Opini Tentang Karakter Tokoh Utama Bareng BBI 2015

Februari – Karakter Tokoh Utama

Haloo. Berjumpa lagi dengan pojok Opini Bareng BBI. Tema bulan Februari 2015 adalah: KARAKTER TOKOH UTAMA. Semua cerita dalam buku, khususnya buku fiksi, memiliki sebuah pusat sebagai titik fokus. Titik tersebut dinamakan tokoh utama. Tokoh ini tidak melulu berupa seorang manusia. Bisa hewan, tumbuhan, alien, dan lain sebagainya. Tetapi masih manusialah yang mendominasi peran tokoh utama dalam setiap kisah di dalam buku.

Kalaupun menggunakan makhluk lain, penulis harus dituntut kreatif dengan memberikan “sentuhan manusia” kepada makhluk non-manusia yang ia jadikan tokoh utama. Hal ini bertujuan agar pembaca yang notabene adalah manusia bisa lebih mengerti pemikiran atau perilaku sang tokoh. Misalnya hewan yang bisa berbicara atau tumbuhan yang bisa berjalan. Dalam dunia nyata, manusia (ambil contoh diri kita sendiri) memiliki kehidupan yang beraneka rupa. Terkadang sedih, sesekali bergembira, pernah merasa marah, atau bisa juga mengalami nestapa. Para pujangga bilang hidup itu keras. Tapi hidup yang sulit bukan berarti tidak bisa bahagia.

Hidup dalam dunia fiksi memang sesuka hati penulisnya. Tetapi penulis juga membutuhkan pembaca untuk menikmati hasil karyanya. Apalah arti tulisan megah dan menyentuh tanpa ada yang membacanya. Salah satu hal yang bisa membuat nyaman saat membaca adalah mengenai karakter tokoh utama. Tidak dapat dipungkiri, tokoh utama haruslah menarik agar pembaca tidak bosan dan bisa membaca hingga halaman terakhir. Berikut perbandingan karakter tokoh utama yang saya jadikan acuan untuk menikmati sepak terjang sang tokoh dalam keseluruhan cerita.

 

ANTAGONIS vs PROTAGONIS

Misalnya saya dihadapkan pada pilihan cerita tentang gadis lugu yang suka membantu sesama tiba-tiba mendapat warisan sejuta dolar dari nenek renta atau cerita tentang pengedar narkoba yang dituntut pemimpinnya menyelundupkan sepuluh kilo ganja dari Indonesia ke Namibia. Kisah mana yang akan saya baca?

Hmm, segala hal di dunia ini memang terdiri dari baik dan buruk ataupun benar dan salah tergantung perpektif yang digunakan. Sebagai pembaca, saya lebih mudah untuk nge-judge tokoh tertentu baik atau jahat berdasarkan deskripsi dan gambaran yang dituliskan penulisnya melalui untaian kata-kata. Tokoh yang baik hati dan berbudi pekerti luhur memang mudah disukai pembaca. Akibatnya tokoh protagonis banyak mendominasi berbagai buku cerita.

Mungkin saya sudah bosan dengan tokoh baik di sebuah cerita, sehingga saya lebih menyukai tokoh utama memiliki watak jahat dan tidak terpuji. Bukannya saya mendukung tindak kejahatan lho ya. Namun dengan menggunakan tokoh antagonis sebagai tokoh utama, saya merasa aura tegangnya bisa lebih terasa. Bukankah segala perilaku tidak terpuji selalu menghasilkan ketegangan saat dilakukan tokohnya? Jadi, kesimpulannya saya lebih tertarik membaca kisah si pengedar narkoba.

 

KESEMPURNAAN vs KETERBATASAN

Misalnya lagi, saya dihadapkan pada dua pilihan kisah. Yang pertama tentang seorang eksekutif muda yang ramah dan berbudi luhur dengan karir cemerlang hendak mencari calon istri yang tepat untuk menemaninya hingga tua nanti. Yang kedua adalah kisah seorang wanita pegawai toko kecil yang suka teledor, berparas biasa dan tidak memiliki tubuh proposional mengikuti sebuah kencan online agar bisa bertemu the prince charming. Pilihan mana yang saya pilih?

Kedua kisah tersebut memiliki hal menarik masing-masing. Namun saya lebih memilih cerita si wanita. Alasannya? Menurut saya, sesuatu hal yang tidak sempurna merupakan pondasi konflik yang bisa diangkat. If everything is perfect, then what? Iya sih konflik memang tidak melulu dipicu dari karakter tokoh utama. Tapi kan namanya tokoh utama, mau tidak mau dia pasti terjun dalam konflik utama. Jadi segala macam keterbatasan yang dia miliki akan menjadi bibit konflik baru yang menarik dalam kesatuan cerita.

Kehidupan yang sudah serba sempurna, misalnya bergelimang harta dan hidup bahagia akan membuat saya bosan. Namun, berbeda dengan adanya beberapa kerikil kehidupan yang bisa menjadi bibit konflik, itu menjadi hal lain. Mungkin itu alasannya cerita Cinderella sangat beken. Coba kalau cerita sang pangeran yang diangkat, pasti memble deh.

 

Karena sudah males buntu ide apa lagi yang mau saya tulis, jadi saya hanya menyuguhkan dua perbandingan saja. Pada dasarnya, saya bukanlah orang yang pemilih dengan tokoh utama. Mau dia manusia, hewan, hantu, atau benda tak bernyawa sekalipun, itu tidak masalah. Mau dia pendiam, cerewet, pemarah, pemurung, bahkan psikopat, itu juga tak jadi soal. Yang jelas saya menuntut adanya KONSISTENSI dari penulis yang bersangkutan.

Contohnya di awal kisah, penulis sudah menjelaskan tokoh utama ini pendiam. Tapi kemudian di halaman berikutnya, tokoh ini dideskripsikan memiliki kebiasaan memotong pembicaraan orang dan suka mengeluh. Inilah yang saya namakan tidak konsisten. Kecuali di awal kisah sudah ada pernyataan yang menyebut tokoh ini plin-plan, itu pengecualian ya.

Memiliki beberapa sifat itu boleh saja. Tetapi jangan sampai sifat tersebut saling bertolak belakang. Jadinya kan membingungkan dan bikin ilfil. Kehidupan tokoh utama yang miskin sengsara atau bahagia kaya raya juga tak jadi hal penting buat saya. Asalkan sesuai dengan kebutuhan cerita itu sendiri, saya bisa menerima apapun hidup si tokoh utama itu.

Sejauh ini saya belum pernah membaca buku yang tokoh utamanya tidak saya sukai. Semuanya ada hal unik tersendiri mengapa mereka dinobatkan menjadi tokoh utama dalam kisahnya masing-masing. Saya akhirnya juga menyukai mereka dalam cara yang berbeda. Paling-paling yang membuat saya sebal adalah gaya bercerita penulis yang bertele-tele atau tidak membuat nyaman saat membaca. Jadi, tokoh mana yang jadi pilihanmu? Mari chit-chat di kolom komentar :D

7 comments for “Opini Tentang Karakter Tokoh Utama Bareng BBI 2015

  1. February 20, 2015 at 11:14 PM

    coba baca Gone Girl by Gillian Flynn deh, mungkin kamu bakal ketemu bukan cuma 1 tapi 2 karakter utama yg kamu ngga suka.

  2. February 21, 2015 at 1:42 PM

    Semacam Thomas di Negeri para Bedebah. Sebenernya ada dilema aneh yang buat saya bingung buat suka sama dia ato nggak, tapi tokoh jahat sekalipun bisa buat kita berpihak sama dia asalkan dia punya alasan yang bisa buat kita suka dia *belibet*

  3. February 22, 2015 at 2:10 PM

    menarik perbandingannya :D Aku juga setuju sih kalo memang tokoh utamanya ngga harus selalu baik dan sempurna utk bisa kita sukai :D Tergantung bagaimana penulisnya deskripsiin karakter dan keadaannya juga :)

  4. February 23, 2015 at 12:43 AM

    Wah, suka yang antagonis rupanya. Saya belum pernah suka tokoh utama yang antagonis sih sejauh ini. Saya nggak bisa simpati sama yang jahat soalnya :)

  5. February 25, 2015 at 2:11 PM

    Aku suka gaya penulisan opininya Rico. Keren eh.

    Haha toss dulu, aku juga suka sama karakter utama yang antagonis, sama sukanya dengan yang protagonis, asalkan mereka bisa membuatku bersimpati, that’s ok :D

  6. February 25, 2015 at 3:09 PM

    perbandingan2nya menarik deh, aku malah jadi kepingin baca beneran ttg penyelundup narkoba ke namibia LOL. Anyway, sama, aku juga nggak suka tokoh yang tipikal dan membosankan… terutama kalau si tokoh kebagian jadi narator, yang bakal bareng2 terus sama kita di sepanjang buku…

  7. March 2, 2015 at 7:45 AM

    Menarik banget perbandingannya, bro. Aku juga cenderung setuju untuk pro terhadap tokoh antagonis, sepanjang ditulis dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*