Rss

100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta

coverbm100

Judul: 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta

Seri: Lagak Jakarta

Komikus: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: 160 halaman

Terbit Perdana: Januari 2008

Kepemilikan: Cetakan Kedua, April 2008

ISBN: 9789799100993

cooltext1660180343

KOMENTAR PARA PENGGEMAR SERI LAGAK JAKARTA:

Emang edan, to the point, bikin orang tertawa terpingkal2… nurutku ini salah satu karya anak bangsa yang lumayan orisinil, satrical, to the point, and realis…. cocok untuk dikoleksi dan dibaca berulang2… – www.klubsaham.com/index.fundamentalman

Sebenernya gw baca komik ini juga gara2 salah beli. Maksud gw mau beli yang bundel komik, yang kebeli malah Lagak Jakarta, habis pengarangnya sama. Tapi gw ternyata ga menyesal… tu komik bagus banget, dn bikin gw yang besar di (pinggiran) Jakarta agak2 tertohok! Baca deh… ga nyesel… dan rasakan bahwa kadang-kadang realitas lebih fiksi daripada cerita fiksi – www.friendster.com/review.php?action=all&uid=10331918

Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad sangat luwes dan membumi dalam menggambarkan peristiwa sehari-hari Jakarta. Salah satu yang menarik buat gua adalah pada detail akurat dan penokohan yang kuat. …Hm, kebayang nggak sih, selama naik bajaj kita jelalatan dan mencatat semua pernak-perniknya? Belum lagi tokoh sopir bajaj ngeselin tapi lucu. – mpokb.blogdrive.com/archive/172.html

ISINYA MENGGUGAH, MENYAYAT SEKALIGUS KOCAK…. disain komiknya… 1.000% bagus… kertas covernya bagus, cover doublenya bagus banget… pilihan warna sangat kocak…. kerennn… buat gue kerennn deee kerennnnnnnnnnnnnnnnn… haheauheuhaeuhauehae. ENJOYYYYYY!!!! Dan jangan lupa dibeli yaaaaaaaa… biar kita makin cinte sama Jakarteeee kiteeeeee neeeeee. Wekekkwkekwekwkek. – momobilanku.multiply.com/photos/album/88/BENNY_MICE_LAGAK_JAKARTA

Nggak salah, ini emang buku wajib para komikus. …Kartunnya sendiri nggak humor-humor amat tapi cukup memotret keadaan sosial saat itu. – rinurbad.multiply.com/reviews/item/15

November – Buku yang Ada Unsur Angka

cooltext1660176395

Ada yang ngeh dengan penulisan judul buku ini yang menggunakan tanda kutip pada kata tokoh? Ternyata hal itu bukan tanpa alasan. Seringkali kita mendefinisikan “Tokoh” adalah orang-orang yang terkenal, berpengaruh dalam kehidupan, ataupun orang-orang yang membekas dalam benak masyarakat luas. Namun sepertinya Benny dan Mice enggan membuat sebuah karya dengan “tokoh” yang mainstream.

Lahirlah kumpulan karikatur dan sejumput komik berjudul 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta ini. Bukan para artis ataupun sang pejabat terkemuka yang dimaksud komikus ini, melainkan para orang “biasa” yang sudah dikenal akrab oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta.

Kita semua inilah ‘Tokoh-Tokoh’ yang mewarnai Jakarta! …he..he…he… (hal. 7)

Ada 100 orang manusia berbagai profesi dan latar belakang kehidupan masing-masing yang sempat digambarkan Benny dan Mice di buku ini. Karena terlalu banyak, jadi saya kemukakan segelintir saja ya yang cukup memorable. Salah satunya adalah tokoh “Mas-Mas Mudik” dengan deskripsi yang unik.

Rambut khas mas-mas. Jeans yang masih biru banget. Jacket supaya nggak masup angin di perjalanan. (hal. 20)

Btw, rambut khas mas-mas itu yang gimana sih? Saya biasa dipanggil “Mas” tapi kok rambut saya beda dengan karikatur si “Mas-Mas” itu. Jadi saya bukan “Mas-Mas” tulen dong? Ada lagi tokoh yang cukup bikin saya nyengir adalah deskripsi “Cewek Berjilbab 2”. Kenapa 2? Karena “Cewek Berjilbab 1” adalah potret sang muslimah sejati dengan pakaian yang memenuhi syariat Islam. Sedangkan yang kedua? Baca deh:

T-shirt lengan panjang tapi ketat! (lekuk tubuh masih terlihat jelas). Celana stretch!! (lekuk pinggul dan paha nyéplak banget!) (hal. 25)

Ada yang unik, ada juga yang bikin ngikik. Salah satu tokoh tersebut adalah “SPG Rokok”. Gile, ada aja nih prfesi yang dimasukin ke buku ini. Yah meskipun rokok itu tidak baik untuk kesehatan, tidak menghilangkan profesi SPG kok. Berikut cuplikannya:

Raut muka ‘menggoda’ iman dengan kata2 manis untuk mengajak melanggar peringatan pemerintah, bahwa: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, bla… bla… bla… (hal. 73)

Dipikir-pikir iya juga sih. Kalo promosi rokok masih merajalela, ya konsumennya tetep ada. Jadinya rokok nggak bisa hilang dengan mudah. Anyway, salah dua yang menjadi favorit saya adalah potret dua keluarga yang berbeda nasib. Nasib keluarga miskin dan kesusahan berdampingan dengan keluarga yang sangat berkecukupan di halaman sebelahnya. Keluarga pertama disebut “Keluarga Susah Makan”.

Seekor ikan kembung goreng buat lauk bersama. Sengaja makan sedikit, mengalah… supaya anak-anaknya dapat porsi lebih banyak (menunjuk gambar ibu). Sambil berpikir…. mencari uang untuk makan esok hari (menunjuk gambar bapak). (hal. 112)

Awalnya sih saya idak mengira potret kedua keluarga yang berbeda ini disandingkan bersama. Rasanya Benny dan Mice ingin menyadarkan pembaca bahwa ada berbagai macam kehidupan di dunia ini. Untuk keluarga kedua disebut “Keluarga Doyan Makan”.

Nasi goreng ikan asin porsi jumbo. Nasi sapi lada hitam. Ayam kuluyuk buat bersama. Kwetiau goreng sapi porsi kedua. Sup kepiting sebagai apetizer. (hal. 113)

Kedua halaman tersebut sempat membuat saya terhenyak dan langsung bersyukur kepada Allah SWT. Selain orang-orang Indonesia, ternyata Benny dan Mice tidak melupakan orang luar negeri yang malang melintang di Jakarta. Mereka turut ambil bagian menjadi “tokoh” yang digambarkan di buku ini. Antara lain “Bule Ransel”, “India Pasar Baru”, “Nigeria Kebon Kacang”, dan “Arab Atrium”.

Selain karikatur para “tokoh”, ada bonus 5 komik pendek di sela-sela halaman di buku ini. Tentunya komik itu menceritakan sepenggal kisah hidup para “tokoh” yang telah digambarkan sebelumnya. Saya suka seka dengan keduanya, baik karikatur maupun komiknya. Benny dan Mice seakan menuliskan apa yang ada di benak saya (atau kita semua?) ketika melihat “tokoh-tokoh” itu di dunia nyata.

Meskipun judulnya dituliskan 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta, bukan berarti warga yang tidak berdomisili maupun yang tidak pernah ke Jakarta tidak bisa menikmatinya. Karena saya rasa, mayoritas para “tokoh” tersebut juga hidup di berbagai wilayah lain di Nusantara kok. Jadi siapapun pembacanya juga bisa relate dengan goresan gambar di buku ini.

Kekurangannya apa ya, mungkin penulisan kata-kata agak kurang rapi. Sepertinya karena semua gambar dan tulisannya hand made alias gambar manual terus di scan *CMIIW* jadi agak sedikit belepotan. Oh iya, kekurangan yang cukup fatal adalah: kurang tebal! Hahahaha. Saya sih pengennya 1000 tokoh yang mewarnai Indonesia. Biar puas bacanya hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

A.S. (Animal Sense) (Jilid 1)

coveranimal1

Judul: A.S. (Animal Sense) (Jilid 1)

Komikus: Maekawa Takeshi

Penerjemah: Yenny Hendrawatih

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 184 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792731378

cooltext1660180343

Fuzuki Hoshino, gadis siswa SMU, pernah mengalami kejadian aneh waktu kelas 3 SD. Kini, kejadian aneh itu datang lagi. Ia bisa ‘masuk’ ke dalam binatang, lalu bisa melihat dengan mata binatang yang dimasukinya itu. Bukan hanya penglihatan, tapi juga indera lainnya yang dimiliki hewan yang dimasukinya, bisa ia rasakan. Kekuatan apa itu sebenarnya.!?

cooltext1660176395

Hewan adalah salah satu makhluk hidup yang mendiami bumi ini. Meskipun manusia juga dikategorikan sebagai hewan, namun tingkat pemikiran dan naluri yang dimiliki manusia jauh lebih tinggi dibandingkan hewan. Segala perilaku dan apa yang dipikirkan oleh hewan terkadang membuat kita menerka-nerka, apa sih yang sebenarnya hewan-hewan itu rasakan.

Hal itu mungkin mendasari Maekawa Takeshi sehingga membuat komik Animal Sense ini. Yah namanya juga komik, apapun bisa terjadi. Begitu pula dengan tokoh utamanya, Fuzuki Hoshino yang (seharusnya) hanya seorang siswi SMA biasa, menjalani  hidup yang biasa, justru memiliki sebuah kemampuan yang tidak biasa. Hal ini tertuang pada chapter 1 berjudul “Fuzuki Hoshino”.

Kekuatan yang bangkit kembali ini… aku tidak tahu kapan lenyap lagi… makanya aku tidak menceritakannya pada orang lain. (hal. 25)

Benar sekali, pada masa kecilnya, Hoshino bisa merasa apa yang seekor hewan lakukan. Seolah ia bisa masuk dalam tubuh hewan tersebut. Tak mau mengulangi masa kecilnya yang ia justru dianggap bercanda, saat ini Hoshino memilih menyimpannya rapat-rapat. Ia berpikir toh, nanti juga hilang sendiri.

Namun kemudian mau tidak mau ia harus menggunakan ‘kekuatannya’ itu untuk menolong seorang ibu-ibu yang menjadi korban perampokan. Melalui anjing peliharaan sang ibu-ibu, Hoshino mengejar sang perampok hingga sampai di belakang gudang. Bagaimana Hoshino tahu? Ternyata ia melihat menggunakan “mata” si anjing yang bernama Snoopy. Bahkan polisi yang menjumpainya juga dibuat heran.

Baru mulai menghitung uangnya itu maksudnya… kok, tahu? Memangnya kamu ahli nujum? (hal. 45)

LOL! Polisinya lucu juga, pake istilah ahli nujum. Bukannya dukun kek, penyihir kek, peramal kek. Eh, atau penerjemahnya yang jenaka? Entahlah. Kembali ke Hoshino. Pada chapter 2 berjudul “Kekuatan yang Bangkit”, diceritakan seorang pasangan lansia kehilangan anjing peliharaan mereka. Karena lama tidak ditemukan, mereka memberitahukan kepada ayah Hoshino, sebagai pemilik klinik hewan. Di tempat yang berbeda, Kurosawa, kawan sekelas Hoshino, memiliki masalah pribadi karena ayahnya dililit hutang 10 juta yen.

Kami tak menyangka, hubungan kepercayaan kami dengan perusahaan dagang itu akan dikhianati dengan cara seperti ini. (hal. 85)

Entah kebetulan atau tidak, anjing hilang (bernama Merry) milik pasangan lansia bernama Ozu ditemukan oleh Kurosawa. Karena mengetahui akan diberi imbalan bagi siapapun yang menemukannya, Kurosawa bermaksud menghubungi keluarga Ozu. Pada chapter ketiga berjudul “Kekuatan Berevolusi”, ternyata keluarga Ozu masih dilanda kecemasan yang berarti. Bahkan sang istri sampai terbaring sakit.

Kurasa, kita tak usah khawatir dia celaka… soalnya tak ada kabar apa-apa dari klinik hewan dan puskesmas. (hal. 97)

Pada chapter terakhir dengan judul “Animal Sense”, diceritakan orang yang (bisa dikatakan) memeras ayah Kurosawa mengetahui perihal anjing hilang (dan imbalan) tersebut. Tentu kesempatan ini tidak disia-siakan untuk memeras keluarga Ozu.

Nyawa keluarga begitu murah nilainya? Kalau begitu, Bapak beli saja anak anjing baru di pet shop! (hal. 147)

Ada yang tahu manga fenomenal Kung Fu Boy? Nah komikusnya sama dengan Animal Sense ini. Apa? Oh kamu sudah tahu? Yah kirain saya yang tahu duluan fakta ini *oke skip*. Saya sudah baca Kung Fu Boy sih, dan rasanya kok tidak apple to apple kalau mau saya banding-bandingkan.

Secara tema, komik ini cukup unik. Mengangkat sebuah “kekuatan” untuk merasakan dunia binatang. Dipikir-pikir asik juga yah bisa punya kekuatan kayak Hoshino. Kan lumayan bisa jadi pawang segala hewan. Trus bisa tampil di sirkus *eh. Dari sisi artwork sih, udah rapi kok. Apalagi gambar hewannya terasa nyata banget.

Minusnya apa ya. Hmmm..konfliknya masih datar-datar saja. Meskipun hampir di akhir halaman sedikit greget, tapi masih terasa so-so gitu. Mungkin karena masih edisi perdana kali ya. Jadi hal-hal menegangkannya masih disimpan di volume berikutnya. By the way, Hoshino cantik loh.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Manusia Setengah Salmon

covermanusia

Judul: Manusia Setengah Salmon

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: viii + 264 halaman

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, 2012

ISBN: 9789797805319

cooltext1660180343

Nyokap memandangi penjuru kamar gue. Dia diam sebentar, tersenyum, lalu bertanya, ‘Kamu takut ya? Makanya belom tidur?’

‘Enggak, kenapa harus takut?’

‘Ya, siapa tahu rumah baru ini ada hantunya, hiiiiii…,’ kata Nyokap, mencoba menakut-nakuti.

‘Enggak takut, Ma,’ jawab gue.

‘Kikkikikiki.’ Nyokap mencoba menirukan suara kuntilanak, yang malah terdengar seperti ABG kebanyakan ngisep lem sewaktu hendak photobox. ‘Kikikikikiki.’

‘Aku enggak ta—’

‘KIKIKIKIKIKIKIKI!’ Nyokap makin menjadi.

‘Ma,’ kata gue, ‘kata orang, kalo kita malem-malem niruin ketawa kuntilanak, dia bisa dateng lho.’

‘JANGAN NGOMONG GITU, DIKA!’ Nyokap sewot. ‘Kamu durhaka ya nakut-nakutin orang tua kayak gitu! Awas, ya, kamu, Dika!’

‘Lah, tadi yang nakut-nakutin siapa, yang ketakutan siapa.’

Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sembilan belas bab di dalam bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Simak juga bab berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat khas Raditya Dika.

cooltext1660176395

Another book of Raditya Dika. Saya cenderung menyukai banyolan dan guyonan dalam tulisan Dika. Terasa segar (air mineral kali ah) dan menghibur. Usianya yang masih belum terlalu tua juga sedikit banyak bisa membuat kejadian-kejadian masa kini menjadi bahan tulisannya. Termasuk pada buku Manusia Setengah Salmon ini.

Ada 19 bab di buku ini yang Dika suguhkan. Ada yang lucu, ada yang mellow, ada pula yang absurd dan nggak jelas. Karena nggak mungkin saya ulas satu persatu, jadi saya tuliskan beberapa saja ya. Salah satu kisah yang menurut saya cukup menarik adalah yang berjudul “Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat”. Pada cerita ini, Dika yang mengalami putus cinta menjadi tahu apa esensi dari kenangan masa lalu.

Harga diri lebih penting daripada sakit hati. (hal. 22)

Putus cinta memang menyakitkan. Namun di cerita tersebut Dika menyelipkan sebuah pesan moral mengenai arti dari merelakan. Lain hal pada kisah berjudul “Kasih Ibu Sepanjang Belanda” yang menurut saya lucu sekaligus menyentuh. Alkisah Dika yang melanjutkan studi ke Belanda mengalami fase “ingin mandiri” dengan mencoba mengacuhkan segala perhatian nyokapnya yang terus menghubungi Dika tiap jam.

Memang perut gue ini perut belalang kupu-kupu, kalau siang makan nasi kaau malam minum susu. (hal. 117)

Pada kisah tersebut Dika seakan ingin mengingatkan pada jutaan orang yang (mengaku) dewasa yang masih memiliki orang tua bahwa sesungguhnya perhatian orang tua itulah yang sesungguhnya amat berharga. Karena kita tak akan tahu kapankah orang tua akan pergi meninggalkan kita…ke dunia yang berbeda.

Pada kisah lain berjudul “Tarian Musim Kawi”, Dika menceritakan tentang curhat sahabatnya, Trisna, yang menjadi jomblo perak karena pada usia menginjak 25 tahun belum pernah berpacaran. Ingin membantu, Dika mengusulkan Trisna mencari (calon) pasangan melalui Twitter.

Timeline Twitter seseorang menunjukkan sifat asli orang tersebut. (hal. 151)

Saya sangat sependapat sih dengan bahasan Dika pada kisah ini. Karena tidak dapat dipungkiri di era serba modern (termasuk munculnya social media) bisa menunjukkan jati diri asli seseorang. Trisna yang merasa tertarik dengan usul Dika pun juga begitu. Lantas, berhasilkah Trisna mendapatkan pasangan hanya bermodalkan timeline?

Cerita yang cukup memilukan hadir pada judul “Lebih Baik Sakit Hati”. Bukannya apa-apa, di kisah ini Dika menceritakan mengenai pengalamannya sakit gigi akibat gigi geraham bungsunya mulai tumbuh. Tak tanggung-tanggung, ia musti rela disuntik dan dioperasi demi menyembuhkan giginya. Sakit? Tentu saja. Bahkan ia membandingkan dengan rasa sakit hati yang pernah ia alami.

Orang yang bilang lebih baik sakit hati daripada sakit gigi, pasti belum pernah sakit gigi. Dan, orang yang belum pernah sakit gigi, belum tahu rasanya menjadi dewasa. (hal. 204)

Bab penutup berjudul “Manusia Setengah Salmon” seakan menjadi kesimpulan dari segala macam bab galau dan mellow yang dikisahkan pada bab-bab sebelumnya. Pada akhir penutup ini, Dika seakan kembali menegaskan bahwa perpindahan adalah sebuah hal yang lumrah terjadi.

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. (hal 255)

Ketika menutup buku ini, saya merasa puas. Dalam artian saya menemukan sebuah hal baru pada gaya tulisan Dika. Meskipun guyonan dan candaan masih dipertahankan, namun saya bisa merasakan pesan moral ataupun kutipan menyentuh di buku ini. Pada buku ini saya juga mengetahui bahwa Dika bukan hanya piawai dalam menyusun tulisan komedi nan menggelitik, namun juga sukses mengingatkan saya tentang pelajaran hidup.

Sayangnya, kelebihan diatas justru menjadi bumerang. Saya jadi kurang menyukai semua bab bertema lucu yang diletakkan selang-seling dengan bab bertema mellow. Memang sih mungkin tujuannya agar pembaca bisa sedikit refreshing pada bab yang lucu setelah menikmati mellow-nya bab sebelumnya. Tapi saya justru merasa aneh. Ibarat lagi makan kue bolu dan rempeyek (aduh, maafkan pemilihan yang absurd ini), saya harus berganti-ganti kedua makanan tersebut tiap lima detik. Enak? Tentu tidak. Saya jauh lebih setuju jika buku ini full bab bertema mellow. Sisi-sisi komedi sebagai identitas Dika cukup diselipkan dalam bab-bab itu saja. Tak perlu disendirikan.

But overall, saya suka dengan buku ini. Meskipun kadar komedinya tidak terlalu dominan, saya justru mendapat sebuah pemahaman baru mengenai secuil pengalaman hidup. Dika yang masih muda juga sanggup menghadirkan tulisan yang bisa dinikmati kawula muda. Good job!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Fairy Tail (Jilid 1)

coverfairy1

Judul: Fairy Tail (Jilid 1)

Komikus: Mashima Hiro

Penerjemah: Agung Nugroho AP

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 191 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792730418

cooltext1660180343

Natsu si penjinak api dan Lucy sang penyihir roh bintang. Mereka dua dari sekelompok anggota serikat penyihir FAIRY TAIL yang suka membuat kekacauan. Takdir mempertemukan mereka untuk berkawan di Harjion! Dunia sihir akan semakin kacau.

cooltext1660176395

Komik yang menceritakan mengenai penyihir dengan hal ajaib lainnya memang tidak sedikit. Namun penyihir yang bersatu dalam sebuah serikat (guild) sepertinya belum terlalu banyak. Salah satu komik yang mengangkat hal ini adalah Fairy Tail hasil karya Mashima Hiro. Komik berjenis kelamin shounen alias lebih mudah dinikmati kaum laki-laki ini memang cocok dengan segala macam action dan pertarungan yang melibatkan sihir tokoh-tokohnya.

Chapter pertama berjudul “Fairy Tail” mengisahkan tentang Natsu, penyihir lelaki kekar bersama Happy, kucing kecil yang menuju Kota Harjion demi menemui Salamander, sang penyihir api. Meskipun belum tahu bagaimana rupa Salamander, mereka beranggapan ia adalah sang naga bernama Igneel yang telah membesarkan Natsu sejak lahir.

O…orang yang bisa menggunakan sihir api yang tak bisa dibeli di toko itu ada di kota ini!? (hal. 14)

Tak disangka, Salamander yang dimaksud hanyalah lelaki jahat yang berniat buruk pada wanita-wanita muda di Kota Harjion, tak terkecuali Lucy, sang penyihir roh bintang. Pertemuan Natsu dan Lucy pun terjadi dengan tidak sengaja ketika Salamander sedang melakukan “aksinya”. Mengetahui Lucy terjebak masalah, Natsu dan Happy tak segan menolongnya demi membalas budi.

Paru-paru naga menyemburkan api, sisik naga meleburkan api, kuku naga mengenakan api, ini adalah mantra kuno untuk mengubah diri menjadi tubuh naga… (hal. 73)

Lucy yang sangat berniat menjadi anggota serikat (guild) sihir bernama Fairy Tail, diajak Natsu dan Happy untuk singgah kesana. Pada chapter berjudul “Munculnya Master” ini baru diketahui ternyata Natsu dan Happy juga merupakan anggota Fairy Tail! Sang ketua guild (disebut master) bernama Makarov ternyata bukanlah orang yang “besar”. Banyak sekali anggota Fairy Tail yang “unik” dan cenderung suka berbuat onar. Padahal maksud utama sebuah guild adalah membantu sesama. Namun ternyata sang Master Makarov memiliki pandangan tersendiri.

Jalanilah jalan yang kalian yakini!! Itulah penyihir Fairy Tail!! (hal. 110)

Pada chapter ketiga berjudul “Naga Api, Kera dan Sapi”, Natsu dan Happy bermaksud mencari Macao, salah satu angota Fairy Tail yang seminggu belum kembali dari tugasnya. Merasa tertarik, Lucy pun ikut serta. Namun apa daya menemukan Macao bukanlah hal mudah, bahkan untuk penyihir sekalipun.

Tu…tunggu!!! Horologium!! Jangan hilang!! Perpanjang!! Perpanjang!! Heei!! (hal. 138)

Chapter terakhir berjudul “Roh Bintang Anjing Kecil” mengisahkan Lucy yang mendapatkan tempat tinggal baru (namun selalu diganggu Natsu dan Happy, bahkan setelah Lucy mandi!) di kota Magnolia. Oh iya, Lucy baru saja membeli kunci roh bintang. Sehingga sebagai penyihir roh bintang, Lucy harus melakukan perjanjian atau kontrak pada kunci yang dimilikinya.

Penyihir roh bintang menitikberatkan pada perjanjian…atau kontrak. Makanya aku pasti tak akan ingkar janji… (hal. 176)

Secara umum, saya suka pake banget dengan Fairy Tail. Awalnya saya ragu, soalnya goresan gambar-gambarnya hampir mirip dengan manga One Piece. Jadi saya kira tema yang diangkat juga agak-agak sama. Eh ternyata cukup unik juga. Penyihir yang menjalani rutinitas menyelesaikan pekerjaan terasa begitu..apa ya, berbeda.

Pada komik perdana ini memang masih sedikit sekali penjelasan jenis sihir yang dimiliki orang-orang. Namun seiring berjalannya waktu *halah*, jenis sihir yang ada di komik Fairy Tail ada buuuuuuuuuuuuuuuanyak banget. Lho kok saya tahu? Ehm, soalnya saya udah nonton anime-nya. Bahkan sampai detik ini sudah sampai episode 207 lho.

Dan karena saya lebih menikmati visualisasi di anime hasil donlot ilegal di internet, jadinya saya tidak meneruskan membeli kelanjutan manga ini hehehe. Anyway, karena ini masih jilid 1, jadi masih edisi perkenalan sepertinya. Akibatnya berbagai misteri dan pertanyaan masih berkeliaran dimana-mana. But it’s okay. Namanya juga edisi perdana. Pokoknya kesimpulannya: bagus bangeeeet!! Tonton deh anime-nya kalo enggak percaya.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Radikus Makankakus

coverradikus

Judul: Radikus Makankakus

Tagline: Bukan Binatang Biasa

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 232 halaman

Terbit Perdana: 2007

Kepemilikan: Cetakan Keempat, 2007

ISBN: 9789797801663

cooltext1660180343

Beberapa menit kemudian kelas dimulai. Kayaknya ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell. Baru masuk aja udah berisik banget.

‘Selamat siang, saya Dika,’ gue bilang ke kelas 1 SMP yang baru gue ajar ini. ‘Saya guru untuk pelajaran ini.’

‘Siang, Pak!’ kata anak cewek yang duduk di depan.

‘Jangan Pak. Kakak aja,’ kata gue sok imut. Gue lalu mengambil absensi dan menyebutkan nama mereka satu per satu.

‘Sukro,’ gue manggil.

‘Iya, Kak.’ Sukro menyahut.

‘Kamu kacang apa manusia?’

‘Hah? Maksudnya?’

‘Engga, habis namanya Sukro, kayak jenis kacang,’ kata gue, kalem. ‘Oke, kacang apa manusia?’

‘Ma-manusia, Kak.’

‘KURANG KERAS!’ Gue menyemangatinya.

‘MANUSIA, KAK!’

Satu kelas hening.

RADIKUS MAKANKAKUS: Bukan Binatang Biasa adalah buku ketiga Raditya Dika (setelah Kambingjantan dan Cinta Brontosaurus) berisi pengalaman-pengalaman pribadi Raditya Dika sendiri yang bego, tolol, dan cenderung ajaib.

Simak kisah Raditya Dika jadi badut Monas sehari, ngajar bimbingan belajar, dikira hantu penunggu WC, sampai kena kutuk orang NTB.

Penulis Indonesia, tidak pernah segoblok ini.

cooltext1660176395

Raditya Dika bukanlah orang asing dalam dunia buku non fiksi komedi di Indonesia. Karya fenomenal Kambing Jantan mengantarkannya sebagai salah satu penulis yang cukup berkompeten di Indonesia. Beberapa buku juga ia hasilkan setelah Kambing Jantan. Buku Radikus Makankakaus ini adalah buku ketiganya. Garis besarnya masih sama dengan pendahulunya, yaitu menceritakan pengalaman-pengalaman unik dan absurd Dika dalam bahasa komedi lugas dan cenderung blak-blakan.

Ada 17 cerita yang disajikan di buku ini. Ada yang cukup membekas dalam sanubari, ada pula yang berlalu begitu saja tanpa arti. Jadi saya ulas yang cukup memorable saja ya. Salah satunya cerita berjudul “Balada Badut Mabok”. Pada cerita pertama ini, Dika bermaksud melakukan penelitian dengan menjadi badut.

Gak beberapa lama kemudian, anak-anak itu udah ada di samping kaca mobil gue. Kepala gue ditoyor-toyor. Tangan-tangan butek item mereka nyolok-nyolok idung gue. (hal. 12)

Ternyata menjadi badut bukanlah hal yang mudah. Lantas bagaimana kelanjutan penelitian Dika? Ada lagi kisah berjudul “Arti Hidup?” merupakan salah satu cerita yang sedikit mellow dan inspiratif. Mengambil waktu saat Dika masih SMA, ada seorang guru bernama Ibu Irfah. Meskipun Dika nakal bagai setan, beliau tetap care pada Dika.

Kamu masih punya waktu untuk berubah. Kamu pasti mau kan lulus SPMB, masuk UI? Kamu belajar yang bener dari sekarang. Jangan bandel kayak gini. Kasihan tahu, orang tua kamu. Mulai semester depan, perbaiki ya? (hal. 94)

Ibu Irfah adalah salah satu potret guru yang pasti dicintai oleh murid-muridnya, tak terkecuali Dika yang menulis kisah ini. Meskipun tidak meninggalkan ocehan komedi, kisah ini bisa dibilang kisah paling memorable bagi saya pribadi. Karena juga meninggalkan pertanyaan dalam diri saya sendiri.

Kisah yang cukup unik berjudul “Guruku Seperti Macan”. Jadi ceritanya Dika yang udah kuliah dan lagi libur, diminta menjadi guru/tentor pada LBB yang dimiliki nyokapnya. Meskipun “hanya” mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kelas 1 SMP dan 3 SMP, itu cukup membuatnya ketar-ketir.

Ngebayangin anak-anak SMP zaman sekarang, kayaknya mereka udah brutal banget. Gak ada yang tau betapa ganas ataup betapa bandelnya mereka. Apalagi, film-film sekarang ini banyak yang menggambarkan anak-anak sekolah ngomong makin kasar, makin suka ngerjain, makin binal. (hal. 107)

Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Tayangan televisi nasional sekarang banyak yang tidak mendidik generasi muda. Apalagi sinetron-sinetron sampah selalu berlalu-lalang di layar kaca. Mungkin hal inilah yang menjadi kekhawatiran Dika sebelum mengajar (calon) siswanya. Perbedaan generasi terkadang menimbulkan perbedaan perangai. Dahulu santun, sekarang bisa tak tahu malu. Yang tadinya sopan, bisa jadi sekarang suka ngomong kasar.

Secara umum sih saya suka buku ini. Sebenernya buku ini sudah punya sejak lama. Cuman baru bisa nulis review sekarang. Ciri khas Dika dalam tulisan komedi sepertinya sudah tak bisa dipungkiri. Apalagi kodratnya sebagai laki-laki menjadi lebih bebas dalam menulis. Tidak seperti kebanyakan penulis perempuan yang mengusung tema komedi malah jadinya garing.

Namun yang disayangkan, saya kurang bisa menikmati seluruh komedi yang dituliskan, khususnya tulisan-tulisan yang mencela orang lain. Terlepas maksudnya hanya bercanda atau tidak, tidak sepatutnya menghina orang lain sebagai bahan kelucuan. Mau itu kenyataan ataupun hanya guyonan, humor dengan menghina orang itu amat sangat basi banget. Bahkan ada salah satu tulisan berikut ini:

‘ASTAGFIRULOH!!!’ salah satu orang masih menjerit kayak orang gila. (hal. 65)

Hah? Apa? Mengucap istighfar (meskipun penulisannya kurang tepat) dikatain orang gila? Kok saya rasanya agak tersinggung ya ketika membacanya. Saya tau kok maksudnya hanya bercanda. Namun bercanda dengan membawa-bawa SARA itu enggak bagus lho, IMHO. Ada lagi yang seperti ini:

Gak taunya nih orang melihara ikan di bak mandi! Gila. (hal. 156)

Dih, ini Dika alay banget sih cuman liat ikan doang. Pake ngatain gila lagi. Emang sih, kayaknya dia baru tau ikan itu fungsinya buat makan jentik nyamuk demam berdarah. Tapi please, piara ikan di bak mandi masih lebih waras dibandingkan tidak melakukan apa-apa demi mencegah demam berdarah. Hih!

Akhirnya, buku ini masih layak baca kok meskipun ada beberapa kekurangan. Saya rasa masih belum ada penulis komedi di Indonesia (yang karyanya udah saya baca) yang bisa mengalahkan Raditya Dika dalam menulis komedi. Hanya saja, saya rasa Dika harus mencoba mengubah konteks komedinya tanpa membawa-bawa SARA dan celaan pada orang lain agar humor yang ia sajikan bukan hanya menghibur semata, namun juga cerdas.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Angelic Layer (Jilid 1)

coverangelic1

Judul: Angelic Layer (Jilid 1)

Komikus: CLAMP

Penerjemah: Novi Sri Intan

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 176 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2003

cooltext1660180343

Suzuhara Misaki adalah siswi baru kelas 1 SMP Eriol. Tanpa sengaja, ia melihat acara ANGELIC LAYER di televisi. Terkesan oleh pertarungan antar Angel itu, Misaki memutuskan untuk membeli ANGEL Egg!

cooltext1660176395

Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan kegembiraan. Salah satu yang memberikan sumbangsih terhadap keceriaan mereka adalah mainan. Disadari atau tidak, anak cowok atau cewek, pasti suka sekali dengan mainan. Saya dulu juga begitu. Sekarang saya sangaaaaaaat merindukan masa kecil saya yang cerah ceria tanpa ada kegalauan yang menghantui *halahcurhat*

Begitu pula dengan Suzuhara Misaki yang akan sekolah di SMP Eriol. Setelah ditinggal oleh sang ayah, ia akhirnya pindah ke rumah adik ibunya di Tokyo. Masalah timbul ketika ia menolak dijemput dan akan berangkat sendiri ke rumah tantenya setelah sampai di stasiun Tokyo. Bukannya berusaha mencari rute yang benar, Misaki jusru terpukau dengan tayangan perkelahian yang disiarkan televisi di dekat stasiun. Ternyata itu adalah turnamen mainan Angelic Layer.

Akhirnya Misaki pergi ke toko mainan dan menghabiskan uang di dompetnya untuk membeli mainan terbut. Dibantu oleh orang aneh yang muncul tiba-tiba bernama Icchan, Misaki yang tidak tahu menahu mengenai Angelic Layer menjadi lebih mengerti ketika akan membeli perlengkapannya. Mulai dari bentuk tubuh, model rambut, hingga pakaian bisa disesuaikan sendiri oleh pemiliknya.

Telur ini berisi Angel. Makanya disebut Angel Egg. Kamu bisa desain sendiri Angel impianmu di dalam telur ini. (hal. 25)

Dalam perjalanan menuju sekolah, Misaki bertemu dengan Kobayashi Kotarou dan adiknya, Hatoko yang masih berusia lima tahun. Tak disangka, Hatoko sangat mengerti dengan tipe Angel milik Misaki (yang bernama Hikaru) hanya dengan melihatnya. Sang kakak, Kotarou, ternyata sekelas dengan Misaki di SMP Eriol. Kehidupan sekolah lebih berwarna dengan kehadiran Kizaki Tamayo yang juga sekelas dengan mereka.

Cuma gara-gara pakai kacamata dan baju putih, aku langsung dituduh cowok mesum! (hal. 67)

Icchan yang selalu muncul tiba-tiba di hadapan Misaki membuat komik ini semakin kocak. Belum lagi pandangan “aneh” orang-orang ketika melihat penampilan Icchan justru memperburuk keadaan. Bermaksud membantu Misaki, Icchan mengajaknya ke tempat latihan Angel agar Hikaru bisa lebih kuat. Tentu saja Misaki menyetujuinya. Harga sewanya 400 yen untuk dua jam lho.

Di sini, Deus atau kamu berkuasa seperti dewa dan mengatur semua gerakan Angel. (hal. 91)

Setelah dua jam berlatih (yang cuman membuat Hikaru bisa nolah-noleh dan berlari doang), Icchan mengajak Misaki bertarung sungguhan di sebuah turnamen. Sebagai pendatang baru yang masih awam, Hikaru bisa mengalahkan lawannya dan membuat Misaki mendapatkan Angel Card yang bisa membuatnya mengikuti turnamen manapun.

Kalau kamu diam, Hikaru juga nggak bisa buat apa-apa! Kamu harus tenang supaya Hikaru nggak terluka! (hal. 103)

Pada turnamen daerah, Misaki mencoba juga untuk mengikutinya. Lawannya ternyata adalah Hatoko! Anak usia TK itu menjadi lawan Misaki pada babak penyisihan pertama! Lantas, bagaimana nasib Misaki selanjutnya? Sanggupkah Hikaru mengalahkan lawan-lawannya dan menjadi juara turnamen daerah?

Dari ide cerita, CLAMP sanggup menghadirkan sebuah ide segar dalam konteks mainan anak-anak. Angel yang modern dan bisa dikendalikan oleh manusia bisa saya katakan sebagai game virtual namun berbentuk tiga dimensi. Tokoh Misaki dengan kepolosan dan perangainya yang menyenangkan sangat khas dengan CLAMP. Humor yang disuguhkan juga terasa pas dan membuat saya nyengir-nyengir.

Ada yang sudah tau Card Captor Sakura? Nah, entah kebetulan atau bukan, saya merasa pola tokoh di Angelic Layer hampir sama dengan Card Captor Sakura. Saya enggak tahu sih yang mana duluan yang muncul di pasaran, tapi rasanya bisa saya asosiasikan Misaki adalah Sakura, Kotarou adalah Syaoran, Tamayo adalah Tomoyo, Hikaru adalah Kero-chan. Meski ceritanya berbeda jauh, saya tidak bisa relate dengan tokoh di Angelic Layer selayaknya Card Captor Sakura. Mungkin karena efek saya tahu Card Captor Sakura duluan kali ya.

Sebagai seri pembuka, buku komik ini sanggup membuat saya penasaran. Jarang-jarang CLAMP yang biasa membuat komik mengharu-biru dengan sketsa “cewek banget” memunculkan adegan pertarungan keren (yah meski pertarungan mainan sih). Tapi mau nyari lanjutannya kok ya kayaknya udah enggak dijual lagi sekarang.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Mr Subase

covermr

Judul: Mr Subase

Tagline: Boss Vintage di Era Modern

Penulis: eVe

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah Halaman: 224 halaman

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, 2013

ISBN: 9786028260749

cooltext1660180343

Kenapa harus Mr. Subase?

Begini ceritanya. Saya ngefans banget sama Supermen. Bagi saya Supermen adalah manusia terhebat yang hanya bisa ditandingin sama Spidermen, Wonderwoman, Megalomen, atau Satria Baja Hitam. Saya berharap, suatu saat kelak, semua jagoan ini bakal berkumpul kemudian bersatu padu melawan Shinchan. Huahahhaha. TAROHAN! Pasti menang Sinchan!

Ups, balik lagi ke Mr. Subase.

Gak tau kenapa, saya suka banget ama nama manusia yang terdiri dari tiga suku kata. Yang saya amatin, para jagoan dan orang tersohor dunia itu namanya terdiri dari tiga suku kata. Contohnya ya itu tadi, Su-per-men. Yang terkenal di Indonesia, Soe-har-to. Terus di dunia, ada O-ba-ma. Semuanya pake tiga suku kata. Kalaulah Supermen adalah manusia terkuat di hati saya, so’ saya percayakan nasib Boss terlucu di kantor saya pada sebuah nama panggilan sayang, “SU-BA-SE”.

Call him, Mr. Subase!

“Setiap Boss, baik Boss saya maupun Boss kamu semua, kalo ada yang kelakuannya lucu, yang bisa membuat kita semua terhibur dan betah berlama-lama di kantor, silakan panggil dia Mr. Subase.”

cooltext1660176395

Bekerja adalah hal yang lumrah dilakukan seseorang yang telah cukup umur sebagai tenaga siap kerja. Ketika bekerja, mereka mendapatkan gaji/upah sebagai bentuk apresiasi kerja keras mereka dalam tiap satuan waktu tertentu. Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi seseorang yang mendapatkan warisan segunung yang tak habis hingga turunan keseribu.

Ketika bekerja, terkadang pekerja dihadapkan pada rekan kerja yang beraneka macam sifat. Ada yang menyenangkan, menyebalkan, optimis, ataupun oportunis. Tak terkecuali dengan atasan yang jabatannya lebih tinggi. Selayaknya manusia biasa, mereka juga memiliki sifat yang beraneka rupa. Keseharian bersama rekan kerja membuat hari-hari bekerja menjadi lebih berwarna.

Setiap Boss, baik Boss saya maupun Boss kamu semua, kalo ada yang kelakuannya lucu unik, konyol, gaptek yang bisa membuat kita semua terhibur dan betah berlama-lama di kantor, silakan panggil dia Mr. Subase. (hal. 13)

Ada banyak kisah yang disuguhkan dalam buku 224 halaman ini. Rata-rata emang fokus pada hal lucu, konyol, dan ajaibnya kelakuan sang Boss (dalam hal ini Mr. Subase menjadi Direktur Utama), baik dalam hal yang menyangkut pekerjaan ataupun tidak. Salah satu kisah yang menarik adalah kebiasaan Mr. Subase ketika pipis di dalam WC kantor.

“Jawaban lo hampir betul, Mang! Model pipisnya Mr. Subase kayak anak bayi, doi buka semua celananya, dari celana panjang sampe celana dalemnya dibuka dan digantung di pintu kamar mandi, dannnnn… gak ditutup mennnn!” (hal. 85)

Ada lagi cerita tentang Mr. Subase yang latah mengikuti hal trendi dari seorang Komisaris kantor. Niat hati ingin mencari tahu sambil memuji, Mr. Subase malah dibikin keki ama sang komisaris. Malum sepertinya Mr. Subase ini adalah orang yang sudah tidak cocok mengikuti perkembangan tren.

Mr. Subase kecele. Terlalu berusaha cari perhatian memang bisa membuat kita justru jatuh terhempas. Sakit, bokkk. (hal. 105)

Selain Mr. Subase, ada juga Boss yang lain bernama Mrs. Hana sebagai pemegang kuasa keuangan perusahaan. Beliau ini disinyalir adalah orang tajir. Maklum saja, karena bekerja di kantor Mr. Subase bukanlah pekerjaan primer. Beliau memiiki usaha butik yang cukup sukses juga.

Tiap Sabtu ama Minggu pagi, mata saya disejukkan ama puluhan apartemen yang wara-wiri di layar tivi. Belum lagi pembahasan pusat perbelanjaan yang lagi melego jualannya dengan harga yang katanya murah. Kayaknya tontonan tivi kayak gitu khusus buat orang yang tiap hari mandi uang. Yang setiap harinya kerjaannya membungkus emas batangan. Yang lulurannya pake platina. Yang kontak lens matanya terbuat dari berlan. (hal. 147)

Jadi ceritanya, Mrs. Hana ingin membeli (atau memesan) kuburan untuk keluarganya kelak ketika telah meninggal. Sampe milih yang di depan danau lho (ajegilee). Ada lagi kisah cukup unik saat semua orang kantor hendak jalan-jalan ke Jogja. Mr. Subase yang sangat excited sampe jadi lebay untuk urusan datang ke stasiun saat kereta berangkat jam delapan.

“Hooooo… jangan mepet-mepet datangnya, nanti kamu terlambat! Hoooo… datang aja jam 6, dua jam sebelum berangkat! Yah… yah!” (hal. 206)

30 cerita pendek di buku ini selalu menyangkut-pautkan tingkah ajaib sang Boss (mayoritas sih Mr. Subase yang diceritakan). Saya suka cara penulisan eVe. Sangat mengalir dan tidak dibuat-buat untuk menimbulkan kelucuan. eVe adalah salah satu penulis perempuan yang saya rasa cukup sukses mengusung tema humor dalam tulisannya.

Diksi yang sangat pas membuat tiap kalimat bisa saya nikmati dengan nyaman. Tidak seperti penulis humor pada umumnya yang terkesan “maksa” biar bisa lucu. Mr. Subase yang diceritakan juga membuat saya gemes dan mikir sebenarnya kerjaan beliau ini ngapain kok bisa jadi Dirut.

Kelemahan yang saya temukan hanyalah: typo. Ada banyaak broo! Saking banyaknya, saya males nulisin ulang hehehe. Saya mencatat ada 11 kesalahan penulisan dalam buku ini. Itupun yang saya anggap parah dan mengganggu. Belum termasuk kesalahan penulisan tanda baca, pemenggalan kata, penulisan nama artis, penulisan nama tempat, dan penggunaan ejaan kata berbahasa Inggris. Namun karena tidak terlalu mengganggu saat membaca, jadi saya biarkan saja.

Saya juga suka buku ini yang terdiri dari bagian depan yaitu pengenalan tokoh; bagian tengah adalah cerita lika-liku kehidupan Mr. Subase; dan bagian akhir sebagai kisah penutup. Meskipun tidak berhubungan satu sama lain, hal ini membuat saya puas membaca buku ini sampai akhir. So, buku ini cocok dibaca siapa saja. Karena percayalah, berbagai sifat orang ada di dunia ini. Bahkan, orang ajaib kelakuannya juga bisa menjadi Direktur kok.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Hiyokoya Shop (Jilid 1)

coverhiyokoya1

Judul: Hiyokoya Shop (Jilid 1)

Judul Asli: Ikai Hanjouki Hiyokoya Shouten

Komikus: Suda Yuriko

Penerjemah: Wulung Pambuko

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 176 halaman

Terbit Perdana: Juli 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juli 2008

ISBN: 9789792318951

cooltext1660180343

Riku Fukugawa, anak SMP kelas 3 yang hidup sendirian. Dia amnesia, ingatannya sampai umur 10 tahun seakan tidak ada. Namun dia menjalani kehidupan yang damai.

Suatu hari muncul anak-anak aneh tapi lucu di depannya dan menyebutnya “saudara”! Riku pun diminta kerja sambilan di “Hiyokoya Shop” yang dikelola mereka di dunia lain!?

cooltext1660176395

Suatu hal yang ajaib dan tak bisa diterima akal sehat bukanlah halangan dalam dunia komik. Segala macam imajinasi, selama hal itu bisa digambar, rasanya sah-sah aja. Mau itu aneh banget, bikin dahi berkerut, tidak logis, ya silakan semau komikus aja. Termasuk Hiyokoya Shop ini.

Cerita bermula dari seorang anak SMP bernama Riku Fukugawa yang amnesia sejak usia 10 tahun dan tinggal di asrama. Karena sangat menyukai kucing liar di depan asrama, ia berniat untuk merawat kucing tersebut dengan membelikan makanan. Untuk mendapatkan uang, ia berjualan soal perkiraan ujian mid semester kepada teman sekelasnya.

1 mata pelajaran 300 yen. Prakiraan soal ujian mid semester hari ke-3. (hal. 11)

Saat pulang sekolah bersama Mizuno, gadis yang menyukainya, serta kedua sahabat Riku, mereka melewati taman yang kebetulan ada free market (semacam bazaar kali yah). Riku yang belum pernah tahu hal itu, setuju saja ketika diajak kawan-kawannya untuk melihat-lihat. Di pasar tersebut, ada penjual yang menjual ikan mas aneh.

Masa ikan punya kaki dan tangan. Mau makan anak lagi! Apa sih ini? (hal. 22)

Terjadi keanehan saat RIku dan sang penjual berdebat. Karena penjual tersebut mengetahui mata kiri Riku yang aneh dan “tidak biasa”. Belum sempat Riku membalas ocehan si penjual bernama Satsuki itu, ia sudah diminta pulang kerumah oleh Satsuki. Tentu saja Riku heran, ia tidak mengenalnya sama sekali.

Batu roh anak kelima “Hiyokoya” bercahaya. Jadi kau… penghubung yang mereka cari-cari. (hal 28)

Belum hilang rasa heran dan panik, Riku sudah diculik oleh penjual ikan mas tadi (bernama Satsuki, Shii, dan Futaba) melalui pintu aneh di tengah kolam. Saat tersadar, Riku sudah berada di sebuah daerah lain. Ia berada di desa Genroku, dunia Yamato. Ternyata Satsuki cs membawanya ke toko keluarga Hiyokoya.

Rumah Riku… “Hiyokoya” ini. Toko serba ada 3 generasi di desa Genroku. Toko ini diurus oleh kami, suku Hina. (hal 44)

Ternyata eh ternyata, mereka menjelaskan bahwa Riku sesungguhnya berasal dari Genroku dan telah menghilang selama lima tahun lamanya. Kemudian mereka semua berusaha menjemput Riku dan membawanya ke rumahnya sendiri. Riku yang masih belum bisa mengerti, akhirnya memutuskan magang (kerja sambilan) di Hiyokoya satu minggu sekali sambil sekolah di dunia yang “asli”. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah Riku sebenarnya?

Sebenarnya ide ceritanya cukup menarik. Tentang seorang anak yang amnesia dan kembali dijemput keluarga yang telah hilang dari hidupnya. Ditambah ternyata keluarga tersebut menjalankan sebuah toko yang dikelola seluruh anggota keluarga. Meskipun barang yang dijual aneh-aneh, rasanya saya senang sekali membayangkan kehangatan keluarga mereka saat berada di toko.

Kekurangan yang cukup mengganggu adalah banyaknya tulisan di tiap panel. Sampe ada yang nyempil-nyempil. Sebenernya sih gak penting-penting amat. Tapi mata saya terlanjur kepo pengen baca semuanya. Sebagai jilid pertama, terlalu banyak tokoh yang dimunculkan. Jadi kesannya rombongan tokoh bejubel di satu komik. Saya jadi sering lupa namanya siapa aja. Sehingga terkadang ada yang kemunculannya hanya tempelan belaka.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Metro

covermetro

Judul: Metro

Penulis: Gola Gong

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: vi + 106 halaman

Terbit Perdana: Mei 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2005

ISBN: 9789793600710

cooltext1660180343

Jakarta. Kota metropolitan yang sudah terlanjur dicap dengan kehidupan masyarakatnya yang glamour, egois, individualis dan materialistis. Dengan gaya metroseksual, sebagian orang Jakarta tidak peduli dengan kehidupan sosial di sekitarnya. Karena itu, Gola Gong tergugah untuk menyampaikan pesan moral tersebut melalui novel terbarunya, METRO.

Novel beraromakan kekerasan jalanan, yang kuat nuansa islaminya. Bercerita tentang tokoh bernama Baron, petinju yang juga petarung bebas. Dia hidup di lingkungan yang penuh dengan maksiat. Tiba-tiba saja dia melihat bulan sabit dan bintang serta mendengar alunan suara adzan. Pertanda apakah itu?

Metro, sebuah novel yang mempertanyakan jiwa sosial, jati diri, dan solidaritas kita di tengah masyarakat hedonis.

cooltext1660176395

Sisi lain ibukota sepertinya masih menarik dijadikan tema cerita oleh para penulis lokal. Setidaknya kesan glamour, mewah, dan gemerlapan yang digantikan kekerasan dan kekelaman bisa memberikan nuansa baru dalam memandang kota meropolitan dalam sebuah cerita. Karena sesungguhnya segala sesuatu memiliki sisi yang baik dan buruk.

Baron sebagai seorang petinju sekaligus petarung bebas juga seperti itu. Meskipun ia memiliki “pekerjaan” yang sanggup memenuhi kebutuhannya, ia masih merasa tersesat. Khususnya dalam sebuah pandangan mengenai agama.

Baginya agama adalah urusannya dengan Tuhan. (hal. 3)

Bagaimana tidak, ia mendapati bulan sabit dan bintang di langit sore namun kekasihnya, Kirana, tidak melihat hal yang sama. Baron menjadi bingung sekaligus penasaran. Pertanda apakah itu. Karena menurutnya agama bukanlah prioritasnya dalam menjalani hidup. Lagipula Kirana berhasil menjadikannya model produk minuman sehingga penghasilannya lebih dari cukup dibandingkan menjadi petinju dan petarung bebas saja.

Meski Baron adalah seseorang yang keras dan tak segan menghajar lawannya saat pertandingan, ia justru sangat hobi membaca buku. Seems weird, huh? Hal ini membuatnya menjadi idola orang-orang, bahkan ibu-ibu juga tak segan meminta foto bersama.

Sangat jarang seorang petinju profesional, petarung bebas, dan chief security di sebuah tempat hiburan gila pada buku! (hal. 23)

Ketika menjelang pertarungannya dengan Landung, ia mendapati preman terminal, Yopi, kalah dalam pertandingan. Merasa iba, Baron membawanya ke rumah sakit dan membantu pengobatannya. Hal inilah yang membuat Baron menjadi semakin terlihat bukan petarung biasa. Bahkan ketika mengantar Yopi pulang, Baron sempat tertegun melihat keadaan sekitarnya.

Baginya, orang-orang kecil yang mengais rezeki di kerasnya Jakarta itulah, yang menopang kehidupan Jakarta. (hal. 58)

Lantas bagaimana kelanjutan pertarungan Baron dengan Landung? Lantas apa makna bulan sabit dan bintang yang dilihatnya? Apa yang terjadi kemudian dengan hubungan asmaranya? Dan yang lebih penting, siapa sebenarnya Baron itu? Silakan baca sendiri ya.

Ketika membaca novel yang tipis (banget) ini saya tidak berekspektasi macam-macam. Sebisa mungkin saya membaca tanpa beban dan menikmati kata demi kata yang tertulis. Sosok Baron menurut saya adalah pribadi yang langka hampir imajiner. Apalagi jika bukan karena kebiasaannya membaca buku yang berbeda jauh dengan pekerjaannya sebagai petarung. Inilah salah satu poin plus untuk novel ini.

Kekurangannya bagaimana? Ehm, ada beberapa hal sih. Saya bingung kenapa ini novel singkat banget. Mungkin akan lebih baik kisah Baron ini disebut cerpen daripada novel. Selain itu? Endingnya menggantung. Argh! Saya jadi kesal saat membaca halaman terakhir. Banyak sekali pertanyaan di benak saya yang tidak terjawab, bahkan hingga kata paling akhir.

Novel ini juga menyisipkan berbagai kutipan dan informasi yang berfungsi sebagai trivia saat membaca kisahnya. Namun saya pribadi amat jauh lebih menyukai sumber atau info tersebut dijadikan catatan kaki di halaman yang bersangkutan, dibandingkan meletakkan semuanya di halaman belakang yang merepotkan saya bolak balik halaman. Akhirnya trivia keempat dan seterusnya tidak saya pedulikan lagi.

Anyway, kalau membutuhkan bacaan ringan dan tipis, novel (atau cerpen?) ini bisa dijadikan selingan. Konflik yang minim dan tidak terlalu berat membuatnya mudah untuk dipahami. Apalagi alurnya yang maju dan sedikit menguak kehidupan Jakarta bisa memberikan sedikit pandangan mengenai apa yang terjadi di sebuah kota metropolitan ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Jump Around!

coverjump

Judul: Jump Around!

Komikus: Kelingking Kuroshiro

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: iv + 203 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792731453

cooltext1660180343

Satria adalah seorang anak SMA yang tidak memiliki kelebihan apa pun yang bisa dibanggakan. Perkenalannya dengan Dio dan klub basket SMA-nya akan membawa Satria menuju dunia basket pelajar di kota Medan, yang saat ini dikuasai oleh tim SMA Sutama 1. Tim basket bergelar ‘The Invincible Team’.

cooltext1660176395

Cabang olahraga bukan sebuah tema yang banyak diminati untuk diangkat menjadi sebuah komik. Selain peminatnya tidak banyak (dibanding romance, IMHO), tema olahraga harus mengandung fakta tentang cabang olahraga yang dimaksud. Artinya, komikus tidak bisa seenak udelnya mengubah komposisi pemain sepakbola menjadi 3 orang saja, misalnya. Namun Kelingking memilih tema olahraga basket menjadi buah karyanya ini.

Adalah seorang anak SMA kelas 1 di SMA S58 kota Medan, Sumatera Utara, yang selalu ditindas. Baik ditindas kakak kandungnya sendiri, maupun ditindas oleh kakak kelasnya yang notabene adalah preman sekolah. Bersama Ade, kawan karibnya, dunia Satria seolah penuh dengan sengsara, duka, dan nestapa *lebay*

Apa boleh buat… udah nasib… kita pendek, sih… jadinya gampang dikerjai… (hal. 27)

Yak benar, salah satu alasan kenestapaan Satria (dan Ade) adalah karena postur mereka yang pendek. Tinggi mereka yang “hanya” 158 cm (kalo gak salah baca) membuat mereka menjadi sasaran empuk kejahilan kakak kelas. Oleh sebab itu, Satria bertekad menjadi anggota klub basket sekolah biar menjadi lebih tinggi sehingga kelak tidak dipermainkan lagi.

Sayangnya, klub basket sekolah sedang mendapat skorsing dari pengurus yayasan Harlex Foundation karena salah seorang anggotanya ketahuan menggunakan narkoba. Padahal sang kapten tim basket, Nakaronne (bacanya naecker-ron) masih berminat melanjutkan klub itu. Oleh karena itu, Satria harus berjuang keras untuk mengaktifkan kembali klub itu demi mencapai impiannya.

Tikus yang terjepit memang memiliki suara mencicit paling memekakkan teling. (hal. 182)

Jalan yang tidak mudah, mulai dari ketua pengurus yayasan yang masih “bocah”, pelatih tim basket yang lebih “imut” dibanding Satria dan Ade, hingga lawan tanding tim basket yang hebat membuat impian Satria tidak dapat diraih dengan jalan yang mulus. Lantas bagaimana akhir dari kisah ini?

Saya memberikan apresiasi yang tinggi pada hasil karya anak bangsa. Terlepas jenis buku apa, temanya apa, dan atau apapun, sudah selayaknya penghargaan yang baik harus diberikan kepada produk lokal dalam negeri. Tak terkecuali komik Jump Around! ini. Salah satu hal yang membuat saya terkesan adalah setting tempat yang ada di Medan. Bukannya apa-apa, saya sudah bosan dengan kisah yang mengambil tempat di Pulau Jawa. 17000 pulau Nusantara masih berpotensi kok dijadikan setting tempat.

Kemudian keberanian Kelingking mengangkat basket sebagai tema cerita cukup unik. Apalagi Satria sebagai tokoh utama yang berbadan “mungil” telah mematahkan pakem bahwa hanya orang berbadan tinggi yang pantas menjadi atlet basket. Dari sini saya sudah bisa mengambil pesan tersirat bahwa kita tidak boleh menyerah meski apapun yang terjadi.

Kekurangannya menurut saya salah satunya adalah artwork. Mulai dari tokoh yang penggambarannya mirip (Satria dan Ade mirip cuman beda warna rambut; Nakaronne dan Harlex mirip cuman beda kostum), goresan yang masih kurang rapi pada adegan pertandingan, hingga postur tubuh yang agak-agak kaku.

Selain itu saya bingung komik ini ingin fokus pada bagian apa. Basketnya kah, kehidupan Satria kah, atau apa. Karena kalau saya baca, bagian basket justru membuat saya bingung sama sekali. Terutama pada istilah-istilah basket yang tidak ada penjelasannya, bahkan sekedar catatan kaki pun tidak. Mungkin emang saya yang cupu, tapi terlalu banyak istilah basket yang bertaburan membuat saya senewen sendiri. Kalau ingin fokus pada kehidupan Satria, malah tidak jelas sama sekali. Dalam arti plotnya kurang komplit. Ibarat puzzle, serpihan yang tidak cocok dipaksa menjadi satu dengan menggunakan selotip.

But anyway, saya cukup enjoy kok membaca komik ini. Di akhir cerita ada sejumput kalimat “C U at the next jump!” membuat saya penasaran membaca kelanjutan komik ini. Eh tapi ada tulisan “TAMAT” juga sih. Enggak tau deh maksudnya mau dilanjutin atau cukup sampai disini saja. Kalaupun dilanjut, semoga ada perbaikan yang cukup sehingga membuat sekuelnya lebih baik dibandingkan yang ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus