Tingkah-Polah Elite Politik

coverbmpresiden1

Judul: Tingkah-Polah Elite Politik

Seri: Dari Presiden ke Presiden #1

Kartunis: Benny Rachmadi

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: x + 333

Terbit Perdana: Juni 2009

Kepemilikan: Cetakan Kedua, Juli 2009

ISBN: 9789799101907

cooltext-blurb

Sepanjang 1998-2009 berjibun peristiwa sosial-politik-ekonomi dan bencana yang mewarnai Tanah-Air. Benny Rachmadi–dari duo Benny & Mice–merekam peristiwa-peristiwa yang penting dalam bentuk kartun opini untuk Mingguan & Harian Kontan.

Setelah kartun-kartun itu–yang jumlahnya mencapai 700 an–dipilih-pilih dan disusun sebagai “cerita”, hasilnya adalah buku ini. Dari Presiden ke Presiden: Tingkah Polah Elite Politik adalah buku pertama dari dua jilid. Buku kedua merekam tingkah-polah pemimpin kita dalam mengelola ekonomi Indonesia.

cooltext-review

Siapa yang tidak suka dengan kartun? Saya rasa, baik anak-anak ataupun dewasa menyukai gambar ilustrasi yang menghibur ini, meski berbeda dosis dan takarannya. Kartun pada dasarnya adalah sebuah media visual yang digunakan oleh pembuatnya (disebut kartunis) untuk menyampaikan sesuatu melalui gambar. Mulai dari hiburan, himbauan, ataupun hal yang lainnya. Benny Rachmadi adalah seorang kartunis yang biasa mengisi Mingguan & Harian Kontan. Isi kartun (atau boleh saya bilang sebagai karikatur) yang ia ciptakan ini cenderung mengambil fokus situasi yang sedang terjadi di Indonesia.

Buku ini memuat berbagai macam karikatur yang dibuat oleh tangan Benny selama sebelas tahun terakhir yang terhitung sejak buku ini diterbitkan hingga sebelas tahun kebelakang. Sengaja mengambil judul Dari Presiden ke Presiden karena pemimpin negeri ini adalah orang yang pasti berada dalam situasi yang terjadi di negeri ini, baik langsung ataupun tidak. Sehingga bisa segala kejadian dan kisah hidup yang ada di buku ini dibagi berdasarkan siapakah orag yang menduduki jabatan orang nomor satu di Indonesia pada waktu itu.

Dimulai pada bagian pertama yaitu Era Habibie (Mei 1998 – Oktober 1999). Karakter Pak Habibie digambarkan masih kecil karena diantara empat presiden di buku ini, beliaulah yang menjabat paling singkat sebagai presiden setelah serah terima jabatan dari Soeharto. Berbagai problematika juga terjadi pada masa pemerintahan Habibie. Mulai dari kasus korupsi Bank Bali, Sidang Istimewa MPR, kabinet yang kacau, jual beli suara pada Pemilu tahun 1999, dan tentu saja kerusuhan di Timor Timur.

Diantara buanyaknya kartun yang dtampilkan pada era pertama di buku ini, tentu saya langsung menengok pada karikatur berjudul Pengungsi TimTim Lari ke Bali yang dimuat pada Mingguan Kontan bulan September 1999. Sedikit banyak saya mengerti bagaimanakah nasib penduduk TimTim kala itu harus berjuang dari gempuran kesulitan pulau yang mereka huni. Meskipun tidak dijelaskan dengan rinci, saya bisa menangkap situasi negeri ini pada masa kanak-kanak saya itu seperti apa.

Apa?! City Tour? Sunset in Tanah Lot? Bungy jumping?? Kami inih ‘ngungsi’…. bukannya piknik!! (Halaman 27)

Meninggalkan bagian Pak Habibie, kali ini bagian kedua adalah Era Gus Dur (Oktober 1999 – Juli 2001). Sebagai presiden selanjutnya, masa pemerintahan Gus Dur tidak jauh lebih mulus dari masa pemerintahan Habibie. Gus Dur memiliki cukup banyak hal yang patut diperhatikan pada masa itu. Mulai dari permainan politik yang amat hebat, isu bumbu masak yang tidak halal, Papua yang ingin memerdekakan diri, hingga bongkar-pasang kabinet.

Jihad Pendukung Gus Dur adalah salah satu karikatur yang menarik minat saya. Karikatur yang diterbitkan di Mingguan Kontan tanggal 23 April 2001 ini memuat seseorang yang mendukung Gus Dur. Seperti artinya, jihad bisa diartikan secara bebas yaitu berani mati, yang bisa dikatakan seorang pendukung ini berani mati untuk mendukung Gus Dur. Yang menggelitik adalah seorang gambar anak kecil dengan pakaian lusuh berkata sinis.

Kalau saya sih…. Daripada berani mati mendingan berani idup… Mas!! (Halaman 121)

Bagian ketiga adalah Era Megawati (Juli 2001 – Oktober 2004). Satu-satunya presiden perempuan di buku ini juga tidak luput dengan segala macam persoalan sosial, politik, dan ekonomi selama menjabat sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Sebut saja booming-nya penyanyi dangdut Inul Daratista dengan goyang ngebornya, pengangkatan Sutiyoso sebagai gubernur DKI Jakarta, dunia politik yang bagi-bagi kekuasaan, hingga permasalahan Tenaga Kerja Indonesia.

Kalau saya sangat ingat dan klau boleh dibilang sangat emosi pada karikatur berjudul Lepasnya Pulau Sipadan & Ligitan ke Tangan Malaysia yang dimuat pada Mingguan Kontan bulan Desember 2002. Seperti yang kita ketahui, kedua pulau tersebut sesungguhnya termasuk dalam wilayah Indonesia. Namun karena kurangnya perhatian pemerintah saat itu pada pulau-pulau ini, negara tetangga akhirnya mencaplok dengan sukses karena mengantongi landasan hukum yang kuat.

Elu siiih… Punya anak kagak diurusin!!! (Halaman 167)

Akhirnya bagian terakhir sebagai penutup adalah Era SBY (Oktober 2004 – Oktober 2009) yang memiliki masa jabatan benar-benar pas lima tahun, tidak seperti ketiga presiden sebelumnya yang kurang dari lima tahun. Masalah dan situasi pelik yang dihadapi Pak SBY memang tidak sama dengan ketiga presiden sebelumnya karena perbedaan iklim politik dan atmosfer negeri ini. Namun masalah yang muncul sesungguhnya juga tidak lebih enteng dibandingkan tiga periode pemerintahan yang sebelumnya. Mulai dari bencana tsunami di Propinsi Aceh, reshuffle kabinet, penerbitan KTP untuk etnis tionghoa (yang masih disebut Cina), ledakan lumpur lapindo di Sidoarjo, dan pembentukan lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi.

Lagi-lagi satu buah karikatur pada bagian Pak SBY ini yang membuat darah saya mendidih adalah yang berjudul Anggota DPR Menikmati Berbagai Tunjangan. Seperti yang kita ketahui, tunjangan-tunjangan ini didapatkan anggota dewan perwakilan rakyat. Namun karikatur yang terbit pada Mingguan Kontan tanggal 31 Oktober 2005 ini menuliskan kata-kata yang sesungguhnya sangat tidak etis diucapkan anggota DPR. Namun saya harus mengakui bahwa memang begitulah realita yang ada.

Aku ‘kan wakil rakyat, jadi aku yang mewakili kalian menikmati kesejahteraan. (Halaman 212)

Secara umum, buku ini memberikan berbagai informasi tentang situasi Indonesia dari satu presiden ke presiden yang lain. Tiga presiden yang diungkapkan pertama sebenarnya saya tidak begitu memahami bagaimana sesungguhnya hal yang terjadi. Hal ini dikarenakan ada masa Pak Habibie contohnya, saya masih kecil berusia TK hingga kelas satu SD. Meskipun saya memaksa mengingat, namun saya tetap tidak bisa ingat situasinya, selain Pak Soeharto lengser dan digantikan oleh Pak Habibie. Selebihnya, saya manggut-manggut saja.

Begitu pula pada masa pemerintahan Gus Dur. Saya juga masih berusia sekolah dasar. Kalau waktu itu, yang saya ingat pada pemerintahan Pak Gus Dur adalah hari libur saat puasa Ramadhan benar-benar satu bulan plus Idul Fitri jadi bisa 45 hari. Puas banget pokoknya. Sedangkan situasi sosial-politik-ekonomi saat itu, saya rada ingat terkait karikatur yang disuguhkan, tetapi hanya samar-samar. Beruntung krtun di buku ini bisa memberikan pencerahan hehehe.

Kalau pemerintahan Ibu Mega sebenarnya ya sebelas dua belas dengan Gus Dur, alias saya juga nggak inget-inget banget. Masa itu kan saya masih anak-anak dan pra-remaja yang tidak pernah ambil pusing dengan kondisi Indonesia. Yang penting uang saku tetap terjaga dan nilai pelajaran di sekolah masih bagus, itu sudah cukup. Namun ternyata ada banyak segali kejadian yang ada di Indonesia kala itu yang saya lewatkan untuk memahaminya lebih jauh. Meskipun saya tidak mengetahuinya dengan pasti setidaknya kartun di buku ini bisa membantu meringankan kinerja otak saya mencerna kondisi yang ada hehe.

Terakhir pemerintahan Pak SBY adalah yang paling saya ingat dibandingkan tiga presiden sebelumnya. Mungkin karena ketika Pak SBY menjabat, saya sudah berusia sekolah menengah pertama dan atas, sehingga secara tidak langsung juga jadi melek situasi negeri ini. Apalagi pada saat saya SMA, guru pengajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) selalu menyelipkan informasi terkait dunia pemerintahan yang sedang terjadi di akhir jam pelajaran beliau. Hal ini membuat saya lebih mudah related dengan karikatur era SBY.

Yang bisa saya tarik kesimpulan pada empat periode presiden di buku ini adalah: kapanpun waktunya, siapapun presidennya, pasti ada masalah yang terjadi terkait isu sosial-politik-ekonomi. Meskipun masalahnya juga berbeda-beda, hal ini yang menjadi tantangan bagi para presiden tersebut untuk mengatasinya. Kartun di buku ini menurut saya sukses memotret isu aktual kala itu dalam satu karya yang menghibur.

Banyak karikatur yang disajikan dalam buku ini mengusung majas personifikasi. Artinya me-manusia-kan benda mati (eh benar kan ya?). Contohnya kasus pulau SIpadan dan Ligitan dituangkan sebagai dua orang bayi. Tidak heran hal yang seperti itu membuat saya menjadi lebih cepat menangkap maksud dari sang kartunis. Oh iya, meskipun jumlah halaman buku ini ratusan, adanya halaman berwarna yang cukup banyak disela-sela halaman monokrom membuat pandangan menjadi segar. Memang sih warna yang digunakan tidak full block, namun gradasi yang diciptakan menjadi unik. Tidak sabar membaca buku keduanya. Tunggu resensinya ya!

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus