Manusia Setengah Salmon

covermanusia

Judul: Manusia Setengah Salmon

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: viii + 264 halaman

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, 2012

ISBN: 9789797805319

cooltext1660180343

Nyokap memandangi penjuru kamar gue. Dia diam sebentar, tersenyum, lalu bertanya, ‘Kamu takut ya? Makanya belom tidur?’

‘Enggak, kenapa harus takut?’

‘Ya, siapa tahu rumah baru ini ada hantunya, hiiiiii…,’ kata Nyokap, mencoba menakut-nakuti.

‘Enggak takut, Ma,’ jawab gue.

‘Kikkikikiki.’ Nyokap mencoba menirukan suara kuntilanak, yang malah terdengar seperti ABG kebanyakan ngisep lem sewaktu hendak photobox. ‘Kikikikikiki.’

‘Aku enggak ta—’

‘KIKIKIKIKIKIKIKI!’ Nyokap makin menjadi.

‘Ma,’ kata gue, ‘kata orang, kalo kita malem-malem niruin ketawa kuntilanak, dia bisa dateng lho.’

‘JANGAN NGOMONG GITU, DIKA!’ Nyokap sewot. ‘Kamu durhaka ya nakut-nakutin orang tua kayak gitu! Awas, ya, kamu, Dika!’

‘Lah, tadi yang nakut-nakutin siapa, yang ketakutan siapa.’

Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sembilan belas bab di dalam bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Simak juga bab berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat khas Raditya Dika.

cooltext1660176395

Another book of Raditya Dika. Saya cenderung menyukai banyolan dan guyonan dalam tulisan Dika. Terasa segar (air mineral kali ah) dan menghibur. Usianya yang masih belum terlalu tua juga sedikit banyak bisa membuat kejadian-kejadian masa kini menjadi bahan tulisannya. Termasuk pada buku Manusia Setengah Salmon ini.

Ada 19 bab di buku ini yang Dika suguhkan. Ada yang lucu, ada yang mellow, ada pula yang absurd dan nggak jelas. Karena nggak mungkin saya ulas satu persatu, jadi saya tuliskan beberapa saja ya. Salah satu kisah yang menurut saya cukup menarik adalah yang berjudul “Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat”. Pada cerita ini, Dika yang mengalami putus cinta menjadi tahu apa esensi dari kenangan masa lalu.

Harga diri lebih penting daripada sakit hati. (hal. 22)

Putus cinta memang menyakitkan. Namun di cerita tersebut Dika menyelipkan sebuah pesan moral mengenai arti dari merelakan. Lain hal pada kisah berjudul “Kasih Ibu Sepanjang Belanda” yang menurut saya lucu sekaligus menyentuh. Alkisah Dika yang melanjutkan studi ke Belanda mengalami fase “ingin mandiri” dengan mencoba mengacuhkan segala perhatian nyokapnya yang terus menghubungi Dika tiap jam.

Memang perut gue ini perut belalang kupu-kupu, kalau siang makan nasi kaau malam minum susu. (hal. 117)

Pada kisah tersebut Dika seakan ingin mengingatkan pada jutaan orang yang (mengaku) dewasa yang masih memiliki orang tua bahwa sesungguhnya perhatian orang tua itulah yang sesungguhnya amat berharga. Karena kita tak akan tahu kapankah orang tua akan pergi meninggalkan kita…ke dunia yang berbeda.

Pada kisah lain berjudul “Tarian Musim Kawi”, Dika menceritakan tentang curhat sahabatnya, Trisna, yang menjadi jomblo perak karena pada usia menginjak 25 tahun belum pernah berpacaran. Ingin membantu, Dika mengusulkan Trisna mencari (calon) pasangan melalui Twitter.

Timeline Twitter seseorang menunjukkan sifat asli orang tersebut. (hal. 151)

Saya sangat sependapat sih dengan bahasan Dika pada kisah ini. Karena tidak dapat dipungkiri di era serba modern (termasuk munculnya social media) bisa menunjukkan jati diri asli seseorang. Trisna yang merasa tertarik dengan usul Dika pun juga begitu. Lantas, berhasilkah Trisna mendapatkan pasangan hanya bermodalkan timeline?

Cerita yang cukup memilukan hadir pada judul “Lebih Baik Sakit Hati”. Bukannya apa-apa, di kisah ini Dika menceritakan mengenai pengalamannya sakit gigi akibat gigi geraham bungsunya mulai tumbuh. Tak tanggung-tanggung, ia musti rela disuntik dan dioperasi demi menyembuhkan giginya. Sakit? Tentu saja. Bahkan ia membandingkan dengan rasa sakit hati yang pernah ia alami.

Orang yang bilang lebih baik sakit hati daripada sakit gigi, pasti belum pernah sakit gigi. Dan, orang yang belum pernah sakit gigi, belum tahu rasanya menjadi dewasa. (hal. 204)

Bab penutup berjudul “Manusia Setengah Salmon” seakan menjadi kesimpulan dari segala macam bab galau dan mellow yang dikisahkan pada bab-bab sebelumnya. Pada akhir penutup ini, Dika seakan kembali menegaskan bahwa perpindahan adalah sebuah hal yang lumrah terjadi.

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. (hal 255)

Ketika menutup buku ini, saya merasa puas. Dalam artian saya menemukan sebuah hal baru pada gaya tulisan Dika. Meskipun guyonan dan candaan masih dipertahankan, namun saya bisa merasakan pesan moral ataupun kutipan menyentuh di buku ini. Pada buku ini saya juga mengetahui bahwa Dika bukan hanya piawai dalam menyusun tulisan komedi nan menggelitik, namun juga sukses mengingatkan saya tentang pelajaran hidup.

Sayangnya, kelebihan diatas justru menjadi bumerang. Saya jadi kurang menyukai semua bab bertema lucu yang diletakkan selang-seling dengan bab bertema mellow. Memang sih mungkin tujuannya agar pembaca bisa sedikit refreshing pada bab yang lucu setelah menikmati mellow-nya bab sebelumnya. Tapi saya justru merasa aneh. Ibarat lagi makan kue bolu dan rempeyek (aduh, maafkan pemilihan yang absurd ini), saya harus berganti-ganti kedua makanan tersebut tiap lima detik. Enak? Tentu tidak. Saya jauh lebih setuju jika buku ini full bab bertema mellow. Sisi-sisi komedi sebagai identitas Dika cukup diselipkan dalam bab-bab itu saja. Tak perlu disendirikan.

But overall, saya suka dengan buku ini. Meskipun kadar komedinya tidak terlalu dominan, saya justru mendapat sebuah pemahaman baru mengenai secuil pengalaman hidup. Dika yang masih muda juga sanggup menghadirkan tulisan yang bisa dinikmati kawula muda. Good job!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus