Big Ear Tu Tu (Jilid 1)

covertutu1

Judul: Big Ear Tu Tu (Jilid 1)

Komikus: Shanghai Animation Film Studios

Penerjemah: Putri Anggia

Penerbit: Citra Sastra Media

Jumlah Halaman: 96

Terbit Perdana: 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2005

cooltext-blurb

Tu-tu adalah seorang bocah berumur 3 tahun yang polos, kritis, lucu, dan enerjik. Kehidupan sehari harinya dipenuhi dengan ide dan pertanyaan aneh. Kadang kepintarannya berkelit dan mencari alasan membuat ayah dan ibunya tak dapat berkata-kata. Namun dibalik kenakalan dan tingkah lakunya yang terkadang terlihat bodoh itu, ia selalu mendapatkan pelajaran bermakna yang disampaikan kepada para pembaca melalui “Pesan Moral Tu-Tu”.

cooltext-review

Setelah beberapa kali mengulas komik dari belahan benua barat, kali ini saya kembali dengan sebuah komik dari benua Asia. Bukan Indonesia, melainkan dari negara Tiongkok. Komik ini berjudul Big Ear Tu Tu. Kalau baca dari blurb-nya sih, hampir mirip dengan komik Crayon Shinchan (yang sudah banyak saya ulas sebelumnya). Tetapi mungkin ada perbedaannya sih, mengingat awalnya Big Ear Tu Tu berbentuk animasi kemudian dikomikkan.

Tokoh utama komik ini tentu saja adalah Tu Tu, seorang bocah batita yang cerewet dan selalu ingin tahu. Ia bersama ibunya, Siao Li, dan ayahnya, Ing Cin, tinggal di sebuah apartemen. Cerita pertama komik ini dibuka ketika Tu Tu bermain bersama sahabatnya, Siao Mei dan Cuang Cuang di taman dekat apartemen.

Obrolan anak-anak mulai mengemuka ketika Siao Mei bertanya kepada Tu Tu tentang asal usul seorang anak. Tu Tu yang lebih muda daripada Siao Mei tidak bisa berpikir jawabannya apa. Sedangkan Siao Mei berujar bahwa seorang anak muncul dari celah batu (ebuset macem kera sakti aja). Sementara itu, Cuang Cuang yang paling tua malah berpendapat yang tidak lebih baik dibandingkan Siao Mei.

Begini… Asal punya uang, kau bisa beli apa saja. Termasuk anak! Mengerti? (Halaman 13)

Cerita kedua adalah saat-saat ketika sebentar lagi Tu Tu berulang tahun. Anak semata wayang dari Siao Li dan Ing Cin ini ditawari oleh kedua orang tuanya, ingin meminta kado apa saat ulang tahunnya seminggu lagi. pada awalnya saya kagum dengan ucapan Tu Tu. Namun kekaguman saya sirna saat Tu Tu mengucapkan keinginannya sebagai berikut.

Aku ingin Ibu memberikan… Ibu melahirkan seorang kakak, cukup seperti Kak Cuang Cuang saja! (Halaman 51)

Jujur ketika membaca komik ini, otak saya selalu membandingkannya dengan Shinchan. Saya tidak tahu apakah pencipta Tu Tu ingin membuat tokoh polos, cerdik, sekaligus nakal seperti Shinchan atau tidak. Namun saya merasa tokoh Tu Tu ini bodoh alih-alih cerdas seperti Shinchan. Tu Tu memang polos, namun kepolosannya yang dilanjutkan dengan ujaran yang harusnya menghibur justru membuat saya jengkel seperti yang dirasakan ayah ibunya.

Keheranan saya saat membuka komik ini adalah adanya dua halaman di awal dan akhir komik (total empat halaman) yang isinya iklan minyak cap k*p*k. saya tidak tahu apa fungsi iklan di komik ini. sebagai sponsor kah? Entahlah. Selain itu, tidak adanya judul setiap cerita membuat saya agak bingung diawal mengenai inti ceritanya. Sebagai pemisah antar cerita hanya ditandai dengan Pesan Moral Tu Tu.

Ya benar, Pesan Moral Tu Tu adalah sisi positif dari komik ini. pantas saja komik ini memang ditujukan untuk semua umur termasuk anak-anak. Dengan adanya pesan moral, orang tua anak-anak bisa menceritakan hal positi apa dari cerita Tu Tu. Yah meskipun agak tidak sinkron antara penempatan panel gambar, ekspresi tokoh, dan dialognya, komik ini masih cukup bisa dinikmati. Mungkin hal ini efek dari aslinya animasi lalu dijadikan komik full color.

Oh iya, komik ini memberikan bonus VCD yang berisi versi animasinya. Saat saya menontonnya, aduh justru lebih berantakan dibandingkan versi komik. Pengisi suara dengan gambarnya terkesan asal-asalan dan dipaksakan sekali penempatannya. Saya tidak tahu tehnik pengisian suaranya, namun saya kecewa dengan animasinya. Apa lagi ada beberapa gambar yang agak buram sehingga mengganggu kenyamanan.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus