death note yang dibawa pihak Mello. Tentu saja hal ini membuat mereka kuat dengan mudah karena bisa membunuh siapapun tanpa kesulitan. Hal ini karena Kal sudah melakukan “transaksi” dengan Shidoh, sang pemilk buku kematian yang asli.

Light menilai bahwa ulah Mello dan gengnya sudah tidak bisa dibiarkan. Akhirnya ia membentuk misi penyergapan sekaligus perebutan kembali buku itu. bahkan, Light menyarankan agar Mello dibunuh di tempat dengan cara menuliskan nama aslinya di buku kematian. Soichiro yang keras kepala memaksa akan mengemban misi “penulisan nama” itu.

Ini semua gara-gara aku menyerahkan buku itu. Karena itu, aku sudah siap untuk mati. Jika harus memakai buku itu, biarkan aku yang melakukannya, 13 hari kemudian aku akan mati.

Meskipun misi itu membuahkan hasil bahwa Soichiro telah mengetahui nama asli Mello yaitu Mihael Keehl, beliau menyia-nyiakan kesempatan membunuh Mello dengan menulis di buku kematian. Akibat hal itu, ia harus menerima sebuah “akibat” yang amat pedih dan mengakhiri perjuangannya menyelidiki Kira. Sementara itu, Near merasa ada yang aneh dengan L kedua.

Cukup dengan diam dan mengamatinya saja, aksi Kira dan L kedua akan menunjukkan kecacatannya. Untunglah Mello bisa kabur, jadi mungkin sisa yang 93% itu bisa kita dapatkan dengan mudah

Salah satu cara yang dipikirkan Near adalah dengan memanfaatkan Mello yang tidak punya sekutu lagi. salah satu agen Near, Helle Lidner, berjumpa dengan Mello dan mau tidak mau harus membawa Mello e markas Near. Di sana, alih-alih mengusir Mello dan menyuruhnya pergi, Near justru menjalin kerjasama dengannya agar rencananya mengungkap Kira berhasil.

Seharusnya kita hormat padanya untuk prestasinya karena pernah berhasil mendapatkan buku dan mendekati Kira. Sangat tidak sopan menodongkan senjata kepadanya.

Semakin kesini saya jadi kurang bersemangat mengikuti Death Note. Bukan ceritanya yang sudah tidak menarik ataupun perkembangan yang tidak jelas, saya hanya merasa bahwa “nyawa” Death Note sudah mulai pudar. Nyawa sudah tak ada harganya lagi. Bunuh, mati, tewas, sudah mudah sekali diucapkan para tokoh di jilid ini. Sangat berbeda dengan jilid awal.

Pada awalnya “kematian” di komik ini digambarkan adalah sebuah kondisi yang sangat menakutkan. Tidak semua orang mati. Tidak semuanya dibunuh. Hanya orang tertentu saja yang mati karena ulah Kira. Hal ini membuat saya menjadi “mengamini” tindakan Kira sekaligus tidak “setuju” dengan perbuatannya. Kondisi yang berimbang inilah yang menarik.

Sejak jilid delapan yang lalu hingga jilid ini, keberpihakan saya pada perbuatan salah dan benar menjadi tidak bisa diraba lagi. semua menjadi terasa tidak ada yang “benar” meskipun berlindung dibalik kata “kebenaran”. Mello yang ingin menangkap Kira namun membunuh agen di pihak Near bukanlah hal yang “benar” menurut saya. Namun Light yang membunuh mafia di pihak Mello karena ingin melumpuhkan laki-laki (iya benar, saya baru tahu bahwa Mello itu cowok) itu adalah hal yang “salah” menurut saya.

Kekuatan Near yang sangat tenang namun tepat sasaran adalah hal yang sangaat membuat saya nostalgia dengan L. sayangnya, Near bukanlah L semirip apapun perilakunya. Bahkan terlihat bahwa Near agak lebih cepat menyimpulkan tanpa ada uraian jelas tentang dugaan-dugaannya. Jauh berbeda dengan L yang ngoceh panjang baru menyimpulkan. Near tidak seperti itu.

Oh iya, baik L, Near, atau Mello ada sebuah kebiasaan unik. L sangat suka dengan makanan manis atau dessert sebagai teman memecahkan kasus. Near fanatik dengan berbagai mainan khususnya yang bongkar pasang. Sedangkan Mello adalah seorang chocolate addict yang selalu mengunyah coklat batangan. Unik-unik padahal kasus yang dihadapi adalah kasus pembunuhan massal yang keji.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*