Karut-Marut Ekonomi

coverbmpresiden2

Judul: Karut-Marut Ekonomi

Seri: Dari Presiden ke Presiden #2

Kartunis: Benny Rachmadi

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: x + 267

Terbit Perdana: September 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, September 2009

ISBN: 9789799102065

cooltext-blurb

Sepanjang 1998-2009 berjibun peristiwa sosial-politik-ekonomi sampai bencana yang mewarnai Tanah-Air. Benny Rachmadi–dari duo Benny & Mice–merekam peristiwa-peristiwa yang penting dalam bentuk kartun opini untuk Mingguan & Harian Kontan.

Setelah kartun-kartun itu–yang jumlahnya mencapai 700-an–dipilih-pilih dan disusun sebagai “cerita”, hasilnya adalah Dari Presiden ke Presiden. Buku jilid dua ini merekam karut-marut ekonomi Indonesia. Jilid pertama merekam tingkah-polah elite politik kita.

cooltext-review

Buku kumpulan kartun atau karikatur hasil karya Benny Rachmadi berlanjut ke buku kedua. Kali ini meskipun masih berasal dari Harian dan Mingguan Kontan sejak tahun 1998 hingga 2008, pembagian bab untuk buku kedua ini tidak lagi menggunakan periode presiden, malinkan berdasarkan isu besar yang sedang terjadi pada empat presiden setelah orde baru yang meliputi Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY.

Yang Terjepit dan Yang Tetap Bergaya adalah bab pertama yang mengusung tentang kesenjangan sosial. Dari berbagai karikatur yang dikemas pada bab ini, saya suka pada karikatur mengenai operasi pasar, khususnya pada komoditas beras. Karikatur yang mengambil judul Operasi Pasar yang Banyak Kendala dan diterbitkan pada Mingguan Kontan tanggal 26 Februari 2007 ini menggambarkan beras dalam karung yang dioperasi di ruang bedah dokter. Kala itu sepertinya memang sedang ramai mengenai situasi beras dalam negeri yang mengkhawatirkan.

Operasi kita kayaknya gagal nih.. Penyakitnya sudah komplikasi!! Ada joki, spekulan, calo, ada yang beli berulang kali. (Halaman 78)

Susahnya Mencari Kerja adalah bab kedua. Bab ini menyoroti masyarakat Indonesia yang kesulitan memperoleh pekerjaan. Ketersediaan lapangan kerja tidak dapat memenuhi jumlah tenaga siap kerja yang semakin bertambah dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, persaingan mendapatkan pekerjaan menjadi sangat tinggi. Kartun yang “menonjok” para pekerja dan “mengerti” para penganggur muncul pada karikatur berjudul Beda Pekerja dan Penganggur yang terbit pada Harian Kontan tanggal 16 Mei 2007. Kartun ini menggambarkan dua orang, yang satu seorang pekerja yang bersemangat karena hendak liburan, dan satu lagi seorang penganggur yang iri dengan si pekerja. Sampai-sampai ia memberikan komentar jleb.

Ironis ya… Lu udah kerja doyan libur… Gua nganggur pengen kerja kagak dapet-dapet! (Halaman 112)

Susahnya Mencari Uang Pendapatan Negara merupakan bab ketiga yang mengambil fokus tentang pendapatan negara. Seperti yang kita ketahui, negara juga harus memiliki pendapatan untuk digunakan berbagai keperluan, salah satunya pembangunan dalam negeri. Saya kurang mengerti tentang situasi pada masa itu, namun sepertinya pada karikatur berjudul Surat Utang Buat Menambah APBN mengindikasikan bahwa APBN sedang dalam tahap yang cukup mengkhawatirkan. Kartun yang terbit pada Harian Kontan tanggal 12 Januari 2008 ini menyuguhkan potret pemerintah yang menjual surat utang kepada masyarakat untuk meningkatkan jumlah APBN. Sampai-sampai ada tambahan bonus sebesar 7% untuk merangsang rakyat membeli surat tersebut.

Ladies and gentlemen, beli dong…. Buat nambah-nambah, dapat bonus 7% lho…. (Halaman 144)

Naiknya BBM dan Gas merupakan bab selanjutnya. Pada bab kali ini, yang disoroti adalah benda yang sangat dekat dalam kehidupan masyarakat, yaitu BBM dan gas elpiji. Dalam beberapa waktu, harga BBM cenderung terus meningkat mengikuti harga minyak dunia. Salah satu kartun yang menggambarkan situasi BBM dalam negeri itu ada yang sangat menyindir. Karikatur berjudul Ditengah Kesusahan Masih Ada yang Gemar “Bermain” yang terbit pada Mingguan Kontan di bulan Oktober 2007 ini menggambarkan adanya oknum yang memanfaatkan situasi BBM dalam negeri yang berharga tinggi. Oknum ini menyelundupkan BBM ke luar sehingga situasi per-BBM-an dalam negeri menjadi kacau.

Bagus ya… Aku babak belur karena harga minyak dunia naik, kamu malah selundupin ke luar! (Halaman 171)

Bab berikutnya adalah Jatuh-Bangun Rupiah dan Saham. Seperti yang kita ketahui, nilai tukar mata uang Indonesia, rupiah, cenderung fluktuatif dari hari ke hari. Terkadang naik, kadang bisa turun, bahkan bisa naik lagi. Sampai suatu ketika ada gerakan Cinta Rupiah untuk membuat nilai tukar rupiah menguat terhadap dollar. Membaca karikatur berjudul Cinta Rupiah Daripada Dollar ini membuat saya terngiang-ngian lagunya Cindy Cenora berjudul Aku Cinta Rupiah. Kartun yang terbit di Mingguan Kontan pada Minggu V Oktober 2008 ini menggambarkan rakyat yang mencintai rupiah daripada dollar. Saya suka banget pesan dari gambar ini.

Biar gimanapun aku akan selalu CINTA kamu! Dapetin aja susah, apalagi dollar… (Halaman 196)

Repotnya Mengurus Perbankan merupakan bagian keenam. Bab ini menyoroti bagaimana sulitnya pemerintah, dalam hal ini adalah Bank Indonesia, mengendalikan bank-bank swasta yang ada di Indonesia. Sampai-sampai ada karikatur yang menggambarkan kondisi Indonesia yang memudahkan investasi oleh pihak asing diluar Indonesia menjadi lebih mudah. Sayangnya, kartun berjudul Investasi Asing Dipermudah yang terbit pada Harian Kontan tanggal 26 September 2007 ini juga memberikan sebuah resiko yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia ketika menerapkan kemudahan bagi para investor asing.

Kalau sewaktu-waktu kuambil lagi? Kolaps deh lu… (Halaman 221)

Setelah bab sebelumnya menyuguhkan cara pemerintah mendapat tambahan APBN, kali ini bab berjudul Mencari Uang Lewat Pajak hampir mirip dengan itu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini pajak menjadi satu alternatif mendapatkan tambahan pendapatan negara. Setiap warga negara yang telah memiliki penghasilan diwajibkan mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak atau NPWP. Salah satu kartun berjudul Kewajiban Memiliki NPWP yang terbit pada Harian Kontan tanggal 27 Agustus 2008 ini mengingatkan pentingnya memiliki NPWP bagi warga negara yang telah berpenghasilan. Ingat slogan “Apa kata dunia??” pada iklan layanan masyarakat di televisi? Nah ini salah satu sosialisasinya.

Urus NPWP!!! Bayar pajak penghasilan kamu! Kalau enggak, kena denda 2x… (Halaman 233)

Bagian kedelapan adalah Menjaga Keamanan dan Kedaulatan Negara. Kalau berbicara tentang keamanan negara, hal yang langsung terlintas adalah polisi. Nah ada satu fenomena yang bisa dibilang mengkhawatirkan pada tahun 2007. Kartun yang mencoba menyuguhkannya berjudul Akibat Jumlah Personel Polisi yang Kurang. Kartun ini terbit pada Mingguan Kontan di Minggu II bulan November 2007. Adanya situasi kurangnya personel kepolisian membuat angka kejahatan menjadi semakin marak. Polisi yang notabene bertugas melindungi warga dari kejahatan, menjadi kurang efektif ketika jumlah polisi yang tidak memadai.

Waaah… Pak Polisi pada kemana nih… Lagi pada ngurusin jalanan macet kali ya…. Asyiiik!!! (Halaman 248)

Sehabis Pemilu  adalah bab penutup buku ini. Seperti biasa, pemilu identik dengan kampanye. Terlebih jika pemilu ini adalah pemilihan presiden, maka kampanye yang terjadi juga dimulai ibukota hingga desa pelosok di Indonesia. Pemilu yang disebutkan pada karikatur berjudul Tim Sukses Capres Banyak yang Tidak Membayar Kaos Pesanan yang terbit di Harian Kontan pada tanggal 11 Juli 2009 ini mengacu pada pemilu presiden untuk periode 2009 hingga 2014. Sungguh ironis yang digambarkan pada kartun ini. Tim sukses calon presiden yang notabene harus totalitas dalam menarik dukungan masyarakat, kok ya bisa-bisanya tidak melunasi pembayaran kaos yang digunakan sebagai salah satu alat kampanye. Kalau sudah begini, maka konveksi yang menjadi tender kampanye harus terkena imbasnya. Kalau sudah begini, siapa yang salah?

Bangkrut aku… “Pesta” nya udah usai, tagihan kaos belum pada lunas!!! (Halaman 262)

Satu hal yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah ketika membaca judul buku ini. Karut-marut. Emang ada ya? Setahu saya kok carut marut, yang biasa digunakan? Ah mungkin saya memang terlewat memahami kata yang benar. Dan tentu saya tidak bisa menyalahkan judul buku yang jelas terpampang, karena bisa dipastika 99% benar, bukan? Jadi judul ini saya rasa pas untuk menggambarkan isi buku. Hanya saja, kok saya merasa tidak hanya ekonomi yang tertuang didalamnya, melainkan ada juga bidang sosial juga meskipun tidak banyak.

Buku kedua dari seri Dari Presiden ke Presiden ini membagi bagian sesuai tema, bukan pemerintahan presiden. Hal ini menjadi mudah saya pahami karena isinya jadi lebih fokus. Kalau dipisahkan sesuai presiden, situasi yang diangkat menjadi kurang fokus karena tercampur aduk jadi satu. Kalau bisa saya mengira-ngira, mungkin sekitar 97% berita negatif yang disuguhkan di buku ini. Namun saya jadi mengerti bahwa maksud kartun ini adalah menunjukkan bagimana situasi di Indonesia yang sebanrya tidak bagus. Meski terkadang lebay dalam penggambarannya, tapi maksudnya benar adanya.

Oh iya saya menyayangkan tidak ada halaman berwarna yang sama seperti buku pertama. Buku kedua ini isinya full hitam-putih, kecuali cover dan bagian belakang buku. Agak kurang hidup sih sebenarnya. Namun adanya sejumput komik yang memiliki tokoh penjual gado-gado dan pekerja kantoran di bagian awal dan akhir buku membuat saya puas membacanya hingga halaman terakhir. Good job, Benny Rachmadi!

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus