Gege Mengejar Cinta

covergege

Judul: Gege Mengejar Cinta

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 228 halaman

Terbit Perdana: November 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, November 2004

ISBN: 9789793600437

cooltext1660180343

Mana yang seseorang akan pilih? Mereka yang dia cintai? Atau mereka yang mencintainya? Ini adalah sebuah pertanyaan penting yang entah kenapa orang tidak pernah cukup peduli untuk kaji dan tanyakan pada diri sendiri. Buku ini bercerita tentang Gege. Pria yang akhirnya dihadapkan dengan pertanyaan itu.

“…saya mendapatkan novel ini benar-benar berbeda. Ide-idenya mengalir unprecedented dan menghanyutkan, suatu originalitas yang sulit didapatkan hari ini. Saya suka pendekatannya terhadap klimaks yang chaotic seperti fireworks in the fair ground. Beginilah penulis muda seharusnya, smart, playful, dan explosive.” – Jose Poernomo – Produser & Sutradara Film

cooltext1660176395

Jatuh cinta berjuta rasanya. Banyak yang merasakan manis ketika cintanya mendapat balasan yang sama, namun tak sedikit pula yang harus menelan rasa pahit ketika pujaan hati menolak untuk bersama. Cinta juga sangat identik dengan pengorbanan dan perjuangan. Semakin besar cinta seseorang, maka semakin besar pula perjuangan dan pengorbanan yang sanggup untuk dilakukan.

Begitu pula dengan Gege, tokoh utama dalam novel ini. Pada usia telah mencapai 27 tahun, ia bekerja sebagai seorang produser dalam sebuah radio di Jakarta. Suatu hari, Program Director radio alias atasan Gege, mengumumkan sebuah informasi dari Asosiasi Radio Jakarta terkait penyambutan hari kemerdekaan Indonesia.

Dalam rangka menyambut ulang tahun Indonesia ke-59, sebuah dewan juri akan menilai secara kualitatif, radio mana yang paling mampu menyambut kemerdekaan. (hal. 12)

Gege sebagai sang produser acara, didaulat untuk membuat sebuah acara radio yang bisa membawa Radio Hertz menjadi juara. Akhirnya ide yang dilaksanakan adalah mengenai sandiwara radio. Karena menyewa pengisi suara yang bagus cukup mahal, maka Gege berinisiatif melibatkan rekan-rekan kerjanya dalam sandiwara ini. Tak terkecuali Tia, sang gadis di kantor yang ehm, naksir Gege. Tia ini orangnya gengsi pake banget. Termasuk urusan menyatakan cinta. Bahkan dalam hal ngedeketin aja dia punya alasan jitu.

“Cowok beda Ge, sama cewek. Cowok memang pada kodratnya mempermalukan diri dan usaha untuk kenalan, ngejar cewek.” (hal. 32-33)

Gege tentu saja sebagai seorang cowok, yang merupakan spesies yang dianggap tidak kurang peka, tidak menyadari apa yang Tia rasakan. Justru ia larut dalam pengerjaan sandiwara radio karena cinta lamanya datang kembali. Ya benar, gadis pujaan Gege, sejak SMP hingga SMP, tetangga depan rumahnya, yang menghilang begitu lama, kembali muncul di hadapan Gege. Tentu saja Gege tak menyia-nyiakan hal tersebut dan mencoba mendekati Caca, sang gadis itu. Bahkan kemungkinan terburukpun ia hiraukan.

“Setidaknya gua tahu dan gua masih bisa nunggu.” (hal. 89)

Sinting? Yah mungkin saja. Namanya juga orang jatuh cinta. Dan Tia juga melakukan pengorbanan untuk Gege. Mulai dari mengganti kacamata dengan soft lens, meluruskan rambut (yang akhirnya jadi kribo), sampai dandan menarik agar Gege menyadari perasaannya. Namun apa daya, gengsi telah mengalahkan perjuangannya.

Sulitnya jadi perempuan. Gengsi adalah kulit kedua mereka. Kulit yang mengikat mereka meraih takdir yang sebenarnya jauh lebih luas. Yang sebenarnya dapat membuat mereka mendapatkan apa yang benar-benar mereka mau. (hal. 102)

Di saat Tia sibuk menebar tanda-tanda yang tak kunjung disadari sang pujaan hati, Gege justru sukses pedekate dengan Caca. Bahkan keduanya bisa dikatakan tahu-sama-tahu tentang perasaan masing-masing. Namun untuk berkata jujur, Gege masih belum sanggup.

Anehnya wanita. Selalu menuntut kejujuran dari pria tapi akan lari jika kejujuran itu datang terlalu cepat atau jika sang wanita belum cukup kuat atau nyaman menerimanya. (hal. 153)

Lantas, bagaimana kelanjutan kisah drama percintaan Gege, Tia, dan Caca? Silakan baca sendiri deh. Soalnya seru banget. Karena sang penulis piawai menempatkan segi humor dan serius dalam takaran yang pas dan tidak berlebihan. Tokoh-tokoh figuran, meskipun tidak tampil sebanyak Gege, Tia, dan Caca, mereka tetap memiliki karakter yang kuat.

Selain itu, saya menyukai banyaknya dialog yang dilakukan antar tokoh. Hal ini membuat saya tidak bosan membacanya. Kan ada ya tuh, novel yang menarasikan segala tindak tanduk sang tokoh sampai panjang lebar. Saya justru menyukai sifat, karakter, dan perilaku tokoh disampaikan melalui dialog. Istilahnya kalau tidak salah showing than telling.

Oh iya, banyak sekali catatan kaki (footnotes) yang bertebaran dalam buku ini. Alih-alih sebuah informasi tambahan tentang kutipan yang dimaksud, justru catatan kaki ini semacam perasaan atau pemikiran atau pembelaan penulis ketika pembaca sampai pada kata/kalimat yang dimaksud. Banyak catatan kaki yang lebih lucu dibanding teks di novelnya sendiri hehehe.

Saya juga suka karakter para tokoh utama yang kuat. Saya bisa merasakan sakitnya Tia ketika mengetahui Gege mendamba Caca, saya juga bisa mengerti alasan Gege masih menunggu Caca sekian lama, dan saya juga bisa memahami perasaan Caca yang bahagia dicintai Gege. Hal inilah yang membuat novel ini sangat bagus untuk dinikmati.

Kekurangannya saya rasa ketika ada dialog yang melibatkan beberapa tokoh (lebih dari dua), saya tertukar-tukar siapa yang berkata begini, siapa yang ngomong begitu. Karena penulis hanya meuliskan tanda kutip saja, tanpa disertai siapa tokoh yang berbicara. Tapi kalau dicantumkan juga malah mengganggu yak. Typo sih ada beberapa, namun karena terlanjur asik mengikuti cerita, jadi saya abaikan deh hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*