Rss

Magic Kaito (Jilid 1)

coverkaito1

Judul: Magic Kaito (Jilid 1)

Judul Asli: Majikku Kaito

Komikus: Aoyama Gosho

Penerjemah: Yuli Restianti

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 186 halaman

Terbit Perdana: 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2005

ISBN: 9789792078992

cooltext1660180343

Kaito Kid selalu datang dan hilang di kegelapan demi mendapatkan barang berharga. Targetnya malam ini, mencuri batu bulan senilai 400 juta yen. Menghadapi ulah Kaito ini, para polisi dan detektif terkenal dibuat sibuk…

cooltext1660176395

Apa jadinya jika seorang pencuri menggunakan sulap untuk mencuri barang buruannya? Sepertinya sangat menarik. Hal inilah yang diangkat oleh Aoyama Gosho dala komiknya berjudul Magic Kaito. Jadi ceritanya, ada seorang pencuri ulung yang tak pernah gagal mencuri buruannya. Bahkan polisi dibuat kelabakan. Namun entah kenapa, pencuri tersebut menghilang selama delapan tahun. Di sisi lain, terdapat seorang remaja SMA bernama Kaito Kuroba yang juga menggemari sulap.

Jadi panel ini terbuka setelah 8 tahun… sulap terakhir Touichi Kuroba. (hal. 22)

Yak benar. Ternyata ayah Kaito, Touichi adalah sang pencuri ulung bernama Kaito Kid yang telah menghilang tadi. Oleh karena itu, Kaito berinisiatif menjadi pengganti sang ayah untuk mencuri Batu Mata Bulan senilai 400 juta yen. Berhasilkan Kaito sebagai Kaito Kid junior?

Di hari yang lain, seorang putri dari negara Sabrina mengunjungi Jepang. Ia memakai batu berharga terbesar di Eropa bernama Full Sun in Paris. Tentu saja Kaito Kid bermaksud mencurinya. Yang jadi masalah, ada seorang detektif bernama Delon yang turut melindungi sang Putri, termasuk dari sasaran pencurian.

Kau lengah Kaito Kid!! Kau tidak tahu kalau batu itu akan bersinar dalam kegelapan.. (hal. 59)

Pada kisah selanjutnya, ada sebuah robot yang berhasil menculik Kaito dan meng-copy ingatannya. Akibatnya, mulai dari sekolah, pekerjaan rumah, hingga menjadi Kaito Kid berhasil dilakukan sang robot. Seolah hal itu adalah kebanggan tersendiri bagi sang robot.

Apa kau sudah lupa? Semua gerak-gerikmu sudah ada dalam programku! Pendek kata, aku bisa memprediksi gerakanmu dengan cepat… (hal. 83)

Cerita paling unik adalah yang berjudul “Kaito Kids’s Busy Holiday” karena pada cerita ini Kaito hampir terbongkar identitasnya saat mencoba mencuri mahkota bidadari. Tak tanggung-tanggung, Aoko sebagai anak perempuan Detektif Nakamori lah yang menjadi saksi mata untuk membuktikan kebenarannya.

Kena kau, Kaito Kid!! Sekarang akan kubongkar identitasmu!! (hal. 108)

Cerita terakhir sebagai penutup komik ini berlangsung pada hari Valentine. Aoko yang malu-malu memberi cokelat pada Kaito ternyata tidak sempat memberikannya. Hampir semua anak laki-laki di kelas terpesona pada anak baru, Akako Koizumi. Ternyata, ia adalah seorang penyihir dan bermaksud menggunakan sihir untuk merebut hati Kaito Kid.

Lagipula, memaksa mendapatkan hati orang dengan sihir hanya akan membuatmu kesepian. (hal. 178)

Secara keseluruhan, komik ini asyik untuk diikuti. Jarang-jarang seorang pencuri menggunakan sulap dan kecerdasan otak untuk mencuri barang buruan. Meskipun pola ceritanya cenderung sama yaitu kirim pemberitahuan-polisi siaga-Kaito Kid mencuri-polisi terkecoh-barang berharga berhasil lenyap. Namun selalu ada sesuatu yang berbeda yang Aoyama berikan. Mulai tehnik mencuri, cara penyamaran, hingga sulap yang dilakukan.

Kekurangannya adalah, karena saya udah baca Detektif Conan duluan, komik ini jadi sedikit membosankan. Mulai dari tokoh yang hampir mirip (Kaito Kuroba = Shinichi Kudo, Aoko Nakamori = Ran Mouri, Detektif Nakamori = Kogoro Mouri, dan lainnya). Memang sih mereka semua juga berperan dalam beberapa kisah Conan, tapi rasanya jadi membosankan meskipun spin-off.

Tapi cukup menarik apabila ingin menikmati goresan gaya Aoyama Gosho yang apik itu. Apalagi tehnik sulap yang disuguhkan dalam komik ini sangat menarik dan memukau (meskipun terlalu ajaib dan mustahil dilakukan). By the way, agak terganggu dengan kebodohan polisi (dan masyarakat) yang tidak ngeh dengan nama “Kaito Kid” dan “Kaito Kuroba”. Padahal kan bisa melakukan investigasi khusus untuk membuktikan kebenarannya.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Seniormoon

coversenior

Judul: Seniormoon

Tagline: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu!

Penulis: Airra Nugie

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: x + 278 halaman

Terbit Perdana: Maret 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2009

ISBN: 9786028066358

cooltext1660180343

Merasa senior kamu galak? Tunggu sampai baca buku ini.

“Lu tau sendiri kan, kalo kita ini sering ngusilin adik-adik kelas.”

“Iya. Terus?”

“Nah itu. Sekarang kita daftar ke IPDN yang budaya senioritasnya keras banget. Itu artinya kita mengantarkan diri ke karma kita sendiri.”

“Apa sih maksud lu? Gue nggak ngerti.”

“Pokoknya, entar di IPDN kita bakal dapet balesan kayak apa yang sering kita lakukan dulu ke anak-anak baru.”

Seniormoon: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu! adalah buku tentang senioritas. Di mulai dari Nugie menjadi senior yang membabat habis-habisan juniornya, sampai masuk IPDN di mana Nugie dibabat habis oleh seniornya, dan di dalamnya diisi oleh pemahaman Nugie tentang arti “kekuasaan” yang sesungguhnya.

cooltext1660176395

Indonesia adalah sebuah negara yang menerapkan pendidikan formal bertingkat. Maksudnya mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Setiap tingkat pendidikan memiliki lama masa belajar yang bervariasi. Ada yang dua tahun, tiga tahun, empat tahun, enam tahun, dan tak hingga yang berujung DO (drop out). Sehingga lahirlah istilah kakak kelas-adik kelas ataupun kakak tingkat-adik tingkat pada setiap masa pendidikan tersebut. Istilah tersebut ditinjau dari waktu pertama kali mengenyam pendidikan dan masa studi.

Disadari atau tidak, istilah tersebut juga sering melahirkan sebutan junior-senior pada lingkungan sekolah ataupun kuliah. Julukan tersebut seringkali didengungkan ketika masa orientasi siswa/mahasiswa baru. Idealnya, senior mengayomi junior dan junior menghormati senior. Namun kenyataannya, ada saja pihak yang menyalahgunakan predikat itu. Hal inilah yang diangkat Nugie dalam bukunya ini.

Paskibra, biarpun tugasnya cuma mengibarkan bendera setiap upacara, tapi pembinaan mental mereka jauh lebih menyeramkan daripada yang lain. (hal. 16)

Buku non-fiksi ini dibuka dengan kisah keisengan Nugie saat masa SMA yang selalu mengincar adik kelasnya. Mulai dari saat MOS hingga pembinaan ekstrakurikuler. Sebenarnya maksud Nugie dan kawan-kawan hanyalah usil ngerjain junior baru. Tapi mungkin hal ini justru balik memberi mereka pelajaran…..dari guru BP. Sepak terjang Nugie ngerjain junior hanya sebagai pembuka kisah. Setelah lulus SMA, ia terancam tak bisa menggapai cita-citanya menjadi sarjana karena terhalang biaya. Tak menyerah, ia mencoba peruntungan pada sebuah lembaga pendidikan yang gratis biaya, yaitu IPDN.

Saat berhasil menjadi anggota IPDN, Nugie bersyukur bukan kepalang. Akhirnya cita-citanya melanjutkan sekolah tanpa merepotkan kedua orang tuanya berhasil. Namanya anak baru (junior), Nugie masih beradaptasi pada berbagai hal yang ditemuinya di kampus. Kisah cerita dalam IPDN inilah yang menghiasi sebagian besar halaman buku ini.

Nambah lagi satu pengetahuanku tentang larangan di IPDN. Pertama dilarang senyum, kedua dilarang cengengesan, dan yang ketiga dilarang makan dan minum sambil berdiri, mungkin lebih baik ngupil pakai jempol kaki. (hal. 102)

Di IPDN, para Muda Praja (sebutan untuk mahasiswa tingkat/tahun pertama) juga menjalani kuliah. Karena kegiatan yang sangat padat dan kurangnya waktu istirahat, saat kuliah berlangsung adalah waktu yang terpaksa dikorbankan untuk tidur melepas lelah.

Hah, gimana negara mau maju, kalau calon pamongnya saja pada tidur pas jam kuliah. (hal. 145)

Masih ingat kasus penganiayaan senior kepada junior IPDN (dulu namanya STPDN) yang mengakibatkan tewasnya junior tersebut beberapa tahun silam? Hal inilah yang dialami Nugie. Setidaknya ia tidak sampai meregang nyawa. Teror bermula ketika Nugie sedang jaga malam. Ia memergoki tiga orang laki-laki sedang merokok dan (sepertinya) menggunakan narkoba.

Kemudian mataku ditutup saputangan. Mereka menyeret tubuhku ke dinding. Aku dipukuli. Beramai-ramai. Aku tersungkur. Mereka menendang dan menonjok perutku dengan membabi buta. Entah berapa kali aku dipukuli, ditendang, dan ditampar. Yang jelas aku merasa sekujur tubuhku hancur seketika. Sakit tak terperi. (hal. 157)

Membaca bagian itu, emosiku tersulut. Itukah sikap calon abdi negara yang kelak memimpin negeri ini? Sekumpulan pengecut yang tak sudi kesalahannya terbongkar. Diri ini merasa tak ikhlas uang pajak rakyat Indonesia digunakan untuk membiayai kuliah ketiga berandalan itu. Selain itu, ada juga sebuah agenda yang cukup memprihatinkan di IPDN (pada saat itu, entah saat ini masih ada atau tidak), namanya kumpul kontingen.

Kegiatan malam yang berisi dengan pemukulan dari senior kepada para junior satu kontingennya tanpa kecuali. Semua pasti mendapat jatah ditonjok perut atau ditendang. Walaupun kita nggak punya salah, tapi pasti pukulan atau tendangan itu akan kita dapatkan. Kegiatan itu sudah turun-temurun dilakukan. Ilegal, tapi tidak pernah ada tindakan dari pihak kampus. Tidak jarang, banyak korban berjatuhan setelah kegiatan ini selesai. (hal. 165)

WTF?! Darah serasa mendidih saat membacanya. Inilah salah satu hal yang membuat saya tidak respek kepada institusi pendidikan bersistem seperti ini. Bagaimana bisa kampus tidak mengambil tindakan? Apakah mau nunggu sampai semua penghuni kampus mati mengenaskan? Sepertinya korban yang tewas beberapa tahun silam karena penganiayaan senior disana juga akibat acara tak berguna ini.

Bunga belum punya pacar, itu artinya aku punya kesempatan untuk bisa menjadi pacarnya. Tapi aku masih ragu untuk mengatakan semuanya. (hal. 182)

Sepertinya Nugie tidak ingin pembacanya larut dalam amarah. Ia menghadirkan sejumput kisah cintanya di IPDN. Ya, Bunga adalah seorang gadis asal Riau yang memikat hatinya. Bagian ini terasa sebuah oase diantara gurun penderitaan IPDN yang penulis ceritakan.

Secara keseluruhan, saya suka buku ini. Bukannya menyukai penderitaan yang Nugie alami. Namun lebih kepada rasa salut karena penulis bersedia membagi catatan hitam kehidupannya saat menjadi bagian kampus besar IPDN. Keberanian yang patut diacungi jempol. Tidak banyak orang yang mau membeberkan kisah dibalik gerbang megah kampus tersebut.

Karena buku ini adalah personal literature, saya bisa mengerti apa yang dirasakan penulis ketika mendapat tindakan penganiayaan, baik dalam konteks kurikulum/sistem kampus maupun “keisengan” senior. Saya adalah orang yang anti kekerasan. Apalagi kekerasan di sebuah lembaga pendidikan yang dilakukan oleh senior kepada junior.

Nugie berani membeberkan boroknya IPDN dengan cukup jelas (semoga kegiatan penganiayaan dengan alasan apapun seperti itu saat ini sudah musnah). Meskipun tidak semuanya, namun saya sudah memiliki cukup gambaran kehidupan IPDN di masa lalu. Oh iya, kisah cintanya dengan Bunga juga menarik untuk diikuti. Saya bisa merasakan ketika seusianya pastilah bahagia-bahagia-agak-salting saat pengen mengungkapkan cinta hehehe.

Kekurangannya menurut saya adalah nuansa humor pada bagian awal-awal terasa berlebihan. Baik secara tulisan reka kejadian ataupun berbagai hal absurd tak penting. Mungkinkah karena editor buku ini adalah Raditya Dika? Entahlah. Namun, agak ke tengah hingga halaman terakhir, humor yang ditulis sudah bisa dikondisikan porsinya dan membuat saya nyaman membaca.

Kisah yang dialami penulis dan dituliskan di buku ini terasa sangat miris dan membuat hati ini teriris (yes, I make a rhyme!). Budaya perploncoan memang harus dibumihanguskan dari lembaga pendidikan manapun. Terlebih lagi perploncoan yang dibarengi dengan penyiksaan fisik. Bagaimana bisa seorang peserta didik menjadi termotivasi menuntut ilmu apabila selalu dibayangi siksaan fisik ataupun “keisengan” senior.

Buku ini membuka pikiran saya bahwa tak selamanya kakak tingkat/kakak kelas adalah orang yang patut dijadikan teladan. Terkadang beberapa dari mereka tak lebih dari sekedar manusia pengecut tak memiliki hati nurani. Yang jelas, dalam menghadapi situasi sesulit apaun, kita masih memiliki Tuhan yang senantiasa membantu hamba-Nya yang selalu dekat kepada-Nya. Ingatlah, bahwa setelah hujan masalah akan ada pelangi kebahagiaan yang muncul. Buku ini cocok dibaca usia remaja hingga usia senja karena bisa membuka pikiran serta banyak terselip pesan moral menyejukkan hati.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Western Shotgun (Jilid 1)

coverwestern1

Judul: Western Shotgun (Jilid 1)

Komikus: Park Min-Seo

Penerjemah: Blue Moon

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 168 halaman

Terbit Perdana: 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2004

ISBN: 9789792052930

cooltext1660180343

Sting, yang memilih menjadi bounty hunter setelah bertemu dengan Black, menetapkan Gold Romany sebagai target utamanya. Namun, uang hadiah 70 juta drobe atas mereka jelas menunjukkan mereka bukan orang sembarangan…

cooltext1660176395

Sebuah tema kekerasan dengan menggunakan pistol dan adegan tembak-tembakan sepertinya cukup banyak dalam dunia perkomikan. Selain target pasarnya emang anak lelaki (yang entah kenapa adegan seperti itu terlihat keren banget), tema seperti itu bisa sedikit memberikan pesan moral bahwa kekerasan terkadang tak bisa menyelesaikan masalah.

Begitu pula dengan komik berjudul Western Shotgun hasil karya Park Min-Seo. Sepertinya sih, komik ini khas korea yang biasa disebut manhwa ya *cmiiw. Meskipun Min-Seo orang Korea, dari sketsa gambar mirip-mirip dengan manga. Maklum gaya gambar manga memang masih juara dalam dunia perkomikan dunia (menurut saya).

Cerita dibuka pada sebuah daerah Barat (yang entah dimana), ada seorang bandit bernama Dark Scorpion beserta anak buahnya sedang baku tembak dengan Black, sang hunter. Ditengah pertarungan, muncul seorang anak yang bertindak bodoh sehingga ditangkap oleh Dark sebagai sandera.

Jika kau tidak membuang senjatamu, anak ini akan kesakitan!! (hal. 10)

Meskipun agak ceroboh, anak bernama Sting ini malah berhasil mengalahkan Dark Scorpion. Namun bukannya membagi hasil imbalan, Black justru meninggalkan Sting sendirian. Merasa merana dan tak ada uang sama sekali, akhirnya Sting memutuskan menjadi hunter untuk menyambung hidup. Ia ingin menangkap Gold Romany yang berharga 70 juta drobe.

Pada sebuah toko, ia bertemu dengan Romie. Sang gadis cantik itu hendak membeli (ehm, lebih tepatnya ngutang) bahan makanan. Tak disangka, malah terjadi perampokan dengan Romie sebagai korban. Yang dirampok adalah bahan belanjaan Romie (gile gak penting banget). Sting yang masih ada disekitar toko itu berhasil mengalahkan perampok dan berbaik hati mengawal Romie hingga ke rumah.

Apa pekerjaan Tuan Sting? Saat ini, jarang sekali, lho ada orang yang berpetualang sendirian. (hal. 43)

Ternyata Romie tinggal dengan tiga orang wanita yang lain (sepertinya sih saudarinya). Setelah berbincang singkat dan diberi makan, Sting pun pulang ke err, hotel (iya, cuman bisa bayar semalem doang hahaha). Secara kebetulan, hari itu adalah saatnya pasukan petugas keamanan menangkap Gold Romany yang berusaha mencuri batangan emas.

Dasar tikus! Tempat sekecil ini saja masih bisa menghindar!! (hal. 77)

Emang Sting ini bego atau pura-pura bego, ia malah numpang di mobil yang dicuri Gold Romany dan tidak sadar bahwa supir di hadapannya itu adalah anggota Gold Romany. Lantas, apakah ia sukses menggagalkan rencana Gold Romany? Apakah Sting bisa mendapat 70 juta drobe? Bagaimana dengan Romie dan saudarinya? Silakan baca sendiri deh.

Komik edisi nomor 1 memang masih tidak jelas asal-usul dan jalan ceritanya mau dibawa kemana hubungan kita. Siapakah Sting sebenarnya, mengapa ia bisa memiliki kemampuan hebat, dan berbagai hal lain belum dijelaskan di jilid ini. Mungkin di jilid selanjutnya akan dipaparkan lebih lanjut.

Oh iya, mengenai setting tempat, memang tidak jelas ya daerah Barat itu maksudnya yang dimana. Namun setting waktu membuat saya bingung juga. Soalnya dari pakaian para tokohnya pada belibet semua. Mungkinkah mengambil waktu abad pertengahan? Eh tapi ada pistol dan nitro (iya buat bikin cepet mobil itu tuh) juga. Entahlah, saya juga jadi penasaran.

So far so good sih, bisa menghibur dan emang keren. Terutama adegan pertarungan dan action yang tersebar dimana-mana. Humornya juga pas, enggak berlebihan dan kekurangan. Sensasi tersendiri aja sih baca komik yang tokoh harusnya sangar gahar dan beringas malah bisa guyon hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Anak Kos Dodol

coveranak

Judul: Anak Kos Dodol

Tagline: Catatan Mahasiswa Gokil van Djokja

Seri: Anak Kos Dodol #1

Penulis: Dewi “dedew” Rieka

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah Halaman: 191 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, 2009

ISBN: 9789791550161

cooltext1660180343

“Benar2 nyata. Benar2 dodol. Tapi juga benar2 bermakna. Buku harian yang memberi tawa ‘n perenungan” – Ken Terate, Penulis Teenlit, Djokdja

“Pengalaman ngekos emang selalu seru! So buku ini bisa jadi ‘bacaan nostalgia’ yang asyik buat yang pernah ngekos, bisa juga jadi ‘bacaan menyenangkan’ buat yang ingin tau dunia kos lahir-batin, tapi bisa juga jadi ‘bacaan bimbingan’ cara ngekos yang baik dan benar buat yang ingin ngekos! Jadi mari kita ngekos bareng-bareng eh sory, maksudnya mari kita nikmati isi buku ini!” – Boim Lebon, Penulis Cerita Anak & Remaja, Produser TV, Jakarta

“Asli, kocak banget! Nih buku pasti bikin semua anak kos terkenang-kenang masa hepi, pas bokek, bebas merdeka en nonton VCD malam pertamanya! Hehehe… Kudu dibaca!” – Afny Yuniandari, Karyawati Swasta, Penghuni kos 5 tahun, Bekasi

“Seger banget. Awalnya, aku pikir bakal ngebosenin eh ternyata malah jadi ga bisa berhenti baca. Bikin gue mupeng, pengen ngekos bareng cewek-cewek dodol! Hohoho.” – Adhika Putra R, Dokter Muda Unpad, Jomblo Bahagia, Bandung

cooltext1660176395

Usia remaja hingga dewasa muda, biasanya pernah mengalami masa-masa ngekos. Baik dalam rangka menuntut ilmu saat sekolah/kuliah ataupun ketika memasuki dunia kerja. Ngekos banyak dipilih karena tidak terlalu ribet daripada ngontrak rumah. Saya aja udah empat tahun ngekos sejak saya masih mahasiswa baru.

Buku ini mengangkat tema bagaimana seru dan dodolnya dunia perkos-kosan kaum hawa di kota pelajar, Yogyakarta. Penulis seakan ingin memberi kesan bahwa ngekos itu tidak selalu identik dengan kelaparan, irit, dan sengsara tapi juga bisa dibawa hepi dan terkadang membawa pengalaman unik yang baru.

Karena ada 33 cerita, jadi saya ambil beberapa saja ya yang berkesan. Kisah pertama adalah cerita tentang adanya desas-desus hantu/setan di kosnya Mbak Dewi. Namanya kos-kosan cewek, pasti jadi panik dan takut gara-gara isu itu. Untuk menghalau rasa takut, mereka tidur bareng-bareng bak ikan pindang dijemur.

Untuk bisa tidur pulas dalam suasana seperti itu, dibutuhkan keahlian khusus. (hal. 19)

Kisah agak sedikit mellow dan inspiratif berjudul “Ulang Tahun ke-20” karena bercerita tentang dampak negatif dari sesuatu hal yang tidak penting. Ceritanya anak kos ingin memberi kejutan pada Kayla yang berulang tahun. Celakanya, keisengan itu berujung maut dan memberikan dampak traumatis pada penghuni kos.

Tiba-tiba, gadis itu menginjak pecahan telur dan… gubrak! (hal. 27)

Ada lagi cerita berjudul “Balada Beasiswa Kita” seakan-akan penulis sedang menyindir para beasiswa hunter (dan beasiswa taker) yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan beasiswa tanpa melihat kondisi dirinya yang bisa dikatakan sangat jauh dari kata miskin (alias kaya raya). Padahal orang yang jauh lebih membutuhkan masih ada di sekitarnya.

“Aku sudah berusaha keras, Ret… mencari surat keterangan tak mampu itu, aku sampai direndahkan petugas. Kulengkapi semua persyaratan. Masya Allah, aku tak mendapatkan beasiswa itu, Ret… padahal aku butuh sekali untuk kuliah lapangan,” isaknya pilu. (hal. 44)

Yang tak kalah menarik adalah kisah berjudul “Mbah Dukun? Nyai Peramal?” yang mencoba mengangkat fenomena ramalan yang melanda anak kos. Namanya anak muda, masih suka yang seru-seruan sekaligus bermanfaat (ada gak ya?). Ramalan terasa sebagai salah satu keisengan yang bisa dijadikan jalan keluar. Kalau ramalannya baik, hati senang. Tapi kalau ramalannya buruk, jadi was-was juga.

Hmm… kenapa ya pada berbondong-bondong ke peramal, apakah dengan datang pada mereka menimbulkan rasa aman? Memuaskan keingintahuan kita? Padahal Tuhan adalah sang pemiliki kebenaran dan semua bermuara pada kehendak Dia. (hal. 90)

33 cerita yang dimuat dalam 191 halaman ini terasa cukup banyak (ralat, banyak banget) menurut saya. Tidak adanya keterkaitan satu cerita dengan cerita lain membuat buku ini asik dibaca mau dari cerita manapun. Sesuai blurb diatas, buku ini cukup cocok sebagai media nostalgia, media cerminan diri, ataupun gambaran ngekos seperti apa.

Kekurangannya? Sorry to say, but I’ve found a lot of weaknesses (from my point of view, of course). Mulai dari gaya bercerita. Baiklah saya tau setiap penulis memiliki ciri khas masing-masing. Tapi cara penulisan Mbak Dewi Rieka ini menurut saya: sangat lebay banget. Mulai dari “ciee”, “bo!”, “apaseeeeh?”, “maksud loe?” dan sebagainya yang disisipkan ke berbagai kalimat di buku ini. Menurut saya kata-kata seperti itu tidak penting dan mengganggu kenyamanan saya saat membaca. Alih-alih membuat terpingkal, saya justru jengkel sendiri saat membacanya.

Pada beberapa cerita, terdapat ending atau akhir yang jelas. Yah meskipun tidak semuanya mengandung pesan moral, tapi setidaknya ada akhirnya lah. Tapi beberapa cerita malah ada yang ngegantung. Aduh niat nulis cerita nggak, sih? Saya tipikal orang yang menyukai akhir yang jelas (terserah mau hepi atau tidak).

Dari segi humor, saya tidak merasa lucu tuh. Paling mentok nyengir, itupun bisa dihitung jari. Karena sependapat saya, kalau perempuan menulis genre humor, jatohnya jadi garing. Kedodolan para penghuni yang diceritakan disini malah tidak membuat saya tertawa, tapi mengernyitkan dahi gara-gara enggak tahu kocaknya dimana.

Di halaman terakhir, sempat disinggung sebenarnya tulisan di buku ini adalah postingan di blog pribadi penulis *cmiiw. Tapi apakah memang tidak ada proses editing? Saya tahu mungkin jika diedit akan mempengaruhi orisinalitas tulisan, tapi mosok ya penulisan huruf yang benar bisa mempengaruhi? Karena saya banyak sekali menemukan typo dimana-mana. Saya tidak mencatat semuanya sih.

By the way, penulisan “Djokdja” terasa agak aneh buat saya. Saya agak heran kenapa buku ini bisa sampai tiga seri (kalau tidak salah) bahkan muncul komiknya juga. Apakah mungkin karena buku ini bukan my cup of tea, saya cowok yang tak bisa mengerti dunia kosan cewek, atau entahlah. Euphoria yang terasa bombastis (pada jaman dahulu) itu menurut saya kok terlalu dibesar-besarkan. But anyway, kalau mau baca tulisan cukup menghibur dunia kos-kosan cewek, boleh lah melirik buku ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Tahuchi Mister

covertahuchi

Judul: Tahuchi Mister

Komikus: DS Group

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 180 halaman

Terbit Perdana: 1996

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 1996

ISBN: 9796630249

cooltext1660176395

Komik khas Indonesia, baik cerita, tokoh, atau bahkan penulisnya sendiri sangat jarang ditemukan. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit. Setahu saya, kebanyakan pemilik bakat komikus hanya menghiasi ilustrasi-ilustrasi buku non komik ataupun banting setir ke format buku yang lain. Hal ini salah satunya disebabkan oleh anggapan umum masyarakat bahwa komik yang bagus (baik cerita ataupun tokohnya) adalah komik dari negeri sakura.

Sekitar 18 tahun yang lalu, (sepertinya) Dwianto Setyawan bermaksud untuk kembali mengangkat kehidupan komik Indonesia. Secara kebetulan, pada tahun tersebut, Indonesia didera euphoria komik bejudul Kungfu Boy hasil karya Takeshi Maekawa. Sehingga Dwianto membentuk tim bernama DS Group untuk menggarap sebuah komik asli Indonesia dengan mengadaptasi tema yang seupa. Kemudian lahirlah Tahuchi Mister.

Cerita bermula dari seorang ahli silat di perkampungan pabik tahu yang sedang berlatih. Ia bernama Tahuchi. Ternyata menjadi seorang ahli silat atau kungfu itu tidak mudah. Benar saja, ia mendapat serangan dari penjahat bernama Jagoan Bengong yang merupakan seorang murid dari makhluk luar angkasa. Ealah tenyata Tahuchi malah sukses menghajar Jagoan Bengong.

Kamu memang bodoh!! Ke mana jurus Jupiter, Mars, Saturnusnya? Tendangan pinalti! Cakar ayam dan bogem mentah! (hal. 23)

Setelah behasil mengalahkan Jagoian Bengong, Tahuchi berhadapan dengan Tombak Sakti. Meeka bertarung di Bukit Sansan. Apakah Tombak Sakti menang? Ehm, ternyata dia kalah sodara-sodara hahahaha. Bahkan sang Tombak memanggil bala bantuan untuk bisa melawan Tahuchi.

Siapa dulu dong orangnya? Tahuchi Mister! Jago dari segala jago taichi! (hal. 47)

Kemudian setelah membereskan musuhnya, Tahuchi pergi ke Bukit Barisan untuk bertemu dengan Pangeran Ling-Lung, seorang tuan tanah yang kejam. Kayaknya sih Tahuchi ingin membereskan segala macam ketidakadilan di dunia ini *ahelah. Tak disangka-sangka, ia malah bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Lilin. Bahkan  sempat terjadi kesalah pahaman disini.

Datang-datang kamu langsung menyerang! Apa salahku suaaayaaank! (hal. 23)

Saling bahu-membahu, mereka berdua pergi untuk melawan sang Pangeran. Apakah mereka berhasil dalam menggempur istana dan bertemu pangeran kejam? Silakan ikuti dalam komik one shot asli Indonesia berjudul Tahuchi Mister.

Disaat komik Indonesia mengalami mati suri (cmiiw) pada tahun tersebut, saya rasa Tahuchi mampu memberi sebuah nuansa komedi segar dalam bentuk komik. Apalagi latar belakang Tahuchi sebagai juragan tahu sepertinya terasa Indonesia banget (meski di Jepang juga ada sih). Kemudian nama-nama tokohnya juga sangat Indonesia dan tidak sok-sok pakai bahasa asing agar terlihat keren.

Dari segi cerita, saya rasa cukup bagus. Meskipun mengadaptasi (atau terinspirasi?) dari Kungfu Boy, Tahuchi tidak disebutkan sedang mempelajari kungfu. Melainkan silat sebagai budaya Indonesia. Dan segala macam tempat tidak ada yang menggunakan bahasa asing (bahsa Inggris) sih, kecuali emang sebuah tempat tertentu (misalnya Bukit Sansan). Jadi kental banget bahasa Indonesianya.

Kekurangannya bagaimana? Sayang sekali, ide dan tujuan terpuji untuk membangkitkan perkomikan Indonesia tidak diimbangi dengan eksekusi yang sempurna. Alur cerita berjalan sangat cepat dan tidak jelas asal-usulnya. Maksudnya, dalam 180 halaman menampung banyak cerita dan puluhan tokoh yang tidak jelas juga. Saya tidak bisa mengerti apa alasannya.

Karena ini komik humor, saya justru menyayangkan humor yang terlalu banyak dan ditempatkan pada bagian yang tidak pas. Jadi membuat saya sering berkata “apa sih ini??” berkali-kali. Tahuchi sebagai tokoh utama malah tidak terlalu lucu. Dan apa ya, humornya itu terasa sangat garing.

Saya rasa alangkah lebih baik jika emang berminat membuat komik one shot, tidak usah terlalu banyak konflik. Lebih baik sedikit namun mendalam daripada terlalu banyak malah kemana-mana. Kalau niat banyak konflik, buat berseri saja lebih cocok. Sangat disayangkan sih padahal sebagai komik asli Indonesia seharusnya patut mendapatkan apresiasi yang baik.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Demam Kabin

covertengil6

Judul: Demam Kabin

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Cabin Fever

Seri: Diary Si Bocah Tengil #6

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Maria Lubis

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218 halaman

Terbit Perdana: November 2013

Kepemilikan: Cetakan Ketiga, November 2013

ISBN: 9786021440209

cooltext1660180343

Greg Heffley terlibat masalah besar. Properti sekolah dirusak, dan Greg adalah tersangka utama. Tapi, yang gila adalah, dia tidak bersalah. Atau, setidaknya bisa dikatakan begitu.

Pihak berwenang mulai memburunya, tapi saat badai salju tiba-tiba menyerang, keluarga Heffley terperangkap di dalam rumah. Greg tahu, saat salju sudah mencair, dia harus menghadapi masalah ini. Namun, mungkinkah hukuman apa pun bisa lebih buruk daripada terjebak di dalam rumah bersama keluagamu selama liburan?

PARA PEMBACA MENGGEMARI SERIAL DIARY SI BOCAH TENGIL – USA Today, Publishers Weekly, Wall Street Journal, dan Bestseller No. 1 New York Times

“Diary si Bocah Tengil karya Jeff Kinney adalah keajaiban baru dalam bisnis buku.” – Parade

“Serial Diary si Bocah Tengil adalah suatu pencapaian besar dalam dunia penerbitan masa kini.” – The Hollywood Reporter

“Diary si Bocah Tengil akan mendominasi dunia.” – Time

“Salah satu serial anak-anak paling sukses yang pernah diterbitkan.” – The Washington Post

cooltext1660176395

Lika-liku perjalanan kehidupan Greg masih berlanjut pada buku keenam (yang diterjemahkan). Pada buku bersampul warna biru cerah ini, Greg kembali bercerita mengenai kehidupan remajanya yang sepertinya makin hari makin memuakkan. Salah satu masalah yang ia hadapi adalah menghilangnya peralatan bermain di sekolah. Ia merasa tersiksa ketika jam istirahat tiba.

Aku mendengar sekolah mengalami masalah pembayaran asuransi taman bermain, jadi setiap kali ada suatu kecelakaan atau luka akibat peralatan itu, hal paling mudah untuk dilakukan adalah menyingkirkannya. (hal. 23)

Hal yang selalu ada di buku Diary si Bocah Tengil adalah mengenai Greg yang ingin meminta hadiah untuk Natal ataupun ulang tahun. Tak terkecuali di buku ini. Namun bedanya, di buku ini Greg mendapat kesulitan karena banyak sekali hal yang ngin ia minta.

Yang kusadari adalah, jika setiap kali kita mendapatkan sesuatu yang keren sebagai hadiah ulang tahun atau Natal, seminggu kemudian, benda itu akan digunakan sebagai senjata pemeras bagi kita. (hal. 47)

Ada lagi masalah di sekolah ketika ada Tes Kebugaran Nasional untuk semua sekolah. Dan mau tidak mau, sekolah memberlakukan sebuah latihan olahraga intensif untuk semua siswa agar bisa meningkatkan posisi peringkat sekolah.

Orang-orang dewasa berkata bahwa masalah terbesar anak-anak zaman sekarang adalah kebugaran tubuh, karena kami tidak cukup banyak berolahraga. (hal. 99)

Di hari yang lain, Greg ingin menjual buku komik miliknya yang ditandatangai oleh penulis. Namun Mom malah melarangnya karena beranggapan ketika Greg memiliki anak nanti di masa depan, mereka akan murka mengetahui ayah mereka menjual komik yang sangat berharga. Namun bisa kamu tebak apa yang dipikirkan Greg?

Aku ingin menjadi bujangan seperti Paman Charlie-ku, yang menghabiskan seluruh uangnya untuk liburan, dudukan toilet yang bisa dihangatkan, dan hal-hal semacam itu, bukannya membiayai sekawanan anak tak tahu terima kasih. (hal. 110)

Di sisi lain, kasus mengenai kerusakan fasilitas sekolah yang menggegerkan itu ternyata berujung maut pada Greg. Alih-alih ia selamat dari tuduhan dan hidup damai, justru dengan mudah ia dipanggil oleh Wakil Kepala Sekolah untuk mempertanggungjwabkan perbuatannya. Dan tahukah siapa yang melaporkan Greg?

Aku tak tahu apakah Rowley melakukannya secara sengaja atau apakah dia benar-benar tolol, tapi kukira yang benar adalah kemungkinan kedua. (hal. 149)

Sepertinya keluarga Heffley benar-benar menghadapi masa sulit ketika hujan badai salju berlangsung sehingga mereka terjebak di dalam rumah karena salju menghalangi pintu keluar. Keadaan bertambah parah saat Manny melakukan sabotase pada salran listrik di rumah.

Mom bertanya pada Manny mengapa dia memadamkan listrik bagian rumah yang lain, dan Manny mulai mengoceh. Katanya, itu karena tidak ada yang mau mengajarinya menalikan sepatu. (hal. 204)

Saat membaca buku ini, apa ya, terasa ada sesuatu yang beda. Apakah dikarenakan penerjemahnya ganti setelah lima buku pendahulunya sehingga taste of words-nya berbeda? Entahlah. Tapi kalau dari segi tema, memang berbeda sih. Disini Greg terkesan menjadi seorng berandalan cilik meskipun dengan alasan yang menurutnya baik.

Di buku ini, saya sukses membenci tokoh Manny dan Rowley. Sang penulis berhasil menggambarkan Manny sebagai adik yang menyebalkan buianget. Jika saya menjadi Greg, saya rasa tidak akan berpikir dua kali untuk menendang Manny (aduh kok saya jahat). Tapi ya gimana, Manny benar-benar licik dan sangat egois terhadap diri sendiri.

Bagaimana dengan Rowley? Aduh saya tidak bisa memahami ada seorang siswa SMP yang sangat tolol dan kekanakan sekali seperti anak SD. Tidak hanya dalam akademis, tapi juga sikap dan perilaku. Saya bahkan tak bisa mengerti mengapa Greg betah bersahabat dengan Rowley.

Dibalik kelebihannya yang bisa menggambarkan sosok Rowley dan Manny untuk saya benci, ternyata ada beberapa kekurangan sih. Salah satunya adalah humor. Ya benar, ketika membaca buku ini, saya sama sekali tidak tertawa seperti ketika membaca lima buku sebelumnya. Paling banter hanya nyengir, itupun bisa dihitung gak sampe lima kali kayaknya. Apakah karena perbedaan terjemahan? Atau memang aslinya begitu? Enggak tau ya. Tapi saya benar-benar kecewa karena lucunya (yang seharusnya ditonjolkan novel ini) malah tidak sampai ke saya.

Sebagai sekuel Diary si Bocah Tengil, buku ini cukap baik lah mengobati kerinduan terhadap hari-hari Greg. Tapi kalo dlihat segi kelucuan, bagi saya sih amat sangat kurang. Saya berharap buku selanjutnya (apabila memang diterjemahkan) bisa menghadirkan kelucuan yang sempat hilang di buku ini hehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Q.E.D (Jilid 1)

coverqed1

Judul: Q.E.D (Jilid 1)

Tagline: Quod Erat Demonstrandum

Komikus: Motohiro Katou

Penerjemah: Faira Ammadea

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 198 halaman

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2003

ISBN: 9789792041927

cooltext1660180343

Kana, putri seorang polisi yang tomboi, bersama Toma yang jenius, berusaha menyelesaikan kasus-kasus yang ada di sekitar mereka. Kasus pertama yang mereka hadapi adalah kematian ayah teman Kana, seorang presdir suatu perusahaan game. Dia meninggal dengan menggenggam kartu King Diamond…

cooltext1660176395

Kisah detektif sepertinya tidak ada habisnya untuk diangkat menjadi sebuah komik. Salah satu komik tersebut adalah Q.E.D hasil karya Motohiro Katou. Tokoh utama dalam komik ini adalah Toma dan Kana. Awalnya mereka berdua tidak saling kenal. Hanya kebetulan di sebuah game centre, Toma berhasil mengalahkan 100 pemain pada sebuah permainan. Ujung-ujungnya malah memicu perkelahian. Beruntung ia berhasil keluar disusul oleh Kana dan Noriko, teman Kana.

Selama ini dia tinggal di Amerika, lho. Karena nilainya bagus, dia bisa meloncat ke jenjang yang lebih tinggi. Saking pintarnya, sebenarnya dia sudah kuliah. (hal. 15)

Kasus pertama berjudul “Burung Hantu Minerva” ternyata melibatkan ayah Noriko, Arita, seorang presiden direktur perusahaan game bernama A-KS Entertainment. Beliau tewas karena sebuah pisau menembus jantungnya. Ada enam orang yang dicurigai sebagai pelakunya yaitu Ryuuzo Kishikawa, Juuzo Shikijima, Tokuji Namiki, Tsunehiro Asanuma, Tadashi Furuike, dan Tohko Minamida.

Suatu kasus bisa diibaratkan seperti puzzle kejadian yang terjadi di masa lalu. Dan secara teori, fakta adalah potongan-potongan yang akan membentuk keseluruhan puzzle itu. (hal 50)

Kasus semakin rumit ketika Ryuuzo Kishikawa meninggal karena jatuh dari atap gedung dengan meninggalkan sebuah pesan kematian. Benarkah demikian? Lantas siapakah sesungguhnya  yang tega membunuh ayah Noriko? By the way, cara Kana untuk mencari bukti dari kesaksian tiap tersangka cukup menarik untuk diikuti.

Kasus kedua dengan judul “Si Mata Perak” mengambil tokoh tetangga Kana bernama Suzuko Nanasawa. Ibu Suzuko, Katsumi Nanasawa merupakan pembuat boneka terkenal. Bahkan boneka yang dibuat beliau bisa laku seharga dua hingga tiga juta yen. Sedikit masalah ketika di pameran boneka, Noriko dituduh oleh pria bernama Akutsu karena merusakkan sebuah boneka mahal tersebut. Beruntung dengan ketelitian Toma, justru Akutsu yang kena batunya.

Korban menderita penyakit kelainan ritme jantung… untuk mengatasinya, korban memakai alat pacu jantung istrik supaya kembali normal. Mungkin saja alat itu tiba-tiba rusak… tapi kita baru akan mengetahuinya setelah dilakukan autopsi. (hal. 131)

Ya benar, Atsuku meninggal dunia pada museum boneka Nanasawa yang hendak dibuka sebulan lagi. Yang menemukan mayat beliau adalah Suzuko Nanasawa, Yasumichi Yosino (tunangan Suzuko), dan Akira Yasuoka (pengawas museum sekaligus pelayan Katsumi). Yang janggal adalah, ketika dimintai keterangan, mereka bertiga memberikan kesaksian yang saling bertentangan. Lantas, siapakah pelaku sesungguhnya?

Ciri khas kisah-kisah pada komik detektif adalah banyaknya tokoh baru di setiap kasus namun akan menghilang ketika kasus tersebut telah diselesaikan. Begitu pula dengan Q.E.D ini. Dan saya sama sekali tidak berminat menghapalkan nama tokoh (selain tokoh utama) agar bisa lebih menikmati cerita huahahaha

Sebagai edisi pembuka serial Q.E.D, saya rasa sudah cukup bagus dalam membangun rasa penasaran. Misalnya mengapa Toma bisa begitu pintar namun malah masuk SMA biasa, siapakah nama lengkap Kana dan Toma (serius, saya tidak bisa menemukan nama keluarga mereka berdua meskipun ayah Kana adalah polisi yang juga muncul di cerita), serta apa arti Q.E.D alias Quod Erat Demonstrandum. Karena Toma selalu menuliskan Q.E.D ketika telah menemukan jawaban kasus yang terjadi. Oh iya, gambar di komik ini tidak terlalu berdarah-darah sehingga masih aman dibaca saat sedang makan *eh

Kekurangannya mungkin latar belakang tokoh utama masih belum terjelaskan (mungkin nanti di jilid berikutnya kali ye). Selain itu, agak aneh aja Kana yang belum kenal Toma tiba-tiba langsung menyeret-nyeret Toma dan memarahinya, bahkan langsung mengajaknya ke tempat kasus ayah Noriko. Terlalu SKSD aja sih menurut saya dan cenderung dipaksakan banget.

Kalau dari segi penyelesaian kasus, sebenarnya bagus dan membuat saya kagum. Cuman, banyak sekali hal-hal yang tidak digambarkan pada saat penyelidikan. Tiba-tiba Toma bisa tahu dan menjelaskan dengan lancar. Seolah pembaca tidak diberi kesempatan untuk menebak dengan pemikirannya sendiri. Padahal sensasi seperti itulah yang saya nikmati saat membaca komik detektif.

Saya rekomendasikan kepada remaja hingga dewasa yang ingin menikmati komik detektif cukup ringan, bisa membaca Q.E.D sebagai alternatif. Karena penyelesaiannya masuk akal dan cenderung mudah diikuti. Berbeda dengan komik sebelah yang memiliki tokoh anak kecil berkacamata, saya malah pusing membacanya karena bahasa yang ketinggian (tapi saya suka!).

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Kenyataan Pahit

covertengil5

Judul: Kenyataan Pahit

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: The Ugly Truth

Seri: Diary Si Bocah Tengil #5

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 219 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2011

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, Februari 2014

ISBN: 9789790244740

cooltext1660180343

Sejak dulu, Greg Heffley selalu ingin cepat-cepat dewasa. Namun, apakah bertambah usia memang seenak yang dia bayangkan?

Greg mendadak harus berurusan dengan berbagai macam tekanan, yang disebabkan oleh pesta menginap di sekolah, bertambahnya tanggung jawab, dan bahkan oleh perubahan-perubahan canggung yang biasa timbul seiring dengan bertambahnya usia. Dia terpaksa menghadapi semua itu tanpa kehadiran sang sahabat baik, Rowley, di sisinya. Dapatkah Greg melewatinya seorang diri? Ataukah dia harus berhadapan dengan “kenyataan pahit”?

“Detail yang sempurna dalam tulisan dan gambar.” – Publishers Weekly

“Diary si Bocah Tengil kelihatannya akan mendominasi dunia.” – Majalah Time

“Salah satu buku bacaan berseri untuk anak-anak tersukses yang pernah diterbitkan.” – Washingtn Post

“Kalau anak-anak Anda suka membaca … dan lebih-lebih jika mereka tidak suka membaca, maka buku ini adalah buku yang tepat untuk mereka.” – Whoopi Goldberg, The View

cooltext1660176395

Kisah hdup Greg Heffley masih berlanjut. Setelah di buku-buku sebelumnya Greg bagaikan soulmate abadi dengan Rowley, di buku kelima ini akhirnya mereka mengalami cobaan dalam hubungan persahabatan. Entah Greg yang terlalu egois ataupun Rowley yang terlalu kekanakan sehingga persahabatan mereka berhenti untuk sementara.

Satu-satunya anak lain seusiaku yang belum memiliki sahabat adalah Fregley. Namun, sudah lama aku mencoret namanya dari daftar calon sahabat baikku. (hal. 3)

Greg merasa memiliki seorang sahabat baik dapat membantunya dalam kesulitan ataupun memanfaatkan untuk sebuah kebaikan bersama. Apalagi di sekolah, Greg sama sekali tidak punya teman biasa yang layak untuk dijadikan sahabat. Namun, ketika melihat teman satu angkatannya yang populer, Bryce Anderson, membuatnya agak tersadar.

Nah, Bryce Anderson memang benar. Dia tidak MEMBUTUHKAN sahabat baik, karena dia memiliki segerombolan tukang jilat yang sangat memujanya. (hal. 12)

Padahal kalau dipikir-pikir, Rowley juga bukan seorang yang populer ataupun pintar dalam bidang akademis. Greg selalu merasa dengan bersahabat dengan Rowley, ia merasa setingkat lebih tinggi dari Rowley dalam bidang apapun. Saya rasa emang akhirnya persahabatan mereka hanya menguntungkan Greg aja sih ya.

Pokoknya, aku rasa Rowley termasuk salah seorang anak yang akan selalu tertinggal beberapa tahun di belakang dalam urusan kedewasaaan. (hal. 21)

Selain perihal persahabatan dengan Rowley yang lumayan hancur, Greg juga menghadapai sebuah kenyataan bahwa ia bukanlah anak-anak lagi. Padahal menurutnya dengan menjadi anak-anak semua terasa lebih mudah dan indah, termasuk terpilih menjadi bintang iklan di teve.

Nah, ketika kamu masih anak-anak, tidak ada yang memperingatkan bahwa kamu memiliki tanggal kadaluwarsa. Pada suatu saat, kamu menjadi pujaan, saat berikutnya kamu cuma seonggok sampah. (hal. 33)

Di hari yang lain, Mom mengumumkan pada seluruh keluarga Heffley bahwa ia akan mengambil pelajaran selama satu semester untuk mengasah otaknya setelah bertahun-tahun mengurus rumah. Akibatnya, Greg mengalami hal yang buruk bahkan nyaris dihukum di sekolah.

Namun, aku TAHU bahwa kita seharusnya jangan mengumumkanhukuman yang akan dijatuhkan SEBELUM kita menyuruh orang yang bersalah menyerahkan diri. (hal. 81)

Di sisi lain, Mom merasa harus mempekerjakan seorang asisten rumah tangga agar rumah bisa terjaga selama ia mengambil pelajaran. Oleh karena itu, seorang pembantu bernama Isabella bekerja di rumah Heffley selama Mom berada di sekolah. Namun Greg sangat membenci Isabella karena menurutnya ia tidak melakukan apa-apa sebagai seorang pembantu.

Yang bisa aku katakan hanyalah: kalau saja menjadi pembantu Cuma berarti menonton televisi sepanjang hari, menyantap makanan kecil, dan tidur siang di ranjangku; maka, aku rasa aku akhirnya berhasil menemukan karir yang bisa membuatku bersemangat. (hal. 128)

Cerita tentang menginap di sekolah saya rasa adalah cerita paling mengenaskan dalam buku ini. Acara menginap ini adalah sebuah acara rame-rame di sekolah Greg untuk semua murid. Tapi ternyata kesialan-kesialan bermunculan satu persatu. Ada yang pemisahan lokasi tidur laki-laki dan perempuan, dilarangnya makan cemilan saat jam tidur, serta permainan-permainan konyol yang diadakan oleh pengawas acara tersebut.

Nah, hal seperti inilah yang membuat aku tidak tahan terhadap anak laki-laki seusiaku. Kalau sudah bercanda, mereka mirip segerombolan binatang. (hal. 156)

Di hari lain, Greg mendapat sebuah ceramah dari Gammie (nenek buyut Greg) yang sedikit membuatnya tersadar bahwa tak selamanya menjadi dewasa itu menyenangkan. Saya rasa sebagai seorang nenek buyut, Gammie cukup bijak dalam memberi petuah kepada Greg.

Gammie mengatakan bahwa sebagian besar anak-anak seusiaku selalu ingin buru-buru tumbuh dewasa, tapi bila aku memang cerdas, aku pasti akan menikmati masa kecilku selagi masih sempat. (hal. 209)

Meskipun ada beberapa hal yang lucu, saya justru tidak bisa menikmati dengan baik. Mungkin kalau membaca versi aslinya (bukan terjemahan) akan bisa saya resapi lagi kelucuannya. Entah bahasa yang digunakan ataupun istilah asing yang “terpaksa” diterjemahkan. Overall, buku ini sudah baik. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang penuh lelucon dan kekonyolan, di novel kelima ini saya mendapat banyak pelajaran tentang kehidupan. Khususnya kehidupan masa kecil hingga remaja. Seperti Greg, saya dulu juga ingin sekali tumbuh dewasa. Namun ketika telah dewasa, saya merindukan sekali masa kanak-kanak.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Monika dan Kawan-Kawan (Jilid 86)

covermonika86

Judul: Monika dan Kawan-Kawan (Jilid 86)

Judul Asli: Monica and Friends

Komikus: Mauricio de Sousa

Penerjemah: Sumiati & Suryani das Neves Syamsu

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 160 halaman

ISBN: 9789792305838

cooltext1660176395

Petualangan Monika dan kawan-kawan beranjut lagi. Sepertinya Mauricio tidak kehabisan ide segar dalam menuangkan kisah khas anak-anak (dan remaja) dalam bentuk komik yang menghibur hati dan pelipur lara. Sebenarnya tokoh utama dalam komik ini hanyalah Monika, Jimmy Lima, Dekil, dan Meggi. Namun pada beberapa bagian dimunculkan tokoh selingan lain agar pembaca tidak bosan.

Kisah yang mengesankan salah satunya berjudul “Hati yang Hancur”. Jadi ceritanya Megi mendapatkan sebuah boneka (sepertinya terbuat dari keramik) yang sangat rapuh dan bermaksud menunjukkannya kepada Monika. Tetapi apa yang terjadi? Sepertinya kekuatan Monika terlalu besar sehingga boneka itu hancur berkeping-keping. Akibatnya, Meggi membenci Monika. Tak tahan dengan rasa bersalahnya, Monika menemui Franklin, sang jenius cilik untuk membantunya mengembalikan boneka Meggi.

Apa artinya sebuah boneka yang retak hanya karena dilihat, dibanding dengan persahabatan yang nggak akan retak karena apapun? (hal. 28)

Ada lagi kisah berjudul “Rencana Kejutan” yang sangat menarik. Jadi ceritanya, Meggi sedang berjalan melenggak-lenggok santai sambil makan es krim. Nah sayup-sayup ia mendengar Jimmy Lima dan Dekil sedang berdiskusi mengenai sebuah rencana yang akan mengejutkan. Meggi yang mencuri dengar tentu beranggapan rencana itu untuk menjahili Monika.

Bagus kalau begitu, kalena dia nggak boleh tahu tentang lencana ini sebelum waktunya! (hal. 102)

Si Meggi yang penasaran akhirnya membuntuti mereka berdua hingga di sebuah gudang. Ternyata, seluruh kawan-kawan juga ikut berkumpul untuk berdiskusi lebih lanjut demi memastikan rencana mereka dapat terlaksana dengan lancar. Berhasilkah Meggi menggagalkan rencana itu?

Eh ternyata ada lagi kisah unyu berjudul “Pembersihan Binatang”. Ceritanya, Dekil yang sangat tidak menyukai air (termasuk mandi), membuatnya sangat berbau tidak sedap. Bahkan Jimmy Lima ngomong kalo Dekil jauh lebih bau dibandingkan anjing peliharannya. Dekil yang tak mau dibandingkan dengan binatang tentu saja sewot. Tapi ia tak mau berpikir lebih jauh karena menganggap binatang bisa jauh lebih “wangi” dibandingkan dirinya karena suatu reaksi kimia dan sihir.

Ini adalah formula transmutan neurologis insting binatang baruku! Formula ini bisa membuat kita bisa merasakan apa yang dirasakan binatang apa pun yang kita mau! (hal. 115)

Bisa menebak siapa yang berbicara dialog diatas? Yak benar, Franklin. Ternyata ia kehilangan kelinci percobaannya dan berharap Dekil bisa menggantikan. Seems coincidence, right? Tapi dasar gengsinya tinggi, Dekil ogah membantu Franklin. Meski akibatnya, ia merasakan “sesuatu” saat Franklin pergi dari lab-nya.

Satu hal yang pasti dari setiap cerita di komik ini adalah Mauricio menuliskan siapa tokoh sentral di samping judul kisah. Sehingga pembaca bisa tau siapakah tokoh yang menjadi titik menarik dan lucunya kisah itu. Kalaupun banyak yang berperan, Mauricio menuliskan “Kawan-Kawan” agar lebih praktis.

Oh iya, saya penasaran apakah komik Monika ini juga diterbitkan berseri di negara asalnya sana, Brasil. Soalnya terdapat tulisan “Copyright © 1996 Mauricio de Sousa Produҫӧes” di bagian dalam komik. Tulisan itu juga sama dengan jilid 28. Mosok ya dari 50 lebih jilid tetap dari tahun 1996? Dan saya juga tidak yakin maksudnya 1996 itu adalah terbitnya komik Monika di Brasil sana.

Tapi, sebuah kemajuan dibandingkan edisi 28 yang telah saya review sebelumnya, di komik ini sudah muncul ISBN. Namun untuk tahun terbit masih belum nampak sama sekali. Jadinya identitas yang tercantum sangat minimalis (kalau tidak bisa dibilang kurang).

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Hari-Hari Sial

covertengil4

Judul: Hari-Hari Sial

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Dog Days: Book Four

Seri: Diary Si Bocah Tengil #4

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218 halaman

Terbit Perdana: Desember 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Desember 2010

ISBN: 9789790244566

cooltext1660180343

Liburan musim panas yang seharusnya sangat mengasyikkan dan ditunggu-tunggu ternyata berubah menjadi serentetan peristiwa yang tidak menyenangkan – dimulai  dari ibu Greg yang mencanangkan program pengetatan ikat-pinggang (selamat tinggal deh acara jalan-jalan ke pantai!), diikuti dengan pengalaman tidak menyenangkan di kolam renang kota. Lalu, hadiah ulang tahun yang diidam-idamkan ternyata mengecewakan. Selain itu, pertengkaran dengan Rowley, tambahan anggota keluarga baru yang banyak tingkah, dan masih banyak lagi hal-hal menyebalkan lainnya. Sungguh apes nasib Greg kali ini.

“Serial yang mampu menggebrak genre bacaan yang sudah ada … dilengkapi dengan humor yang pas dan ramuan cerita yang mengasyikkan.” – Publishers Weekly, ulasan dengan anugrah bintang

“Diary si Bocah Tengil kelihatannya akan mendominasi dunia.” – Majalah Time

“Salah satu buku bacaan berseri untuk ank-anak tersukses yang pernah diterbitkan.” – Washington Post

“Telah menyingkirkan kata ‘segan’ dari istilah ‘orang-orang yang segan membaca.’” – USA Today

cooltext1660176395

Ah tak terasa saya sudah membaca dan mereview buku diary si Greg ini pada buku keempat. Edisi yang ini cukup mencolok mata dengan warna cover yang menurut saya kuning banget tu. Tinggal dilempar ke sungai biar mengapung kayak ta…*some text missing*

Anyway, buku ini konsepnya adalah membeberkan hari-hari yang dialami Greg yang berujung dengan kesialan dan kenestapaan selama liburan musim panas. Tidak hanya hari-hari bersama keluarganya saja sih, tapi juga ketika bersama teman-teman sepermainannya. Oh iya, buku yang ini juga sudah diangkat ke layar lebar lho.

Aku rasa Dad Cuma iri saja karena dia terpaksa pergi bekerja sementara kami semua bisa bersantai dan berleha-leha setiap hari. (hal. 13)

Namanya juga anak-anak sekolah, tentu sangat bahagia ketika libur tiba. Dan saya sangat mirip dengan Greg dalam menghabiskan liburan dengan cara bersantai alias tidur dan doing nothing huahahahhaa. Yah meskipun orang tua saya juga sama dengan Dad-nya Greg yang mewajibkan saya melakukan sesuatu yang lebih berguna. Oh iya, ada lagi kisah lucu saat Greg sedang potong rambut di salon langganan Mom.

Ketika rambutku sedang dipotong, aku menyadari hal terhebat mengenai salon kecantikan, dan hal itu adalah GOSIP. (hal. 21)

Agak bener juga sih menurut saya. Maklum salon kan khas sebagai tempat tongkrongan para kaum hawa. Apalagi salon yang pelanggannya ibu-ibu. Aduuh pasti ada aja yang diobrolin. Termasuk gosip para tetangga-tetangga sekitar *ups sorry for the ladies*

Hari sial berikutnya adalah ketika Greg ingin memiliki akuarium. Jadi ceritanya Greg ini sudah punya ikan di sebuah toples. Namun ia ingin akuarium dengan satu ton ikan untuk menemani ikan mungil miliknya. Saat meminta pada Dad, tentu saja ia mendapat penolakan keras.

Nah, inilah jeleknya menjadi seorang anak. Kamu cuma mendapat dua kesempatan untuk mendapatkan barang yang kamu inginkan, yaitu pada saat Natal dan pada saat kamu berulang tahun. (hal. 94)

Berbagai kejadian mengerikan lain selama musim panas juga membuat hubungan Greg dengan Dad sedikit merenggang. Maklum sepertinya Dad sangat tidak menyukai perilaku Gre yang selalu merepotkannya karena kenakalan-kenakalan yang selalu Greg lakukan. Namun lambat laun, hal itu bisa segera terselesaikan. Bukan keluarga Heffley namanya kalau tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Aku dan Dad mungkin tidak akur dalam segala hal, tapi setidaknya kami sepaham dalam urusan yang penting. (hal 213)

Saya tidak berbicara lebih banyak ah tentang sekuel Diary si Bocah Tengil ini. Karena sangat menghibur gitu lho. Eh bukannya saya menyukai kesialan Greg yang dipaparkan hampir seluruh halaman di buku ini. Tapi apa ya, Jeff Kinney sukses membuat tokoh Greg sebagai anak pra-remaja yang pantas mendapat simpati dan sekaligus nyebelin setengah mati.

Dari segi penerjemahan, asik-asik aja. Maksudnya mengalir aja gitu dan tidak kaku. Oh iya, saya suka sekali dengan karikatur yang bertebaran di setiap halaman. Dan lebih lucu lagi saat dialog berteriak, penerjemah mencantumkan “Jeriiiiiit!” pada balon dialog, alih-alih menuliskan “Aduuuh!” atau “Aaaargh!” atau “Aaaaww!” ataupun yang lainnya. Agak aneh-tapi-lucu sih ngebayangin saya sendiri teriak kaget dengan kata-kata “Jeriiiit!”

Kalau dari kekurangan, hmm saya rasa lambat laun kehidupan si Greg ini kok terasa sangat kekanakan sekali ya. Padahal kan dia udah SMP. Tapi kok masih suka main game, permen, coklat, dan ding-dong. Eh tapis aya juga suka sih. Tapi entahlah, saya rasa penjabaran latar belakang Greg membuat saya mengira ia masih kelas 3 SD daripada anak SMP.

Secara umum buku ini lebih baik daripada buku sebelumnya. Namun tetap saja tidak bisa mengalahkan buku pertama. Entahlah, mungkin sesuatu yang pertama kali itu terasa sangat mengesankan. Buku ini saya rekomendasikan untuk semua ramaja tanggung yang udah bisa baca. Yah, daripada alay-alay gak jelas dan tidak bermanfaat, mending baca buku ini deh hehehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Monika dan Kawan-Kawan (Jilid 28)

covermonika28

Judul: Monika dan Kawan-Kawan (Jilid 28)

Judul Asli: Monica and Friends

Komikus: Mauricio de Sousa

Penerjemah: Anni Pramudito

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 192 halaman

cooltext1660180343

Semakin nakal & menggemaskan! Jangan dilewatkan untuk dikoleksi!

cooltext1660176395

Jika berbicara tentang komik, pada umumnya kita akan mengingat negara Jepang sebagai produsen paling banyak dalam menghasilkan komik. Berbagai judul baru terbit tiap tahunnya demi memuaskan dahaga para penikmat komik. Meski beberapa negara lain juga telah mampu menghasilkan komik sendiri, saya rasa belum ada yang bisa mengalahkan dominasi Jepang dalam dunia perkomikan.

Jika Jepang mewakili benua Asia, maka tentu kita ingat komik superhero dari benua Amerika yang berulang kali diangkat menjadi film layar lebar dengan berbagai visual effect canggih. Rata-rata komik seperti itu berasal dari negara Amerika Serikat. Lantas, bagaimana dengan negara lain misalnya pada bagian Amerika Selatan?

Negara Brasil adalah salah satu negara yang menghasilkan sebuah komik berjudul Monica and Friends. Komik ini ditulis oleh Mauricio de Sousa. Beruntung komik ini telah didapatkan hak terjemahannya di Indonesia oleh m&c! sehingga bisa memperluas penikmat komik ini.

Komik Monika dan Kawan-Kawan (terjemahan di Indonesia) menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Monika (iya pake “k”, bukan “c” seperti versi aslinya) dan teman-temannya di sekitar rumah. Ada saja kelucuan yang sanggup diceritakan oleh Mauricio perihal kehidupan Monika ini. Salah satunya tentang kawan Monika bernama Jimmy Lima dan Dekil yang selalu jahil mengganggu Monika.

Setiap kali kamu membaca sebuah buku, kamu pasti membuat rencana. Lalu kamu minta tolong aku … yang berakhir pemukulan dari Monika! (hal. 2)

Ya benar, Jimmy dan Dekil idak jera mengganggu Monika meskipun mereka berdua sering sekali mendapatkan pembalasan dari Monika (dalam hal ini adalah pukulan). Iya ceritanya Monika ini sangat kuat meskipun perempuan. Lantas, apakah Jimmy dan Dekil sanggup mengerjai Monika lagi kali ini?

Selain Monika dan teman sepermainannya, ada tokoh lain di komik ini yaitu tokoh-tokoh dalam dunia horor. Salah satunya tentang Dewi Kematian yang bertanggungjawab menghidupkan kembali hantu-hantu pada suatu waktu tertentu. Alih-alih menulis pada secarik kertas, ia menggunakan komputer modern agar memudahkan pekerjaan. Namun ternyata hal itu berakibat buruk.

Tahu, nggak? Teknologi canggih dapat sangat berguna jika kita tahu cara menggunakannya. (hal. 48)

Ada lagi salah satu kawan Monika yang jenius bernama Franklin. Ia frustasi ingin menciptakan sebuah permainan baru pada sebuah taman hiburan agar pengunjung lebih betah di taman bermain bernama Taman Bermain Monika. Ia meminta bantuan Meggi, anak yang gemar makan untuk memberinya inspirasi. Namun bukannya mendapat ide, ia malah semakin tertekan.

Whuaaaa! Aku tidak dapat menciptakan apa-apa! Bahkan aku bicara dengan perut! (hal. 153)

Apakah akhirnya Franklin sanggup menciptakan wahana permainan baru? Baca sendiri deh ya hehehe. Ada lagi cerita tentang Marina dan Rachel. Ceritanya, mereka berdua ini sahabat karib. Nah, si Rachel sedang cemas karena suatu hal yang sangat mengganggunya. Namun Marina menganggap hal itu tidak patut untuk dipikirkan karena mereka masih kecil.

Umurku hampir delapan tahun dan aku belum punya pacar! (hal. 171)

See? Gemes sekali rasanya usia delapan tahun udah ribut masalah pacar. Saya aja yang udah usia segini belum punya kok *halah curcol*. Ternyata pucuk dicinta ulam tiba. Rachel mendapatkan yang diimpikannya meskipun harus melakukan sebuah cara yang agak “cerdik”.

Komik Monika ini adalah salah satu komik dari benua Amerika yang saya kenal, dan salah satu komik yang tidak menggunakan tokoh superhero didalamnya. Maklum rata-rata kan komik Amrik berkutat pada kekuatan super. Sedangkan komik Monika ini berkutat pada dunia anak-anak (sebagian besar sih, meski ada tokoh orang dewasa juga) yang sarat akan masalah-masalah khas anak-anak.

Hasil terjemahannya bagus dan tidak kaku membuat saya menikmati dan seolah-olah setting dan tokohnya ada di Indonesia (atau gara-gara semua nama tokohnya telah diterjemahkan juga kali yah) sehingga tidak membosankan. Pesan moral yang disuguhkan juga mudah sekali untuk dimengerti. Saya rasa anak-anak juga bisa membacanya tanpa membuat orang tua khawatir.

Kekurangannya, mungkin bukan mengenai isi, melainkan identitas buku. Karena di halaman pertama, sudah langsung komik. Tidak ada pendahuluan siapa yang terlibat dalam proses penerjemahan komik ini. Hanya judul asli, penulis, penerjemah, penerbit, artistik, dan penulis teks. Udah. Itu aja. Bahkan ISBN pun tidak ada. Padahal penerbitnya adalah m&c! yang serumpun dengan Gramedia lho. Saya pun jadi tidak bisa mengidentifikasi kapankah terbitnya buku komik ini.

NB: karena saya tidak bisa menemukan waktu terbitnya komik kepunyaan saya ini kapan, saya menggunakan asumsi. Saya tahu bahwa pada bulan Oktober 2005 terbit komik Monika jilid 79. Jadi kemungkinan komik ini terbit beberapa tahun sebelumnya (saya males ngitung bulan persisnya kapan hehe)

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus