Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 11)

coveryakitate11

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 11)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Dian I. N.

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 195

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792754377

cooltext1660180343

Kazuma Azuma, pemuda yang berjuang menciptakan ‘Japan’, roti kebanggan Jepang, seperti halnya roti khas Inggris, Jerman, dan Perancis. Bersama teman-temannya, dia berhasil keluar dari gua perangkap! Lalu, pertarungan dengan musuh terkuat Kayser telah menanti! Berjuanglah, Azuma!! Jangan sampai telat lagi, ya!!

cooltext1660176395

Haiyaa..ini sudah review jilid kesebelas. Tidak terasa udah banyak aja kisah kehidupan Azuma bikin JaPan. Nggak usah basa-basi deh, langsung aja ke review. Jilid ini dibuka dengan bagian 85 “Rahasia Kayser” pada setting lima hari sebelum pertandingan. FYI, tema kali ini adalah membuat roti olah raga, tepatnya olah raga F1. Ditengah kebingungan tim Jepang, Kayser bersaudara memamerkan keunggulannya.

Jangan-jangan… Dia tak bicara dan tak berjalan supaya saraf yang berguna untuk bikin roti saja yang berkembang!!? (Hal. 14)

Selanjutnya bagian 86 “Pertanyaan” adalah perbincangan Kuroyan, Sofie, dan Pharaoh. Sebagai pihak berwajib, ia berusaha mencari tahu tentang (calon) tersangka segala tragedi di Monaco Cup yaitu Yuichi Kirisaki. Alih-alih Sofie menyembunyikan informasi, ia justru sangat antusias membantu Pharaoh.

Walaupun sepertinya kalian sudah putus hubungan, anda tetap putrinya. (Hal. 30)

Pada bagian 87 “Tradisi Keluarga Kerajaan”, ada sebuah keuntungan pada pertandingan kali ini. Semua peserta diperbolehkan mengambil bahan apapun yang diperlukan di kerajaan Monako. Disana telah disediakan berbagai bahan unggulan dari seluruh dunia. Namun ternyata, ketika Azuma cs inginj mengambil bahan, sang Raja tidak serta merta mengabulkan permintaan mereka. Beliau memberi pertanyaan yaitu:

Saat berhasil bikin roti yang kelihatannya sangat lezat… Pada siapa kalian akan memberikan rotinya untuk dicicipi pertama kali?! (Hal. 46)

Sementara itu, pada bagian 88 “Kekuatan Gran” adalah saat menjelang turnamen. Azuma yang awalnya percaya diri dengan Japan 51, menjadi ragu karena tidak berhasil membuatnya lebih baik lagi. Tidak disangka, Suwabara memberikan sebuah nasihat penting sehingga membuat semangat Azuma kembali berkobar. Sedangkan Kawachi? Oh siapa dia? Apa fungsinya? Zzzz.

Sebagai juru roti, kau harus senantiasa berdiri di pihak penikmat rotimu dan terus berusaha membuat roti… (Hal. 65)

Selanjutnya pertandingan dimulai!! Tim Jepang melawan tim Perancis dikisahkan pada bagian 89 “Di Balik Mantel” ini. Metode pertandingan kali ini adalah adu roti terbaik yang bisa dihasilkan tiap tim. Setiap tim bisa membuat maksimal tiga roti. Roti yang terbaik akan otomatis meloloskan pembuatnya. Tidak disangka, Gran Kayser sungguh menakjubkan penampilannya.

Si sulung menyangga kedua saudaranya dengan lengannya saja!? (Hal. 87)

Sayangnya, Azuma datang terlambat karena pagi-pagi dia harus ke istana kerajaan untuk meminta bahan yang kurang. Padahal waktu minimal membuat roti sudah berlalu. Jadi bisa dikatakan jika Azuma tidak hadir, maka hanya roti Suwabara dan Kawachi saja yang bisa dinilai. Kisah ini ada pada bagian 90 “Antiangin”. Kawachi dengan segala kepanikannya sungguh menjengkelkan, by the way.

Cowok bandana boleh juga… Tapi, aku tak mengerti, beraninya kau mengejekku begitu rupa… (Hal. 111)

Cerita masih berlanjut pada bagian 91 “Saat Menggambar Naskah Ini, Hanshin Belum Dipastikan Menang” ketika tim Perancis hanya membuat satu roti saja. Bisa dikatakan karena sangat percaya dengan kemampuan Gran, mereka hanya membuat satu macam saja. Tidak heran segala bahan dasar rotinya sungguh memukau. Mulai dari tepung mutiara, blueberry, dan ekstrak bunga hortensia.

Bahkan tim Kayser hanya mengandalkan roti Gran… Mereka tak berpikir bakal kalah dari kami!!? (Hal. 133)

Saat segala daya upaya terasa sia-sia, tak disangka Azuma muncul dari bangku penonton. Tentu saja dia membawa roti hasil kreasinya yang menakjubkan. Beruntung dia datang sebelum waktu pertandingan habis. Sehingga pada bagian 92 “Kenapa “Gundul” Bukan Kata Diskriminatif” ini Pierrot bisa mencicipi rotinya. Namun naas, Pierrot enggan mencicipu karena tidak percaya roti tersebut adalah murni buatan Azuma dan dibuat dalam waktu 150 menit.

Bentuk roti ini tak menimbulkan selera makan, tapi baunya membuat perutku keroncongan… (Hal. 153)

Tetapi untunglah, pada bagian 93 “Dibaca Dari Bawah Juga ‘Amay X Amay’“ muncul Raja Monako yang mengatakan keterlambatan Azuma adalah kesalahannya. Oleh karena itu, Pierrot harus sudi mencicipi roti Azuma karena pembuatannya juga di hadapan sang Raja sendiri. Melihat kenyataan itu, Pierrot mau tidak mau mencicipi roti Azuma. Bagaimana reaksinya?

Roti buatanmu memang enak… Tapi, sayang… (Hal. 164)

Udah lah ya saya nggak mau membocorkan hasil pertandingan karena sudah pasti bisa ditebak. Kemudian lanjut pada bagian 94 “Yang Ditiru” dengan cerita santai ketika Kawachi, Azuma, Suwabara, Kuroyanagi, dan Sofie ngopi-ngopi cantik di sebuah kafe. Semua penasaran dengan roti Azuma yang tampak tidak menarik itu. Rahasianya apa ya?

Kita menang berkat kenaifan seseorang yang percaya pada lelucon kakek pikun yang tak bisa membedakan manusia dan singa. (Hal. 179)

Akhirnyaaa rasa ketidaksukaan saya dengan tim Perancis berakhir sudah. Saya tahu sih cepat atau lambat mereka pasti kena batunya. Dan saya rasa Azuma sukses memberikan “hadiah” itu kepada mereka. Tidak seperti jilid sebelumnya, jilid ini full setting-nya ada di Monaco Cup. Karena semuanya di Monaco, saya jadi merindukan Tsukino dan Shigeru.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Hashiguchi-san membuat ketegangan pertandingan ini dengan rapat. Sayangnya, saya masih merasa terlalu banyak kebetulan. Misalnya saja saat Azuma terlambat, ternyata gara-gara terjebak macet sama Raja Monako. Trus dia masih bisa bikin roti gitu di dalam mobil. Really?

Lambat laun saya jadi bingung ini komik cerita fiksi berdasarkan kenyataan atau murni rekayasa. Soalnya segala hal ajaib itu saya yakin murni hanya akal-akalan Hashiguchi-san. Tapi saya sempat baca kalau segala tehnik pembuatan roti di komik ini berdasarkan info seorang Konsultan Bakeri bernama Uchimura Kouichi. So, pasti fakta dong ya kan.

Oh iya satu lagi, jujur saya nggak pernah baca judul tiap chapter. Soalnya kadang judulnya nggak nyambung dengan isi ceritanya. Jadi saya terobos aja gitu langsung ke ceritanya hahahaha. Tapi ya sudah lah ya, yang penting dinikmati saja. Sejauh ini sih masih belum kerasa bosan dengan atmosfer Monaco Cup. Moga aja jilid selanjutnya lebih menegangkan lagi. Kan udah babak 4 besar. Hehehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*