Metro

covermetro

Judul: Metro

Penulis: Gola Gong

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: vi + 106 halaman

Terbit Perdana: Mei 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2005

ISBN: 9789793600710

cooltext1660180343

Jakarta. Kota metropolitan yang sudah terlanjur dicap dengan kehidupan masyarakatnya yang glamour, egois, individualis dan materialistis. Dengan gaya metroseksual, sebagian orang Jakarta tidak peduli dengan kehidupan sosial di sekitarnya. Karena itu, Gola Gong tergugah untuk menyampaikan pesan moral tersebut melalui novel terbarunya, METRO.

Novel beraromakan kekerasan jalanan, yang kuat nuansa islaminya. Bercerita tentang tokoh bernama Baron, petinju yang juga petarung bebas. Dia hidup di lingkungan yang penuh dengan maksiat. Tiba-tiba saja dia melihat bulan sabit dan bintang serta mendengar alunan suara adzan. Pertanda apakah itu?

Metro, sebuah novel yang mempertanyakan jiwa sosial, jati diri, dan solidaritas kita di tengah masyarakat hedonis.

cooltext1660176395

Sisi lain ibukota sepertinya masih menarik dijadikan tema cerita oleh para penulis lokal. Setidaknya kesan glamour, mewah, dan gemerlapan yang digantikan kekerasan dan kekelaman bisa memberikan nuansa baru dalam memandang kota meropolitan dalam sebuah cerita. Karena sesungguhnya segala sesuatu memiliki sisi yang baik dan buruk.

Baron sebagai seorang petinju sekaligus petarung bebas juga seperti itu. Meskipun ia memiliki “pekerjaan” yang sanggup memenuhi kebutuhannya, ia masih merasa tersesat. Khususnya dalam sebuah pandangan mengenai agama.

Baginya agama adalah urusannya dengan Tuhan. (hal. 3)

Bagaimana tidak, ia mendapati bulan sabit dan bintang di langit sore namun kekasihnya, Kirana, tidak melihat hal yang sama. Baron menjadi bingung sekaligus penasaran. Pertanda apakah itu. Karena menurutnya agama bukanlah prioritasnya dalam menjalani hidup. Lagipula Kirana berhasil menjadikannya model produk minuman sehingga penghasilannya lebih dari cukup dibandingkan menjadi petinju dan petarung bebas saja.

Meski Baron adalah seseorang yang keras dan tak segan menghajar lawannya saat pertandingan, ia justru sangat hobi membaca buku. Seems weird, huh? Hal ini membuatnya menjadi idola orang-orang, bahkan ibu-ibu juga tak segan meminta foto bersama.

Sangat jarang seorang petinju profesional, petarung bebas, dan chief security di sebuah tempat hiburan gila pada buku! (hal. 23)

Ketika menjelang pertarungannya dengan Landung, ia mendapati preman terminal, Yopi, kalah dalam pertandingan. Merasa iba, Baron membawanya ke rumah sakit dan membantu pengobatannya. Hal inilah yang membuat Baron menjadi semakin terlihat bukan petarung biasa. Bahkan ketika mengantar Yopi pulang, Baron sempat tertegun melihat keadaan sekitarnya.

Baginya, orang-orang kecil yang mengais rezeki di kerasnya Jakarta itulah, yang menopang kehidupan Jakarta. (hal. 58)

Lantas bagaimana kelanjutan pertarungan Baron dengan Landung? Lantas apa makna bulan sabit dan bintang yang dilihatnya? Apa yang terjadi kemudian dengan hubungan asmaranya? Dan yang lebih penting, siapa sebenarnya Baron itu? Silakan baca sendiri ya.

Ketika membaca novel yang tipis (banget) ini saya tidak berekspektasi macam-macam. Sebisa mungkin saya membaca tanpa beban dan menikmati kata demi kata yang tertulis. Sosok Baron menurut saya adalah pribadi yang langka hampir imajiner. Apalagi jika bukan karena kebiasaannya membaca buku yang berbeda jauh dengan pekerjaannya sebagai petarung. Inilah salah satu poin plus untuk novel ini.

Kekurangannya bagaimana? Ehm, ada beberapa hal sih. Saya bingung kenapa ini novel singkat banget. Mungkin akan lebih baik kisah Baron ini disebut cerpen daripada novel. Selain itu? Endingnya menggantung. Argh! Saya jadi kesal saat membaca halaman terakhir. Banyak sekali pertanyaan di benak saya yang tidak terjawab, bahkan hingga kata paling akhir.

Novel ini juga menyisipkan berbagai kutipan dan informasi yang berfungsi sebagai trivia saat membaca kisahnya. Namun saya pribadi amat jauh lebih menyukai sumber atau info tersebut dijadikan catatan kaki di halaman yang bersangkutan, dibandingkan meletakkan semuanya di halaman belakang yang merepotkan saya bolak balik halaman. Akhirnya trivia keempat dan seterusnya tidak saya pedulikan lagi.

Anyway, kalau membutuhkan bacaan ringan dan tipis, novel (atau cerpen?) ini bisa dijadikan selingan. Konflik yang minim dan tidak terlalu berat membuatnya mudah untuk dipahami. Apalagi alurnya yang maju dan sedikit menguak kehidupan Jakarta bisa memberikan sedikit pandangan mengenai apa yang terjadi di sebuah kota metropolitan ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

1 comment for “Metro

  1. November 14, 2014 at 6:08 PM

    Menarik nih, apa buku ini masih ada di pasaran ya? :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*