Jomblo

P

Judul: Jomblo

Sub Judul: Sebuah Komedi Cinta

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 211

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Kedua Puluh, 2013

ISBN: 9789797806859

cooltext1660180343

Empat sahabat dengan masalah mereka dalam mencari cinta.

Yang satu harus memilih—seorang yang baik atau yang cocok.

Yang satu harus memilih—antara seorang perempuan atau sahabat.

Yang satu harus memilih—lebih baik diam saja selamanya atau menyatakan cinta.

Yang satu harus memilih—terus mencoba atau tidak sama sekali.

Jomblo adalah sebuah novel yang menjawab semua pertanyaan itu. Pertanyaan yang kita temukan sehari-hari, baik dalam cerita teman atau cerita kita sendiri.

Maret – Adaptasi Buku ke Film

cooltext1660176395

Jomblo itu mungkin bagi sebagian orang adalah status diri yang cukup menyedihkan. Sebagian lain beranggapan jomblo adalah suatu pilihan yang bertanggungjawab. Saya tidak akan membahas jomblo berdasarkan norma agama ataupun nilai sosial. Yang jelas, status jomblo pasti pernah dialami sebagian besar masyarakat Indonesia.

Saya tidak tahu kapan dan siapa yang mencetuskan istilah jomblo. Namun julukan bagi seseorang yang tidak memiliki kekasih ini lebih booming pada kalangan anak muda antara usia sekolah hingga bangku kuliah. Terkadang status jomblo bisa dijadikan lelucon, tetapi seringkali jomblo sangat membuat hati gundah gulana #uhuk #bukancurcol.

Begitu pula yang dialami oleh empat sahabat berjenis kelamin laki-laki bernama Agus Gurniwa, Doni Suprapto, Olfiyan Iskandar, dan Bimo. Sebagai mahasiswa teknik sipil UNB angkatan 96 (gile saya ngerasa muda banget!), sebuah universitas yang minim kaum hawa, menyebabkan mereka dengan bangga menyandang status jomblo. Akibatnya demi memperluas area pencarian jodoh, mereka sengaja bertandang ke kampus tetangga, UNJAT, agar memperoleh akses kepada kaum hawa yang lebih baik.

Hal yang paling memalukan di dunia ini adalah terekspos menjadi jomblo dan jual pesona di kampus orang lain. (Hal. 5)

Sebelumnya saya beri tahu ya, jika kamu menginginkan novel cerita romansa anak muda yang baik-baik dan berbudi luhur nan terpuji, maka kamu tidak perlu repot-repot membaca novel ini. Soalnya keempat orang geng jomblo ini datang ke UNJAT selain ngecengin cewek-cewek, juga dalam rangka menemani Bimo membeli … ganja.

Bener kok kamu ngak salah baca. Kalau sebagian besar novel dengan tokoh anak kuliahan didominasi sifat rajin dan pintar, disini sudah diawali dengan Bimo, sang anak rantau dari Yogyakarta, yang doyan ngemil (?) ganja. Bimo ini anaknya meskipun sangar dan pengguna aktif barang haram tersebut, pengalamannya dalam urusan cinta masih nol besar.

Berbeda dengan Bimo, Agus Gurniwa adalah seorang pemuda Sunda yang menjunjung tinggi logat tanah kelahirannya dalam setiap percakapan. Sayangnya, kehidupan cintanya tidak bisa mencapai puncak tertinggi alias krik krik krik. Namun semua tak berlangsung lama. Berkat permintaan kakaknya membeli keju di pasar, ia bertemu kawan masa sekolahnya dulu bernama Rita Sumantri. Sudah bisa diduga akhirnya Agus dan Rita memasuki tahap pacaran gara-gara keju #terimakasihkeju

“…Kamu yang dulu celananya sering digantungin di tiang bendera kan?” (Hal. 24)

Mari sejenak melupakan Agus. Selanjutnya ada Olfiyan Iskandar yang biasa dipanggil dengan Olip. Dia yang berasal dari Aceh ini sebenarnya mirip-mirip Bimo sih dalam urusan asmara. Hanya saja, sebenarnya Olip sudah memiliki tambatan hati sejak dua tahun yang lalu. Gadis pujaannya ini bernama Asri.

Yang jadi masalah adalah, Olip ini orangnya sangaaaaaaat takut kenalan dengan Asri. Boro-boro Asri kenal, tahu ada spesies bernama Olip di kampusnya juga enggak. Yasudah otomatis Olip hanya bisa memandangi keelokan paras Asri yang anggun dan kalem setiap hari rabu di Kantin Tengah (kenapa rabu dan kantin apa itu? Baca sendiri yee)

Olip kembali konsentrasi pada bidadari paginya. (Hal. 42)

Konflik pertama dialami oleh Bimo. Sudah saya katakan kemampuan Bimo berinteraksi dengan cewek bagaikan anak balita yang diminta lompat indah di kolam renang. Sebuah telepon salah sambung di kos Bimo membuka gerbang perkenalan Bimo dengan seorang gadis.

Gadis yang mengaku bernama Febi ini memiliki suara yang lembut dan sesuai dambaan Bimo. Merasa tidak cukup hanya bercakap selama beberapa minggu melalui telepon SAJA, Bimo mengajak Febi ketemuan. Setelah beberapa kali menolak, Febi akhirnya setuju. Sayangnya pertemuan Febi dan Bimo sungguh diluar dugaan.

Oh iya ketinggalan satu orang lagi. Dia bernama Doni Suprapto. Sebenarnya paras Doni lumayan ganteng dan dari golongan cukup berada. Sayangnya kebiasaan free sex dan enggan berkomitmen dengan perempuan membuatnya betah menyendiri. Ia merasa hubungan dengan cewek tidak perlu terikat. Yang penting sama-sama senang, yasudah.

Merasa kasihan dengan Bimo, akhirnya Doni mengajaknya ke sebuah acara di diskotek untuk memberi pelajaran tata cara berkenalan dengan cewek. Agus ikut serta namun Olip tidak bergabung karena sedang diare (ahelah penyakit sejuta umat anak kos banget).

Disana mereka bertemu dengan seseorang yang sangat familiar. Ternyata dia adalah Asri yang berpenampilan jauh berbeda dibanding saat di kampus (ya iyalah, mosok ya ke diskotek pakai kemeja dan bawa ransel). Merasa ini adalah kesempatan berkenalan dengan Asri agar Olip lebih mudah untuk berhubungan, mereka bertiga mendatangi Asri dan kawan-kawannya.

Agus melihat sebuah pemandangan yang tidak dia percayai. Dia melihat Doni menggamit Asri dan hilang di balik pintu keluar. (Hal. 104)

Di sisi lain, Agus merasa hubungannya dengan Rita menjadi tidak sehat. Ratu drama, posesif, dan semaunya sendiri membuat Agus merasa tertekan. Padahal sifat keibuan dan kalem yang dimiliki Rita adalah hal yang membuat Agus tergila-gila pada awalnya. Sayangnya, Agus tidak bisa menahan dan akhirnya berselingkuh dengan Lani, anak teknik industri angkatan 96, tanpa sepengetahuan Rita (ya iyalah mana aja selingkuh bilang-bilang zzz).

Sementara itu, setelah tiga tahun berdiam diri tanpa langkah apapun, Olip akhirnya mencoba berkenalan dengan Asri di hari rabu di Kantin Tengah #teteup. Entah terlalu gugup atau terlalu semangat, Asri menjadi enggan berdekatan dengan Olip. Sebuah jawaban telak bahkan diberikan Asri pada Olip yang akhirnya membuat Olip tak berkutik. Jawaban apakah itu? Lantas, bagaimana akhir kisah asmara dan persahabatan Doni, Agus, Bimo, dan Olip? Silakan baca bukunya deh.

Sebenarnya inti kisah masing-masing tokoh pria di buku ini sangat lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan anak muda. Bimo adalah potret seorang pria cupu yang tidak memiliki pengalaman interaksi apapun terhadap lawan jenis. Agus adalah representasi seorang pemuda yang jenuh dengan hubungan pacaran dan mengambil jalan keluar singkat.

Doni merupakan tipe anak muda doyan hura-hura dan seks bebas yang menganggap komitmen dengan perempuan adalah hal yang sangat merepotkan. Sedangkan Olip adalah seorang secret admirer yang betah berlama-lama mengagumi gadis pujaan tanpa inisiatif memulai perkenalan. Meskipun begitu, rasa persahabatan mereka cukup erat kok.

Kalau boleh saya berkomentar, sebenarnya masalah yang terjadi dalam kehidupan mereka berempat sangat biasa dan tidak bombastis amat. Bahkan pertemuan Asri dan Lani di toilet terasa kaku, dipaksakan, dan terlalu kebetulan. Oh iya, tindakan Agus wara-wiri memakai kostum ayam demi Lani juga terasa sangat janggal bagi saya, baik alasan maupun tujuannya.

Saya juga merasa konflik setiap tokohnya hanya diselesaikan sekilas tanpa ada keberlanjutan yang lebih jauh. Penyelesaian urusan Lani dan Agus di restoran yang diakhiri dengan ciuman bibir juga membuat saya mengernyit. Haloo, itu restoran masih ada di Indonesia lho ya. Kalau mau cipokan mbok ya jangan di tempat umum #ehsaranapaini.

Ketika sudah mencapai halaman terakhir, saya agak kecewa. Memang urusan asmara dan persahabatan mereka berempat sudah bisa dikatakan terselesaikan. Tetapi tidak tuntas penyelesaiannya. Saya sangat berharap ada epilog tentang kehidupan selanjutnya para tokohnya. Oh iya selain itu yang pasti, gaya hidup tokoh-tokohnya yaitu free sex, drugs, dan minuman keras di diskotek bukan perilaku yang patut dicontoh generasi muda ya.

Namun beberapa kekurangan diatas tertolong oleh gaya penulisan yang kocak dan menghibur. Celetukan dan kalimat-kalimat tidak penting membuat suasana tulisan menjadi segar dan tidak membosankan. Berkali-kali saya dibuat ngakak dengan serpihan-serpihan banyolan penulis pada beberapa sisi tulisan. Tapi meskipun begitu, penulis tetap berhasil menyampaikan inti setiap bagian cerita dengan baik hingga halaman terakhir.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Resensi ini saya posting dalam rangka Baca Bareng BBI. Tema bulan Maret 2015 adalah buku yang diangkat menjadi film. Buku Jomblo karya Adhitya Mulya ini sudah diangkat ke layar lebar pada tahun 2006 dengan pemain-pemain muda (pada masa itu) antara lain Dennis Adhiswara, Rizky Hanggono, Christian Sugiono, Ringgo Agus Rahman, Rianti Cartwright, Nadia Saphira, Karenina, dan Richa Novisha. Berikut ini trailer filmnya.

Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dan Mitzy Christina dari SinemArt adalah produser film ini. Para pemainnya juga berhasil menghidupkan tokoh dalam novel dengan baik (tidak seperti kebanyakan artis jaman sekarang yang cuman modal tampang doang tapi kualitas akting zzzz). Meskipun kocak dan penuh adegan menggelitik, pesan dan makna dalam film ini tersampaikan dengan baik sesuai novelnya. Apalagi Rianti Cartwiright sangat cantik #aduh #gagalfokus.

[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=rsgV48WdMvI[/youtube]

Karya layar lebar hasil arahan sutradara Hanung Bramantyo ini meraih nominasi beberapa ajang penghargaan film, antara lain: nominasi Festival Film Indonesia 2006 untuk Piala Citra kategori Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik; nominasi Festival Film Jakarta 2006 kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terpilih, Pemeran Pembantu Wanita Terpilih, Penulis Skenario Asli Terpilih, Penata Musik Terpilih, dan Penata Suara Terpilih; nominasi MTV Indonesia Movie Awards 2006 kategori Most Favorite Actor, Most Favorite Rising Star, Most Favorite Heart Melting Moment, Best Crying Scene, Best Director, dan Best Movie of The Year.

Saking suksesnya novel dan film ini, bahkan RCTI menayangkan Jomblo The Series (yang saya tidak ingat pernah menontonnya) pada tahun 2007 namun dihentikan penayangannya di tengah jalan karena masalah rating. Padahal tanggapan dari para netizen yang saya baca pada suka loh. Kemudian sempat ditayangkan ulang pada November 2014 lalu (yang saya juga enggak pernah nonton heheheh).