100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta

coverbm100

Judul: 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta

Seri: Lagak Jakarta

Komikus: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: 160 halaman

Terbit Perdana: Januari 2008

Kepemilikan: Cetakan Kedua, April 2008

ISBN: 9789799100993

cooltext1660180343

KOMENTAR PARA PENGGEMAR SERI LAGAK JAKARTA:

Emang edan, to the point, bikin orang tertawa terpingkal2… nurutku ini salah satu karya anak bangsa yang lumayan orisinil, satrical, to the point, and realis…. cocok untuk dikoleksi dan dibaca berulang2… – www.klubsaham.com/index.fundamentalman

Sebenernya gw baca komik ini juga gara2 salah beli. Maksud gw mau beli yang bundel komik, yang kebeli malah Lagak Jakarta, habis pengarangnya sama. Tapi gw ternyata ga menyesal… tu komik bagus banget, dn bikin gw yang besar di (pinggiran) Jakarta agak2 tertohok! Baca deh… ga nyesel… dan rasakan bahwa kadang-kadang realitas lebih fiksi daripada cerita fiksi – www.friendster.com/review.php?action=all&uid=10331918

Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad sangat luwes dan membumi dalam menggambarkan peristiwa sehari-hari Jakarta. Salah satu yang menarik buat gua adalah pada detail akurat dan penokohan yang kuat. …Hm, kebayang nggak sih, selama naik bajaj kita jelalatan dan mencatat semua pernak-perniknya? Belum lagi tokoh sopir bajaj ngeselin tapi lucu. – mpokb.blogdrive.com/archive/172.html

ISINYA MENGGUGAH, MENYAYAT SEKALIGUS KOCAK…. disain komiknya… 1.000% bagus… kertas covernya bagus, cover doublenya bagus banget… pilihan warna sangat kocak…. kerennn… buat gue kerennn deee kerennnnnnnnnnnnnnnnn… haheauheuhaeuhauehae. ENJOYYYYYY!!!! Dan jangan lupa dibeli yaaaaaaaa… biar kita makin cinte sama Jakarteeee kiteeeeee neeeeee. Wekekkwkekwekwkek. – momobilanku.multiply.com/photos/album/88/BENNY_MICE_LAGAK_JAKARTA

Nggak salah, ini emang buku wajib para komikus. …Kartunnya sendiri nggak humor-humor amat tapi cukup memotret keadaan sosial saat itu. – rinurbad.multiply.com/reviews/item/15

November – Buku yang Ada Unsur Angka

cooltext1660176395

Ada yang ngeh dengan penulisan judul buku ini yang menggunakan tanda kutip pada kata tokoh? Ternyata hal itu bukan tanpa alasan. Seringkali kita mendefinisikan “Tokoh” adalah orang-orang yang terkenal, berpengaruh dalam kehidupan, ataupun orang-orang yang membekas dalam benak masyarakat luas. Namun sepertinya Benny dan Mice enggan membuat sebuah karya dengan “tokoh” yang mainstream.

Lahirlah kumpulan karikatur dan sejumput komik berjudul 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta ini. Bukan para artis ataupun sang pejabat terkemuka yang dimaksud komikus ini, melainkan para orang “biasa” yang sudah dikenal akrab oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta.

Kita semua inilah ‘Tokoh-Tokoh’ yang mewarnai Jakarta! …he..he…he… (hal. 7)

Ada 100 orang manusia berbagai profesi dan latar belakang kehidupan masing-masing yang sempat digambarkan Benny dan Mice di buku ini. Karena terlalu banyak, jadi saya kemukakan segelintir saja ya yang cukup memorable. Salah satunya adalah tokoh “Mas-Mas Mudik” dengan deskripsi yang unik.

Rambut khas mas-mas. Jeans yang masih biru banget. Jacket supaya nggak masup angin di perjalanan. (hal. 20)

Btw, rambut khas mas-mas itu yang gimana sih? Saya biasa dipanggil “Mas” tapi kok rambut saya beda dengan karikatur si “Mas-Mas” itu. Jadi saya bukan “Mas-Mas” tulen dong? Ada lagi tokoh yang cukup bikin saya nyengir adalah deskripsi “Cewek Berjilbab 2”. Kenapa 2? Karena “Cewek Berjilbab 1” adalah potret sang muslimah sejati dengan pakaian yang memenuhi syariat Islam. Sedangkan yang kedua? Baca deh:

T-shirt lengan panjang tapi ketat! (lekuk tubuh masih terlihat jelas). Celana stretch!! (lekuk pinggul dan paha nyéplak banget!) (hal. 25)

Ada yang unik, ada juga yang bikin ngikik. Salah satu tokoh tersebut adalah “SPG Rokok”. Gile, ada aja nih prfesi yang dimasukin ke buku ini. Yah meskipun rokok itu tidak baik untuk kesehatan, tidak menghilangkan profesi SPG kok. Berikut cuplikannya:

Raut muka ‘menggoda’ iman dengan kata2 manis untuk mengajak melanggar peringatan pemerintah, bahwa: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, bla… bla… bla… (hal. 73)

Dipikir-pikir iya juga sih. Kalo promosi rokok masih merajalela, ya konsumennya tetep ada. Jadinya rokok nggak bisa hilang dengan mudah. Anyway, salah dua yang menjadi favorit saya adalah potret dua keluarga yang berbeda nasib. Nasib keluarga miskin dan kesusahan berdampingan dengan keluarga yang sangat berkecukupan di halaman sebelahnya. Keluarga pertama disebut “Keluarga Susah Makan”.

Seekor ikan kembung goreng buat lauk bersama. Sengaja makan sedikit, mengalah… supaya anak-anaknya dapat porsi lebih banyak (menunjuk gambar ibu). Sambil berpikir…. mencari uang untuk makan esok hari (menunjuk gambar bapak). (hal. 112)

Awalnya sih saya idak mengira potret kedua keluarga yang berbeda ini disandingkan bersama. Rasanya Benny dan Mice ingin menyadarkan pembaca bahwa ada berbagai macam kehidupan di dunia ini. Untuk keluarga kedua disebut “Keluarga Doyan Makan”.

Nasi goreng ikan asin porsi jumbo. Nasi sapi lada hitam. Ayam kuluyuk buat bersama. Kwetiau goreng sapi porsi kedua. Sup kepiting sebagai apetizer. (hal. 113)

Kedua halaman tersebut sempat membuat saya terhenyak dan langsung bersyukur kepada Allah SWT. Selain orang-orang Indonesia, ternyata Benny dan Mice tidak melupakan orang luar negeri yang malang melintang di Jakarta. Mereka turut ambil bagian menjadi “tokoh” yang digambarkan di buku ini. Antara lain “Bule Ransel”, “India Pasar Baru”, “Nigeria Kebon Kacang”, dan “Arab Atrium”.

Selain karikatur para “tokoh”, ada bonus 5 komik pendek di sela-sela halaman di buku ini. Tentunya komik itu menceritakan sepenggal kisah hidup para “tokoh” yang telah digambarkan sebelumnya. Saya suka seka dengan keduanya, baik karikatur maupun komiknya. Benny dan Mice seakan menuliskan apa yang ada di benak saya (atau kita semua?) ketika melihat “tokoh-tokoh” itu di dunia nyata.

Meskipun judulnya dituliskan 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta, bukan berarti warga yang tidak berdomisili maupun yang tidak pernah ke Jakarta tidak bisa menikmatinya. Karena saya rasa, mayoritas para “tokoh” tersebut juga hidup di berbagai wilayah lain di Nusantara kok. Jadi siapapun pembacanya juga bisa relate dengan goresan gambar di buku ini.

Kekurangannya apa ya, mungkin penulisan kata-kata agak kurang rapi. Sepertinya karena semua gambar dan tulisannya hand made alias gambar manual terus di scan *CMIIW* jadi agak sedikit belepotan. Oh iya, kekurangan yang cukup fatal adalah: kurang tebal! Hahahaha. Saya sih pengennya 1000 tokoh yang mewarnai Indonesia. Biar puas bacanya hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*