Digimon Tamers (Jilid 5)

coverdigimon035

Judul: Digimon Tamers (Jilid 5)

Komikus: Hongo Akiyoshi & Toei Animation

Penerjemah: Rahmi Vanina K.

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 160

Terbit Perdana: Desember 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Desember 2003

cooltext-blurb

Renamon dan Vajramon yang berbeda sikap saling mempertahankan pendapat mereka sendiri soal Digivolve. Pertempuran pun dimulai. Renamon kemudian Digivolve menjadi Taomon dan mengalahkan Vajramon…

cooltext-review

Saya adalah pengemar berat anime Digimon, bahkan melebihi Pokémon. Setiap monster(?) yang selalu berakhiran –mon membuat ciri khas Digimon benar-benar berbeda dibandingkan Pokémon. Apalagi seri Digimon sempat ditayangkan di televisi swasta belasan tahun silam, membuat saya tidak absen menyaksikan petualangan anak terpilih dan digimonnya setap hari minggu.

Namun, sungguh disayangkan saya kurang menyukai konsep yang diusung Digimon 03 atau yang biasa disebut Digimon Tamers ini. Mungkin saya gagal move on dari seri pendahulunya, mungkin juga otak saya kala itu kurang bisa mencerna pergantian konsep ini. Yah tapi mari nikmati saja versi komiknya ini.

Ada empat bab yang disuguhkan di komik jilid ketga ini. yang pertama mengambil judul Duel Bersama Deva. Suatu hari ketika Jen Lee dan Takato bermain di taman bersama anak-anak yang lain, muncul digimon jahat bernama Pajiramon dan Vajramon. Kedua digimon ini bertipe hewan suci. Merasa terdesak, Jen Lee menggunakan blue card untuk Terriermon. Tak disangka, perubahan biasa yang menjadi Gargomon berlanjut lagi sehingga menjadi Rapidmon. Apakah blue card itu sebenarnya?

Nggak bisa! Kalau digunakan kita nggak tahu efeknya. Tapi bagaimana… (Halaman 33)

Bab kedua berjudul Digital yang Indah lagi-lagi masih menghadirkan Pajiramon dan Vajramon. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Lee, Takato, dan Rika. Karena sangat berbahaya, akhirnya Terriermon berubah menjadi Gargomon, Guilmon berubah menjadi Growmon, dan Renamon berubah menjadi Kyubimon. Ternyata digimon tipe hewan suci tersebut sangat kuat. Meski salah satunya kalah karena serangan Taomon (perubahan Kyubimon dengan blue card), yang lain tetap memaksa Renamon meninggalkan dunia manusia.

Digimon harusnya mengabdi pada Dewa Digimon. Pikirkan! Manusia akan menyingkirkan kita. Lalu kau akan kembali jadi sekumpulan data di dunia digital. (Halaman 63)

Meninggalkan digimon jahat yang mengusik anak terpilih, bagian ketiga berjudul Pertarungan Impmon ini menghadirkan digimon kecil bertanduk yang galau karena tidak bisa digivolve karena tidak memiliki partner manusia. Ia menjadi olok-olok Vajramon karena kekuatannya lemah. Tak terima, Impmon berjuang sekuat tenaga hingga babak belur menghadapi Vajramon.

Pasangan mulu, bosan! Memang kenapa kalau nggak bisa digivolve? Meski nggak punya partenr, aku bisa tambah kuat! (Halaman 105)

Blue Card Terakhir adalah bab terakhir komik ini. saat keadaan genting tersebut, Lee, Takato, dan Rika datang menyelamatkan Impmon. Rapidmon dan Taomon sudah berusaha sekuat tenaga mengalahkan Vajramon. Namun Takato yang tidak memiliki blue card tidak bisa membuat Growmon lebih kat lagi. tak disangka, Kenta, teman Takato, membuat sebuah “blue card” agar bisa digunakan Takato. Ternyata keajaiban terjadi. Growmon berubah menjadi Wargrowmon! Bagaimana bisa?

Belum dicoba kok bilang nggak bisa! Coba pikir, Guilmon yang lahir dari gambar yang dibuat Takato, yang penting itu keinginan! (Halaman 149)

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya Digimon Tamers bukanlah seri figimon favorit saya. Sepertinya sejak seri ketiga ini saya sudah hilang minat dengan seri digimon selanjutnya. Meskipun masih saya tonton semasa anak-anak dulu, tetapi gregetnya jauh berkurang apabila dibandingkan seri perdana dan sekuelnya. Mengapa bisa begitu?

Yang pertama adalah konsep baru pada Digimon Tamers ini membuat saya merasakan digimon hanyalah permainan. Meskipun tetap ada konsep digivolve dan digivice, namun ikatan antara digimon dan anak terpilih bagaikan mainan dan pemiliknya. Ditambah dengan kekuatan digimon dan perubahan menggunakan kartu-kartu mainan yang diperjualbelikan secara bebas membuat digimon kehilangan jati dirinya.

Pertanyaannya, kartu-kartu mainan itu bagaimana mungkin bisa digunakan untuk digimon yang keberadaannya sangat terbatas. Belum lagi kejaiban-keajaiban tiddak masuk akal misalnya goresan tangan bisa menjadi nyata itu sangat tidak logis. Hal ini berbeda dengan digimon terdahulu yang masih bisa diterima dan ikatan emosional yang mengharukan antara digimon dan anak terpilih. Sudah begini saja ya reviewnya~

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*