Diary Si Bocah Tengil

covertengil1

Judul: Diary Si Bocah Tengil

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid

Seri: Diary Si Bocah Tengil #1

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: viii + 216

Terbit Perdana: Mei 2009

Kepemilikan: Cetakan Keenam, Februari 2010

ISBN: 9789791411202

cooltext1660180343

Bosan dengan buku cerita penuh tulisan tanpa gambar? Atau bosan dengan kisah fantasi penuh hal-hal gaib? Atau ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang daripada komik tetapi tidak seberat novel? Nah, inilah jawabannya. Baca, deh diary milik Greg Heffley. Selain banyak kejadian lucu, di dalamnya juga bertaburan gambar-gambar kartun jenaka.

Kisah hidup Greg Heffley selama satu tahun ajaran sekolah ini dijamin bisa membuat pipi pegal, perut terkocok, bahkan mata berair. Kekonyolan dan kemalangan Greg akan membuat kalian mengingat kembali kejadian serupa yang mungkin pernah kalian alami.

Di dalamnya ada Sentuhan Keju yang menyeramkan, “Zoo-Wee Mama” yang menyebalkan, seorang anak yang mabuk gula, dan masih banyak lagi. Ingin tahu lebih lanjut? Cepat buka halaman pertama …

cooltext1660176395

Buku ini saya beli sudah lama, sudah saya baca, tapi belum saya review. Yasudah saya re-read aja sekalian nostalgia hehe. Awalnya saya beli buku ini juga pakai sistem random-pick. Maklum, saya ini kalo liat buku terjemahan rasanya udah skepstis duluan dan tidak berharap banyak. Apapun genre-nya, siapapun penerjemahnya, siapapun penulisnya.

Karena apa? Ya, benar sekali. Karena bahasanya. Bukannya saya tidak menghargai sang penerjemah ya, tapi saya pribadi beranggapan karya terjemahan itu pasti feel-nya beda dibandingkan buku yang asli bahasanya. Entah karena beda budaya, beda sense of humor (kalo buku komedi) ataupun identitas tulisan. Para penerjemah yang seringnya menggunakan bahasa yang baku, jadi agak kaku gitu pasti, terlebih untuk novel humor seperti ini.

Tapi kemudian semua berubah saat negara api menyerang ketika saya baca buku ini. Well, saya tidak tau apakah om Jeff Kinney ini sudah tau sense of humor negara Indonesia atau penerjemahnya yang udah kenal banget ama om Jeff. Tapi saya rasa meskipun menggunakan bahasa baku, buku ini tetap menarik minat saya untuk menyelesaikannya.

Dalam novel ini, kita berkenalan dengan seorang remaja tanggung bernama Gregory Heffley. Diceritakan ia baru saja masuk sekolah menengah pertama dan mulai menulis jurnal (bukan diary, menurut Greg) tentang kesehariannya baik di sekolah ataupun lingkungan rumahnya.

Di sekolah menengah pertama ada anak-anak seperti aku yang belum mencapai masa akil balig, tetapi sudah dicampur bersama para gorila yang harus bercukur sebanyak dua kali sehari. (hal. 3)

Di sekolah ini, ada sebuah situasi yang cukup aneh namun menggelitik. Di lapangan basket sekolah, ada sebuah keju yang telah menempel sejak musim semi yang lalu. Keju tersebut mulai ditumbuhi jamur dan terlihat menjijikkan. Anehnya, tak seorangpun berani menyingkirkan keju tersebut.

Kalau kalian mendapat Sentuhan Keju, kalian akan memilikinya sampai mengoperkannya pada orang lain. (hal. 9)

Suatu hari, tepatnya hari Halloween, Greg dan kawan karibnya, Rowley hendak berkelana meminta permen dari rumah ke rumah. Greg iri pada kostum Rowley yang keren berbentuk kesatria lengkap dengan helm, perisai, dan pedang. Tapi ternyata, Mom memberikan Greg kostum bajak laut yang sangat bagus…dengan syarat turut serta mengajak Manny, sang adik.

Aku bilang pada Mom kami TIDAK MUNGKIN mengajak Manny karena kami akan menyantroni 152 rumah dalam waktu tiga jam. (hal. 66)

Ada lagi cerita tentang kewajiban siswa laki-laki di sekolah untuk mengikuti tim gulat selama enam minggu. Ternyata, kostum yang harus digunakan saat gulau adalah sebuah “singlet” yang tampak mirip pakaian renang tahun 1800-an. Akibatnya, ketika bertarung Greg merasa terlalu “dekat” dengan sang lawan.

Selama jam pelajaran ketujuh, aku terpaksa mengenal Fregley JAUH lebih intim dibandingkan dengan yang aku inginkan. (hal. 83)

Yang paling menarik adalah cerita tentang sekolah Greg yang mencari seorang kartunis untuk mengisi kolom komik strip pada koran sekolah. Ia berencana mengisi lowongan tersebut dan menjalin kerjasama dengan Rowley. Kartun lucu yang ia ciptakan adalah sebuah kartun dengan kalimat andalan “Zoo-Wee-Mama!” di setiap stripnya. Namun akhirnya, rencana itu tidak berjalan mulus.

Masalah “Zoo-Wee-Mama” ini benar-benar membuatku sewot. Rowley mendapatkan semua pujian atas komik yang kami ciptakan bersama. (hal. 205)  

Yah, meskipun saya tidak tertawa terpingkal-pingkal bagaikan nonton Srimulat *apasih* tapi setidaknya saya masih senyum-senyum baca buku ini. Itu sebuah prestasi karena saya biasanya sangat jarang bisa menikmati tulisan terjemahan. Apalagi ditambah dengan karikatur khas yang sangat menunjang ceritanya. Kalau kekurangannya sih mungkin saya pribadi agak sulit memahami adat budaya yang disajikan dan tidak ada di Indonesia. Oh iya, terlalu banyak tokoh yang numpang lewat (baik beneran muncul atau cuma namanya saja) di buku ini.

Format cerita di buku ini tidak menggunakan model bab, namun menggunakan seperti buku harian *yaiyalah* dengan font yang sangat menarik. Jadi yang dilihat adalah hari ini, kejadian ini. Plus karikatur juga ada di SETIAP halamannya. Ini sebuah buku novel yang sayang kalau sampai dilewatkan. Karena ceritanya benar-benar jempolan.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*