Cerita Hantu di Sekolah (Jilid 18)

covercerita18

Judul: Cerita Hantu di Sekolah (Jilid 18)

Sub Judul: Ternyata Memang Hanitaro

Komikus: Maejima Akihito

Penerjemah: Patsiana T. Sofyan

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 156

Terbit Perdana: 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2004

ISBN: 9789792064131

cooltext-blurb

Rupanya Hanitaro belum puas mengerjai aku dan teman-temanku. Miki-chan memutuskan untuk memiliki sebuah buku harian bersama denganku. Tapi Hanitaro cemburu dan merusak rencana indahku sehingga Miki-chan marah padaku. Namun pada akhirnya Kazuo menolongku dan Miki-chan pun mau berbaikan denganku.

cooltext-review

Selamat tahun baru 2017! Nah, di tahun yang baru ini saya ingin menghabiskan timbunan komik saya dalam setahun ini dengan membaca dan meresensinya semua. Semoga terlaksana. Sebagai pembuka, ada komik dari Jepang berjudul Cerita Hantu di Sekolah, sub judul Ternyata Memang Hanitaro. Isinya ada lima chapter yang berisi kumpulan cerita pendek, satu bagian khusus berisi ilustrasi kiriman para pembaca, serta sebuah halaman penutup.

Sebagai perkenalan, Hanitaro adalah sebuah patung tanah liat. Sebagaimana patung pada umumnya, dia seharusnya tidak bisa bergerak. Nah, uniknya Hanitaro bisa bergerak dan memiliki berbagai kemampuan khusus yang bisa dikatakan sangat tidak baik dan hanya dijadikan ide menjahili orang-orag di sekitarnya. Beneran deh, tokoh Hanitaro ini adalah sebuah patung yang sangat menyebalkan.

Komik Dongeng Hanitaro adalah chapter pertama. Seperti judulnya, pada chapter ini berisi sekumpulan cerita rakyat opuler Jepang yang dikemas sangat “berbeda” dibandingkan versi aslinya. Salah satunya adalah kisah Urashimataro yang diperdaya oleh Hanitaro sehingga menganggap Hanitaro adalah gurunya. Tidak sampai disitu, Hanitaro dengan tega menjebak Urashimataro agar menuruti segala perintahnya dan mencampakkannya begitu saja.

Guru memang kuat, ya!! Sekarang aku jadi bisa pulang dengan membawa harta karun dan bisa merawat kedua orang tuaku!! (Halaman 16)

Komik Hanitaro – Bagian Pertama – Masa Muda Selalu Crooot!! adalah chapter kedua. Berbeda dengan chapter pertama, pada bagian ini sudah berisikan cerita-cerita kasual sehari-hari Hanitaro dengan segala macam kejahilannya. Oh iya, sebagai patung tanah liat, dia tinggal bersama keluarga Yoshio. Namanya saja numpang tinggal, tentu saja Yoshio-lah yang sering sekali menjadi bulan-bulanan Hanitaro. Kasihan sekali dia ini… T-T

Orang yang tidak mengerti kasih sayang sih, sama saja dengan kotoran Yoshio!! Begitulah kata Hanitaro yang marah… (Halaman 33)

Komik Hanitaro – Bagian Kedua – Hari-Hari Menyenangkan Seorang Lelaki Tukang Buang Air! Adalah chapter ketiga. Salah satu cerita yang ada di bagian ini adalah ketika kawan sekelas Yoshio, Miki, mengajak Yoshio mengisi buku harian bersama. Konsepnya sih buku harian ini akan dibawa bergiliran untuk diisi satu sama lain setiapp hari. Tak disangka, kejujuran Yoshio menulis cerita di buku membuat Hanitaro murka dan mengacaukan isi bukunya. Akibatnya?

Mungkin Yoshio memang cowok tukang buang air!! Tapi, apa salahnya, sih, kalau jadi cowok tukang buang air!? Cowok tukang buang air juga ‘kan nggak apa-apa ‘kan!! (Halaman 63)

Komik Hanitaro – Bagian Ketiga – Tantangan Menuju Kebahagiaan!! Sebagai chapter keempat masih berisi cerita-cerita aneh tentang Hanitaro dan kawan, eh bukan dink, orang di sekitarnya. Salah satu ceritanya adalah Murakami, teman Yoshio yang memiliki kefanatikan dengan garis putih di tepi jalan. Ia memiliki ambisi bisa mengendarai sepeda melewati garis itu tanpa terjatuh. Sayangnya, halangan yang muncul membuatnya tidak pernah sukses. Hahahahah.

Aku sekarang lagi nggak punya waktu untuk bicara dengan orang-orang bodoh seperti kalian! Aku harus pergi!! Jangan pedulikan aku!! (Halaman 82)

Komik Hanitaro – Bagian Empat – Kata yang Paling Disukai adalah… Cinta merupakan chapter terakhir yang berisi kisah Hanitaro. Oh iya, meskipun Hanitaro sering menjahili Yoshio, kedua orang tua Yoshio tidak mengetahui bahwa segala “musibah” yang ada di rumah akibat ulah patung tanah liat itu. Suatu hari, ibu Yoshio mengetahui keburukan Hanitaro dan meminta anaknya membuang Hanitaro. Apakah berhasil?

Ah, Ibu terlalu nganggap enteng! Pasti sebelum dia dibuang ke sungai, bisa-bisa malah aku duluan yang dibuang. (Halaman 109)

Tipe model penyuguhan cerita di komik ini sangat acak. Ada yang model empat panel tamat, satu halaman tamat, dan ada pula yang menghabiskan dua halaman mencapai akhir cerita. Sebelum memasuki chapter pertama, pembaca diberi kemudahan perkenalan dengan tiga halaman yang beriis pengenalan tokoh-tokoh yang muncul serta tiga halaman khusus yang berisi penjelasan rinci tentang sosok Hanitaro, sang tokoh utama jilid ini.

Oh iya, meskipun komik ini mengambil kata hantu, cerita di dalamnya tidak ada yang seram. Yah mungkin “hantu” yang dimaksud di judul adalah patung tanah liat ajaib yang bisa bergerak sesuka hati dan memiliki kemampuan khusus bernama Hanitaro. Sayangnya, saya tidak tahu bagaimana awal mula Hanitaro ini muncul. Maklum saja, saya kan langsung meloncat ke jilid 18 hehehehe.

Sebagai tokoh utama, Hanitaro benar-benar tidak bisa saya sukai. Kejahilan dan keegoisannya benar-benar membuat murka siappapun itu. Sepanjang saya membaca komik ini, tidak ada satupun kemampuan Hanitaro yang dimanfaatkan untuk membantu sesama. Simpati terbesar saya curahkan kepada Yoshio yang meskipun doyan buang air besar di luar rumah, ia tetap sabar menghadapi keajaiban Hanitaro.

Segi cerita menurut saya 50:50. Ada yang lucu banget, ada pula yang garing abis. Mungkin selera humor yang berbeda menjadi alasan utamanya. Untung saja setiap tokoh sampingan selain Hanitaro memiliki karakter yang sangat kuat. Saking kuatnya, setiap tokoh ada ciri khas yang begitu ajaib dan tidak dimiliki tokoh lain. Contohnya, tidak ada yang pernah bertemu patung manusia dari batu kerja sambilan di toko makanan, bukan?

Kalau berbicara tentang artwork, saya rasa masih kurang. Sebenarnya sudah cukup jelas komposisi tokoh dan lingkungan sekitar, namun tidak semuanya seperti itu. Cerita empat panel tamat misalnya, latar belakang lingkungan sekitar hampir tidak ada alias polosan. Kalaupun ada, pasti hanya ala kadarnya seperti awan ataupun batu-batu. Kan ya jadi terasa si komikus hanya kejar tayang tanpa mempedulikan komposisi.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus