Rss

Archives for : March2015

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 19)

coveryakitate19

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 19)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2011

ISBN: 9789792791549

cooltext1660180343

Duel mati-matian dengan lawan tangguh, Norihei, telah usai. Berikutnya sudah menunggu Panda Man misterius. Terlepas apa akan meledak seperti ketenaran Train Man, Kalahkan dia dengan Japan andalanmu!

cooltext1660176395

Wauw, tak terasa saya udah membaca dan meresensi hingga jilid ke-19. Semakin kesini pertandingan yang dihadapi Azuma cs semakin menarik saja. Jilid kali ini dibuka dengan bagian 163 “Evolusi Kawachi” yang menceritakan kelanjutan pertandingan kemarin antara Azuma dan Norihei. Setelah 5 kali berturut-turut menang, kali ini Azuma harus menerima kekalahannya.

Kalau roti, mending diisi bahan yang renyah seperti pate phyllo yang tekstur dan rasa pun lebih cocok daripada bahan sulit dikunyah seperti rice paper! (Hal. 14)

Beranjak menyongsong pertandingan selanjutnya, diceritakan pada bagian 164 “Di Belakang Panel” ketika Shigeru mulai mengendus suatu hal mencurigakan pada pertandingan. Berkali-kali tema yang dilombakan selalu dikuasai oleh perwakilan St. Pierre. Yah meskipun hanya Norihei saja yang bisa menang, tentu kecurigaan Shigeru tidak bisa sirna.

Artinya… Kemungkinan besar St. Pierre sudah tau lokasi pertandingan sebelumnya. (Hal. 24)

Meskipun Shigeru sangat yakin, tidak adanya bukti membuatnya dan Azuma (serta Kawachi) harus tetap berjuang apapun yang terjadi. Pada bagian 165 “Identitas Asli Panda” diceritakan bahwa lokasi pertandingan selanjutnya adalah Kota Gero di Prefektur Gifu. Yang membuat terkejut, lawan kali ini adalah seseorang berkostum panda!!

Bertanding seri melawanmu… Lalu, kalah… Mengubah seluruh jati diriku… (Hal. 42)

Tak perlu susah-susah menyembunyikan jati diri dibalik topeng, ternyata Azuma dkk sudah mengetahui siapa seseorang dibalik kostum panda itu. Pada bagian 166 “Kepercayaan Diri Kawachi” ini berisi tentang semangat membara Panda untuk mengalahkan Azuma. Bahkan Mizuno (ups spoiler nggak yah) juga terkesan dengan semangat juang Panda.

Panda-chan yang kerja di bakeri juga hebat. Tapi dalam pertandingan, semangat juang pun jadi lebih besar, ‘kan? (Hal. 62)

Pada bagian 167 “Yang Bisa Dilakukan Sekarang” mengisahkan bagaimana akhirnya Kawachi “sadar” dari kebodohannya selama ini. Ia yang sebenarnya bagian dari tim justru tidak memberi kontribusi apapun sepanjang pertandingan. Hal inilah yang membuat Shigeru sedikit sebal dan kecewa dengan Kawachi. Lantas, benarkah Kawachi telah berubah?

Kau pikir, kami sungguhan membodohimu dengan menganggapmu sebagai penonton dan mengabaikanmu. (Hal. 78)

Tibalah saat pertandingan! Di kota Gero yang cerah, Azuma + Shigeru melawan Panda membuat roti kukus terhebat. Pada bagian 168 “Mimpi Mokoyama” ini diceritakan bahwa si Panda bisa membuat roti kukus yang meledak berkali-kali. Padahal pada hakikatnya roti kukus diibaratkan seperti balon yang hanya bisa meledak satu kali saja. Hmm, apakah benar demikian?

Roti kukus alps yang meledak berkali-kali… Kalau trik itu benar-benar ada, lawan jelas tak terkalahkan! (Hal. 95)

Sambil menunggu roti kukus buatan Azuma dan Shigeru (jangan tanya dimana Kawachi), roti kukus buatan Panda telah selesai lebih dahulu. Sehingga pada bagian 169 “Kuroyan X” ini dikisahkan mengenai proses penjurian roti milik Panda oleh sang juri, Kuroyanagi. Lagi-lagi reaksi yang ditimbulkan tidak biasa (khas Kuroyan banget!)

Selama ini dia sering menunjukkan no reaction seperti ini dan ternyata ada sesuatu, tapi… (Hal. 113)

Selanjutnya pada bagian 170 “Walau Tak Bisa Naik Kereta” gantian roti kukus Azuma yang dinilai. Lagi-lagi reaksi yang dilakukan Kuroyan sungguh lebay dan cenderung berbahaya. Bahkan kali ini reaksi yang ditimbulkan dari hasil pertandingan juga turut mempengaruhi lawan Azuma kali ini. Hmm kenapa ya kira-kira.

Aduh, Kuroyan… Sudah bikin keributan ternyata hanya bereaksi begitu… (Hal. 135)

Sejenak melupakan pertandingan Pantasia vs St. Pierre, pada bagian 171 “Atshushi dan Akatsuki” kali ini saya diajak berkenalan dengan tokoh selingan bernama Akatsuki Yamatoya. Bocah cilik kaya raya tajir melintir ini ingin menikmati roti kukus buatan Azuma seperti di pertandingan tempo hari. Tentu saja Pantasia tidak menjualnya. Mengetahui hal itu, Azuma bersedia membantu Yamatoya mendapatkan roti itu…dengan tangannya sendiri!

Menurutku… Bocah itu dasarnya bukan orang jahat… Tapi sikapnya yang menggampangkan urusan dengan uang tidak baik. (Hal. 154)

Jilid ini kemudian diakhiri dengan bagian 172 “Dinginkan Kepalamu!” ketika Yamatoya dan (lagi-lagi) Kawachi selesai mencicipi roti buatan Yamatoya. Mereka berdua terlempar ke sebuah dunia lain yang membuat mereka tidak sadarkan diri. Hanya yang berhasil memahami pesan Azuma lah yang bisa kembali ke dunia nyata. Hmm berhasilkah mereka berdua?

Bocah sombong yang tahunya cuma uang sepertimu mending mati di pinggir jalan seperti anjing dunia ini. (Hal. 171)

Huwaah, agak sedih rasanya harus berpisah dengan Norihei Miki. Hal ini tak lain dan tak bukan karena desain karakternya unyu banget dan nyeleneh sendiri dibandingkan tokoh lain. Agak sayang sih kenapa Norihei tidak menjadi tokoh tetap aja.

Kemunculan Panda dan Mizuno sebenarnya tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Selain karena saya juga udah tau siapa jati diri Panda, rasanya jadi tak ada sesuatu yang baru gitu. Padahal tehnik roti kukus yang dilakukan kedua peserta juga cukup hebat lho.

Saya justru tertarik dengan selipan cerita dengan tokoh cameo Yamatoya. Iya benar, ada Yamatoya asli di Jepang sana lho! Cerita ini, meskipun hanya terdiri dari dua chapter saja, pesan moralnya dapet banget. Saya nggak mau cerita banyak ah biar nggak spoiler hehehe.

Selain itu, pertandingan rival antara Pantasia dan St. Pierre semakin mendekati pertengahan. Keadaan yang terbalik membuat Azuma cs harus berusaha keras agar bisa menang. Oh iya, agak mengenaskan juga sih ketika perwakilan Pantasia menginap di sebuah penginapan yang namanya sangat tidak enak diucapkan hehe. Jadi, lanjut baca resensi saya untuk jilid 20 nanti ya :D

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Jomblo

P

Judul: Jomblo

Sub Judul: Sebuah Komedi Cinta

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 211

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Kedua Puluh, 2013

ISBN: 9789797806859

cooltext1660180343

Empat sahabat dengan masalah mereka dalam mencari cinta.

Yang satu harus memilih—seorang yang baik atau yang cocok.

Yang satu harus memilih—antara seorang perempuan atau sahabat.

Yang satu harus memilih—lebih baik diam saja selamanya atau menyatakan cinta.

Yang satu harus memilih—terus mencoba atau tidak sama sekali.

Jomblo adalah sebuah novel yang menjawab semua pertanyaan itu. Pertanyaan yang kita temukan sehari-hari, baik dalam cerita teman atau cerita kita sendiri.

Maret – Adaptasi Buku ke Film

cooltext1660176395

Jomblo itu mungkin bagi sebagian orang adalah status diri yang cukup menyedihkan. Sebagian lain beranggapan jomblo adalah suatu pilihan yang bertanggungjawab. Saya tidak akan membahas jomblo berdasarkan norma agama ataupun nilai sosial. Yang jelas, status jomblo pasti pernah dialami sebagian besar masyarakat Indonesia.

Saya tidak tahu kapan dan siapa yang mencetuskan istilah jomblo. Namun julukan bagi seseorang yang tidak memiliki kekasih ini lebih booming pada kalangan anak muda antara usia sekolah hingga bangku kuliah. Terkadang status jomblo bisa dijadikan lelucon, tetapi seringkali jomblo sangat membuat hati gundah gulana #uhuk #bukancurcol.

Begitu pula yang dialami oleh empat sahabat berjenis kelamin laki-laki bernama Agus Gurniwa, Doni Suprapto, Olfiyan Iskandar, dan Bimo. Sebagai mahasiswa teknik sipil UNB angkatan 96 (gile saya ngerasa muda banget!), sebuah universitas yang minim kaum hawa, menyebabkan mereka dengan bangga menyandang status jomblo. Akibatnya demi memperluas area pencarian jodoh, mereka sengaja bertandang ke kampus tetangga, UNJAT, agar memperoleh akses kepada kaum hawa yang lebih baik.

Hal yang paling memalukan di dunia ini adalah terekspos menjadi jomblo dan jual pesona di kampus orang lain. (Hal. 5)

Sebelumnya saya beri tahu ya, jika kamu menginginkan novel cerita romansa anak muda yang baik-baik dan berbudi luhur nan terpuji, maka kamu tidak perlu repot-repot membaca novel ini. Soalnya keempat orang geng jomblo ini datang ke UNJAT selain ngecengin cewek-cewek, juga dalam rangka menemani Bimo membeli … ganja.

Bener kok kamu ngak salah baca. Kalau sebagian besar novel dengan tokoh anak kuliahan didominasi sifat rajin dan pintar, disini sudah diawali dengan Bimo, sang anak rantau dari Yogyakarta, yang doyan ngemil (?) ganja. Bimo ini anaknya meskipun sangar dan pengguna aktif barang haram tersebut, pengalamannya dalam urusan cinta masih nol besar.

Berbeda dengan Bimo, Agus Gurniwa adalah seorang pemuda Sunda yang menjunjung tinggi logat tanah kelahirannya dalam setiap percakapan. Sayangnya, kehidupan cintanya tidak bisa mencapai puncak tertinggi alias krik krik krik. Namun semua tak berlangsung lama. Berkat permintaan kakaknya membeli keju di pasar, ia bertemu kawan masa sekolahnya dulu bernama Rita Sumantri. Sudah bisa diduga akhirnya Agus dan Rita memasuki tahap pacaran gara-gara keju #terimakasihkeju

“…Kamu yang dulu celananya sering digantungin di tiang bendera kan?” (Hal. 24)

Mari sejenak melupakan Agus. Selanjutnya ada Olfiyan Iskandar yang biasa dipanggil dengan Olip. Dia yang berasal dari Aceh ini sebenarnya mirip-mirip Bimo sih dalam urusan asmara. Hanya saja, sebenarnya Olip sudah memiliki tambatan hati sejak dua tahun yang lalu. Gadis pujaannya ini bernama Asri.

Yang jadi masalah adalah, Olip ini orangnya sangaaaaaaat takut kenalan dengan Asri. Boro-boro Asri kenal, tahu ada spesies bernama Olip di kampusnya juga enggak. Yasudah otomatis Olip hanya bisa memandangi keelokan paras Asri yang anggun dan kalem setiap hari rabu di Kantin Tengah (kenapa rabu dan kantin apa itu? Baca sendiri yee)

Olip kembali konsentrasi pada bidadari paginya. (Hal. 42)

Konflik pertama dialami oleh Bimo. Sudah saya katakan kemampuan Bimo berinteraksi dengan cewek bagaikan anak balita yang diminta lompat indah di kolam renang. Sebuah telepon salah sambung di kos Bimo membuka gerbang perkenalan Bimo dengan seorang gadis.

Gadis yang mengaku bernama Febi ini memiliki suara yang lembut dan sesuai dambaan Bimo. Merasa tidak cukup hanya bercakap selama beberapa minggu melalui telepon SAJA, Bimo mengajak Febi ketemuan. Setelah beberapa kali menolak, Febi akhirnya setuju. Sayangnya pertemuan Febi dan Bimo sungguh diluar dugaan.

Oh iya ketinggalan satu orang lagi. Dia bernama Doni Suprapto. Sebenarnya paras Doni lumayan ganteng dan dari golongan cukup berada. Sayangnya kebiasaan free sex dan enggan berkomitmen dengan perempuan membuatnya betah menyendiri. Ia merasa hubungan dengan cewek tidak perlu terikat. Yang penting sama-sama senang, yasudah.

Merasa kasihan dengan Bimo, akhirnya Doni mengajaknya ke sebuah acara di diskotek untuk memberi pelajaran tata cara berkenalan dengan cewek. Agus ikut serta namun Olip tidak bergabung karena sedang diare (ahelah penyakit sejuta umat anak kos banget).

Disana mereka bertemu dengan seseorang yang sangat familiar. Ternyata dia adalah Asri yang berpenampilan jauh berbeda dibanding saat di kampus (ya iyalah, mosok ya ke diskotek pakai kemeja dan bawa ransel). Merasa ini adalah kesempatan berkenalan dengan Asri agar Olip lebih mudah untuk berhubungan, mereka bertiga mendatangi Asri dan kawan-kawannya.

Agus melihat sebuah pemandangan yang tidak dia percayai. Dia melihat Doni menggamit Asri dan hilang di balik pintu keluar. (Hal. 104)

Di sisi lain, Agus merasa hubungannya dengan Rita menjadi tidak sehat. Ratu drama, posesif, dan semaunya sendiri membuat Agus merasa tertekan. Padahal sifat keibuan dan kalem yang dimiliki Rita adalah hal yang membuat Agus tergila-gila pada awalnya. Sayangnya, Agus tidak bisa menahan dan akhirnya berselingkuh dengan Lani, anak teknik industri angkatan 96, tanpa sepengetahuan Rita (ya iyalah mana aja selingkuh bilang-bilang zzz).

Sementara itu, setelah tiga tahun berdiam diri tanpa langkah apapun, Olip akhirnya mencoba berkenalan dengan Asri di hari rabu di Kantin Tengah #teteup. Entah terlalu gugup atau terlalu semangat, Asri menjadi enggan berdekatan dengan Olip. Sebuah jawaban telak bahkan diberikan Asri pada Olip yang akhirnya membuat Olip tak berkutik. Jawaban apakah itu? Lantas, bagaimana akhir kisah asmara dan persahabatan Doni, Agus, Bimo, dan Olip? Silakan baca bukunya deh.

Sebenarnya inti kisah masing-masing tokoh pria di buku ini sangat lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan anak muda. Bimo adalah potret seorang pria cupu yang tidak memiliki pengalaman interaksi apapun terhadap lawan jenis. Agus adalah representasi seorang pemuda yang jenuh dengan hubungan pacaran dan mengambil jalan keluar singkat.

Doni merupakan tipe anak muda doyan hura-hura dan seks bebas yang menganggap komitmen dengan perempuan adalah hal yang sangat merepotkan. Sedangkan Olip adalah seorang secret admirer yang betah berlama-lama mengagumi gadis pujaan tanpa inisiatif memulai perkenalan. Meskipun begitu, rasa persahabatan mereka cukup erat kok.

Kalau boleh saya berkomentar, sebenarnya masalah yang terjadi dalam kehidupan mereka berempat sangat biasa dan tidak bombastis amat. Bahkan pertemuan Asri dan Lani di toilet terasa kaku, dipaksakan, dan terlalu kebetulan. Oh iya, tindakan Agus wara-wiri memakai kostum ayam demi Lani juga terasa sangat janggal bagi saya, baik alasan maupun tujuannya.

Saya juga merasa konflik setiap tokohnya hanya diselesaikan sekilas tanpa ada keberlanjutan yang lebih jauh. Penyelesaian urusan Lani dan Agus di restoran yang diakhiri dengan ciuman bibir juga membuat saya mengernyit. Haloo, itu restoran masih ada di Indonesia lho ya. Kalau mau cipokan mbok ya jangan di tempat umum #ehsaranapaini.

Ketika sudah mencapai halaman terakhir, saya agak kecewa. Memang urusan asmara dan persahabatan mereka berempat sudah bisa dikatakan terselesaikan. Tetapi tidak tuntas penyelesaiannya. Saya sangat berharap ada epilog tentang kehidupan selanjutnya para tokohnya. Oh iya selain itu yang pasti, gaya hidup tokoh-tokohnya yaitu free sex, drugs, dan minuman keras di diskotek bukan perilaku yang patut dicontoh generasi muda ya.

Namun beberapa kekurangan diatas tertolong oleh gaya penulisan yang kocak dan menghibur. Celetukan dan kalimat-kalimat tidak penting membuat suasana tulisan menjadi segar dan tidak membosankan. Berkali-kali saya dibuat ngakak dengan serpihan-serpihan banyolan penulis pada beberapa sisi tulisan. Tapi meskipun begitu, penulis tetap berhasil menyampaikan inti setiap bagian cerita dengan baik hingga halaman terakhir.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Resensi ini saya posting dalam rangka Baca Bareng BBI. Tema bulan Maret 2015 adalah buku yang diangkat menjadi film. Buku Jomblo karya Adhitya Mulya ini sudah diangkat ke layar lebar pada tahun 2006 dengan pemain-pemain muda (pada masa itu) antara lain Dennis Adhiswara, Rizky Hanggono, Christian Sugiono, Ringgo Agus Rahman, Rianti Cartwright, Nadia Saphira, Karenina, dan Richa Novisha. Berikut ini trailer filmnya.

Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dan Mitzy Christina dari SinemArt adalah produser film ini. Para pemainnya juga berhasil menghidupkan tokoh dalam novel dengan baik (tidak seperti kebanyakan artis jaman sekarang yang cuman modal tampang doang tapi kualitas akting zzzz). Meskipun kocak dan penuh adegan menggelitik, pesan dan makna dalam film ini tersampaikan dengan baik sesuai novelnya. Apalagi Rianti Cartwiright sangat cantik #aduh #gagalfokus.

[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=rsgV48WdMvI[/youtube]

Karya layar lebar hasil arahan sutradara Hanung Bramantyo ini meraih nominasi beberapa ajang penghargaan film, antara lain: nominasi Festival Film Indonesia 2006 untuk Piala Citra kategori Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik; nominasi Festival Film Jakarta 2006 kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terpilih, Pemeran Pembantu Wanita Terpilih, Penulis Skenario Asli Terpilih, Penata Musik Terpilih, dan Penata Suara Terpilih; nominasi MTV Indonesia Movie Awards 2006 kategori Most Favorite Actor, Most Favorite Rising Star, Most Favorite Heart Melting Moment, Best Crying Scene, Best Director, dan Best Movie of The Year.

Saking suksesnya novel dan film ini, bahkan RCTI menayangkan Jomblo The Series (yang saya tidak ingat pernah menontonnya) pada tahun 2007 namun dihentikan penayangannya di tengah jalan karena masalah rating. Padahal tanggapan dari para netizen yang saya baca pada suka loh. Kemudian sempat ditayangkan ulang pada November 2014 lalu (yang saya juga enggak pernah nonton heheheh).

Yakitate!! Ja-Pan Desuyo! (Jilid 18)

coveryakitate18

Judul: Yakitate!! Ja-Pan Desuyo! (Jilid 18)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 196

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2010

ISBN: 9789792784879

cooltext1660180343

Kini berdiri Norihei Miki dari Momoya menghadang Kazuma Azuma yang hendak menyempurnakan Japan! Bagaimana cara Azuma menghadapi lawan tangguh yang mustahil ditaklukkan dalam adu nori!? Telah hadir jilid 18 yang mendebarkan baik tentang arah pertandingan maupun soal perizinan!

cooltext1660176395

Yosshh komik Yakitate!! Ja-Pan sudah memasuki jilid 18. Aslinya sih komik ini udah tamat diterbitkan. Tapi saya masih baca sampai jilid ini. Jadi nggak apa-apa lah ya saya review nya juga nyicil heheheh. Jilid ini dibuka dengan bagian 153 “Tekad Azuma” mengenai pencarian Shigeru dan Kawachi mencari bahan terbaik untuk membuat selai terlezat. Lantas, Azuma dimana? Karena terlalu lelah dan ngedrop, Azuma harus beristirahat di rumah sakit dan tidak bisa ikut bertanding

Justru selai lebih enak dimakan saat hangat! (Hal. 4)

Selanjutnya bagian 154 “Ide Terbaik” menampilkan pagi hari sebelum pertandingan dimulai. Tak disangka, Hashiguchi Takashi (ayah Tsutsumi dan Shigeru, bukan komikus komik ini) turut hadir menyaksikan pertandingan kedua putranya. Tentu saja dengan bala tentara orang-orang sangar di belakangnya.

Padahal selama ini tak pernah hadir di pertandingan olahraga atau hari kunjungan orangtua… Begitu urusan pewaris kelompok Hashiguchi, baru, deh… (Hal. 32)

Mengambil lokasi kota Shinano, pertandingan kali ini diperkirakan cukup alot. Sayangnya, Hashiguchi dan kroni-kroninya yang buta dunia kuliner mulai merasa kedatangan mereka akan membosankan dan sia-sia belaka. Oleh karena itu, sang ayah meminta sedikit bantuan kepada Manajer pada bagian 155 “Inti Dari Segalanya” ini.

Aku minta maaf atas keburukan kami selama ini… Tokong kabulkan satu permohonan ini. (Hal. 51)

Pada bagian 156 “Pengganggu”, pertandingan sudah berlangsung. Sudah dapat diduga, Tsutsumi menggunakan panci (atau wajan?) Yang terbuat dari batu lava sehingga membuat selai yang dimasak akan matang sempurna. Apalagi trik khusus yang mencengangkan turut menambah kemeriahan teknik Tsutsumi ini.

Aku menerapkan semua teknik tradisional dan membuat selai terhebat yang pernah ada. (Hal. 66)

Nah, sejauh ini ada yang penasaran nggak sih apa profesi ayah Shigeru dan Tsutsumi? Sampai-sampai baik Shigeru ataupun Tsutsumi tidak mau menjadi pihak yang kalah dalam pertandingan hehehehe. Pada bagian 157 “Lelaki Kelas Satu” ini akhirnya diumumkan siapa pemenangnya setelah Kuroyan mencicipi roti buatan Tsutsumi dan Shigeru. Lalu pemenangnya siapa?

Menang atau kalah sangat penting bagi kami sampai tak bisa dibandingkan dengan pertandingan sebelumnya dan lebih penting daripada sekadar jadi yakuza bagi yang kalah! (Hal. 91)

Setelah meninggalkan pertandingan keempat, mari beranjak menuju pertandingan kelima. Karena Azuma sudah sembuh dari sakit, kali ini ia bisa ikut berpartisipasi pada bagian 158 “Kekuatan Azuma”. Sebelum pemilihan kotak untuk penentuan lokasi pertandingan, mereka bertiga sudah dikejutkan dengan lawan kali ini. Bahkan kenyataan menakjubkan terkait judul komik jilid ini juga membuat semuanya terhenyak.

Tak usah peduli siapa lawan kita! Yang penting, bikin roti seperti biasa! (Hal. 109)

Lawan dari perwakilan St. Pierre adalah Norihei Miki. Ia adalah seorang ahli dalam bidang pembuatan nori (rumput laut kering). Beliau adalah ikon seorang jenius dalam dunia nori. Yang membuat pusing adalah, pada bagian 159 “Kawachi dan Kura-Kura” ini ternyata lokasi pertandingan ada di Uppurui, kota yang terkenal akan nori! Wah, bagaimana ini ya..

Biar dicoba menutupinya dengan roti seenak apa pun, kita tak mungkin menang. (Hal. 130)

Meskipun begitu, Azuma memiliki sebuah trik yang diharapkan bisa mengalahkan roti buatan Pak Norihei. Pembuatan roti ini dituangkan pada bagian 160 “Adonan Lembut Mengembang” yang cukup menarik. Sayangnya, mereka bertiga (ehm, Shigeru dan Azuma aja, Kawachi nggak usah dihitung) masih belum yakin dengan keampuhan trik Azuma ini.

Kita hanya perlu bikin adonan lembut mengembang seperti nasi yang baru matang. (Hal. 145)

Pada hari pertandingan, tak disangka Azuma dan Pak Norihei menerapkan teknik yang serupa dalam pembuatan creaming dari mentega yang dikocok-kocok. Pada bagian 161 “16 Pulau” ini Kawachi, Tsukino, dan Manajer mulai ragu dengan kelanjutan pertandingan. Pasalnya, jika teknika yang digunakan Azuma dan Pak Norihei sama, tentu ini adalah kekalahan telak untuk Pantasia. Yah meskipun begitu, Kuroyanagi tetap menilai roti Azuma dengan reaksi yang cukup ekstrim.

Kalau melakukan hal lain di luar membuang gas setelah fermentasi pertama, gluten yang sudah terbentuk akan hancur! (Hal. 164)

Bab terakhir sekaligus penutup jilid ini adalah bagian 162 “Rating Cerai Sunday” ketika penilaian dilakukan untuk roti Pak Norihei. Sama seperti roti Azuma, reaksi yang diberikan oleh Kuroyan juga sangat tidak biasa. Bahkan ia meninggalkan lokasi pertandingan selama beberapa lama hanya untuk menunggu roti Pak Norihei selesai dibuat. Lantas, siapa pemenang pertandingan kelima ini?

Aku tak mengerti kehebatan roti itu sampai membuatnya ingin menikah. (Hal. 180)

Akhirnya setelah agak jenuh dengan kemunculan Azuma, untunglah pertandingan keempat menampilkan Shigeru sebagai tokoh utama. Dibumbui dengan konflik keluarga membuat pertandingan Shigeru cukup menarik untuk diikuti. Apalagi teknik dari Tsutsumi sangat menarik minat saya untuk mencoba mempraktikkannya sendiri (dengan resiko kebakaran).

Untuk pertandingan kelima, saya jatuh cinta dengan artwork Norihei Miki. Berbeda dengan artwork tokoh lain, tokoh Norihei memang menyadur dari maskot sebuah merek pasta rumput laut “Gohan Desuyo” yang terkenal di Jepang. Jadi unyu-unyu gitu heheheheh.

Setelah melalui 18 jilid, saya bisa menarik kesimpulan bahwa komik ini bisa dikatakan fiksi-non fiksi ya. Kalau masalah teknik pembuatan roti (khususnya saat pertandingan) dan info-info kuliner roti, saya rasa adalah sebuah fakta yang benar adanya. Apalagi didukung tokoh kuliner sebagai pendukung informasi. Beberapa tips sederhana juga bisa diterapkan di rumah lho.

Nah sisi fiksi komik ini banyak dituangkan pada reaksi yang diberikan Kuroyan (atau Pierrot) sebagai juri yang menilai roti peserta. Sebagian besar (kalau tidak bisa dibilang semua) reaksi sang juri itu luebay dan nggak masuk akal buanget. Tetapi justru saking absurd-nya inilah membuat komik ini memiliki keunggulan dibandingkan komik kuliner serupa.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Opini Tentang Alur Cerita Bareng BBI 2015

Maret – Alur Cerita

Halo halo halo. Berjumpa lagi dalam rubrik opini bareng BBI. Tema untuk bulan Maret 2015 kali ini adalah ALUR CERITA. Sebuah kisah dalam buku, khususnya cerita fiksi memiliki alur sebagai runtutan waktu kejadian. Menurut sepengetahuan saya dan hasil googling *uhuk*, alur cerita ada beberapa macam.

Mungkin kebanyakan kawan-kawan pembaca pada umumnya mengetahui alur itu ada alur maju, mundur, cantiik dan campuran. Namun kali ini saya tidak akan membahas itu. Saya ingin membahas alur yang menurut saya cukup unik dan nggak banyak, yaitu alur rapat dan alur renggang. Apakah itu? Mari kita simak bersama sesuai ilustrasi gambar dibawah ini.

ALUR RENGGANG

Saya mengasosiasikan pegas untuk alur ini. Pegas yang renggang memiliki banyak ruang kosong diantaranya. Hal ini juga berlaku pada alur cerita. Dimana antara satu kejadian atau konflik dengan kejadian atau konflik yang lain tidak memiliki keterkaitan yang kuat, bahkan tidak ada hubungan sama sekali. Apabila salah satu kejadian ini dihilangkan, susunan inti cerita masih bisa dimengerti dan tidak membuat bingung pembaca.

Sebagai contoh adalah begini: Seorang pemuda SMA yang bangun kesiangan dan terlambat sekolah. Ia grasak-grusuk mandi, sarapan, dan berangkat bagai dikejar setan. Tak disangka, di tengah jalan ia menginjak tali sepatunya sendiri yang lupa diikat dan membuatnya terjatuh di tanah becek bekas hujan semalam. Hal ini mengakibatkan seragamnya menjadi kotor. Sesampainya di sekolah, gerbang sudah ditutup yang ini artinya dia tak bisa masuk sekolah sampai jam pelajaran berikutnya.

Nah, cerita diatas bisa saya kategorikan memiliki alur renggang. Kejadian terjatuh karena tali sepatu sehingga membuat baju seragam kotor itu apabila dihilangkan, ceritanya tetap bisa dimengerti. Bukankah dikatakan sejak awal ia bangun kesiangan sehingga telat masuk sekolah? Meskipun tidak ada tragedi tali sepatu pun, ia tetap telat dan gerbang sekolah sudah ditutup. Ini yang disebut dengan alur renggang.

Alur renggang pada umumnya saya temukan pada buku-buku dengan tema ringan, misalnya genre komedi. Buku dengan isi seperti ini biasanya hanya mengutamakan sisi yang lucu sehingga banyak selipan-selipan kocak yang kalau dipikir-pikir nggak nyambung-nyambung banget dengan inti ceritanya. Buku seperti ini juga boleh banget di-skip-skip-skip beberapa halaman jika penasaran dengan endingnya.

Namun penulis harus pintar-pintar dalam menggunakan alur ini. Soalnya jangan sampai kejadian nggak penting itu mendominasi keseluruhan cerita sehingga inti yang misalnya bisa dicapai dari A ke C jadi harus terlalu panjang sampai Z gara-gara hal itu. Apalagi jika penulisannya nggak enak dan membosankan, tentu jadi bikin bete dan kehilangan nafsu membaca.

Saya pernah mengalaminya kok. Baca buku komedi berjudul *beep* hasil karya *beep* malah jadi kesal sendiri karena selipan-selipan yang seharusnya bisa jadi ice breaking justru nggak bermutu sama sekali. Udah gitu penulisannya buruk pula. Blahh! Jadi, untung-untungan sih kalau nemu alur begini. Bisa jadi hiburan ditengah konflik kisah, bisa pula jadi penyulut emosi jika tidak pas penempatannya.

ALUR RAPAT

Alur ini juga seperti pegas yang rapat sehingga sedikit menyisakan ruang kosong diantaranya. Begitu pula dengan alur cerita. Alur rapat ini diindikasikan dengan satu kejadian atau konflik saling berkaitan dengan kejadian atau konflik yang lain. Apabila salah satu kejadian ini dihilangkan, maka runtutan cerita dan makna keseluruhannya akan sulit dipahami.

Misalnya saja begini: Seorang karyawati yang tidak bisa berenang sedang berjalan santai menuju kantor. Karena kurang memperhatikan jalan, ia terpeleset kulit pisang dan kecebur empang di samping jalan raya. Melihat si wanita hampir tenggelam, pemuda yang kebetulan lewat segera nyemplung dan menyelamatkan si wanita sekaligus memberi pertolongan pertama. Tak disangka, pemuda yang memberikan P3K itu adalah cinta masa SMA si karyawati. Kemudian cerita berlanjut mengenai romansa kedua insan Tuhan ini.

Bisa diperhatikan apabila salah satu kejadian, saya contohkan tragedi kulit pisang di pinggir jalan itu dihilangkan, maka pertemuan si karyawati dengan sang pemuda tidak akan terjadi. Kalaupun bisa terjadi, tentu akan memerlukan kejadian baru yang berbeda dengan adegan terpeleset itu. Ini yang disebut alur rapat.

Alur rapat menurut saya sangat cocok diaplikasikan pada kisah bergenre thriller ataupun detektif. Karena setiap kepingan kejadian ataupun konflik merupakan serpihan puzzle untuk memahami kejadian berikutnya. Apabila sudah memahami semuanya, ketika membaca bagian ending akan terasa sangat memuaskan karena pembaca tidak melewatkan satu bagianpun.

Namun, alur rapat ini menuntut fokus yang cukup tinggi dan pikiran tidak boleh terdistraksi sedikitpun saat membaca. Karena apabila lengah sebentar saja, misalkan melamunkan masa lalu bersama mantan #eh, maka pembaca harus membaca ulang bagian tertentu agar bisa memahami kejadian berikutnya.

Saya juga pernah mengalaminya. Saat asyik membaca, pikiran saya melamunkan mantan tetapi mata masih tetap membaca tulisan. Waktu ngelamunnya selesai, 3 halaman yang saya baca tidak saya ingat apa isinya sehingga saya harus membaca ulang. Masih mending 3 halaman. Kalo 30 halaman gimana coba (eh buset itu ngelamun apa ngimpi hahaha). Grrrh.

LEBIH BAIK MANA?

Hmm kedua jenis alur yang saya sebutkan diatas memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing kok. Rasanya sulit jika saya harus memilih diantara keduanya dikarenakan aplikasi alur rapat maupun renggang memberikan nuansa tersendiri bagi sebuah cerita.

Yang jelas, lagi-lagi kembali pada penulisan sih. Mau pakai rapat atau renggang juga tergantung kepiawaian penulis dalam merangkai kata-kata sehingga pembaca tetap nyaman membaca kata demi kata yang dituliskan di setiap lembarnya.

Saran saya, kalau memang lagi suntuk dan kurang fokus untuk mendalami suatu judul, pilih buku yang ringan bertema renggang saja. Sebaliknya, kalau punya banyak waktu dan lagi santai, bisa memilih buku dengan alur rapat agar konsentrasi bisa terpusat pada bacaan. Lantas, yang mana kesukaanmu? Mari ngobrol di kotak komentar! (҂’̀⌣’́)9

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 17)

coveryakitate17

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 17)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2010

ISBN: 9789792771060

cooltext1660180343

Identitas lawan di pertandingan ketiga yaitu sang ninja misterius ternyata Suwabara! Bagaimana hasil pertandingan sesama kawan yang saling mengerahkan seluruh kemampuannya? Lalu… cari tahu identitas Shigeru Kanmuri sekarang! Plus 10 halaman komik bonus yang patut disimak!

cooltext1660176395

Kecerobohan Kawachi yang penasaran dengan identitas asli lawan perwakilan St. Pierre membuat sebuah kejutan yang nggak heboh-hebioh amat. Pada bagian 144 “Simpati Seorang Samurai” ini, meskipun Suwabara sudah jelas-jelas ketahuan dibalik kostum ninja, ia masih bisa mengelak. Lebih gebleknya lagi, Azuma dan Shigeru juga percaya aja dengan alasan si ninja ini. Hmm benarkah demikian?

Dia seorang pencari kebenaran… Dia akan melakukan apa pun untuk jadi juru roti. (Hal. 11)

Pada bagian 145 “Perbedaan Budaya” ini diceritakan tentang rencana Suwabara dan Azuma agar bisa memenangkan pertarungan. Minimnya bahan khas daerah Ooma membuat kedua tim sama-sama menggunakan bawang daun sebagai bahan utama mereka. Yang tidak mereka sadari satu sama lain, ternyata jenis pengolahan dan roti yang akan dibuat ternyata sama persis!

Karena bahannya sama, berarti yang diadu cara pengolahannya. (Hal. 27)

Keesokan paginya, Azuma masih lesu karena belum menemukan suatu hal baru pada rencananya. Namun Kawachi sudah percaya diri dengan ide Azuma menggunakan bawang daun sebagai bahan roti. Meski diawali dengan kebodohan Kawachi (lagi-lagi), bagian 146 “Rencana Rahasia Suwabara” cukup seru karena Suwabara ternyata sudah memikirkan teknik jitu dalam pertandingan kali ini.

Pertandingan ini… Mungkin berakhir dengan kekalahan Azuma! (Hal. 50)

Selain menggunakan bawang daun, adanya Monica sebagai partner Suwabara membuat kepercayaan diri tim St. Pierre meningkat drastis. Alih-alih memikirkan teknik Azuma, pada bagian 147 “JaPan Lipat” ini menyuguhkan pembuatan roti legendaris dari Suwabara dipadukan dengan pembuatan blanchir oleh Monica, sang master kue.

Monica juga mengakuinya sebagai juru roti hebat. Tapi, kalau tak konsentrasi pada rotimu sendiri, walau mestinya bisa menang, kau bisa jadi kalah, lho. (Hal. 66)

Roti Suwbara matang terlebih dulu. Oleh karena itu Kuroyanagi mencicipi roti Suwabara sambil menunggu roti Azuma. Tak disangka, teknik legendaris dari Suwabara membuat Kuroyanagi berputar! Pada bagian 148 “Misteri Wanita” ini, selain teknik menakjubkan Suwabara, ternyata Azuma memiliki senjata pamungkas sehingga bisa memenangkan pertandingan.

Walau demi bertanding aku sudah berkhianat… Tak ada tempat mati yang lebih sesuai untuk lelaki bengkok sepertiku kecuali di sini. (Hal. 89)

Setelah pertandingan putaran ketiga selesai, Pantasia Cabang Tokyo Selatan dikejutkan oleh orang-orang misterius dan berbuat onar di depan toko. Manajer Matsushiro yang perawakannya mirip preman tentu saja meladeni para biang keributan pada bagian 149 “Rahasia Shigeru” ini.

Kalau sudah jadi begini, semua harus diselesaikan sekarang juga. (Hal. 106)

Ternyata, lawan Pantasia pada pertandingan putaran keempat ini berasal dari kehidupan Shigeru. Meskipun Shieru ingin menolak apa yang diminta sang lawan, Masanobu Tsutsumi, ia tetap harus melakukannya karena tidak ada pilihan lain. Masanobu yang didaulat menjadi koki kerajaan Austria sesungguhnya berpotensi kalah karena pada bagian 150 “Tema Terburuk” ini seharusnya ia tidak mengetahui dengan baik bahan khas daerah di Jepang.

Produk khas Jepang tak umum digunakan sebagai bahan kuliner di Austria. (Hal. 126)

Keesokan harinya adalah pemilihan kotak sekaligus penentuan lokasi. Hal yang cukup berbeda terjadi di pertandingan kali ini. Awalnya daerah yang terpilih adalah Shinano. Yang menjadi tantangan lagi adalah apabila tiga putaran sebelumnya setiap peserta membuat roti, kali ini justru mereka dilarang membuat roti dan harus membuat selai. Pada bagian 151 “Kadang-Kadang, Ajarkan Dendam…” ini disebutkan bahwa penentuan apa yang perlu dibuat peserta ini adalah semata-mata demi rating dan permintaan pemirsa.

Sebenarnya, aku tak begitu berminat pada selai, jadi tak pernah buat. Tapi, menurutku, di balik hal yang sederhana terdapat kerumitan. (Hal. 151)

Sementara itu, nun jauh di suatu daerah, ayah Shigeru dan Masanobu (yep, mereka berdua adalah saudara satu ayah beda ibu), Takashi Hashiguchi, cukup khawatir dengan pertandingan ini. Bukannya apa-apa, hasil pertandingan inilah yang menentukan siapa pewaris dari bisnis keluarga. Mau tahu profesi ayah Shigeru ini? Semua dijelaskan pada bagian 152 “Selai Terlezat” heheheh.

Masanobu tak pernah bertemu Shigeru… Tapi, dia dibesarkan dengan mendengar berita soal Shigeru terus-terusan… (Hal. 166)

Pada dasarnya, pertandingan putaran ketiga yang melibatkan Suwabara dan Monica itu cukup menarik. Diawali oleh kostum ala ninja demi menyamarkan jati diri, alasan Suwabara berkhianat dan menjadi perwakilan St. Pierre, hingga teknik legendaris dari koki Perancis jaman dahulu membuat pertandingan ini seharusnya sangat memukau.

Sayangnya, eksekusi inti yaitu pada pembuatan roti justru disia-siakan Hashiguchi-san. Ramuan yang sudah cukup bagus justru dihancurkan oleh roti yang kalau boleh saya katakan, biasa buanget. Bahkan Azuma yang biasanya memiliki teknik mencengangkan justru menggunakan teknik yang sangat sederhana. Oh please deh.

Kekecewaan saya pada pertandingan putaran ketiga ini diobati oleh (calon) pertandingan putaran keempat. Selain melibatkan masa lalu Shigeru, tokoh Masanobu Tsutsumi terlihat sangat sulit untuk dikalahkan. Apalagi tema kali ini yang sangat dikuasai Masanobu sebagai koki kerajaan Austria membuatnya di atas awan.

Oh iya, ada yang ngeh kalau nama ayah Shigeru dan Masanobu sama persis dengan komikus komik ini? Cukup lucu juga sih mengetahui si komikus menyisipkan dirinya sendiri dalam komik buatannya. Yah ini bisa jadi self-promotion juga sih biar pembaca lebih hapal kepadanya.

Yang tidak kalah menarik, bonus komik tambahan berjudul Wild Life sungguh sayang untuk dilewatkan. Wild Life sebenarnya adalah judul komik tersendiri. Namun disini Hashiguchi-san membuat Wild Life versi buatannya.

Tokoh utama komik bonus ini tetaplah Tessho Iwashiro, seorang dokter hewan. Bahkan demi membuat “rasa khas” Hashiguchi, Kawachi didatangkan sebagai cameo menjadi pasien Iwashiro. Wah, kira-kira apa yang akan dilakukan dokter hewan ini? Baca sendiri ya hehe. Psst, jangan lupa baca review jilid 18 nanti yak!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 16)

coveryakitate16

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 16)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 190

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2010

ISBN: 9789792766813

cooltext1660180343

Lawan yang menanti di pertandingan kedua ‘Yakitate!! 25’ yang sangat tangguh dan menyebalkan sewaan St. Pierre, yaitu grup trio CMAP! Jangan kalah oleh orang-orang seperti itu, Azuma! Japan penuh amarah yang membangkitkan cita rasa khas daerah beraksi!!

cooltext1660176395

Kompetisi akbar dua bakeri terkenal, Pantasia dan St. Pierre masih berlanjut. Kali ini memasuki tahap kedua. Setelah memenangkan tahap pertama, Azuma cs menghadapi lawan yang cukup tangguh dalam bagian 134 “Tiga Anak Panah” ini. Karena bukan hanya satu orang seperti sebelumnya, St. Pierre kali ini menurunkan tiga orang sekaligus!

Bodoh! Kenapa kami bertiga harus bersatu untuk melawan ikan kecil seperti mereka? (Hal. 13)

Pada bagian 135 “Reaksi yang Tak Boleh Disiarkan” telah diumumkan lokasi pertandingan kali ini yaitu Saito. Lagi-lagi karena minimnya dana yang dimiliki, perwakilan Pantasia harus menginap di sebuah penginapan reot dan menyedihkan. Sementara itu, perwakilan St. Pierre yaitu Kaname Hiroshi, Chimatsuri Gou, dan Narumi Shizuto memiliki rencana mengalahkan Azuma.

Saito, sebuah kota di prefektur Miyazaki. Terkenal dengan kompleks pemakaman kuno “Saitohara Kofun Gun”. (Hal. 32)

Selain bahan utama yang bisa dikatakan mahal, ternyata Saito merupakan daerah paling cerah se-Jepang. Berkali-kali Azuma dan Kawachi berpanas-panas ria mencari bahan utama. akhirnya ide mengejutkan Azuma temukan pada bagian 136 “Kita Pakai Haniwa” saat di penginapan.

Untuk bikin kare kental berkualitas tinggi, kau harus memakai mangga. (Hal. 47)

Benar sekali, Saito memiliki keunggulan pada buah mangga yang dihasilkan. Rasanya yang manis dan penampilannya yang cantik membuat mangga Saito menjadi primadona. Alih-alih membuat mangga menjadi ekstrak atau semacamnya, Azuma mengubah mangga ini pada bagian 137 “Sari Buah Mentah” menjadi apa adanya.

Mungkin mereka memakai daging sapi Miyazaki dan saus demi-glance sebagai senjata utama mereka. (Hal. 72)

Tepat pada hari pertandingan, ketiga anggota CMAP perwakilan St. Pierre memiliki teknik dan rencana luar biasa dalam membuat roti. Di sisi lain, Azuma terlihat kesulitan dengan adonan roti yang tidak bisa diuleni. Lah, terus bagaimana cara membuat rotinya? Kisah ini disuguhkan pada bagian 138 “Semenanjung Melayu” yang unik.

Situasi kritis ini pun bisa berubah jadi kesempatan… dengan teknik superku!! (Hal. 84)

Saat Kuroya sebagai juri mencicipi roti peserta St. Pierre yang matang terlebih dahulu, rasanya sungguh menakjubkan. Bahkan Kuroyan repot-repot membawa satwa langka untuk menunjang reaksinya itu. Kemudian roti buatan peserta Pantasia dicicipi pada bagian 139 “Kenikmatan yang Tak Bisa Diperagakan dengan Akting” yang menakjubkan.

Karena nggak mungkin menang dalam rasa, mereka mau menang dalam soal bentuk, ya? Mendingan mati, deh! (Hal. 107)

Seperti yang sudah bisa diprediksi, reaksi Kuroyan setelah mencicipi roti Azuma juga tidak main-main. Bahkan jauh lebih spektakuler dari pencicipan roti CMAP. Wah memangnya apa yang terjadi? Pada bagian 140 “Kontak dengan Haniwa” ini bahkan Kuroyan tak sanggup menjelaskan alasannya.

Tapi, harus ada yang menjelaskan alasan kemenangan kalian pada penonton. (Hal. 121)

Meninggalkan akhir tahap kedua pertandiangan Yakitate!! 25, pada bagian 141 “Usooon” adalah bagian ice breaking dimana kakek Azuma dari Niigata ingin mengunjungi Azuma bersama sang kakak. Bahkan tak segan-segan, Kakek Umataro mengirim tepung khusus agar Azuma bisa menyuguhkan roti terbaik dengan tepung itu.

Karena sudah susah payah dikirim, aku akan bikin jamuan terlezat untuk kakekmu dengan tepung ini! (Hal. 148)

Lanjut pada bagian 142 “Nin Nin” adalah putaran ketiga pertandingan Pantasia dan St. Pierre. Setelah seluruh anggota CMAP takluk oleh kehebatan Azuma dkk, kali ini St. Pierre diwakili oleh sepasang ninja. Saking sebelnya, Kawachi penasaran dengan jati diri kedua ninja ini.

Mungkin saking putus asanya, karena CMAP andalan mereka kalah, St. Pierre akhirnya menurunkan juru roti cosplay! (Hal. 165)

Akhirnya bagian 143 “Yang Bengkok” sebagai penutup mengisahkan perjalanan Azuma, Kawachi, dan Shigeru menelusuri kota Yokosawa yang tidak memiliki bahan khas daerah. Mengira informasi dari Shigeru tidak diketahui orang banyak, Kawachi terkejut dengan penampakan kedua nina yang mengetahui bahan rahasia itu lebih dulu.

Dibandingkan bawang daun biasa, bawang daun bengkok Yokosawa di kota Oota ini sangat lembek. Jadi tak bisa dibudidaya tegak lurus. (Hal. 180)

Putaran kedua pertandingan ini jelas jauh lebih menarik daripada putaran pertama kemarin. Ditambah ketiga member CMAP yang sangat menyebalkan membuat sensasi membaca bagian itu lebih membara. Pengen saya tendang aja itu ketiga member songong itu.

Di sisi lain, roti yang dibuat oleh CMAP ataupun Azuma cs kurang greget jika dibandingkan jilid sebelumnya. Selain saya yang emang nggak tahu dimana menariknya, pembuatan roti di jilid ini terasa singkat dan remeh alias tidak ada sesuatu yang istimewa. Mungkin gara-gara roti ini bukan Ja-Pan milik Azuma.

Titik cukup menarik justru pada putaran ketiga pertandingan. Apa lagi jika bukan melihat lawan pertandingan yang berkostum serba ninja. Saya sebenarnya sudah tahu sih jati diri kedua ninja ini (ya iyalah, wong saya pembaca), tetapi Kawachi dkk sangat lelet menyadari hal ini. jadi tambah bikin geregetan. So, tunggu review jilid 17 yah!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Croissant

covercroissant

Judul: Croissant

Sub Judul: Antologi Kisah Kehidupan

Penulis: Josephine Winda

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: viii + 196

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9786020251394

cooltext1660180343

Ditemani santainya kepulan asap teh saat senja

Sepotong croissant renyah mencecap rasa

Berlapis seperti kisah kehidupan yang tak kunjung habis

Diwakili sepuluh cerita dunia

Semoga tak lekas ucapkan bon voyage—selamat tinggal

Hanya maklumi c’est la vie—itulah hidup.

“… kemahiran memadu judul-judul yang funky, bahasa yang light, dan pilihan tema tentang hidup yang muda dengan segala romantismenya, menjadikan kumpulan cerita buku ini seolah teman yang akan menemani kita melepas lelah.” – Sannie B. Kuncoro, penulis novel “Garis Perempuan”, “Ma Yan”, “Memilikimu”

“… mungkin berlebihan untuk mengatakan saya tersihir oleh tulisan Winda. Tetapi, pasti saya menikmati setiap kata, kalimat, dan keseluruhan ceritanya seperti ketika SD saya menikmati cerita ibu guru saya. Saya bukan sekadar menunggu ending, tetapi juga menikmati bagaimana cerita berproses.” – Her Suharyanto, pegiat dunia perbukuan dan penulisan

cooltext1660176395

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar negara Perancis? Menara Eiffel? Benua Eropa? Musim dingin yang romantis? Atau mungkin roti Perancis yang terkenal itu? Well, sepertinya Perancis memiliki keunikan tersendiri di mata orang-orang. Ada yang suka kulinernya, ada yang terpukau pariwisatanya, ada pula yang terpesona dengan bahasa nasionalnya yang dinilai seksi bagi sebagian orang.

Mari sejenak melupakan bahasanya. Apakah kamu pernah menikmati atau setidaknya mengetahui tentang roti croissant? Di Indonesia, roti ini sudah cukup banyak beredar dimana-mana. Biasanya roti ini dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi. Rasanya yang legit dan menggugah selera sangat cocok dengan orang Indonesia yang suka ngemil makanan manis.

Nah, kamudian apa jadinya jika beberapa istilah bahasa Perancis dituangkan dalam kisah-kisah menyentuh dan memukau? Hal inilah yang saya rasa ingin diberikan penulis, yaitu pembaca menikmati hasil tulisannya sambil mencecap rasa croissant yang enak. Sepuluh cerita yang berbeda dalam satu buku memberikan sensasi berbeda saat membacanya. Simak satu-persatu yuk!

Kisah pertama berjudul Déjà vu dengan tokoh utama Ericka. Gadis yang masih duduk di bangku kuliah ini memiliki kekasih bernama Yuki. Setelah ditinggal Yuki beberapa lama karena praktik kerja lapangan, ia akan berjumpa kembali di kampus. Namanya sang pujaan hati, tentu Ericka bersemangat sekali menyongsong hari perjumpaan mereka kembali.

Yuki ini anaknya gemar melawak dan bertingkah lucu dihadapan kawan-kawannya, tak terkecuali pada Icka (panggilan Ericka). Namun ternyata tidak segala hal bisa dijadikan guyonan, bahkan kepada kekasihnya sendiri. Karena siapa tahu, lawakan itu berakibat fatal.

Mengapa kejadian-kejadian itu sepertinya terus-menerus berulang? Kenapa tidak ada kejadian lagi pada hari setelahnya? (Hal. 12)

Setelah menikmati kisah yang sangat singkat dari Ericka dan Yuki, cerita kedua memiliki judul Bon Apétit. Tokoh dalam kisah ini adalah cewek tambun bernama Talitha yang sangat gemar makan dan kuliner serta cowok muda bernama Idham. Mereka berdua yang dipertemukan pada milis internet ternyata cocok dan saling bertegur sapa.

Karena hobi mereka sama, Idham bermaksud mengajak Talitha wisata kuliner di Semarang. Meski awalnya berfirasat buruk, Talitha menyanggupi tawaran Idham. Tanpa Talitha sadari, keputusannya berjumpa dan menaruh hati pada sosok Idham akan bermuara pada sandiwara menyakitkan.

Ia bingung mengapa Idham sekarang kurus dan tidak lagi bulat seperti yang tampak pada foto? (Hal. 23)

Kisah selanjutnya adalah cerita tentang pembalasan dendam seorang gadis kantoran bernama Dicta kepada rekan kerjanya, Cakra. Pada cerita berjudul Vis-à-Vis ini, Dicta memaparkan alasan ia harus balas dendam dan bagaimana caranya membuat Cakra hancur berkeping-keping. Ternyata sakit hati Dicta dimulai saat masa sekolah tujuh tahun yang lalu.

Merasa Cakra sudah masuk dalam perangkapnya, Dicta tak segan-segan melancarkan aksinya dalam menyakiti hati Cakra. Namun sesungguhnya Dicta tidak mengetahui sebuah fakta menyakitkan yang disimpan Cakra rapat-rapat. Fakta apakah itu?

Ben, apa gunanya memiliki perasaan suka pada seseorang jika kau hanya memendamnya seorang diri? (Hal. 43)

Meninggalkan drama kehidupan Dicta, mari lanjut ke cerita keempat berjudul Mademoiselle. Seperti judulnya, tokoh utama perempuan kali ini bernama Margaretha. Ia memang berpenampilan seperti gadis tahun 1800-an saat bekerja. Apalagi ditambah payung berenda yang tak pernah lupa dibawanya.

Penampilan Margaretha yang mempesona menggetarkan seorang pemuda bernama Galang. Mereka sering menyapa tiap pagi hari. Sayangnya, profesi Galang yang jauh berbeda dibandingkan Margaretha membuatnya ciut nyali. Bahkan ia tidak menyadari bahwa Margaretha akan sangat terluka apabila Galang putus asa dan melakukan sesuatu esok hari.

Lagi pula, bagaimana aku bisa meramalkan perasaannya? Kenal saja tidak. (Hal. 66)

Kisah kelima berjudul Touché yang mengambil kehidupan gadis bernama Kabita. Cewek ini adalah potret gadis yang sulit mendapatkan pasangan. Bukan karena ia tidak laku, hanya saja ia adalah seorang yang cenderung pemilih dan selalu merasa ada yang kurang dari diri laki-laki yang mendekatinya.

Gracia (kok namanya kayak merek ekstrak kulit manggis hehe), sahabat Kabita, juga dibuat pusing karena kondisi ini. kehidupan rumah tangganya yang harmonis berbanding terbalik dengan kisah romansa sahabatnya. Bahkan ia juga tidak menyangka suatu hari Kabita membawa kabar akan segera menikah dengan seorang pria. Apa yang terjadi dengan Kabita?

Sekian tahun lamanya Kabita betah sendiri dan hanya berkencan dengan beberapa pria. Tak seorang pun yang cocok bagi diri Kabita. Selalu ada hal yang membuatnya urung. (Hal. 79)

Rendezvous adalah judul kisah keenam. Disini diceritakan seorang pria bernama Mario yang berjumpa lagi dengan cinta lamanya, Desira. Setelah tiba-tiba Desira meninggalkan Mario tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Mario dikejutkan dengan suara Desira diujung telepon. Tak ingin melewatkan kesempatan, Mario meminta bertemu dengan gadis yang pernah singgah di hatinya itu.

Selain bertukar cerita mengenai kehidupan masing-masing, pertemuan ini juga membahas tentang masa lalu mereka. Lebih tepatnya masa lalu ketika Desira meninggalkan Mario tanpa ada penjelasan sama sekali. Saya sesungguhnya mengharapkan alasan yang lebih greget dibandingkan alasan klise yang diucapkan Desira, tetapi tepat pada kalimat-kalimat mencapai ending, ada suatu hal yang mengejutkan.

Rupanya, bagaimanapun cerita yang lalu dikubur, suatu saat benang merah yang mengaitkan kisah-kisah di antaranya akan muncul kembali ke permukaan. (Hal. 96)

Nah selanjutnya adalah cerita yang tak kalah menarik. Kisah tentang gadis bernama Delia yang mencoba mencari tahu kabar cinta monyet masa sekolahnya dulu. Cerita berjudul Je t’aime ini rasanya cocok untuk orang yang gagal move on dan mencoba terus kepo pada pujaan hatinya.

Delia menunjukkan fakta bahwa meskipun cinta masa lalu masih tersis, bukan berarti orang yang sama akan memiliki sifat dan perilaku yang serupa. Pedro sebagai cinta Delia di masa kini adalah Pedro yang sanat berbeda. Bahkan Pedro membuat Delia sadar dan mengerti tentang arti seseorang yang ada untuknya.

Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata mengapa Delia jatuh cinta di kala itu kepada Pedro. Bukankah cinta tak memerlukan alasan? (Hal. 116)

Beralih pada kehidupan karyawati sebuah perusahaan bernama Fernanda. Dikisahkan Nanda ini adalah tipikal karyawati yang pintar, berdedikasi, rajin, dan professional. Bahkan ketika muncul seorang karyawan baru berparas rupawan dari Colorado bernama Gavin, Nanda tetap pada prinsipnya yang workaholic.

Judul cerita ini yaitu C’est la vie memberikan sebuah isu masa kini tentang kesetaraan gender. Tokoh Nanda dan Gavin memberikan sekeping potret kehidupan mengenai kaum perempuan yang masih dianggap lemah. Saya sangat menyukai adu argumen yang diutarakan Nanda kepada atasannya di cerita ini.

Tak dapat dipungkiri, memiliki wajah ganteng dan postur tubuh tinggi tegap adalah anugerah yang sangat menguntungkan bagi para pria. (Hal. 144)

Voilà. Kata ini biasanya diungkapkan saat ada sesuatu yang mengejutkan. Kata ini juga menjadi sebuah ungkapan yang patut menggambarkan akhir kisahnya. Adalah seorang gadis bernama Selena yang kisah hidupnya beda tipis dengan Kabita. Ya benar, Selena memiliki kisah percintaan yang berantakan dan kurang hoki untuk urusan cowok.

Sedangkan Friska bagaikan Gracia. Ia sering mengenalkan pria-pria yang mungkin bisa menjadi pendamping Selena. Namun sayang, usahanya sia-sia belaka. Suatu hari, Selena membawa kabar gembir untuk Friska. Akhirnya ia akan segera menikah dengan lelaki pujaannya. Sayangnya, sebelum Friska ikut bersorak bahagia, sebuah fakta dari Selena membuat Friska terhenyak.

Jika tidak ada getar yang sama dalam frekuensi kerinduan, bukan jatuh cinta namanya. (Hal. 166)

Kisah penutup dalam buku ini berjudul Bon Voyage dengan kehidupan rumah tangga Nadhira dan Pram sebagai titik fokus. Nadhira adalah tipe seorang istri yang lembut dan penurut pada suami, sedangkan Pram adalah potret suami yang cenderung kasar dan semaunya sendiri. Meskipun dikaruniai suami seperti itu, Nadhira tetap bertahan demi rumah tangga dan kedua anaknya.

Ternyata awal kehidupan menyedihkan ini bermula saat Pram dan Nadhira dijodohkan. Kedua orang tua mereka yang ingin melihat anak masing-masing bersanding di pelaminan, mengabaikan kondisi Nadhira sebagai gadis lugu dan Pram yang memiliki emosi tinggi. Akhirnya hal inilah yang membuat kehidupan pernikahan mereka berdua diujung tanduk.

“Hari genee masih dijodohin? Nggak salah, Nad?! Kamu hidup di abad berapa?” (Hal. 177)

Pada awalnya, saya tidak menghiraukan sub judul Antologi Kisah Kehidupan yang tertulis di cover. Saya mengira kisah kehidupan yang dimaksud adalah kisah cinta muda-mudi yang dimabuk asmara dan berakhir bahagia. Namun saya salah. Memang beberapa kisah diperankan oleh tokoh berusia muda dan happy ending, tetapi sebagian lain memberikan cerita yang berbeda.

Yang saya sukai dari tulisan Winda ini adalah ceritanya membumi. Alih-alih menuliskan kata-kata puitis dengan berbagai ungkapan rumit, penulis menggunakan kata yang sederhana dan tepat sasaran dengan maksud yang ingin disampaikan. Seolah-olah semua tokoh dalam buku ini terasa nyata dan benar-benar terjadi.

Salah satu kekhawatiran saya membaca buku antologi alias kumcer adalah banyaknya tokoh yang muncul sehingga membuat rancu. Lihat saja ada 20 tokoh utama dalam setiap cerita. Belum lagi tokoh pendamping dan figuran yang muncul sekilas. Namun Winda berhasil memberikan karakter cukup kuat pada setiap tokoh utama dalam ceritanya masing-masing.

Selain itu, biasanya saya kurang puas membaca kumcer karena akhir cerita biasanya terjadi terlalu cepat. Maksud saya, cerita-cerita tersebut sebenarnya ada potensi untuk digali lebih dalam. Namun saya tidak menemukannya dalam buku ini. Selain cerita pertama, sembilan cerita yang lain memberikan akhir yang lugas dan pantas. Bahkan apabila terpaksa dipanjangkan, justru menjadi tidak menarik lagi.

Seperti yang sudah saya bilang, kisah pertama tentang Icka dan Yuki terasa sangat singkat bagi saya. Saya ingin ada tambahan sih, tetapi sebenarnya memang harus seperti itulah ending yang sesuai. Akhirnya saya jadi geregetan sendiri.

Oh iya, pada cerita keempat berjudul Mademoiselle, ada sudut pandang yang inkonsisten. Saya tidak tahu apakah ini gaya penulis, namun sudut pandang orang ketiga yang tiba-tiba berubah menjadi orang pertama kemudian kembali lagi ke orang ketiga tanpa adanya pemberitahuan membuat perpindahannya sangat kasar. Inilah yang membuat saya kurang menyukai dengan sudut pandang yang dicampur-campur.

Yang lebih membuat saya heran, kenapa saya tidak menemukan satupun kata croissant ya di buku ini? Mungkin saya luput atau saya lelah, tetapi mosok ya judul buku malah nggak muncul sama sekali di isinya? Padahal adegan makan dan setting di kafe cukup banyak lho. Kemudian Perancis juga tidak saya temukan menjadi lokasi di salah satu ceritanya. Mungkin memang maksud penulis hanya menggunakan stilahnya saja tanpa memaksakan unsur Perancis dalam setiap kisahnya? I don’t know.

Kalau ditanya kisah mana yang menjadi favorit, saya akan menjawab semuanya hehehe. Bukannya maruk, tetapi memang setiap cerita dan tokohnya masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Hal ini tidak lepas dari kepiawaian penulis dalam mengeksekusi karakter dan ceria sehingga meninggalkan kesan bagi pembacanya. Good job, Josephine Winda!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 15)

coveryakitate15

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 15)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792762402

cooltext1660180343

Pantasia akhirnya diambil alih oleh St. Pierre! Yang dapat menyelamatkan Pantasia dari dilema ini hanya kemenangan dalam acara TV ‘Yakitate!! 25’!! Berjuanglah, Azuma!! Raihlah kemenangan dengan Japan yang memakai produk khas daerah!!

cooltext1660176395

Selamat siang. Wah udah semingguan saya nggak update blog ini. Daripada kelamaan berdebu, saya update review komik kesukaan saya deh hehehe. Pada jilid 15 ini, Azuma dan lainnya menghadapi kenyataan mengerikan saat tiba di Jepang. Tidak sampai disitu, pada bagian 124 “Tantangan Kirisaki” Azuma dan kawan-kawan dituntut berpikir ekstra hati-hati.

Tsukino, kalau hanya fokus pada hal yang buruk, kau tak bisa mulai apapun. (Hal. 8)

Selanjutnya pada bagian 125 “Yakitate!! 25” mengisahkan bentuk nyata dari tantangan pemilik St. Pierre tempo hari. Ternyata Kirisaki menawarkan sebuah pertarungan membuat roti dari kedua bakeri ini. Tidak tanggung-tanggung, pertarungan ini akan disiarkan melalui televisi nasional!

Kau harus membayar semua biaya produksi dan penyiaran acara ini dengan 12 miliar yen yang kau dapatkan dari Monaco Cup. (Hal. 24)

Pada bagian 126 “Ajaran Guru” dikisahkan detik-detik pertandingan ini. Namanya sebuah lomba, tentu memerlukan seorang juri yang mengerti roti yang nikmat. Sayangnya, Pierrot sudah tidak muncul lagi disini. Jadi, yang menjadi juri sekaligus penentu pemenang pertandingan adalah… Ryo Kuroyanagi!

Kau harus berhenti jadi juru roti dan beralih jadi kritikus makanan. (Hal. 44)

Setelah juri terpilih dan masing-masing peserta dari kedua bakeri telah siap, maka Yakitate!! 25 akan segera digelar. Pada bagian 127 “CMAP?” mengisahkan pertandingan perdana antara Azuma, Shigeru, dan Kawachi sebagai perwakilan Pantasia melawan Tsubozuka Takumi sebagai perwakilan St. Pierre. Psst, lagi-lagi Kuroyan bertingkah lebay dalam pertandingan ini hahaha.

Tiba-tiba dia mengajukan surat pengunduran diri dari Pantasia… (Hal. 63)

Pada bagian 128 “Super Tuna”, ternyata peserta harus membuat roti dengan menggunakan produk unggulan daerah tertentu. Pada pertandingan kali ini, daerah yang dijadikan lokasi pertandingan adalah Ooma yang unggul akan ikan tunanya. Sayangnya, karena taktik licik Yukino, Azuma cs tidak mendapatkan tuna secuilpun.

Daripada memusingkan lawan yang kuat atau lemah, mendingan pikirkan cara bikin roti enak. (Hal. 77)

Selanjutnya bagian 129 “Dalamnya Putih, Tapi Namanya Ungu” mengisahkan ide brilian Azuma saat menghadapi ikan tuna yang habis dimana-mana. Ternyata selain tuna, ada spesies hewan laut lain yang dilupakan. Padahal spesies ini cukup unggul juga dari Ooma.

Kualitas landak laut Ooma juga tinggi dan harganya jauh lebih murah daripada super tuna. (Hal. 110)

Akhirnya pertandingan resmi digelar. Pada bagian 130 “Sampah Harus Dimasukkan Ke Kantong Sampah” ada sedikit hal aneh, yaitu Kawachi diminta oleh Azuma untuk membuat roti Perancis yang tidak enak. Jadi heran, kenapa Kawachi harus membuat roti yang tidak enak padahal ini pertandingan membuat roti terlezat? Kebingungan Kawachi seolah mendukung ketidak tahuan saya tentang rencana utuh Azuma.

Roti Kawachi yang dulu tak serenyah ini, lebih liat… Sedikit nggak enak! (Hal. 118)

Kemudian pada bagian 131 “Ora…?!” Kawachi tersadar tentang roti yang ia buat beberapa saat yang lalu. Rotinya menjadi liat gara-gara Azuma memasukkannya dalam kantong sampah. Meskipun Shigeru sudah memahami taktik Azuma, tapi sampai halaman ini saya masih belum mengerti apa-apa tuh zzzzz.

Roti Perancis tak enak buatanku… Menyerap uap air dan jadi lebih liat! (Hal. 140)

Pada bagian 132 “Evolusi Lebih Jauh” sudah masuk tahap penjurian. Roti buatan Tsubozuka selesai lebih dahulu sehingga pencicipan dimulai dari roti buatannya. Berbeda dengan Azuma dkk yang tidak mendapatkan tuna, Tsubozuka membuat roti dengan menggunakan super tuna yang lezat. Bahkan Kuroyan menghadirkan respon yang cukup menggigit setelah mencicipi rotinya.

Roti lebih sulit dikunyah. Beda dengan nasi yang mudah hancur di dalam mulut. (Hal. 154)

Bagaimana dengan roti Azuma? Meskipun roti Tsubozuka sangat memukau, Kuroyan masih lebih menyukai roti buatan Azuma. Hal ini dituangkan pada bagian 133 “Sebagai Roti” yang mengungkap keunggulan roti Pantasia. Bahkan roti buruk dan tidak enak buatan Kawachi tadi menjadi nilai plus roti Azuma. Wah saya tidak menyangka sih ternyata roti Azuma sangat menakjubkan.

Baiklah! Aku akan menjelaskan sihir tersembunyi di roti Azuma. (Hal. 171)

Akhirnya petualangan baru Azuma dimulai kembali. Setelah gagal move on dari Monaco Cup yang mengakibatkan saya hiatus update blog *halah alesan* kali ini petualangan baru Azuma cukup menjanjikan. Apalagi konsep pertandingan baru ini tidak akan membosankan.

Jadi sekedar informasi ya, pertandingan ini menggunakan semacam puzzle yang terdiri atas 25 kotak. Setiap pertandingan akan diwakili satu kotak yang masing-masing kotak mewakili suatu daerah di Jepang. Nah, daerah inilah yang harus menjadi dasar bahan makanan unggulan sehingga bisa dijadikan roti.

Saya suka dengan konsep ini karena selain memperkenalkan keunggulan daerah lain, juga sekaligus membuka wawasan tentang daerah non beken. Soalnya kan di komik-komik biasa menggunakan Tokyo, Kyoto, Osaka, Okinawa, dan lain-lain yang sudah umum. Nah dari pertandingan ini, saya mendapatkan sedikit gambaran tentang perfektur lain di Jepang sana.

Melihat ada 25 kotak yang tersedia, maka bisa dipastikan akan ada 25 pertandingan yang akan berlangsung sampai keluarnya juara. Saya jadi penasaran juga sih daerah mana lagi yang akan dijadikan lokasi pertandingan. Apalagi roti yang dibuat Azuma cs dan perwakilan St. Pierre juga menggoda perut *uhuk.

Oh iya ngomong-ngomong peserta, kok saya rasa  aturan pertandingan ini kurang ketat ya dari segi pemilihan peserta. Soalnya St. Pierre seenaknya aja gitu menggunakan Tsubozuka yang jelas-jelas bukan pegawai St. Pierre. Kok kesannya jadi ada KKN banget.

Tapi secara umum sih saya yakin akan suka petualangan Azuma selanjutnya ini. Apalagi Yukino yang menyebalkan benar-benar menjiwai karakter hehehe. Yuk ah, tunggu kehadiran review jilid 16 yaa *entah kapan* ~(ˇ▼ˇ~)(~ˇ▼ˇ)~

Penilaian Akhir:


goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 14)

coveryakitate14

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 14)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 192

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792760743

cooltext1660180343

Sesaat lagi final Monako Cup!! Akan hadir reaksi istimewa yang cocok untuk klimaks berturut-turut!! Ini pasti tak bisa disiarkan begitu saja dalam film kartun! Kau juga harus menyaksikan tantangan tawa dan emosi yang luar biasa yang hanya ada di komik ini!!

cooltext1660176395

Akhirnya partai puncak (?) pertandingan Monaco Cup berlangsung juga. Babak final putaran ketiga dimainkan oleh Azuma Kazuma dan Shadow White pada bagian 115 “Ke Luar Angkasa?!” yang spektakuler. Seperti judulnya, Shadow bermaksud membawa Pierrot dengan roti buatannya ke luar angkasa. Pada bagian ini juga sedikit digambarkan masa lalu Shadow yang meniti karir pantomim layaknya Marcel Marceau.

Pantomimmu tak berjiwa. Kreasi tanpa jiwa tak bertahan lama dalam dunia seni. (Hal. 11)

Kemudian pada bagian 116 “Hal Terpenting” adalah waktu pertandingan. Disini baik Shadow maupun Azuma sama-sama menggunakan bahan yang spektakuler. Keduanya juga sama-sama membuat donat. Yang pertama adalah donat Shadow yang proses pembuatannya direbus kemudian digoreng.

Memikirkan orang yang akan memakannya jadi hal terpenting bagi kita sebagai juru roti. (Hal. 27)

Kemampuan Shadow yang ahli pantomim ternyata menyimpan rahasia tersendiri. Sebenarnya dia sama sekali tidak bisa membuat roti. Bahkan memasak sesuatu pun ia tidak bisa. Namun karena saking mahirnya menirukan orang lain, ia kemudia bisa memasak dan membuat roti dengan cara meniru sang juru roti level dunia. Siapakah dia? Jawabannya ada di bagian 117 “Sinyal Serangan Balik”.

Gerakannya benar-benar mirip juru roti level tinggi seperti yang Azuma bilang!! (Hal. 47)

Pada bagian 118 “Galaxy Express”, donat milik Azuma masih perlu dipanggang terlebih dahulu. Oleh karena itu, donat buatan Shadow sudah bisa selesai duluan. FYI, salah satu bahan yang digunakan Shadow untuk membuat donat adalah beras ketan mezuru yang bernilai sangat tinggi di Jepang. Selain itu juga ada bahan mahal dan kelas tinggi lainnya dalam donat itu.

Kalau roti dengan campuran beras ketan seperti mezuru dipanggang, roti akan mengeras seperti nasi kepal panggang. (Hal. 70)

Selanjutnya bagian 119 “Juru Roti Terbaik” adalah saat Pierrot mencicipi roti Shadow. Yah gara-gara donat dia udah mateng duluan sih. Seperti yang sudah diduga, roti Shadow benar-benar bisa membawa Pierrot ke luar angkasa. Nah, disana Pierrot bertemu siapa sih? Kok sampai-sampai Shadow percaya dirinya akan menang.

Berikutnya, tinggal bersantai dan melihat perjuangan sia-siamu… (Hal. 85)

Nah, setelah donat Azuma matang, bagian 120 “Ke Surga?!” mengisahkan tentang reaksi Pierrot pasca mencicipi roti Azuma. Sebelumnya, donat Azuma lebih lama matang karena Azuma menggunakan proses memanggang, menggoreng, dan memanggang lagi adonan donatnya. Bahkan ia juga menggunakan bahan yang sangat menakjubkan: marijuana. Lantas, Pierrot reaksinya bagaimana ya?

Jadi, Azuma menaburkan campuran kinako dan gula yang banyak, agar pas dipanggang, gula akan meleleh dan terjadi karamelisasi!! (Hal. 105)

Benarkah Pierrot pergi ke surga karena makan donat Azuma? Benar atau tidaknya, yang jelas Pierrot bisa bertemu ayah dan ibunya. Semua terasa bagaikan mimpi bagi Pierrot. Sayangnya, Pierrot tidak bisa mengaku kepada kedua orang tuanya mengenai jati dirinya yang asli. Cerita ini disuguhkan di bagian 121 “Cincin yang Indah” yang sangat menyentuh.

Kalau begitu, aku akan menyuruh koki agar mengubah pola makan Anda jadi menu diet mulai hari ini! (Hal. 124)

Kebenaran perjalanan Pierrot berjumpa dengan ayah ibunya bisa kamu baca di bagian sebelumnya. Namun yang pasti, Pierrot sungguh menyesal dengan apa yang telah dilaluinya pasca makan donat Azuma. Semua kebahagiaan di awal harus dibayar dengan kehilangan yang besar bagi Pierrot di bagian 122 “Rasa Makanan Buatan Tangan” ini.

Penjelajahan waktu yang luar biasa, tapi, akhirnya… Aku tak bisa menolong Ibu. (Hal. 147)

Akhirnya bab terakhir jilid ini adalah bagian 123 “Saling Bermusuhan?” yang fokus pada akhir pertandingan. Penasaran siapa yang menang? Silakan baca sendiri ya. Yang jelas semua juara mendapatkan reward masing-masing. Bahkan Azuma mendapatkan hadiah tambahan lho dari kerajaan Monako.

MVP-nya Azuma!! Aku akan menyerahkan cincin Pieron legendaris warisan turun-temurun keluarga kerajaan! (168)

Sudah selesai pertandingan Monaco Cup. Butuh sekitar delapan jilid komik mulai dari awal sampai akhir Monaco Cup. Selama ini sih saya menikmati pertandingan ini. Selain melibatkan peserta dari berbagai negara, tokoh baru yang bermunculan, serta roti yang menakjubkan. Meski kadang terlalu ajaib, tetep seru aja gitu melihat bahan-bahan dan proses pembuatannya.

Yang saya sayangkan ada satu sih. Entah Hashiguchi-san yang males riset atau emang memiliki nasionalisme yang tinggi, saya agak kurang sreg dengan segala reaksi Pierrot setelah mencicipi roti peserta. FYI lagi, sama seperti Kuroyanagi, Pierrot juga menggunakan semacam kata atau kalimat plesetan untuk menjelaskan reaksinya.

Kalau Kuroyanagi menggunakan kata atau kalimat berbahasa Jepang sebagai plesetan yang berhubungan dengan reaksinya, itu masih wajar karena Kuroyan adalah orang Jepang sekaligus menjadi juri di Jepang. Kalau Pierrot? Ia adalah orang Perancis yang menjadi juri di Monako. Nah, yang bikin saya nggak sreg adalah kata atau kalimat plesetannya.

Ia tetap menggunakan kata atau kalimat berbahasa Jepang. Iya sih sudah dikatakan Pierrot itu badut yang menguasai puluhan bahasa di dunia. Tetapi di Monako, penontonnya mayoritas bule, yang mengerti bahasa Jepang juga sedikit, seriously tetep pakai bahasa Jepang? Trus para orang bule juga ngerti gitu apa yang diucapkan Azuma cs tanpa penerjemah. Oh iya jangan lupa dengan bahan-bahan berkualitas tinggi yang digunakan para peserta mayoritas berasal dari negeri sakura itu! Wow!

Saya sih berharap plesetan reaksinya Pierrot menggunakan bahasa Inggris yang lebih universal. Jadi suasana luar negerinya bisa lebih greget. Gara-gara kebanyakan istilah bahasa Jepang di Monaco Cup, saya merasa pertandingan itu diadakan tetap di Jepang. Yah mungkin nasionalisme Hashiguchi-san sungguh tinggi.

Nah, selanjutnya kompetisi apa yang menanti Azuma dan lainnya? Wah saya juga penasaran nih. Apalagi saya sudah rindu dengan tindak-tanduk pegawai Pantasia cabang Tokyo Selatan yang mengundang tawa. Jadi, tunggu review saya jilid 15 dengan petualangan baru yah!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 13)

coveryakitate13

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 13)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 196

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792758412

cooltext1660180343

Upaya keras Kyosuke Kawachi yang telah bersumpah pada mendiang ayahnya untuk membangkitkan revolusi di dunia roti mengejutkan Kazuma Azuma! Tak hanya itu, sebagai reaksi dari roti Kawachi yang terlalu enak, Juri Pierrot sekarat!

cooltext1660176395

Sudah sampai jilid 13 sodara-sodara. Angka favoritku nih. Jadi review nya juga agak spesial dong. Spesialnya apaan? Ini aku nulisnya penuh rasa bahagia. Udah. Gitu doang #apasih #krikkrik. Langsung aja deh ya. Jilid ini dibuka dengan bagian 105 “Kakuei, Sang Proletar” ketika Kawachi sudah mulai bersemangat menyongsong pertandingan final babak kedua. Tekanan dan ucapan pegawai Pantasia Cabang Tokyo Selatan begitu berat bagi Kawachi.

Si gundul suka meremehkan. Aku ingin dia lebih berusaha. (Hal. 13)

Kemudian pada bagian 106 “Nasihat dan Cerita Masa Lalu” adalah sehari sebelum pertandingan. Akhirnya Kawachi sudah membuat amunisi agar bisa memenangkan pertarungan esok hari. Selain itu, untuk tema roti pangan kali ini, Kawachi juga akan menggunakan bahan pokok yang sudah populer di masyarakat China. Bahan pokok apakah itu?

Dattan soba itu makanan pokok suku Yi di pedalaman China sejak dulu. (Hal. 33)

Pada bagian 107 “Pupnya Pelan-Pelan Saja” adalah hari-H pertandingan. Lagi-lagi penontonnya hanya sedikit. Selain Azuma cs yang tidak bertanding, ada juga keluarga Kawachi yang datang serta keluarga besar Sachihoko. Mungkin gara-gara wakil Perancis sudah kalah, jadi sepi peminat yang ingin menyaksikan babak final ini.

Dia tertekan perasaan tak tenang yang dirasakannya sendiri, karena takut kalah. (Hal. 51)

Di sisi lain, Sachihoko ternyata juga memiliki senjata pamungkas untuk pertandingan kali ini. Ia menggunakan bahan dasar yang kurang familiar namun bernilai tinggi. Namun, Azuma yang sering tampak bodoh justru mengetahui dengan akurat bahan dasar yang digunakan Sachihoko untuk membuat rotinya itu. Kisah ini dimuat pada bagian 108 “Alasan Meraih Penghargaan Komik Shogakukan”.

Dia mencari tahu soal pertanian seluruh Jepang untuk mengalahkanmu!! (Hal. 74)

Ketika Kawachi hendak memanggang adonan, ternyata Sachihoko sudah selesai dengan rotinya. Akhirnya Pierrot mencicipi roti Sachihoko terlebih dahulu. Pada bagian 109 “Aku dan Libya” ini sepertinya Pierrot lagi-lagi melakukan atraksi yang ajaib. Kemudian saat Kawachi sudah selesai memanggang, reaksi Pierrot juga tidak kalah menakjubkan. Bahkan kali ini dia terancam bahaya.

Pierrot mampu menghindari teror tembakan tanpa disadari siapapun… Tapi, kenapa hanya kali ini dia bisa sampai ditusuk pisau? (Hal. 92)

Anyway, di bagian ini ada karakter namanya Conan Tonegawa lho. Ya ampun bisa-bisanya Hashiguchi-san mencomot tokoh beken itu. Oke lanjut. Pada bagian 110 “Menatap Ke Depan” mengisahkan kondisi Pierrot yang kritis karena reaksi “berbahaya” tadi. Sepertinya kali ini beneran serius karena sampai ada pengumuman di penjuru Monako tentang kondisi Pierrot di rumah sakit.

Kalau kehilangan darah sebanyak itu… Kita hanya bisa berdoa… (Hal. 107)

Ternyata eh ternyata, Pierrot kehilangan banyak darah dan membutuhkan pendonor. Yang bikin kaget, golongan darah Pierrot itu adalah golongan darah langka bernama Bombay (ini saya bayanginnya kok jadi onion ring -.-”). Namanya juga golongan darah langka, jadi nggak mudah menemukan pendonor di bagian 111 “Raja dan Pierrot”. Yak betul sekali, ternyata Raja Monako memiliki goldar bombay juga *ahelah kebetulan bingit*

Biasanya orang bertipe bombay lahir dari tradisi pernikahan dengan saudara dekat… (Hal. 129)

Ada yang inget nggak kalau Pierrot itu waktu masih bayi ditinggalkan orangtuanya di tenda sirkus? Nah pada bagian 112 “Identitas Pierrot Sebenarnya” ini memang benar-benar terkuak sih siapa Pierrot itu sebenarnya. Sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan. Bahkan sang Raja juga terhenyak dengan fakta yang beliau hadapi.

Biarkan pangeran Leol, anakku yang baru lahir ini dibesarkan sebagai anak keluarga rakyat biasa. (Hal. 144)

Selanjutnya di bagian 113 “Roti yang Lebih Hebat” adalah beberapa hari menjelang pertandingan babak ketiga. Azuma cs sebenarnya ingin menjenguk Pierrot. Namun istana kerajaan sangat ramai wartawan dan dijaga ketat. Akhirnya dengan dalih ingin mengambil bahan membuat roti, Azuma dkk diperbolehkan masuk. Ternyata, alih-alih terbaring lemah tak berdaya, Pierrot justru berpesta pora di dalam istana itu.

Lantas, kau kira, Yang Mulia tidak akan sedih melihatmu mabuk-mabukan dan hidup bermalas-malasan? (Hal. 171)

Yang terakhir adalah bagian 114 “Bahan Shichimi” mengenai rencana Azuma membuat roti papan alias roti dengan cita rasa kampung halaman. Ia berencana membuat roti dengan sebuah bahan terlarang alias narkoba yaitu marijuana. Eh ternyata yang digunakan Azuma bukan daunnya. Terus apa hayoo?

Itu betul, petani teman kakekku punya izin menanam marijuana. Bisnisnya sukses besar, lho. (Hal. 178)

Jilid 13 ini lebih seru dibandingkan sebelumnya. Selain pertandingan Kawachi memang lebih menegangkan dibandingkan Suwabara, reaksi Pierrot sampai berakhir kritis juga membuat saya kaget. Ada gitu ya juri yang mempertaruhkan nyawa demi reaksi mencicipi roti. Ah tapi ini kan komik. Ya pasti ada lah.

Selain itu, saya senang dengan misteri Pierrot selama 23 tahun akhirnya terkuak. Rasanya turut bahagia gitu karena Pierrot tidak perlu lagi mencari-cari orangtuanya di bangku penonton sambil berharap akan dijemput.

Bagian Pierrot dan Raja memang menyentuh kalbu dan sanubari #tsaah. Beneran deh, kalau sungguh-sungguh menghayati, pasti suasana mellownya dapet. Konsep Tempat Penentuan hidup dan mati juga unik. Bisa dibayangkan sih frustrasinya Pierrot saat berada disana.

Well, babak final terakhir sekaligus penentuan juara Monaco Cup tinggal selangkah lagi. Saya jadi tidak sabar membuat review jilid 14 nanti. Sepertinya akan semakin seru dan menegangkan. Jangan lupa dibaca yah! Sayonara~

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus