SuperDidi

coverdidi

Judul: SuperDidi

Sub Judul: Karena jadi Ayah itu, seru!

Penulis: Silvarani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 256

Terbit Perdana: 2 Mei 2016

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2 Mei 2016

ISBN: 9786020326900

cooltext-blurb

Menjadi ayah itu susah-susah gampang,

Atau malah gampang-gampang susah?

Mimpi buruk semakin memperkeruh hari-hari Arka karena Wina belum bisa kembali ke Jakarta, padahal Anjani dan Velia akan tampil dalam drama sekolah. Pada hari yang sama, Arka harus mempresentasikan proyek bernilai triliunan rupiah. Kalau sudah begitu, apakah Anjani dan Velia yang harus dikorbankan?

Apakah mereka harus tampil tanpa ditonton kedua orangtua?

Mungkin begitu.

Sampai suatu saat, sang “Didi” melakukan tindakan “super”!

cooltext-review

Membentuk sebuah keluarga dan menjadi seorang ayah adalah impian sebagian besar pria. Memanjakan buah hati dengan pergi berlibur, makan malam bersama istri, dan bersenang-senang dengan seluruh anggota keluarga adalah sebuah hal yang membahagiakan. Namun semua itu terkadang sulit diwijudkan karena tersandung paradigma masyarakat umum tentang “peran dan tugas” seorang ibu dan ayah.

Begitu pula yang terjadi dengan keluarga kecil Arka, sang tokoh utama novel ini. Ia bersama Wina, sang istri, membina rumah tangga dan berperan menjadi orang tua Anjani dan Velia. Semua tampak baik-baik saja bagi Arka alias Didi. Pagi hari dibangunkan oleh dua ocehan manja dari sang buah hati, sarapan bersama sebelum beraktivitas, dan bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Hingga suatu ketika muncul sebuah tantangan baru untuk Arka.

Wina–yang biasa dipanggil Muti–harus rela meninggalkan anak-anak dan sang suami dikarenakan sahabat baiknya, Meisya, mengalami masalah besar di Hongkong. Hal ini tentu membuat Arka alias Didi harus berperan menjadi ayah sekaligus ibu untuk sementara waktu bagi Anjani dan Velia. Sebagai bantuan, Wina sudah memberikan catatan yang berisi jadwal penting Anjani dan Velia setiap hari.

Zaman sekarang, tak ada itu mengotak-ngotakkan kerjaan cowok atau kerjaan cewek. Semua bisa. (Halaman 93)

Disaat yang sama, Arka baru saja mendapatkan kehormatan menjadi ketua dalam tim pembangunan proyek benilai triliunan rupiah. Deadline yang hanya dua minggu membuatnya berpacu dengan waktu karena mengurusi segala keperluan Anjani dan Velia bukanlah hal yang mudah. Keterlambatan Wina pulang ke Indonesia juga menjadi masalah berat yang harus dihadapi Arka.

Puncaknya, pementasan drama yang dilakoni Anjani dan Velia terancam tidak dapat dihadiri Didi dan Muti karena keduanya berhalangan. Nah, hal ini menjadikan Arka harus berjuang keras agar kedua anaknya dapat berperan dengan sungguh-sungguh dalam pementasan tersebut. Berhasilkah Arka datang tepat waktu?

Arka juga menyadari bahwa peran Wina sebagai “muti”-nya Anjani dan Velia memang tidak dapat digantikan oleh siapapun. Begitu juga peran Arka sebagai “didi” tak dapat digantikan oleh Wina. Mereka berdua adalah satu kesatuan yang sama-sama berarti bagi Anjani dan Velia. (Halaman 175)

Menyentuh. Kata yang saya rasa sanggup mewakili perasaan saya setelah membaca novel ini hingga akhir. Ini bukanlah novel romansa tentang dua insan manusia, melainkan kisah keluarga yang saling menyayangi, gigih, dan pengertian. Saya jarang menjumpai novel Indonesia bertema keluarga. SuperDidi adalah salah satu novel yang menyuguhkan drama keluarga yang menjadi kesukaan saya.

Arka alias Didi bukanlah ayah yang sempurna. Ia harus bekerja keras mencari nafkah. Namun semuanya rela ia tinggalkan sejenak hanya untuk mengurus keperluan Anjani dan Velia. Wina alias Muti juga bukan ibu yang sempurna. Meninggalkan suami dan anak yang masih kecil selama beberapa minggu adalah satu hal yang tidak bisa saya setujui. Namun saya memahami bagaima ia merindukan dan mengasihi suami dan kedua anaknya dengan tulus.

Sifat dan perilaku Anjani dan Velia terdeskripsikan dengan baik sebagaimana anak usia TK pada umumnya. Mereka masih cengeng, mereka masih suka makanan manis, mereka masih suka bermain, dan mengidolakan Elsa dan Anna dari Frozen. Satu poin plus yang saya sukai adalah mereka sudah bisa memahami perihal kepergian Muti ataupun Didi yang tidak bisa mengantar les balet.

Alur yang disuguhkan novel ini adalah alur maju dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Saya rasa ini cocok karena apabila menggunakan sudut pandang orang pertama, perasaan dan pergolakan batin tokoh lain menjadi kurang tersampaikan dengan baik. Saya rasa ini adalah keberhasilan penulis yang telah berdiskusi secara matang dengan produser.

Produser? Ya benar, SuperDidi pada awalnya adalah film layar lebar yang rilis pada tanggal 21 April 2016 lalu. Kemudian tanggal 2 Mei 2016 lahirlah bentuk novelisasi film tersebut yang ditulis oleh Silvarani. Jujur saya belum sempat menonton filmnya, hanya menonton lewat trailer. Namun saya sudah bisa memastikan bahwa apa yang ada di film sudah tersaji lengkap di dalam novel.

Meskipun ini film bertema keluarga, sang produser, Reymund Levy, tidak lupa memberikan sepercik konflik asmara beberapa tokoh pendamping. Hal ini membuat saya tidak diliputi kebosanan karena mengikuti kisah keluarga Arka saja. silvarani sang penulis juga sukses menghadirkan kisah sampingan ini tanpa mengganggu kisah utama Arka. Oh iya, saya menemukan beberapa typo namun karena saya asyik membaca, typo tersebut tidak mengganggu kok.

Sebagai penutup, saya ingin merekomendasikan novel ini untuk para pembaca yang (mungkin) sudah bosan dengan drama romansa dua anak manusia, bisa melirik novel ini. Tema keluarga yang diangkat membuat kita bisa merenungkan apakah memang tidak mudah menjadi seorang ibu? Apakah memang berat menjadi seorang ayah? Yang jelas, berat ataupun tidak, selama dijalani bersama dan saling mendukung, niscaya kesulitan itu akan terlewati.

Tak gampang untuk menjadi seorang ayah

Tapi, tidak ada kata menyerah.

Malah terkadang semuanya tampak mudah.

Apalagi ketika melihat senyum mungil itu merekah.

Untuk seluruh ayah hebat di muka bumi ini…. (Halaman 5)

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus