Demam Kabin

covertengil6

Judul: Demam Kabin

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Cabin Fever

Seri: Diary Si Bocah Tengil #6

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Maria Lubis

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218 halaman

Terbit Perdana: November 2013

Kepemilikan: Cetakan Ketiga, November 2013

ISBN: 9786021440209

cooltext1660180343

Greg Heffley terlibat masalah besar. Properti sekolah dirusak, dan Greg adalah tersangka utama. Tapi, yang gila adalah, dia tidak bersalah. Atau, setidaknya bisa dikatakan begitu.

Pihak berwenang mulai memburunya, tapi saat badai salju tiba-tiba menyerang, keluarga Heffley terperangkap di dalam rumah. Greg tahu, saat salju sudah mencair, dia harus menghadapi masalah ini. Namun, mungkinkah hukuman apa pun bisa lebih buruk daripada terjebak di dalam rumah bersama keluagamu selama liburan?

PARA PEMBACA MENGGEMARI SERIAL DIARY SI BOCAH TENGIL – USA Today, Publishers Weekly, Wall Street Journal, dan Bestseller No. 1 New York Times

“Diary si Bocah Tengil karya Jeff Kinney adalah keajaiban baru dalam bisnis buku.” – Parade

“Serial Diary si Bocah Tengil adalah suatu pencapaian besar dalam dunia penerbitan masa kini.” – The Hollywood Reporter

“Diary si Bocah Tengil akan mendominasi dunia.” – Time

“Salah satu serial anak-anak paling sukses yang pernah diterbitkan.” – The Washington Post

cooltext1660176395

Lika-liku perjalanan kehidupan Greg masih berlanjut pada buku keenam (yang diterjemahkan). Pada buku bersampul warna biru cerah ini, Greg kembali bercerita mengenai kehidupan remajanya yang sepertinya makin hari makin memuakkan. Salah satu masalah yang ia hadapi adalah menghilangnya peralatan bermain di sekolah. Ia merasa tersiksa ketika jam istirahat tiba.

Aku mendengar sekolah mengalami masalah pembayaran asuransi taman bermain, jadi setiap kali ada suatu kecelakaan atau luka akibat peralatan itu, hal paling mudah untuk dilakukan adalah menyingkirkannya. (hal. 23)

Hal yang selalu ada di buku Diary si Bocah Tengil adalah mengenai Greg yang ingin meminta hadiah untuk Natal ataupun ulang tahun. Tak terkecuali di buku ini. Namun bedanya, di buku ini Greg mendapat kesulitan karena banyak sekali hal yang ngin ia minta.

Yang kusadari adalah, jika setiap kali kita mendapatkan sesuatu yang keren sebagai hadiah ulang tahun atau Natal, seminggu kemudian, benda itu akan digunakan sebagai senjata pemeras bagi kita. (hal. 47)

Ada lagi masalah di sekolah ketika ada Tes Kebugaran Nasional untuk semua sekolah. Dan mau tidak mau, sekolah memberlakukan sebuah latihan olahraga intensif untuk semua siswa agar bisa meningkatkan posisi peringkat sekolah.

Orang-orang dewasa berkata bahwa masalah terbesar anak-anak zaman sekarang adalah kebugaran tubuh, karena kami tidak cukup banyak berolahraga. (hal. 99)

Di hari yang lain, Greg ingin menjual buku komik miliknya yang ditandatangai oleh penulis. Namun Mom malah melarangnya karena beranggapan ketika Greg memiliki anak nanti di masa depan, mereka akan murka mengetahui ayah mereka menjual komik yang sangat berharga. Namun bisa kamu tebak apa yang dipikirkan Greg?

Aku ingin menjadi bujangan seperti Paman Charlie-ku, yang menghabiskan seluruh uangnya untuk liburan, dudukan toilet yang bisa dihangatkan, dan hal-hal semacam itu, bukannya membiayai sekawanan anak tak tahu terima kasih. (hal. 110)

Di sisi lain, kasus mengenai kerusakan fasilitas sekolah yang menggegerkan itu ternyata berujung maut pada Greg. Alih-alih ia selamat dari tuduhan dan hidup damai, justru dengan mudah ia dipanggil oleh Wakil Kepala Sekolah untuk mempertanggungjwabkan perbuatannya. Dan tahukah siapa yang melaporkan Greg?

Aku tak tahu apakah Rowley melakukannya secara sengaja atau apakah dia benar-benar tolol, tapi kukira yang benar adalah kemungkinan kedua. (hal. 149)

Sepertinya keluarga Heffley benar-benar menghadapi masa sulit ketika hujan badai salju berlangsung sehingga mereka terjebak di dalam rumah karena salju menghalangi pintu keluar. Keadaan bertambah parah saat Manny melakukan sabotase pada salran listrik di rumah.

Mom bertanya pada Manny mengapa dia memadamkan listrik bagian rumah yang lain, dan Manny mulai mengoceh. Katanya, itu karena tidak ada yang mau mengajarinya menalikan sepatu. (hal. 204)

Saat membaca buku ini, apa ya, terasa ada sesuatu yang beda. Apakah dikarenakan penerjemahnya ganti setelah lima buku pendahulunya sehingga taste of words-nya berbeda? Entahlah. Tapi kalau dari segi tema, memang berbeda sih. Disini Greg terkesan menjadi seorng berandalan cilik meskipun dengan alasan yang menurutnya baik.

Di buku ini, saya sukses membenci tokoh Manny dan Rowley. Sang penulis berhasil menggambarkan Manny sebagai adik yang menyebalkan buianget. Jika saya menjadi Greg, saya rasa tidak akan berpikir dua kali untuk menendang Manny (aduh kok saya jahat). Tapi ya gimana, Manny benar-benar licik dan sangat egois terhadap diri sendiri.

Bagaimana dengan Rowley? Aduh saya tidak bisa memahami ada seorang siswa SMP yang sangat tolol dan kekanakan sekali seperti anak SD. Tidak hanya dalam akademis, tapi juga sikap dan perilaku. Saya bahkan tak bisa mengerti mengapa Greg betah bersahabat dengan Rowley.

Dibalik kelebihannya yang bisa menggambarkan sosok Rowley dan Manny untuk saya benci, ternyata ada beberapa kekurangan sih. Salah satunya adalah humor. Ya benar, ketika membaca buku ini, saya sama sekali tidak tertawa seperti ketika membaca lima buku sebelumnya. Paling banter hanya nyengir, itupun bisa dihitung gak sampe lima kali kayaknya. Apakah karena perbedaan terjemahan? Atau memang aslinya begitu? Enggak tau ya. Tapi saya benar-benar kecewa karena lucunya (yang seharusnya ditonjolkan novel ini) malah tidak sampai ke saya.

Sebagai sekuel Diary si Bocah Tengil, buku ini cukap baik lah mengobati kerinduan terhadap hari-hari Greg. Tapi kalo dlihat segi kelucuan, bagi saya sih amat sangat kurang. Saya berharap buku selanjutnya (apabila memang diterjemahkan) bisa menghadirkan kelucuan yang sempat hilang di buku ini hehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus