Anak Kos Dodol

coveranak

Judul: Anak Kos Dodol

Tagline: Catatan Mahasiswa Gokil van Djokja

Seri: Anak Kos Dodol #1

Penulis: Dewi “dedew” Rieka

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah Halaman: 191 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, 2009

ISBN: 9789791550161

cooltext1660180343

“Benar2 nyata. Benar2 dodol. Tapi juga benar2 bermakna. Buku harian yang memberi tawa ‘n perenungan” – Ken Terate, Penulis Teenlit, Djokdja

“Pengalaman ngekos emang selalu seru! So buku ini bisa jadi ‘bacaan nostalgia’ yang asyik buat yang pernah ngekos, bisa juga jadi ‘bacaan menyenangkan’ buat yang ingin tau dunia kos lahir-batin, tapi bisa juga jadi ‘bacaan bimbingan’ cara ngekos yang baik dan benar buat yang ingin ngekos! Jadi mari kita ngekos bareng-bareng eh sory, maksudnya mari kita nikmati isi buku ini!” – Boim Lebon, Penulis Cerita Anak & Remaja, Produser TV, Jakarta

“Asli, kocak banget! Nih buku pasti bikin semua anak kos terkenang-kenang masa hepi, pas bokek, bebas merdeka en nonton VCD malam pertamanya! Hehehe… Kudu dibaca!” – Afny Yuniandari, Karyawati Swasta, Penghuni kos 5 tahun, Bekasi

“Seger banget. Awalnya, aku pikir bakal ngebosenin eh ternyata malah jadi ga bisa berhenti baca. Bikin gue mupeng, pengen ngekos bareng cewek-cewek dodol! Hohoho.” – Adhika Putra R, Dokter Muda Unpad, Jomblo Bahagia, Bandung

cooltext1660176395

Usia remaja hingga dewasa muda, biasanya pernah mengalami masa-masa ngekos. Baik dalam rangka menuntut ilmu saat sekolah/kuliah ataupun ketika memasuki dunia kerja. Ngekos banyak dipilih karena tidak terlalu ribet daripada ngontrak rumah. Saya aja udah empat tahun ngekos sejak saya masih mahasiswa baru.

Buku ini mengangkat tema bagaimana seru dan dodolnya dunia perkos-kosan kaum hawa di kota pelajar, Yogyakarta. Penulis seakan ingin memberi kesan bahwa ngekos itu tidak selalu identik dengan kelaparan, irit, dan sengsara tapi juga bisa dibawa hepi dan terkadang membawa pengalaman unik yang baru.

Karena ada 33 cerita, jadi saya ambil beberapa saja ya yang berkesan. Kisah pertama adalah cerita tentang adanya desas-desus hantu/setan di kosnya Mbak Dewi. Namanya kos-kosan cewek, pasti jadi panik dan takut gara-gara isu itu. Untuk menghalau rasa takut, mereka tidur bareng-bareng bak ikan pindang dijemur.

Untuk bisa tidur pulas dalam suasana seperti itu, dibutuhkan keahlian khusus. (hal. 19)

Kisah agak sedikit mellow dan inspiratif berjudul “Ulang Tahun ke-20” karena bercerita tentang dampak negatif dari sesuatu hal yang tidak penting. Ceritanya anak kos ingin memberi kejutan pada Kayla yang berulang tahun. Celakanya, keisengan itu berujung maut dan memberikan dampak traumatis pada penghuni kos.

Tiba-tiba, gadis itu menginjak pecahan telur dan… gubrak! (hal. 27)

Ada lagi cerita berjudul “Balada Beasiswa Kita” seakan-akan penulis sedang menyindir para beasiswa hunter (dan beasiswa taker) yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan beasiswa tanpa melihat kondisi dirinya yang bisa dikatakan sangat jauh dari kata miskin (alias kaya raya). Padahal orang yang jauh lebih membutuhkan masih ada di sekitarnya.

“Aku sudah berusaha keras, Ret… mencari surat keterangan tak mampu itu, aku sampai direndahkan petugas. Kulengkapi semua persyaratan. Masya Allah, aku tak mendapatkan beasiswa itu, Ret… padahal aku butuh sekali untuk kuliah lapangan,” isaknya pilu. (hal. 44)

Yang tak kalah menarik adalah kisah berjudul “Mbah Dukun? Nyai Peramal?” yang mencoba mengangkat fenomena ramalan yang melanda anak kos. Namanya anak muda, masih suka yang seru-seruan sekaligus bermanfaat (ada gak ya?). Ramalan terasa sebagai salah satu keisengan yang bisa dijadikan jalan keluar. Kalau ramalannya baik, hati senang. Tapi kalau ramalannya buruk, jadi was-was juga.

Hmm… kenapa ya pada berbondong-bondong ke peramal, apakah dengan datang pada mereka menimbulkan rasa aman? Memuaskan keingintahuan kita? Padahal Tuhan adalah sang pemiliki kebenaran dan semua bermuara pada kehendak Dia. (hal. 90)

33 cerita yang dimuat dalam 191 halaman ini terasa cukup banyak (ralat, banyak banget) menurut saya. Tidak adanya keterkaitan satu cerita dengan cerita lain membuat buku ini asik dibaca mau dari cerita manapun. Sesuai blurb diatas, buku ini cukup cocok sebagai media nostalgia, media cerminan diri, ataupun gambaran ngekos seperti apa.

Kekurangannya? Sorry to say, but I’ve found a lot of weaknesses (from my point of view, of course). Mulai dari gaya bercerita. Baiklah saya tau setiap penulis memiliki ciri khas masing-masing. Tapi cara penulisan Mbak Dewi Rieka ini menurut saya: sangat lebay banget. Mulai dari “ciee”, “bo!”, “apaseeeeh?”, “maksud loe?” dan sebagainya yang disisipkan ke berbagai kalimat di buku ini. Menurut saya kata-kata seperti itu tidak penting dan mengganggu kenyamanan saya saat membaca. Alih-alih membuat terpingkal, saya justru jengkel sendiri saat membacanya.

Pada beberapa cerita, terdapat ending atau akhir yang jelas. Yah meskipun tidak semuanya mengandung pesan moral, tapi setidaknya ada akhirnya lah. Tapi beberapa cerita malah ada yang ngegantung. Aduh niat nulis cerita nggak, sih? Saya tipikal orang yang menyukai akhir yang jelas (terserah mau hepi atau tidak).

Dari segi humor, saya tidak merasa lucu tuh. Paling mentok nyengir, itupun bisa dihitung jari. Karena sependapat saya, kalau perempuan menulis genre humor, jatohnya jadi garing. Kedodolan para penghuni yang diceritakan disini malah tidak membuat saya tertawa, tapi mengernyitkan dahi gara-gara enggak tahu kocaknya dimana.

Di halaman terakhir, sempat disinggung sebenarnya tulisan di buku ini adalah postingan di blog pribadi penulis *cmiiw. Tapi apakah memang tidak ada proses editing? Saya tahu mungkin jika diedit akan mempengaruhi orisinalitas tulisan, tapi mosok ya penulisan huruf yang benar bisa mempengaruhi? Karena saya banyak sekali menemukan typo dimana-mana. Saya tidak mencatat semuanya sih.

By the way, penulisan “Djokdja” terasa agak aneh buat saya. Saya agak heran kenapa buku ini bisa sampai tiga seri (kalau tidak salah) bahkan muncul komiknya juga. Apakah mungkin karena buku ini bukan my cup of tea, saya cowok yang tak bisa mengerti dunia kosan cewek, atau entahlah. Euphoria yang terasa bombastis (pada jaman dahulu) itu menurut saya kok terlalu dibesar-besarkan. But anyway, kalau mau baca tulisan cukup menghibur dunia kos-kosan cewek, boleh lah melirik buku ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus