Lost in Bali 2

coverbmlost2

Judul: Lost in Bali 2

Kartunis: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: iv + 108

Terbit Perdana: Juli 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juli 2009

ISBN: 9789799101969

cooltext-blurb

Benny & Mice semakin ‘tersesat’ di Pulau Dewata! Kali ini mereka bertualang ke dasar samudra, menyusuri pedalaman Ubud, hingga terjebak di kerumunan para penyuka sesama jenis… Wah… gawat!

cooltext-review

Setelah sukses mengeluarkan buku pertama, kali ini duo kartunis Benny & Mice menerbitkan sekuel Lost in Bali, yang diberi judul Lost in Bali 2. Jika buku pertama berisi awal mula perjalanan hingga beberapa tempat wisata yang mereka singgahi, buku kedua ini berisi lanjutan pengalaman mereka di Bali hingga kembali ke Jakarta

Nama orang Bali sedikit sekali…. Hanya ‘berkutat’ di nama-nama ini saja: Wayan, Putu, Made, Nyoman, Ketut!! (Halaman 7)

A Night at Seminyak adalah tempat pertama yang mungkin secara tidak sengaja mereka singgahi. Namanya juga orang Jakarta, tentu sudah tidak asing dengan dunia malam alias café. Oleh karena itu, Benny & Mice menyambangi salah satu café yang apesnya, adalah café yang biasa dikunjungi pria homoseksual. Bahkan pertunjukan di panggung juga biasa diperuntukkan pria gay.

Gimana kalo ada temen atau saudara yang ngeliat kita disitu? Bisa salah paham! (Halaman 37)

Pulau Penyu adalah destinasi wisata berikutnya yang disambangi duo kartunis ini. Menyeberang melewati Tanjung Benoa, Benny & Mice penasaran akan panorama dan keunikan pulau ini. Seperti namanya, penyu segala ukuran ada disana menyambut mereka berdua. Eits, Benny sempat menyinggung tayangan salah satu stasiun televisi swasta loh di bagian ini.

Emang isinya penyu semua? Nggak ada orangnya yaaaa? (Halaman 40)

Hard Rock Hotel Bali sebenarnya bukan tempat wisata khas Bali. Namun Hard Rock Hotel yang terkenal juga membuat hotel di cabang Bali ini menjadi persinggahan para turis. Tentu saja untuk foto-foto di depan papan surfing sebagai trademark hotel kelas atas ini. Tidak lupa Benny & Mice menyelipkan banyolan khas mereka tentang papan surfing ini.

Biasanya… yang suka foto-fotoan di lokasi ini, malah bukan tamu yang menginap di hotal yang berkelas ini… kasihan… (Halaman 62)

Ubud adalah destinasi selanjutnya karena Benny & Mice ingin mencoba suasana yang berbeda setelah terjebak hiruk pikuk Denpasar. Melipir ke Ubud adalah jawabannya. Setelah salah paham tentang istilah “Home Stay”, Benny & Mice menghadapi kondisi penginapan yang minim. Akhirnya mereka berdua klayapan di Ubud malam-malam.

Mungkin… di Ubud standarnya begini kali yaa? Turis pengennya tenang… (Halaman 70)

Goa Gajah menjadi destinasi terakhir yang menurut saya agak maksa dan kurang jelas asal-usulnya mereka “nyasar” ke tempat ini. Pokoknya di tempat ini Benny & Mice merasa sebagai turis yang tidak berbahagia karena mendapatkan sial hahahaha.

Kalau goanya sekecil ini…. Gajahnya masuk lewat mana yaaa?! (Halaman 93)

Hal yang berbeda dari Lost in Bali adalah adanya stempel khusus yang bertuliskan Recommended ataupun Not Recommended ala Benny & Mice kepada pembaca, untuk setiap tempat wisata ataupun pengalaman baru yang mereka dapatkan di sana. Saya tidak menghitung pasti, namun jumlah yang recommended masih lebih banyak daripada not recommended.

Kata orang, Bali tempat yang berkesan dan meninggalkan banyak kenangan, sepertinya kami sepakat…. (Halaman 105)

Hal yang cukup menggembirakan adalah buku ini mengandung 48 halaman full color dengan kertas glossy. Sebenarnya ada bonus poster juga, namun anehnya saya tidak menemukan poster itu. Padahal saya membeli masih tersegel rapi lho. Secara umum saya melihat cerita di tiap lokasi wisata pada buku ini cukup panjang. Imbasnya destinasi ataupun pengalaman baru yang disuguhkan tidak sebanyak Lost in Bali.

Berbicara tentang judl, saya kok merasa kurang tepat ya. Benny & Mice tidak lost beneran dalam arti hilang ataupun nyasar, tetapi malah sial dalam arti mendapati kondisi yang unik dan menguras emosi hehehe. But anyway, wahana baru Sea Walker, Camel Safari, dan juga menikmati musik jazz di salah satu café di Bali sepertinya sangat menarik untuk dicoba sendiri.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus