Rss

Simple Thinking About Blood Type Animation Book

coverbloodani

Judul: Simple Thinking About Blood Type Animation Book

Komikus: Park Dong Sun & Leeonsmart

Penerjemah: Silvanissa

Penerbit: Haru

Jumlah Halaman: 194

Terbit Perdana: Desember 2015

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Desember 2015

ISBN: 9786027742673

cooltext-blurb

Komik animasi dari webtoon paling terkenal di Korea.

O: Beli, harus kupamerin ke temen-temen, ah!

A: Beli nggak ya? Gimana, ya? Galau banget!

B: Pokoknya kalian harus beli dan baca buku ini.

AB: Beli kalau ada uang. Kalau nggak ada, jangan!

Ada yang tidak peduli, ada yang berbicara seenaknya, juga ada yang penakut…

Ini adalah cerita tentang kehidupan sehari-hari para karakter yang berbeda golongan darah.

cooltext-review

Seri Simple Thinking About Blood Type yang telah saya baca ada tiga buku. Kali ini saya masih membaca seri yang sama namun bukan kelanjutan buku ketiga, melainkan edisi khusus Simple Thinking About Blood Type Anomation Book. Apa bedanya dengan ketiga buku sebelumnya? Buku kali ini berisikan versi komik yang ceritanya lebih panjang dibandingkan pendahulunya.

Meskipun isi cerita dari animation book ini tidak ada yang orisinal alias sudah pernah muncul di ketiga buku sebelumnya, kemasan yang disuguhkan setiap cerita dibuat lebih kompleks dan lebih jelas awal mula, pertengahan, dan akhir ceritanya. Hal ini bisa membuat pembaca menjadi lebih memahami konteks cerita secara utuh alias tidak hanya sepotong-sepotong saja.

Seperti biasa, awal buku ini dibuka dengan perkenalan karakter setiap golongan darah. Yang menarik, halaman perkenalan ini dibuat full color yang sangat memanjakan mata meskipun isi deskripsinya hampir sama dengan deskripsi di buku-buku sebelumnya. Animation book ini memuat dua belas chapter yang diambil secara acak dari tiga buku yang telah terbit lebih dulu.

Sebelum memasuki setiap cerita, pada awal chapter ada kuis tentang golongan darah yang nantinya akan dijadikan peringkat di akhir cerita. Misalnya pada chapter pertama berjudul Aku Jatuh Cinta! ini ditanyakan golongan darah mana yang paling berani menyatakan cinta pada orang yang disukainya. Masing-masing golongan darah mengaku dirinya yang paling berani.

Setelah menjawab, pembaca dibawa pada situasi bagaimana setiap golongan darah berusaha menyatakan cinta. Ada golongan darah A yang sangat berhati-hati, ada golongan darah B yang langsung pergi begitu saja, ada golongan darah O yang bersikap protektif pada pasangannya. Pada akhirnya, keempat golongan darah tersebut akan mendapat peringkat sesuai tema cerita.

Setelah melihat peringkat ini, bagaimana kalau kita lebih berhati-hati dalam menghakimi sifat seseorang berdasarkan golongan darah, baik di lingkungan sekolah ataupun tempat kerja? (Halaman 20)

Selalu Tepati Janjimu Sampai Ajal Menjemput adalah chapter lain yang menarik. Jadi keempat golongan darah yang duduk di kelas yang sama mendapatkan perintah dari guru untuk mengumpulkan iuran dua puluh ribu won yang akan digunakan dalam elajaran keterampilan. Golongan darah O dan B merasa keberatan dan mengajak yang lain tidak ikut membayar.

Meskipun awalnya golongan darah A dan AB setuju, keesokan harinya justru golongan darah A berniat membayar karena tidak ingin melanggar aturan. Golongan darah O meskipun ingin tidak membayar sesungguhnya telah membawa uang. Golongan darah AB bahkan kemarin telah membayar terlebih dahulu. Siapa yang akhirnya tidak membayar? Semua pasti tahu.

Kalau ada yang berkhianat, kita nggak akan main dengannya lagi. nggak diajak main game, nggak dipinjami buku komik, nggak ditemani ke toilet. Gimana? Jelas? Mengerti, kan? (Halaman 113)

Di buku ini, pembaca akan dikenalkan dengan sebuah acara bernama meeting. Istilah ini pada umumnya digunakan dalam dunia kerja ketika akan berjumpa dengan klen ataupun rapat antar pegawai. Namun, di Korea, acara meeting ini merupakan sebuah acara kencan yang dilakukan secara berkelompok dan antar pasangan yang belum pernah bertemu sebelumnya.

Siapa yang Paling Mahir dalam Meeting? adalah chapter yang meyuguhkan keempat lelaki golongan darah sedang meeting dengan empat perempuan. Mereka meeting di sebuah rumah makan yang cukup mahal. Si golongan darah A yang baru pertama kali mengikuti acara tersebut berniat membagi rata bon pembelian dengan mereka semua. Apakah tidak apa-apa?

Bodoh banget! Dia mau membagi urunan pembayarannya sekarang? Kan nggak enak kalau dilihat para cewek! Makanya si A nggak pernah dapat pacar… (Halaman 142)

Chapter terakhir berjudul Siapa Rajanya Donor Darah? turut membuka wawasan saya. Jadi di sini dikisahkan golongan darah B dan O membaca surat kabar. Di koran tersebut memuat artikel tentang golongan darah yang paling banyak mendonorkan darahnya. Lokasi yang dimaksud adalah di negara Korea (entah bagian selatan ataukah utara). Hasil ini cukup mengejutkan.

Golongan darah A yang sedang bersih-bersih akhirnya tersipu malu kala mengetahui bahwa golongan darahnya lah yang menduduki peringkat pertama. Sedangkan golongan darah AB dibully habis-habisan oleh golongan darah B dan O karena memiliki jumlah paling sedikit. Namun demikian, golongan darah AB justru memberikan “pencerahan” kepada mereka semua.

Menurut penelitian, golongan darah yang paling banyaj mendonorkan darahnya adalah golongan darah A. (Halaman 172)

Secara umum, hal positif yang bisa saya nikmati dari buku ini selain semua halamannya full color adalah ceritanya yang jauh lebih runtut daripada versi Simple Thinking About Blood Type sebelumnya. Jika ada buku terdahulu langsung dimunculkan inti ceritanya dengan sedikit penjelasan, kali ini cerita tersebut dikemas dengan cukup lengkap selayaknya cerita di komik.

Kutipan pada chapter pertama yang sempat saya tuliskan di atas terasa sangat kontradiktif dengan isi buku ini yang notabene menyematkan stereotype pada setiap golongan darah namun menganjurkan tidak boleh menghakimi seseorang melalui golongan darahnya. Hal ini cukup menunjukkan bahwa buku ini terlihat mengalami krisis identitas berdasarkan judul dan isinya.

Memang benar bahwa sifat dan kepribadian bukan hanya ditentukan oleh golongan darah semata, melainkan bisa dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, kebiasaan, pengetahuan, dan lain sebagainya. Namun, sejak awal seri ini ingin memberikan gambaran bahwa sifat golongan darah itu berbeda-beda. Faktanya isi buku ini justru sifat antar golongan sering tumpang tindih.

Selain itu, pada akhir setiap chapter selalu ada kalimat “Tujuan dari peringkat ini bukan untuk mendiskriminasi sifat seseorang berdasarkan golongan darah.” Hal ini sebenarnya juga cukup bertentangan dengan pertanyaan di bagian pembukayaitu golongan darah manakah yang memiliki sifat paling dominan sesai chapter yang tersebut dengan menggunakan peringkat.

Namun demikian, buku ini memiliki keunggulan dari segi penyampaian cerita. Meskipun gaya gambarnya memang sangat berbeda dibandingkan sang komikus asli Park Dong Sun, ceritanya masih berkaitan erat kok. Tidak diketahui mengapa artwork yang digunakan bukan goresan asli sang komikus. Bahkan pada identitas buku ini pun tidak disebutkan nama Park Dong Sun.

Akhir kata, buku ini cukup menarik dibaca jika ingin mengetahui kondisi lebih jelas tentang cerita-cerita di buku Simple Thinking About Blood Type sebelumnya. Penyajian ala komik dengan dialog yang mendominasi turut membuat setiap karakter golongan darah benar-benar berpikir dan bersikap sendiri, bukan hanya dari deksripsi yang dituliskan komikus saja.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Simple Thinking About Blood Type 3

coverblood3

Judul: Simple Thinking About Blood Type 3

Komikus: Park Dong Sun

Penerjemah: Achie Linda

Penerbit: Haru

Jumlah Halaman: 304

Terbit Perdana: Mei 2015

Kepemilikan: Cetakan Ketiga, Juli 2015

ISBN: 9786027742512

cooltext-blurb

Pernah mengalami kesulitan memesan makanan ketika golongan darah A, golongan darah B, golongan darah O, dan golongan darah AB berada dalam satu tempat?

Bingung karena teman sekamar nggak pernah bersih-bersih?

Ingin terlihat baik di depan bos killer?

Penasaran mengapa terjadi konflik gara-gara si cewek tidak bias memilih antara ayam atau piza?

Jika tidak saling mengenal, memesan ayam sepotong pun bisa menimbulkan pertengkaran. Cari tahu dulu sifat lawan bicara agar tidak timbul salah paham; entah itu kewarganegaraan, etnik, ataupun hal yang sudah diakui oleh seluruh dunia, yaitu golongan darahnya.

Pembahasan tentang dunia golongan darah akan selalu memancing senyum. Bersiaplah untuk tersenyum juga.

cooltext-review

Fyuh. Akhirnya saya sukses menyelesaikan buku ketiga dari seri Simple Thinking About Blood Type. Berbeda dari dua jilid sebelumnya, saya puas ketika menutup halaman terakhir buku ini. ada sensasi bahagia yang saya rasakan ketika melahap habis empat bagian yang disuguhkan di buku ini. Buku ketiga ini sangat lebih baik dibandingkan sebelumnya. Langsung saja ya~

Saya lupa mencantumkan bahwa pada buku ketiga dan kedua yang lalu, sebelum memasuki bagian pertama, ada pengenalan dulu mengenai sifat dasar masing-masing golongan darah yang diambil sesuai rangkuman dua buku sebelumnya. Kemungkinan hal ini dilakukan agar pembaca yang tidak mengikuti buku sebelumnya tetap bisa terhubung dengan isi ceritanya.

Bagian pertama dibuka dengan judul Cerita Sederhana Tentang Kehidupan Sehari-Hari yang berisikan delapan belas cerita lepas. Salah satu yang saya sukai adalah Sifat Antargolongan Darah yang Sesunggsuhnya. Jadi ceritanya, keempat golongan darah ini memiliki junior atau kenalan yang lebih muda bernama si K. dia memiliki pacar perempuan bergolongan darah A.

Yang lucu adalah, selama ini K kerap menyanjung kekasihnya yang dianggap memiliki sifat baik sesuai golongan darah A. Hingga suatu hari, sang kekasih dan si K terkejut mengetahui bahwa sang pacar ternyata golongan darah B. Akibatnya, sejak saat itu pacar K menjadi pribadi yang bertolak belakang dibanding sebelumnya. Berikut analisis dari si golongan darah AB:

Dia sepertinya terkena Pygmalion Effect atau Labelling Effect. Dia bertingkah sesuai harapan lawan bicaranya, bukan menjadi dirinya sendiri. (Halaman 14)

Cerita Sederhana Tentang Kehidupan di Sekolah yang memiliki empat belas cerita juga cukup menarik. Meskipun tema sekolah telah dibahas di buku kedua, sang komikus masih belum kehabisan ide menuangkan berbagai kejadian yang dialami para golongan darah saat duduk di bangku sekolah. Hal ini tentu saja sangat berbeda dibandingkan cerita sekolah di buku kedua.

Cerita berjudul Perpustakaan cukup menggelikan. Alkisah masing-masing golongan darah mencari buku yang akan dipinjam dari perpustakaan. Golongan darah O yang impulsif mencomot banyak buku yang akan dipinjam. Melihat hal ini, tiba-tiba golongan darah B mencomot satu buku dan ingin meminjamnya. Kontan saja golongan darah O marah-marah.

Kau setiap hari pinjam buku dan mengembalikannya tanpa sempat membaca semuanya, kan? (Halaman 146)

Bagian ketiga adalah Cerita Sederhana Tentang Kehidupan di Kantor yang memiliki delapan belas buah cerita. Lagi-lagi dunia kantor pernah muncul juga di buku kedua. Namn kali ini, ada sedikit perbedaan. Sang komikus membawa pembaca menyelami beberapa tingkat jabatan jika dipegang oleh golongan darah yang berbeda-beda. Misalnya bos, asisten, dan karyawan.

Cara Menghadapi Karyawan Golongan Darah B adalah hal yang menarik. Pada cerita ini sang komikus tepat menggambarkan bagaimana seorang karyawan bergolongan darah B ketika mengerjakan tugas. Dengan gambaran ini setidaknya orang-orang yang memiliki bawahan bergolongan darah B bisa sedikit menyesuaikan. Memang bagaimana perilakunya?

Bila diberi perintah terlalu teliti, dia tidak bisa melakukannya dengan baik. Karena dia bisa kehilangan kemampuannya apabila dimarahi atau disuruh menuruti perintah, maka harus berhati-hati. (Halaman 209)

Bagian terakhir yang cukup sentimental adalah Cerita Sederhana Tentang Keluarga dan Percintaan yang terbagi atas tiga belas cerita dan ditutup oleh epilog. Sesungguhnya keluarga dan percintaan ini masuk ke ranah kehidupan pribadi yang lagi-lagi telah diungkapkan di buku kedua. Namun demikian, sang komikus mengemas bagian keempat ini dengan baik dan lucu.

Acara Spesial Peringatan Jadian adalah cerita yang menarik. Masing-masing golongan darah yang memiki pacar dituntut oleh kekasihnya sendiri untuk merayakan seratus hari jadian. Kurang jelas kenapa harus seratus hari, bukannya satu tahun. Yang jelas, tanggapan tiap golongan darah sangat unik dan berbeda. Paling greget tanggapan golongan darah AB berikut.

Kemarin kita ketemu, besok juga akan ketemu, hari ini juga sama seperti hari-hari yang kita lalui bersama biasanya, kan? Dibandingkan besok, apa alasannya hari ini lebih istimewa? (Halaman 283)

Secara umum, saya merasa buku ketiga ini jauh lebih bisa diterima daripada dua buku sebelumnya. Rasa bosan, jenuh, dan muak yang sempat saya idap ketika membaca Simple Thinking About Blood pertama dan kedua tidak saya rasakan lagi di buku ketiga ini. bahkan saya sampai rela membaca hingga tuntas buku ini sampai dini hari hehehe.

Oh iya, sejak buku pertama, sang komikus ternyata tidak mengkhususkan bahwa setiap golongan darah diwakili oleh pria. Di buku Smple Thinking About Blood Type ada cewek dan cowok golongan darah yang masing-masing membawakan cerita sesuai kondisi mereka masing-masing. Terkadang si cewek menjadi pasangan si cowok, terkadang membawakan cerita sendiri.

Oh iya, sepertinya sang komikus telah membuat sense of humor yang disajikan di buku ini menjadi lebih global dan diterima masyarakat luas, tidak seperti buku sebelumnya. Sampai-sampai, ada lagu Kemesraan yang didendangkan golongan darah O sambil bermain gitar dan permainan domikado yang dimainkan para golongan darah yang Indonesia banget.

Pada buku ketiga ini, setiap cerita dikemas lebih kompleks dan teratur. Tidak seperti buku pertama dan kedua yang hanya sekilas dan terkadang kurang bisa dipahami oleh orang non-Korea. Oh iya, cuup banyak istilah bahsa Korea yang disuguhkan di buku ini. dengan dilengkapi catatan kaki, pembaca bisa lebih mudah memahami konteks kalimat di ceritanya.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Simple Thinking About Blood Type 2

coverblood2

Judul: Simple Thinking About Blood Type 2

Komikus: Park Dong Sun

Penerjemah: Silvanisaa NA

Penerbit: Haru

Jumlah Halaman: 302

Terbit Perdana: Mei 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2014

ISBN: 9786027742321

cooltext-blurb

Pernahkah kamu merasa tidak diperhatikan oleh orang lain? Pernahkah kamu mendapat luka dari perkataan teman baikmu?

Itu semua karena setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Dalam berinteraksi dengan orang lain, tidak ada salahnya kita mencoba mengerti apa yang dirasakan oleh teman dekat ataupun orang lain yang belum kita kenal.

Nah, di komik Simple Thinking about Blood Type 2 ini, kamu akan menemukan bermacam-macam cerita terbaru dan sifat-sifat unik berdasarkan golongan darah.

Semoga komik ini bisa membantumu mencari jawaban yang selama ini dicari, ya. Semoga kamu juga dapat tersenyum saat membacanya.

cooltext-review

Hai hai. Ketemu lagi dengan review saya (yaiyalah). Saya lagi malas intermezo terlalu panjang, jadi langsung saja. Ini adalah buku sekuel dari Simple Thinking About Blood Type yang sebelumnya sudah saya ulas dan tayangkan beberapa hari yang lalu. Meskipun saya kurang menikmati buku pertama, semoga sekuel ini bisa memperbaiki kesan saya terhadapnya *tsah.

Empat bagian utama plus epilog yang disuguhkan di buku ini terasa sangat banyaaaaak. Tentu saja, jumlah halamannya bertambah sekitar 50 halaman dibandingkan buku pertamanya. Yang saya suka dari buku kedua ini adalah sudah ada kelompok tema yang sangat jelas dibandingkan buku pertama yang terasa sangat campur aduk.

Taman Kanak-Kanak yang memiliki sembilan belas cerita adalah judul bagian pertama. Kali ini para golongan darah masih berwujud anak-anak karena masih bersekolah di TK. Layaknya anak-anak pada umumnya, terlihat jelas bahwa setiap golongan darah telah memiliki sikap dan perilaku dasar yang mencerminkan golongan darah mereka yang unik.

Contohnya pada cerita Pertengkaran. Saya suka bagaimana setiap golongan darah bersikap ketika menghadapi konflik dengan teman lainnya. Seperti biasa, sikap golongan darah B yang cuek benar-benar mirip dengan saya hahaha. Kalau diingat-ingat, saya memang enggan bertengkar karena menurut saya hal itu hanya buang-buang waktu saja.

Anehnya, golongan darah B tidak suka bertengkar. Menurutnya itu melelahkan. (Halaman 56)

Bagian kedua adalah Sekolah yang menyuguhkan delapan belas cerita. Setelah tahap anak-anak yang masih TK, kali ini setiap golongan darah telah memasuki usia yang lebih tinggi sehingga mulai sekolah dan bergelut dengan permasalahan-permasalahan khas anak sekolah. Salah satu yang saya sukai adalah cerita Ambisi Untuk Menang. Lagi-lagi saya ambil golongan darah B.

Tidak dapat dipungkiri, masa sekolah juga turut membentuk kepribadian orang menjadi ambisius. Mulai dari berambisi mendapat nilai bagus, populer di sekolah, ataupun target yang lain. Saya mengingat sepertinya saya memang tidak berambisi apa pun ketika sekolah. Tetapi ada beberapa hal yang saya ingin capai juga saat itu. Deskripsi golongan darah B memang tepat.

Golongan darah B peringkat kedua. Ambisi golongan darah B bergantung pada ketertarikannya pada satu barang. Jika sudah terpacu memainkan game maka ambisi akan cepat meningkat drastis. (Halaman 93)

TK sudah, sekolah sudah, kali ini memasuki tahap kehidupan baru yaitu Kantor yang memuat tiga belas cerita. Dunia karir memang lumrah dihadapi manusia setelah selesai berekolah di lembaga pendidikan. Meskipun demikian, proses pembelajaran tidak selesai sampai di situ saja. Saat bekerja, tiap golongan darah juga harus “belajar” menghadapi dunia profesinya itu.

Salah satu kegiatan ketika bekerja di kantor adalah presentasi. Pada cerita Presentasi I ini, digambarkan bagaimana setiap golongan darah mempersiapkan presentasinya. Lagi-lagi saya seperti bercermin dengan apa yang dilaukan golongan darah B saat presentasi. Tipikal golongan darah B yang easy going, bebas, dan tidak suka hal ribet memang sering saya lakukan hahaha.

Dalam presentasi, golongan darah B membenci hal yang rumit. Jadi, ia hanya akan menjelaskan hal-hal yang penting saja. Bahkan presentasinya pun hanya sekitar satu atau dua lembar. (Halaman 131)

Bagian keempat sebagai bagian terakhir yaitu Kehidupan Pribadi memuat jumlah cerita paling banyak yaitu 37 cerita. Namanya saja kehidupan pribadi, jadi di sini dikemukakan bagaimana setiap golongan darah bersikap dan berpikir dalam kehidupan di luar dunia sekolah ataupun pekerjaan. Tak heran 37 cerita bagian ini sangat campur aduk tidak ada pakem yang nyata.

Cerita Marshmallow: Versi Golongan Darah B adalah hal yang patut saya ungkap. Jadi, sang komikus menggambarkan kondisi keluarganya. Sang Ibu bergolongan darah B dan si komikus bergolongan darah O memberikan sikap apa yang dilakukan ketika memiliki empat apel yang berbeda kesegaran dan harus makan satu apel setiap harinya. Sangat logis menurut saya sih.

Seperti cerita mershmallow, golongan darah B patut ditiru karena ia selalu makan apa pun dengan hati yang gembira. (Halaman 250)

Jilid kedua Simple Thinking About Blood Type ini menurut saya lebih bagus dibandingkan jilid pertama. Beberapa hal yang saya sukai adalah tidak ada lagi komik berjudul Diary Bergambar Si Cowok Gila. Bukan saya tak suka, namun lebih kepada out of topic ketika membaca komik dengan berbagai hal golongan darah tiba-tiba ada sejumput hal lain yang nampang di situ.

Baru saya ketahui bahwa Diary Bergambar Si Cowok Gila adalah karya debut komikus sebelum Simple Thinking About Blood Type. Terlihat lebih baik STABT sih daripada DBSCG. Meskipun demikian, komikus masih menyelipkan beberapa hal di luar konteks cowok gundul golongan darah, misalnya keluarga, namun tetap memakai topeng golongan darah jadinya tetap sinkron.

Adanya tiga fase kehidupan yaitu taman kanak-kanak, sekolah, dan kantor menurut saya adalah sebuah hal positif dibandingkan buku terdahulu. Setiap fase seolah memberikan koridor yang jelas pada setiap cerita sehingga pembaca, khususnya saya, bisa lebih menikmati jalinan ceritanya. Sayangnya, bagian keempat membuat saya jenuh karena campur aduk zzzzz.

Kalau bicara tentang kejenuhan seperti yang saya alami pada buku pertama, sepertinya sedikit tidak terlalu jenuh ketika membaca buku kedua ini. tetapi ya muaranya sama aja sih, tetap bosan dan jenuh. Tidak konsistennya sifat dan kepribadian masing-masing golongan darah membuat saya sering malas membacanya. Padahal titik utamanya kan pada perbedaan itu.

Gambar yang menarik dan lucu sepertinya masih belum bisa menyelamatkan saya dari lembah kebosanan. Terlebih jumlah halaman yang semakin banyak justru menjadi bumerang bagi saya untuk menyelesaikannya. Padahal saya termasuk penyuka buku bergambar lho. Tetapi sayangnya buku Simple Thinking About Blood Type ini membuat saya lelah menyelesaikannya.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Simple Thinking About Blood Type

coverblood1

Judul: Simple Thinking About Blood Type

Komikus: Park Dong Sun

Penerjemah: Achie Linda

Penerbit: Haru

Jumlah Halaman: 262

Terbit Perdana: Desember 2013

Kepemilikan: Cetakan Ketiga, Maret 2014

ISBN: 9786027742253

cooltext-blurb

Tahu nggak sih kalau orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas?

Apa jadinya kalau mereka disatukan? Jangan-jangan, bisa terjadi pertengkaran!

Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, agama, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita, lho.

Meski sifat seseorang tidak bisa hanya dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Bloodtype ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu untuk memahami orang lain, ya!

cooltext-review

Setiap manusia di dunia ini pasti memiliki darah. Cairan ini sangat penting untuk kesehatan manusia. Mulai dari menyalurkan nutrisi ke selruh organ tubuh, membentuk antibodi untuk melawan penyakit, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, darah satu manusia dengan manusia lain bisa berbeda sesuai dengan ciri khas masing-masing darah.

Golongan darah adalah sebuah sebutan yang membedakan jens darah manusia. Di dunia ini dikenal empat jenis golongan darah yaitu A, B, AB, dan O. Selain berfungsi sebagai penanda ketika mendonorkan dan menerima transfusi darah, golongan darah ini juga cuup dipercaya memberikan sumbangsih pada sifat dan karakter manusia yang memilikinya. Penasaran?

Buku Simple Thinking About Blood Type ini menyuguhkan empat golongan darah yang “berwujud” manusia dan berperilaku secara berbeda satu sama lain. Memang benar bahwasanya sifat dan karakter orang tidak hanya ditentukan oleh golongan darah saja. Banyak sekali faktor internal dan eksternal yang membentuk karakter tersebut.

Empat bagian yang disuguhkan di buku ini memberikan gambaran bagaimana empat “orang” yang memiliki golongan darah berbeda dapat bertindak dan berpikir sesuai golongan masing-masing. Sebagai catatan, saya memiliki golongan darah B. Jadi jangan heran ketika membaca review kali ini, kebanyakan saya akan membahas dari sisi golongan darah B hehehe.

Bagian pertama adalah Mengetahui Sifat Seseorang Melalui Golongan Darah yang memiliki 23 chapter. Salah satu yang saya suka adalah chapter berjudul Cara Belajar Anak Golongan Darah. Seperti yang kita ketahui, anak-anak memiliki cara dan sikap sendiri-sendiri ketika belajar. Nah, gambaran golongan darah B yang seharusnya belajar ini terasa saya banget! Hahaha.

Golongan darah B tidak menyukai kata ‘belajar’. Karena itu, belajar sambil bermain lebih disarankan untuk anak golongan darah B karena bisa membuatnya tertarik. (Halaman 78)

Bagian kedua berjudul Hubungan Sosial Antargolongan Darah yang memiliki enam chapter memberikan gambaran bagaimana keempat golongan darah saling berinteraksi satu sama lain. Lagi-lagi saya merasa “tertampar” saat membaca chapter Percakapan Golongan Darah B. sifatnya yang terlalu santai kadang membuat lawan bicaranya terasa tidak dihargai. Hiks :(

Dasar anak nakal! Hei- hei- kau dengar ceritaku, kan? Ceritaku masuk ke lubang pantatmu, ya? (Halaman 121)

Nah, ada lagi yang lucu ketika membaca bagian ketiga yaitu Cerita Seru Golongan Darah. Salah satu dari 23 chapter yang saya sukai adalah Menagih Utang. Dikatakan bahwa golongan darah B menagih secara langsung. Ah ini benar sekali. Saya memang tipikal malas membiarkan utang orang lain berlarut-larut. Maklum saja, uang adalah hal yang sangat sensitif dalam hidup ini.

Hei! Kembalikan uangku~ Mulai besok kamu mencicil seribu won per hari. Kalau sudah menjual tanah, pasti punya uang, kan? (Halaman 159)

Etelah tiga bagian dipenuhi tentang karakter golongan darah, bagian terakhir berjudul Diary Bergambar Si Cowok Gila. Bagian ini spesial karena menyuguhkan 37 diary dari sang komikus alias Park Dong Sun. Tema dan gaya gambarnya campur aduk. Namun demikian, saya suka dengan diary nomor 16 yang memiliki kalimat quotable dipadukan gambar yang menyentuh.

Takdir itu… Bukan sesuatu yang diakhiri. Tetapi sesuatu yang harus dibuka. Meski salah satu ikatan takdir yang tersisa memberikan beban berat seperti ini, tetap tidak boleh mengakhirinya dengan bodoh seperti itu. (Halaman 220-222)

Secara umum, buku ini sangat menarik. Bagaimana setiap golongan darah bersikap dan berpikir sesuai karakternya masing-masing kadang membuat beberapa golongan darah yang lain terkena imbasnya. Contohnya ketika janjian jam 3 sore. Golongan darah B masih santai-santai hingga jam 4 sore dan membuat golongan darah A, O, dan AB marah-marah. Hahahaha.

Kalau berbicara golongan darah  yang menyebalkan, saya rasa jawaranya ada di golongan darah  AB. Si golongan darah AB ini sering sekali merendahkan orang di buku ini. mulai dari menyebut manusia rendahan, orang tidak berguna, dan lain sejenisnya. Dipikir-pikir golongan darah AB ini kok berlidah tajam sekali ya. Pukpuk golongan darah yang lain :)

Beberapa bagian menunjukkan overlapping karakter antara satu golongan darah dengan yang lainnya. Golongan darah A bisa mirip O, golongan darah AB bisa seperti B, dan lain sebagainya. Memang pada kenyataannya tidak ada yang 100% berbeda satu sama lain. Namun demikian, saya mengharapkan ada batas yang jelas pada setiap golongan darah agar terlihat keunikannya.

Saya menyarankan jangan membaca buku ini dalam sekali duduk. Saya merasakan ketika mencoba membaca buku ini secara langsung, saya merasa bosan sekali. Memang seharusnya jalinan komik di buku ini bisa dinikmati sepotong-sepotong dan santai. Lebih terasa menarik dan lucu dibandingkan sekali baca tapi malah merasa bosan sekali.

Terjemahan buku ini pada beberapa bagian sangat kaku dan menyebalkan. Apakah karena hal ini saya merasa jenuh dan muak, saya tidak tahu. Mungin iya, mungkin juga tidak. Saya sih inginnya terjemahannya luwes dan kalau bisa disesuaikan dengan Indonesia. Misalnya menggunakan “sih”, “gimana”, atau yang lain. Sehingga bisa terbaca natural.

Yah, demikian sepatah dua patah kesan dari saya tentang buku Simple Thinking About Blood Type yang pertama ini. Pertama? Berarti ada kedua dan selanjutnya? Ya benar sekali. Nantikan jilid kedia dan ketiga dan selanjutnya ya. Sudah siap baca kok. Semoga pendapat saya lebih positif dibandingkan jilid perdana ini. Semoga :)

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Sunset on Third Street (Jilid 5)

coversunset5

Judul: Sunset on Third Street (Jilid 5)

Sub Judul: Kumpulan Cerita Terbaik Chapter 5 “Kakak Laki-Laki, Kakak Perempuan”

Judul Asli: Sanchome no Yuuhi Kessaku Shu

Komikus: Saigan Ryohei

Penerjemah: Frisian Yuniardi

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 264

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792334807

cooltext-blurb

Gimana sih rasanya jadi kakak? Jadi kakak harus sering mengalah dengan adik, kan! Ini suka bikin Mami kesal. Ia selalu merasa ibunya memanjakan kedua adiknya. Ibu selalu menyuruh melakukan pekerjaan rumah tangga. Suatu hari, ibu berpesan untuk Mami menjaga adik-adiknya. Ternyata, tiba-tiba ibu pergi meninggalkan rumah. Mami pun harus menggantikan peran ibunya.

cooltext-review

Setelah dibuat tersentuh dengan jilid keempat komik Sunset on Third Street yang lalu, kali ini saya akan menyuguhkan sejumput kesan-kesan saat membaca jilid kelima. 19 chapter yang disuguhkan di jilid ini sedikit banyak membuat saya baper. Selain cerita sederhna yang mengharukan, tema keluarga khususnya saudara sangat erat kaitannya dengan emosional saya.

Tentu saya tidak akan membahas semua chapter satu persatu. Soalnya saya malas pasti kepanjangan broo. Jadi kali ini saya akan mengungkapkan kesan dan pendapat saya pada lima cerita paling membekas dalam sanubari. Oh sekadar info, cerita yang dimuat di blurb komik ini ternyata tidak termasuk cerita yang menyentuh sisi emosional saya. Yuk langsung mulai saja.

Kakak Laki-Laki & Adik Perempuan adalah cerita pertama yang mengharukan sekaligus menggelikan. Ceritanya ada Kitano, anak laki-laki masih SD yang memiliki adik perempuan bernama Atsuko. Kitano sangat malu memiliki adik seperti Atsuko karena adiknya tidak cantik dan anggun. Sampai-sampai ia tidak mau mengakui Atsuko sebagai adik di depan kawannya.

Waktu pun berlalu. Atsuko bukan lagi seorang bocah cilik yang lusuh dan cuek dengan penampilan. Ia tumbuh menjadi gadis cantik dan mempesona. Kitano sangat terkejut dengan perubahan Atsuko. Ia menjadi overprotektif. Ada cowok bernama Matani dan Taniwari yang ingin mendekati Atsuko saja membuat Kitano senewen. Tapi, apakah semua belum terlambat?

Hoi, Atsuko! Pokoknya mulai sekarang kalau ketemu aku di jalan, kau jangan dekat-dekat! Pokoknya jangan panggil aku Kakak, mengerti?! (Halaman 38)

Bunga Cosmos adalah kisah selanjutnya yang sangat menyentuh. Cerita ini mengisahkan tentang sepasang gadis kembar bernama Haruko dan Akiko. Sejak kecil hingga SMP mereka berdua selalu mengenakan baju dan model rambut yang sama persis. Menginjak dewasa akhirnya mereka sudah meninggalkan kebiasaan itu. Untuk urusan masa depan pun mereka berbeda.

Haruko berambisi menjadi karyawati kantoran yang mandiri. Sedangkan Akiko ingin memperdalam ilmu rumah tangga agar bisa menjadi istri yang baik. Sayangnya, kebiasaan menyukai hal yang sama terulang kembali saat menentukan pendamping hidup. Laki-laki dambaan Haruko justru melamar Akiko. Apakah hal itu akhir kehidupan Haruko?

Jangan-jangan dia salah sangka, dikiranya Akiko itu aku? Benar, pasti dia salah! Yang dia sukai sebenarnya itu aku… (Halaman 110)

Cemburu menurut saya adalah cerita yang sangat lumrah dialami oleh seorang yang baru saja menjadi kakak, khususnya saat usia masih anak-anak. Mika adalah gadis cantik yang selalu dimanja oleh orang tuanya. Bertahun-tahun menjadi anak tunggal membuat Mika tak kekurangan aksih sayang. Hingga suatu ketika Mika memiliki adik baru dari sang ibu.

Kotaro yang masih bayi tentu membutuhkan perhatian ekstra. Hal ini membuat Mika merasa diabaikan. Ibunya terkesan lebih perhatian pada Kotaro. Hingga suatu hari, Mika menginginkan Kotaro mati saja agar Mika bisa mendapatkan perhatian seperti dulu. Untuk mewujudkan keinginannya, Mika turut melibatkan kucing hitam dan mainan Kotaro. Waduh gimana nih!

Mika, kau harus paham, ya. Mama sangat menyayangi Mika. Tapi Kotaro masih kecil dan lemah, makanya kita semua harus sungguh-sungguh merawat dan melindunginya. (Halaman 171)

Kelinci Salju menurut saya adalah cerita yang berakhir sedih. Yumiko adalah adik dari Yukiko. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat Yukiko mengasihi Yumiko seperti adiknya sendiri. Suatu ketika, Yukiko harus dirawat di rumah sakit karena sakit parah. Sejak saat itu pula Yumiko rutin mejenguk kakaknya bersama sang ibu dua minggu sekali.

Yumiko terlihat cukup risih dengan kebiasaan dua minggu sekali itu. Ia ingin bermain bersama teman-temannya daripada harus pergi ke rumah sakit menjenguk kakak yang sakit-sakitan. Awalnya Yumiko merasa malas dan tidak semangat. Namun lambat laun ia menyadari bahwa rutinitasnya ke rumah sakit akan berakhir beberapa saat lagi. Hiks jadi sedih :(

Ingatan disayangi oleh kakaknya waktu kecil semakin menipis… Yang ada di dalam perasaan Yumiko sekarang hanyalah sebagai adik yang sekali-kali harus menjenguk kakaknya saja. (Halaman 194)

Rumput Hijau yang menceritakan Megumi Nakahara dan adiknya, Emi Nakahara terasa sangat realistis. Awal cerita dibuka dengan Megumi yang sangat tidak mendukung Emi bisa lulus ujian masuk di SMA tempat Megumi bersekolah. Hal ini ia sampaikan karena tidak ingin teman-temannya tahu bahwa Emi adalah adiknya. Ia berujar reputasi populernya bisa hancur.

Emi yang pada dasarnya mengagumi sang kakak justru terpacu semangatnya menembus SMA yang sama. Waktu berselang. Kehadirannya di sekolah Megumi membuatnya salah tingkah. Ia dilarang mendekati Megumi padahal cowok pujaannya sekelas dengan Megumi. Sebuah kejadian terjadi yang membuka mata Emi tentang status asli Megumi di sekolah. Apa itu??

Waktu itu, kakak Emi sedang sendirian membaca buku di sudut kelas. Entah kenapa, dia terlihat kecil dan kesepian. (Halaman 250)

Jilid kelima komik ini terasa sangat kental nuansa keluarganya. Saudara yang saling mengasihi ataupun tidak turut memberikan warna tersendiri untuk setiap cerita. Hubungan kakak adik yang disajikan dalam sebuah cerita terkadang bukan ikatan saudara kandung. Ada yang berstatus saudara tiri atau bisa juga bentuk saudara yang “lain” tapi tetap dekat satu sama lain.

Hampir semua cerita memiliki lini masa yang cukup panjang. Rata-rata melewati banyak tahun. Bisa hitungan beberapa tahun tapi ada juga yang hingga belasan tahun kemudian. Jadi berbeda dengan jild keempat kemarin yang hampir semua berlatar tahun 1955. Di jilid ini, beraneka macam. Meskipun demikian, identitas masa lalu masih tetap terasa kok dari berbagai sisi.

Namanya saja rentang waktu yang cukup panjang. Konflik yang disajikan juga beragam. Kebanyakan dipenuhi oleh masalah keluarga. Mulai dari yang sepele berebut boneka antar saudara, kecemburuan pada anggota keluarga lain, hingga yang berat mengenai perceraian dan kematian. Khusus alasan terahir, saya lihat banyak sekali cerita yang tokohnya mati mendadak.

Satu hal yang saya suka dari komik ini adalah latar belakang sangat padat dan penuh. Sang mangaka membuat hampir setiap panel tidak menyisakan ruang kosong yang sia-sia. Ada saja yang digambar. Misalnya dinding, tidak hanya polos. Ada lukisan, foto keluarga, jam dinding, lemari, dan lampu. Tapi hal itu tidak membuat sesak penglihatan. Justru terasa “niat” dan riil.

“Niat” itu juga tersaja pada satu hal unik yaitu perkenalan tokoh utama masing-masing chapter sebelum halaman daftar isi. Sebelum membaca 19 cerita, saya sebagai pembaca sudah tahu siapa tokoh utama yang akan berperan. Namun, seringnya saya malah membaca bagian ini setelah baca semua ceritanya sampai habis hehehe.

Sedikit berbeda dengan jilid keempat yang mengisahkan pertokoan dalam satu blok yang sama sehingga banyak tokoh sebuah cerita yang menjadi figuran di cerita yang lain, di jilid kelima ini hampir masingmasing cerita tidak ada hubungannya dengan kisah yang lain. Kalaupun ada juga sangat sedikit. Seolah mereka semua berasal dari daerah dan waktu yang berbeda.

Imbasnya, saya menemukan cukup banyak tokoh yang fisiknya sangat mirip bahkan sama persis dengan cerita yang lain tetapi memiliki nama yang berbeda. Ya iya sih, 19 cerita dengan kebutuhan rata-rata 3 tokoh tentu memerlukan 57 tokoh yang berbeda. Terlebih tokoh tersebut harus unik sikap ataupun fisiknya. Saya paham hingga akhirnya ada tokoh yang mirip-mirip.

Narator alias yang bukan termasuk dialog atau monolog karakter mengambil sudut pandang serba tahu. Cukup begus keputusan mangaka mengambil sudut pandang ini. hal ini dikarenakan pada umumnya komik hanya akan terpaku pada sudut pandang tokoh yang bersangkutan. Dengan adanya narator serba tahu jalinan cerita lebih mudah diikuti.

Well, komik ini masih sukses membuat saya memberikan penilaian maksimal karena cerita sederhana dan menyentuh. Tema keluarga khususnya hubungan antar saudara juga terasa erat dengan hidup saya yang bukan anak tunggal. Saya rasa memang kekuatan terbesar komik ini adalah kesederhanaannya. Namun demikian, justru bintang lima yang saya berikan. Great!

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Sunset on Third Street (Jilid 4)

coversunset4

Judul: Sunset on Third Street (Jilid 4)

Sub Judul: Kumpulan Cerita Terbaik Chapter 4 “Pertokoan Kota Yuuhi”

Judul Asli: Sanchome no Yuuhi Kessaku Shu

Komikus: Saigan Ryohei

Penerjemah: Frisian Yuniardi

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 256

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792334449

cooltext-blurb

Nobuo, pemilik toko alat tulis Usui, berusia 29 tahun. Ia masih bujangan. Padahal ia cowok yang rajin, pekerja keras dan cukup ganteng. Ibunya berniat menjodohkannya, tapi Nobuo tidak mau. Suatu hari, Ippei, anak pak Suzuki pemilik bengkel Suzuki Auto, memergoki Nobuo memainkan morse dengan cewek yang tinggal di rumah besar yang ada di atas bukit. Ippei pun penasaran.

cooltext-review

Setelah beberapa lama saya membaca komik yang memiliki tensi tinggi dan menegangkan, kali ini saya mencicipi komik dengan tema slice of life yang sederhana dan biasa saja. kalau menengok info di goodreads sih, komik ini memiliki tanggapan yang cukup positif karena kesederhanaan cerita yang mampu menghangatkan hati pembacanya. Benarkah demikian?

Komik ini memilih setting tempat di area pertokoan Kota Yuuhi di blok tiga pada tahun 1955. Saat itu ceritanya Kota Yuuhi sedang dalam masa berbenah diri setelah mengalami perang dunia. Banyak toko yang hancur. Banyak pula korban jiwa yang berjatuhan. Satu persatu toko-toko mulai bangkit kembali dan merintis masa depan yang diharapkan akan lebih baik.

17 cerita lepas yang disajikan di komik jilid keempat ini terasa sangat padat. Satu cerita mengisahkan satu toko yang ada di blok tiga Kota Yuuhi. Jadi total ada tujuh belas cerita dari tujuh belas toko yang ada. Sangat menarik. Oh iya, karena toko-toko tersebut masih dalam satu blok, maka jangan heran banyak tokoh dari cerita lain yang berseliweran di cerita toko lainnya.

Selembar Foto adalah salah satu chapter yang menarik. Toko yang dibahas adalah Studi Foto Takagi. Toko yang dikelola Takagi Tomi ini sangat mengedepankan kebahagiaan pelanggannya. Selain berusaha keras agar hasil foto tampak menarik tanpa bantuan photoshop ataupun media digital lain, Tomi memiliki keahlian tentang kamera dan foto yang diwarisi dari sang ayah.

Meskipun ini adalah cerita rekaan, banyak diselipkan info yang cukup banyak tentang tujuh jenis kamera. Informasi ini ditampilkan disetiap sudut-sudut sepanjang cerita. Di akhir kisah, ada tambahan halaman khusus yang memuat info kamera tersebut yang sangat panjang dan cukup rinci. Kalau boleh saya katakan mungkin itu layaknya wikipedia hehehehe.

Meskipun kalau orang lain yang melihatnya tidak merasa menarik, tapi bagi dirinya, itu adalah kenang-kenangan yang sangat berharga… Tidak perlu foto seni untuk membuat banyak orang terkesan. (Halaman 55)

Toko Alat Tulis Usui adalah salah satu chapter yang unik juga. Sesuai judulnya, toko yang dibahas disini adalah Toko Alat Tulis Usui yang dikelola oleh Usui Nobuo. Ia adalah sosok lelaki mapan yang tampan di usia 29 tahun. Hingga saat itu, dia belum ada tanda-tanda akan menikah. Sering sekali tetangga yang lewat membicarakan status Nobuo yang masih perjaka.

Siapa sangka langkah diam-diam yang diambil Nobuo dalam rangka mencari pendamping hidup ternyata bisa dipecahkan oleh Suzuki Ippei, anak kecil yang biasa membeli dagangan Nobuo. Meski awalnya Ippei hanya menciptakan alat pembuat sandi morse dan ingin menggunakannya untuk bermain, ternyata alat itu bisa mengendus perilaku Nobuo. Hmm :)

Besok jam 6 sore di jejak kaki raksasa… Apa, ya? Jejak kaki raksasa? Rasanya aku sudah pernah dengar itu? (Halaman 89)

Chiyoko, Hiroko, dan Yumiko adalah tiga sahabat karib sejak kecil. Ketika menghadiri festival kembang api akhir tahun, ketiganya secara tidak sengaja melihat bintang jatuh. Sontak ketiganya meminta permohonan pada bintang itu agar kelak bisa terkabul. Obrolan mengalir hingga topik rencana sekolah mereka ke jenjang SMA. Chiyoko tidak bisa lanjut sekolah.

Ya benar, Chiyoko berasal dari keluarga kurang mampu sehingga ia harus putus sekolah pada jenjang SMP. Chapter Memohon pada Bintang ini sangat mengharukan ketika waktu berlalu hingga lima tahun kemudian dan Chiyoko mulai bertanya tentang masa depannya sendiri. Apakah permohonan pada bintang jatuh lima tahun yang lalu tak bisa terkabul?

Sudah lima tahun, ya… Waktu terus berjalan dan semua teman-temanku sudah sukses, sepertinya aku saja yang tertinggal. Padahal sebentar lagi umurku 20 tahun. (Halaman 132)

Pohon yang Kering adalah chapter yang menghangatkan hati. Kisahnya ada seorang nenek bernama Tokugawa Sumako. Sehari-hari ia tinggal sendiri di sebuah rumah besar sambil berjualan teh dan mengajar Chanoyu atau seni membuat teh setiap akhir pekan. Ia dikenal sebagai wanita tua yang anggun dan lembut. Banyak orang kagum kepada perangainya itu.

Di sisi lain, ada nenek lain bernama Kin Oda. Sehari-hari ia berjualan rokok dan makanan kecil di kios kecil depan rumahnya. Ia sama-sama tinggal sendiri karena suami dan anak semata wayangnya telah meninggal. Nenek Oda terasa berbeda 180 derajat dibandingkan Nenek Tokugawa. Bahkan ia cenderung benci pada nenek penjual teh itu. Bagaimana selanjutnya?

Sama-sama sebagai orang tua yang tinggal sendirian seperti ini, kenapa perbedaannya besar sekali, ya… Entah apa aku harus marah atau iri… Dunia ini tidak adil. (Halaman 170)

Tungku Arang Nenek adalah chapter palig mengharukan yang saya temui di komik jilid ini. Ishino Yoshio adalah seorang anak dari penjual tahu di Toko Tahu Ishino. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan neneknya yang telah renta. Ayah dan ibunya sibuk mengurus toko sehingga tanggung jawab merawat nenek ada pada Yoshio. Meski demikian, Yoshio tidak mengeluh.

Suatu hari, Yoshio yang sepulang sekolah harus segera pulang dan membersihkan pispot neneknya sedikit nakal dengan tidak pulang hingga malam. Yoshio tidak menyadari bahwa hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang nenek. Sungguh mengharukan melihat interaksi Yoshio dan nenek sehari-hari. Kepergian nenek juga bukan hal yang mudah bagi Yoshio.

Yoshio adalah cucu nenek yang hanya bisa duduk saja di sebelah arang karena kakinya sudah tidak bisa lagi digerakkan. (Halaman 228)

Semua cerita di komik ini bagus. Saya tidak bisa tidak menyukai cerita yang ada di sini. Setting tahun 1955 dalam suasana pasca perang sangat terasa. Bagaimana toko-toko mulai berbenah, tidak ada satupun tokoh dan toko yang kaya raya, benar-benar mengambarkan bagaimana kebahagiaan bisa terbentuk karena satu hal yang sederhana. Ada sensasi hangat di dalam dada.

Komik ini juga memuat cukup banyak fakta sejarah, khususnya sejarah Jepang pada saat itu. Mulai dari cial bakal kedai berlampion merah, macam-macam ukuran penjualan produk sake, shoyu, beras, dan lainnya, mode pakaian yang sedang berkembang, hingga penggunaan mobil jadul oleh salah seorang pemilik toko. Sungguh menarik menyaksikannya dalam bentuk komik.

Semua tokoh utama dalam setiap cerita di komik ini adalah tokoh yang miskin, menderita, atau bahkan sengsara. Saya menyukai bagaimana kemiskinan tersebut dijual dengan apik dan sederhana oleh sang mangaka sehingga membuat kemiskinan itu bukanlah hal yang menghalangi kebahagiaan. Memang kebanyakan hal sepele, namun hal itu sangat membekas.

Munculnya tokoh dari cerita lain sebagai figuran di cerita toko tertentu membuat dunia Kota Yuuhi terasa nyata. Mereka tidak hanya muncul satu kali kemudian pergi. Mereka masih ada. Mereka masih berjuang untuk toko masing-masing. Meskipun mereka hanya tampil sekilas, saya justru suka bahwa mangaka tidak melupakan dan justru melibatkan tokoh lain. Cool!

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Onikirimaru (Jilid 5)

coveroni5

Judul: Onikirimaru (Jilid 5)

Sub Judul: Pedang Penakluk Iblis

Komikus: Kusunoki Kei

Penerjemah: Febrian Anantasyah

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 184

Terbit Perdana: 2002

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2002

cooltext-blurb

Kemudian… Di desa yang terbakar habis itu ditemukan tengkorak anak kecil berbentuk aneh… Namun seiring dengan waktu, tengkorak itu perlahan menjadi debu… Kinasa… Jeritan Iblis… Tempat Momiki tertidur abadi… Tempat jeritan si iblis kecil…

Pemuda itu tidak bernama. Ia mencium kehadiran iblis-iblis dan berusaha menemukan tempat persembunyian mereka. Perburuannya selalu diakhiri dengan terhunusnya sebuah pedang. Pemuda itu tidak bernama, tapi pedang itu bernama Pedang Penakluk Iblis…

cooltext-review

Haloo! Sesuai janji saya pada review sebelumnya, kali ini saya akan menghadirkan sedikit ulasan dan kesan setelah membaca komik Onikirimaru jilid kelima. Kali ini ada enam chapter utama dan dua chapter tambahan yang disuguhkan. Chapter pertama adalah Dewa Iblis Laut bagian ketiga. Karena bagian pertama dan kedua saya tidak tahu, saya skip mengulas bab ini.

Chapter kedua hingga keenam berjudul Momiji, masing-masing terdiri dari bagian satu hingga bagian lima. Saya rasa bagian Momiji ini cukup panjang dibandingkan jilid tiga yang sebelumnya baca. Ya iya laah, wong jumlah bab nya aja ada lima wkwkwk. Langsung saja ya disimak kesan-kesan saya membaca jilid ini hehehe.

Alkisah, di Perfektur N khususnya di Desa Kinasa, ada legenda yang menyebutkan banyak iblis bersemayam di desa itu. ada satu iblis berwujud manusia yang unik. Namanya Momiji. Ia sering membantu warga sekitar namun juga hobi membunih warga desa lain. Akibatnya Momiji sering disebut Wanita Mulia meskipun pada dasarnya ia tetaplah iblis.

Pada akhir hayatnya, Momiji melahirkan seorang anak yang diberi nama Tsunewakamaru. Keberadaan anak ini hilang hingga suatu ketika seorang anak laki-laki bernama Susumu merasa sayup-sayup ada yang memanggilnya dengan sebutan Tsunewakamaru. Singkat kata, panggilan itu berasal dari Momiji yang kemudian membuat tragedi berdarah di rumah Susumu.

Susumu tidak bisa bicara karena shock. Seluruh keluarganya terbunuh. Dia kehilangan kata-kata… Entah apa yang dilihatnya… (Halaman 45)

Sae Goto, gadis cantik yang berprofesi sebagai reporter berita mendatangi Desa Kinasa karena ingin berjumpa dengan sang pembawa pedang pembunuh iblis. Perjumpaannya dengan Susumu semakin rumit ketika sang iblis wanita dari Arakuyama,, Momiji, memerintahkan Susumu membangkitkan empat iblis raja langit yaitu Onitake, Kumatake, Washio, Igase. Aduh!

Kau dapat membangkitkan para iblis hanya dengan mengucapkan mantra… Nah, bangkitkanlah kami kembali! (Halaman 73)

Meninggalkan Desa Kinasa, dua chapter spesial tergabung dalam satu tema yang sama berjudul Twilight Channel. Tema ini terdiri atas dua cerita. Yang pertama adalah Aku Penggemarmu! Chapter ini mengisahkan seorang penyanyi terkenal bernama Takeda Yuko. Saking bekennya, dia dilarang berkeliaran sendiri tanpa pengawal karena dirasa membahayakan diri sendiri.

Sepertinya Yuko ini masih muda. Jadi dia mengelabuhi pengawalnya gitu dengan menyamar pakai pakaian jadul dan pergi melenggang santai. Sayang, ia bertemu dengan seorang penggemar yang berlaku kasar. Tak sampai disitu, ketika kedoknya terbongkar, orang-orang sekitar mulai bertindak anarkis dan tidak terkontrol. Bagaimana nasib Yuko kemudian?

Kamu nggak bisa tidur karena mikirin aku… Kamu bilang “Jangan lepas tanganmu, ajak aku ke kamarmu.” Kan? (Halaman 153)

Kejanggalan Ke-7 adalah cerita kedua dari Twilight Channel. Tagami dan Morimoto bersekolah di tempat yang disinyalir memiliki tujuh kejanggalan di sekolah. Setelah sebelumnya disiarkan enam kejanggalan di televisi, Tagami, Morimoto, dan teman lainnya penasaran dengan kejanggalan ketujuh. Sayangnya, tidak semua orang mengetahuinya. Kecuali…Morimoto.

Ya benar, Morimoto menantang Tagami membuktikan kejanggalan ketujuh dengan menaiki tanga sekolah pukul enam sore. Konon, hanya siswa laki-laki yang bisa menyaksikan sosok misterius itu. Awalnya Tagami tidak percaya. Namun, Morimoto dan teman lainnya mengolok Tagami. Akhirnya Tagami bersedia. Benarkah semua yang dikatakan Morimoto? Hiii….

Didorong oleh murid laki-laki. Lehernya patah karena terjatuh… Lehernya tergantung di pundaknya. (Halaman 174)

Jujur komik jilid kelima ini sangat lebih baik dibandingkan jilid ketiga yang saya baca sebelumnya. Jalinan ceritanya lebih padat dan menegangkan. Tidak seperti jilid ketiga yang hanya sepotong dan tidak jelas. Karena saya tidak membaca bagian pertama dan kedua, chapter berjudul Dewa Iblis Laut tidak terlalu saya nikmati. Oke lanjut.

Chapter berjudul Momiji sangat menegangkan. Ckup banyak iblis yang berperan disini. Terlebih kebodohan warga desa yang memuja Momiji sebagai Wanita Mulia membuat saya sangat geram. Halo, dia itu iblis lho. Membunuh warga desa lain. Kok malah dipuja, sih. Pun demikian dengan Susumu yang harus menjadi korban karena arwah Momiji yang ingin dibangkitkan.

Saya suka bagaimana Sae dengan sukarela merawat Susumu yang sedang shock karena seluruh keluarganya terbunuh. Saya juga suka bagaimana Susumu bersikap layaknya manusia dan tidak menuruti permintaan ibunya sendiri yang berwujud iblis. Meskipun demikian, pemusnahan iblis yang terlanjur bangkit oleh Susumu terasa cukup dipaksakan, sih.

Bagaimana dengan kehadiran pemuda-misterius-pembawa-onikirimaru? Ironis, dia sebagai tokoh utama justru tidak terlalu berperan penting. Susumu dan Sae lah yang menjadi tokoh fokus cerita Momiji ini. padahal seharusnya porsi pemuda-misterius-pembawa-onikirimaru ini bisa lebih banyak dan kompleks dibandingkan hanya sekadar terkapar diserang iblis. Huft.

Dua chapter tambahan Twilight Channel memiliki jalinan cerita yang menurut saya lebih kekinian dibandingkan cerita utama yang terasa jaman dahulu banget. Dua cerita ini juga sukses menghadirkan akhir kisah menggantung dan misterius yang membuat keduanya jauh lebih baik dibandingkan cerita utama. Berbagai pertanyaan setelah akhir kisah adalah nilai jualnya. Wow.

Kalau membahas yang tidak saya sukai dari komik ini, mungkin adalah rambut dari pemuda-misterius-pembawa-onikirimaru. Beneran deh, poni yang terasa tidak seimbang dan aneh banget itu membuat saya risih. Mungkin itu adalah ciri khas ataupun keunikan karakter. Tetapi maaf saja, saya justru tidak suka dengan cowok berpolem aneh dan nggak banget itu hahahaha.

Akhir kata, saya hanya bisa mengulas sampai sini saja. Komik ini berpotensi menghadirkan kisah yang menegangkan dengan storytelling yang baik. Mungkin di jilid-jilid selanjutnya? Entahlah. Namun yang jelas, jilid ketiga dan kelima yang telah saya baca sebelumnya belum membuat saya suka dengan kisah yang disuguhkan. Sayang sekali.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Onikirimaru (Jilid 3)

coveroni3

Judul: Onikirimaru (Jilid 3)

Sub Judul: Pedang Penakluk Iblis

Komikus: Kusunoki Kei

Penerjemah: Sugi

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 184

Terbit Perdana: 2002

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2002

cooltext-blurb

En no Otzunu… Dia bertapa selama 40 tahun untuk menguasai ilmu sihir… Ia diasingkan dan mengembara tanpa arah… Ia dapat mengendalikan manusia dengan pikirannya… Ia berhasil menguasai dunia berkat bantuan iblis… …Yang dikenal dengan iblis Otzunu…

Pemuda itu tidak bernama. Ia mencium kehadiran iblis-iblis dan berusaha menemukan tempat persembunyian mereka. Perburuannya selalu diakhiri dengan terhunusnya sebuah pedang. Pemuda itu tidak bernama, tapi pedang itu bernama Pedang Penakluk Iblis…

cooltext-review

Komik yang cukup sadis dengan darah di mana-mana sepertinya sangat jarang saya baca. Selain terkadang saya berpikir komik model seperti itu hanya “menjual” darah sebagai hal yang dirasa menarik, ceritanya juga bisa saja tidak terlalu seru. Yah, seperti layaknya film gore dan thriller seperti itu deh. Namun, tidak ada salahnya mencoba, bukan? Mari baca Onikirimaru ini.

Saya mendapatkan komik ini secara random. Jadi mohon maaf saya tidak membaca jilid perdananya. Mungkin pendapat atau ulasan saya menjadi bias karena kekurangan saya tersebut. Namun saya berusaha akan tetap memberikan penilaian untuk jilid yang memiliki enam chapter yang terdiri atas bagian awal dan bagian akhir ini. Semoga bisa ya. Lanjuut~

Chapter pertama dan kedua berjudul Otzunu. Seorang gadis remaja bernama Naruze Moeko adalah anak mujur dan beruntung karena ulah En no Otzunu. Ia selalu terhindar dari malapetaka ketika suatu bencana hampir menghinggapinya. Misalnya ketika air keras tidak menimpa kakinya, bola kasti yang meledak sebelum mengenai kepalanya, dan lain sebagainya.

Yuki sangat percaya pada keberuntungan sahabatnya itu. Sayang, ia justru mendapat kemalangan tertimpa jendela kaca yang dilemparkan oleh Isaoka yang masih dendam kakinya terkena air keras gara-gara “keberuntungan” Moeko. Awalnya kaca itu ditujukan pada Moeko. Tetapi tiba-tiba justru Yuki yang terkena sial. Benarkah memang Moeko orang yang mujur?

Aku… Aku pedang penakluk iblis… Iblis itu ada, khan? Dari dalam perutmu dia memanggilku! Mungkin dia cuma menggangguku saja? (Halaman 25)

Iblis Pemangsa Anak adalah chapter ketiga dan keempat. Awal kisah dibuka oleh tewasnya seorang anak kecil bernama Okanoemi yang ditabrak Kobayashi Tadashi saat mengendarai mobil. Sayangnya, kematian Okanoemi justru membangkitkan iblis pemangsa anak-anak sehingga membuat mayat Okanoemi dan si penabrak hilang tanpa jejak karena dimangsa iblis.

Beberapa hari kemudian, dua sahabat karib bernama Akira dan Shinchan bolos sekolah karena lupa mengerjakan PR. Naas, hari itu keduanya bertemu dengan iblis yang kelaparan dan ingin memangsa anak-anak. Shinchan harus meregang nyawa disaksikan Akira. Meskipun pedang penakluk iblis telah menebas iblis itu, ketakutan Akira bisa membangkitkan sang iblis kembali.

Dia belum bangkit, tapi kalau… kau terus begini, dia akan hidup lagi. Dia, iblis pemangsa anak. Darah, daging, dan perasaan adalah sumber kehidupannya. Mengerti? (Halaman 111)

Chapter kelima dan keenam sekaligus bab terakhir adalah Kebangkitan Iblis. Alkisah belasan tahun silam ada iblis yang bertemu dengan wanita yang telah hamil tua. Awalnya si wanita berteriak dan menganggap iblis tersebut telah hilang. Yang tidak ia ketahui, iblis tersebut ternyata bersarang di janin wanita itu, menunggu saatnya terlahir kembali ke dunia.

Takahiro adalah janin yang telah lahir itu. Ia adalah adik laki-laki satu-satunya dari Kaori. Takahiro sangat menyayangi Kaori. Yang tidak Takahiro sadari, sang iblis yang telah bersemayam di tubuhnya mulai merasuk keluar dan ingin segera bebas dari bentuk manusia. Apa yang selanjutnya terjadi? Bagaimana sang pembawa pedang menyelamatkan Takahiro?

Sudahlah! Kau selamat sekarang. Aku akan selalu melindungimu… Takkan kuserahkan Kaori pada siapa pun… Kaori milikku… (Halaman 159)

Komik ini aneh. Tidak konsisten. Kurang jelas alur ceritanya. Duh maafkan saya yang mungkin terasa janggal karena hanya menilai dari satu jilid, bahkan tidak membaca jilid perdana sebagai awal mula kisah. Tetapi ijinkan saya untuk memberikan pendapat pada jilid ketiga yang saya baca ini. mungkin akan negatif, tetapi saya berusaha tidak terlalu kasar dalam penulisan.

Aneh pertama adalah sang tokoh utama tidak memiliki nama, tetapi justru pedangnya yang memiliki nama yatu Onikirimaru alias Pedang Penakluk Iblis. Duh, kenapa justru sang tokoh utama tidak ada namanya? Sepanjang jilid ini saya sangat sulit menyebutnya. Si anak laki-laki misterius, pemuda pembawa pedang, atau apa? Main character with no name is a bad thing.

Aneh kedua adalah status sang pemuda ini. Dikisakan ia adalah iblis berwujud manusia. Tetapi ia sebenarnya bisa dilihat wujudnya atau tidak sih? Moeko sempat berujar bahwa tak seorangpun bisa melihat pemuda itu selain dirinya. Namun pada bagian lain, Isaoka, Akira, dan Kaori bisa bersentuhan dengannya. Kalaupun bisa dua-duanya, kenapa tidak dijelaskan dulu?

Aneh ketiga adalah alur cerita kurang jelas. Sebagai contoh adalah judul ketiga tentang Takahiro. Tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa ayahnya tiba-tiba mencekik Kaori. Satu alasan masuk akal mungkin bisa diterima. Namun, terlalu tiba-tiba dan tidak masuk akal jika langsung ingin mengakhiri hidup begitu saja. Storytelling yang cukup buruk, menurut saya.

Seperti yang sudah saya singgung di awal review, komik ini cukup banyak memuat unsur darah berceceran di mana-mana. Terlebih ketika iblis memangsa manusia, bisa dipastikan muncul korban jiwa yang kondisinya tidak utuh lagi. Meski tidak digambarkans anat detail (bahkan ada halaman yang disensor), tetapi cukup jelas bagaimana kondisi mayat bertebaran.

Hingga akhir jilid ketiga inipun saya masih belum tahu apa tujuan sang pemuda membunuh kaumnya sendiri. Apakah ia termasuk protagonis? Ataukah karakter antagonis? Atau netral? Saya belum tahu. Saya ada satu jilid lagi yang belum saya baca. Semoga ada pencerahan ya. padahal artwork komik ini cukup bagus khas shoujo. Tunggu review selanjutnya ya~

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Selamat Ulang Tahun Blogger Buku Indonesia

Satu-satunya komunitas yang telah saya ikuti dan belum ada keinginan untuk saya tinggalkan adalah Blogger Buku Indonesia. Sesuai namanya, komunitas ini adalah kumpulan blogger yang fokus pada dunia perbukuan. Dan hari ini, tepat enam tahun BBI mengudara di jagat dunia maya sebagai salah satu komunitas online yang sangat bergengsi #ahsek.

Pada postingan yang disinyalir akan sangat panjang ini, saya akan berbicara tentang beberapa hal. Saya sangat jarang menuliskan opini atau hal-hal lain diluar resensi buku. Tapi khusus hari ini, saya akan berbicara tentang apa yang telah, sedang, dan ingin saya alami dalam keluarga besar Blogger Buku Indonesia. Silakan dibaca ya…

Mula-mula, saya ingin bercerita tentang awal mula mengenal BBI. Tahun 2013 saya sempat nyasar di blog para member yang sedang menyelenggarakan Giveaway Hop dalam rangka ulang tahun BBI. Saat itu ingin ikutan tapi hampir semua host mewajibkan follow blog. Kala itu saya tidak tahu follow blog itu apa dan bagaimana. Akhirnya saya mundur nggak ikut. :(

Saya jadi kepo kenapa kok banyak orang bagi-bagi buku gratis. Selidik punya selidik, mereka adalah para anggota Blogger Buku Indonesia. BBI? Apa itu? Saya yang masih lugu hanya bisa menemukan akun twitter, website, dan fanpage. Mulai saat itu saya mengikuti beberapa postingan member melalui aggregator website sambil memahami tentang BBI. #ceileh

Hari kamis tanggal 10 Juli 2014 jam 15.31 WIB, saya kirim email permohonan bergabung dengan BBI. Saat itu BBI belum menerapkan jangka waktu pendaftaran alias bisa daftar kapan saja. Secara umum, seharusnya email saya bisa langsung direspon. Sayangnya, ada sedikit drama karena saya belum memperoleh kejelasan hingga dua bulan lebih. Kenapa ya?

Ternyata oh ternyata, email saya kemungkinan terdeteksi spam sehingga terhapus dari inbox membership BBI. Setelah bertanya di twitter Bebi, hari senin tanggal 15 September 2014 jam 13.17 WIB, saya apply ulang. Satu bulan lebih kemudian, hari rabu tanggal 22 Oktober 2014 pukul 13.00 WIB, saya sudah memperoleh nomor ID yaitu BBI 1410260. Senangnya~

Oh iya, saat itu saya menggunakan blog khusus mahasiswa yang disediakan oleh kampus saya. Sesungguhnya blog itu saya buat hanya untuk syarat verifikasi penerimaan beasiswa saja. Satu tahun kemudian, memang dasarnya saya malas membuat blog baru, akhirnya blog yang hanya berisi satu postingan saja itu saya rombak ulang menjadi blog khusus buku. Hehe.

Setelah menjadi anggota resmi BBI, satu hal yang saya rasakan adalah saya memiliki lingkungan sosial baru yang sama-sama memiliki hobi dan kesukaan yang sama. Meskipun hanya di dunia maya, saya sudah cukup bahagia. Saya juga menemukan orang-orang yang suka menimbun buku seperti saya. Saat itulah saya merasa menimbun bukanlah dosa. Ahaha.

Saat awal bergabung, saya tidak kenal sama sekali anggota generasi pertama ataupun yang seangkatan pada generasi kedua. Bergabungnya saya di grup whatsapp BBI regional Jatim akhirnya membuka jalan perkenalan saya dengan member BBI lain. Lambat laun saya dijebloskan ke grup whatsapp regional Joglosemar. Di grup ini, member yang ada sudah campur aduk berbagai domisili dan generasi. Perkenalan saya makin bertambah.

Awal tahun 2016, ikatan saya dengan Bebi semakin dalam karena ditunjuk sebagai tenaga bantu untuk mengurusi forum BBI yang akan diluncurkan awal bulan februari sebagai jalur komunikasi baru. Saya yang sudah tidak berstatus mahasiswa tentu saja menerima kesempatan itu dengan segala hormat. Meski sekarang forumnya sepi sekali. Maafkan saya :(

Bicara apa lagi ya, hmm. Oh iya, sejak awal bergabung hingga detik ini saya beberapa kali memperoleh buntelan buku melalui jalur BBI. Tidak terlalu banyak memang. Namun semuanya berkesan. Dari BBI pula saya bisa mencicipi menjadi host blogtour. Terima kasih kepada para pihak yang memberikan kepercayaan kepada saya.

Saya yang saat ini tidak seperti masa-masa sebelum dan baru bergabung BBI. Jujur saya katakan bahwa salah satu motivasi saya menjadi member BBI saat itu adalah ingin mendapat buntelan buku gratis. Baik lewat tawaran penerbit, penulis, ataupun kuis giveaway. Memang receh sekali alasannya, saya akui itu. Namun, lambat laun mindset saya berubah.

Menjadi anggota BBI bukan hanya perkara buku gratis. Menjadi member BBI bukan melulu tentang jadi blogger eksis. Menjadi bagian dari BBI artinya jadi salah satu penggiat literasi di Indonesia yang makin tergerus habis. Mungkin awalnya hanya sekadar hobi membaca dan menulis. Namun, virus membaca telah disebarkan melalui postingan member yang manis.

Sebelum postingan ini semakin panjang dan membosankan, lebih baik segera saya akhiri saja. Harapan saya dengan bertambahnya usia BBI tahun ini, semoga turut meningkatkan semangat membaca para member. Semoga semua anggota generasi pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima bisa akrab dan saling menyemangati dalam menimbun mengisi blognya.

SELAMAT ULANG TAHUN BLOGGER BUKU INDONESIA!!

Duel Masters (Jilid 3)

coverduel3

Judul: Duel Masters (Jilid 3)

Komikus: Matsumoto Shigenobu

Penerjemah: Randohri Neko

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 192

Terbit Perdana: November 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, November 2007

ISBN: 9789792313925

cooltext-blurb

Setelah melawan Mikuni, Shoubu kini menghadapi Mimi, salah satu dari White Knights. Dalam pertarungan kali ini, akan diberlakukan peraturan Highlander. Shoubu yang masih belum terbiasa dengan peraturan itu, berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

cooltext-review

Setelah Shoubu dinyatakan lulus dari JDC, sebenarnya ia sudah bisa pulang ke rumah. Namun, sebuah insiden yang melibatkan Hakuou dan barisan pelindungnya bernama White Knights membuat Shoubu ingin menyelesaikan urusan pertarungan duel dengan Hakuo. Namun sebelumnya, Shoubu harus menghadapi Mikuni, salah satu White Knights bawahan Hakuou.

Enam chapter yang disuguhkan di jilid ketiga ini seru-seru! Chapter pertama berjudul Rencana Rahasia Serangan Balasan adalah proses duel Shoubu dan Mikuni yang edua setelah Shoubu kalah telak dari Mikuni sebelumnya. Pada awal permainan, Shoubu terkesan masih menggunakan trik lama. Hal ini membuat White Knights lain mencemooh Shoubu saat itu.

Lagi-lagi berniat mengandalkan blocker, ya… Dasar orang yang tidak ada kemajuan.

Bab kedua berjudul Kiri-Fuda Keempat masih tentang duel Shoubu dan Mikuni. Kali ini sudah banyak kejutan-kejutan yang dipersiapkan Shoubu. Mikuni yang merasa sebagai orang terkuat sedikit terpojok dengan kemahiran Shoubu. Namun demikian, Mikuni tidak menyerah begitu saja. Hingga titik darah penghabisan, ia takkan membuang kepercayaan Hakuou padanya.

Walau pernah kubilang duel denganmu itu tidak berarti… Tapi ternyata kau sekarang berhasil mendesakku sampai sejauh ini…

Setelah pertarungan melawan Mikuni usai, perhatian Shoubu sedikit teralihkan dengan Rekuta dan Kitarou. Saat Shoubu sadar, Hakuou telah masuk ke sebuah ruangan misterius berpintu besar. Bab berjudul Menuju Ruang Phoenix Putih! ini menggambarkan posisi Hakuou yang bisa ditemui oleh Shoubu. Sayangnya, menemui Hakuou tidak mudah karena perlindungan ekstra.

Kalau terus begini… Mungkin saja ‘sesuai dengan yang kita harapkan.’ Dia akan berhasil menaklukkan kelompok empat langit, ya…

Lawan Shoubu setelah Mikuni adalah Tasagore Mimi. Gadis cantik dan manis ini tidak disangka adalah salah satu anggota White Knights. Kintarou sempat pingsan karena mendapatkan perlakuan “khusus” dari Mimi pada chapter berjudul Musuh Kuat yang Imut-Imut!? Pada duel kedua ini pula Shoubu menghadapi satu peraturan baru yaitu Highlander.

Daripada nungguin Kirifuda yang entah muncul atau nggak… Bertarung dengan creature yang bisa diandalkan itu metode tempur yang umum dalam Highlander.

Singkatnya, Highlander adalah peraturan yang melarang pemain memasukkan kartu yang sama lebih dari satu. Wujud Asli Mimi adalah chapter ketika Shoubu dan Mimi mulai bertarung. Pada duel kali ini, Mimi berlaku bak seorang gadis imut yang centil dan tidak berdaya. Ternyata oh ternyata, hal itu adalah kesengajaan untuk memupus semangat juang Shoubu saat berduel.

Aku tida ada niat buruk! Aku hanya ingin melindungi Beeble-chan yang berharga…! Aku tidak punya niat melukaimu!

Setelah terjebak dengan mode centil dan imut-imut, Mimi akhirnya menampakkan wujud “aslinya” ketika Shoubu serius dalam bertarung. Chapter berjudul Munculnya Super Evil Beast! ini adalah bukti bahwa Mimi tak “seimut” yang terlihat sebelumnya. Ia sangat serius menghabisi Shoubu. Apalagi Highlander sangat menyulitkan gerak Shoubu. Bagaimana nih?

Percuma… Yang seperti itu tidak mungkin bisa ditaklukkan… Habisnya, meskipun seandainya bisa menang dengan pertarungan sesama creature… Dia itu akan hidup kembali sampai tiga kali lagi.

Saya suka dengan chapter ini. segala hal perkenalan tokoh utama dan sistem permainan Magic: The Gathering sudah selesai. Sepertinya sejak akhir jilid kedua dan mulai jilid ketiga hingga seterusnya ini akan penuh dihiasi dengan lika-liku duel yang dijalani Shoubu hingga menjadi seorang duelist hebat dan berjumpa dengan ayahnya sendiri. Pasti seru sekali deh.

Jujur saja, aku takut nanti, masa lalu *eh* meski saya masih sangat kurang paham dengan mekanisme duel Magic dan berbagai kartu yang digunakan termasuk creature atau land atau mana dan sebagainya itu, saya masih bisa mengikuti jalinan ceritanya. Seolah berbagai kejutan memang dipersiapkan untuk pembaca yang tidak tahu permainan ini agar merasa tertarik.

Dari segi gambar dan cerita, saya suka artwork Matsumoto Shigenobu yang tidak lebay dalam penggambaran. Beberapa sudut cerita yang terkesan lucu dan perlu penekanan memang dibuat berlebihan. Namun, karena fungsinya memang untuk menunjukkan segi kelucuan, hal itu memang sah-sah saja untuk dilakukan. Apalagi saat Kintarou jadi bulan-bulanan Mimi. Ahaha.

Sayangnya, pada jilid ketiga ini, rubrik spesial berjudul Matsumoto Dai Sensei’s Jalan Menuju Duel Masters tidak bisa hadir. Pada awal bab pertama sudah ada permintaan maaf dari sang mangaka karena absennya rubrik tersebut. Ia berjanji akan memunculkan kembali lika-liku dibalik layar Duel Masters pada jilid selanjutnya. Semoga saja ya.

Saya juga baru sadar bahwa pengenalan deck masing-masing karakter yang sempat muncul pada jilid pertama ternyata sudah tidak muncul lagi sejak jilid kedua. Sayang sekali. Padahal menurut saya bagian itu sangat berguna untuk berkenalan dengan karakter sekaligus mengetahui beberapa kartu unggulan yang biasa digunakan tokoh yang berbeda-beda.

Jika melihat segi tampilan komik ini, saya masih sangat tidak sreg dengan komik terbitan m&c! yang tidak mencantumkan nomor halaman. Padahal di daftar isi disebutkan bab ini mulai halaman sekian. Namun, sepanjang halaman sejak awal hingga akhir tidak ada nomor halaman. Kan kasihan bagi saya yang ingin menuliskan kutipan penting jadi tidak ada halamannya. Huft.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Duel Masters (Jilid 2)

coverduel2

Judul: Duel Masters (Jilid 2)

Komikus: Matsumoto Shigenobu

Penerjemah: Randohri Neko

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 192

Terbit Perdana: Oktober 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Oktober 2007

ISBN: 9789792313918

cooltext-blurb

Shoubu yang giat belajar Magic di Duel Temple, berhasilmenyelesaikan pelatihannya. Tetapi tiba-tiba muncul duelist menantang Shoubu. Ia Kintarou, duelist yang mampu mengendalikan Mana!

cooltext-review

Jalan yang ditempuh oleh Shoubu demi menjadi seorang duelist terhebat di dunia masih berlanjut. kali ini ada enam chapter yang disuguhkan di komik jilid kedua Duel Masters ini. Babak perjuangan di JDC masih berlanjut pada chapter berjudul Ayo Lampaui Wrath of God! Kali ini semangat Shoubu sangat membara untuk mengalahkan Tohru dengan deck baru miliknya.

Karena kemenangan kelima puluh kelulusan yang patut diperingati… Sudah kuputuskan akan kuperoleh dengan menaklukkan dia!

Bab kedua berjudul Penantangnya Hakuou!? adalah momen kepulangan alumnus JDC karena pelatihannya sudah berakhir dan kini enam orang lulusan JDC termasuk Shoubu dan Tohru hendak pulang ke rumah masing-masing. Sayangnya, tibatiba muncul seorang duelist yang menantang keenam orang itu dan langsung mengalahkan dengan telak. Apakah dia Hakuou?

Aneh… Kenapa, tidak nge-block dengan Metal-worker… Creature rendahan itu memangnya sebegitu pentingnya?

Ternyata eh ternyata, sang penantang tersebut bernama Nanba Kintarou. Ia adalah pemuja fanatik Hakuou sehingga berpenampilan mirip Hakuou termasuk rambut palsunya. Pada chapter berjudul Kartu yang Telah Terbaca ini ia berhadapan dengan Shoubu yang hampir saja kalah dari permainan Kintarou yang sangat ajaib sekaligus mengagumkan.

Beast of Burden akan bertambah kuat sebanyak jumlah Mana!? Yang benar saja! Orang itu menghasilkan Mana dengan bebas! Kalau seperti itu, Shou-chan akan…

Setelah mengalahkan Kintarou, satu fakta kejutan cukup menyita perhatian Shoubu dan Rekuta. Kemenangan Shoubu pada chapter berjudul Ksatria Putih yang Tak Berperasaan ini membawanya kembali ke JDC yang sekaligus markas besar Hakuou dan Shiroi Kishi-dan atau The White Knights yang ia pimpin. Di bab ini ada satu kejadian yang membuat amarah Shoubu berkobar.

Kirifuda Shoubu, dia meningkatkan kemampuannya secara istimewa dalam setiap duel… Bila sering bertarung, dia bisa semakin kuat tanpa batas…

Bentrokan Serangan Cepat! Shoubu vs White Knights adalah chapter selanjutnya yang sangat seru. Kali ini Shoubu berduel melawan Mikuni, salah satu jajaran Shiroi Kishi-dan yang tidak terima pemimpinnya, Hakuou dijelek-jelekkan oleh Shoubu. Sang tokoh utama yang sedang naik pitam ini langsung menerima tantangan Mikuni. Sayangnya, Shoubu kalah telak dengan cepat.

Kirifuda Shoubu! Bila ingin bertarung melawan Tuan Hakuou… Coba taklukkan dulu kami! Tidak akan kami biarkan kau bilang tidak!

Shoubu dan Rekuta sangat kecewa dengan hasil pertandingan itu. terlebih Shoubu sangat depresi sejak kejadian tersebut dan berniat berhenti bermain Magic dan melupakan mimpinya menjadi duelist terhebat. Carilah Kemenangan adalah bab terakhir jilid ini bagaimana Rekuta dan Kintarou membangun semangat Shoubu dan menyadarkannya akan pengalaman pahit.

Kamu kalah karena memang harus kalah. Kamu bahkan tidak berusaha mencari tahu keistimewaan Portal Three Kingdoms yang belum pernah kamu mainkan.

Jilid kedua ini ternyata sangat seru. yah, meskipun pelatihan Shoubu di JDC sangat singkat. Padahal sebelumnya disebutkan bahwa pelatihan akan berlangsung selama satu bulan. Tantangan pertama yang dihadapi oleh Shoubu setelah lolos seleksi awal adalah memenangkan 50 duel selama seminggu. Tetapi ternyata setelah itu tidak ada apa-apa lagi. Lho kok?

Yah saya tidak tahu apakah periode pelatihan selama satu bulan namun setiap orang hanya perlu satu minggu saja untuk lulus ataukah tiga minggu kemudia tidak ada pelatihan, saya memang tidak tahu. Tetapi kok rasanya sangat aneh pelatihan di JDC hanya segitu saja. saya ingin ada bentuk pelatihan yang lain. Karena saat Shoubu duel juga banyak yang di-skip.

Kemunculan Kintarou yang hebat adalah salah satu hal yang sangat menari di jilid kedua ini. ia adalah anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dan memiliki keinginan membahagiakan ibunya dari permainan Magic yang ia tekuni. Flashback masa lalu Kintarou sangat mengharukan. tidak heran ia menjadi kuat dan sangat tangguh dalam bermain Magic.

Satu hal yang sangat berlebihan dari komik ini adalah masa-masa duel yang seolah nyata sekali. Mulai dari munculnya monster atau creature, sihir atau spell yang digunakan, hingga damage atau dampak yang diterima pemain digambarkan sangat real. Salah satu contohnya adalah Kintarou terpental dan menabrak pohon dan badan Shoubu sampai lebam terkena serangan.

Selain chapter-chapter utama, pada akhir jilid ini ada yang spesial dari sang mangaka yaitu halaman khusus berjudul Matsumoto Dai Sensei’s Jalan Menuju Duel Masters. Setiap jilidnya akan memberikan suatu curhatan(?) ataupun hal menarik di balik layar pembuatan Duel Masters. Bagian kedua menghadirkan galeri kreasi gambar penggemar yang dikirimkan pada komikus.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Duel Masters (Jilid 1)

coverduel1

Judul: Duel Masters (Jilid 1)

Komikus: Matsumoto Shigenobu

Penerjemah: Randohri Neko

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 192

Terbit Perdana: September 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, September 2007

ISBN: 9789792313901

cooltext-blurb

Kirifuda Shoubu anak yang bersemangat dalam card game Magic: The Gathering yang terkenal di seluruh dunia. Suatu hari ayahnya, seorang Duel Master legendaris, menghilang. Setelah memperoleh kartu yang ditinggalkan ayahnya, pelatihan Shoubu yang bercita-cita menjadi Duel Master nomor satu, dimulai!!!

cooltext-review

Kali ini lagi-lagi saya membaca komik yang mengadopsi sebuah permainan yang populer di kalangan anak-anak. Permainan tersebut adalah permainan kartu bernama Duel Masters. Awalnya saya menganggap nama permainan ini adalah Duel Masters, tetapi ternyata yang sesungguhnya adalah Magic: The Gathering. Memang agak panjang dan sulit diucapkan sih.

Enam chapter utama dan satu chapter cerita spesial yang disuguhkan di jilid perdana Duel Masters ini cukup menarik untuk diikuti. Pada chapter pertama berjudul Duelist yang Telah Pulang dikisahkan tentang seorang anak berusia sebelas tahun bernama Kirifuda Shoubu yang menanti kepulangan Kirifuda Shouri yang telah tiga tahun berlatih Magic: The Gathering.

Sayangnya, ayah Shoubu tidak kunjung pulang. Rekan sejawatnya, Nakamura Sutochi, yang biasa dipanggil NAC, justru pulang sendirian dengan kondisi compang-camping. Shoubu yang penasaran justru diamuk oleh NAC karena ia menganggap Shoubu belum cukup tangguh untuk mengetahui apa yang terjadi pada ayahnya yang hilang ditelan bumi.

Duel itu tidak boleh menyerah sampai terakhir! Orang yang tidak menyerah sajalah… yang akan meraih kemenangan!

Bab kedua berjudul Penantang Kegelapan adalah awal mula petualangan Shoubu untuk menjadi seorang duelist sejati agar bisa bertemu dengan ayahnya sendiri. Hal ini ia lakukan setelah mengetahui latar belakang menghlangnya Shouri Kirifuda dari mulut NAC sendiri. Awalnya Shoubu sangat kaget. Namun, ia tidak bisa melakukan apapun selain percaya dengan ayahnya.

Kalau ayahku, dia pasti baik-baik saja, kok! Ayahku… tidak sedang melarikan diri, kok!

Kiri-Fuda pada Tangan yang Bercahaya adalah chapter ketiga. Belum apa-apa, Shoubu sudah ditantang duel oleh Kokujou Kyoushirou yang memiliki deck kegelapan. Kombinasi kartu yang dimiliki sanggup membuat lawan-lawannya kalah telak dalam sekejap. Awalnya Shoubu sangat bahagia bisa mengalahkan Kokujou. Sayangnya, Shoubu tidak melihat siasat lawannya itu.

Semua orang menyebutnya begitu. Karena cara bermainnya yang kejam… Mulanya membiarkan dirinya diserang. Saat lawan lengah, baru dia taklukkan dengan satu hembusan nafas.

Shoubu merasa kemampuannya harus lebih tinggi agar bisa menjadi duelist yang hebat. Bersama sahabat karibnya, Kadoko Rekuta, ia bermaksud belajar menjadi duelist di sebuah tempat pelatihan bernama JDC. Hal ini tertuang pada chapter keempat berjudul Bukalah Gerbang Kuil! Sebelum memasuki hall utama, Shoubu harus menyelesaikan tantangan yang sulit.

Di tempat itu, hanya mereka yang benar-benar ingin jadi kuat, pagi-sore terus berduel. Kokujou juga sepertinya lulusan dari situ lho.

Selain anak-anak seusia Shoubu, di tempat itu juga ada seorang duelist terkenal bernama Hakuou. Masih belum jelas apa kedudukannya di JDC ini, namun sepertinya ia memiliki akses yang cukup penting. Buktinya pada chapter berjudul Perangkap Kuil ini ia bisa bercakap langsug dengan NAC yang notabene adalah seorang duelist yang pernah menjuarai turnamen se-Asia.

NAC-san sepertinya mengakui keunggulannya. Tapi… cara duel dia terkesan kekanakan, lho. Sayang sekali…

Kembali ke Shoubu, syarat awal agar ia bisa menuju tahap seleksi berikutnya adalah dengan memenangkan 50 duel. Shoubu memang memiliki deck legendaris pemberian sang ayah. Namun, kemenanangannya sebanyak 30 kali berturut-turut membuat anak-anak di sana bisa mengetahui deck miliknya. Deck yang Jadi Incaran adalah chapter yang sangat menegangkan.

Karena selama ini selalu bertarung bersama. Karena mereka temanku sejak dulu!

Selain chapter utama di atas, ada satu chapter tambahan yang berisi cerita spesial tentang keseharian Shoubu dan Rekuta versi anak SMP berusia 13 tahun dalam berduel permainan Magic: The Gathering. Saya tidak akan membahasnya karena sesungguhnya chapter ini hanyalah spin-off dari kisah utama yang disuguhkan di jilid perdana ini.

Selain alunan cerita utama, ada tambahan beberapa halaman setiap akhir chapter tenteng pengenalan deck masing-masing karakter. Mulai dari deck milik Shoubu, milik NAC, milik Kokujou, milik Rekuta, hingga lawan Shoubu di JDC yaitu Tohru dan Jamira. Masing-masing memperkenalkan tentang kartu unggulan di deck-nya yang memiliki kemampuan terhebat.

Kelompok kegelapan Garde sempat disinggung oleh NAC yang menjadi salah satu sebab hilangnya Shouri saat hari kepulangan mereka ke Jepang. Meskipun tidak ada lagi kemunculan ataupun pembicaraan tentang kelompok ini, saya rasa kelompok Garde akan menjadi lawan tangguh Shoubu ketika telah menjadi seorang duelist handal. Benarkah? Yah, lihat saja nanti.

Oh iya, ngomong-ngomong Shoubu dan Rekuta dan anak-anak lain di daerah Shoubu ini apakah tidak bersekolah ya. Isinya hanya duel, duel, dan duel melulu. Apakah para orang tua tidak memarahi? Namun, setelah menyaksikan ibu Shoubu yaitu Kirifuda Mai, saya maklum sepertinya dunia Shoubu dan lainnya hidup ini hanya berisi tentang Magic: The Gathering.

Selain itu, ada satu kejanggalan. Disebutkan Shoubu menggunakan warisan ayahnya yang berisi kartu-kartu hebat. Beberapa kartu disebut kartu terlarang. Belum jelas maksudnya terlarang apakah tidak boleh digunakan ataukah terlarang tidak semua orang memilikinya. Jika memang kombinasi keduanya, kenapa Shobu tetap boleh memainkannya? Bukankah itu artinya curang?

Namanya juga jilid pertama, isinya masih seputar pengenalan tokoh dan cikal bakal konflik utama yang akan terjadi. Konflik yang mengerucut di jilid perdana ini adalah lika-liku Shoubu saat berlatih di JDC selama sebulan kedepan. Akankah Shoubu berhasil dan bertemu ayahnya ataukah ia harus memendam impiannya menjadi duelist sejati dan takkan berjumpa Shouri?

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 3)

coverdirection3

Judul: A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 3)

Komikus: Yamada J-Ta

Penerjemah: Ine Martiana

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 178

Terbit Perdana: Juli 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juli 2008

ISBN: 9789792317800

cooltext-blurb

Dua gadis kembar harus “menukar waktu” supaya bisa menemukan batu itu. Artinya, salah satu dari mereka harus bertukar tempat dengan Nyonya Kikuko. Dengan begitu, nyonya Kikuko kembali menjadi muda.

cooltext-review

*WASPADA! Review ini kemungkinan mengandung spoiler jilid sebelumnya!* jilid ketiga tentang lika-liku kehidupan Karada dan Shouko yang terkabul permohonannya semakin lama semakin berkembang. Lima chapter yang disuguhkan dengan dua chapter utama, dua chapter khusus, dan satu chapter utama ini terasa banyak membahas hal diluar cerita utama.

Tetsu yang semakin merasa bersalah akibat perbuatannya pada Karada saat di festival ternyata sungguh terlambat. Karada dan Hiro sudah pindah dari tempat tinggalnya. Tetsu tidak tahu kemana mereka berdua pindah. Yang jelas, ia berpikir untuk menemukan batu permohonan agar bisa bertemu kembali dengan Karada. Hal ini menyibak memori masa lalu Tetsu saat kecil.

Itu kan nggak mungkin! Kalau salah, pasti akan dimarahi. Semua orang juga begitu.

Meninggalkan nostalgia Tetsu dan Karada saat masih kelas 2 SD, pada dua chapter spesial ini saya diajak menyelami apa yang dirasakan oleh kakak Tetsu. Posisinya sebagai kakak dari sang pewaris tunggal kekayaan keluarga Amino membuat sang kakak sangat tersiksa. Berkali-kali ia dimarahi Kakek karena tidak menjaga Tetsu dengan baik. Semua perhatian hanya untuk Tetsu.

… Kenapa… Tetsu terus yang dipikirkan? Apa karena dia penerus Kakek? Memangnya penggantiku ada? Keluarga ini aneh! Aku sudah muak!

Kembali ke masa kini. Tetsu berjumpa dengan seorang nenek misterius bernama Nyonya Kikuko. Entah bagaimana, Nyonya Kikuko mengetahui tentang batu permohonan yang dicari-cari Tetsu dan berupaya mencari keberadaan batu permohonan untuk dirinya sendiri. Karena sudah renta, beliau didampingi oleh sepasang gadis kembar bernama Sae dan Yumiya.

Sae dan Yumi bersekolah di sebuah SMP yang akan dimasuki Tetsu tahun depan. Di sekolah itu ada seorang siswa kutu buku bernama Sasazuka. Perjumpaannya dengan Yumi membuatnya terpana dan ingin berkenalan dengan gadis itu. Sayangnya, Sasazuka adalah cowok yang lemah di hadapan cewek. Jangankan berbincang, menyapa Yumi saja ia tidak berani. Hadeh.

Secara kebetulan, Tetsumasa Amino berada di perpustakaan yang menjadi tempat favorit Sasazuka. Tetsu merasa Sasazuka adalah orang yang tepat yang bisa membantunya mencari batu permohonan karena Sasazuka sangat menguasai literatur di perpustakaan itu. Sasazuka yang terpaksa membantu Tetsu lambat laun justru membantu Yumi yang mencari info serupa.

Hanya saja, kita tidak tahu. Apakah batu ini hanya mitos atau sungguh-sungguh bisa mengabulkan permohonan. Syarat lainnya, bukan soal apakah batu itu mitos atau bukan. Tapi “menukar waktu”.

Well, saya ternyata salah menyebutkan pada review jilid kedua yang lalu bahwa komik ini akan tamat di jilid ketiga. Nyatanya, jilid empat adahal muara akhir kisah tentang batu permohonan ini. Naas, saya tidak memiliki jilid penutupnya. Pantas saja saat hampir menyentuh halaman terakhir, kok saya tidak menemukan jawaban tentang jalan keluar masalah Karada dan Shouko.

By the way, di jilid ini tidak ada Shouko lagi. Ia pergi dengan mencari sendiri jawaban atas masalahnya itu. Hal ini ia lakukan karena tak lain dan tak bukan setelah mendengarkan Hiro mengigau tentang masa lalunya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa saya sangat dibuat gemas dengan tamatnya cerita yang masih menggantung karena belum di jilid keempat. Huft.

Oh iya, dua chapter tambahan yang ada di jilid ini terasa tidak berguna karena menurut saya sama saja, baik utama atau sampingan, masih mendukung dengan garis besar cerita utama. Hanya saja, sangat disayangkan sekali Karada dan SHouko yang menjadi tokoh utama justru hilang dan digantikan oleh kemunculan Nyonya Kikuko, Sae, dan Yumi. I don’t like them at all.

Tidak ada halaman pada setiap lembar komik ini adalah hal yang saya kecewakan sejak jilid pertama. Penerbit m&c! kenapa pelit sekali mencantumkan nomor halaman sih? Padahal nomor halaman itu penting untuk menandai bagian-bagian yang menarik atau sebagai pengingat sebuah kejadian yang dirasa sangat berpengaruh untuk tokoh utama.

Akhir kata, saya merasa ini adalah komik yang aneh dari segi penyampaian cerita. Padahal gambarnya sudah cuup bagus dan idenya juga cukup menarik. Sayangnya hingga akhir jilid ketiga ini saya masih tidak paham bagaimana alur yang digunakan komikus untuk membangun jalinan cerita yang baik dan menaik untuk dinikmati pembaca. Sungguh disayangkan sekali.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 2)

coverdirection2

Judul: A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 2)

Komikus: Yamada J-Ta

Penerjemah: Ine Martiana

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 178

Terbit Perdana: Juni 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juni 2008

ISBN: 9789792317794

cooltext-blurb

Badan dewasa, tapi jiwa masih anak-anak, pastinya akan menimbulkan perasalahan. Tidak saja untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Begitu yang dialami Karada dan Shouko. Akibatnya, mereka ingin kembali ke kondisi semula. Tapi, apa bisa?

cooltext-review

*WASPADA! Review ini kemungkinan mengandung spoiler jilid sebelumnya!* Lima chapter yang disuguhkan di jilid kedua ini terasa sangat jauh perbedaannya dibandingkan jilid pertama yang lalu. Alurnya cenderung lebih cepat meskipun tidak terlalu kilat. Pada jilid kedua ini juga ada beberapa fakta yang mengejutkan saat Karada dan yang lainnya mencari batu.

Jilid pertama yang lalu diakhiri dengan terkejutnya Tetsu saat berada tepat di depan pintu gerbong kereta tatkala secara tidak sengaja Shouko yang sudah menjadi anak kecil memanggil gadis dewasa di depannya sebagai Karada. Awalnya Hiro dan Shouko tidak ingin melibatkan Tetsu, namun apa mau dikata. Semua sudah menjadi bubur.

Anak-anak memerlukan teman untuk berbagi rahasia. Kita berdua, adalah orang  dewasa, kan?

Demikianlah, Tetsu ikut bersama mereka ke kota lain untuk mencari batu permohonan lain yang bisa mengembalikan mereka seperti semula. Sebuah kenyataan menyakitkan yang harus ditemui ketika ingin melihat batu tersebut ternyata bukan akhir dari berbagai hal mengejutkan hari itu. salah satunya ketika festival di dekat penginapan yang dihadiri Karada dan Tetsu.

Tidak. Tidak mungkin itu anakku, kan? Youko juga tidak mungkin berpikir begitu, kan? Tapi aku merasa itu tidak ada hubungannya denganku.

Di tempat lain, Shouko sedang bersama Hiro di hotel. Saat itu ternyata Hiro sedang mabuk-mabukan di kamar karena merasa tertekan tidak bisa menghadapi kenyataan yang ada di hadapannya. Igauannya ketika sedang mabuk berat yang melibatkan Youko, adik ibu Hiro, membuka memori kelam tentang masa lalu pahit yang tidak seharusnya diketahui oleh Shouko.

Kenapa jadi begini? Menjadi dewasa itu menakutkan. Aku merasa semuanya menghilang.

Saya sangat terkejut dengan hal-hal yang terjadi di jilid kedua ini. saat jilid perdana yang lalu, saya merasa cerita komik ini akan sederhana dan bisa dibaca semua umur. Memang sih, di cover terlihat bahwa komik ini sebaiknya dibaca minimal oleh usia remaja. Tetapi saya jadi ragu tentang bobot kejadian yang ada di komik ini apakah sesuai dengan usia remaja atau tidak.

Contohnya saja ketika festival kembang api di dekat penginapan. Tetsu yang masih berusia akhir SD justru “mengotori” Karada yang masih polos dan lugu. Yah, meskipun tidak “terlalu kotor” tetapi tetap saja bkan hal yang pantas untuk dibaca oleh remaja. Jujur saya sangat benci dengan tokoh Tetsu yang sangat bodoh. Sebaliknya, saya sangat simpati dengan Karada.

Selain itu, flashback masa lalu yang dikisahkan ketika Hiro secara tidak sengaja menceritakan masa remajanya membuat saya lagi-lagi geleng-geleng kepala. Ini beneran komik remaja? Kok ada muatan seksual begitu? Memang tidak eksplisit sih, tetapi 99% sudah bisa ditebak arahnya kemana. Apalagi yang dialami Hiro ini sudah ranah yang sangat menjijikkan (menurut saya).

Overall, saya sudah antipati dengan Hiro dan Tetsu. Untung saja komik ini hanya memiliki tiga jilid saja. saya sudah tidak sabar membaca jilid penutupnya secepatnya agar tidak terlalu lama menyaksikan Tetsu dan Hiro, dua tokoh lelaki yang seharusnya tampil mengesankan justru malah menjadi tokoh menjjikkan dalam komik ini. Huft.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 1)

coverdirection1

Judul: A Direction of The Day After Tomorrow (Jilid 1)

Komikus: Yamada J-Ta

Penerjemah: Ine Martiana

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 178

Terbit Perdana: Mei 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2008

ISBN: 9789792317787

cooltext-blurb

Karada Iokawa seorang gadis kecil yang ingin cepat dewasa. Shouko Nogami, wanita dewasa yang merindukan masa kecilnya. Nasib mereka berubah lewat batu permohonan. Si kecil jadi dewasa, sedang yang dewasa, jadi gadis kecil. Bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka?

cooltext-review

Apakah kamu pernah menginginkan suatu hal yang ajaib dalam hidupmu? Akankah kamu bahagia dengan permintaanmu apabila bisa terkabul? Hal inilah yang dialami oleh dua tokoh utama komik yang memiliki prolog dan tujuh chapter ini. Keduanya saling memohon sebuah permintaan ajaib yang entah musibah ataukah anugerah, permintaan itu terkabulkan.

Iokawa Karada adalah gadis kecil yang akan memasuki dunia SMP setelah musim panas ini. ia tinggal berdua saja dengan kakak laki-lakinya bernama Iokawa Hiro setelah kematian kedua orang tuanya. Hiro kerja keras banting tulang untuk mencukupi kebutuhannya dan Karada yang masih kecil. Sayangnya, Karada menganggap dirinya adalah beban untuk kakakknya.

Masa lalu adalah sesuatu yang sudah pasti. Sekumpulan dari diri kita yang tidak bisa dihapus. Masa depan adalah sesuatu yang belum kita ketahui dan penuh dengan berbagai kemungkinan.

Di lain tempat, Nogami Shouko adalah rekan kerja sekaligus mantan pacar Hiro. Awalnya Hiro bekerja di luar negeri. Namun, karena insiden yang merenggut nyawa ayah ibunya, ia kembali ke Jepang dan memfokuskan diri merawat Karada. Hal ini menyebabkan hubungannya dengan Shouko harus diakhiri. Meskipun demikian, Shouko masih menyimpan rasa pada pemuda itu.

Dunia ini, terdiri dari hal-hal yang bisa kita ubah dan yang sama sekali tidak bisa kita ubah. Tetapi banyak sekali hal-hal yang sama sekali tidak bisa kita ubah.

Suatu hari, Karada dan Shouko berpapasan di jalan dan melewati sebuah batu yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Batu-batu tersebut ditempatkan dalam sebuah rumah kecil yang biasanya ditujukan untuk orang-orang yang meminta permohonan. Menganggap hanya iseng, Karada dan Shouko mengambil satu batu sambil memohon keinginannya terkabul.

Punyaku juga berubah jadi seperti arang. Aku sampai kaget. Kalau suatu permintaan sudah terkabul, mungkin jadinya seperti itu.

Siapa sangka permintaan Karada yang ingin segera dewasa dan Shouko yang ingin kembali menjadi anak kecil tiba-tiba terkabul dalam sekejap. Meski sangat kaget, mereka melibatkan Hiro dan berusaha kembali seperti semula. Masalah menjadi tambah rumit ketika Amino Tetsu, tetangga Karada yang curiga dengan kepergian teman sekelasnya itu secara tiba-tiba. Waduh!

Komik ini shoujo banget. Tokoh perempuan yang cantik dan tokoh laki-laki yang tak kalah cantik memang menjadi ciri khas komik semacam ini. Memang bagus sih, tapi jadinya agak kurang terlihat perbedaan laki-laki dan perempuan. Mungkin jika anak perempuan yang membaca komik ini akan merasa tertarik. Tapi kalau saya jadi merasa monoton. Hmm.

Secara isi cerita sesungguhnya cukup menarik. Permohonan yang terkabul secara tiba-tiba karena membawa batu yang disinyalir mengandung kekuatan gaib tidak umum saya jumpai. Namun demikian, meskipun sangat tidak masuk akal, kisahnya dikemas cukup realistis dan tidak menambah keajaiban itu lebih dalam lagi.

Namanya saja masih jilid pertama, tidak banyak hal seru yang bisa dijumpai. Semua masih tentang perkenalan tokoh dan awal mula konflik utama. Yang masih menjadi pertanyaan saya adalah mengapa Shouko ingin kembali menjadi anak-anak? Alasan keinginannya saya lihat belum sekuat keinginan Karada. Ataukah saya yang kurang teliti membacanya? Entahlah.

Akhir jilid pertama ini diakhiri dengan menggantung ketika Hiro, Shouko, dan Karada hendak ke sebuah daerah yang memiliki informasi cara mengembalikan tubuh mereka berdua. Secara tak sengaja, Tetsu melihat mereka dan terkejut saat menyaksikan tubuh Karada. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Mari simak review saya untuk jilid kedua nanti ya!

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Angan Senja & Senyum Pagi

coverangan

Judul: Angan Senja & Senyum Pagi

Penulis: Fahd Pahdepie

Penerbit: Falcon Publishing

Jumlah Halaman: 360

Terbit Perdana: Maret 2017

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2017

ISBN: 9786026051455

Format: Paperback

cooltext-blurb

Hujan malam itu lambat dan panjang. Angan dan Pagi saling mematung, terpisah jarak dari kisah mereka yang beku di ujung waktu. Lanskap taman seolah tak ingin menunjukkan diri, lampu merkuri temaram di antara mereka berdua, dikaburkan rintik hujan.

Angan memerhatikan wajah Pagi. Wajah itu, wajah yang pertama kali ia lihat belasan tahun lalu dan membuat matanya nyalang semalaman, wajah yang entah bagaimana diciptakan Tuhan dengan alis yang sempurna, hidung yang sempurna, bibir yang sempurna… Tak pernah bisa pergi dari inti memorinya selama ini.

Angan melangkah mendekat ketika payung miliknya lepas dari genggaman. Kemudian ia menarik ujung payung bening milik Pagi. Angan masih bisa melihat wajah Pagi dari balik payung bening itu, meski titik-titik hujan masa lalu sedikit mengaburkannya. Namun, itu cukup buat Angan… Itu cukup. Sebab ketika ia mengecup payung itu, seolah di kening Pagi, ia tak perlu menjelaskan apa-apa lagi…

Tentang Angan Senja yang tak pernah berhenti menanti Senyum Pagi.

“Kisah cinta yang dewasa. Liris. Manis. Puitis.” —Reza Rahadian, Aktor

“Novel yang indah. Ada rasa kesal, lega, sedih, haru, kecewa, bahagia. Semua jadi satu.” —Bunga Citra Lestari, Aktris dan Penyanyi.

cooltext-review

CLBK sering digunakan sebagai akronim Cinta Lama Bersemi Kembali. Namun, kadang ada pula yang mengatakan CLBK adalah kependekan dari Cinta Lama Belum Kelar. Novel berjudul Angan Senja & Senyum Pagi ini sepertinya mengangkat kepanjangan CLBK yang kedua sebagai inti utama kisahnya. Cinta belasan tahun kemudian antara dua sejoli yang menghiasi buku sepanjang 360 halaman ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Penasaran?

Mari berkenalan dengan tokoh utama pria, Angan Senja. Pemuda berusia 35 tahun ini adalah seorang akuntan hebat di bidang pajak dan keuangan yang sangat sukses berkarir di Jakarta. Statusnya yang masih lajang belum cukup ditutupi oleh berbagai prestasi membanggakan sejak masa sekolah hingga dewasa. Perhatian serius dari ibunya sendiri yang tidak terlalu dianggap oleh Angan berujung pada perginya Ibun –panggilan ibu Angan– menghadap Sang Khalik.

Tapi males aja. Di Indonesia jadi ilmuwan nggak ada masa depannya. Ekonomi lebih asyik… (Halaman 51)

Sepeninggal Ibun, Angan menghadapi sebuah wasiat dari almarhumah yang meminta Angan segera membina rumah tangga. Bahkan Ibun telah mempersiapkan calon istri untuk anak semata wayangnya itu. Meskipun demikian, Angan justru teringat pada masa-masa sekolah menengah. Saat ia merasakan cinta, kebahagiaan, sekaligus penderitaan hingga hampir tujuh belas tahun terakhir karena seorang perempuan.

Adalah Senyum Pagi, sang primadona sekolah penyuka musik dari Dewa 19 sekaligus perebut hati Angan. Perjumpaan tak sengaja di sebuah bilik tak terpakai di sudut sekolah antara Angan dan Pagi membuat mereka semakin dekat. Meskipun terpaut dua jenjang tingkatan kelas, Pagi berencana mengungkapkan perasaannya pada adik kelasnya yang langganan juara olimpiade matematika itu. Sayang, rencana yang matang harus berakhir tanpa ungkapan.

Hidup tetap indah, kok, meski kita tak bisa menyelesaikan hitungan-hitungan matematika. Sebab hidup jadi indah karena kita tak selalu dapat memperhitungkannya, kan? (Halaman 66)

Kondisi yang satu merasa tidak pantas untuk yang lain akhirnya memupuskan hari penting itu. Hujan deras seakan mewakili perasaan Pagi yang harus menyingkir dari kehidupan Angan selama-lamanya. Tujuh belas tahun berselang, Pagi telah tumbuh menjadi ibu tunggal berusia 36 tahun dari seorang anak perempuan bernama Embun. Bakat alami sang anak membawanya berjumpa dengan Angan, masa lalu yang ia coba hapus dari memorinya.

Musik itu matematika perasaan. Mungkin ia bisa dikalkulasi, tapi punya kemungkinan yang tak terbatas… Infinity. (Halaman 183)

Perjumpaan antara Senyum Pagi dan Angan Senja tidak bisa dibilang mulus. Meski keduanya telah “menyelesaikan” apa yang seharusnya diakhiri belasan tahun yang lalu, keduanya tidak bisa memaksakan keadaan. Terlebih Pagi berencana menikah dengan seorang pengacara sukses bernama Hari beberapa pekan lagi. Pun demikian dengan Angan yang merasa bersalah karena masa lalu akhirnya mencoba menunaikan wasiat Ibun dengan melamar sepupu jauhnya, Dini.

Mungkin aku tak akan bisa melupakan Pagi. Tapi, bersama Dini aku bisa bahagia, meski tak sama dengan saat aku bersama Pagi. (Halaman 258)

Novel ini memiliki 35 bab utama beralur maju dengan latar masa kini serta 10 bab sampingan berisi flashback masa SMA yang terdiri atas empat bab dari sudut pandang Pagi dan enam lainnya dari sudut pandang Angan. Melalui sepuluh bab masa lalu inilah pembaca bisa merasakan betapa kuatnya rasa cinta yang dialami kedua tokoh utama saat itu.

Akhir masa SMA tidak turut mengkahiri kisah cinta Angan dan Pagi. Persepsi kebahagiaan yang kelak akan ditemui membuat satu sama lain harus menelan pahitnya kehilangan tanpa ada kejelasan. Namun, siapa sangka tujuh belas tahun kemudian Angan dan Pagi dipertemukan ketika situasi tak lagi sama dengan sebelumnya. Inilah saat pendirian keduanya diuji.

Pada umumnya kejujuran bisa menyelesaikan masalah. Pun demikian dengan masalah Angan dan Pagi yang mengganjal dimasa lalu. Keduanya memang tidak jujur pada perasaan masing-masing. Mereka memahami perasaan mereka sendiri namun tidak saling tahu tentang perasaan yang lain. Naas, kejujuran mereka sekarang justru menimbulkan masalah baru.

Rasa cinta akan menemukan jalan dan muaranya masing-masing. Sekuat apa pun setiap orang menahannya, sejauh apa pun jalan yang harus ditempuh… Jika mereka ditakdirkan bersama dan saling mencintai, mereka akan bersama pada waktunya. (Halaman 159)

Setiap halaman buku ini sejak awal hingga hampir akhir membawa pembaca turut hanyut pada perasaan Pagi dan Angan. Sudut pandang orang ketiga membuat eksplorasi perasaan tokoh tidak ada yang lebih unggul. Semua mengundang simpati pembaca. Bahkan tokoh yang pada awalnya terasa kurang baik ternyata menyimpan suatu hal yang cukup mengecoh.

Novel ini memiliki jumlah halaman yang cukup tebal dengan tulisan yang tidak terlalu kecil. Seharusnya jumlah halaman bisa dikurangi dengan sedikit mengecilkan ukuran huruf. Atau tetap mempertahankan halaman yang tebal dengan mengecilkan tulisan, tetapi ditambah beberapa bagian yang kurang. Misalnya kisah perjuangan Angan setelah berpisah dengan Pagi.

Bab pertama hingga bab 32 yang sangat mengagumkan seolah merupakan tanda bahwa lima bintang patut disematkan untuk novel indah karya Fahd Pahdepie ini. Sayang, bab 33 dan bab 34 sanggup menggugurkan satu bintang penilaian. Akhir kisah yang terasa amat dipaksakan dan kurang realistis justru merusak sederhananya kepingan kisah yang tersaji sebelumnya.

Meskipun demikian, novel ini termasuk karya yang bagus. Penulis tidak menggunakan istilah sulit dan bahasa tinggi, melainkan dengan lugas menyampaikan maksud melalui kalimat yang pendek dengan diksi yang sangat kaya. Perpindahan latar waktu masa kini dan masa lalu terlihat jelas perbedaannya sehingga pembaca tidak dibuat bingung.

Chemistry yang terbangun antar tokoh juga tidak bisa dilupakan begitu saja. Semua memiliki porsi masing-masing, tetapi tidak mengikis eratnya hubungan yang terjalin satu sama lain. Sejak awal hingga akhir cerita, sang penulis piawai memperhatikan ikatan tersebut meskipun banyak gejolak penting yang mengiringi kehidupan sang tokoh. Sangat bagus.

Tambahan bintang penilaian juga disebabkan oleh banyaknya singgungan matematika dan musik yang dapat menyatu sehingga menghasilkan alunan nada indah. Bahkan Embun berpartisipasi pada acara bertajuk Mathematical Concert. Meski awalnya kurang jelas konsep itu, penjelasan Angan tentang frekuensi dari senar alat musik sedikit menghalau rasa penasaran.

Satu lagi hal yang sangat unik dari novel ini adalah nama para tokohnya yang sangat Indonesia. Selain Angan Senja dan Senyum Pagi, sebut saja Embun Fajar, Nyala Cakrawala, Dini Cahya Wulan, Wak Siti, hingga Wak Sabar dan Pakde Slamet. Hal ini seolah mengindikasikan kata-kata dalam bahasa Indonesia sangat keren saat menjelma menjadi nama seseorang.

Kegelisahan perasaan Angan, kalutnya pikiran Pagi, kerasnya kemauan Hari, serta santunnya seorang Dini adalah hal-hal yang sangat memukau di novel ini. Hangatnya keseharian Angan dan Pagi saat masa sekolah serta bimbangnya masa kini yang dijalani oleh keduanya membuat novel ini sulit ditinggalkan sebelum halaman terakhir tanpa menyisakan rasa penasaran.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus