Yakitate!! Ja-Pan Desuyo! (Jilid 18)

coveryakitate18

Judul: Yakitate!! Ja-Pan Desuyo! (Jilid 18)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 196

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2010

ISBN: 9789792784879

cooltext1660180343

Kini berdiri Norihei Miki dari Momoya menghadang Kazuma Azuma yang hendak menyempurnakan Japan! Bagaimana cara Azuma menghadapi lawan tangguh yang mustahil ditaklukkan dalam adu nori!? Telah hadir jilid 18 yang mendebarkan baik tentang arah pertandingan maupun soal perizinan!

cooltext1660176395

Yosshh komik Yakitate!! Ja-Pan sudah memasuki jilid 18. Aslinya sih komik ini udah tamat diterbitkan. Tapi saya masih baca sampai jilid ini. Jadi nggak apa-apa lah ya saya review nya juga nyicil heheheh. Jilid ini dibuka dengan bagian 153 “Tekad Azuma” mengenai pencarian Shigeru dan Kawachi mencari bahan terbaik untuk membuat selai terlezat. Lantas, Azuma dimana? Karena terlalu lelah dan ngedrop, Azuma harus beristirahat di rumah sakit dan tidak bisa ikut bertanding

Justru selai lebih enak dimakan saat hangat! (Hal. 4)

Selanjutnya bagian 154 “Ide Terbaik” menampilkan pagi hari sebelum pertandingan dimulai. Tak disangka, Hashiguchi Takashi (ayah Tsutsumi dan Shigeru, bukan komikus komik ini) turut hadir menyaksikan pertandingan kedua putranya. Tentu saja dengan bala tentara orang-orang sangar di belakangnya.

Padahal selama ini tak pernah hadir di pertandingan olahraga atau hari kunjungan orangtua… Begitu urusan pewaris kelompok Hashiguchi, baru, deh… (Hal. 32)

Mengambil lokasi kota Shinano, pertandingan kali ini diperkirakan cukup alot. Sayangnya, Hashiguchi dan kroni-kroninya yang buta dunia kuliner mulai merasa kedatangan mereka akan membosankan dan sia-sia belaka. Oleh karena itu, sang ayah meminta sedikit bantuan kepada Manajer pada bagian 155 “Inti Dari Segalanya” ini.

Aku minta maaf atas keburukan kami selama ini… Tokong kabulkan satu permohonan ini. (Hal. 51)

Pada bagian 156 “Pengganggu”, pertandingan sudah berlangsung. Sudah dapat diduga, Tsutsumi menggunakan panci (atau wajan?) Yang terbuat dari batu lava sehingga membuat selai yang dimasak akan matang sempurna. Apalagi trik khusus yang mencengangkan turut menambah kemeriahan teknik Tsutsumi ini.

Aku menerapkan semua teknik tradisional dan membuat selai terhebat yang pernah ada. (Hal. 66)

Nah, sejauh ini ada yang penasaran nggak sih apa profesi ayah Shigeru dan Tsutsumi? Sampai-sampai baik Shigeru ataupun Tsutsumi tidak mau menjadi pihak yang kalah dalam pertandingan hehehehe. Pada bagian 157 “Lelaki Kelas Satu” ini akhirnya diumumkan siapa pemenangnya setelah Kuroyan mencicipi roti buatan Tsutsumi dan Shigeru. Lalu pemenangnya siapa?

Menang atau kalah sangat penting bagi kami sampai tak bisa dibandingkan dengan pertandingan sebelumnya dan lebih penting daripada sekadar jadi yakuza bagi yang kalah! (Hal. 91)

Setelah meninggalkan pertandingan keempat, mari beranjak menuju pertandingan kelima. Karena Azuma sudah sembuh dari sakit, kali ini ia bisa ikut berpartisipasi pada bagian 158 “Kekuatan Azuma”. Sebelum pemilihan kotak untuk penentuan lokasi pertandingan, mereka bertiga sudah dikejutkan dengan lawan kali ini. Bahkan kenyataan menakjubkan terkait judul komik jilid ini juga membuat semuanya terhenyak.

Tak usah peduli siapa lawan kita! Yang penting, bikin roti seperti biasa! (Hal. 109)

Lawan dari perwakilan St. Pierre adalah Norihei Miki. Ia adalah seorang ahli dalam bidang pembuatan nori (rumput laut kering). Beliau adalah ikon seorang jenius dalam dunia nori. Yang membuat pusing adalah, pada bagian 159 “Kawachi dan Kura-Kura” ini ternyata lokasi pertandingan ada di Uppurui, kota yang terkenal akan nori! Wah, bagaimana ini ya..

Biar dicoba menutupinya dengan roti seenak apa pun, kita tak mungkin menang. (Hal. 130)

Meskipun begitu, Azuma memiliki sebuah trik yang diharapkan bisa mengalahkan roti buatan Pak Norihei. Pembuatan roti ini dituangkan pada bagian 160 “Adonan Lembut Mengembang” yang cukup menarik. Sayangnya, mereka bertiga (ehm, Shigeru dan Azuma aja, Kawachi nggak usah dihitung) masih belum yakin dengan keampuhan trik Azuma ini.

Kita hanya perlu bikin adonan lembut mengembang seperti nasi yang baru matang. (Hal. 145)

Pada hari pertandingan, tak disangka Azuma dan Pak Norihei menerapkan teknik yang serupa dalam pembuatan creaming dari mentega yang dikocok-kocok. Pada bagian 161 “16 Pulau” ini Kawachi, Tsukino, dan Manajer mulai ragu dengan kelanjutan pertandingan. Pasalnya, jika teknika yang digunakan Azuma dan Pak Norihei sama, tentu ini adalah kekalahan telak untuk Pantasia. Yah meskipun begitu, Kuroyanagi tetap menilai roti Azuma dengan reaksi yang cukup ekstrim.

Kalau melakukan hal lain di luar membuang gas setelah fermentasi pertama, gluten yang sudah terbentuk akan hancur! (Hal. 164)

Bab terakhir sekaligus penutup jilid ini adalah bagian 162 “Rating Cerai Sunday” ketika penilaian dilakukan untuk roti Pak Norihei. Sama seperti roti Azuma, reaksi yang diberikan oleh Kuroyan juga sangat tidak biasa. Bahkan ia meninggalkan lokasi pertandingan selama beberapa lama hanya untuk menunggu roti Pak Norihei selesai dibuat. Lantas, siapa pemenang pertandingan kelima ini?

Aku tak mengerti kehebatan roti itu sampai membuatnya ingin menikah. (Hal. 180)

Akhirnya setelah agak jenuh dengan kemunculan Azuma, untunglah pertandingan keempat menampilkan Shigeru sebagai tokoh utama. Dibumbui dengan konflik keluarga membuat pertandingan Shigeru cukup menarik untuk diikuti. Apalagi teknik dari Tsutsumi sangat menarik minat saya untuk mencoba mempraktikkannya sendiri (dengan resiko kebakaran).

Untuk pertandingan kelima, saya jatuh cinta dengan artwork Norihei Miki. Berbeda dengan artwork tokoh lain, tokoh Norihei memang menyadur dari maskot sebuah merek pasta rumput laut “Gohan Desuyo” yang terkenal di Jepang. Jadi unyu-unyu gitu heheheheh.

Setelah melalui 18 jilid, saya bisa menarik kesimpulan bahwa komik ini bisa dikatakan fiksi-non fiksi ya. Kalau masalah teknik pembuatan roti (khususnya saat pertandingan) dan info-info kuliner roti, saya rasa adalah sebuah fakta yang benar adanya. Apalagi didukung tokoh kuliner sebagai pendukung informasi. Beberapa tips sederhana juga bisa diterapkan di rumah lho.

Nah sisi fiksi komik ini banyak dituangkan pada reaksi yang diberikan Kuroyan (atau Pierrot) sebagai juri yang menilai roti peserta. Sebagian besar (kalau tidak bisa dibilang semua) reaksi sang juri itu luebay dan nggak masuk akal buanget. Tetapi justru saking absurd-nya inilah membuat komik ini memiliki keunggulan dibandingkan komik kuliner serupa.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus