Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 20)

coveryakitate20

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 20)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 190

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2011

ISBN: 9789792796087

cooltext-blurb

Katsuwo, lelaki babi terburuk sepanjang sejarah muncul kembali! Kali ini dengan meminjam kekuatan babi misterius dan Kirisaki yang jelmaan kejahatan, penampilan dan kemampuannya meningkat! Ayo, kalahkan dia dengan Japan andalanmu!

cooltext-review

Akhirnya saya bisa menulis lagi di blog yang penuh tanah (bukan debu) dan sarang naga (bukan laba-laba) ini. Beberapa bulan terakhir saya tidak menulis sama sekali disini. Tidak etis kalau saya menyalahkan skripsi sebagai penyebab ketidak disiplinan saya. Tapi yang jelas, kelulusan saya bulan lalu sudah memberikan napas (sangat) lega sehingga saya bisa menulis resensi lagi. Lho malah curhat. Ah yasudah lanjut ke resensi jilid lanjutan komik favorit saya ah.

###

Jilid ini dibuka dengan pemilihan kotak untuk pertandingan ketujuh dari total 25 kotak yang tersedia. Tim Pantasia memilih kotak dan akhirnya Kota Higashison, Distrik Kunigami, Prefektur Okinawa terpilih sebagai lokasi pertandingan. Kota ini terkenal sebagai produsen daging babi langka, disebut babi agu. Nah yang bikin geregetan, lawan kali ini adalah Katsuwo yang karena suatu sebab memiliki penampilan fisik seperti babi. Tentu saja tak sekadar rupa, namun kemampuan Katsuwo tentang babi juga amat mengagumkan. Lantas, apakah Pantasia akan kalah lagi?

Kekuatan pinjaman dari babi atau Kirisaki! Tak bisa dibandingkan dengan kekuatan hasil dari kepercayaan kedua orang ini!! (Halaman 92)

Kisah kedua adalah permulaan pertandingan kedelapan. Monica pertama kali menyadari hal mengejutkan perihal lawan Azuma nanti. Ia adalah Giovanni van der Hesserink, pemenang Kejuaraan Juru Kue Se-Dunia ke-60. Bersama Suwabara, Monica mendatangi Azuma cs dan membicarakan kekhawatiran mereka. Tak disangka, lokasi selanjutnya di Kota Iyo, Prefektur Ehime sesuai dengan perkiraan Suwabara tentang tema yang harus dibuat oleh peserta pertandingan. Disisi lain, madu Biwa merupakan bahan yang digunakan untuk membuat pancake kali ini. Tentu saja cerita ini dibiarkan bersambung ke jilid selanjutnya.

Bicara Belanda pasti pancake, bicara pancake pasti Belanda. (Halaman 170)

Seperti jilid sebelum-sebelumnya, aroma kecurangan sudah terasa pada setiap pertandingan. Namun seakan mengesampingkan hal itu, membaca detik demi detik pertandingan Azuma dengan perwakilan St. Pierre sungguh mengasyikkan. Setelah sekian lama menjadi orang tidak berguna, Kawachi akhirnya berperan penting melawan si Katsuwo. Sedangkan cerita kedua, si Pak He (panggilan Azuma kepada Giovanni) terlihat sebagai orang agak aneh dan menyebalkan.

Saya suka dengan chemistry keakraban antara Azuma, Shigeru, dan Kawachi sebagai satu tim. Sebenarnya saya adalah tipe orang yang mudah bosan dengan tokoh utama. Seringnya Azuma yang menjadi sosok pahlawan menjadikan saya juga ikut bosan dengannya. Namun akhirnya porsi tokoh pendamping yang agak banyak menjadi sedikit penyegaran.

Mengenai roti yang dibuat, wuh jangan ditanya sepertinya enak bingit. Sayangnya, daging babi yang jadi bahan utama membuat saya nggak minat membayangkan hasil akhirnya. Yah maklum kan daging babi itu haram menurut agama saya. Anyway, reaksi dari Kuroyanagi setelah mencicipi roti (yang selalu luebuay buanget) kali ini membuat saya excited.

Tentang cerita kedua, karena belum ada adegan seru buat-buat roti, jadi saya nggak komen deh. Masih so-so aja sejauh ini. Mungkin jilid berikutnya bisa jadi greget. Penasaran juga sih bagaimana bentuk pancake yang akan dibuat oleh Azuma, Kawachi, dan Shigeru untuk melawan si Giovanni van der Hesserink dari Belanda. Are you ready to see?

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus