Rss

Archives for : August2014

Kedai 1002 Mimpi

cover1002

Judul: Kedai 1002 Mimpi

Penulis: Valiant Budi @vabyo

Penerbit: GagasMedia

Jumlah halaman: 384 halaman

Terbit Perdana: Mei 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2014

ISBN: 9789797807115

cooltext1660180343

Konon, kalau tidak mengerti, harus bertanya.

Giliran banyak bertanya, diancam mati.

Bisa jadi, kalau mengerti harus mati.

Pernahkah kau terluka dan meminta pertolongan, tapi mereka malah mengira kau mengada-ada?

Terkadang memang lebih baik bungkam, tapi izinkan jemari ini yang memberi tahumu.

Karena ternyata, tidak ada akhir yang bahagia, selama memang belum selesai dan selayaknya tenteram.

Kedai 1002 Mimpi.

Berdasarkan kisah nyata seorang mantan TKI yang berharap hidup lega tanpa drama.

Tak perlu dipercaya karena semua berhak mencari fakta.

Salam damai,

Valiant Budi Vabyo

cooltext1660176395

VABYO IS BACK!!! Setelah sukses dengan kisah pengalaman pahit nan nyelekit ketika menjadi TKI Arab Saudi di buku Kedai 1001 Mimpi, kini ia kembali dengan novel yang sedikit nyerempet judulnya dengan pendahulunya. Jadi konsepnya, novel ini berisi kisah-kisah yang ia alami selepas pulang dari negara tempat ia bekerja dahulu. Ia berkisah mengenai kehidupan yang ia jalani setelah pengalaman “mengesankan” sempat menghampiri kesehariannya.

Novel ini dibuka dengan kisah detik-detik Vabyo menuju tanah air Indonesia dalam rangka kebebasannya. Tetapi tak semudah yang dibayangkan. Ada saja beberapa keparnoan yang dirasakan. Mulai dari takutnya paspor dicuri kondektur bus demi kepentingan pengecekan identitas, petugas imigrasi yang terlihat galak dan mengintimidasi, teror bom dalam bus yang ditumpanginya menuju bandara, hingga kesewotan perlakuan “khusus” TKI di bandara Indonesia.

Mati adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan. (hal. 2)

Kehidupan di Bandung, kampung halaman Vabyo berawal biasa-biasa saja. Setelah menyandang pensiunan barista Sky Rabbit, ia berencana mencari penghasilan tambahan (selain royalti buku sebelumnya). Pucuk dicinta ulam tiba. Vabyo sukses dengan sebuah boyband. Bukan, bukan menjadi anggota yang jejogetan berkaos V-neck. Tetapi menjadi penulis lirik lagu yang dibawakan boyband itu.

Selain berkecimpung dengan lagu-lagu boyband, Vabyo juga memanfaatkan keahliannya dalam racik meracik aneka kopi dengan membuka cafe baru di Bandung. Cafe ini dinamakan Warung Ngebul yang minim filosofi hahaha. Pendirian cafe ini bersama kakak Vabyo, Vanvan. Ternyata, animo masyarakat sungguh tinggi. Entah karena terpikat Vabyo di novel 1001, atau murni karena rasa dan suasana warung hehheehe.

Berburuk sangka adalah kegiatan pengganggu hidup nomor dua setelah diare tapi nggak ada air di kamar mandi. (hal. 32)

Kehidupan yang happy ternyata tidak sampai di ending. Selain mendapat kecaman, teror lewat dunia maya, hingga dianiaya orang tak dikenal mengendarai motor menjadi makanan sehari-hari. Oh iya kebiasaan ganti ban mobil gara-gara dirusak oknum tak bertanggungjawab juga masuk dalam kesehariannya.

Dunia maya memungkinkan kita jadi siapa saja, berkata apa saja, mencintai dan menyakiti tanpa henti. Ada yang membuat rindu, ada yang tak henti mengganggu. (hal. 42)

Sekali dua kali tak masalah, namun akhirnya Vabyo gerah dan melaporkan kepada pihak berwajib. Meskipun akhirnya Vabyo & Vanvan mengetahui salah satu pelakunya, di novel ini tidak disebutkan. Sepertinya nama baik sang pelaku masih bisa terjaga.

Mungkin ada pemahaman baru ‘teman dekat’ di era digital ini. Begitupun dengan ‘berantem’ atau ‘dibully’. Seperti layaknya tidak sempat membalas mention atau email sudah tercap ‘sombong’ tanpa maaf. (hal. 101)

Di lain hari, demi menyegarkan pikiran, Vabyo pergi ke Eropa untuk berlibur sekaligus ketemuan dengan Teh Yuti. Tempat ketemuannya di depan Menara Eiffel lagi. Gimana gak romantis coba (meski dijelaskan ternyata di Eiffel banyak sampah *ew). Selain itu ia juga menjalani sesi meditasi yang entah kenapa jadi mengharu biru akhir-akhirnya.

Orang sering menyangka bermeditasi adalah mengosongkan pikiran. Padahal yang benar adalah biarkan pikiranmu menjelajah. Amati apa yang kita lihat dalam benak. (hal. 180)

Seperempat terakhir buku, penulis bercerita tentang mimpinya yang lain di negara yang berbeda; Italia dan Inggris. Oh iya, ada juga bonus blog yang judulnya Durian dan Mangga. Disini penulis mengibaratkan dua pihak yang saling mempertahankan prinsip masing-masing namun cenderung menyalahkan pihak lainnya. Yang menjadi favorit saya adalah surat cinta untuk Vabyo dan resep-resep ciamik sentuhan Arab yang bisa langsung dicoba.

Pertama kali saya mengetahui Vabyo adalah melalui buku Kedai 1001 Mimpi. Penulis dan bukunya yang fenomenal ini membeberkan fakta-fakta yang mengejutkan perihal pengalamannya menjadi TKI di negara Timur Tengah itu. Secara umum novel ini berisi bagaimana teror-teror kerap menghantuinya baik di dunia maya maupun dunia nyata dengan bumbu kenangan masa-masa selama menjadi TKI di Bahrain yang belum diceritakan di buku pertamanya. Di buku ini, penulisnya lebih dewasa dan legowo dalam memandang situasi, terlebih ketika sang Ayah sakit.

Ayah bukan bapak terbaik di dunia. Tapi aku juga bukan anak tersoleh yang bisa Ayah banggakan. Dan bisa jadi, justru karena itu kami dipasangkan. (hal. 270)

Oh iya tulisan mengenai penilaian plus-minus yang saya beberkan selanjutnya ini sangat subjektif ya. Dan saya mau tidak mau jadi membandingkan dengan buku pendahulunya. Jadi maafkan dengan beberapa poin yang agak gimana-gimana hehehe. Covernya menarik dengan sentuhan tulisan kapur di papan tulis yang berwarna-warni. Tetapi jika dibandingkan dengan 1001, saya lebih suka yang lama. Sepertinya roh Arab bisa saya rasakan di buku 1001.

Mengenai isi, saya sangat sangat lebih suka buku pendahulunya. Bukan berarti saya bahagia meembaca kisah memilukan penulis yang sepatutnya tidak pernah terjadi. Tapi gimana ya, ketika baca buku 1002 ini saya rasa semuanya serba nangung. Misalnya tentang flashback-nya, tentang terornya, tentang liburannya, seolah hanya disajikan sepenggal dengan penggalan yang lain tercecer entah dimana. Setiap bab terasa terlalu cepat untuk berakhir. Berbeda dengan buku 1001 yang saya rasa sangat pas dalam mengakhiri cerita.

Saya agak risih dengan tulisan yang dalam satu paragraf membentuk rima. Bukannya apa-apa, tapi saya jadi serasa membaca puisi/pantun dan hilang “rasa” novelnya. Selain itu, karikatur yang menghiasi buku ini membuat saya jengah. Kalau tidak boleh dikatakan jelek, saya katakan agak “sederhana”. Saya jauh lebih menikmati apabila tidak ada karikatur. Ataupun jika memang terpaksa ada, seharusnya mengadopsi gambar manga Jepang saja. Saya lebih bisa merasakan sosok “manusia” dalam goresan manga daripada karikatur di buku ini.

Tetapi, bukan berarti buku yang kedua kurang nendang, saya ikut emosi juga kok pas baca teror-teror yang dialami sang penulis. Tak jarang saya tersenyum ketika membaca potongan kata mutiara di buku ini. Secara umum novel ini bisa dinikmati siapa saja. Namun akan lebih cocok dibaca usia remaja hingga dewasa agar bisa lebih memahami kejamnya dunia yang penulis hadirkan di buku ini.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Cabe Rawit

covercabe2

Judul: Cabe Rawit

Tagline: Kumpulan Humor Menggigit Untuk Anak-Anak Kreatif

Seri: Cabe Rawit #2

Penyusun: Tim Redaksi Penerbit Arena

Penerbit: Arena

Jumlah Halaman: ii + 74 halaman

Terbit Perdana: 1993

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 1993

cooltext1660176395

Sebuah tulisan bernuansa komedi singkat sebenarnya bisa ditemukan dimana saja, alias tak selalu dalam bentuk lembaran buku. Melainkan tersebar di jagat maya. Apalagi dunia internet telah sedemikian canggih saat ini. Namun bagaimana ketika internet masih belum terlalu populer bahkan belum dikenal? Mungkin dari sebuah bukulah humor tersebut bisa diketahui. Salah satunya dari buku berjudul Cabe Rawit ini.

Guru: Coba ceritakan kepada saya, apa yang kau ketahui mengenai para sarjana abad ke-18.

Sami: Semua sudah meninggal, Bu. (hal. 16)

Itu tadi salah satu contoh humor yang disuguhkan di buku ini. Hampir semuanya merupakan humor singkat berisi percakapan dua orang (secara singkat pula) dan diakhiri dengan sebuah tanggapan lucu. Salah satu alasan singkatnya percakapan ini mungkin agar pembaca tidak perlu melalui intermezo yang terlalu panjang dan bisa langsung tahu letak kelucuannya.

Pak Guru: Siapa namamu?

Henri: Henri!

Pak Guru: Biasakan sopan. Jangan lupa menyebut bapak.

Henri: Bapak Henri. (hal. 48)

Saat membaca humor itu, saya agak telmi memahami letak lucunya dimana. Oh ternyata saya baru ngeh kalau maksudnya sang Pak Guru yang harus dipanggil Bapak. Karena percakapannya terlalu singkat, saya jadi agak bingung mencerna beberapa humor yang dituliskan di buku ini.

Secara umum buku humor ini cukup menarik. Ada buuuuanyak sekali (aduh ketahuan deh saya orang asli daerah mana) humor-humor jenaka yang disajikan. Namun seperti yang saya kemukakan tadi, percakapan yang terlalu singkat membuat saya menjadi bingung. Ibarat makan di restoran, saya langsung disodori main course, tapi setelah menikmati beberapa suap, langsung ditarik lagi dan diganti menu yang baru. Enak sih enak, tapi rasanya jadi tidak puas.

Kelebihan yang buku ini berikan salah satunya adalah adanya karikatur yang selalu berada di halaman ganjil. Jadi lumayan membantu memahami cerita. Pada dasarnya, mungkin tim penyusun buku ini ingin menghibur pembaca secara instan. Dan saya rasa hal itu cukup berhasil (setidaknya kepada saya). Namun kesannya justru terburu-buru. Mungkin ini alasannya buku ini menjadi sangat tipis.

Hal yang menjadi sorotan saya adalah kualitas cetakan. Ya ampun, ini seperti hasil fotokopian alias tulisan ada bolong-bolong tidak tercetak sempurna. Tapi jika dilihat isi, semua lapisan masyarakat berusia berapapun yang penting bisa baca, saya rasa cocok membaca buku ini untuk menghilangkan penat ataupun saat lagi galau *eaaa.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Usaha Terakhir

covertengil3

Judul: Usaha Terakhir

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: The Last Straw: Book Three

Seri: Diary Si Bocah Tengil #3

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218

Terbit Perdana: Mei 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2010

ISBN: 9789791411240

cooltext1660180343

Ayo akui saja: Greg Heffley tidak akan pernah mengubah sikapnya yang tengil dan gampang menyerah. Harus ada seseorang yang menjelaskan hal ini pada ayah Greg.

Tahu tidak, Frank Heffley benar-benar merasa dirinya mampu membuat putranya menjadi lebih tegar, dan dia pun mendaftarkan Greg dalam berbagai olahraga yang terorganisasi dan kegiatan “cowok” lainnya.

Tentu saja, Greg dengan mudah mampu mengelak dari segala usaha sang ayah yang ingin mengubah dirinya. Namun, ketika ayahnya mengancam akan mengirimnya ke akademi militer, Greg sadar dia harus membenahi diri … atau kalau tidak, dia pasti akan dikirim pergi.

“Minggir, Harry Potter … Ada satu buku berseri bari yang mendominasi pasaran buku anak-anak dan buku-buku ini sama sekali bukan buku ‘fantasi’.” – Andrea Yeats, NPR’s All Things Considered

“Gebrakan besar untuk mereka yang malas membaca dan bagi setiap orang yang mendambakan buku jenaka.” – School Library Journal

“Cara penyajiannya tepat dan tokoh utamanya yang egois sangat meyakinkan …” – The New York Times

cooltext1660176395

Lanjutan dari si bocah tengil horee *joget-joget*. Buku ini menceritakan kelanjutan hal-hal konyol yang dialami si Greg di kesehariannya. Saya heran kok sang penulis bisa memahami dunia remajanya Greg. Padahal ia sudah tidak muda lagi. Buku ini diawali dengan kisah mengenai resolusi awal tahun. Ironis sekali ketika tiap anggota keluarga Heffley membuat resolusi namun tidak pernah terlaksana hingga akhir tahun, bahkan bulan depan. Malah Manny si anak bungsu, tidak bertahan selama satu menit. Hal itu sedikit banyak nyambung pada hari Natal yang penuh hadiah bagi anak-anak, namun tidak untuk Greg.

Kurasa, begitu kau sudah SMP, orang dewasa langsung menganggap kau terlalu tua untuk mendapatkan hadiah mainan atau apa saja yang benar-benar menyenangkan. (hal. 8)

Suatu hari, Greg terkejut ketika bus jemputan sekolah merubah rute dan mengakibatkannya harus berjaan kaki ke sekolah. Ia berpikir hal itu sungguh buruk bagi anak sekolah. Sepertinya saya agak setuju dengan pendapat Greg yang satu ini. Maklum saya ketika sekolah dulu benar-benar tidak bergairan dengan namanya PR.

Zaman sekarang, para guru memberikan terlalu banyak PR sehingga dengan semua buku serta kertas yang kau bawa pulang, berat ranselmu akhirnya mencapai bobot empat kilogram. (hal. 14)

Ada lagi cerita tentang si Greg menyalahkan pencuri jatah camilan makan siang sehingga menyebabkan hidupnya sungguh memuakkan. Untuk menyelamatkan hidupnya dari kenestapaan dunia *apasih* dia berusaha mencari tahu dan menangkap basah si pencuri camilan. Ya benar, menangkap di dalam rumahnya sendiri alias salah satu keluarganya yang jadi tersangka. Tidak tanggung-tanggung, ia sampai sembunyi di dalam tumpukan pakaian kotor disamping mesin cuci. Konyol namun sukses menemukan pencuri camilan itu di malam hari yang gelap gulita.

Ternyata si maling adalah Dad. Aku seharusnya sudah menduga dari awal. Dia benar-benar KETAGIHAN makanan tidak sehat. (hal.82)

Kisah yang menjadi headline blurb buku ini adalah kisah mengenai rencana Greg dikirim ke sekolah militer oleh Dad. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Dad beranggapan anak-anaknya tidak terlalu kuat sebagai seorang lelaki sejati.

Kalau Dad melihat bagaimana sekolah bisa mengubah seorang bandit remaja seperti Lenwood Heath menjadi seorang pria dewasa, maka dia pasti beranggapan sekolah itu pun juga bisa mengubah anak selembek AKU menjadi pria dewasa. (hal. 158)

Apakah rencana Dad benar-benar terlaksana? Silakan baca buku ini. Namun saya sangat iri dengan kemujuran yang diperoleh Greg. Meskipun dia bukanlah anak yang baik, namun kreatif dan kelicikannya terkadang membawa dampak baik dan menyenangkan baginya.

Karena seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku adalah salah satu orang terbaik yang kukenal. (hal. 216)

Cerita ini tentang resolusi sebagai pembuka sedikit nyindir saya sih. Awal tahun, bahkan tiap pagi hari saya pasti ada niat melakukan sesuatu. Namun realisasinya benar-benar nihil alias hanya wacana semata. Huahahahahaha *ketawa miris*. Overall, saya rasa buku ini masih khas lelucon yang disajikan Jeff Kinney. Tapi tetap masih belum bisa mengalahkan buku pertamanya. Di buku ketiga ini juga tidak terlalu banyak yang membuat terpingkal-pingkal.

Kekurangan buku ini masih sama dengan pendahulunya, yaitu terlalu banyak tokoh yang slonong-boy alias numpang lewat saja. Sehingga latar belakang tokoh lain hanya dijelaskan sekilas, yang penting mendukung kisah yang sedang diceritakan. Saya rasa terkadang Greg benar-benar orang paling melas dan menderita di buku ini. Alih-alih sebagai anak tengil (dalam kamus saya tengil itu nyebelin). Yang ada malah orang-orang di sekitar Greg lah yang nyebelin. Saya jadi agak bingung sih dengan judul buku dan isinya. Atau jangan-jangan efek sudut pandang si Greg yang jadi fokus cerita? Who knows.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Rodrick yang Semena-Mena

covertengil2

Judul: Rodrick yang Semena-Mena

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules: Book Two

Seri: Diary Si Bocah Tengil #2

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 216

Terbit Perdana: November 2009

Kepemilikan: Cetakan Keempat, Februari 2010

ISBN: 9789791411226

cooltext1660180343

Apa pun alasannya, jangan tanya Greg Heffley tentang liburan musim panasnya, kerena dia pasti tidak mau cerita.

Saat Greg memulai tahun ajaran baru di sekolah, dia bertekad melupakan semua peristiwa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir…khususnya sebuah peristiwa yang ingin ia rahasiakan.

Malang bagi Greg, kakaknya, Rodrick, tahu semua peristiwa yang ingin Greg simpan rapat-rapat. Namun, serapat apapun dia menyembunyikannya, rahasia itu terbongkar juga…terutama jika sebuah diary ikut terlibat.

“Novel kartun yang bikin pembaca ‘ngakak guling-guling’ … dengan perut terkocok.” – Publishers Weekly

“Novel kartun yang sangat menarik.” – Majalah People

“Humor yang sangat lepas.” – Kirkus Review

“Pilihan cemerlang bagi yang malas membaca.” – School Library Journal

cooltext1660176395

Serial si bocah tengil berlanjut lagi hehehe. Setelah sukses dengan pendahuluunya, Jeff Kinney menghadirkan buku kedua. Kali ini berkisah tentang kehidupan Greg yang mendapatkan hal-hal buruk dari sang kakak, Rodrick. Tapi ternyata di buku ini tidak khusus mengenai Rodrick saja. Selayaknya buku harian, ada pula berbagai kejadian yang dialami Greg diluar masalahnya dengan Rodrick.

Beberapa minggu lalu, Rodrick mendapatkan buku jurnal LAMA milikku, dan itu benar-benar bencana. (hal. 1)

Tentu saja disebut bencana karena itulah awal mula Rodrick bisa mengancam Greg untuk menuruti segala macam perintahnya. Greg juga tak bisa apa-apa selain menurut dan berharap Rodrick tak menyebarkan rahasianya ke seluruh pelosok dunia *lebay*.

Di hari yang lain, ketika Greg telah kembali bersekolah (kisah sebelumnya adalah saat liburan), Mom meminta Rodrick menjemput adiknya dengan mobil van miliknya. Greg sangat tidak yakin bahwa Rodrick menjemputnya adalah gagasan yang baik. Namun karena Mom yang menyuruh, mau tidak mau Greg hanya bisa menerima.

Jadi, saat Rodrick menjemputku hari ini, aku akan memintanya untuk berhati-hati saat mengerem. (hal. 20)

Lain Rodrick, lain pula Manny, sang bungsu keluarga Heffley. Pada berbagai kisah, Greg menceritakan bagaimana buruknya kelakuan Manny (sesungguhnya Greg sih yang bermasalah) ketika berada dalam situasi yang tidak menguntungkan Greg. Namun ia tak bisa apa-apa ketika ada Mom. Ya benar, Mom adalah pengawas kejahatan di dalam rumah bagi Greg. Ketika ia menyakiti Manny, maka Mom tak segan-segan memberikan hukuman.

Aku benar-benar ingin menghajar Manny, tapi aku tidak mampu berbuat apa-apa karena Mom berdiri di dekat kami. (hal. 42)

Ada lagi kisah bersama Rowley. Jadi ceritanya Rowley ini membeli sebuah buku diary. Karena suatu hal (baca di buku ini ya) Rowley menjadi populer di kalangan para gadis. Greg penasaran dengan topik yang mereka bicarakan. Salah satunya, dengan membaca diary Rowley. Tapi ternyata isi diary Rowley membuat Greg tertegun.

Setelah melihat isi pikiran Rowley, aku mulai bertanya-tanya mengapa aku dulu mau berteman dengannya. (hal. 93)

Secara umum, buku ini bisa saya nikmati dengan lancar tanpa berhenti hingga halaman terakhir. Berbeda dengan buku pertamanya yang mengulas tindak-tanduk Greg, di buku ini justru diceritakan bagaimana kelakuan orang-orang terdekat Greg sehingga membawa pengaruh buruk bagi hidupnya. Karena ini adalah buku harian Greg, maka ia selalu membenarkan apa yang dia lakukan. Padahal sesungguhnya jika diperhatikan, Greg bukanlah seorang anak yang baik.

Lelucon yang disajikan pada buku ini sebenarnya ada banyak. Sayangnya, tidak semua bisa membuat saya tertawa seperti buku pertama. Oh iya, saya agak-agak gimana gitu ketika membaca berbagai cerita yang mengangkat tema tugas sekolah. Percaya deh, tugas Greg dan Rodrick bagaikan tugas kelas 2 SD di Indonesia. Saya tidak tahu itu hanya bualan atau kenyataan. Tapi tugas seperti itu untuk sekolah menengah di Amerika? Well, betapa pintarnya orang Indonesia.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Diary Si Bocah Tengil

covertengil1

Judul: Diary Si Bocah Tengil

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid

Seri: Diary Si Bocah Tengil #1

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: viii + 216

Terbit Perdana: Mei 2009

Kepemilikan: Cetakan Keenam, Februari 2010

ISBN: 9789791411202

cooltext1660180343

Bosan dengan buku cerita penuh tulisan tanpa gambar? Atau bosan dengan kisah fantasi penuh hal-hal gaib? Atau ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang daripada komik tetapi tidak seberat novel? Nah, inilah jawabannya. Baca, deh diary milik Greg Heffley. Selain banyak kejadian lucu, di dalamnya juga bertaburan gambar-gambar kartun jenaka.

Kisah hidup Greg Heffley selama satu tahun ajaran sekolah ini dijamin bisa membuat pipi pegal, perut terkocok, bahkan mata berair. Kekonyolan dan kemalangan Greg akan membuat kalian mengingat kembali kejadian serupa yang mungkin pernah kalian alami.

Di dalamnya ada Sentuhan Keju yang menyeramkan, “Zoo-Wee Mama” yang menyebalkan, seorang anak yang mabuk gula, dan masih banyak lagi. Ingin tahu lebih lanjut? Cepat buka halaman pertama …

cooltext1660176395

Buku ini saya beli sudah lama, sudah saya baca, tapi belum saya review. Yasudah saya re-read aja sekalian nostalgia hehe. Awalnya saya beli buku ini juga pakai sistem random-pick. Maklum, saya ini kalo liat buku terjemahan rasanya udah skepstis duluan dan tidak berharap banyak. Apapun genre-nya, siapapun penerjemahnya, siapapun penulisnya.

Karena apa? Ya, benar sekali. Karena bahasanya. Bukannya saya tidak menghargai sang penerjemah ya, tapi saya pribadi beranggapan karya terjemahan itu pasti feel-nya beda dibandingkan buku yang asli bahasanya. Entah karena beda budaya, beda sense of humor (kalo buku komedi) ataupun identitas tulisan. Para penerjemah yang seringnya menggunakan bahasa yang baku, jadi agak kaku gitu pasti, terlebih untuk novel humor seperti ini.

Tapi kemudian semua berubah saat negara api menyerang ketika saya baca buku ini. Well, saya tidak tau apakah om Jeff Kinney ini sudah tau sense of humor negara Indonesia atau penerjemahnya yang udah kenal banget ama om Jeff. Tapi saya rasa meskipun menggunakan bahasa baku, buku ini tetap menarik minat saya untuk menyelesaikannya.

Dalam novel ini, kita berkenalan dengan seorang remaja tanggung bernama Gregory Heffley. Diceritakan ia baru saja masuk sekolah menengah pertama dan mulai menulis jurnal (bukan diary, menurut Greg) tentang kesehariannya baik di sekolah ataupun lingkungan rumahnya.

Di sekolah menengah pertama ada anak-anak seperti aku yang belum mencapai masa akil balig, tetapi sudah dicampur bersama para gorila yang harus bercukur sebanyak dua kali sehari. (hal. 3)

Di sekolah ini, ada sebuah situasi yang cukup aneh namun menggelitik. Di lapangan basket sekolah, ada sebuah keju yang telah menempel sejak musim semi yang lalu. Keju tersebut mulai ditumbuhi jamur dan terlihat menjijikkan. Anehnya, tak seorangpun berani menyingkirkan keju tersebut.

Kalau kalian mendapat Sentuhan Keju, kalian akan memilikinya sampai mengoperkannya pada orang lain. (hal. 9)

Suatu hari, tepatnya hari Halloween, Greg dan kawan karibnya, Rowley hendak berkelana meminta permen dari rumah ke rumah. Greg iri pada kostum Rowley yang keren berbentuk kesatria lengkap dengan helm, perisai, dan pedang. Tapi ternyata, Mom memberikan Greg kostum bajak laut yang sangat bagus…dengan syarat turut serta mengajak Manny, sang adik.

Aku bilang pada Mom kami TIDAK MUNGKIN mengajak Manny karena kami akan menyantroni 152 rumah dalam waktu tiga jam. (hal. 66)

Ada lagi cerita tentang kewajiban siswa laki-laki di sekolah untuk mengikuti tim gulat selama enam minggu. Ternyata, kostum yang harus digunakan saat gulau adalah sebuah “singlet” yang tampak mirip pakaian renang tahun 1800-an. Akibatnya, ketika bertarung Greg merasa terlalu “dekat” dengan sang lawan.

Selama jam pelajaran ketujuh, aku terpaksa mengenal Fregley JAUH lebih intim dibandingkan dengan yang aku inginkan. (hal. 83)

Yang paling menarik adalah cerita tentang sekolah Greg yang mencari seorang kartunis untuk mengisi kolom komik strip pada koran sekolah. Ia berencana mengisi lowongan tersebut dan menjalin kerjasama dengan Rowley. Kartun lucu yang ia ciptakan adalah sebuah kartun dengan kalimat andalan “Zoo-Wee-Mama!” di setiap stripnya. Namun akhirnya, rencana itu tidak berjalan mulus.

Masalah “Zoo-Wee-Mama” ini benar-benar membuatku sewot. Rowley mendapatkan semua pujian atas komik yang kami ciptakan bersama. (hal. 205)  

Yah, meskipun saya tidak tertawa terpingkal-pingkal bagaikan nonton Srimulat *apasih* tapi setidaknya saya masih senyum-senyum baca buku ini. Itu sebuah prestasi karena saya biasanya sangat jarang bisa menikmati tulisan terjemahan. Apalagi ditambah dengan karikatur khas yang sangat menunjang ceritanya. Kalau kekurangannya sih mungkin saya pribadi agak sulit memahami adat budaya yang disajikan dan tidak ada di Indonesia. Oh iya, terlalu banyak tokoh yang numpang lewat (baik beneran muncul atau cuma namanya saja) di buku ini.

Format cerita di buku ini tidak menggunakan model bab, namun menggunakan seperti buku harian *yaiyalah* dengan font yang sangat menarik. Jadi yang dilihat adalah hari ini, kejadian ini. Plus karikatur juga ada di SETIAP halamannya. Ini sebuah buku novel yang sayang kalau sampai dilewatkan. Karena ceritanya benar-benar jempolan.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

You Are Invited

coveryou

Judul: You Are Invited

Penulis: Kezia Evi Wiadji

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah halaman: 216

Terbit Perdana: April 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2014

ISBN: 9786022514930

cooltext1660180343

Stacy Tanu dan John Edward, berencana melangsungkan pesta pernikahan. Selain mengundang 400 tamu, juga enam orang yang mempunyai hubungan sangat spesial dengan kedua calon mempelai. Mereka adalah Dina, Ben, Lyla, Sonia, Edo, dan James.

Beberapa minggu menjelang pesta pernikahan itu, masalah demi masalah silih berganti menghampiri mereka. Dapatkah mereka bergabung dengan tamu undangan lain untuk merayakan pesta pernikahan Stacy dan John?

cooltext1660176395

Awalnya saya melihat cover novel ini sedikit heran. Ini novel atau undangan kawinan? Tapi ternyata ide cerita novel ini memang demikian, mengenai hari-hari menjelang pesta pernikahan John dan Stacy. Well, cover sudah mencuri perhatian saya. Mari simak isi di dalamnya. Ekspektasi saya sih novel ini mengisahkan prahara dan permasalahan sebelum pesta itu terlaksana. Jika membaca blurb diatas, seharusnya tokoh utama dalam novel ini adalah John dan Stacy (ya iyalah kan mereka yang mau merit). Tapi setelah membaca hingga tuntas, bukan mereka saja yang berperan. Terdapat delapan bab yang disuguhkan, masing-masing bercerita tentang kedua calon mempelai plus kehidupan orang-orang terdekat mereka.

Bab pertama tentu saja mengenai kedua calon pengantin yaitu John dan Stacy. Mereka menentukan jumlah undangan dan siapa saja yang hendak diundang. Tabir kehidupan masa lalu sedikit terkuak ketika Stacy ingin mengundang mantan kekasihnya, Ben dan menawarkan John untuk melakukan hal serupa dengan mengundang Dina, pacarnya dimasa lalu. Bab ini merupakan pintu gerbang awal cerita bab yang lain.

“Tapi aku nggak mau mengundang mantanku. Aku nggak mau mengorek luka lama. (hal. 7)

Bagian kedua menguak kehidupan Dina. Setelah putus secara tidak baik-baik dengan John, ternyata Dina masih galau. Sebenarnya dia sudah menemukan tambatan hati yang baru, namun ia belum bisa melupakan John. Terlebih sang pujaan hati baru yang bernama Cello ini membuat Dina pusing tujuh keliling gara-gara nge-PHP si Dina *kasian*.

“Kenapa lo marah? Kapan gue pernah minta lo jadi pacar gue? Gue juga nggak pernah bilang cinta ke lo. Nggak pernah bilang suka ke lo. Lo aja yang beranggapan kalo kita pacaran.” (hal. 32)

Bab ketiga bercerita tentang kehidupan Ben semenjak berpisah dengan Stacy. Diceritakan Ben yang menemukan pengganti Stacy, bernama Princille dengan jalan yang kurang mulus pada awalnya. Saya suka sekali dengan sosok Princille yang “istimewa” ini. Bagian tentang Ben yang gemar bertualang ini sukses membuat saya ingin berwisata ke Danau Maninjau. Penulis berhasil menceritakan daerah yang dikunjungi Ben dengan baik.

Pantulan sinar matahari di air danau layaknya serpihan kaca retak yang bergerak-gerak. Semakin mempercantik Danau Maninjau dengan luas hampir 100 km2 yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang membentuk dinding. (hal. 54)

Bab selanjutnya bercerita tentang Lyla, sahabat Stacy. Sebenernya kisah yang dibawakan oleh Lyla cukup menarik yaitu tentang pengalaman naik gunung dan menemukan cinta. Cuma, menurut saya kok rasanya agak kurang pas. Karakter Lyla inilah yang saya rasa paling tidak membekas di hati (kecuali bagian wisata kuliner yang membuat cacing perut saya berdemo). Penyelesaiannya juga terburu-buru dan serba kebetulan.

Bab selanjutnya adalah Sonia, adik John yang menjalani kehidupan pahit setelah ditinggal cinta pertamanya. Saya rasa kisah Sonia tidak ada sangkut pautnya dengan Stacy ataupun John sih, selain status keluarga saja. Tetapi justru Sonia memiliki nasib paling mengenaskan diantara pemain lain di novel ini.

Kemudian ada kisah Edo, sahabat John yang juga sebagai cinta pertama Sonia. Saya suka dengan tokoh Edo yang meskipun awalnya miskin, namun semangat menuntut ilmu hingga jadi dokter patut diacungi jempol. Yah meskipun mengorbankan perasaannya terhadap Sonia, saya suka dengan takdir manis yang dia dapatkan.

Ada lagi kisah James yaitu kakak Stacy yang kehilangan kekasihnya saat SMA karena overdosis. Kemudian menemukan orang baru yang memiliki fisik serupa dengan kekasih masa lalunya itu. Saya rasa agak aneh ini cerita James. Diantara ratusan jiwa manusia di Indonesia, kok ada orang yang sama setelah mati. Takdir sih mungkin, tapi saya rasa it’s too good to be true.

“Hidup itu berawal dari huruf B dan berakhir di huruf D. Huruf B artinya Birth dan D artinya Death. Tapi di antara huruf B ada huruf C, yang artinya Choice. Artinya, hidup selalu menawarkan pilihan.” (hal. 198)

Terakhir adalah bab pesta pernikahan yang saya lihat sangat cantik dan meriah dari deskripsinya namun dengan jumlah halaman paling sedikit dibandingkan yang lain. Plus bikin saya mupeng pengen punya pesta pernikahan kayak gitu *uhuk*

Overall, saya suka dengan buku ini. Emosi dan konflik yang disajikan adalah masalah orang dewasa. Ingat, yang saya maksud dewasa adalah adanya adegan-yang-seperti-itu. Masalah setting, saya acungi jempol deh. Detil banget dalam mengemukakan keunggulan daerah dan membuat saya bisa membayangkan dengan jelas. Saya rasa novel ini bagus dengan ciri “Indonesia banget” yang meliputi Jakarta, Bali, Pekanbaru, Solo, Bandung, Batam, dan Medan. Tentu saja wisata kuliner yang diceritakan sukses membuat saya menelan air liur berkali-kali.

Tetapi, saya agak kecewa dengan pembagian tokoh. Harapan saya sih, Stacy dan John merupakan tokoh sentral di novel ini. Namun kok saya rasa justru mereka berdua hanya sebagai “status” tokoh yang lain. Sehingga seolah-olah ini adalah kumpulan cerpen yang digabung jadi satu buku dengan status “kerabat dekat John & Stacy”. Imbasnya, cerita tiap bab (tiap tokoh) kurang tergali. Dan juga setiap bab ada tokoh-tokoh baru (bisa tiga atau lebih) yang mengiringi tokoh utama tiap bab sehingga saya jadi bingung nama-namanya siapa aja (sering juga tertukar namanya) saat membaca cerita lain.

Pada awalnya saya berpikir cerita ini akan mengangkat cerita persiapan Stacy dan John sebelum pernikahan dengan menemui masing-masing tokoh lain dan menemukan masalah. Tetapi ternyata hanya diceritakan kisah tokoh lain di dunianya sendiri. Saya berharap jika nantinya ada spin-off tiap tokoh di novel ini menjadi novel tersendiri. Karena sepenggal kisah yang disajikan sangat menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut.

Well, novel ini cocok dibaca golongan pra-dewasa hingga orang dewasa. Maklum adegan-yang-seperti-itu cukup bikin deg-degan hehehe. Meski genre-nya adalah romance, tetapi penulis sanggup menghadirkan kisah cinta yang tidak menye-menye dan lebay khas fiksi remaja. Selain itu penyelesaian masalah yang masuk akal dan ending yang sangat pas membuat saya puas membaca novel ini.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Cado-Cado Kuadrat

covercado2

Judul: Cado-Cado Kuadrat

Tagline: Dokter Muda Serba Salah

Seri: Cado-Cado #2

Penulis: Ferdiriva Hamzah

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: xii + 188 halaman

Terbit Perdana: Juli 2010

Kepemilikan: Cetakan Kedua, Agustus 2010

ISBN: 9786028066709

cooltext1660180343

Pernah satu saat ketika menolong seorang ibu melahirkan, aku dan Budi megang toa serta spanduk bertuliskan: “Ayo, Ibu! Kamu bisa!” Sementara itu, Evie lompat-lompat dan jumpalitan di depan si Ibu kayak cheerleader, lengkap dengan pompomnya, sambil ikutan teriak-teriak, “Ayooo, Ibu bisaaa!!! Tarik napassss!!! Doroooonggg!!! Doroooooonggg!!!”

Ibu yang sedang menjalani persalinan itu saking terharunya melihat usaha kami sampe teriak, “Doook! Huf…huf…huf…. Aduuuh… huf… huf… huf… dorong… dorong, saya jadi pengen pup! … Huf… huf…huf!”

Tiba-tiba… Prrrooootttt!!! Si Ibu beneran pup! Alhasil, aku, Budi, dan Evie dihukum PPDS untuk membersihkan lantai kamar bersalin.

Ketemu lagi sama dokter dodol, Ferdiriva, yang akan membuat kalian jumpalitan ketawa lewat tulisannya. Banyak pengalaman lucu dibagi sama Riva, sewaktu ko-ass atau pendidikan lanjut mahasiswa kedokteran dulu. Mulai dari nanganin pasien yang ngejedot-jedotin stetoskop ke kepalanya sendiri, sampai dia sendiri yang ngejedot-jedotin kepalanya ngehadapin dosen.

A must read book bagi kalian yang ingin tahu susahnya jadi dokter. Riva, dengan serial CADO-CADO ini sukses membuat saya menunggu karya dia berikutnya. Keep it coming, Bro! – Adhitya Mulya, penulis Jomblo, Gege Mengejar Cinta

Sumpah deh! Lucu dan keren cerita-cerita di buku ini! I love it, Doc! – Nycta ‘Jeng Kelin’ Gina, dokter/artis

cooltext1660176395

Saat lihat buku ini di rak toko buku, pertama terpikir adalah ini buku teks kedokteran. Otak saya kalo nyangkut dunia kedokteran itu udah capek duluan. That’s not my world banget *ahem. Pasti isinya sudah di luar kepala semua alias gak paham huahaha. Oke back to review.

Buku ini sebenarnya adalah buku kedua setelah Cado-Cado. Saya yang saat itu entah tidak ngeh atau emang cupu, gak beli edisi pendahulunya dulu. Ah nasi emang udah jadi bubur, biarlah. Di buku ini ada sepuluh cerita dalam 188 halaman. Dan lagi-lagi karena keterbatasan waktu *uhuk* jadi saya hanya bahas beberapa aja yang membekas di benak ya hehehe. Ada sebuah kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Bedah: (Amit-Amit Jadi) Dokter Cabul” sebagai kisah keempat. Membaca judulnya aja saya udah mesem duluan.

