Opini Tentang Ekspektasi Bareng BBI 2015

Januari – Ekspektasi

Komunitas blogger buku terkece se-Indonesia Raya a.k.a BBI memiliki sebuah agenda tahunan untuk para anggotanya. Salah satu agenda itu adalah Posting Bareng, yaitu ketika seluruh member yang berniat mengikuti event ini, akan posting suatu hal yang memiliki tema sama dalam waktu serentak jam 9 pagi.

Tahun 2015 ini, Posting Bareng dibagi menjadi dua bagian, yaitu Baca Bareng dan Opini Bareng. Jika Baca Bareng menuntut member yang berpartisipasi nge-posting review buku yang bertema tertentu, Opini Bareng lebih bebas dan fleksibel. Info lebih lanjut bisa dicek & ricek disini yah.

Tema bulan Januari 2015 adalah: EKSPEKTASI. Menurut sepemahaman otak saya, ekpektasi berarti perkiraan. Ekspektasi dibagi dua yaitu ekspektasi tinggi atau harapan baik dan ekspektasi rendah atau harapan buruk. Ekspektasi muncul ketika suatu hal belum terjadi alias di masa depan, namun sudah mulai muncul sejumlah clue. Contoh: saat langit mendung, saya berekspektasi akan hujan. Atau ketika saya tidak belajar untuk ujian esok hari, maka saya berekspektasi nilai saya akan jeblok. Begitu pula dengan dunia perbukuan yang erat kaitannya dengan pembaca buku.

Sebelum membeli atau membaca sebuah buku, sadar atau tidak, sengaja atau tidak, seringkali muncul ekspektasi terhadap calon buku yang akan kita beli atau baca. Baik tinggi ataupun rendah. Lantas, bagaimana ekspektasi itu tercipta? Sepengetahuan dan menurut pengalaman pribadi saya, ekspektasi ketika hendak membeli atau membaca buku dapat muncul karena hal berikut ini:

 

SAMPUL alias COVER

Saya kurang sreg dengan istilah “don’t judge by its cover”. Mengapa? Karena hal itu membuat kreativitas desainer sampul menjadi tumpul. Padahal seharusnya pewajah sampul harus benar-benar ahli menyampaikan isi buku dalam sebuah desain yang lugas, mengena, dan memikat. Bukankah cover adalah hal paling pertama yang dipandang konsumen? Kalau cover saja tidak menarik, tentu rasa enggan membaca isinya juga akan muncul. Intinya, sampul bagus bisa menambah tingkat ekspektasi menjadi meningkat. Begitu pula sebaliknya.

 

BLURB

Tulisan dibagian sampul belakang buku dinamakan blurb. Saya enggan menyebutnya sebagai sinopsis, karena kadang ada yang bukannya tertulis ringkasan isi buku, namun justru testimonial dari para pembaca (biasanya tokoh atau media massa ternama). Salah satu fungsi utama blurb adalah mengajak calon pembeli untuk segera membawa buku ke kasir ataupun membuat seseorang tertarik membacanya. Oleh karena itu, blurb yang ciamik dan menawarkan kelebihan isi buku adalah sebuah hal penting dalam rangka membangun ekspektasi yang tinggi.

 

PENULIS

Untuk poin ketiga ini khusus berlaku bagi konsumen yang sudah membaca karya yang lain dari penulis yang sama. Istilahnya sudah kenal gaya tulisannya. Bagi yang kebetulan menyukai tulisan penulis tersebut, tentu akan memiliki ekspektasi tinggi ketika sang penulis menelurkan karya baru. Namanya penggemar, pasti akan langsung membeli karya dihasilkan penulis idolanya tanpa banyak pertimbangan. Berbeda jauh dengan orang yang kurang tertarik dengan gaya sang penulis. Entah kecewa ataupun memang bukan genre kesukaan. Meskipun ada karya baru dan (katanya) bagus, ia tidak serta merta akan membeli atau membacanya begitu saja. Karena ia tak akan mau kecewa untuk kedua kali. Sehingga ia akan picky membaca karya dari penulis yang bersangkutan.

 

TANGGAPAN PEMBACA LAIN

Salah satu kebiasaan menjadi blogger buku adalah menuliskan resensi atas buku yang telah dibaca. Khususnya di BBI, mudah sekali dijumpai resensi yang positif atau negatif para anggota. Banyaknya pembaca yang menyukai sebuah buku yang sama, mereka akan menulis resensi yang positif. Akibatnya, menjamurnya resensi seperti ini bisa menjadikan ekspektasi tinggi untuk blogger yang belum membaca bukunya. Begitu pula sebaliknya, jika banyak beredar resensi negatif dari sebuah karya, sedikit banyak bisa memberi sumbangsih dalam membangun ekspektasi rendah orang lain yang masih belum membaca karya tersebut.

 

Pada akhirnya, keempat sebab munculnya ekspektasi itu akan bermuara pada satu hal, yaitu PEMBUKTIAN. Apakah ekspektasinya yang tinggi itu benar? Ataukah ekspektasi rendah justru menjerumuskan? Satu-satunya cara adalah dengan cara membaca buku tersebut. Ingat, membaca adalah kegiatan personal. Artinya semua kembali ke selera masing-masing. 100 orang yang memuji buku X, belum tentu kita juga menyukainya, bukan? 100 orang menghina buku X, siapa tahu kita justru menikmatinya, kan? Perbedaan itu indah lho, guys!

Apakah ekspektasi itu buruk? Tidak juga kok. Namun sesekali cobalah untuk membeli atau membaca buku tanpa ekspektasi sama sekali (tinggi atau rendah). Saya sarankan melakukannya saat obralan biar nggak gitu nyesek kalau kecewa hehehe. Percayalah, sensasinya lebih plong. Maksudnya plong untuk memuja muji karya tersebut ketika kita menyukainya, ataupun plong untuk mencerca dan menghina karya yang ternyata mengecewakan. Tapi ingat, harus dituliskan secara santun dan berimbang jika dituangkan dalam resensi, ya. Hehehe.

Ekspektasi sesungguhnya bisa menjadi patokan apakah uang dan waktu yang akan kita habiskan untuk membaca buku tersebut sepadan. Semua orang tentu tidak mau membuang waktu dengan percuma hanya untuk membaca karya yang tidak disukai. Setiap pembaca tentu berharap ketika ia sudah menutup halaman terakhir, akan ada sebuah kepuasan batin dan kebahagiaan karena ia merasa tidak sia-sia menghabiskan waktu dan sekian rupiah demi membaca buku yang (akhirnya) disukai. Akhir kata, jangan berekspektasi terlalu rendah jika tak ingin puas dan jangan berekspektasi terlalu tinggi jika tak ingin kecewa.