Seniormoon

coversenior

Judul: Seniormoon

Tagline: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu!

Penulis: Airra Nugie

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: x + 278 halaman

Terbit Perdana: Maret 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2009

ISBN: 9786028066358

cooltext1660180343

Merasa senior kamu galak? Tunggu sampai baca buku ini.

“Lu tau sendiri kan, kalo kita ini sering ngusilin adik-adik kelas.”

“Iya. Terus?”

“Nah itu. Sekarang kita daftar ke IPDN yang budaya senioritasnya keras banget. Itu artinya kita mengantarkan diri ke karma kita sendiri.”

“Apa sih maksud lu? Gue nggak ngerti.”

“Pokoknya, entar di IPDN kita bakal dapet balesan kayak apa yang sering kita lakukan dulu ke anak-anak baru.”

Seniormoon: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu! adalah buku tentang senioritas. Di mulai dari Nugie menjadi senior yang membabat habis-habisan juniornya, sampai masuk IPDN di mana Nugie dibabat habis oleh seniornya, dan di dalamnya diisi oleh pemahaman Nugie tentang arti “kekuasaan” yang sesungguhnya.

cooltext1660176395

Indonesia adalah sebuah negara yang menerapkan pendidikan formal bertingkat. Maksudnya mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Setiap tingkat pendidikan memiliki lama masa belajar yang bervariasi. Ada yang dua tahun, tiga tahun, empat tahun, enam tahun, dan tak hingga yang berujung DO (drop out). Sehingga lahirlah istilah kakak kelas-adik kelas ataupun kakak tingkat-adik tingkat pada setiap masa pendidikan tersebut. Istilah tersebut ditinjau dari waktu pertama kali mengenyam pendidikan dan masa studi.

Disadari atau tidak, istilah tersebut juga sering melahirkan sebutan juniorsenior pada lingkungan sekolah ataupun kuliah. Julukan tersebut seringkali didengungkan ketika masa orientasi siswa/mahasiswa baru. Idealnya, senior mengayomi junior dan junior menghormati senior. Namun kenyataannya, ada saja pihak yang menyalahgunakan predikat itu. Hal inilah yang diangkat Nugie dalam bukunya ini.

Paskibra, biarpun tugasnya cuma mengibarkan bendera setiap upacara, tapi pembinaan mental mereka jauh lebih menyeramkan daripada yang lain. (hal. 16)

Buku non-fiksi ini dibuka dengan kisah keisengan Nugie saat masa SMA yang selalu mengincar adik kelasnya. Mulai dari saat MOS hingga pembinaan ekstrakurikuler. Sebenarnya maksud Nugie dan kawan-kawan hanyalah usil ngerjain junior baru. Tapi mungkin hal ini justru balik memberi mereka pelajaran…..dari guru BP. Sepak terjang Nugie ngerjain junior hanya sebagai pembuka kisah. Setelah lulus SMA, ia terancam tak bisa menggapai cita-citanya menjadi sarjana karena terhalang biaya. Tak menyerah, ia mencoba peruntungan pada sebuah lembaga pendidikan yang gratis biaya, yaitu IPDN.

Saat berhasil menjadi anggota IPDN, Nugie bersyukur bukan kepalang. Akhirnya cita-citanya melanjutkan sekolah tanpa merepotkan kedua orang tuanya berhasil. Namanya anak baru (junior), Nugie masih beradaptasi pada berbagai hal yang ditemuinya di kampus. Kisah cerita dalam IPDN inilah yang menghiasi sebagian besar halaman buku ini.

Nambah lagi satu pengetahuanku tentang larangan di IPDN. Pertama dilarang senyum, kedua dilarang cengengesan, dan yang ketiga dilarang makan dan minum sambil berdiri, mungkin lebih baik ngupil pakai jempol kaki. (hal. 102)

Di IPDN, para Muda Praja (sebutan untuk mahasiswa tingkat/tahun pertama) juga menjalani kuliah. Karena kegiatan yang sangat padat dan kurangnya waktu istirahat, saat kuliah berlangsung adalah waktu yang terpaksa dikorbankan untuk tidur melepas lelah.

Hah, gimana negara mau maju, kalau calon pamongnya saja pada tidur pas jam kuliah. (hal. 145)

Masih ingat kasus penganiayaan senior kepada junior IPDN (dulu namanya STPDN) yang mengakibatkan tewasnya junior tersebut beberapa tahun silam? Hal inilah yang dialami Nugie. Setidaknya ia tidak sampai meregang nyawa. Teror bermula ketika Nugie sedang jaga malam. Ia memergoki tiga orang laki-laki sedang merokok dan (sepertinya) menggunakan narkoba.

Kemudian mataku ditutup saputangan. Mereka menyeret tubuhku ke dinding. Aku dipukuli. Beramai-ramai. Aku tersungkur. Mereka menendang dan menonjok perutku dengan membabi buta. Entah berapa kali aku dipukuli, ditendang, dan ditampar. Yang jelas aku merasa sekujur tubuhku hancur seketika. Sakit tak terperi. (hal. 157)

Membaca bagian itu, emosiku tersulut. Itukah sikap calon abdi negara yang kelak memimpin negeri ini? Sekumpulan pengecut yang tak sudi kesalahannya terbongkar. Diri ini merasa tak ikhlas uang pajak rakyat Indonesia digunakan untuk membiayai kuliah ketiga berandalan itu. Selain itu, ada juga sebuah agenda yang cukup memprihatinkan di IPDN (pada saat itu, entah saat ini masih ada atau tidak), namanya kumpul kontingen.

Kegiatan malam yang berisi dengan pemukulan dari senior kepada para junior satu kontingennya tanpa kecuali. Semua pasti mendapat jatah ditonjok perut atau ditendang. Walaupun kita nggak punya salah, tapi pasti pukulan atau tendangan itu akan kita dapatkan. Kegiatan itu sudah turun-temurun dilakukan. Ilegal, tapi tidak pernah ada tindakan dari pihak kampus. Tidak jarang, banyak korban berjatuhan setelah kegiatan ini selesai. (hal. 165)

WTF?! Darah serasa mendidih saat membacanya. Inilah salah satu hal yang membuat saya tidak respek kepada institusi pendidikan bersistem seperti ini. Bagaimana bisa kampus tidak mengambil tindakan? Apakah mau nunggu sampai semua penghuni kampus mati mengenaskan? Sepertinya korban yang tewas beberapa tahun silam karena penganiayaan senior disana juga akibat acara tak berguna ini.

Bunga belum punya pacar, itu artinya aku punya kesempatan untuk bisa menjadi pacarnya. Tapi aku masih ragu untuk mengatakan semuanya. (hal. 182)

Sepertinya Nugie tidak ingin pembacanya larut dalam amarah. Ia menghadirkan sejumput kisah cintanya di IPDN. Ya, Bunga adalah seorang gadis asal Riau yang memikat hatinya. Bagian ini terasa sebuah oase diantara gurun penderitaan IPDN yang penulis ceritakan.

Secara keseluruhan, saya suka buku ini. Bukannya menyukai penderitaan yang Nugie alami. Namun lebih kepada rasa salut karena penulis bersedia membagi catatan hitam kehidupannya saat menjadi bagian kampus besar IPDN. Keberanian yang patut diacungi jempol. Tidak banyak orang yang mau membeberkan kisah dibalik gerbang megah kampus tersebut.

Karena buku ini adalah personal literature, saya bisa mengerti apa yang dirasakan penulis ketika mendapat tindakan penganiayaan, baik dalam konteks kurikulum/sistem kampus maupun “keisengan” senior. Saya adalah orang yang anti kekerasan. Apalagi kekerasan di sebuah lembaga pendidikan yang dilakukan oleh senior kepada junior.

Nugie berani membeberkan boroknya IPDN dengan cukup jelas (semoga kegiatan penganiayaan dengan alasan apapun seperti itu saat ini sudah musnah). Meskipun tidak semuanya, namun saya sudah memiliki cukup gambaran kehidupan IPDN di masa lalu. Oh iya, kisah cintanya dengan Bunga juga menarik untuk diikuti. Saya bisa merasakan ketika seusianya pastilah bahagia-bahagia-agak-salting saat pengen mengungkapkan cinta hehehe.

Kekurangannya menurut saya adalah nuansa humor pada bagian awal-awal terasa berlebihan. Baik secara tulisan reka kejadian ataupun berbagai hal absurd tak penting. Mungkinkah karena editor buku ini adalah Raditya Dika? Entahlah. Namun, agak ke tengah hingga halaman terakhir, humor yang ditulis sudah bisa dikondisikan porsinya dan membuat saya nyaman membaca.

Kisah yang dialami penulis dan dituliskan di buku ini terasa sangat miris dan membuat hati ini teriris (yes, I make a rhyme!). Budaya perploncoan memang harus dibumihanguskan dari lembaga pendidikan manapun. Terlebih lagi perploncoan yang dibarengi dengan penyiksaan fisik. Bagaimana bisa seorang peserta didik menjadi termotivasi menuntut ilmu apabila selalu dibayangi siksaan fisik ataupun “keisengan” senior.

Buku ini membuka pikiran saya bahwa tak selamanya kakak tingkat/kakak kelas adalah orang yang patut dijadikan teladan. Terkadang beberapa dari mereka tak lebih dari sekedar manusia pengecut tak memiliki hati nurani. Yang jelas, dalam menghadapi situasi sesulit apaun, kita masih memiliki Tuhan yang senantiasa membantu hamba-Nya yang selalu dekat kepada-Nya. Ingatlah, bahwa setelah hujan masalah akan ada pelangi kebahagiaan yang muncul. Buku ini cocok dibaca usia remaja hingga usia senja karena bisa membuka pikiran serta banyak terselip pesan moral menyejukkan hati.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*