Unforgiven

coverunforgiven

Judul: Unforgiven

Sub Judul: Hantu Rumah Hijau

Penulis: Eve Shi

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: vi + 262

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9797807304

cooltext-blurb

Kaylin tak percaya ada hantu di rumah hijau yang katanya angker. Tak ada yang perlu ditakuti dari rumah tua dan kusam itu.

Namun, sejak rumah kosong itu kedatangan penghuni baru yang misterius, semua berubah.

Tiba-tiba, suara jeritan mengerikan dan suara lirih tangis tengah malam itu terasa sangat nyata di telinga Kaylin. Bau anyir darah tercium dari rumah itu. Sang penghuni baru seakan-akan membangkitkan hantu-hantu yang ada di sana.

Kaylin ingin menarik ucapannya, tetapi terlambat. Sosok itu semakin mendekat, dengan kepala hampir putus….

cooltext-review

Saya cukup jarang menemui (dan membaca) buku bertema horror yang ditulis oleh penulis lokal. Seringnya sih menikmati nuansa horror dalam balutan film hollywood di bioskop. Nah, ternyata ada juga salah satu buku fiksi horror yang cukup banyak disebut-sebut dalam dunia perbukuan lokal. Tak ada salahnya saya mencoba untuk membaca buku seperti ini.

Cerita dibuka oleh percakapan dua orang anak SMA bernama Kaylin dan Rico (yep, that’s me! LOL!) yang dalam perjalanan pulang sekolah menuju kediaman mereka di sebuah komplek perumahan. Obrolan yang awalnya biasa saja menjadi cukup mencekam ketika Kaylin menyebut-nyebut rumah hijau, rumah terbesar dan terluas di komplek itu, menyimpan berita bahwa sering terdengar tangisan dari dalam rumah. Mendengar hal itu, Rico hanya menggumam tak menaruh kepercayaan pada omongan sahabatnya itu.

Tak disangka, obrolan mereka di senja kala itu menjadi cikal bakal teror yang mulai menghantui hidup mereka berdua. Mulai dari Kaylin, ia melihat sebuah tangan misterius yang kurus dan bebercak gelap menggapai gagang pintu rumahnya serta televisi yang tiba-tiba mati. Mencoba berpikir positif, Kaylin hanya menganggap hal itu sebuah halusinasi belaka akibat dirinya yang kelelahan.

Sedangkan Rico mulai mengalami kejadian misterius pula. Berbeda dengan Kaylin, ia mendapati sesosok misterius sedang menonton televisi – yang tentu saja bukan salah sau anggota keluarganya – tanpa ada tanda-tanda kehdupan serta ada tangan misterius yang kotor dan dingin menekan tangan Rico saat ia akan mematikan saklar lampu. Dan seperti Kaylin, ia hanya berpikir itu merupakan imajinasi yang berlebihan.

Sayangnya, kejadian misterius tak hanya sampai disitu. Cherie, adik Kaylin mengalami malapetaka di kamar mandinya sendiri akibat ulah si hantu wanita misterius yang meneror Kaylin. Bahkan Cherie sampai dibawa ke rumah sakit akibat kepalanya membentur lantai. Tak pelak hal ini membuat Kaylin berapi-api ingin menyelesaikan urusan paranormal ini. Mengetahui kejadian aneh tak hanya menimpa dirinya, Rico bersedia ikut membantu.

Urusan ini tidak semudah mereka selesaikan dalam hitungan hari. pasalnya, awal mula teror ini adalah ketika kakek Kaylin, Pak Iswar, dan kakek Rico, Pak Ferdi yang bersahabat dengan kakek pemilik rumah hijau, Pak Theo. Akibat suatu tragedi berdarah puluhan tahun yang lalu, hantu wanita yang bernama Eris menuntut balas pada keluarga Kaylin, sedangkan hantu pria bernama Markus mengusik kehidupan keluarga Rico.

Berbagai misteri yang menyelimuti rumah hijau dan isinya saling berkaitan satu demi satu dan menyebabkan misteri ini tidak mudah diselesaikan. Lantas, apa yang menyebabkan Markus dan Eris rela menunggu puluhan tahun untuk menuntut balas? Sebenarnya apa yang terjadi pada ketiga kakek yang bersahabat baik itu? Apakah semua akan berakhir pada halaman terakhir buku ini? Silakan membaca sendiri ya.

Well, saya cukup menyukai buku ini. Pertama, karena buku ini membuat saya berdebar ketika membacanya. Entahlah apakah imajinasi saya terlalu kuat membuat tulisan buku ini menjadi seram saat dibayangkan atau pilihan kata yang pas oleh penulis. Pokoknya membaca buku ini serasa menonton film horor. Kedua, tokoh utama pria bernama lengkap Rico Novarda. Hahaha aduh subjektif sekali. Tapi beneran kok, deskripsi si Rico yang berkacamata ini terasa saya buanget XD

Rico sendiri, kalau ia mau sombong, tidak standar-standar amat. Tingginya lumayan, 175 sentimeter. Tampangnya tidak mirip seleb mana pun, tapi jauh dari butut. Setidaknya, menurut Rico sendiri. (halaman 24)

Penjabaran betapa seramnya kondisi rumah hijau dan tentu saja, kedua hantu misterius turut menyumbang debar dada ini *halah. Saya baru pertama kali sih menjumpai deskripsi sosok makhluk halus yang berdasarkan penulisannya bisa saya bayangkan sendiri bagaimana rupa aslinya. Dan well, itu bukan hal yang menyenangkan untuk dibayangkan. Tapi justru inilah yang membuat buku ini sukses menjadi buku horror.

Satu yang membuat saya kurang menikmati buku ini dengan maksimal adalah mengenai latar tempat. Maafkan kalau saya terlewat membacanya, tapi saya rasa lokasi cerita Kaylin dan Rico ini dibuat benar-benar seperti sebuah tempat di negeri antah berantah yang tidak jelas. Awalnya ketika membaca nama sekolah Kaylin & Rico yaitu Primavera High, saya mengasumsikan setting-nya adalah di luar negeri, bukan Indonesia. Apalagi mengingat nama-nama tokoh buku ini juga rada kebarat-baratan.

Eh tetapi, ada Pak Herman yang menjabat sebagai ketua RT. Oke saya mungkin cupu, tetapi apakah diluar negeri juga ada RT? Kalaupun ada, mosok ya namanya Pak RT? Menurut saya hal ini jadi membingungkan pembaca, setidaknya saya sendiri. Latar tempat bisa mengungkapkan segalanya, mulai dari budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan berbagai istilah yang umum digunakan di lokasi tertentu. Jika penulis lebih greget menuliskan setting lokasi dengan lebih jelas, bisa jadi cerita horor ini bisa lebih dinikmati.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus