Croissant

covercroissant

Judul: Croissant

Sub Judul: Antologi Kisah Kehidupan

Penulis: Josephine Winda

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: viii + 196

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9786020251394

cooltext1660180343

Ditemani santainya kepulan asap teh saat senja

Sepotong croissant renyah mencecap rasa

Berlapis seperti kisah kehidupan yang tak kunjung habis

Diwakili sepuluh cerita dunia

Semoga tak lekas ucapkan bon voyage—selamat tinggal

Hanya maklumi c’est la vie—itulah hidup.

“… kemahiran memadu judul-judul yang funky, bahasa yang light, dan pilihan tema tentang hidup yang muda dengan segala romantismenya, menjadikan kumpulan cerita buku ini seolah teman yang akan menemani kita melepas lelah.” – Sannie B. Kuncoro, penulis novel “Garis Perempuan”, “Ma Yan”, “Memilikimu”

“… mungkin berlebihan untuk mengatakan saya tersihir oleh tulisan Winda. Tetapi, pasti saya menikmati setiap kata, kalimat, dan keseluruhan ceritanya seperti ketika SD saya menikmati cerita ibu guru saya. Saya bukan sekadar menunggu ending, tetapi juga menikmati bagaimana cerita berproses.” – Her Suharyanto, pegiat dunia perbukuan dan penulisan

cooltext1660176395

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar negara Perancis? Menara Eiffel? Benua Eropa? Musim dingin yang romantis? Atau mungkin roti Perancis yang terkenal itu? Well, sepertinya Perancis memiliki keunikan tersendiri di mata orang-orang. Ada yang suka kulinernya, ada yang terpukau pariwisatanya, ada pula yang terpesona dengan bahasa nasionalnya yang dinilai seksi bagi sebagian orang.

Mari sejenak melupakan bahasanya. Apakah kamu pernah menikmati atau setidaknya mengetahui tentang roti croissant? Di Indonesia, roti ini sudah cukup banyak beredar dimana-mana. Biasanya roti ini dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi. Rasanya yang legit dan menggugah selera sangat cocok dengan orang Indonesia yang suka ngemil makanan manis.

Nah, kamudian apa jadinya jika beberapa istilah bahasa Perancis dituangkan dalam kisah-kisah menyentuh dan memukau? Hal inilah yang saya rasa ingin diberikan penulis, yaitu pembaca menikmati hasil tulisannya sambil mencecap rasa croissant yang enak. Sepuluh cerita yang berbeda dalam satu buku memberikan sensasi berbeda saat membacanya. Simak satu-persatu yuk!

Kisah pertama berjudul Déjà vu dengan tokoh utama Ericka. Gadis yang masih duduk di bangku kuliah ini memiliki kekasih bernama Yuki. Setelah ditinggal Yuki beberapa lama karena praktik kerja lapangan, ia akan berjumpa kembali di kampus. Namanya sang pujaan hati, tentu Ericka bersemangat sekali menyongsong hari perjumpaan mereka kembali.

Yuki ini anaknya gemar melawak dan bertingkah lucu dihadapan kawan-kawannya, tak terkecuali pada Icka (panggilan Ericka). Namun ternyata tidak segala hal bisa dijadikan guyonan, bahkan kepada kekasihnya sendiri. Karena siapa tahu, lawakan itu berakibat fatal.

Mengapa kejadian-kejadian itu sepertinya terus-menerus berulang? Kenapa tidak ada kejadian lagi pada hari setelahnya? (Hal. 12)

Setelah menikmati kisah yang sangat singkat dari Ericka dan Yuki, cerita kedua memiliki judul Bon Apétit. Tokoh dalam kisah ini adalah cewek tambun bernama Talitha yang sangat gemar makan dan kuliner serta cowok muda bernama Idham. Mereka berdua yang dipertemukan pada milis internet ternyata cocok dan saling bertegur sapa.

Karena hobi mereka sama, Idham bermaksud mengajak Talitha wisata kuliner di Semarang. Meski awalnya berfirasat buruk, Talitha menyanggupi tawaran Idham. Tanpa Talitha sadari, keputusannya berjumpa dan menaruh hati pada sosok Idham akan bermuara pada sandiwara menyakitkan.

Ia bingung mengapa Idham sekarang kurus dan tidak lagi bulat seperti yang tampak pada foto? (Hal. 23)

Kisah selanjutnya adalah cerita tentang pembalasan dendam seorang gadis kantoran bernama Dicta kepada rekan kerjanya, Cakra. Pada cerita berjudul Vis-à-Vis ini, Dicta memaparkan alasan ia harus balas dendam dan bagaimana caranya membuat Cakra hancur berkeping-keping. Ternyata sakit hati Dicta dimulai saat masa sekolah tujuh tahun yang lalu.

Merasa Cakra sudah masuk dalam perangkapnya, Dicta tak segan-segan melancarkan aksinya dalam menyakiti hati Cakra. Namun sesungguhnya Dicta tidak mengetahui sebuah fakta menyakitkan yang disimpan Cakra rapat-rapat. Fakta apakah itu?

Ben, apa gunanya memiliki perasaan suka pada seseorang jika kau hanya memendamnya seorang diri? (Hal. 43)

Meninggalkan drama kehidupan Dicta, mari lanjut ke cerita keempat berjudul Mademoiselle. Seperti judulnya, tokoh utama perempuan kali ini bernama Margaretha. Ia memang berpenampilan seperti gadis tahun 1800-an saat bekerja. Apalagi ditambah payung berenda yang tak pernah lupa dibawanya.

Penampilan Margaretha yang mempesona menggetarkan seorang pemuda bernama Galang. Mereka sering menyapa tiap pagi hari. Sayangnya, profesi Galang yang jauh berbeda dibandingkan Margaretha membuatnya ciut nyali. Bahkan ia tidak menyadari bahwa Margaretha akan sangat terluka apabila Galang putus asa dan melakukan sesuatu esok hari.

Lagi pula, bagaimana aku bisa meramalkan perasaannya? Kenal saja tidak. (Hal. 66)

Kisah kelima berjudul Touché yang mengambil kehidupan gadis bernama Kabita. Cewek ini adalah potret gadis yang sulit mendapatkan pasangan. Bukan karena ia tidak laku, hanya saja ia adalah seorang yang cenderung pemilih dan selalu merasa ada yang kurang dari diri laki-laki yang mendekatinya.

Gracia (kok namanya kayak merek ekstrak kulit manggis hehe), sahabat Kabita, juga dibuat pusing karena kondisi ini. kehidupan rumah tangganya yang harmonis berbanding terbalik dengan kisah romansa sahabatnya. Bahkan ia juga tidak menyangka suatu hari Kabita membawa kabar akan segera menikah dengan seorang pria. Apa yang terjadi dengan Kabita?

Sekian tahun lamanya Kabita betah sendiri dan hanya berkencan dengan beberapa pria. Tak seorang pun yang cocok bagi diri Kabita. Selalu ada hal yang membuatnya urung. (Hal. 79)

Rendezvous adalah judul kisah keenam. Disini diceritakan seorang pria bernama Mario yang berjumpa lagi dengan cinta lamanya, Desira. Setelah tiba-tiba Desira meninggalkan Mario tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Mario dikejutkan dengan suara Desira diujung telepon. Tak ingin melewatkan kesempatan, Mario meminta bertemu dengan gadis yang pernah singgah di hatinya itu.

Selain bertukar cerita mengenai kehidupan masing-masing, pertemuan ini juga membahas tentang masa lalu mereka. Lebih tepatnya masa lalu ketika Desira meninggalkan Mario tanpa ada penjelasan sama sekali. Saya sesungguhnya mengharapkan alasan yang lebih greget dibandingkan alasan klise yang diucapkan Desira, tetapi tepat pada kalimat-kalimat mencapai ending, ada suatu hal yang mengejutkan.

Rupanya, bagaimanapun cerita yang lalu dikubur, suatu saat benang merah yang mengaitkan kisah-kisah di antaranya akan muncul kembali ke permukaan. (Hal. 96)

Nah selanjutnya adalah cerita yang tak kalah menarik. Kisah tentang gadis bernama Delia yang mencoba mencari tahu kabar cinta monyet masa sekolahnya dulu. Cerita berjudul Je t’aime ini rasanya cocok untuk orang yang gagal move on dan mencoba terus kepo pada pujaan hatinya.

Delia menunjukkan fakta bahwa meskipun cinta masa lalu masih tersis, bukan berarti orang yang sama akan memiliki sifat dan perilaku yang serupa. Pedro sebagai cinta Delia di masa kini adalah Pedro yang sanat berbeda. Bahkan Pedro membuat Delia sadar dan mengerti tentang arti seseorang yang ada untuknya.

Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata mengapa Delia jatuh cinta di kala itu kepada Pedro. Bukankah cinta tak memerlukan alasan? (Hal. 116)

Beralih pada kehidupan karyawati sebuah perusahaan bernama Fernanda. Dikisahkan Nanda ini adalah tipikal karyawati yang pintar, berdedikasi, rajin, dan professional. Bahkan ketika muncul seorang karyawan baru berparas rupawan dari Colorado bernama Gavin, Nanda tetap pada prinsipnya yang workaholic.

Judul cerita ini yaitu C’est la vie memberikan sebuah isu masa kini tentang kesetaraan gender. Tokoh Nanda dan Gavin memberikan sekeping potret kehidupan mengenai kaum perempuan yang masih dianggap lemah. Saya sangat menyukai adu argumen yang diutarakan Nanda kepada atasannya di cerita ini.

Tak dapat dipungkiri, memiliki wajah ganteng dan postur tubuh tinggi tegap adalah anugerah yang sangat menguntungkan bagi para pria. (Hal. 144)

Voilà. Kata ini biasanya diungkapkan saat ada sesuatu yang mengejutkan. Kata ini juga menjadi sebuah ungkapan yang patut menggambarkan akhir kisahnya. Adalah seorang gadis bernama Selena yang kisah hidupnya beda tipis dengan Kabita. Ya benar, Selena memiliki kisah percintaan yang berantakan dan kurang hoki untuk urusan cowok.

Sedangkan Friska bagaikan Gracia. Ia sering mengenalkan pria-pria yang mungkin bisa menjadi pendamping Selena. Namun sayang, usahanya sia-sia belaka. Suatu hari, Selena membawa kabar gembir untuk Friska. Akhirnya ia akan segera menikah dengan lelaki pujaannya. Sayangnya, sebelum Friska ikut bersorak bahagia, sebuah fakta dari Selena membuat Friska terhenyak.

Jika tidak ada getar yang sama dalam frekuensi kerinduan, bukan jatuh cinta namanya. (Hal. 166)

Kisah penutup dalam buku ini berjudul Bon Voyage dengan kehidupan rumah tangga Nadhira dan Pram sebagai titik fokus. Nadhira adalah tipe seorang istri yang lembut dan penurut pada suami, sedangkan Pram adalah potret suami yang cenderung kasar dan semaunya sendiri. Meskipun dikaruniai suami seperti itu, Nadhira tetap bertahan demi rumah tangga dan kedua anaknya.

Ternyata awal kehidupan menyedihkan ini bermula saat Pram dan Nadhira dijodohkan. Kedua orang tua mereka yang ingin melihat anak masing-masing bersanding di pelaminan, mengabaikan kondisi Nadhira sebagai gadis lugu dan Pram yang memiliki emosi tinggi. Akhirnya hal inilah yang membuat kehidupan pernikahan mereka berdua diujung tanduk.

“Hari genee masih dijodohin? Nggak salah, Nad?! Kamu hidup di abad berapa?” (Hal. 177)

Pada awalnya, saya tidak menghiraukan sub judul Antologi Kisah Kehidupan yang tertulis di cover. Saya mengira kisah kehidupan yang dimaksud adalah kisah cinta muda-mudi yang dimabuk asmara dan berakhir bahagia. Namun saya salah. Memang beberapa kisah diperankan oleh tokoh berusia muda dan happy ending, tetapi sebagian lain memberikan cerita yang berbeda.

Yang saya sukai dari tulisan Winda ini adalah ceritanya membumi. Alih-alih menuliskan kata-kata puitis dengan berbagai ungkapan rumit, penulis menggunakan kata yang sederhana dan tepat sasaran dengan maksud yang ingin disampaikan. Seolah-olah semua tokoh dalam buku ini terasa nyata dan benar-benar terjadi.

Salah satu kekhawatiran saya membaca buku antologi alias kumcer adalah banyaknya tokoh yang muncul sehingga membuat rancu. Lihat saja ada 20 tokoh utama dalam setiap cerita. Belum lagi tokoh pendamping dan figuran yang muncul sekilas. Namun Winda berhasil memberikan karakter cukup kuat pada setiap tokoh utama dalam ceritanya masing-masing.

Selain itu, biasanya saya kurang puas membaca kumcer karena akhir cerita biasanya terjadi terlalu cepat. Maksud saya, cerita-cerita tersebut sebenarnya ada potensi untuk digali lebih dalam. Namun saya tidak menemukannya dalam buku ini. Selain cerita pertama, sembilan cerita yang lain memberikan akhir yang lugas dan pantas. Bahkan apabila terpaksa dipanjangkan, justru menjadi tidak menarik lagi.

Seperti yang sudah saya bilang, kisah pertama tentang Icka dan Yuki terasa sangat singkat bagi saya. Saya ingin ada tambahan sih, tetapi sebenarnya memang harus seperti itulah ending yang sesuai. Akhirnya saya jadi geregetan sendiri.

Oh iya, pada cerita keempat berjudul Mademoiselle, ada sudut pandang yang inkonsisten. Saya tidak tahu apakah ini gaya penulis, namun sudut pandang orang ketiga yang tiba-tiba berubah menjadi orang pertama kemudian kembali lagi ke orang ketiga tanpa adanya pemberitahuan membuat perpindahannya sangat kasar. Inilah yang membuat saya kurang menyukai dengan sudut pandang yang dicampur-campur.

Yang lebih membuat saya heran, kenapa saya tidak menemukan satupun kata croissant ya di buku ini? Mungkin saya luput atau saya lelah, tetapi mosok ya judul buku malah nggak muncul sama sekali di isinya? Padahal adegan makan dan setting di kafe cukup banyak lho. Kemudian Perancis juga tidak saya temukan menjadi lokasi di salah satu ceritanya. Mungkin memang maksud penulis hanya menggunakan stilahnya saja tanpa memaksakan unsur Perancis dalam setiap kisahnya? I don’t know.

Kalau ditanya kisah mana yang menjadi favorit, saya akan menjawab semuanya hehehe. Bukannya maruk, tetapi memang setiap cerita dan tokohnya masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Hal ini tidak lepas dari kepiawaian penulis dalam mengeksekusi karakter dan ceria sehingga meninggalkan kesan bagi pembacanya. Good job, Josephine Winda!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus