Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 8)

coveryakitate8

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 8)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Aryabhima A. Rahman

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 190 halaman

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792743777

cooltext1660180343

Ada roti khas Inggris, Jerman, dan Perancis, tapi tak ada roti khas Jepang! Karenanya, Kazuma Azuma akan menciptakannya!! Azuma, selamatkan Pantasia dari rencana jahat si licik Yukino Azusagawa dengan menjuarai Monaco Cup! Tunjukkan kehebatan Japan!

cooltext1660176395

Monaco Cup sudah dimulai. Awal yang greget sudah menarik perhatian dibandingkan Kompetisi Pegawai Baru yang lalu. Terang saja, karena peserta pertandingan ini adalah para perwakilan dari 135 negara di dunia. Bagian 60 “Padahal Kita Tidak Terlambat” adalah awal pertandingan yang dibuka dengan eksibisi yaitu pameran roti dari tiap peserta. Lagi-lagi Jepang melakukan hal “aneh” disini.

Monaco Cup disiarkan langsung lewat internet, sehingga para penjudi di seluruh dunia bisa menontonnya! (Hal. 9)

Bagian 61 “Rolet Bahan Makanan” adalah babak pertama pertandingan. Setiap peserta melakukan permainan rolet (putaran pakai bola kecil) untuk menentukan bahan-bahan yang boleh digunakan saat membuat roti. Selain bahan yang diperoleh, tidak bisa digunakan. Tiap tim ada tiga kali kesempatan memilih bahan. Jepang ternyata mendapat bahan yang sangat err…banyak.

Bagaimanapun juga mereka adalah anak buah Kirisaki! Tak mungkin dia mengirim para pecundang dua tahun berturut-turut. (Hal. 25)

Bagian 62 “Level Dunia” sudah masuk tahap pembuatan. Bahan-bahan yang tidak menguntungkan mau tidak mau harus dibuat menjadi roti yang memukau. Ketika Kawachi dan Suwabara kebingungan, ternyata Azuma memiliki ide cemerlang dengan membuat JaPan 21.

Memang kondisi mereka sangat tak menguntungkan, tapi kelihatannya Azuma sudah memikirkan sesuatu… (Hal. 45)

Bagian 63 “Barang Ketinggalan” adalah saat-saat pencicipan untuk menentukan 16 tim dengan nilai tertinggi sehingga bisa masuk ke babak berikutnya. Pada Monaco Cup putaran kedua ini, dibagi menjadi dua sesi dengan masing-masing sesi bisa memperoleh nilai maksimal 5 poin. Sayangnya, Azuma cs mendapat hambatan.

Bagaimana reaksi lelaki level dunia yang menguasai 135 bahasa dan mampu memperbanyak diri ini!? (Hal. 62)

Setelah usai sesi yang pertama, sesi kedua Monaco Cup dimulai pada bagian 64 “Slot Bahan Makanan”. Berbeda dengan sesi pertama, pemilihan (atau pengundian) bahan makanan tiap tim dengan menggunakan slot (mesin jackpot) yang mengeluarkan koin. Koin inilah yang menjadi bahan karena setiap koin tertulis nama bahan yang harus digunakan.

Aku harus mengalahkan sebanyak mungkin para juara dunia disini!! (Hal. 86)

Bagian 65 “Roti Baru Suwabara” menunjukkan betapa ambisiusnya Suwabara untuk menang. Karena pada sesi pertama ia hanya “bantu-bantu” Azuma membuat roti, pada sesi ini ia yang akan membuat sendiri tanpa bantuan Azuma atau Kawachi. Padahal dengan bahan yang banyak, sulit bagi Suwabara membuatnya sendirian.

Kenapa kau tidak memberi tahu kami, kalau tahun lalu ada aturan seperti ini juga?! (Hal. 101)

Bagian 66 “Kalau Menghancurkan Apelnya, Gusinya…!?” adalah saat-saat pembuatan roti. Secara kebetulan, meja tim Jepang bersebelahan dengan meja tim Perancis. Bisa ditebak lah ya, Suwabara yang emosinya meledak-ledak meladeni ocehan tim Perancis alias Edward Kayser yang sangat meremehkan. Apalagi bahan tim Perancis yang tidak “sebanyak” Jepang juga menjadi hal menguntungkan.

Apa kita akan mendapat 4 angka atau 5 angka… Semuanya tergantung pada bagian nama Kai (kai) itu… (Hal. 121)

Bagian 67 “Pierrot Talk” adalah saat-saat penjurian oleh Pierrot. Tak disangka, roti kouglof au miel milik tim Perancis mendapatkan 5 poin. Padahal Pierrot sama sekali tidak mencicipinya. Ternyata eh ternyata, roti itu adalah roti yang sama yang dibuat tim Perancis pada final Monaco Cup tahun lalu. Sedangkan pain d’epices kai milik tim Jepang harus menunggu untuk dicicipi.

Sulit untuk tahu apa-apa saja yang terkandung dalam pain d’epices ini… (Hal. 137)

Bagian 68 “Nama Pasaran Ada Stempelnya” adalah pasca pengumuman 16 peserta yang lolos. Ditengah hiruk pikuk, tim Perancis dengan kostum aneh itu menghampiri tim Jepang untuk sekedar basa-basi. Kawachi sungguh emosi dengan tim itu sehingga menanggapi dengan acuh tak acuh. Sedangkan Suwabara bersikap lembut kepada mereka.

Untuk berikutnya lakukan dengan jujur. Sehingga paling tidak, kita bisa benar-benar bertanding. (Hal. 157)

Bagian 69 “Kinoshita dan Sirkus” bersetting di Pantasia Cabang Tokyo Selatan. Setelah tiba-tiba St. Pierre memberlakukan diskon 70% untuk setiap produk buatannya, hal ini membuat Tsukino and the gank kelabakan. Pasalnya, mereka tak memiliki modal lagi untuk menyaingi apa yang dilakukan oleh St. Pierre. Tetapi ternyata Manajer memiliki pemikiran lain untuk menanggulanginya.

Demo satu orang yang mampu melakukan banyak pekerjaan sekaligus kayak gini cuma ada di bakeri kita. (Hal. 176)

Tidak bisa dipungkiri, babak pembukaan Monaco Cup membuat saya excited. Selain ada Pierrot sang juri (yang bahkan lebih absurd dan gahar dibandingkan Kuroyanagi), saya yakin pasti muncul berbagai macam roti menakjubkan. Berbeda dengan Kompetisi Pegawai Baru, roti-roti ini berasal dari seluruh dunia. Jadi tentu saja semakin menarik.

Ada yang sedikit menarik perhatian saya saat baca jilid ini. Pada bagian awal, saat eksibisi, Shigeru melihat daftar peringkat 135 negara peserta Monaco Cup. Peringkat ini berdasarkan banyaknya petaruh yang memegang jagoannya. And guess what, Jepang berada di urutan bawah. Bukan itu yang bikin saya mesem. Tapi negara dengan peringkat tepat diatas Jepang. Bisa nebak? Ya benar, Indonesia!

Saya nggak tahu sih ini akal-akalan penerjemah (btw, ada yang ngeh kalau penerjemah komik ini dilakukan oleh tiga orang yang berbeda sejak jilid pertama?) atau memang aslinya begitu. Tetapi yang pasti, sangat unik sekaligus menggembirakan ada nama Indonesia di komik buatan Jepang. Memang sih konteksnya adalah negara di dunia, tapi kenapa harus Indonesia yang dituliskan? Kan ada 134 negara lain sebagai peserta. Meskipun hanya tulisan dan tidak berarti apa-apa dalam cerita, saya mengapresiasi Hashiguchi-san yang memasukkan Indonesia (kalau beneran itu dari komikusnya).

Oh iya, tokoh Pierrot Bolnez yang berprofesi sebagai badut dunia cukup menarik buat saya. Bukannya badut itu hanya untuk lelucon dan lucu-lucuan ya? Tetapi Pierrot membuktikan bahwa badut tak hanya orang lucu, tapi juga pintar dengan segala trik sulap dan kemampuan menguasai 138 bahasa. Penasaran sih bagaimana reaksi yang akan dia buat setelah makan roti. Apakah selebay Kuroyanagi? Tunggu saja review saya jilid kesembilan nanti!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus