Sweet Winter

coversweetwi

Judul: Sweet Winter

Sub Judul: Saat Dingin Itu Menghangatkan Hati

Penulis: Kezia Evi Wiadji

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah Halaman: vi + 207 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2014

ISBN: 9786022516514

cooltext1660180343

Matthew:

Aku berharap takdir yang mempertemukan kita di sini dapat memperbaiki kesalahanku.

Karin:

Oh Tuhan, kenapa kami harus bertemu, jika akhirnya harus kembali berpisah?!

Karin dan Matthew, dua sahabat yang saling mencintai. Tetapi takdir mempermainkan mereka layaknya dua layang-layang yang meliuk-liuk di langit. Akankah mereka bersatu, jika wedding song telah mengalun lembut dan salah satu dari mereka harus berjalan menuju altar untuk mengucapkan sumpah setianya?

Kisah Karin dan Matthew yang ceria seperti membawa langkah saya kembali pada masa remaja. Masa di mana semua terlihat demikian berkilau, saat kita menemukan cinta pertama (dan mungkin sejati). Evi berhasil membuat saya percaya, kadang tak perlu menoleh terlalu jauh untuk menemukan orang yang tepat, belahan hatimu. This kind of love could happen to anyone to us. :) – Rina Suryakusuma, Penulis Just Another Birthday dan Lullaby

Ah, saya iri sama Karin. Dia bisa bercerita so romantic di sini tentang apa yang dia rasa dan akhirnya menemukan cinta lamanya kembali dari orang di masa lalunya. Kalau ingin merasakan romantisme cerita cinta Karin di antara suasana negeri yang melahirkan banyak boy and girl band itu, baca deh novel ini sampai tuntas. Pasti kamu akan merasakan apa yang saya rasakan. – Anjar Anastasia, Penulis Renjana

cooltext1660176395

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka membutuhkan orang lain untuk menjalani hidup. Berbagai karakter yang dimiliki manusia tentu menghadapkan manusia lain untuk bisa memiliki orang dengan karakter baik untuk menemani hari-harinya. Orang baik tersebut bisa berwujud sebagai sahabat karib yang selalu ada dalam duka dan bahagia. Bisa pula orang baik tersebut memiliki wujud sebagai tambatan hati yang menemani hari-hari hingga ajal memisahkan.

Hidup itu pilihan. Begitu pula yang dirasakan Karin, sang tokoh utama buku ini. Ia berhasil mendapatkan orang baik yang mengisi hidupnya. Bonusnya, orang tersebut menjadi kawan baik sekaligus pujaan hatinya. Hayoloh, sampai sini saja saya sudah sirik sama Karin. Kisah dibuka dengan prolog mengenai perjalanan Karin menuju Korea Selatan untuk berwisata. Kepribadiannya yang mandiri tidak membuatnya takut berkelana seorang diri. Disana tidak ada kerabat atau orang lain yang dikenalnya. Sehingga Karin benar-benar ingin bebas menikmati segala macam keindahan di negeri ginseng tersebut.

Saat keluar bandara, tiba-tiba ia dipanggil oleh seorang lelaki. Ternyata ia adalah Matthew. Tetangga, sahabat, sekaligus cinta pertamanya yang telah menghilang bertahun-tahun. Prolog ini kemudian langsung digantung begitu saja. Kemudian, pembaca dibawa ke bagian pertama yang flashback tiga belas tahun yang lalu. Saat itu, rumah disebelah tempat tinggal Karin ada penghuni baru. Tidak disangka, keluarga baru itu memiliki anak lelaki sebaya Karin. Jendela kamar rumah sebelah yang berhadapan dengan jendela kamar Karin membuat mereka berdua cepat akrab.

Tiba-tiba bayangan itu berubah, bukan lagi sosok Tessa dan Joni, tetapi dirinya dan Matthew!!! (Hal. 26)

Setiap hari Karin dan Matt (panggilan Matthew) menjalani hari-hari penuh suka cita. Berangkat dan pulang sekolah bareng naik sepeda, belajar setiap malam, main layangan, saling mengucapkan good night sebelum tidur, dan beragam kegiatan lainnya. Hingga saat kelas 3 SMP, Karin merasakan suatu rasa yang berbeda dari dirinya untuk Matt. Tetapi, kehadiran anak baru di kelas Karin dan Matt memberikan sebuah konflik awal untuk hubungan mereka berdua.

Matthew memang mencintai Silvia, itu yang membuatnya susah untuk bersikap apa adanya. (Hal. 58)

Ya benar. Cinta Karin tidak bisa membuat Matt mencintainya dengan utuh. Ia harus menelan kekecewaan saat Matt mengakui ia memang menyukai Silvia. There is something different between Karin and Sisil (panggilan Silvia). Hal itu pula yang membuat Matt memilih Sisil untuk mengisi hari-harinya. Sayangnya, emosi labil Karin bukannya membuat Matt tetap nyaman menjadi sahabat, justru membuat Matt menjauhi Karin.

Mana ada sih, cowok dan cewek bisa jadi sahabat sejati. Hasilnya mereka malah saling suka dan aku hanya jadi obat nyamuk buat kalian. (Hal. 62)

Pada bagian kedua, kisahnya melanjutkan akhir prolog yang menggantung tadi. Saya jadi mengerti kenapa Karin sampai bingung dan kikuk berhadapan dengan Matt. Beruntung Matt bisa mencairkan suasana dan sukses meyakinkan Karin untuk menikmati wisata di Korea Selatan bersamanya. Layaknya kenalan yang sudah lama tidak berjumpa, mereka berdua juga terlibat berbagai topik cerita, termasuk kisah pahit yang dialami Matt.

Perbedaan fisik yang harus ditebusnya dengan harga mahal karena melakukan perbuatan yang salah. (Hal. 98)

Sampai bagian ini, saya sudah bisa menebak selanjutnya akan seperti apa. Tebakan saya, Karin dan Matt akan pulang ke Indonesia kemudian mereka menikah dan hidup bahagia selama-lamanya (aih, dongeng Disney banget). Sayangnya, saya salah. Memang benar Karin pulang ke Indonesia. Tetapi tidak dengan Matt yang masih harus bekerja di Korea Selatan. Semenjak kepergian Karin, ia tidak bisa melupakan sahabatnya itu. Matt menyadari bahwa ia sesungguhnya mencintai Karin.

Sejak bertemu dengan Karin di bandara, sejak itu pula ia selalu ingin merekuh Karin dalam pelukannya, ingin menciumnya. (Hal. 120)

Begitu pula dengan Karin. Bagian ketiga yang sudah memiliki setting di Indonesia menghadirkan Karin dengan kegelisahan dan perasaan campur aduknya. Perjumpaannya dengan Matt di Korea Selatan adalah hal yang sangat tidak diperkirakan olehnya. Awalnya ia sudah bertekad akan melupakan cintanya kepada Matt sepulang dari Korea. Hal ini dikarenakan sebulan lagi Karin akan menikah dengan pria kawan sekampusnya dulu.

Ia takut hatunya akan semakin patah. Dekat namun tak terjamah. Dekat namun tak bisa memiliki. Rasanya sungguh menyakitkan. (Hal. 144)

Batin Karin yang semakin kalut serta perasaan Matt yang tak menentu menghiasi sebagian besar cerita bagian ketiga ini. Lantas bagaimana kelanjutannya? Bagaimana pernikahan Karin? Bagaimana sang calon mempelai pria, Bram, saat menghadapi Matt? Dan tindakan apa yang akan dilakukan Matt?

Overall, saya menyukai buku ini. Ceritanya manis dan gaya penceritaannya mengalir. Bisa dikatakan sang penulis mampu membuat saya terhanyut mengikuti masa kecil Karin dan Matt, beranjak pada masa kini, hingga konflik besar yang harus dihadapi keduanya. Oh iya, jadi yang usil menyembunyikan buku Sisil siapa dong? Masih misteri nih. Dan pada dasarnya, Karin dan Matt adalah potret orang-orang yang terjebak friendzone dan gagal move on #bukancurcol.

Saat bagian masa lalu, penulis berhasil menggambarkan masa kanak-kanak yang gemar bermain tetapi juga mulai mengenalkan cinta monyet ketika remaja. Apa yang dilakukan oleh Karin benar-benar sangat masuk akal untuk usia yang masih labil. Sayangnya, saya agak bingung kenapa tidak ada tokoh yang lain, selain Karin, Matt, dan Sisil. Apakah mereka tidak punya teman sekolah sama sekali sampai-sampai tidak ada tokoh lain. Tetapi mungkin ini memang niat penulisnya untuk hanya fokus pada kehidupan mereka bertiga.

Ketika setting di Korea Selatan, penulis cukup banyak bercerita tentang tempat-tempat menarik disana. Mulai dari Seoul, Cheonggyecheon Stream, kota Jeonju, ski resort Yongpyong, Nami Island, sampai lokasi paling nge-hits yaitu Jeju Island. Deskripsinya membuat saya ngebet ke Korea saat itu juga. Apalagi suasana musim dingin plus saljunya juga digambarkan dengan cantik disela-sela kebahagiaan Karin tentang cintanya yang hadir kembali. Judulnya Sweet Winter memang pas kok.

Satu lagi yang saya sukai, meskipun Karin dan Matt (dan juga Bram) masih berusia muda, mereka tidak memanggil satu sama lain dengan loe-gue. Bahkan pada kisah masa lalu saat keduanya berusia remaja, mereka tetap memanggil dengan sebutan aku-kamu. Padahal mereka tinggal di daerah Tangerang lho, yang biasa ber-loe-gue.

Bukannya saya tidak suka istilah loe-gue, tetapi saya pribadi merasa bahwa panggilan itu menghilangkan kesan manis dan rasa cinta sehingga terkesan hanya romansa picisan tak bermakna #tsaah. Alih-alih terkesan kaku, saya justru merasakan kehangatan pada perbincangan mereka.

Sayangnya, meskipun tadi saya sebutkan bahwa saya salah menebak perkembangan cerita, lambat laun saya bisa merevisi dan sukses menebak kelanjutan ceritanya sampai akhir. Karena novel ini ceritanya FTV material banget. Mungkin saya kebanyakan nonton FTV (tapi tidak nonton sinetron), sehingga konflik dan hal-hal lain di separuh akhir buku sudah bisa saya perkirakan.

Memang sangat-sangat FTV-able mulai dari flashback-nya, wisatanya, pernikahannya, pergolakan batinnya, sampai kehidupan masa depannya. Mungkin kalau ada sutradara yang tertarik, harus mempersiapkan budget syuting di Korea saat musim dingin aja yang pasti agak mahal. By the way, alasan Matt bisa berjumpa dengan Karin sungguh FTV banget lho #tidakmauspoiler.

Tetapi, gaya bercerita Evi yang lembut dan smooth membuat saya enggan melewati kata demi kata yang ia tulis. Mungkin kalau buku lain yang gaya berceritanya buruk, saya akan langsung baca halaman terakhir untuk mengetahui ending-nya. Sedangkan Evi sukses membuat saya untuk membuktikan perkiraan saya sendiri sambil menikmati tulisannya yang menghanyutkan itu.

Anyway, saya penasaran. Dulu ketika masih sekolah, saya diajari guru saya ketika menulis sebuah merek dalam cerita, merek tersebut ditulis miring atau diberi tanda kutip. Misalnya “Nokia” atau Nokia. Tapi di buku ini tetap ditulis tegak biasa aja gitu. Mungkin sudah bergeser ya ketentuan penulisan merek. Dan saya juga curiga, jangan-jangan Mbak Evi di-endorse SUV Hyundai, Jazz, Samsung, Garuda Airlines, dan Avanza sebagai brand ambassador saking cukup banyaknya merek diatas tertulis di cerita hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*