Q.E.D (Jilid 1)

coverqed1

Judul: Q.E.D (Jilid 1)

Tagline: Quod Erat Demonstrandum

Komikus: Motohiro Katou

Penerjemah: Faira Ammadea

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 198 halaman

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2003

ISBN: 9789792041927

cooltext1660180343

Kana, putri seorang polisi yang tomboi, bersama Toma yang jenius, berusaha menyelesaikan kasus-kasus yang ada di sekitar mereka. Kasus pertama yang mereka hadapi adalah kematian ayah teman Kana, seorang presdir suatu perusahaan game. Dia meninggal dengan menggenggam kartu King Diamond…

cooltext1660176395

Kisah detektif sepertinya tidak ada habisnya untuk diangkat menjadi sebuah komik. Salah satu komik tersebut adalah Q.E.D hasil karya Motohiro Katou. Tokoh utama dalam komik ini adalah Toma dan Kana. Awalnya mereka berdua tidak saling kenal. Hanya kebetulan di sebuah game centre, Toma berhasil mengalahkan 100 pemain pada sebuah permainan. Ujung-ujungnya malah memicu perkelahian. Beruntung ia berhasil keluar disusul oleh Kana dan Noriko, teman Kana.

Selama ini dia tinggal di Amerika, lho. Karena nilainya bagus, dia bisa meloncat ke jenjang yang lebih tinggi. Saking pintarnya, sebenarnya dia sudah kuliah. (hal. 15)

Kasus pertama berjudul “Burung Hantu Minerva” ternyata melibatkan ayah Noriko, Arita, seorang presiden direktur perusahaan game bernama A-KS Entertainment. Beliau tewas karena sebuah pisau menembus jantungnya. Ada enam orang yang dicurigai sebagai pelakunya yaitu Ryuuzo Kishikawa, Juuzo Shikijima, Tokuji Namiki, Tsunehiro Asanuma, Tadashi Furuike, dan Tohko Minamida.

Suatu kasus bisa diibaratkan seperti puzzle kejadian yang terjadi di masa lalu. Dan secara teori, fakta adalah potongan-potongan yang akan membentuk keseluruhan puzzle itu. (hal 50)

Kasus semakin rumit ketika Ryuuzo Kishikawa meninggal karena jatuh dari atap gedung dengan meninggalkan sebuah pesan kematian. Benarkah demikian? Lantas siapakah sesungguhnya  yang tega membunuh ayah Noriko? By the way, cara Kana untuk mencari bukti dari kesaksian tiap tersangka cukup menarik untuk diikuti.

Kasus kedua dengan judul “Si Mata Perak” mengambil tokoh tetangga Kana bernama Suzuko Nanasawa. Ibu Suzuko, Katsumi Nanasawa merupakan pembuat boneka terkenal. Bahkan boneka yang dibuat beliau bisa laku seharga dua hingga tiga juta yen. Sedikit masalah ketika di pameran boneka, Noriko dituduh oleh pria bernama Akutsu karena merusakkan sebuah boneka mahal tersebut. Beruntung dengan ketelitian Toma, justru Akutsu yang kena batunya.

Korban menderita penyakit kelainan ritme jantung… untuk mengatasinya, korban memakai alat pacu jantung istrik supaya kembali normal. Mungkin saja alat itu tiba-tiba rusak… tapi kita baru akan mengetahuinya setelah dilakukan autopsi. (hal. 131)

Ya benar, Atsuku meninggal dunia pada museum boneka Nanasawa yang hendak dibuka sebulan lagi. Yang menemukan mayat beliau adalah Suzuko Nanasawa, Yasumichi Yosino (tunangan Suzuko), dan Akira Yasuoka (pengawas museum sekaligus pelayan Katsumi). Yang janggal adalah, ketika dimintai keterangan, mereka bertiga memberikan kesaksian yang saling bertentangan. Lantas, siapakah pelaku sesungguhnya?

Ciri khas kisah-kisah pada komik detektif adalah banyaknya tokoh baru di setiap kasus namun akan menghilang ketika kasus tersebut telah diselesaikan. Begitu pula dengan Q.E.D ini. Dan saya sama sekali tidak berminat menghapalkan nama tokoh (selain tokoh utama) agar bisa lebih menikmati cerita huahahaha

Sebagai edisi pembuka serial Q.E.D, saya rasa sudah cukup bagus dalam membangun rasa penasaran. Misalnya mengapa Toma bisa begitu pintar namun malah masuk SMA biasa, siapakah nama lengkap Kana dan Toma (serius, saya tidak bisa menemukan nama keluarga mereka berdua meskipun ayah Kana adalah polisi yang juga muncul di cerita), serta apa arti Q.E.D alias Quod Erat Demonstrandum. Karena Toma selalu menuliskan Q.E.D ketika telah menemukan jawaban kasus yang terjadi. Oh iya, gambar di komik ini tidak terlalu berdarah-darah sehingga masih aman dibaca saat sedang makan *eh

Kekurangannya mungkin latar belakang tokoh utama masih belum terjelaskan (mungkin nanti di jilid berikutnya kali ye). Selain itu, agak aneh aja Kana yang belum kenal Toma tiba-tiba langsung menyeret-nyeret Toma dan memarahinya, bahkan langsung mengajaknya ke tempat kasus ayah Noriko. Terlalu SKSD aja sih menurut saya dan cenderung dipaksakan banget.

Kalau dari segi penyelesaian kasus, sebenarnya bagus dan membuat saya kagum. Cuman, banyak sekali hal-hal yang tidak digambarkan pada saat penyelidikan. Tiba-tiba Toma bisa tahu dan menjelaskan dengan lancar. Seolah pembaca tidak diberi kesempatan untuk menebak dengan pemikirannya sendiri. Padahal sensasi seperti itulah yang saya nikmati saat membaca komik detektif.

Saya rekomendasikan kepada remaja hingga dewasa yang ingin menikmati komik detektif cukup ringan, bisa membaca Q.E.D sebagai alternatif. Karena penyelesaiannya masuk akal dan cenderung mudah diikuti. Berbeda dengan komik sebelah yang memiliki tokoh anak kecil berkacamata, saya malah pusing membacanya karena bahasa yang ketinggian (tapi saya suka!).

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus