The Big O (Jilid 1)

coverthebig1

Judul: The Big O (Jilid 1)

Komikus: Yadate Hajime & Ariga Hitoshi

Penerjemah: Febrian Anantasyah

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 214

Terbit Perdana: Mei 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2003

cooltext-blurb

BIG O – The guardian deity of the city in amnesia. Look! There goes on an iron giant!! Praise! His incredible power! Now it’s time to fight. BIG O!! Show Time!!

cooltext-review

Review-review saya sebelumnya kebanyakan berupa komik dengan jumlah halaman yang sedikit dan tema cerita yang sederhana dan cenderung mudah dipahami. Kali ini saya mencoba menyuguhkan review dari sebuah komik yang cukup tebal dengan tema agak bikin mikir. Here it is The Big O. Masih komik hasil karya mangaka Negeri Sakura, cerita yang saya rasa cenderung dystopia membuat sensasi membaca jadi berbeda.

Komik ini terdiri dari lima chapter yang dibuka dengan Prolog yang singkat dan diakhiri dengan Pembuatan Big O yang santai dan mengisahkan secuplik kejadian di balik pembuatan komik ini. Di antara keduanya ada tiga chapter yang masing-masing memiliki cerita tersendiri, meskipun ada keterkaitan sedikit terkait dengan tokoh yang berperan.

Chapter pertama adalah Mengambil Kembali Memori yang mengisahkan sebuah kota bernama Paradigme City. Kota ini memiliki penduduk yang mempunyai harta paling berharga. Bukan uang, bukan batu permata, melainkan ingatan atau memori. Memori di kota ini bagaikan uang. Mereka menyimpang di bank memori karena pada masa itu memori dapat hilang sewaktu-waktu dari pikiran manusia.

Adalah Kei, seorang gadis cantik bersama Marino, lelaki yang disinyalir adalah kekasih Kei. Mereka berdua kehilangan memori masa lalu. Akibatnya, mereka terlibat perjanjian dengan orang jahat bernama Beck Gold. Rencananya, Kei dan Marino harus membajak bank memori dan meminta uang tebusan dengan cara menyandera beberapa orang. Melihat situasi ini, Mayor Daston meminta bantuan kepada seorang juru runding bernama Roger Smith.

Meskipun “hanya” seorang negosiator, Roger ini bagaikan Batman dari Paradigme City. Ia memiliki seorang asisten bernama Norman dan tentu saja, sebuah robot raksasa yang menumpas segala macam kejahatan yang diberi nama Big O atau Megadeus, panggilan dari warga kota. Bisa ditebak akhirnya Kei dan Marino bisa dilumpuhkan oleh Big O meskiun Beck berhasil kabur membawa uang tebusan.

Bagaimana dengan memori kami!? Bagaimana dengan masa lalu kami berdua!? Apa kami berdua kekasih!? Atau saudara!? Apa kami pernah bermusuhan!? (Halaman 65)

Serangga Listrik adalah judul chapter kedua. Kali ini Roger sedang melakukan pekerjaan negosiasi dengan sebuah sekolah yang akan digusur karena pelebaran Kubah. Ya benar, kota Pradigme ini mengalami masalah cahaya matahari yang tidak bersinar sehingga ada kubah-kubah yang menyinari dengan sinar mentari buatan. Hanya orang kaya yang tinggal di dalam kubah sedangkan orang miskin ada di luar kubah berselimutkan kegelapan dan listrik byar pet.

Sheila adalah siswi di sekolah tersebut. Ia sering diejek teman-temannya karena dianggap berbohong tentang keberadaan serangga. Ia sesungguhnya tidak berbohong karena “serangga” yang ia maksud adalah buatan Dr. Miller, kakeknya sendiri yang merupakan seorang ilmuwan. Sayangnya kemampuannya digunakan oleh Beck, sang tokoh jahat kita untuk mengalahkan Megadeus.

Dibandingkan dengan ketika langit masih biru dan bunga masih mekar, apakah sekarang ada lingkungan dimana serangga bisa hidup? (Halaman 100)

Chapter ketiga berjudul Namanya Dorothy. Kali ini Roger mendapatkan klien seorang pria tua bernama Miguel Soldarno. Ia mengaku membutuhkan bantuan Roger karena putri kesayangannya, R. Dorothy, diculik oleh Beck (lagi-lagi dia!). Roger yang mendapat julukan sang juru runding nomor satu meyetujui permintaan itu. Sayangnya, ketika perjumpaan dengan Beck, yang diserahkan kepada Roger adalah sebuah(?) android yang mirip dengan Dorothy.

Merasa dibohongi, Roger berusaha membawa Dorothy yang asli dengan bantuan Big O. Namun, sepertinya Beck lebih cerdik dengan turut menculik “kakak” Dorothy dan membuatnya mengamuk di tengah kota. Belum juga keributan selesai, Dorothy-android ikut-ikutan bertarung dan membuat repot Mayor Daston. Bagaimana akhirnya?

Dasar, nggak sopan. Memangnya program etika nggak diprogram di otakmu ya? (Halaman 177)

Wow. Bagus juga nih tema yang diangkat. Dystopia(?) yang tidak jelas kapan waktu yang dijadikan latar dan seolah ada dimasa depan membuat The Big O sukses membuat saya tidak berhenti membacanya. Dalam waktu kurang dari satu jam saya sudah menyelesaikan komik ini. aura gelap dan action yang melibatkan robot dan warga sipil sungguh memukau. Selain itu Paradigme City yang masih misterius juga membuat saya bertanya-tanya tentang berbagai hal.

Mengenai pekerjaan Roger Smith, saya baru tahu lho ada pekerjaan seperti ini. Mungkin memang saya yang kurang pengetahuan, namun pekerjaan sebagai juru runding baru pertama kali saya temui. Sayangnya, mekanisme pekerjaan tidak diperlihatkan dengan jelas. Formula yang digunakan dalam tiga chapter awal ini hanya negosias-kejahatan oleh Beck-panggil Big O-bertarung-selesai. Begitu terus. Yah mungkin ini memang masih perkenalan.

Tentang Dorothy, eh android-Dorothy maksudnya, cukup kagum juga ternyata istilah android sudah digunakan komikus padahal ini komik aslinya terbit pada tahun 1999. Saya aja baru tahu istilah android ketika tahun 2010-an. Namun sepertinya lebih cocok kalau Dorothy ini disebut humanoid ya karena sudah berbentuk manusia dan bisa berpikir.

Bicara tentang artwork, saya rasa sudah bagus. Khas komik shonen yang padat dan cepat sehingga detil pertarungan menjadi terasa. Tetapi entah perasaan saya atau bukan, dominasi warna hitam menyelimuti perbagai panel komik ini. Ada bayangan dikit, jadi hitam. Lagi mati lampu sedikit, hitam lagi. Nggak ada gradasi abu-abu atau semburat lain yang menunjukkan perbedaan warna hitam dan putih. Hal ini cukup menyulitkan saya memahami adegannya.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*