Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 14)

coveryakitate14

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 14)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 192

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792760743

cooltext1660180343

Sesaat lagi final Monako Cup!! Akan hadir reaksi istimewa yang cocok untuk klimaks berturut-turut!! Ini pasti tak bisa disiarkan begitu saja dalam film kartun! Kau juga harus menyaksikan tantangan tawa dan emosi yang luar biasa yang hanya ada di komik ini!!

cooltext1660176395

Akhirnya partai puncak (?) pertandingan Monaco Cup berlangsung juga. Babak final putaran ketiga dimainkan oleh Azuma Kazuma dan Shadow White pada bagian 115 “Ke Luar Angkasa?!” yang spektakuler. Seperti judulnya, Shadow bermaksud membawa Pierrot dengan roti buatannya ke luar angkasa. Pada bagian ini juga sedikit digambarkan masa lalu Shadow yang meniti karir pantomim layaknya Marcel Marceau.

Pantomimmu tak berjiwa. Kreasi tanpa jiwa tak bertahan lama dalam dunia seni. (Hal. 11)

Kemudian pada bagian 116 “Hal Terpenting” adalah waktu pertandingan. Disini baik Shadow maupun Azuma sama-sama menggunakan bahan yang spektakuler. Keduanya juga sama-sama membuat donat. Yang pertama adalah donat Shadow yang proses pembuatannya direbus kemudian digoreng.

Memikirkan orang yang akan memakannya jadi hal terpenting bagi kita sebagai juru roti. (Hal. 27)

Kemampuan Shadow yang ahli pantomim ternyata menyimpan rahasia tersendiri. Sebenarnya dia sama sekali tidak bisa membuat roti. Bahkan memasak sesuatu pun ia tidak bisa. Namun karena saking mahirnya menirukan orang lain, ia kemudia bisa memasak dan membuat roti dengan cara meniru sang juru roti level dunia. Siapakah dia? Jawabannya ada di bagian 117 “Sinyal Serangan Balik”.

Gerakannya benar-benar mirip juru roti level tinggi seperti yang Azuma bilang!! (Hal. 47)

Pada bagian 118 “Galaxy Express”, donat milik Azuma masih perlu dipanggang terlebih dahulu. Oleh karena itu, donat buatan Shadow sudah bisa selesai duluan. FYI, salah satu bahan yang digunakan Shadow untuk membuat donat adalah beras ketan mezuru yang bernilai sangat tinggi di Jepang. Selain itu juga ada bahan mahal dan kelas tinggi lainnya dalam donat itu.

Kalau roti dengan campuran beras ketan seperti mezuru dipanggang, roti akan mengeras seperti nasi kepal panggang. (Hal. 70)

Selanjutnya bagian 119 “Juru Roti Terbaik” adalah saat Pierrot mencicipi roti Shadow. Yah gara-gara donat dia udah mateng duluan sih. Seperti yang sudah diduga, roti Shadow benar-benar bisa membawa Pierrot ke luar angkasa. Nah, disana Pierrot bertemu siapa sih? Kok sampai-sampai Shadow percaya dirinya akan menang.

Berikutnya, tinggal bersantai dan melihat perjuangan sia-siamu… (Hal. 85)

Nah, setelah donat Azuma matang, bagian 120 “Ke Surga?!” mengisahkan tentang reaksi Pierrot pasca mencicipi roti Azuma. Sebelumnya, donat Azuma lebih lama matang karena Azuma menggunakan proses memanggang, menggoreng, dan memanggang lagi adonan donatnya. Bahkan ia juga menggunakan bahan yang sangat menakjubkan: marijuana. Lantas, Pierrot reaksinya bagaimana ya?

Jadi, Azuma menaburkan campuran kinako dan gula yang banyak, agar pas dipanggang, gula akan meleleh dan terjadi karamelisasi!! (Hal. 105)

Benarkah Pierrot pergi ke surga karena makan donat Azuma? Benar atau tidaknya, yang jelas Pierrot bisa bertemu ayah dan ibunya. Semua terasa bagaikan mimpi bagi Pierrot. Sayangnya, Pierrot tidak bisa mengaku kepada kedua orang tuanya mengenai jati dirinya yang asli. Cerita ini disuguhkan di bagian 121 “Cincin yang Indah” yang sangat menyentuh.

Kalau begitu, aku akan menyuruh koki agar mengubah pola makan Anda jadi menu diet mulai hari ini! (Hal. 124)

Kebenaran perjalanan Pierrot berjumpa dengan ayah ibunya bisa kamu baca di bagian sebelumnya. Namun yang pasti, Pierrot sungguh menyesal dengan apa yang telah dilaluinya pasca makan donat Azuma. Semua kebahagiaan di awal harus dibayar dengan kehilangan yang besar bagi Pierrot di bagian 122 “Rasa Makanan Buatan Tangan” ini.

Penjelajahan waktu yang luar biasa, tapi, akhirnya… Aku tak bisa menolong Ibu. (Hal. 147)

Akhirnya bab terakhir jilid ini adalah bagian 123 “Saling Bermusuhan?” yang fokus pada akhir pertandingan. Penasaran siapa yang menang? Silakan baca sendiri ya. Yang jelas semua juara mendapatkan reward masing-masing. Bahkan Azuma mendapatkan hadiah tambahan lho dari kerajaan Monako.

MVP-nya Azuma!! Aku akan menyerahkan cincin Pieron legendaris warisan turun-temurun keluarga kerajaan! (168)

Sudah selesai pertandingan Monaco Cup. Butuh sekitar delapan jilid komik mulai dari awal sampai akhir Monaco Cup. Selama ini sih saya menikmati pertandingan ini. Selain melibatkan peserta dari berbagai negara, tokoh baru yang bermunculan, serta roti yang menakjubkan. Meski kadang terlalu ajaib, tetep seru aja gitu melihat bahan-bahan dan proses pembuatannya.

Yang saya sayangkan ada satu sih. Entah Hashiguchi-san yang males riset atau emang memiliki nasionalisme yang tinggi, saya agak kurang sreg dengan segala reaksi Pierrot setelah mencicipi roti peserta. FYI lagi, sama seperti Kuroyanagi, Pierrot juga menggunakan semacam kata atau kalimat plesetan untuk menjelaskan reaksinya.

Kalau Kuroyanagi menggunakan kata atau kalimat berbahasa Jepang sebagai plesetan yang berhubungan dengan reaksinya, itu masih wajar karena Kuroyan adalah orang Jepang sekaligus menjadi juri di Jepang. Kalau Pierrot? Ia adalah orang Perancis yang menjadi juri di Monako. Nah, yang bikin saya nggak sreg adalah kata atau kalimat plesetannya.

Ia tetap menggunakan kata atau kalimat berbahasa Jepang. Iya sih sudah dikatakan Pierrot itu badut yang menguasai puluhan bahasa di dunia. Tetapi di Monako, penontonnya mayoritas bule, yang mengerti bahasa Jepang juga sedikit, seriously tetep pakai bahasa Jepang? Trus para orang bule juga ngerti gitu apa yang diucapkan Azuma cs tanpa penerjemah. Oh iya jangan lupa dengan bahan-bahan berkualitas tinggi yang digunakan para peserta mayoritas berasal dari negeri sakura itu! Wow!

Saya sih berharap plesetan reaksinya Pierrot menggunakan bahasa Inggris yang lebih universal. Jadi suasana luar negerinya bisa lebih greget. Gara-gara kebanyakan istilah bahasa Jepang di Monaco Cup, saya merasa pertandingan itu diadakan tetap di Jepang. Yah mungkin nasionalisme Hashiguchi-san sungguh tinggi.

Nah, selanjutnya kompetisi apa yang menanti Azuma dan lainnya? Wah saya juga penasaran nih. Apalagi saya sudah rindu dengan tindak-tanduk pegawai Pantasia cabang Tokyo Selatan yang mengundang tawa. Jadi, tunggu review saya jilid 15 dengan petualangan baru yah!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus