Opini Tentang Alur Cerita Bareng BBI 2015

Maret – Alur Cerita

Halo halo halo. Berjumpa lagi dalam rubrik opini bareng BBI. Tema untuk bulan Maret 2015 kali ini adalah ALUR CERITA. Sebuah kisah dalam buku, khususnya cerita fiksi memiliki alur sebagai runtutan waktu kejadian. Menurut sepengetahuan saya dan hasil googling *uhuk*, alur cerita ada beberapa macam.

Mungkin kebanyakan kawan-kawan pembaca pada umumnya mengetahui alur itu ada alur maju, mundur, cantiik dan campuran. Namun kali ini saya tidak akan membahas itu. Saya ingin membahas alur yang menurut saya cukup unik dan nggak banyak, yaitu alur rapat dan alur renggang. Apakah itu? Mari kita simak bersama sesuai ilustrasi gambar dibawah ini.

 

ALUR RENGGANG

Saya mengasosiasikan pegas untuk alur ini. Pegas yang renggang memiliki banyak ruang kosong diantaranya. Hal ini juga berlaku pada alur cerita. Dimana antara satu kejadian atau konflik dengan kejadian atau konflik yang lain tidak memiliki keterkaitan yang kuat, bahkan tidak ada hubungan sama sekali. Apabila salah satu kejadian ini dihilangkan, susunan inti cerita masih bisa dimengerti dan tidak membuat bingung pembaca.

Sebagai contoh adalah begini: Seorang pemuda SMA yang bangun kesiangan dan terlambat sekolah. Ia grasak-grusuk mandi, sarapan, dan berangkat bagai dikejar setan. Tak disangka, di tengah jalan ia menginjak tali sepatunya sendiri yang lupa diikat dan membuatnya terjatuh di tanah becek bekas hujan semalam. Hal ini mengakibatkan seragamnya menjadi kotor. Sesampainya di sekolah, gerbang sudah ditutup yang ini artinya dia tak bisa masuk sekolah sampai jam pelajaran berikutnya.

Nah, cerita diatas bisa saya kategorikan memiliki alur renggang. Kejadian terjatuh karena tali sepatu sehingga membuat baju seragam kotor itu apabila dihilangkan, ceritanya tetap bisa dimengerti. Bukankah dikatakan sejak awal ia bangun kesiangan sehingga telat masuk sekolah? Meskipun tidak ada tragedi tali sepatu pun, ia tetap telat dan gerbang sekolah sudah ditutup. Ini yang disebut dengan alur renggang.

Alur renggang pada umumnya saya temukan pada buku-buku dengan tema ringan, misalnya genre komedi. Buku dengan isi seperti ini biasanya hanya mengutamakan sisi yang lucu sehingga banyak selipan-selipan kocak yang kalau dipikir-pikir nggak nyambung-nyambung banget dengan inti ceritanya. Buku seperti ini juga boleh banget di-skip-skip-skip beberapa halaman jika penasaran dengan endingnya.

Namun penulis harus pintar-pintar dalam menggunakan alur ini. Soalnya jangan sampai kejadian nggak penting itu mendominasi keseluruhan cerita sehingga inti yang misalnya bisa dicapai dari A ke C jadi harus terlalu panjang sampai Z gara-gara hal itu. Apalagi jika penulisannya nggak enak dan membosankan, tentu jadi bikin bete dan kehilangan nafsu membaca.

Saya pernah mengalaminya kok. Baca buku komedi berjudul *beep* hasil karya *beep* malah jadi kesal sendiri karena selipan-selipan yang seharusnya bisa jadi ice breaking justru nggak bermutu sama sekali. Udah gitu penulisannya buruk pula. Blahh! Jadi, untung-untungan sih kalau nemu alur begini. Bisa jadi hiburan ditengah konflik kisah, bisa pula jadi penyulut emosi jika tidak pas penempatannya.

 

ALUR RAPAT

Alur ini juga seperti pegas yang rapat sehingga sedikit menyisakan ruang kosong diantaranya. Begitu pula dengan alur cerita. Alur rapat ini diindikasikan dengan satu kejadian atau konflik saling berkaitan dengan kejadian atau konflik yang lain. Apabila salah satu kejadian ini dihilangkan, maka runtutan cerita dan makna keseluruhannya akan sulit dipahami.

Misalnya saja begini: Seorang karyawati yang tidak bisa berenang sedang berjalan santai menuju kantor. Karena kurang memperhatikan jalan, ia terpeleset kulit pisang dan kecebur empang di samping jalan raya. Melihat si wanita hampir tenggelam, pemuda yang kebetulan lewat segera nyemplung dan menyelamatkan si wanita sekaligus memberi pertolongan pertama. Tak disangka, pemuda yang memberikan P3K itu adalah cinta masa SMA si karyawati. Kemudian cerita berlanjut mengenai romansa kedua insan Tuhan ini.

Bisa diperhatikan apabila salah satu kejadian, saya contohkan tragedi kulit pisang di pinggir jalan itu dihilangkan, maka pertemuan si karyawati dengan sang pemuda tidak akan terjadi. Kalaupun bisa terjadi, tentu akan memerlukan kejadian baru yang berbeda dengan adegan terpeleset itu. Ini yang disebut alur rapat.

Alur rapat menurut saya sangat cocok diaplikasikan pada kisah bergenre thriller ataupun detektif. Karena setiap kepingan kejadian ataupun konflik merupakan serpihan puzzle untuk memahami kejadian berikutnya. Apabila sudah memahami semuanya, ketika membaca bagian ending akan terasa sangat memuaskan karena pembaca tidak melewatkan satu bagianpun.

Namun, alur rapat ini menuntut fokus yang cukup tinggi dan pikiran tidak boleh terdistraksi sedikitpun saat membaca. Karena apabila lengah sebentar saja, misalkan melamunkan masa lalu bersama mantan #eh, maka pembaca harus membaca ulang bagian tertentu agar bisa memahami kejadian berikutnya.

Saya juga pernah mengalaminya. Saat asyik membaca, pikiran saya melamunkan mantan tetapi mata masih tetap membaca tulisan. Waktu ngelamunnya selesai, 3 halaman yang saya baca tidak saya ingat apa isinya sehingga saya harus membaca ulang. Masih mending 3 halaman. Kalo 30 halaman gimana coba (eh buset itu ngelamun apa ngimpi hahaha). Grrrh.

 

LEBIH BAIK MANA?

Hmm kedua jenis alur yang saya sebutkan diatas memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing kok. Rasanya sulit jika saya harus memilih diantara keduanya dikarenakan aplikasi alur rapat maupun renggang memberikan nuansa tersendiri bagi sebuah cerita.

Yang jelas, lagi-lagi kembali pada penulisan sih. Mau pakai rapat atau renggang juga tergantung kepiawaian penulis dalam merangkai kata-kata sehingga pembaca tetap nyaman membaca kata demi kata yang dituliskan di setiap lembarnya.

Saran saya, kalau memang lagi suntuk dan kurang fokus untuk mendalami suatu judul, pilih buku yang ringan bertema renggang saja. Sebaliknya, kalau punya banyak waktu dan lagi santai, bisa memilih buku dengan alur rapat agar konsentrasi bisa terpusat pada bacaan. Lantas, yang mana kesukaanmu? Mari ngobrol di kotak komentar! (҂’̀⌣’́)9