Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 9)

coveryakitate9

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 9)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Annisa Laila Khaled

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792747430

cooltext1660180343

Ada roti khas Inggris, Jerman, dan Perancis, tapi tak ada roti khas Jepang! Karenanya, Kazuma Azuma akan menciptakannya!! Tema berikutnya pertandingan adu cepat membuat roti! Dengan Japan andalan, dia akan mengalahkan musuh-musuh kuatnya!

cooltext1660176395

Halo-halo pembaca setia Rico Bokrecension (idih pede bener kayak ada yang baca aja). Setelah beberapa saat vakum update blog karena teserang rasa malas yang amat sangat, kali ini saya akan mulai membuat review lagi. Melanjutkan komik Yakitate!! Japan yang kemarin, kali ini sudah ada di jilid sembilan. Kalau ada yang lupa, silakan cari di postingan yang lalu-lalu yah.

Komik ini dibuga pada bagian 70 “Pintu Takdir” sebelum pertandingan Monaco Cup dilanjutkan. Ternyata tema babak tersebut adalah membuat roti secepat mungkin. Yang jadi masalah adalah, Pierrot, sang juri, tidak menghendaki peserta membuat roti tanpa fermentasi. Padahal roti fermentasi perlu cukup waktu alias nggak bisa cepet-cepet dikerjakan.

Kalian menyedihkan sekali! Dasar wakil Jepang!! Monaco Cup itu kompetisi level internasional! (Hal. 12)

Selanjutnya pada bagian 71 “Captain Cook” mengisahkan pertandingan itu sudah mulai berlangsung dari sekian banyak peserta, hanya akan diambil delapan tim paling cepat dala membuat roti yang tentu saja, harus enak. Salah satu tim yang sudah berhasil dan lolos melaju pada babak delapan besar adalah wakil dari Amerika.

Kami memasang dragon hook pada mixer kuat yang punya tenaga kuda berkali-kali lipat dari mixer biasa! (Hal. 28)

Azuma yang tiba-tiba menghilang meninggalkan Kawachi dan Suwabara, tentu saja menjadi kepanikan tersendiri. Pada bagian 72 “Hargai Elektronik, Ya” Kawachi yang sangat berisik begitu kebingungan saat peserta yang lolos sudah mencapai tujuh tim. Artinya, hanya satu tempat yang terisi. Kalau Jepang tidak cepat, maka Kawachi dkk akan pulang dengan tangan hampa. Untunglah, Azuma berhasil membuat roti tersebut tepat waktu dan segera diserahkan kepada Pierrot. Sayangnya, Pierrot memiliki penilaian mengejutkan atas roti Azuma.

Kupikir, penilaian Pierrot memang aneh. Jadi, aku hanya melakukan yang seharusnya, kok. (Hal. 62)

Selanjutnya pada bagian 73 “Bob, Sang Wakil Perancis, Ternyata Takut Naik Kendaraan” menceritakan mengenai babak delapan besar. Disini sudah mulai terlihat gelagat mencurigakan yang dilakukan oleh pemilik St. Pierre karena mencoba menggganggu jalannya pertandingan. Tidak tanggung-tanggung, Eurlick Lame, sang Ketua Komite Penyelenggara Monaco Cup tidak bisa berkutik dan mengikuti perintahnya.

Kalian akan tinggal di pulau tak berpenghuni itu selama 1 minggu dan kalian harus mencari makanan sendiri. (Hal. 87)

Tidak bisa dipungkiri bahwa lokasi pertandingan di pulau tersebut sangat merugikan tim Jepang. Selain lokasi yang tidak strategis, bencana air laut juga sudah menyulitkan mereka. Alhasil, Azuma terseret ombak dan masuk ke pusaran air. Melihat kenyataan itu, Kawachi menyalahkan Suwabara yang tidak menyelamatkan Azuma. Namun, benarkan Azuma sudah meninggal? Kisah ini dijabarkan pada bagian 74 “Juru Roti Sejati”.

Bagaimana kalau mereka mati? Ini bukan saatnya meributkan soal eliminasi, ‘kan?! (Hal. 104)

Di tempat lain, Kuroyanagi dan Sofie merasa penempatan Jepang pada bagian tidak menguntungkan di pulau tak berpenghuni sungguh aneh. Namun mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sementara itu, pada bagian 75 “Utusan Keadilan” diceritakan Kawachi dan Suwabara berjumpa dengan ti Mesir. Tak disangka, mereka telah menyelamatkan Azuma dari kematian. Sebenarnya, siapakah tim dari Mesir itu?

Mungkin ada konspirasi besar di balik ujian di pulau tak berpenghuni ini… (Hal. 125)

Pada bagian 76 “Manusia Segitiga” menceritakan perkembangan pertandingan ini. oh iya, tema pada babak ini adalah adu cepat membuat roti manis. Yang menjadi masalah adalah setiap tim hanya dibekali sekarung tepung. Oleh karena itu lokasi tim Jepang yang jauh dari buah-buahan tentu sangat merugikan. Belum sempat berpaling, bagian pulau yang penuh buah-buahan tiba-tiba terbakar habis.

Kalian juga berjuang agar jangan sampai kalah, karena konspirasi mereka. (Hal. 142)

Tentu komik ini tidak akan seru kalau Azuma tidak memiliki ide apapun. Jadi bisa ditebak lah ya, Azuma dkk bisa membuat roti manis tanpa bantuan buah-buahan. Lantas pakai apa dong? Percaya atau tidak, Azuma menggunakan ubi dan getah pohon kelapa. Wow saya juga baru tahu getah kelapa itu manis. Hal ini dijelaskan pada bagian terakhir yaitu bagian 77 “Tekanlah”.

Belajar dari pengalaman, dong! Setiap kali selalu saja mengejutkan orang!! (Hal. 164)

Sebanarnya membaca komik ini dilematis. Di satu sisi, saya bisa menebak akhir cerita seri komik ini seperti apa. Tapi di sisi lain, hal-hal ajaib yang dibuat oleh Azuma sangat sayang untuk dilewatkan. Jadi mau tidak mau saya harus tekun membaca lembar demi lembar padahal saya sudah tau pasti bagaimana akhir ceritanya.

Sejauh ini, Hashiguchi-san berhasil menciptakan tokoh antagonis yang mumpuni. Saya benar-benar dibikin geregetan dengan tim Perancis. Apalagi pemilik St. Pierre itu. Sejauh ini sih tokoh antagonis ini benar-benar digambarkan hitam pekat alias tidak ada baik-baiknya sama sekali. Berpotensi akan membuat saya bosan sih, tapi saya masih bisa menikmatinya.

Oh iya ada satu lagi yang agak-agak aneh. Alasan Pierrot yang memiliki kemampuan dan bakat “istimewa” sebagai badut kelas dunia sebenarnya menarik. Tapi sumpah ya itu alasannya luebuay buanget. Andaikan Pierrot ada di depan saya dan menjelaskan alasan ia bisa memiliki kemampuan itu, akan saya jawab “Oh gitu? Emang penting?” buahahahahak.

Anyway, segini saja deh komentar saya tentang jilid sembilan. Nantikan review saya pada jilid sepuluh ya. Psst, penerjemah jilid ini sudah ganti lagi lho. Entahlah apa alasannya. Namun sejauh ini terjemahannya bisa diikuti meskipun agak-agak kaku. Jadi mari nantikan resensi saya untuk jilid sepuluh nanti.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus