Rss

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 12)

coveryakitate12

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 12)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Dian I. N.

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 196

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792756739

cooltext1660180343

Akhirnya!! Pertandingan final Monaco Cup akan dimulai!! Babak pertama, Monica Adenauer wakil tim Amerika akan melawan Kai Suwabara wakil dari tim Jepang! Bagaimana jalannya pertandingan nanti!? Mari kita nantikan bersama!!

cooltext1660176395

Melanjutkan seri Yakitate!! JaPan, rasanya saya sendiri dan mungkin para pembaca setia blog saya *ceileh* sudah tidak sabar mengetahui kelanjutan Monaco Cup. Sekedar informasi, saat ini kompetisi tersebut sudah mencapai babak final. Namun sebelumnya, bagian 95 “F1 GP” menceritakan tentang Azuma dan Shadow White, pemenang tema roti olah raga, memberikan roti mereka kepada para pembalap F1, tak terkecuali Michaelli Shumappher (pasti pada ngeh kalo namanya plesetan dari om Schumi).

Kalau Azuma tak bisa melampauinya, kalian berdua yang harus berjuang di final nanti… (Hal. 11)

Pada bagian 96 “Pemimpin”, tema roti yang harus dibuat sudah diumumkan. Kabar buruknya, babak final akan dibagi menjadi 3 ronde dengan masing-masing anggota tim berduel satu lawan satu. Tema roti kali ini adalah Sandang, Pangan, Papan.

Tapi hati-hatilah! Kalau kalah 2 kali berturut-turut, pertandingan ketiga akan ditiadakan. (Hal. 38)

Suwabara yang bertindak sebagai orang pertama yang berlomba mewakili tim Jepang akan berhadapan dengan Monica Adenauer pada roti sandang. Bagian 97 “Monica Sesungguhnya” ini juga menjelaskan tentang asal-usul Monica yang sangat misterius dan alasan ia bisa menjadi peserta Monaco Cup. Bahkan Sofie dan Kuroyanagi juga kesulitan.

Bisa diartikan mereka punya keunggulan dalam teknik pembuatan kue dan biskuit daripada kita sebagai juru roti. (Hal. 55)

Detik-detik menjelang pertandingan, Suwabara berlatih dengan semangat membara agar bisa mengalahkan Monica. Berbeda jauh dengan Kawachi yang santai-santai melulu. Mengetahui hal ini, pada hari pertandingan, Monica mengenakan pakaian yang “berani” untuk menjatuhkan Suwabara. Namun, pada bagian 98 “Na Na Naked” ini justru menggambarkan Suwabara yang tidak gentar meskipun mendapat “gertakan” dari Monica.

Sebenarnya, kau yang di posisi 2 yang jadi penentu kemenangan atau kekalahan kita… (Hal. 69)

Selanjutnya pertandingan yang tengah berlangsung disuguhkan pada bagian 99 “Alasan Juara”. Suwabara membuat dua adonan berbeda ukuran dan kekentalan. Sedangkan Monica membuat lima adonan dengan warna yang berbeda. Sejauh ini masih belum nampak roti seperti apa yang akan mereka hasilkan. Yang jelas, pasti akan spektakuler sekali.

Aku tahu, roti gandum hitam berasal dari Jerman. Tapi, memangnya di sini ada orang Jerman? (Hal. 87)

Ketika roti kedua peserta sudah selesai dipanggang, itulah saatnya Pierrot mencicipi. Sempat terjadi rebutan pada bagian 100 “Intinya, Kau Dicampakkan?” mengenai siapa yang dicipi duluan. Akhirnya Suwabara mengalah dan mempersilakan Pierrot mencoba roti mahkota buatannya. Selain bentuknya seperti mahkota, warnanya juga bisa berkilauan lho.

Aku bisa menempa pedangku sendiri. Bikin cetakan, sih, hal kecil! (Hal. 107)

Selanjutnya pada bagian 101 “Nomor 17 Itu Nomor 110!” Suwabara menjelaskan berbagai keunggulan roti buatannya itu. Betapa tidak, awalnya roti tersebut berwarna hitam legam, namun setelah “kulitnya” dibuka, warnanya menjadi kekuningan (oke, saya nggak tau sih warnanya kuning apa enggak gara-gara komiknya hitam putih) dengan hiasan buah yang berkilauan. Alasannya apa ya?

Dengan cara ini, warna buah jadi semakin terang dan berkilauan!! (Hal. 129)

Setelah puas mencicipi roti Suwabara, Pierrot beralih pada roti Monica. Pada awal bagian 102 “Firasat Sebuah Awal” ini sih biasa saja. Namun permen bunga yang menjadi hiasan roti Monica mekar dengan indahnya. Bahkan Pierrot bersedia ditangkap polisi dan dipenjara karena ulahnya untuk menciptakan reaksi yang spektakuler. Jadi siapa yang menang di babak pertama ini ya?

Tapi, ada sesuatu yang tak terbayangkan dalam roti nona Adenauer ini. (Hal. 145)

Sudah bisa nebak kan siapa pemenangnya? Jadi mari move on ke pertandingan kedua. Kawachi yang kebingungan akan membuat roti apa untuk melawan Spencer Henry Hoko, tiba-tiba ia teringat dengan bekal yang diberikan Shigeru sebelum berangkat ke Perancis dulu. Pada bagian 103 “Kotak Shigeru” ini Kawachi penasaran apakah bekal dari Shigeru bisa membantunya memnangkan pertandingan.

Tapi… Lawanku Shachihoko… Bukan lawan yang gampang dihadapi… (Hal. 162)

Pada review jilid selanjutnya, saya sedikit rindu dengan Tsukino dan Shigeru. Kemudian tadaa! Pada bagian 104 “Tekad Kawachi” ini mereka berdua, termasuk Manajer dan Kinoshita tiba-tiba ada di Monako! Selain gara-gara bakeri mereka sepi karena promo besar-besaran St. Pierre, mereka juga khawatir dengan keteguhan Kawachi.

Aku berusaha meneruskan cita-cita ayah untuk bekerja di bakeri pusat Pantasia… Di mata keluargaku, aku ini pahlawan!! (Hal. 176)

Laga puncak semua kompetisi memang selalu menegangkan yah. Selain yang bertanding memang sudah hebat-hebat semua, tantangan yang diberikan juga tidak main-main sulitnya. Sedikit komerntar saya pada pertarungan Suwabara, ehm dari awal sudah bisa ditebak sih. Tapi saya tercengang justru setelah pertandingan selesai. Karena Suwabara dan Monica malah *some text missing* #dilarangspoiler.

Berkali-kali saya mengutarakan sebelnya saya dengan tokoh Kawachi. Soalnya saya setuju banget dengan pendapat Kuroyan, bahwa Kawachi sungguh tidak berguna di kompetisi ini. Alangkah lebih baik Shigeru saja yang berangkat. Jika Kawachi ini beneran ada di depan saya, pasti akan saya toyor bolak-balik deh.

Nah, untungnya Hashiguchi-san seperti mengerti pembacanya yang penasaran dengan adanya Kawachi di Monaco Cup. Sehingga alih-alih membuat pertandingan tim, pada babak final ini Kawachi juga dituntut serius menghadapi Sachihoko agar Jepang bisa menang. Tetapi sayangnya, ceritanya dibuat ngegantung #pffft.

Saya juga hepi semua pegawai Pantasia Cabang Tokyo Selatan muncul di Monako. Selain bikin tambah rame, saya juga nggak bakal jenuh-jenuh banget dengan Kuroyan-Sofie lagi. Penasaran nih dengan pertandingan Kawachi. Jadi tunggu review saya jilid 13 yah :D

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Indonesia X-Files

coverindonesiax

Judul: Indonesia X-Files

Sub Judul: Mengungkap Fakta dari Kematian Bung Karno Sampai Kematian Munir

Penulis: dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F

Penerbit: Noura Books

Jumlah Halaman: xxiii + 334

Terbit Perdana: Juni 2013

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, Juli 2014

ISBN: 9786027816602

cooltext1660180343

“Kamu gila. Ngelawan arus. Pulang tinggal nama entar.” Begitu yang terlontar dari kolega dr. Abdul Mun’im Idries, ketika akhir 1993, dokter forensik ini berani menjadi saksi ahli kasus pembunuhan Marsinah. Kala itu, santer diyakini pejuang buruh ini dihabisi oknum militer—ketika militer paling ditakuti dengan penculikan senyapnya. Tapi berani-beraninya Mun’im mengusik tentara.

Lalu, apa yang dihadapi Mun’im dan fakta apa yang ia temukan ketika harus terjun pada detik-detik mencekam Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi? Bagaimana analisis forensiknya terkait pembunuhan Munir, Tragedi Tanjung Priuk, Tragedi Beutong Ateuh, dan sebagainya?

Mun’im dalam buku ini membongkar arsip, membeberkan fakta-fakta mengejutkan, mengungkap sejumlah nama tabu, di samping berbagi kisah dan cara ilmiah (kedokteran) forensik dalam membongkar kriminalitas dan kejahatan di negeri ini.

“Buku ini merupakan rekaman dokter Mun’im Idries sebagai rekaman ‘voice of the voiceless’ – rekaman suara dari yang tidak lagi bersuara.” – Prof. Dr. O.C. Kaligis, S.H., M. H.

Februari: Buku Profesi

cooltext1660176395

Penegakan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat memang mutlak diperlukan. Perbuatan baik dan buruk yang membaur jadi satu harus dipisahkan ketika perbuatan buruk tersebut sudah mengganggu kenyamanan bahkan merenggut korban jiwa. Selain polisi yang sudah seharusnya mengurusi hukum dan turunannya, ada sebuah profesi yang tak kalah penting: bagian forensik.

Bagi para penggemar kisah-kisah detektif, misteri, dan kriminal sepertinya sudah agak mengenal tentang profesi inni. Namun lika-liku dan sepak terjangnya dalam pencarian kebenaran suatu kasus yang telah terjadi, sepertinya belum banyak diketahui orang awam. Oleh karena itu, dr. Abdul Mun’im Idries sebagai seorang dokter spesialis forensik ingin berbagi kisah dan pengalamannya dalam buku ini.

Buku Indonesia X-Files terdiri atas enam bab yang berbeda-beda. Masing-masing terdiri dari beberapa sub bab yang berkaitan dengan judul bab. Saya beri cuplikan satu-satu ya. Bab pertama adalah Menyibak Fakta-Fakta Tersembunyi. Sesuai sub judul buku ini, ada sebelas kasus populer Indonesia sepanjang sejarah (yang masih belum tuntas pengerjaannya hingga kini) yang coba diungkap penulis melalui kacamata seorang ahli forensik.

Kasus yang cukup menarik perhatian saya adalah mengenai kematian sang proklamator Indonesia. Saya sih bukan penggemar dunia sejarah, tetapi saya juga sedikit mengetahui tentang misteri kematian presiden pertama Indonesia ini yang bisa dikatakan mendadak dan tiba-tiba. Ada berbagai versi mengenai kematian Bung Karno yang dikebumikan di kota kelahiran saya ini.

Bung Karno, selain tidak mendapat perawatan medis yang memadai untuk penyakit ginjal dan jantung, ditambah dengan kurangnya atensi serta dihilangkannya eksistensi beliau selama menjalani masa tahanan rumah, tak perlu diragukan merupakan keadaan yang bermuara pada kematian. (Hal. 45)

Selain itu, kasus yang tak kalah misteriusnya adalah kematian seorang aktivis HAM di Indonesia, Munir Said Thalib. Siapa sih yang belum pernah mendengar nama beliau ini? Berbagai gerakan mengenai hak asasi manusia sering dilakukan di bumi Indonesia. Meskipun beliau juga satu almamater kampus dengan saya, kematiannya masih diliput misteri hingga saat ini. Bahkan penyelesaian kasusnya juga masih jalan di tempat.

Saat pertemuan pertama tim untuk pertama kalinya, saya melihat pertemuan itu tidak serius menangani kasus Munir. (Hal. 87)

Bab kedua berjudul Kasus-Kasus Kedokteran Forensik, Serangkaian Kisah Membongkar Kejahatan. Setelah mengungkap beberapa fakta dari kasus-kasus populer, penulis mencoba mengajak pembaca berkenalan dengan dunia forensik. Mulai dari autopsi, bedah mayat, hingga perkiraan waktu kejadian dan sebab kematian. Ternyata saya baru tahu beberapa prosedur sebelum dilakukan bedah mayat.

Bedah mayat forensik diperlukan guna membantu tegaknya keadilan dan kebenaran di antara umat manusia. (Hal. 107)

Selain itu, ada bagian menarik lain yaitu mengenai isu tentang malapraktik. Cukup menarik sih mengingat kasus malapraktik sempat terjadi beberapa kali di Indonesia. Itupun yang muncul ke permukaan dan diulas media massa, bagaimana dengan malapraktik yang adem ayem tanpa tersorot kamera?

Perlu diketahui bahwa untuk mengetahui apakah seorang dokter telah melakukan penyimpangan atau tidak, tergantung dari pelbagai faktor, di antaranya kondisi dan fasilitas setempat serta standarisasi pendidikan yang diperoleh dari perguruan tinggi di mana dokter tersebut mendapatkan keahlian. (Hal. 149)

Lanjut ke bab ketiga berjudul Mengungkap Kejahatan Narkoba. Sudah jelas yah dari judulnya, penulis memaparkan berbagai hal yang bisa diungkap dari kematian seorang pengguna narkotika. Seperti yang sudah diketahui, Indonesia masuk dalam zona darurat narkoba. Penyalahgunaan zat terlarang itu memang sangat meresahkan.

Sebenarnya yang membuat narkoba wajib diberantas adalah efek perbuatan dan kondisi yang dilakukan oleh penggunanya. Namun selain narkoba, ada lagi sebuah bahan lain yang hampir sama dampaknya dengan narkoba. Apa itu? Minuman keras. Pasti ingat dong dengan berita miras oplosan yang menewaskan beberapa orang. Nah kedua zat berbahaya ini dipaparkan penulis dalam konteks forensik.

Melihat dampak negatif dari minuman keras dan mudah serta murahnya harga minuman keras bila dibandingkan dengan morfin, heroin, ganja, atau ekstasi, sebenarnya minuman yang mengandung alkohol haruslah lebih diwaspadai. (Hal. 175)

Setelah itu, saya diajak menyelami bab keempat berjudul Membongkar Kekerasan Seksual dan Kejahatan terhadap Anak. Pasti ingat juga dong dengan berbagai kasus kekerasan seksual terhadap anak yang heboh beberapa saat yang lalu. Anak-anak memang masih polos dan belum mengerti tentang hal “dewasa” seperti hubungan seksual.

Selain bercerita tentang pedofilia, penulis juga menulis tentang kasus bayi tertukar, aborsi, hingga pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Dua kasus terakhir cukup membuat saya terhenyak sih. Karena disadari atau tidak, menghilangkan nyawa bayi atau janin yang tidak bersalah sungguh perbuatan yang tidak pantas.

Suatu kenyataan hidup yang ironis: kaum wanita yang biasanya digambarkan sebagai makhluk yang lembut, halus perasaannya, ternyata juga potensial sebagai pelaku pembunuhan. (Hal. 238)

Bab kelima adalah Kedokteran Forensik Sebagai “Pisau” Ilmiah bercerita tentang sekelumit penafsiran yang bisa ditarik setelah dokter ahli forensik melakukan pemeriksaan dari korban tindak kejahatan. Ada yang tentang hasil visum, kematian mendadak, hingga identifikasi korban. Membaca bagian ini, saya baru tahu bahwa sangat panjang proses penarikan kesimpulan dari sebab kematian. Belum lagi penyidikan dan pengusutan kasus yang panjang pula. Mungkin ini alasannya berbagai kasus bisa sangat lama penyelesaiannya.

Fokus dari kriminologi pada saat ini agaknya memang hanya terbatas pada si pelaku/tersangka pelaku kejahatan, bukan kepada efek atau akibat yang ditimbulkan oleh kejahatan itu sendiri. (Hal. 278)

Akhirnya buku ini ditutup dengan bab terakhir berjudul Pembunuhan Sadis, Amukan Massa, dan Kematian Tokoh. Bab ini sebenarnya agak-agak mirip dengan bab satu sih, tetapi kasus yang diangkat tidak sepopuler di bab satu. Kasus yang cukup mencengangkan bagi saya di bab ini adalah kasus mutilasi mayat menjadi 13 bagian.

Si pembunuh tak hanya memotong-motong jasad korban secara sistematis, sempat pula menyayat dan mengupas seluruh daging dari tulang korbannya! (Hal. 300)

Awalnya, saya menganggap buku ini selayaknya buku-buku yang beredar di pasaran tentang pengungkapan fakta-fakta kasus populer di Indonesia. Namun yang membuat saya tertarik membacanya setelah lama ditimbun adalah penulisnya yang berprofesi sebagai dokter spesialis forensik. Penggunaan kacamata yang berbeda saat memandang kasus membuat buku ini spesial.

Saya menyukai buku fiksi dengan genre detektif-detektifan. Nah, kalau di buku seperti itu sebuah kasus selesai ketika sang detektif menyebut si A adalah pelaku. Ya sudah, the end, gitu doang. Tetapi sesungguhnya dibalik detektif yang menyebut pelaku itu, ada berbagai macam tahapan yang perlu dilakukan, khususnya pada bagian forensik.

Jujur, saya hanya sedikit mengetahui berbagai kasus yang disuguhkan di buku ini, baik kasus yang menjadi topik utama sub bab maupun kasus yang menjadi printilan alias sekilas info semata. Selain kasus tersebut terjadi pada tahun-tahun lampau (kebanyakan pada era orde baru), kekurang pedulian saya dengan dunia kriminal di masa lalu juga membuat saya cupu tentang kasus-kasus ini.

Belum lagi berbagai nama tokoh-tokoh terkemuka Indonesia yang lagi-lagi saya kurang mengenal karena mereka-mereka “biasa” nampang bukan di panggung jagat hiburan tanah air. Sebenarnya kalau saya tahu rupa tokoh yang disebutkan, mungkin saya bisa lebih bisa membayangkan tentang kasus yang diceritakan. Tapi yah, itu kan kelemahan dari sisi pembacanya ya hehehe.

Kalau kelemahan dari buku ini sendiri, saya sangat menyayangkan tentang pemaparan penulis. Setelah menutup buku ini, saya jadi agak bingung tentang definisi “mengungkap” fakta. Banyak bagian-bagian yang penulis mengakhirinya dengan ngegantung alias tidak selesai. Saya jadi geregetan dan terlontar “Lho, gini doang? Terus itu gimana jadinya?” berkali-kali. Ibarat kata lagi haus, tapi cuma disuguhi gambar jus jeruk doang, jadinya nanggung gitu. Di dalam buku ini penulis juga sering menggunakan kata “pelbagai” di berbagai kalimat. Saya tahu sih artinya apaan, namun saya kurang terbiasa saja saat membacanya.

Selain itu, berbagai istilah dari dunia kriminal, forensik, dan medis bercampur aduk jadi satu. Penulis mungkin terlalu semangat memaparkan konteks, namun melupakan definisi istilah asing bagi orang awam macam saya ini. Ada cukup banyak istilah yang penulis berikan penjelasan secukupnya, tetapi tidak sedikit pula berbagai istilah yang dibiarkan begitu saja sampai-sampai saya jadi males googling untuk tahu artinya saking banyaknya istilah itu.

Terlepas dari perlunya glosarium atau catatan kaki tentang istilah kurang populer, buku ini isinya bagus kok. Dunia forensik yang awalnya saya ketahui hanya periksa sana periksa sini di TKP, ternyata mengandung beragam kegiatan yang tidak mudah. Berbagai kasus yang diceritakan juga menambah wawasan bagi pembaca yang sebelumnya kurang mengetahui. Siapa tahu setelah membaca buku ini, pembaca bisa menyelami lebih lanjut tentang dunia forensik demi penegakan hukum yang lebih baik. Semoga.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 11)

coveryakitate11

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 11)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Dian I. N.

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 195

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792754377

cooltext1660180343

Kazuma Azuma, pemuda yang berjuang menciptakan ‘Japan’, roti kebanggan Jepang, seperti halnya roti khas Inggris, Jerman, dan Perancis. Bersama teman-temannya, dia berhasil keluar dari gua perangkap! Lalu, pertarungan dengan musuh terkuat Kayser telah menanti! Berjuanglah, Azuma!! Jangan sampai telat lagi, ya!!

cooltext1660176395

Haiyaa..ini sudah review jilid kesebelas. Tidak terasa udah banyak aja kisah kehidupan Azuma bikin JaPan. Nggak usah basa-basi deh, langsung aja ke review. Jilid ini dibuka dengan bagian 85 “Rahasia Kayser” pada setting lima hari sebelum pertandingan. FYI, tema kali ini adalah membuat roti olah raga, tepatnya olah raga F1. Ditengah kebingungan tim Jepang, Kayser bersaudara memamerkan keunggulannya.

Jangan-jangan… Dia tak bicara dan tak berjalan supaya saraf yang berguna untuk bikin roti saja yang berkembang!!? (Hal. 14)

Selanjutnya bagian 86 “Pertanyaan” adalah perbincangan Kuroyan, Sofie, dan Pharaoh. Sebagai pihak berwajib, ia berusaha mencari tahu tentang (calon) tersangka segala tragedi di Monaco Cup yaitu Yuichi Kirisaki. Alih-alih Sofie menyembunyikan informasi, ia justru sangat antusias membantu Pharaoh.

Walaupun sepertinya kalian sudah putus hubungan, anda tetap putrinya. (Hal. 30)

Pada bagian 87 “Tradisi Keluarga Kerajaan”, ada sebuah keuntungan pada pertandingan kali ini. Semua peserta diperbolehkan mengambil bahan apapun yang diperlukan di kerajaan Monako. Disana telah disediakan berbagai bahan unggulan dari seluruh dunia. Namun ternyata, ketika Azuma cs inginj mengambil bahan, sang Raja tidak serta merta mengabulkan permintaan mereka. Beliau memberi pertanyaan yaitu:

Saat berhasil bikin roti yang kelihatannya sangat lezat… Pada siapa kalian akan memberikan rotinya untuk dicicipi pertama kali?! (Hal. 46)

Sementara itu, pada bagian 88 “Kekuatan Gran” adalah saat menjelang turnamen. Azuma yang awalnya percaya diri dengan Japan 51, menjadi ragu karena tidak berhasil membuatnya lebih baik lagi. Tidak disangka, Suwabara memberikan sebuah nasihat penting sehingga membuat semangat Azuma kembali berkobar. Sedangkan Kawachi? Oh siapa dia? Apa fungsinya? Zzzz.

Sebagai juru roti, kau harus senantiasa berdiri di pihak penikmat rotimu dan terus berusaha membuat roti… (Hal. 65)

Selanjutnya pertandingan dimulai!! Tim Jepang melawan tim Perancis dikisahkan pada bagian 89 “Di Balik Mantel” ini. Metode pertandingan kali ini adalah adu roti terbaik yang bisa dihasilkan tiap tim. Setiap tim bisa membuat maksimal tiga roti. Roti yang terbaik akan otomatis meloloskan pembuatnya. Tidak disangka, Gran Kayser sungguh menakjubkan penampilannya.

Si sulung menyangga kedua saudaranya dengan lengannya saja!? (Hal. 87)

Sayangnya, Azuma datang terlambat karena pagi-pagi dia harus ke istana kerajaan untuk meminta bahan yang kurang. Padahal waktu minimal membuat roti sudah berlalu. Jadi bisa dikatakan jika Azuma tidak hadir, maka hanya roti Suwabara dan Kawachi saja yang bisa dinilai. Kisah ini ada pada bagian 90 “Antiangin”. Kawachi dengan segala kepanikannya sungguh menjengkelkan, by the way.

Cowok bandana boleh juga… Tapi, aku tak mengerti, beraninya kau mengejekku begitu rupa… (Hal. 111)

Cerita masih berlanjut pada bagian 91 “Saat Menggambar Naskah Ini, Hanshin Belum Dipastikan Menang” ketika tim Perancis hanya membuat satu roti saja. Bisa dikatakan karena sangat percaya dengan kemampuan Gran, mereka hanya membuat satu macam saja. Tidak heran segala bahan dasar rotinya sungguh memukau. Mulai dari tepung mutiara, blueberry, dan ekstrak bunga hortensia.

Bahkan tim Kayser hanya mengandalkan roti Gran… Mereka tak berpikir bakal kalah dari kami!!? (Hal. 133)

Saat segala daya upaya terasa sia-sia, tak disangka Azuma muncul dari bangku penonton. Tentu saja dia membawa roti hasil kreasinya yang menakjubkan. Beruntung dia datang sebelum waktu pertandingan habis. Sehingga pada bagian 92 “Kenapa “Gundul” Bukan Kata Diskriminatif” ini Pierrot bisa mencicipi rotinya. Namun naas, Pierrot enggan mencicipu karena tidak percaya roti tersebut adalah murni buatan Azuma dan dibuat dalam waktu 150 menit.

Bentuk roti ini tak menimbulkan selera makan, tapi baunya membuat perutku keroncongan… (Hal. 153)

Tetapi untunglah, pada bagian 93 “Dibaca Dari Bawah Juga ‘Amay X Amay’“ muncul Raja Monako yang mengatakan keterlambatan Azuma adalah kesalahannya. Oleh karena itu, Pierrot harus sudi mencicipi roti Azuma karena pembuatannya juga di hadapan sang Raja sendiri. Melihat kenyataan itu, Pierrot mau tidak mau mencicipi roti Azuma. Bagaimana reaksinya?

Roti buatanmu memang enak… Tapi, sayang… (Hal. 164)

Udah lah ya saya nggak mau membocorkan hasil pertandingan karena sudah pasti bisa ditebak. Kemudian lanjut pada bagian 94 “Yang Ditiru” dengan cerita santai ketika Kawachi, Azuma, Suwabara, Kuroyanagi, dan Sofie ngopi-ngopi cantik di sebuah kafe. Semua penasaran dengan roti Azuma yang tampak tidak menarik itu. Rahasianya apa ya?

Kita menang berkat kenaifan seseorang yang percaya pada lelucon kakek pikun yang tak bisa membedakan manusia dan singa. (Hal. 179)

Akhirnyaaa rasa ketidaksukaan saya dengan tim Perancis berakhir sudah. Saya tahu sih cepat atau lambat mereka pasti kena batunya. Dan saya rasa Azuma sukses memberikan “hadiah” itu kepada mereka. Tidak seperti jilid sebelumnya, jilid ini full setting-nya ada di Monaco Cup. Karena semuanya di Monaco, saya jadi merindukan Tsukino dan Shigeru.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Hashiguchi-san membuat ketegangan pertandingan ini dengan rapat. Sayangnya, saya masih merasa terlalu banyak kebetulan. Misalnya saja saat Azuma terlambat, ternyata gara-gara terjebak macet sama Raja Monako. Trus dia masih bisa bikin roti gitu di dalam mobil. Really?

Lambat laun saya jadi bingung ini komik cerita fiksi berdasarkan kenyataan atau murni rekayasa. Soalnya segala hal ajaib itu saya yakin murni hanya akal-akalan Hashiguchi-san. Tapi saya sempat baca kalau segala tehnik pembuatan roti di komik ini berdasarkan info seorang Konsultan Bakeri bernama Uchimura Kouichi. So, pasti fakta dong ya kan.

Oh iya satu lagi, jujur saya nggak pernah baca judul tiap chapter. Soalnya kadang judulnya nggak nyambung dengan isi ceritanya. Jadi saya terobos aja gitu langsung ke ceritanya hahahaha. Tapi ya sudah lah ya, yang penting dinikmati saja. Sejauh ini sih masih belum kerasa bosan dengan atmosfer Monaco Cup. Moga aja jilid selanjutnya lebih menegangkan lagi. Kan udah babak 4 besar. Hehehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 10)

coveryakitate10

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 10)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Annisa Laila Khaled

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792751277

cooltext1660180343

Bersama teman-temannya, Kazuma Azuma, pemuda yang mengejar kesempurnaan Japan atau roti kebanggan Jepang, terkurung dalam gua! Apa yang sebenarnya terjadi?! Plus kali ini, cerita tambahan ‘Lord of The (Yu) Biwa’! Simak petualangan Azuma dkk di dunia fantasi yang berbeda dari biasanya!

cooltext1660176395

Petualangan Azuma membuat roti berlanjut lagi nih. Sekadar catatan edisi sembilan kemarin nih, setelah lolos dari babak delapan besar, Azua terjebak di pulau terpencil untuk membuat roti manis. Setelah perjuangan yang sangat berat, akhirnya tim Jepang sukses membuat roti manis. Namun, pada bagian 78 “Wajah Asli Pierrot” diceritakan nasib tim Jepang selanjutnya.

Yang anehnya lagi, di antara 4 negara yang lolos, tidak ada satu pun yang menentang pertandingan ulang ini. (Hal. 15)

Ya benar sekali. Kabar buruk menerpa tim Jepang. Meskipun mereka berhasil membuat roti manis, pertandingan sebelumnya dianggap tidak sah dan akan diadakan pertandinga ulang. Tentu saja Kawachi mencak-mencak. Bahkan Pierrot sebagai juri juga sangat kecewa dengan keputusan Ketua Komite. Mau tidak mau semua tim harus menerima dan akan berangkat esok pagi menuju lokasi pertandingan baru. Kisah ini disuguhkan di bagian 79 “Pengetahuan Umum Pierrot”.

Om instruktur, sepertinya di bawah tidak ada sungai… Malah ada lubang besar sekali… (Hal. 32)

Lagi-lagi pada bagian 80 “Nathalie ~ ♪” ini tim Jepang mendapat perlakuan tidak adil dari Ketua Panitia. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Pierrot juga turut terdampar di sebuah  gua gelap gulita bernama Huautla di Meksiko. Lebih buruknya lagi, Pierrot tidak tahu bagaimana cara keluar dari gua tersebut. Sesaat kemudian, mereka menemukan air terjun Iglesia yang bermuara di sungai. Ditengah rasa kalut tim Jepang, Pierrot berujar bahwa ia bisa menyelam sejauh 2-3 kilometer dalam sekali napas. Tak pelak ini bagaikan angin segar bagi Azuma cs.

Itu karena peraturan pertandingan di sungai kali ini beda dengan di pulau tak berpenghuni yang mengharuskan bertanding sambil bertahan hidup. (Hal. 46)

Selanjutnya pada bagian 81 “Pierrot Salah Perhitungan” dikisahkan sebuah rahasia besar Pierrot. Sambil menunggu roti enak sebagai dalih tenaga berenang Pierrot, ia terus memutar otak bagaimana cara menghindari kata-kata yang telah ia lontarkan sebelumnya. Gengsi yang inggi dan tidak mau mengecewakan tim Jepang membuat Pierrot tidak kuasa berkata sejujurnya.

Maaf, ya, wakil Jepang… Tadi aku bilang begitu untuk membangkitkan semangat kalian… (Hal. 61)

Akhirnya pada bagian 82 “Bedanya Bodoh dan Jenius Itu” Pierrot berhasil memikirkan sebuah jalan keluar untuk mengulur waktu. Ia telah mepersiapkan sebuah respon yang sulit untuk dipecahkan sehingga Azuma dkk kebingungan memecahkan apa maksud setelah mencicipi roti buatan mereka. Sayangnya, semua pemikiran njelimet Pierrot berhasil dipecahkan Azuma dalam satu halaman saja *buahahahahak*

Sampai mereka berhasil menjawabnya, aku bisa dengan tenang memikirkan jalan keluar lainnya. (Hal. 83)

Pierrot yang telah kecewa karena tebakan jitu Azuma mau tidak mau harus menyelam sungai yang telah ditemukan tadi. Tiba-tiba, sang wakil Mesir yang berpakaian aneh, bernama Pharaoh datang menyelamatkan mereka semua. Kisah ini disughkan pada bagian 83 “’Itu’ yang Dibuat di Pantai”. Membaca penuturan Pharaoh ini sebenarnya amat sangat tidak masuk akal. Tapi yang bisa saya lakukan hanya mengikuti alur saja deh hehehe.

Dengan kekuatan ajaib piramida Mesir, aku melacak keberadaan kalian di Meksiko dan untunglah aku berhasil menggali lubang dari pulau tak berpenghuni sampai ke gua ini. (Hal. 107)

Sementara itu, Eurlick Lame, sang Ketua Komite Penyelenggara Monaco Cup ditemukan bunuh diri. Tak pelak hal ini membuat geger lokasi pertandingan Monaco Cup. Akibatnya, sang Raja Monako bernama Leonheart XIV harus turun tangan dan bertanggung jawab pada pertandingan ini. pada bagian 84 “Raja Monako” ini digambarkan rupa dari sang raja yang sangat ehm…unik.

Mulai sekarang, saya akan memimpin langsung pertandingan dan tidak akan membiarkan adanya kejahatan yang bisa menguntungkan atau merugikan pihak tertentu. (Hal. 130)

Seperti yang sudah tertulis pada blurb, bab terakhir jilid ini adalah kisah spin off yang berbeda dari biasanya. Judul bagian ini adalah Yakitate!! Japan Side Story: Lord of The (Yu) Biwa (seems like TLOTR, eh?). Jadi pada kisah ini diceritakan Azuzu si pembuat roti menemukan buah biwa mencurigakan yang tidak mau lepas dari tangannya.

Di dalam mimpi… Biwa itu akan menggoda tuannya dengan berbagai cara dan menyeretnya ke dalam kegelapan. (Hal 145)

Ia kemudian meminta bantuan pada Watchi. Karena Watchi tidak bisa membantu, akhirnya bantuan diberikan oleh Princess Moon. Katanya, biwa tersebut harus dibuang di Hari Pembuangan Sampah Organik. Lokasi yang tepat adalah di Istana Kegelapan, tempat tinggal ratu kejahatan, Snowzer. Akhirnya Azuzu berangkat ditemani Meistrof, Ken, Kain, dan Clowny. Lantas bagaimana kelanjutannya?

Jilid ini secara umum isinya hampir sama dengan jilid sebelumnya. Masih ada konspirasi, ada tektik curang, dan nasib merugikan yang dialami tim Jepang. Namun berbagai masalah itu bisa diselesaikan dengan baik oleh Azuma. Saya sudah mulai agak jenuh dengan Azuma. Meskipun ia tooh utama, tapi porsinya terlalu banyak. Padahal Kawachi dan Suwabara juga ikut bertanding. Namun mereka berdua hanya bagaikan tempelan saja.

Selain itu, kematian Eurlick Lame sangat-sangat mendadak. Baru juga muncul sekilas di dua jilid, udah mati aja dia. Saya sih pengennya tindakan liciknya masih bisa dikembangkan lagi. Tetapi mungkin Hashiguchi-san ingin segera mengakhiri hidup ketua komite ini. saya jadi penasaran siapa yang akan membantu tindakan curang pemilik St. Pierre selanjutnya.

Bab tambahan tentang biwa itu saya rasa sangat menarik. Intinya sih semua tokohnya sama aja. Bahkan sifat dan kepribadiannya juga sama. Hanya namanya jadi berubah. Rasanya sangat mengasyikkan saat membaca cerita berbeda dari tokoh yang sama. Saya sih ingin special story ini bisa dimunculkan beberapa kali di jilid selanjutnya agar tidak bosan.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 9)

coveryakitate9

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 9)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Annisa Laila Khaled

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792747430

cooltext1660180343

Ada roti khas Inggris, Jerman, dan Perancis, tapi tak ada roti khas Jepang! Karenanya, Kazuma Azuma akan menciptakannya!! Tema berikutnya pertandingan adu cepat membuat roti! Dengan Japan andalan, dia akan mengalahkan musuh-musuh kuatnya!

cooltext1660176395

Halo-halo pembaca setia Rico Bokrecension (idih pede bener kayak ada yang baca aja). Setelah beberapa saat vakum update blog karena teserang rasa malas yang amat sangat, kali ini saya akan mulai membuat review lagi. Melanjutkan komik Yakitate!! Japan yang kemarin, kali ini sudah ada di jilid sembilan. Kalau ada yang lupa, silakan cari di postingan yang lalu-lalu yah.

Komik ini dibuga pada bagian 70 “Pintu Takdir” sebelum pertandingan Monaco Cup dilanjutkan. Ternyata tema babak tersebut adalah membuat roti secepat mungkin. Yang jadi masalah adalah, Pierrot, sang juri, tidak menghendaki peserta membuat roti tanpa fermentasi. Padahal roti fermentasi perlu cukup waktu alias nggak bisa cepet-cepet dikerjakan.

Kalian menyedihkan sekali! Dasar wakil Jepang!! Monaco Cup itu kompetisi level internasional! (Hal. 12)

Selanjutnya pada bagian 71 “Captain Cook” mengisahkan pertandingan itu sudah mulai berlangsung dari sekian banyak peserta, hanya akan diambil delapan tim paling cepat dala membuat roti yang tentu saja, harus enak. Salah satu tim yang sudah berhasil dan lolos melaju pada babak delapan besar adalah wakil dari Amerika.

Kami memasang dragon hook pada mixer kuat yang punya tenaga kuda berkali-kali lipat dari mixer biasa! (Hal. 28)

Azuma yang tiba-tiba menghilang meninggalkan Kawachi dan Suwabara, tentu saja menjadi kepanikan tersendiri. Pada bagian 72 “Hargai Elektronik, Ya” Kawachi yang sangat berisik begitu kebingungan saat peserta yang lolos sudah mencapai tujuh tim. Artinya, hanya satu tempat yang terisi. Kalau Jepang tidak cepat, maka Kawachi dkk akan pulang dengan tangan hampa. Untunglah, Azuma berhasil membuat roti tersebut tepat waktu dan segera diserahkan kepada Pierrot. Sayangnya, Pierrot memiliki penilaian mengejutkan atas roti Azuma.

Kupikir, penilaian Pierrot memang aneh. Jadi, aku hanya melakukan yang seharusnya, kok. (Hal. 62)

Selanjutnya pada bagian 73 “Bob, Sang Wakil Perancis, Ternyata Takut Naik Kendaraan” menceritakan mengenai babak delapan besar. Disini sudah mulai terlihat gelagat mencurigakan yang dilakukan oleh pemilik St. Pierre karena mencoba menggganggu jalannya pertandingan. Tidak tanggung-tanggung, Eurlick Lame, sang Ketua Komite Penyelenggara Monaco Cup tidak bisa berkutik dan mengikuti perintahnya.

Kalian akan tinggal di pulau tak berpenghuni itu selama 1 minggu dan kalian harus mencari makanan sendiri. (Hal. 87)

Tidak bisa dipungkiri bahwa lokasi pertandingan di pulau tersebut sangat merugikan tim Jepang. Selain lokasi yang tidak strategis, bencana air laut juga sudah menyulitkan mereka. Alhasil, Azuma terseret ombak dan masuk ke pusaran air. Melihat kenyataan itu, Kawachi menyalahkan Suwabara yang tidak menyelamatkan Azuma. Namun, benarkan Azuma sudah meninggal? Kisah ini dijabarkan pada bagian 74 “Juru Roti Sejati”.

Bagaimana kalau mereka mati? Ini bukan saatnya meributkan soal eliminasi, ‘kan?! (Hal. 104)

Di tempat lain, Kuroyanagi dan Sofie merasa penempatan Jepang pada bagian tidak menguntungkan di pulau tak berpenghuni sungguh aneh. Namun mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sementara itu, pada bagian 75 “Utusan Keadilan” diceritakan Kawachi dan Suwabara berjumpa dengan ti Mesir. Tak disangka, mereka telah menyelamatkan Azuma dari kematian. Sebenarnya, siapakah tim dari Mesir itu?

Mungkin ada konspirasi besar di balik ujian di pulau tak berpenghuni ini… (Hal. 125)

Pada bagian 76 “Manusia Segitiga” menceritakan perkembangan pertandingan ini. oh iya, tema pada babak ini adalah adu cepat membuat roti manis. Yang menjadi masalah adalah setiap tim hanya dibekali sekarung tepung. Oleh karena itu lokasi tim Jepang yang jauh dari buah-buahan tentu sangat merugikan. Belum sempat berpaling, bagian pulau yang penuh buah-buahan tiba-tiba terbakar habis.

Kalian juga berjuang agar jangan sampai kalah, karena konspirasi mereka. (Hal. 142)

Tentu komik ini tidak akan seru kalau Azuma tidak memiliki ide apapun. Jadi bisa ditebak lah ya, Azuma dkk bisa membuat roti manis tanpa bantuan buah-buahan. Lantas pakai apa dong? Percaya atau tidak, Azuma menggunakan ubi dan getah pohon kelapa. Wow saya juga baru tahu getah kelapa itu manis. Hal ini dijelaskan pada bagian terakhir yaitu bagian 77 “Tekanlah”.

Belajar dari pengalaman, dong! Setiap kali selalu saja mengejutkan orang!! (Hal. 164)

Sebanarnya membaca komik ini dilematis. Di satu sisi, saya bisa menebak akhir cerita seri komik ini seperti apa. Tapi di sisi lain, hal-hal ajaib yang dibuat oleh Azuma sangat sayang untuk dilewatkan. Jadi mau tidak mau saya harus tekun membaca lembar demi lembar padahal saya sudah tau pasti bagaimana akhir ceritanya.

Sejauh ini, Hashiguchi-san berhasil menciptakan tokoh antagonis yang mumpuni. Saya benar-benar dibikin geregetan dengan tim Perancis. Apalagi pemilik St. Pierre itu. Sejauh ini sih tokoh antagonis ini benar-benar digambarkan hitam pekat alias tidak ada baik-baiknya sama sekali. Berpotensi akan membuat saya bosan sih, tapi saya masih bisa menikmatinya.

Oh iya ada satu lagi yang agak-agak aneh. Alasan Pierrot yang memiliki kemampuan dan bakat “istimewa” sebagai badut kelas dunia sebenarnya menarik. Tapi sumpah ya itu alasannya luebuay buanget. Andaikan Pierrot ada di depan saya dan menjelaskan alasan ia bisa memiliki kemampuan itu, akan saya jawab “Oh gitu? Emang penting?” buahahahahak.

Anyway, segini saja deh komentar saya tentang jilid sembilan. Nantikan review saya pada jilid sepuluh ya. Psst, penerjemah jilid ini sudah ganti lagi lho. Entahlah apa alasannya. Namun sejauh ini terjemahannya bisa diikuti meskipun agak-agak kaku. Jadi mari nantikan resensi saya untuk jilid sepuluh nanti.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Opini Tentang Karakter Tokoh Utama Bareng BBI 2015

Februari – Karakter Tokoh Utama

Haloo. Berjumpa lagi dengan pojok Opini Bareng BBI. Tema bulan Februari 2015 adalah: KARAKTER TOKOH UTAMA. Semua cerita dalam buku, khususnya buku fiksi, memiliki sebuah pusat sebagai titik fokus. Titik tersebut dinamakan tokoh utama. Tokoh ini tidak melulu berupa seorang manusia. Bisa hewan, tumbuhan, alien, dan lain sebagainya. Tetapi masih manusialah yang mendominasi peran tokoh utama dalam setiap kisah di dalam buku.

Kalaupun menggunakan makhluk lain, penulis harus dituntut kreatif dengan memberikan “sentuhan manusia” kepada makhluk non-manusia yang ia jadikan tokoh utama. Hal ini bertujuan agar pembaca yang notabene adalah manusia bisa lebih mengerti pemikiran atau perilaku sang tokoh. Misalnya hewan yang bisa berbicara atau tumbuhan yang bisa berjalan. Dalam dunia nyata, manusia (ambil contoh diri kita sendiri) memiliki kehidupan yang beraneka rupa. Terkadang sedih, sesekali bergembira, pernah merasa marah, atau bisa juga mengalami nestapa. Para pujangga bilang hidup itu keras. Tapi hidup yang sulit bukan berarti tidak bisa bahagia.

Hidup dalam dunia fiksi memang sesuka hati penulisnya. Tetapi penulis juga membutuhkan pembaca untuk menikmati hasil karyanya. Apalah arti tulisan megah dan menyentuh tanpa ada yang membacanya. Salah satu hal yang bisa membuat nyaman saat membaca adalah mengenai karakter tokoh utama. Tidak dapat dipungkiri, tokoh utama haruslah menarik agar pembaca tidak bosan dan bisa membaca hingga halaman terakhir. Berikut perbandingan karakter tokoh utama yang saya jadikan acuan untuk menikmati sepak terjang sang tokoh dalam keseluruhan cerita.

ANTAGONIS vs PROTAGONIS

Misalnya saya dihadapkan pada pilihan cerita tentang gadis lugu yang suka membantu sesama tiba-tiba mendapat warisan sejuta dolar dari nenek renta atau cerita tentang pengedar narkoba yang dituntut pemimpinnya menyelundupkan sepuluh kilo ganja dari Indonesia ke Namibia. Kisah mana yang akan saya baca?

Hmm, segala hal di dunia ini memang terdiri dari baik dan buruk ataupun benar dan salah tergantung perpektif yang digunakan. Sebagai pembaca, saya lebih mudah untuk nge-judge tokoh tertentu baik atau jahat berdasarkan deskripsi dan gambaran yang dituliskan penulisnya melalui untaian kata-kata. Tokoh yang baik hati dan berbudi pekerti luhur memang mudah disukai pembaca. Akibatnya tokoh protagonis banyak mendominasi berbagai buku cerita.

Mungkin saya sudah bosan dengan tokoh baik di sebuah cerita, sehingga saya lebih menyukai tokoh utama memiliki watak jahat dan tidak terpuji. Bukannya saya mendukung tindak kejahatan lho ya. Namun dengan menggunakan tokoh antagonis sebagai tokoh utama, saya merasa aura tegangnya bisa lebih terasa. Bukankah segala perilaku tidak terpuji selalu menghasilkan ketegangan saat dilakukan tokohnya? Jadi, kesimpulannya saya lebih tertarik membaca kisah si pengedar narkoba.

KESEMPURNAAN vs KETERBATASAN

Misalnya lagi, saya dihadapkan pada dua pilihan kisah. Yang pertama tentang seorang eksekutif muda yang ramah dan berbudi luhur dengan karir cemerlang hendak mencari calon istri yang tepat untuk menemaninya hingga tua nanti. Yang kedua adalah kisah seorang wanita pegawai toko kecil yang suka teledor, berparas biasa dan tidak memiliki tubuh proposional mengikuti sebuah kencan online agar bisa bertemu the prince charming. Pilihan mana yang saya pilih?

Kedua kisah tersebut memiliki hal menarik masing-masing. Namun saya lebih memilih cerita si wanita. Alasannya? Menurut saya, sesuatu hal yang tidak sempurna merupakan pondasi konflik yang bisa diangkat. If everything is perfect, then what? Iya sih konflik memang tidak melulu dipicu dari karakter tokoh utama. Tapi kan namanya tokoh utama, mau tidak mau dia pasti terjun dalam konflik utama. Jadi segala macam keterbatasan yang dia miliki akan menjadi bibit konflik baru yang menarik dalam kesatuan cerita.

Kehidupan yang sudah serba sempurna, misalnya bergelimang harta dan hidup bahagia akan membuat saya bosan. Namun, berbeda dengan adanya beberapa kerikil kehidupan yang bisa menjadi bibit konflik, itu menjadi hal lain. Mungkin itu alasannya cerita Cinderella sangat beken. Coba kalau cerita sang pangeran yang diangkat, pasti memble deh.

Karena sudah males buntu ide apa lagi yang mau saya tulis, jadi saya hanya menyuguhkan dua perbandingan saja. Pada dasarnya, saya bukanlah orang yang pemilih dengan tokoh utama. Mau dia manusia, hewan, hantu, atau benda tak bernyawa sekalipun, itu tidak masalah. Mau dia pendiam, cerewet, pemarah, pemurung, bahkan psikopat, itu juga tak jadi soal. Yang jelas saya menuntut adanya KONSISTENSI dari penulis yang bersangkutan.

Contohnya di awal kisah, penulis sudah menjelaskan tokoh utama ini pendiam. Tapi kemudian di halaman berikutnya, tokoh ini dideskripsikan memiliki kebiasaan memotong pembicaraan orang dan suka mengeluh. Inilah yang saya namakan tidak konsisten. Kecuali di awal kisah sudah ada pernyataan yang menyebut tokoh ini plin-plan, itu pengecualian ya.

Memiliki beberapa sifat itu boleh saja. Tetapi jangan sampai sifat tersebut saling bertolak belakang. Jadinya kan membingungkan dan bikin ilfil. Kehidupan tokoh utama yang miskin sengsara atau bahagia kaya raya juga tak jadi hal penting buat saya. Asalkan sesuai dengan kebutuhan cerita itu sendiri, saya bisa menerima apapun hidup si tokoh utama itu.

Sejauh ini saya belum pernah membaca buku yang tokoh utamanya tidak saya sukai. Semuanya ada hal unik tersendiri mengapa mereka dinobatkan menjadi tokoh utama dalam kisahnya masing-masing. Saya akhirnya juga menyukai mereka dalam cara yang berbeda. Paling-paling yang membuat saya sebal adalah gaya bercerita penulis yang bertele-tele atau tidak membuat nyaman saat membaca. Jadi, tokoh mana yang jadi pilihanmu? Mari chit-chat di kolom komentar :D

Men’s Guide to Style

covermen

Judul: Men’s Guide to Style

Sub Judul: Tip Dasar Tampil Maksimal

Penulis: Titoley Yubilate Tako

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: xx + 137

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9789797807078

cooltext1660180343

Tanda-tanda jika pakaianmu telah fit, sesuai bentuk tubuhmu.

  • Menunjang bentuk tubuh sehingga terlihat lebih menarik.
  • Tetap bisa bernapas lega sekalipun bajumu terlihat slim.
  • Saat bercermin, you feel good about yourself.
  • Teman kerjamu memuji penampilanmu.

Tip memilih jeans

Jika kakimu pendek dan kurus, maka skinny cut bisa menjadi pilihan utama karena memberikan kesan langsing dan lebih tinggi. Jika kamu tinggi – baik kurus ataupun gendut – straight leg cut merupakan pilihan yang tepat karena dapat menyeimbangkan proporsi badan agar kamu tidak terlihat sangat tinggi.

Ada banyak hal sederhana yang perlu kamu perhatikan demi penampilan terlihat maksimal. Tak hanya soal fashion, kamu juga perlu memperhatikan urusan grooming, serta mengetahui aturan-aturan dasar tentang style. Buku ini memberikan banyak tip men’s style yang praktis. Setiap pembahasan bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, plus dilengkapi dengan ilustrasi dan foto fashion.

Men’s Guide to Style akan membantumu memahami dasar style dengan baik. Tentunya, kamu akan tampil maksimal dan penuh percaya diri!

“It’s so exciting! Kami bisa berkolaborasi memvisualisasikan buku panduan basic yang begitu cemerlang dikemukakan oleh Tito.” – ADIBA MUSAWA, editor in chief Yess! Magazine

“Men’s Guide to Style bukan hanya buku tentang cara berpakaian, tetapi memberikan banyak informasi dasar tentang menswear, secara umum. Buku ini ringan dan terstruktur sehingga mudah untuk dibaca.” – JESSY ISMOYO, kontributor Nylon Magazine Indonesia

cooltext1660176395

Saya mau buat pengakuan dulu. Saya ini orangnya cenderung cuek dengan penampilan. Saya bukanlah tipikal pria metroseksual yang dandy dalam berpenampilan. Ditambah kondisi paras wajah yang kurang mempesona dan badan yang tidak proporsional alias gendut juga membuat saya tambah males berpenampilan aneh-aneh. Bisa dikatakan, yang penting saya nyaman berpakaian juga udah cukup.

Nah, pria-pria seperi saya inilah yang penulis coba untuk sadarkan. Pada bagian kata pengantar sudah disinggung bahwa sesungguhnya style itu genderless. Seringkali orang-orang, termasuk saya, berpikiran bahwa dunia fashion dan style hanyalah monopoli kaum perempuan. Sedangkan kaum adam tidak cocok berkutat dengan dunia tersebut. Padahal sesungguhnya perempuan dan laki-laki harus tetap memperhatikan penampilan agar terlihat menarik di mata orang lain.

Buku ini terdiri dari enam bagian. Saya kupas satu-satu ya. Bagian pertama berjudul Basic Rules of Style. Pada bagian ini, penulis mengajak pembaca untuk berkenalan dengan dunia –yang katanya – milik perempuan, yaitu fashion dan style. Ternyata, kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda. Jadi fashion bisa disebut dengan tren, sesuatu yang ramai dibicarakan pada waktu tertentu. Sedangkan style bersifat personal milik individu.

Fashion atau tren datang dan pergi begitu saja, tetapi style tetap untuk selamanya. (hal. 3)

Buku ini memang sudah berfokus tentang style sebagai kepribadian, bukan fashion yang hanya sesaat. Pada bagian pertama  ini, saya dijelaskan tentang aturan dasar memilih pakaian. Salah satunya adalah ukuran. Jelas lah ya, kan setiap orang memiliki ukuran tubuh yang berbeda. Akibatnya pakaian yang dikenakan juga bermacam-macam ukurannya.

Penulis menekankan tentang konsep fit alias pas. Dan salah satu tip yang diberikan penulis kepada setiap pria untuk menciptakan “fit” tersebut paling mengejutkan bagi saya adalah: miliki tailor langganan. Batin saya saat membacanya: “He? Saya ke tukang jahit? Duh apaan deh ini maksudnya.” Namun kemudian seakan menjawab saya, penulis memberikan penjelasan yang lengkap perihal pentingnya memiliki tailor.

Kemudian pada bagian kedua berjudul Basic of Staples, saya diajak setingkat lebih tinggi mengenai hal-hal terkait pakaian yang wajib dimiliki seorang pria. Penulis menyebutnya sebagai investasi. Well, bukan hanya tanah dan bangunan saja. Bahkan pakaian pun juga perlu diinvestasikan.

Kita mungkin sering mendengar bahwa salah satu tip style terbaik adalah memadupadankan high and low pieces. (hal. 22)

Jujur saya belum pernah denger tuh hehehe. Nah jadi bagian kedua ini mengupas bagian pakaian apa yang bisa menjadi investasi berpenampilan. Sehingga pengeluaran saat membeli pakaian juga tidak akan sia-sia. Bahkan penulis juga memberikan sejumput tip mengenai belanja pakaian bagi seorang pria. Ada bagian tentang penampilan rapi saat melamar kerja lho.

Selanjutnya bagian ketiga adalah How to Wear. Bagian ini memiliki sub bagian paling banyak diantara bagian yang lain. Bisa saya katakan bagian inilah inti buku ini. jadi setelah mengenal konsep dasar style dan memiliki item wajib pakaian, di bagian tiga ini saya dijelaskan do’s and dont’s terkait berpakaian.

Meminjam istilah from head to toe, bagian ketiga ini dikupas satu persatu tentang cara mix and match, cara pemakaian dan perawatan kemeja, kaus, celana, jaket, hingga kaus kaki dan sandal. Meskipun sangat banyak, penulis menyampaikannya dengan mudah dan diselipi humor. Hal ini membuat saya nyaman membacanya satu persatu. Part paling menarik bagi saya adalah tentang 7 fashion item yang wajib dihindari.

Sepatu sandal karet. Terutama sepatu sandal yang memiliki desain gelembung aneh di bagian depan. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan betapa jeleknya penampilanmu saat memakainya. (hal. 95)

Huahahaha. Meskipun penulis tidak sebut merek, saya bisa langsung tahu sandal apa yang dimaksud. Selain sandal itu, ada enam lainnya yang membuat saya terbelalak karena kalau dipikir-pikir, benar juga ya. Deskripsi tentang masing-masing fashion item wajib juga membuka wawasan saya tentang bagaimana cara memperlakukan pakaian agar lebih awet dan tidak rusak.

Bagian keempat adalah Grooming. Awalnya saya mikir ini berisi tip menuju pelaminan (kan groom artinya mempelai pria kan? #krikkrik). Eh ternyata groom ada arti lain yaitu perawatan. Yak benar, setelah bagian sebelumnya sudah dijelaskan perawatan pakaian, bagian ini mengupas tentang perawatan fisik pria, meliputi rambut, kulit, wajah, gigi, mulut, dan kaki.

Kalau kamu yang berpikir jika penampilan tidak perlu diperhitungkan, maka kamu mungkin bisa berhenti membaca buku ini. Namun, bagi mereka yang menginginkan kulit sehat dan segar serta karier yang gemilang untuk waktu yang lama, terapkan tiga rutinitas berikut. (hal. 107)

Tidak bisa dipungkiri bahwa penampilan sebaik apapun, jika wajahnya kucel dan jerawatan, pasti jadi nggak menarik lagi. Hal inilah yang menjadikan perawatan fisik sangat dibutuhkan untuk menunjang penampilan yang mempesona. Bahkan ada penjelasan tentang macam-macam parfum yang saya juga baru tahu kalau parfum itu ada beraneka jenis.

Bagian kelima adalah Perawatan Pakaian. Bagian ini mengupas serba-serbi mencuci dan menyetrika. Salah satu part paling penting adalah mengenai 22 simbol perawatan pakaian yang tertera pada label pakaian. Jujur lagi, saya baru tahu arti masing-masing simbol dari buku ini. Bahkan cara mengatur lemari pakaian juga sempat disinggung.

Keluarkan pakaian yang sudah tidak pantas dipakai, entah karena kekecilan atau tidak trendi lagi, dan sumbangkan. (hal. 121)

Bagian ini memang cukup singkat. Namun informasi yang diberikan cukup padat dan tidak berbelit-belit. Selain itu, ada juga section khusus tentang aturan dasar mengatur isi koper atau backpack saat akan traveling. Cukup berguna sih apabila ada pekerjaan dinas keluar kota atau ingin liburan keluar negeri.

Akhirnya bagian terakhir adalah Belajar Tentang Style. Bagian ini menyuguhkan tip memperkaya ilmu tentang style. Mulai dari menentukan style icon, referensi website tentang style yang bagus, yang kemudian ditutup dengan definisi beberapa istilah asing yang disebutkan dalam buku. Bagian ini seolah-olah berisi pesan dari penulis agar pembaca memperdalam ilmu style lebih luas dari berbagai referensi, bukan hanya berhenti setelah membaca buku ini.

Membangun sense of style bukanlah sesuatu hal yang bisa dicapai hanya dalam semalam. (hal. 133)

Satu kata yang bisa saya gambarkan untuk buku ini: informatif. Bagaimana tidak, semua hal-hal mendasar tentang penampilan seorang pria dikupas habis. Saya yang awalnya adalah orang yang cuek tentang penampilan, menjadi termotivasi memperbaiki penampilan setelah membaca buku ini. Tidak ekstrim sampai operasi plastik dan menyewa designer, namun cukup memaksimalkan isi lemari baju.

Buku ini sangat membantu saya dalam berpenampilan dasar agar bisa tampak lebih menarik. Sayangnya, salah satu kesalahan fatal yang saya rasa menganggu adalah kurangnya ilustrasi. Saya ambil contoh tentang jenis jeans yaitu straight leg jeans, boot jeans, slim jeans, dan skinny jeans. Meskipun dijelaskan, saya butuh gambar asli yang menunjang penjelasan tersebut. Dan gambar yang saya maksud adalah foto asli jeans, bukan gambar karikatur jeans. Hal ini juga berlaku bagi fashion item lainnya.

Saya pribadi merasa, beberapa halaman yan menampilkan model dengan outfit dasar sudah bagus. Tapi agak mubazir aja satu halaman hanya diisi satu gambar orang saja dengan caption yang sedikit. Alangkah lebih baik gambar model itu berukuran kecil tapi banyak dan menyebar di halaman lain. Saya sadar kalau mau banyak gambar, saya bisa membeli majalah fashion. Tapi majalah fashion itu kan sudah tingkat expert. Sedangkan saya hanya ingin berbagai hal dasar di buku ini bisa ditunjang dengan gambar yang cukup. Pokoknya saya kecewa dengan minimnya gambar dalam buku ini.

Selain itu mengenai glosarium alias definisi istilah fashion. Pada bagian kata pengantar, penulis sudah berujar bahwa apabila pembaca bingung dengan berbagai istilah bahasa Inggris terkait fashion, sudah disediakan kamus di akhir buku. Tapi saya lagi-lagi kecewa dengan glosarium yang bisa dikatakan “ngirit bingit”. Sebut saya cupu dan kuper, tapi saya berharap berbagai istilah fashion yang digunakan – sesederhana apapun – bisa dijelaskan artinya. Bukankah segmen buku ini kebanyakan pria yang masih buta style and fashion?

Pada akhirnya, buku ini memang sangat membantu bagi kaum pria yang cuek tentang penampilam. Soalnya kalau pria metroseksual dandy yang baca buku ini, pasti akan mencemooh karena ilmunya sudah jauh lebih tinggi. Sedangkan pria cuek penampilan akan merasa bahwa sudah saatnya berpenampilan baik dan menarik. Selain bisa meningkatkan rasa percaya diri, penampilan yang menarik sudah pasti akan memberikan persepsi menarik dari orang lain. So, let’s change our outfit!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Why Not? Fiqih Itu Asyik

coverfiqih

Judul: Why Not? Fiqih Itu Asyik

Sub Judul: Dari Kitab Tebal, Jenggot Panjang, Sampai Beda Mazhab

Seri: Penuntun Remaja

Penulis: Herry Nurdi

Penerbit: DAR! Mizan

Jumlah Halaman: 174 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9789797520779

cooltext1660180343

Seperti sebuah jejaring laba-laba, Islam menempatkan posisi satu ilmu dengan ilmu lainnya saling berkaitan. Dan titik dari segala ilmu itu, seperti jejaring laba-laba pula, ada di tengah dan menjadi poros segala, dan itu adalah Allah.

Dari rangkaian tersebut, fiqih menempati posisi yang begitu vital dan mampu mengantarkan seorang Muslim, menemukan satu dari seribu jalan setapak menuju hakikat. Sebab, fiqih akan membuat kita paham atas rangkaian ilmu pengetahuan yang memang saling bertautan.

cooltext1660176395

Saya adalah seorang muslim. Terlahir dari keluarga muslim dan hidup di lingkungan (mayoritas) muslim. Tetapi sebagai seorang muslim, saya sadar betul bahwa ilmu tentang agama saya sendiri saja saya tidak begitu ahli. Memang sih pada tingkat sekolah dasar hingga menengah (bahkan perguruan tinggi), saya mendapatkan pelajaran tentang Agama Islam. Tapi pendidikan Islam tidak cukup hanya disampaikan dalam ± 12,5 tahun, seminggu sekali pula.

Saya juga ikut dalam kegiatan di TPQ di desa saya. Tapi memang masih kurang sih ilmunya (apalagi jika dibandingkan ilmu fisika, biologi, kimia dan lain-lain yang begitu intens penyampaiannya di sekolah). Oleh karena itu, buku-buku bertemakan Islam menjamur di Indonesia. Mungkin dikarenakan mayoritas masyarakatnya beragama Islam, membuat buku bernuansa Islami juga mudah ditemui di pasaran. Setidaknya, buku-buku ini bisa membantu saya yang masih cetek ilmu agama ini bisa mendalami mengenai agama saya sendiri.

Salah satu buku yang saya baca tentang agama Islam adalah buku berjudul Fiqih Itu Asyik hasil tulisan Herry Nurdi. Sang penulis berusaha menyampaikan hal tentang fiqih, yang awalnya saya anggap sebagai sebuah ilmu yang “berat” dan membuat “pusing”, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Buku ini terdiri atas lima bagian utama. Bagian pertama yaitu berjudul “Kenapa Fiqih?” menceritakan tentang apa itu fiqih. Saya diajak penulis untuk berkenalan dengan fiqih. Anggapan saya tentang ilmu fiqih hanyalah ilmu tentang agama Islam saja ternyata kurang tepat.

Fiqih, sejatinya juga seperti ilmu filsafat, sebuah pengetahuan tentang reason. Sebuah pencarian tentang alasan dan dasar. (Hal. 26)

Ternyata meskipun hulunya adalah Islam, tetapi fiqih juga bisa bermuara di bidang ilmu pengetahuan, bahkan ilmu perdagangan dan pemerintahan. Setelah berkenalan dengan fiqih, pada bagian kedua berjudul “Sebelum Hukum Ditetapkan”, saya diajak untuk perjumpa dengan berbagai hukum yang ada dalam Islam. Seperti wajib, sunnah, makruh, mubah, haram, sahih, dan bathil. Pada bagian ini pula penulis menjelaskan dengan cukup sederhana mengenai empat sumber hukum utama, yaitu: Al-Quranulkarim, hadis/Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, ijma para ulama (kesepakatan bersama para alim & para mujtahid atas hal itu), serta qiyas atau analogi.

Seorang yang telah melakukan kebohongan atau ketidakjujuran, namanya akan ditulis dengan tinta atau tanda tertentu yang menyatakan si fulan pernah berbohong atau tidak jujur. (Hal. 60)

Bagian ketiga berjudul “Fiqih Praktis, Fiqih Asyik” menjelaskan tentang bagaimana seharusnya bahasa fiqih dalam kehidupan saat ini. Penulis mengaku bahwa pada zaman dahulu, ilmu fiqih dipelajari dengan sangat “berat”. Mulai dari kalimat yang puanjang, ratusan kata, berbagai catatan kaki di kitab kuning yang tak kalah panjang lebarnya. Bahkan penulis juga tidak menyangkal ia sempat puyeng mempelajari hal itu. Tetapi intinya seharusnya fiqih itu disampaikan dengan mudah dan tidak dipersulit. Di sub bab terakhir bagian ketiga ini penulis juga berkisah tentang sebuah film Hollywood yang cukup berkaitan dengan ilmu fiqih.

Bagaimana bisa belajar dengan senang, fiqih bukan dunia ilmu yang murung dan gloomy. (Hal. 94)

Setelah berkenalan dengan fiqih dan implementasinya, saya diajak berkenalan dengan empat ulama ahli fiqih sepanjang masa pada bagian “Berdiri Di Atas Pundak Para Raksasa” di urutan keempat. Beliau-beliau ini adalah penghulu dari Ahlu Sunnah wal Jamaah. Ada yang tahu? Yak benar, beliau adalah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Setiap ulama ahli fiqih dituliskan cukup jelas dan sederhana dengan menitikberatkan tentang pengalaman setiap ulama ahli fiqih saat menuntut ilmu.

Ia adalah alim yang memilih menjadi awam. Hal ini menunjukkan, betapa rendah hati imam yang satu ini. (Hal. 112)

Bagian terakhir adalah bagian penutup berjudul “Menengahi Pertikaian”. Jujur, saya merasa kecewa saat sudah di bagian akhir ini. Bukan kecewa karena isinya menjemukan, justru karena isinya yang menarik minat saya, saya jadi kecewa kenapa buku ini harus berakhir dengan cepat. Pada bagian ini, saya tertarik dengan cerita Rasulullah tentang nasib buruk yang akan menimpa umatnya di masa depan nanti. Jujur saja, saya amat sangat membenarkan tentang cerita tersebut telah terjadi pada kehidupan saat ini.

Makna lain fiqih adalah pemahaman. Artinya, memahami adalah proses yang paling penting dalam pendalaman ilmu fiqih. (Hal. 149)

Pada akhirnya, saya menyukai buku ini. Awalnya saya berpikiran bahwa kalimat dan penulisan dalam buku ini akan cenderung berat dan menekan penuh kemampuan berpikir saya. Namun ternyata saya salah besar. Penulis menuliskannya dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Saya yang masih cetek ilmu agama ini aja bisa paham, tentu masyarakat yang lebih pintar akan lebih mudah memahaminya. Tak jarang penulis menyelipkan sedikit humor sebagai ice breaking setelah memaparkan hal yang cukup berbobot.

Segmen buku ini memang untuk remaja. Tetapi bukan berarti yang dewasa dilarang membacanya. Bahkan untuk menarik perhatian remaja, banyak diselipkan karikatur-karikatur lucu yang mendukung tulisan yang berkaitan. Diharapkan karikatur ini bisa sedikit memberi gambaran tentang maksud dari sang penulis.

Kekurangannya apa ya. Oh iya, ada kesalahan kesalahan layout atau tata letak paragraf pada halaman 38. Seharusnya ada di halaman selanjutnya, tapi entah kenapa tertera di halaman 38 itu. Saya jadi bingung sendiri awalnya. Ada beberapa typo juga sih. Tapi karena saya menikmati isi bukunya, saya jadi tidak sempat mencatat typo nya sebelah mana saja.

Dan terakhir, ada buuuanyaaak sekali nama-nama Arab yang ada di buku ini. Mulai dari para ulama fiqih, sahabat Rasulullah, hingga orang-orang di masa modern yang menjadi rujukan penulis dalam membangun tulisannya. Selain nama yang sebelumnya sudah familiar, saya tidak bisa mengingat nama siapa saja yang disebut saking banyaknya. Tapi ini bukan kekurangan bukunya sih ya. Hanya karena saya aja yang belum tahu hehehe. Kesimpulannya, buku ini recommended deh.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Sweet Winter

coversweetwi

Judul: Sweet Winter

Sub Judul: Saat Dingin Itu Menghangatkan Hati

Penulis: Kezia Evi Wiadji

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah Halaman: vi + 207 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2014

ISBN: 9786022516514

cooltext1660180343

Matthew:

Aku berharap takdir yang mempertemukan kita di sini dapat memperbaiki kesalahanku.

Karin:

Oh Tuhan, kenapa kami harus bertemu, jika akhirnya harus kembali berpisah?!

Karin dan Matthew, dua sahabat yang saling mencintai. Tetapi takdir mempermainkan mereka layaknya dua layang-layang yang meliuk-liuk di langit. Akankah mereka bersatu, jika wedding song telah mengalun lembut dan salah satu dari mereka harus berjalan menuju altar untuk mengucapkan sumpah setianya?

Kisah Karin dan Matthew yang ceria seperti membawa langkah saya kembali pada masa remaja. Masa di mana semua terlihat demikian berkilau, saat kita menemukan cinta pertama (dan mungkin sejati). Evi berhasil membuat saya percaya, kadang tak perlu menoleh terlalu jauh untuk menemukan orang yang tepat, belahan hatimu. This kind of love could happen to anyone to us. :) – Rina Suryakusuma, Penulis Just Another Birthday dan Lullaby

Ah, saya iri sama Karin. Dia bisa bercerita so romantic di sini tentang apa yang dia rasa dan akhirnya menemukan cinta lamanya kembali dari orang di masa lalunya. Kalau ingin merasakan romantisme cerita cinta Karin di antara suasana negeri yang melahirkan banyak boy and girl band itu, baca deh novel ini sampai tuntas. Pasti kamu akan merasakan apa yang saya rasakan. – Anjar Anastasia, Penulis Renjana

cooltext1660176395

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka membutuhkan orang lain untuk menjalani hidup. Berbagai karakter yang dimiliki manusia tentu menghadapkan manusia lain untuk bisa memiliki orang dengan karakter baik untuk menemani hari-harinya. Orang baik tersebut bisa berwujud sebagai sahabat karib yang selalu ada dalam duka dan bahagia. Bisa pula orang baik tersebut memiliki wujud sebagai tambatan hati yang menemani hari-hari hingga ajal memisahkan.

Hidup itu pilihan. Begitu pula yang dirasakan Karin, sang tokoh utama buku ini. Ia berhasil mendapatkan orang baik yang mengisi hidupnya. Bonusnya, orang tersebut menjadi kawan baik sekaligus pujaan hatinya. Hayoloh, sampai sini saja saya sudah sirik sama Karin. Kisah dibuka dengan prolog mengenai perjalanan Karin menuju Korea Selatan untuk berwisata. Kepribadiannya yang mandiri tidak membuatnya takut berkelana seorang diri. Disana tidak ada kerabat atau orang lain yang dikenalnya. Sehingga Karin benar-benar ingin bebas menikmati segala macam keindahan di negeri ginseng tersebut.

Saat keluar bandara, tiba-tiba ia dipanggil oleh seorang lelaki. Ternyata ia adalah Matthew. Tetangga, sahabat, sekaligus cinta pertamanya yang telah menghilang bertahun-tahun. Prolog ini kemudian langsung digantung begitu saja. Kemudian, pembaca dibawa ke bagian pertama yang flashback tiga belas tahun yang lalu. Saat itu, rumah disebelah tempat tinggal Karin ada penghuni baru. Tidak disangka, keluarga baru itu memiliki anak lelaki sebaya Karin. Jendela kamar rumah sebelah yang berhadapan dengan jendela kamar Karin membuat mereka berdua cepat akrab.

Tiba-tiba bayangan itu berubah, bukan lagi sosok Tessa dan Joni, tetapi dirinya dan Matthew!!! (Hal. 26)

Setiap hari Karin dan Matt (panggilan Matthew) menjalani hari-hari penuh suka cita. Berangkat dan pulang sekolah bareng naik sepeda, belajar setiap malam, main layangan, saling mengucapkan good night sebelum tidur, dan beragam kegiatan lainnya. Hingga saat kelas 3 SMP, Karin merasakan suatu rasa yang berbeda dari dirinya untuk Matt. Tetapi, kehadiran anak baru di kelas Karin dan Matt memberikan sebuah konflik awal untuk hubungan mereka berdua.

Matthew memang mencintai Silvia, itu yang membuatnya susah untuk bersikap apa adanya. (Hal. 58)

Ya benar. Cinta Karin tidak bisa membuat Matt mencintainya dengan utuh. Ia harus menelan kekecewaan saat Matt mengakui ia memang menyukai Silvia. There is something different between Karin and Sisil (panggilan Silvia). Hal itu pula yang membuat Matt memilih Sisil untuk mengisi hari-harinya. Sayangnya, emosi labil Karin bukannya membuat Matt tetap nyaman menjadi sahabat, justru membuat Matt menjauhi Karin.

Mana ada sih, cowok dan cewek bisa jadi sahabat sejati. Hasilnya mereka malah saling suka dan aku hanya jadi obat nyamuk buat kalian. (Hal. 62)

Pada bagian kedua, kisahnya melanjutkan akhir prolog yang menggantung tadi. Saya jadi mengerti kenapa Karin sampai bingung dan kikuk berhadapan dengan Matt. Beruntung Matt bisa mencairkan suasana dan sukses meyakinkan Karin untuk menikmati wisata di Korea Selatan bersamanya. Layaknya kenalan yang sudah lama tidak berjumpa, mereka berdua juga terlibat berbagai topik cerita, termasuk kisah pahit yang dialami Matt.

Perbedaan fisik yang harus ditebusnya dengan harga mahal karena melakukan perbuatan yang salah. (Hal. 98)

Sampai bagian ini, saya sudah bisa menebak selanjutnya akan seperti apa. Tebakan saya, Karin dan Matt akan pulang ke Indonesia kemudian mereka menikah dan hidup bahagia selama-lamanya (aih, dongeng Disney banget). Sayangnya, saya salah. Memang benar Karin pulang ke Indonesia. Tetapi tidak dengan Matt yang masih harus bekerja di Korea Selatan. Semenjak kepergian Karin, ia tidak bisa melupakan sahabatnya itu. Matt menyadari bahwa ia sesungguhnya mencintai Karin.

Sejak bertemu dengan Karin di bandara, sejak itu pula ia selalu ingin merekuh Karin dalam pelukannya, ingin menciumnya. (Hal. 120)

Begitu pula dengan Karin. Bagian ketiga yang sudah memiliki setting di Indonesia menghadirkan Karin dengan kegelisahan dan perasaan campur aduknya. Perjumpaannya dengan Matt di Korea Selatan adalah hal yang sangat tidak diperkirakan olehnya. Awalnya ia sudah bertekad akan melupakan cintanya kepada Matt sepulang dari Korea. Hal ini dikarenakan sebulan lagi Karin akan menikah dengan pria kawan sekampusnya dulu.

Ia takut hatunya akan semakin patah. Dekat namun tak terjamah. Dekat namun tak bisa memiliki. Rasanya sungguh menyakitkan. (Hal. 144)

Batin Karin yang semakin kalut serta perasaan Matt yang tak menentu menghiasi sebagian besar cerita bagian ketiga ini. Lantas bagaimana kelanjutannya? Bagaimana pernikahan Karin? Bagaimana sang calon mempelai pria, Bram, saat menghadapi Matt? Dan tindakan apa yang akan dilakukan Matt?

Overall, saya menyukai buku ini. Ceritanya manis dan gaya penceritaannya mengalir. Bisa dikatakan sang penulis mampu membuat saya terhanyut mengikuti masa kecil Karin dan Matt, beranjak pada masa kini, hingga konflik besar yang harus dihadapi keduanya. Oh iya, jadi yang usil menyembunyikan buku Sisil siapa dong? Masih misteri nih. Dan pada dasarnya, Karin dan Matt adalah potret orang-orang yang terjebak friendzone dan gagal move on #bukancurcol.

Saat bagian masa lalu, penulis berhasil menggambarkan masa kanak-kanak yang gemar bermain tetapi juga mulai mengenalkan cinta monyet ketika remaja. Apa yang dilakukan oleh Karin benar-benar sangat masuk akal untuk usia yang masih labil. Sayangnya, saya agak bingung kenapa tidak ada tokoh yang lain, selain Karin, Matt, dan Sisil. Apakah mereka tidak punya teman sekolah sama sekali sampai-sampai tidak ada tokoh lain. Tetapi mungkin ini memang niat penulisnya untuk hanya fokus pada kehidupan mereka bertiga.

Ketika setting di Korea Selatan, penulis cukup banyak bercerita tentang tempat-tempat menarik disana. Mulai dari Seoul, Cheonggyecheon Stream, kota Jeonju, ski resort Yongpyong, Nami Island, sampai lokasi paling nge-hits yaitu Jeju Island. Deskripsinya membuat saya ngebet ke Korea saat itu juga. Apalagi suasana musim dingin plus saljunya juga digambarkan dengan cantik disela-sela kebahagiaan Karin tentang cintanya yang hadir kembali. Judulnya Sweet Winter memang pas kok.

Satu lagi yang saya sukai, meskipun Karin dan Matt (dan juga Bram) masih berusia muda, mereka tidak memanggil satu sama lain dengan loe-gue. Bahkan pada kisah masa lalu saat keduanya berusia remaja, mereka tetap memanggil dengan sebutan aku-kamu. Padahal mereka tinggal di daerah Tangerang lho, yang biasa ber-loe-gue.

Bukannya saya tidak suka istilah loe-gue, tetapi saya pribadi merasa bahwa panggilan itu menghilangkan kesan manis dan rasa cinta sehingga terkesan hanya romansa picisan tak bermakna #tsaah. Alih-alih terkesan kaku, saya justru merasakan kehangatan pada perbincangan mereka.

Sayangnya, meskipun tadi saya sebutkan bahwa saya salah menebak perkembangan cerita, lambat laun saya bisa merevisi dan sukses menebak kelanjutan ceritanya sampai akhir. Karena novel ini ceritanya FTV material banget. Mungkin saya kebanyakan nonton FTV (tapi tidak nonton sinetron), sehingga konflik dan hal-hal lain di separuh akhir buku sudah bisa saya perkirakan.

Memang sangat-sangat FTV-able mulai dari flashback-nya, wisatanya, pernikahannya, pergolakan batinnya, sampai kehidupan masa depannya. Mungkin kalau ada sutradara yang tertarik, harus mempersiapkan budget syuting di Korea saat musim dingin aja yang pasti agak mahal. By the way, alasan Matt bisa berjumpa dengan Karin sungguh FTV banget lho #tidakmauspoiler.

Tetapi, gaya bercerita Evi yang lembut dan smooth membuat saya enggan melewati kata demi kata yang ia tulis. Mungkin kalau buku lain yang gaya berceritanya buruk, saya akan langsung baca halaman terakhir untuk mengetahui ending-nya. Sedangkan Evi sukses membuat saya untuk membuktikan perkiraan saya sendiri sambil menikmati tulisannya yang menghanyutkan itu.

Anyway, saya penasaran. Dulu ketika masih sekolah, saya diajari guru saya ketika menulis sebuah merek dalam cerita, merek tersebut ditulis miring atau diberi tanda kutip. Misalnya “Nokia” atau Nokia. Tapi di buku ini tetap ditulis tegak biasa aja gitu. Mungkin sudah bergeser ya ketentuan penulisan merek. Dan saya juga curiga, jangan-jangan Mbak Evi di-endorse SUV Hyundai, Jazz, Samsung, Garuda Airlines, dan Avanza sebagai brand ambassador saking cukup banyaknya merek diatas tertulis di cerita hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Miminlicious

covermiminlicious

Judul: Miminlicious

Sub Judul: Tak Ada Mimin yang Tak Retak

Penulis: Jacob of @divapress01

Penerbit: DIVA Press

Jumlah Halaman: 212 halaman

Terbit Perdana: Januari 2015

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Januari 2015

ISBN: 9786022558002

cooltext1660180343

Alkisah….

Setelah menonton Twilight, seorang pemuda jadi rajin berkaca. Dia mematut-matut diri, mulai dari rambut, warna kulit, hingga biseps dan trisepnya. Lama kemudian, dia bergumam, “Hih! Kok nggak mirip si Jacob, sih!”

Sejak itu, dia pun terobsesi… dan muncul dalam jagat maya melalui akun @divapress01. Kehadirannya selalu dinanti followers. Banyak yang tergila-gila, nggak sedikit yang iri hati. Ototnya dari kawat, biar jempolnya bisa ngeladenin pertanyaan-pertanyaan followers yang ajaib. Tulangnya dari besi… *Ish! Ini MinCob apa Gatotkaca.

Siapakah Jacob sebenarnya?

Sebuah fanpage dan akun eksis karena dukungan para followers. Jadi, seajaib apa pun seorang followers, seorang admin ditutntut memiliki kesabaran dalam rangka melayani mereka. Kita akan kuak bersama bagaimana keseharian Jacob, seorang admin yang baru naik daun *juga naik darah karena tiap hari dikerjain followers.

cooltext1660176395

Pada jaman modern saat ini, internet bukanlah hal yang sulit untuk diakses kebanyakan orang. Selain mencari berbagai informasi, internet juga menawarkan sebuah hal baru yaitu media sosial. Jika setengah abad lalu orang-orang harus menempuh jarak cukup jauh dan bertatap muka jika ingin berbincang, sekarang cukup dengan update status ataupun nge-twit sudah bisa bercengkrama dengan orang lain di belahan bumi yang lain.

Media sosial, sebut saja twitter dan facebook, pada awalnya hanya digunakan oleh individu. Namun seiring perkembangan jaman, berbagai perusahaan ataupun instansi, bahkan berjualan produk juga bisa dituangkan dalam media sosial. Meskipun menyandang nama sebuah lembaga, akun tersebut tetap dioperasikan oleh seseorang. Orang ini biasa disebut dengan administrator (biasa disingkat admin). Kalau boleh saya katakan sih, admin ini adalah seorang operator yang menjalankan akun suatu lembaga itu.

Dalam dunia perbukuan, akun media sosial tentu dimiliki oleh penulis dan pembaca. Tidak heran karena mereka berdiri sebagai diri mereka sendiri. Bagaimana dengan penerbit? Ternyata penerbit tak mau kalah. Beberapa penerbit juga memiliki akun media sosial yang dalam kesehariannya dioperasikan oleh seorang admin. Lain penerbit, lain pula akunnya. Hal ini otomatis membuat adminnya juga beda *yaiyalah. Salah satu penerbit dengan admin yang “berbeda” adalah penerbit DIVA Press dengan akun @divapress01.

Admin media sosial penerbit ini dijuluki MinCob, MinLev, dan (dulu ada) MinDah. Ibarat kepribadian dan perbedaan karakter tiap orang, para followers akun ini (yang berjumlah ribuan) juga memiliki “keunikan” tersendiri. Oleh karena itu, salah satu admin akun penerbit DIVA, MinCob, bermaksud berbagi tentang hal-hal “berbeda” itu selama menjadi admin.

Begitulah anak jaman sekarang. Saking kreatifnya, ada lho yang bercita-cita ingin menjadi seorang admin fanpage atau grup komunitas di media sosial. (Hal. 4)

Buku ini terdiri atas delapan bagian utama yaitu Bagian Pengantar, Bagian berjudul “Dunia Mimin” dari satu sampai enam, serta Bagian Penutup dan Terima Kasih. Pada bagian Dunia Mimin 1 dengan sub judul Takkan Lari Admin Dikejar, MinCob bercerita tentang obrolannya dengan beberapa followers (yang sudah disamarkan namanya).

Bukan obrolan biasa dan penuh kewajaran, melainkan obrolan yang awalnya biasa namun kemudian justru bikin keki dan emosi jiwa. Saya rasa baik MinCob ataupun sang follower juga sama emosinya (dalam hal yang berbeda, tentu saja). Bagian ini sukses bikin saya ngakak sih. Soalnya apa ya, kalau saya jadi MinCob, pasti udah minus umur saya ngeladenin follower yang kudet gitu. Hih!

Lu cerewet banget ya Min, kayak corong stasiun! (Hal. 35)

Bagian Dunia Mimin 2, memiliki sub judul Rupa-Rupa Kak Nita. Sejenak meninggalkan ocehan MinCob, saya diajak berkenalan dengan keseharian Kak Nita. Bagi yang belum tahu, Kak Nita ini adalah orang yang bertanggungjawab dengan segala kepentingan orang-orang yang ingin memesan buku DIVA Press.

Karena Kak Nita bisa dijangkau melalui nomor telepon, maka percakapan dan obrolan “tidak biasa” juga disajikan dari hasil SMS dan telepon yang Kak Nita alami. Karena itu, bagian Kak Nita ini jadi cukup panjang. Agak takjub sih saya, kok ya ada para (calon) pemesan buku yang ngeselin begitu.

Masak penerbit kok nggak tahu jadwal dan rute bus malam. *tutup telepon* (hal. 61)

Selanjutnya, saya diajak ke bagian Dunia Mimin 3, dengan sub judul Admin Baik vs Mimin @divapress01 Slebor. Sudah sempat saya singgung diawal, admin itu ada berbagai macam. Alih-alih menjadi admin yang baik dan penuh semangat kehangatan demi para followers-nya, admin @divapress01 ini justru mendobrak pakem dengan menjadi admin yang ehm “unik”.

Segala keunikan dan betapa slebor-nya kata-kata admin ini (khususnya dalam twitter) disajikan dengan membandingkan tulisan admin baik dan admin slebor. Lucu sih, soalnya saya nggak ngira aja admin yang membawa nama lembaga justru berkelakuan begini. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, ini justru menjadi nilai plus admin @divapress01 yang slebor ini.

Admin-admin slebor macam merekalah yang entah kenapa malah digilai oleh follower dengan jumlah follower yang ngehit sampai ratusan ribu. (Hal. 76)

Setelah berkenalan dengan Kak Nita, saya diajak berkenalan dengan Mas Dion. Pada bagian Dunia Mimin 4 dengan sub judul Proposal Oh Proposal ini, diceritakan beberapa keganjilan-keganjilan yang dialami Mas Dion selama bertanggungjawab menangani program buku gratis DIVA Press. Sekedar informasi, DIVA Press memiliki sebuah program bernama #AksiSejutaBukuGratis yang diperuntukkan bagi perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia.

Jadi intinya pihak perpustakaan yang berminat, bisa mengirimkan proposal pengajuan untuk mendapat buku gratis. Apabila sudah acc, voila! 100 eksemplar buku gratis dari DIVA Press sudah bisa dibawa ke perpustakaan tersebut. Nah, pengalaman Mas Dion menghadapi para (calon) pemohon inilah yang memenuhi bagian ini. Saya juga tidak menyangka ada orang-orang yang saking kudet-nya jadi tidak memahami prosedur yang ada *pukpuk Mas Dion*.

Buset itu tulisannya kecil-kecil, hemat bahan banget, spasinya setengah sentimeter dengan font Calibri dikebiri. (Hal. 120)

Setelah dibuat nyengir-nyengir membaca empat Dunia Mimin tadi, pada Dunia Mimin 5 dan 6 memiliki konsep yang hampir sama. Di Dunia Mimin 5, MinCob (atau MinLev juga?) membagikan pertanyaan-pertanyaan penting-nggak penting dari followers, yang kemudian dijawab juga dengan absurd oleh MinCob. Sedangkan bagian Dunia Mimin 6, perbedaannya adalah MinCob membagikan jawaban dari pertanyaan followers yang aslinya itu nggak direspon.

Pada umumnya sih, saya menyukai konsep buku ini. Seorang admin @divapress01 slebor berbagi tentang kesehariannya. Sedikit banyak hal ini bisa membuat para non-admin, khususnya followers, menjadi tahu tentang dunia admin. Tidak selamanya menjadi admin itu enak. Namun bukan berarti menjadi admin itu selalu menguras emosi. Yang penting bagaimana tetap enjoy dalam menjalani pekerjaan itu.

Layout dan tata letak yang sangat cantik, plus beberapa karikatur unyu di beberapa halaman, membuat buku ini rame. Tulisan MinCob saja sebenarnya sudah lucu. Namung dengan adanya panel-panel unyu dan selipan nggak penting dalam pojok-pojok tulisan membuat saya sering nyengir saat membacanya.

Sayangnya, saya kecewa dengan bagian Dunia Mimin 5 dan 6. Sebenarnya lucu-lucu aja sih membaca pertanyaan absurd followers sekaligus jawaban tambah absurd dari MinCob. Tetapi jumlah halaman yang sangat banyak (sekitar 83 halaman) membuat saya bosan. Sorry to say, bahkan saya tidak bisa menyelesaikan buku ini sekali duduk karena sudah keburu males dengan seabrek pertanyaan-jawaban absurd itu. Alhasil, tehnik skip-skip-skip saya lakukan.

Tapi besoknya saya baca lagi bagian ini. Ternyata, kalau sedikit dan tidak dibaca dalam waktu yang sama, saya justru dapet lucunya. Tapi kalau langsung dibaca semua sampai habis dalam satu waktu? Zzzz. Berarti sekitar 39% buku ini hanya berisi ocehan itu. Padahal kalau dibanyakin Dunia Mimin 1, 2, 3, ataupun 4, tentu buku ini lebih menarik.

Hidup itu perjuangan, penuh cobaan, dan butuh kesabaran, sesabar MinCob @divapress01 jawab pertanyaan-pertanyaan absurd para followers. (Hal. 141)

Pada bagian terakhir buku ini, saya justru lebih mendapat feel-nya. Tentang ucapan MinCob kepada para kontributor a.k.a followers yang sudi nama akunnya dicantumkan dalam halaman terima kasih. Selain itu juga ada halaman Tentang Penulis mengenai asal-usul MinCob. Lantas, siapakah MinCob itu? Sampai kata terakhir dalam buku ini pun masih belum terjawab. Yang jelas, MinCob akan tetap berusaha menjadi sahabat pembaca dalam mengarungi dunia perbukuan saat ini. Nice book, MinCob!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus