Radikus Makankakus

coverradikus

Judul: Radikus Makankakus

Tagline: Bukan Binatang Biasa

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 232 halaman

Terbit Perdana: 2007

Kepemilikan: Cetakan Keempat, 2007

ISBN: 9789797801663

cooltext1660180343

Beberapa menit kemudian kelas dimulai. Kayaknya ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell. Baru masuk aja udah berisik banget.

‘Selamat siang, saya Dika,’ gue bilang ke kelas 1 SMP yang baru gue ajar ini. ‘Saya guru untuk pelajaran ini.’

‘Siang, Pak!’ kata anak cewek yang duduk di depan.

‘Jangan Pak. Kakak aja,’ kata gue sok imut. Gue lalu mengambil absensi dan menyebutkan nama mereka satu per satu.

‘Sukro,’ gue manggil.

‘Iya, Kak.’ Sukro menyahut.

‘Kamu kacang apa manusia?’

‘Hah? Maksudnya?’

‘Engga, habis namanya Sukro, kayak jenis kacang,’ kata gue, kalem. ‘Oke, kacang apa manusia?’

‘Ma-manusia, Kak.’

‘KURANG KERAS!’ Gue menyemangatinya.

‘MANUSIA, KAK!’

Satu kelas hening.

RADIKUS MAKANKAKUS: Bukan Binatang Biasa adalah buku ketiga Raditya Dika (setelah Kambingjantan dan Cinta Brontosaurus) berisi pengalaman-pengalaman pribadi Raditya Dika sendiri yang bego, tolol, dan cenderung ajaib.

Simak kisah Raditya Dika jadi badut Monas sehari, ngajar bimbingan belajar, dikira hantu penunggu WC, sampai kena kutuk orang NTB.

Penulis Indonesia, tidak pernah segoblok ini.

cooltext1660176395

Raditya Dika bukanlah orang asing dalam dunia buku non fiksi komedi di Indonesia. Karya fenomenal Kambing Jantan mengantarkannya sebagai salah satu penulis yang cukup berkompeten di Indonesia. Beberapa buku juga ia hasilkan setelah Kambing Jantan. Buku Radikus Makankakaus ini adalah buku ketiganya. Garis besarnya masih sama dengan pendahulunya, yaitu menceritakan pengalaman-pengalaman unik dan absurd Dika dalam bahasa komedi lugas dan cenderung blak-blakan.

Ada 17 cerita yang disajikan di buku ini. Ada yang cukup membekas dalam sanubari, ada pula yang berlalu begitu saja tanpa arti. Jadi saya ulas yang cukup memorable saja ya. Salah satunya cerita berjudul “Balada Badut Mabok”. Pada cerita pertama ini, Dika bermaksud melakukan penelitian dengan menjadi badut.

Gak beberapa lama kemudian, anak-anak itu udah ada di samping kaca mobil gue. Kepala gue ditoyor-toyor. Tangan-tangan butek item mereka nyolok-nyolok idung gue. (hal. 12)

Ternyata menjadi badut bukanlah hal yang mudah. Lantas bagaimana kelanjutan penelitian Dika? Ada lagi kisah berjudul “Arti Hidup?” merupakan salah satu cerita yang sedikit mellow dan inspiratif. Mengambil waktu saat Dika masih SMA, ada seorang guru bernama Ibu Irfah. Meskipun Dika nakal bagai setan, beliau tetap care pada Dika.

Kamu masih punya waktu untuk berubah. Kamu pasti mau kan lulus SPMB, masuk UI? Kamu belajar yang bener dari sekarang. Jangan bandel kayak gini. Kasihan tahu, orang tua kamu. Mulai semester depan, perbaiki ya? (hal. 94)

Ibu Irfah adalah salah satu potret guru yang pasti dicintai oleh murid-muridnya, tak terkecuali Dika yang menulis kisah ini. Meskipun tidak meninggalkan ocehan komedi, kisah ini bisa dibilang kisah paling memorable bagi saya pribadi. Karena juga meninggalkan pertanyaan dalam diri saya sendiri.

Kisah yang cukup unik berjudul “Guruku Seperti Macan”. Jadi ceritanya Dika yang udah kuliah dan lagi libur, diminta menjadi guru/tentor pada LBB yang dimiliki nyokapnya. Meskipun “hanya” mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kelas 1 SMP dan 3 SMP, itu cukup membuatnya ketar-ketir.

Ngebayangin anak-anak SMP zaman sekarang, kayaknya mereka udah brutal banget. Gak ada yang tau betapa ganas ataup betapa bandelnya mereka. Apalagi, film-film sekarang ini banyak yang menggambarkan anak-anak sekolah ngomong makin kasar, makin suka ngerjain, makin binal. (hal. 107)

Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Tayangan televisi nasional sekarang banyak yang tidak mendidik generasi muda. Apalagi sinetron-sinetron sampah selalu berlalu-lalang di layar kaca. Mungkin hal inilah yang menjadi kekhawatiran Dika sebelum mengajar (calon) siswanya. Perbedaan generasi terkadang menimbulkan perbedaan perangai. Dahulu santun, sekarang bisa tak tahu malu. Yang tadinya sopan, bisa jadi sekarang suka ngomong kasar.

Secara umum sih saya suka buku ini. Sebenernya buku ini sudah punya sejak lama. Cuman baru bisa nulis review sekarang. Ciri khas Dika dalam tulisan komedi sepertinya sudah tak bisa dipungkiri. Apalagi kodratnya sebagai laki-laki menjadi lebih bebas dalam menulis. Tidak seperti kebanyakan penulis perempuan yang mengusung tema komedi malah jadinya garing.

Namun yang disayangkan, saya kurang bisa menikmati seluruh komedi yang dituliskan, khususnya tulisan-tulisan yang mencela orang lain. Terlepas maksudnya hanya bercanda atau tidak, tidak sepatutnya menghina orang lain sebagai bahan kelucuan. Mau itu kenyataan ataupun hanya guyonan, humor dengan menghina orang itu amat sangat basi banget. Bahkan ada salah satu tulisan berikut ini:

‘ASTAGFIRULOH!!!’ salah satu orang masih menjerit kayak orang gila. (hal. 65)

Hah? Apa? Mengucap istighfar (meskipun penulisannya kurang tepat) dikatain orang gila? Kok saya rasanya agak tersinggung ya ketika membacanya. Saya tau kok maksudnya hanya bercanda. Namun bercanda dengan membawa-bawa SARA itu enggak bagus lho, IMHO. Ada lagi yang seperti ini:

Gak taunya nih orang melihara ikan di bak mandi! Gila. (hal. 156)

Dih, ini Dika alay banget sih cuman liat ikan doang. Pake ngatain gila lagi. Emang sih, kayaknya dia baru tau ikan itu fungsinya buat makan jentik nyamuk demam berdarah. Tapi please, piara ikan di bak mandi masih lebih waras dibandingkan tidak melakukan apa-apa demi mencegah demam berdarah. Hih!

Akhirnya, buku ini masih layak baca kok meskipun ada beberapa kekurangan. Saya rasa masih belum ada penulis komedi di Indonesia (yang karyanya udah saya baca) yang bisa mengalahkan Raditya Dika dalam menulis komedi. Hanya saja, saya rasa Dika harus mencoba mengubah konteks komedinya tanpa membawa-bawa SARA dan celaan pada orang lain agar humor yang ia sajikan bukan hanya menghibur semata, namun juga cerdas.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*