Cado-Cado Kuadrat

covercado2

Judul: Cado-Cado Kuadrat

Tagline: Dokter Muda Serba Salah

Seri: Cado-Cado #2

Penulis: Ferdiriva Hamzah

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: xii + 188 halaman

Terbit Perdana: Juli 2010

Kepemilikan: Cetakan Kedua, Agustus 2010

ISBN: 9786028066709

cooltext1660180343

Pernah satu saat ketika menolong seorang ibu melahirkan, aku dan Budi megang toa serta spanduk bertuliskan: “Ayo, Ibu! Kamu bisa!” Sementara itu, Evie lompat-lompat dan jumpalitan di depan si Ibu kayak cheerleader, lengkap dengan pompomnya, sambil ikutan teriak-teriak, “Ayooo, Ibu bisaaa!!! Tarik napassss!!! Doroooonggg!!! Doroooooonggg!!!”

Ibu yang sedang menjalani persalinan itu saking terharunya melihat usaha kami sampe teriak, “Doook! Huf…huf…huf…. Aduuuh… huf… huf… huf… dorong… dorong, saya jadi pengen pup! … Huf… huf…huf!”

Tiba-tiba… Prrrooootttt!!! Si Ibu beneran pup! Alhasil, aku, Budi, dan Evie dihukum PPDS untuk membersihkan lantai kamar bersalin.

Ketemu lagi sama dokter dodol, Ferdiriva, yang akan membuat kalian jumpalitan ketawa lewat tulisannya. Banyak pengalaman lucu dibagi sama Riva, sewaktu ko-ass atau pendidikan lanjut mahasiswa kedokteran dulu. Mulai dari nanganin pasien yang ngejedot-jedotin stetoskop ke kepalanya sendiri, sampai dia sendiri yang ngejedot-jedotin kepalanya ngehadapin dosen.

A must read book bagi kalian yang ingin tahu susahnya jadi dokter. Riva, dengan serial CADO-CADO ini sukses membuat saya menunggu karya dia berikutnya. Keep it coming, Bro! – Adhitya Mulya, penulis Jomblo, Gege Mengejar Cinta

Sumpah deh! Lucu dan keren cerita-cerita di buku ini! I love it, Doc! – Nycta ‘Jeng Kelin’ Gina, dokter/artis

cooltext1660176395

Saat lihat buku ini di rak toko buku, pertama terpikir adalah ini buku teks kedokteran. Otak saya kalo nyangkut dunia kedokteran itu udah capek duluan. That’s not my world banget *ahem. Pasti isinya sudah di luar kepala semua alias gak paham huahaha. Oke back to review.

Buku ini sebenarnya adalah buku kedua setelah Cado-Cado. Saya yang saat itu entah tidak ngeh atau emang cupu, gak beli edisi pendahulunya dulu. Ah nasi emang udah jadi bubur, biarlah. Di buku ini ada sepuluh cerita dalam 188 halaman. Dan lagi-lagi karena keterbatasan waktu *uhuk* jadi saya hanya bahas beberapa aja yang membekas di benak ya hehehe. Ada sebuah kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Bedah: (Amit-Amit Jadi) Dokter Cabul” sebagai kisah keempat. Membaca judulnya aja saya udah mesem duluan.

Seorang dokter itu selalu diharapkan untuk berpikir super-cepat, atau super-super-duper cepat, soalnya pekerjaannya kan menyangkut keselamatan orang. (hal. 69)

Lantas, apa hubungannya dengan dokter cabul? Ternyata, si Riva ini sedang ujian pada bagian ilmu bedah. Ternyata sistem ujiannya adalah sang calon dokter diberi tanggung jawab memeriksa seorang pasien yang nantinya akan diambil alih oleh dokter ahli bedah ketika sudah selesai. Sang pasien bernama Angel ini kayaknya emang secantik namanya ya *keplak*

Keluhan yang diderita Angel ini ternyata adalah adanya benjolan di (maaf) payudara. Yak benar, di bagian itu. Seperti biasanya, dokter kan selalu memeriksa dengan seksama bagian yang menjadi keluhan melalui duo indra (penglihatan dan peraba). Bisa terbayang kan bagaimana sikap Riva ketika menghadapi keluhan Angel? Hehehe.

Ada lagi kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Kesehatan Anak: Gagal Sok Cool” yang awalnya saya pikir ceritanya unyu-unyu khas anak kecil. Lah, apa hubungannya kecoa dengan bagian kesehatan anak? Oh ternyata (kok jadi kayak judul ftv di Tr*nsTV) kamar jaga di ko-ass anak itu sangat jorok sehingga sering mengundang kecoa-kecoa berdatangan. Dan Riva terlalu takut untuk menghadapinya sendirian.

Ada satu hal yang selalu aku harapkan nggak akan pernah menggangguku di saat jaga malam, juga nggak akan pernah membuatku keringat dingin saat melihatnya. Mayat? Bukan. Hantu? Bukan. TAPI… KECOA! (hal. 122)

Dengan bangga, saya menobatkan buku ini sebagai salah satu terbitan Bukuné yang terbaik. Karena saya sukses ketawa ngakak saat membaca berbagai kisahnya. Awalnya saya heran, buku teks kedokteran kok letaknya di deretan buku humor, jadi penasaranlah saya ini. Saat baca blurb di belakang buku, wah kok kayaknya seru. Bayangin aja, image para dokter (termasuk mahasiswa kedokteran, versi saya) itu kan elegan, higienis, pinter, dan sebagainya. Tapi, buku ini sukses bikin image itu hancur lebur.

Ternyata calon dokter juga manusia. Mereka kadang (sering, di buku ini) melakukan hal-hal bego dan lucu dalam kesehariannya. Mereka tidak selalu kaku dan saklek kok. Mereka juga bisa ngocol dan gokil. Apalagi namanya status masih mahasiswa ya, belom jadi dokter beneran, masih aja tetep nyinyirin dokter di rumah sakit yang bikin merinding disko.

Banyak sekali cerita-cerita kocak di buku ini. Namun, tenang saja. Meskipun banyak sekali istilah-istilah kedokteran dan medis, bagi pembaca (saya khususnya) yang amat sangat awam sekali dengan dunia dokter, jadi tidak terlalu kesulitan untuk mengerti. Karena ada penjelasan di awalnya dengan bahasa yang mudah dipahami. But overall, buku ini sukses bikin citra dokter itu tidak selalu kaku sodara-sodara. Kalo bicara cocoknya sih, buku ini pantas dibaca remaja hingga dewasa. Humornya yang segar dan tidak kaku bisa jadi hiburan tersendiri.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*