Seorang dokter itu selalu diharapkan untuk berpikir super-cepat, atau super-super-duper cepat, soalnya pekerjaannya kan menyangkut keselamatan orang. (hal. 69)

Lantas, apa hubungannya dengan dokter cabul? Ternyata, si Riva ini sedang ujian pada bagian ilmu bedah. Ternyata sistem ujiannya adalah sang calon dokter diberi tanggung jawab memeriksa seorang pasien yang nantinya akan diambil alih oleh dokter ahli bedah ketika sudah selesai. Sang pasien bernama Angel ini kayaknya emang secantik namanya ya *keplak*

Keluhan yang diderita Angel ini ternyata adalah adanya benjolan di (maaf) payudara. Yak benar, di bagian itu. Seperti biasanya, dokter kan selalu memeriksa dengan seksama bagian yang menjadi keluhan melalui duo indra (penglihatan dan peraba). Bisa terbayang kan bagaimana sikap Riva ketika menghadapi keluhan Angel? Hehehe.

Ada lagi kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Kesehatan Anak: Gagal Sok Cool” yang awalnya saya pikir ceritanya unyu-unyu khas anak kecil. Lah, apa hubungannya kecoa dengan bagian kesehatan anak? Oh ternyata (kok jadi kayak judul ftv di Tr*nsTV) kamar jaga di ko-ass anak itu sangat jorok sehingga sering mengundang kecoa-kecoa berdatangan. Dan Riva terlalu takut untuk menghadapinya sendirian.

Ada satu hal yang selalu aku harapkan nggak akan pernah menggangguku di saat jaga malam, juga nggak akan pernah membuatku keringat dingin saat melihatnya. Mayat? Bukan. Hantu? Bukan. TAPI… KECOA! (hal. 122)

Dengan bangga, saya menobatkan buku ini sebagai salah satu terbitan Bukuné yang terbaik. Karena saya sukses ketawa ngakak saat membaca berbagai kisahnya. Awalnya saya heran, buku teks kedokteran kok letaknya di deretan buku humor, jadi penasaranlah saya ini. Saat baca blurb di belakang buku, wah kok kayaknya seru. Bayangin aja, image para dokter (termasuk mahasiswa kedokteran, versi saya) itu kan elegan, higienis, pinter, dan sebagainya. Tapi, buku ini sukses bikin image itu hancur lebur.

Ternyata calon dokter juga manusia. Mereka kadang (sering, di buku ini) melakukan hal-hal bego dan lucu dalam kesehariannya. Mereka tidak selalu kaku dan saklek kok. Mereka juga bisa ngocol dan gokil. Apalagi namanya status masih mahasiswa ya, belom jadi dokter beneran, masih aja tetep nyinyirin dokter di rumah sakit yang bikin merinding disko.

Banyak sekali cerita-cerita kocak di buku ini. Namun, tenang saja. Meskipun banyak sekali istilah-istilah kedokteran dan medis, bagi pembaca (saya khususnya) yang amat sangat awam sekali dengan dunia dokter, jadi tidak terlalu kesulitan untuk mengerti. Karena ada penjelasan di awalnya dengan bahasa yang mudah dipahami. But overall, buku ini sukses bikin citra dokter itu tidak selalu kaku sodara-sodara. Kalo bicara cocoknya sih, buku ini pantas dibaca remaja hingga dewasa. Humornya yang segar dan tidak kaku bisa jadi hiburan tersendiri.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Talk About Hapé

coverbmtalk

Judul: Talk About Hapé

Seri: Kartun Benny & Mice

Komikus: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Nalar

Jumlah Halaman: vi + 106 halaman

Terbit Perdana: Maret 2008

Kepemilikan: Cetakan Kedua, Mei 2008

ISBN: 9789792690132

cooltext1660180343

Bener-bener humor yang jujur dan asli cerminan rakyat banget, realistis dan mengena, tanpa harus dibagus-baguskan dan ditambah-tambahi. Mudah-mudahan mas Benny dan mas Mice yang asli tetep konsisten dengan karya mereka yang menurut gw ga ada matinya ini. – kepakkepik.multiply.com

Alasan kenapa bintang 4 : karena gw paling suka kartun Benny & Mice diantara kartun lainnya yang hadir di Koran Kompas Minggu. Alasan kenapa bintangnya bukan 5 : karena halamannya kurang banyak. I want more!!!!!!! – blogindonesia.com/…/english/tsite/hprlnks_gintsya_dot_multiply_dot_com_slsh_reviews_slsh_item_slsh_100

Kalau saya diminta untuk mengajukan satu film animasi yang ‘tersinting’, saya akan mengajukan nama South Park. Bagaimana tidak, kartun ini berani mengkritik bangsanya sendiri dengan cara-cara yang ekstrem. Saya pikir, Benny and Mice merupakan kartun yang dapat mewakilkan ‘southpark’-nya Indonesia, selain kritik disampaikan dengan cara yang pas dengan kultur Indonesia, juga dapat mengibur.. Maju terus Benny dan Mice!!! – id.wordpress.com/tag/benny-dan-mice/feed/

“KOCAK DAN NORAAAAKKKK ABIISSSSS!!!”, itulah kalimat yang keluar dari mulut adik saya setelah membaca buku kumpulan kartun Benny & Mice karangan Benny Rahmadi dan Muhammad Misrad. Akhirnya setelah sekian lama menanti buku ini terbeli juga, setelah sebelumnya membaca buku Lagak Jakarta. Suatu cerita tentang realita Jakarta tetapi dilihat dari sudut yang berbeda, atau lebih tepat dari sudut pandang secara humor. – cdavidar.blogspot.com/2008/01/kartun-benny-mice.html

Benny & Mice kept finding their own unique (and hilarious!) way in adapting and blending in with the crowds, without conveying urbanity as *The Evil Being* but more of as a compliment to their gullibility. The strip is weekly published on Kompas every Sunday. – journal.marisaduma.net/2008/01/29/comic-strips-for-the-rest-of-us/

cooltext1660176395

Kartun Benny & Mice hadir lagi! Kali ini bukan dengan kumpulan kartun mereka yang dimuat di Kompas setiap hari Minggu. Dalam kartun ini mereka mengupas perilaku kita dengan handphone. Mereka juga mengkritik provider nomor telepon, penjual handphone dan pulsa, dan pelaku-pelaku lainnya. Tentu saja dengan gaya lucu, pedas, dan segar.

Pada buku ini, Benny dan Mice mengangkat fenomena penggunaan handphone alias HP alias hapé yang malanda masyarakat Indonesia. Tak dapat dipungkiri mulai dari tukang becak, pegawai kantoran, hingga presiden pun memiliki dan sanggup menggunakan hapé. Tak jarang sebagian orang memiliki hapé bukan karena kebutuhan, melainkan karena gaya-gayaan saja.

Cara orang membawa HP 3: Digantung, hidup ini sudah penuh dengan berbagai masalah dan beban, teman… Kenapa mesti ditambah lagi beban berupa HP yang gelantungan di leher? (hal. 74)

Selain itu, hapé identik dengan fasilitas sejuta umat yang disebut Short Messaging Service (SMS) yang memungkinkan setiap orang berkirim pesan singkat kepada orang lain menggunakan hapé. Selain tujuan umum tersebut, tentu ada sebagan orang yang melakukan iseng dengan mengirim SMS palsu kepada Mice seperti yang diceritakan di buku ini. SMS tersebut berisi sebagai berikut:

Nama saya Ayu, umur saya 6 tahun. Kemaren saya meninggal dunia karena tertabrak truk gandeng ketika saya menyeberang jalan… kepala saya remuk, sehingga darah berceceran di jalanan… saat ini arwah saya tidak tenang… dan gentayangan… Kirimkan SMS ini ke 20 temanmu..saat ini juga… Jika tidak, saya akan menghampirimu malam ini… (hal. 55)

Apesnya Mice, pulsanya habis. Dan ia terlalu takut mengabaikan SMS itu. Kemudian ia langsung ke counter pulsa dekat rumah untuk membeli pulsa demi menghilangkan ketakutan. Apakah berhasil? Tentu tidak dikarenakan counter pulsa tersebut sudah tutup.

Perlukah nomor cantik? Ketika mau menelpon Anda yang dicari di Phone Book adalah nama Anda, bukan nomor cantik Anda. (hal. 29)

Sebagian orang memang sengaja membeli nomor yang mudah diingat agar orang lain yang ingin menghubunginya tidak kesulitan. Tak jarang nomor yang biasa disebut nomor cantik ini harganya mahal. Padahal sesungguhnya, hapé berbeda dengan telepon umum atau telepon rumah yang calon penelepon harus mengingat nomor, hapé memilki fasilitas phone book yang menampilkan nama sehingga lebih mudah dicari. Artinya, penggunaan nomor cantik bisa dikatakan hampir sia-sia.

Saya mengenal Benny & Mice sebagai komikus sekitar 8 tahun yang lalu ketika menerbitkan buku. Maklum saya tidak pernah berlangganan koran harian Kompas karena harganya mahal. Padahal di koran tersebut menayangkan kartun Benny & Mice setiap minggu. Serasa ketinggalan hehehe. Karena komikus ini berasal dari Indonesia, goresan komik yang mereka hasilkan juga tidak jauh-jauh dari kebudayaan dan kebiasaan Indonesia. Salah satunya adalah penggunaan hapé.

Tidak sampai 1 jam saya membaca komik ini sampai habis, sumpah rasanya makjleb. Ya iyalah, soalnya kedua kartunis ini sukses menyindir sebagian besar masyarakat khususnya Indonesia yang memiliki hapé sebagai alat komunikasi. Mulai dari saat krisis beli pulsa, saling telepon dengan si yayang, bahkan pemilihan nomor cantik aja juga dijadikan bahan sindiran. Tak lupa promo dari provider telepon seluler turut menjadi bahan di buku ini. Menggelitik namun tetap cerdas.

Kekurangan komik ini saya rasa hanya pada jumlah halaman yang (menurut saya) amat sangat kurang sekali. Karena saya pengennya sampe 1000 halaman penuh. Maklum komik (apalagi komik humor) selalu tak pernah ada bosannya untuk saya baca, rasanya jadi ketagihan. Well, saya rasa saya hanya bisa menanti karya kartunis kocak ini saja daripada ngoceh-ngoceh lewat hapé hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Humor Obat Stres

coverhumor

Judul: Humor Obat Stres

Judul Asli: Jokes of Joginder Singh

Seri: Humor Obat Stres #1

Penulis: Joginder Singh

Penerjemah: Safrie HS

Penerbit: Hanggar Kreator

Jumlah Halaman: 114 halaman

Terbit Perdana: Maret 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2005

ISBN: 9799799892668

cooltext1660180343

Seorang bocah laki-laki dan neneknya yang menyayanginya sedang berjalan-jalan di tepian pantai. Tiba-tiba datang ombak dan menggulung bocah itu membawanya ke lautan. Wanita yang ketakutan itu, berlutut di atas pasir, menatap ke langit dan memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan cucu tercintanya. Dan kemudian datanglah ombak lagi yang membawa bocah yang pingsan itu menggeletakkannya di atas pasir tepat di depan neneknya. Sang nenek memeriksa cucunya dengan seksama. Dia baik-baik saja. Namun sang nenek tetap menatap dengan marah ke langit. “Sewaktu kami datang tadi,” katanya dengan marah, “dia pakai topi!”

cooltext1660176395

Saya baru tahu buku ini sebenernya adalah karya terjemahan ketika membaca informasi di dalamnya. Saya kira ini tulisan orang dalam negeri bumi Indonesia tercinta hehehehe. Iseng-iseng kemaren saya browsing wajah sang penulis yang berasal dari India ini. Ternyata…lebih ganteng saya *ahem. Baiklah lanjut ke isi buku aja deh yak hahaha.

Jadi buku ini berisi humor pendek yang sebenernya lucu-nanggung-akhirnya-rada-garing. Saya enggak ngitung ada berapa humor di dalamnya, tapi yang jelas buanyak banget. Lumayan bisa buat habisin waktu kalau lagi ngabuburit *aduh saya jadi kangen bulan ramadhan yang udah berlalu :’(*

Toni dan ibunya sedang melihat-lihat foto keluarga. Tatkala meihat foto seorang pemuda tampan berkumis ia bertanya, “Siapa ini?”

“Lho, itu kan ayahmu,” kata ibunya dengan bangga.

“Yeah?!” ujar Toni dengan skeptis. “Lalu siapa laki-laki botak yang tinggal dengan kita selama ini?” (hal. 52)

See? Agak agak garing kan ya? Lucu sih sebenernya *mungkin* kalau pakai bahasa aslinya. Tapi gara-gara ini terjemahan, jadi pakai bahasa baku. Menurut saya, penggunaan bahasa baku sedikit mengurangi kadar kelucuan suatu tulisan. Tapi bukan berarti semua tulisan di buku ini buruk. Ada lagi seperti ini yang cukup menggelikan.

Dua orang misionaris di Afrika ditangkap oleh sebuah suku kanibal. Mereka berdua dimasukkan ke dalam kuali raksasa berisi air dan direbus di sana. Beberapa menit kemudian, salah seorang misionaris itu tertawa terpingkal-pingkal. Temannya tak percaya melihat keadaan temannya itu dan bertanya,“Ada apa denganmu? Kita sedang direbus hidup-hidup! Mereka akan memakan kita! Apa yang lucu pada saat seperti ini?”

Misionaris satunya itupun menjawab,”Aku baru saja pipis di dalam sup ini!” (hal. 88)

Humor tersebut adalah segelintir humor yang membuat saya nyengir babi. Nyengir? Iya soalnya tidak ada satupun yang sanggup membuat saya tertawa lebar. Oh iya, sebelumnya, saya mau menginformasikan bahwa buku ini saya beli sekitar tahun 2005 ketika saya masih usia SD. Pada jaman itu saya sangat kekurangan bacaan yang lucu-lucu tapi bukan untuk anak-anak. Maksudnya bacaan yang tidak khas anak-anak yang sarat akan bahasa formal dan pesan moral. Maklum, udah ABG jadi nyarinya yang “berbeda”.

Saya ini tipenya kalau udah baca satu humor model beginian pasti bakal inget terus di memori. Mungkin inilah alasannya saya tidak terlalu bisa ketawa waktu baca buku ini. Ya mungkin karena sebelumnya sudah saya baca entah dimana. Dan saya juga tipe yang tidak bisa tertawa dengan lelucon yang sama. Tapi jika untuk sekedar selingan ringan untuk refresh otak yang lagi suntuk, buku ini mantap untuk dicoba kok.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Gigi Kelinci

covergigi

Judul: Gigi Kelinci

Penulis: Arifia Sekar Seroja

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Jumlah Halaman: x + 86 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9789796945849

cooltext1660180343

Bagaimana rasanya kalau kita memiliki gigi seperti kelinci alias tonggos? Itulah yang dialami oleh Mia. Ia menjadi sensitif dan minder. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Kristal, seorang anak yang memiliki problem gigi kelinci seperti dirinya. Ikutilah kisah serunya dalam buku ini.

Buku ini menyuguhkan kisah dan dunia anak yang sungguh-sungguh. Dengan cara bercerita yang menarik dan jalan pikiran yang runut serta emosi dan kegalauan yang khas anak, Arifia menyentakkan kita akan pentingnya kesahajaan. – Prof. Dr. Riris K. Toha-Sarumpaet, pakar sastra anak dan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Luar biasa! Dengan membaca buku ini kita seperti dibawa ke dunia anak-anak yang menggemaskan, kadang-kadang juga menjengkelkan dan sekaligus menyenangkan. Dan kita akan rindu pada dunia itu. – Maman S. Mahayana, M.Hum., pengamat dan kritikus sastra

cooltext1660176395

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek. Yang membuat unik adalah penulisnya yang masih berusia sembilan tahun (saat itu). Sangat jarang sekali (pada masa itu) ada penulis anak-anak yang sanggup merilis sebuah buku. Di buku ini ada sembilan cerita pendek yang semuanya adalah tokoh anak-anak. Saya kupas beberapa saja ya.

Kisah nomor satu tentu saja berjudu “Gigi Kelinci” sesuai yang tertera pada cover. Dikisahkan seorang anak perempuan bernama Mia yang tinggal di sebuah panti asuhan. Ia tidak percaya diri bergaul dan bermain dengan teman-temnnya. Hal itu dikarenakan kondisi fisik yang menurutnya sangat menyebalkan.

Gigiku tumbuh tidak beraturan, dan dua buah gigi atasku tumbuh lumayan besar seperti gigi kelinci atau orang biasa menamakan gigi tonggos! (hal. 2)

Namun semuanya berubah ketika negara api menyerang seorang gadis baru di panti asuhan bernama Kristal mencoba mendekatinya. Meskipun awalnya Mia sangat membenci Kristal, lambat laun sebuah rahasia besar terungkap dan membuat Mia terkejut. Hal ini membuat penilaian Mia terhadap Kristal menjadi berubah.

Ada lagi kisah pendek berjudul “Perkenalanku dengan Dony”. Tokoh utama kisah ini bernama Desty berusia sepuluh tahun. Ia menyukai Dony, teman satu sekolahnya. Kalau jaman sekarang sih istilahnya malu-malu kucing si Desty ini untuk kenalan duluan dengan Dony.

“Aku suka pada Dony. Pasti kalian belum tahu siapa Dony. Dia orangnya pintar, baik, dan suka olahraga. Aku ingin sekali berkenalan dengannya, tapi aku malu. (hal. 42)

Ternyata pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya Desty memiliki kesempatan untuk berkenalan langsung. Kisah berjumlah tiga halaman ini berakhir manis sekali untuk mereka berdua. Saya pribadi sedikit agak-agak kurang sreg dengan cerita ini sih. Secara umum semua cerita di buku ini menarik. Tentang dunia anak-anak, ditulis oleh anak-anak, dan ditujukan untuk pembaca anak-anak. Beberapa cerita juga mengandung pesan moral yang sangat baik bagi anak-anak. Selain itu terdapat ilustrasi yang mendukung inti setiap kisah yang disuguhkan.

Namun yang saya sayangkan, tata letak atau layout tulisan benar-benar menjengkelkan. Margin kanan tidak rata. Saya gemes pengen ngasih tau editor buku ini untuk mengaktifkan teks rata kanan-kiri alias justify di Microsoft Word. Bukannya apa-apa, tapi buku ini jadi terkesan terburu-buru diterbitkan gara-gara layout yang berantakan.

Dari segi cerita, biasa saja sih. Untuk ukuran seorang anak usia sekolah dasar (saat itu), sudah bagus bisa membangun imajinasi dan menulis cerita seperti ini. Namun sebagai pembaca yang sudah dewasa tua, saya merasa terkadang penjelasan mengenai tokoh, setting, ataupun plot masih sangat kurang. Jadi saya sering menemukan plot hole dimana-mana.

Oh iya, kisah berjudul “Perkenalanku dengan Dony” yang saya singgung diatas sebenermya gak begitu saya sukai jika dibaca anak-anak. Soalnya bercerita tentang seorang gadis berusia sepuluh tahun yang naksir kepada temennya sendiri (meski tidak eksplisit). Saya pikir itu terlalu dini banget. Usia segitu harusnya belajar yang rajin dan ngerjain PR, gak usah mikir naksir-naksiran. But anyway, buku ini cocok dibaca siapa saja kok hehe.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Kanza Si Gadis Berkuda

coverkanza

Judul: Kanza Si Gadis Berkuda

Penulis: Saiman Ian Mahesa

Penerbit: Studia Press

Jumlah Halaman: iv + 76

Terbit Perdana: Februari 2002

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Februari 2002

cooltext1660180343

Nama saya yang sebenarnya, Saiman. Nama tambahan Ian Mahesa. Kalau dipanjangin jadi Saiman Ian Mahesa. Nah, kalau untuk tulisan fiksi saya sering memakai nama komplit, tapi tak jarang Cuma tertulis Ian Mahesa saja atau Saiman saja. Kata orang tua sih, saya lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, tanggal 3 Agustus 1966. Dalam catatan buku harian, ternyata saya hobi nulis sejak mulai bisa membaca.

Mulanya nulis bahan-bahan belanjaan, kalau disuruh ke pasr oleh Ibu. Terus nulis puisi untuk dibaca sendiri. Tulisan lain, bertebaran pada Majalah Dinding Sekolah. Pokoknya, kalau perlu seluruh majalah dinding berisi tulisan saya saja…soalnya yang lain pada nggak mau ngisi. Lantaran nulis di mading memang nggak ada honornya… sejak SMA sudah menulis di HAI, untuk liputan kegiatan sekolah. Tahun 1990-1997 bekerja sebagai Wartawan Majalah HumOr.

Selain jadi wartawan, saya juga getol nulis naskah komedi, terutama untuk acara Bagito Show di RCTI. Kemudian juga bikin naskah untuk NGELABA Patrio di TPI. Cerpen dan cerbung saya sudah tak terhitung. Tersebar diberbagai majalah remaja, antara lain; Anita Cemerlang, Warta Pramuka, Kawanku. Nah, kalau menulis untuk anak-anak, saya baru mulai tahun 1998, untuk BOBO, INA, dan ORBIT. Khusus di ORBIT saya membuat cerita bersambung “KANZA SI GADIS BERKUDA.” Yang sekarang bukunya sedang kalian baca ini. O-ya, sebelumnya saya sudah membuat 3 novel remaja (serial IGO) yang diterbitkan oleh ELEXMEDIA KOMPUTINDO. Sekarang saya bekerja di Indosiar Visual Mandiri (INDOSIAR), bagian Scriptwriter Drama. Yang terpenting, ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti. Semoga…

cooltext1660176395

Apa jadinya sebuah cerita bersambung (cerbung) dalam sebuah majalah anak-anak diangkat menjadi novel? Hal inilah yang dialami cerbung hasil karya Saiman Ian Mahesa. Kanza Si Gadis Berkuda sesungguhnya merupakan cerita bersambung mingguan di majalah ORBIT. Kemudian suatu hari cerbung tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh dan menjadi buku.

Kisah bermula dari sebuah arena pacuan kuda mini (yang entah berada dimana), dimana sedang berlangsung turnamen pacuan lima ekor kuda. Kuda pertama hingga keempat telah melaju kencang meninggalkan kuda kelima yang melenggang santai. Joki sang kuda ini tentu saja kesal bukan main ketika tertinggal satu putaran. Namun entah kenapa, tiba-tiba kuda bernama Jaranda ini bisa melesat dan mendahului kuda yang lain sehingga menjadi juara pertama.

Tubuh Jaranda melesat bagai anak panah yang diluncurkan dari busurnya. Begitu cepat. Sampai sang joki menjerit-jerit. (hal. 4)

Ternyata hal ini karena kendali remote control seseorang bernama Profesor Tantan. Ia telah mengubah Jaranda dari kuda pacuan biasa menjadi kuda super. Namun hal ini membuat sang penjahat kelas kakap bernama Jack Boban berusaha membeli Jaranda meskipun Profesor Tantan tak menyetujuinya.

Karena terdesak, Jaranda kabur melarikan diri hingga sapai di kaki Gunung Gede, Jawa Barat. Ketiga anak buah Jack yang mengejarnya pun semakin bernafsu menangkap kuda itu. Namun naas, pertolongan gadis bernama Kanza membuat ketiganya lari tunggang-langgang. Bersama kedua orang tuanya, Kanza mencoba merawat kuda itu alih-alih menyerahkan kepada ketiga penjahat tadi.

“Kenapa kaki belakang kuda itu keras sekali. Tidak ada unsur daging di dalamnya. Lalu kenapa pula ada jahitan di luarnya….” (hal. 47)

Ternyata tak dinyana, ketiga penjahat (yang bernama Junoro, Dulpon, dan Ludri) datang kembali bermaksud mengambil Jaranda. Tentu saja terjadi pertarungan sengit ketiga penjahat melawan Jaranda dan Kanza dibantu sang ayah, Pak Rusli Amin. Bagaimanakah nasib Jaranda selanjutnya? Apa rahasia yang ia sembunyikan? Apa pula keuntungan bagi Kanza?

Pada dasarnya, ide yang diangkat dalam buku ini cukup menarik. Tentang kuda super yang bisa menjuarai pacuan kuda dengan mudah. Daya tarik humor paling menonjol adalah dialog antara Junoro, Dulpon, dan Ludri yang kocak. Selain kedua hal tersebut, saya bisa katakan tidak ada yang membekas di benak.

Di sampul belakang, saya sama sekali tidak bisa menemukan inti cerita. Malah profil penulis yang dituliskan. Di awal cerita, saya sungguh bingung dimanakah lokasi pacuan kuda. Karena kemudian tiba-tiba Jaranda berlari hingga kaki Gunung Gede. Tidak ada penjelasan diawal.

Lantas, sebagai cerita untuk anak-anak, banyak sekali hal yang tidak patut di buku ini. Misalnya adalah umpatan dan makian Jack Boban yang bertebaran serta kekerasan yang disajikan ketika bertarung. Entah kenapa, saya juga sangat terganggu dengan penyebutan bapak Kanza, bernama Pak Rusli Amin. Kenapa penyebutan nama beliau harus diulang-ulang dengan “Pak Rusli Amin”?? Apakah tidak cukup dengan “Pak Rusli” saja. Kemudian pemberian nama tokoh yang tidak tepat. Saya rasa joki yang sempat berdialog lebih pantas diberi nama (daripada disebut joki satu, dua, tiga, dst) dibanding nama peternak kuda yang muncul sedetik dalam cerita saja tidak.

Berbagai kata tidak baku juga menghiasi buku ini. Membuat saya jengah membacanya. Misalnya “ngejoprak” dan “semaput”. Saya pikir kata tersebut belum diserap dalam KBBI. Sebenarnya alur cerita mengalir lancar. Tapi saking lancarnya jadi kayak arus deras. Berbagai hal terasa sekilas, bahkan tidak dijelaskan asal-usulnya.

Akhir yang terburu-buru dan menggantung (dan sangat ajaib) adalah kekurangan fatal cerita ini menurut saya. Sebaiknya bisa diselesaikan secara realistis dan masuk akal. Oh iya by the way, *SPOILER* kalau hanya kaki Jaranda yang dikendalikan, bagaimana mungkin organ tubuh yang lain juga ikut menuruti perintah? Ah saya tak mengerti maksud penulis buku ini bagaimana.

Penilaian Akhir:

goodreads-badge-add-plus

Maju Iyus Pantang Mundur!

coveriyus

Judul: Maju Iyus Pantang Mundur!

Penulis: Boim Lebon

Penerbit: Lingkar Pena Kreativa

Jumlah Halaman: xxv + 134 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9799793651162

cooltext1660180343

Masa SMA? Saya terpaksa harus jujur, bahwa saya tidak pernah sampai duduk di bangku SMA apalagi punya ijazah SMA. Dan saya merasa lebih sedih lagi tidak pernah punya kenangan manis dengan teman sekelas, apalagi jatuh cinta pada teman sekelas! … karena saya sekolah di STM, muridnya cowok semua! – Dedi “Mi’ing” Gumelar, pelawak dan presenter

Waktu SMA saya rajin belajar. Tapi jarang masuk sekolah, karena saya belajarnya di luar sekolah, yaitu belajar bilyard. Menurut saya itu positif karena selain bisa bilyard juga bisa bercanda. Sampai sekarang candaannya jadi duit. – Komenk, pelawak

Dulu saya aktif di organisasi. Pernah ditampar guru pake kamus bahasa Inggris yang tebeeel, setebel muka saya sekarang kalau tampil di publik. – Mucle Bendio, pelawak

Bosen sama bacaan biasa? Pengen yang istimewa dan bikin ketawa? Udah, gebet aja buku baru Boim Lebon ini. Cerita dunia SMA-nya seru dan lucu abiz. Kamu juga bisa nostalgia lho!

cooltext1660176395

Selain serial Lupus, ternyata saya baru tahu Boim Lebon juga aktif menulis hingga menghasilkan berbagai buku. Salah satunya adalah buku berjudul “Maju Iyus Pantang Mundur!” ini. Meskipun tetap mengusung tema komedi, di buku ini Boim Lebon memberi sentuhan islami dan remaja (khususnya usia SMA) pada semua kisahnya. Terdapat sembilan cerita yang terdapat di buku ini. Semuanya bagus kok. Tapi saya akan membeberkan dua favorit saja ya.

Kisah berjudul “Trio Bebek” sebagai pembuka sungguh mengesankan bagi saya. Alkisah terdapat tiga orang pengurus mading sekolah di SMA Mandiri bernama Andra, Gugun, dan Boy. Dikatakan “bebek” dikarenakan mereka cenderung “cerewet” lewat tulisan yang mereka buat dalam menyikapi sebuah situasi dan kondusif yang tidak kondusif.

Di lapangan Senayan sejak pagi sampai sore tadi tidak ada pertandingan bola sama sekali. Hingga tak ada satu gol pun tercipta. Di sana juga tak terlihat wasit yang sibuk dengan peluitnya. Pedagang asongan jugatak ada. Penonton sepi. Mobil-mobil sepi. (hal. 3)

Sungguh kurang kerjaan bener trio bebek ini bikin berita tidak penting kayak gitu. Tetapi justru itulah yang membuat mading mereka laris manis dibaca seantero sekolah. Namun semua berubah ketika negara api menyerang secara tidak langsung mereka berkenalan dengan Nurhaliza, sang wakil ketua rohis sekolah. Yah layaknya anak muda, mereka terpikat dan saling berkompetisi dengan mengirim tulisan ke media cetak yang berbeda. Hasilnya sungguh mengejutkan yang bikin saya jadi ketawa.

Ada lagi kisah berjudul “Menuju Puncak Banget” yang memiliki tokoh utama bernama Komala. Sekilas judul cerita ini seperti judul jingle sebuah ajang pencarian bakat di televisi sepuluh tahun silam. Diceritakan Komala (yang kemudian dipanggil Mala) sedang mengikuti sebuah ajang pencarian bakat bernama Multi Talent Cup (entah ini kontes atau lomba sepak bola).

“Para anak muda itu sudah melupakan akar budayanya sendiri,” kata Mala setelah berhasil mendapatkan jalan keluar untuk penampilannya. (hal 38)

Benar saja, Mala menghadiri kontes tersebut dengan mengenakan pakaian yang sangat berbeda dengan seluruh peserta yang lain. Hal ini membuat juri menjadi terpukau dan memberi nilai tambah. Lantas apakah Mala lolos sebagai kontestan di ajang tersebut? Ternyata sungguh diluar dugaan Mala tentang hasil yang ia dapatkan.

Secara umum setiap kisah di buku ini memiliki keunikan masing-masing. Tetapi setiap cerita ada benang merah yaitu remaja dan islami. Selayaknya kisah islami pada umumnya, semua kisah di buku ini berujung *SPOILER* happy ending atau paling tidak ada akhir yang masuk akal. Tema islami yang disuguhkan juga membuat saya menemukan kesamaan pada mayoritas tokoh wanita di buku ini, yaitu berjilbab, santun, lemah lembut, namun tegas dan mandiri. Sungguh kombinasi ideal calon istri saya perempuan yang sesungguhnya.

Kekurangan yang saya rasakan ketika membaca buku ini adalah beberapa cerita ada yang ending-nya gantung. Jadi kesel gara-gara penasaran bagaimana akhirnya. Menurut saya itu cukup fatal untuk ukuran sebuah kumpulan cerpen. Seharusnya hakikat sebuah cerpen itu harus memiliki akhir atau end of story yang jelas, entah itu happy atau unhappy ending. Kalau akhirnya gantung sih, mending jadi cerbung di majalah aja. Oh iya cerita “Maju Iyus Pantang Mundur!” malah kurang begitu melekat dalam pikiran saya. Padahal judul itu tersaji dalam cover. Entah kenapa. Buku ini cocok dibaca mulai remaja hingga dewasa. Karena tema yang diangkat adalah problema remaja, terlebih dengan nuansa islami yang kental, bisa membuat para remaja pembaca menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Sekayu

coversekayu

Judul: Sekayu

Seri: Cerita Kenangan Nh. Dini #4

Penulis: Nh. Dini

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 184

Terbit Perdana: Januari 1988

ISBN: 9789794034118

cooltext1660180343

“Alangkah sukar serta tidak enak menjadi anak-anak, karena semua dilarang, segala sesuatu tidak bisa diperbuat,” demikian Dini remaja mengeluh. Dini tidak mau lagi disebut anak-anak. Ia sudah berada di ambang kedewasaan. Ia mau agar orang memperlakukan dirinya seperti orang dewasa: orang yang berhak dan bisa berbuat sekehendak hati.

Dalam Sekayu dikisahkan bagaimana Dini (yang telah memasuki dunia remaja) melihat segala persoalan di sekitar rumah tangga, teman, dan kotanya. Juga dikisahkan rasa kesepian Dini setelah ditinggal oleh ayah tercinta, disusul dengan cinta remajanya yang sepihak, dan perkawinan kakaknya. Semua dikisahkannya dengan manis dan tidak membosankan. Buku ini adalah buku keempat dari seri “cerita kenangan” Nh. Dini.

cooltext1660176395

Nh. Dini bukanlah orang baru dalam dunia tulis-menulis di Indonesia. Berbagai karya telah ia hasilkan. Novel ini mengajak pembaca apabila ingin melihat seseorang yang masih beranjak dewasa menyikapi hal-hal di sekitarnya dengan positif. Karena meskipun terdapat berbagai masalah, bukan alasan untuk larut dalam kesedihan. Dengan penulisan yang teliti, jujur dan halus, pengalaman pribadi pengarang ini merupakan salah satu sumber daya ciptanya yang subur di kemudian hari.

Cerita dibuka dengan kematian ayah dari tokoh utama bernama Sri Hardini. Kematian kepala keluarga yang dikasihinya membuat ia bagai kehilangan kehidupannya. Namun nasi telah menjadi bubur. Tak mungkin ia bisa menghidupkan ayahnya kembali, meskipun segala kenangan tentang ayahnya, dari menonton wayang, bermain, sampai melihat perayaan di alun-alun kota sering menghuni pikirannya.

“Alangkah sukar serta tidak enak menjadi anak-anak, karena semua dilarang, segala sesuatu tidak bisa diperbuat. (hal. 14)

Sebagai anak bungsu, Hardini hanya bisa diam mendapati kakak-kakaknya akan meneruskan sekolah dan meninggalkannya dengan sang ibu dan seorang kakaknya. Dini tidak mau lagi disebut anak-anak. Ia sudah berada di ambang kedewasaan. Ia mau agar orang memperlakukan dirinya seperti orang dewasa: orang yang berhak dan bisa berbuat sekehendak hati. Heratih sebagai anak sulung telah berkeluarga dan menetap di kota lain dengan suaminya Utono. Hanya sesekali saja ia menengok ibu dan Hardini.

Anak kedua, Maryam, yang masih mengecap bangku kuliah, sering pulang pergi dari kota tempat tinggalnya ke Gadjah Mada Jogjakarta. Lain halnya dengan si tengah, Nugroho, ia masih duduk di bangku SMU yang masih awam dengan kehidupan berumahtangga. Kemudian ada Teguh, adik Heratih, Maryam, dan Nugroho sekaligus kakah Hardini. Entah kenapa, ia selalu terlibat cekcok dengan Nugroho. Meskipun itu adalah hal yang sepele.

Dalam bidang karang-mengarang, pintu keluar pertama bagiku ialah siaran-siaran di RRI. (hal. 15)

Hardini yang hobi membaca dan menulis, akhirnya memberanikan diri untuk mengirimkan tulisannya ke radio RRI Yogjakarta. Pucuk dicinta ulam tiba, tulisannya yang berupa cerpen dan sajak, sering mengisi saluran sandiwara di radio tersebut. Namun permasalahan datang saat ia mengenal yang namanya cinta. Saat di Sekolah Rakyat (kini disebut Sekolah Dasar), ia mendengar kabar bahwa ada seorang anak laki-laki yang menaruh perhatian padanya. Tapi, ia tak ingin konsentrasinya bersekolah terganggu dengan gosip itu.

Setelah lulus dan meneruskan di SMP, ia mulai merasakan getaran cinta pada seseorang bernama Digar. Namun, apa daya, ternyata cinta itu bertepuk sebelah tangan. Meskipun Digar sangat perhatian padanya, Digar telah memilih orang lain yang hinggap di hatinya. Adik Digar, Marso, yang notabene adalah cowok idola di sekolahnya, mulai mendekati Hardini. Namun Hardini (yang lambat laun dipanggil Dini), tak menghiraukan perhatian Marso kepadanya.

Di SMA, ia kembali mengalami cinta sepihak dengan guru pemberantas buta huruf di desanya. Meskipun sang guru yang masih muda ini, Pak Yanto sangat menaruh perhatian terhadapnya, Dini hanya bisa menghindarinya kapanpun ia sempat. Lantas, ia jatuh hati kepada salah seorang pemain drama pada perkumpulan karawitan yang diikutinya. Namun apa daya, Dini hanya dianggap adik semata oleh Mas Nur, sang pujaan hati Dini.

Persoalan di rumahnya tidak begitu berat. Karena uang honorarium dari radio itu telah mampu mencukupi sebagian kebutuhannya. Sehingga ia tak perlu meminta tambahan uang pada ibunya yang telah ditinggal sang ayah. Perlakuan sang ibu pada awalnya adalah menganggap Dini sebagai anak kecil yang lugu dan tak tahu apa-apa. Namu lambat laun, sang ibu mulai terbuka pada Dini yang akhirnya membuat Dini bahagia. Ia pun mulai berkomentar terhadap orang-orang di sekelilingnya. Mulai dari sanak saudaranya, tetangganya, sampai bakal calon pengantin Nugroho dan Maryam. Kesuksesan kedua kakaknya dalam percintaan sampai ke pelaminan tidak menurun pada Dini. Ia seringkali mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun ia hanya bisa diam dan merenungi segala hal yang mengisi hari-harinya.

Bahasa yang digunakan penulis dalam novel ini adalah bahasa yang singkat dan mudah dimengerti. Selain itu, penulis mampu menghadirkan suasana tradisional namun peduli dengan perkembangan jaman dengan bahasanya. Bahasa yang seolah menasehati namun tidak menggurui membuat kita dapat menangkap pesan moral yang tersirat di dalamnya. Permasalahan Dini di sekolah, rumah, tempat karawitan, hingga masalah percintaannya cukup menarik untuk diikuti.

Namun sayangnya, meskipun bahasa di novel ini tidak terlalu kaku, banyak terdapat istilah-istilah kedaerahan yang kurang dimengerti. Selain itu, banyak pula istilah-istilah yang artinya terdapat pada novel yang lebih dahulu terbit. Hal ini akhirnya membuat pembaca yang belum pernah membaca karya Nh. Dini yang lain menjadi bingung. Alur yang maju membuat kita nyaman membacanya. Tetapi seringkali terdapat cerita yang menceritakan masa lalu (flashback), yang mungkin membuat sebagian pembaca agak kesulitan saat kembali ke cerita utama. Namun secara keseluruhan, novel ini sanggup membuat pembaca ingin mengetahui akhir ceritanya. Novel ini tentu sangat berharga bagi peminat sastra.  Novel ini teramat sayang apabila dilewatkan begitu saja.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Babi Ngesot

coverbabi

Judul: Babi Ngesot

Sub Judul: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: viii + 240

Terbit Perdana: April 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2008

ISBN: 9786028066105

cooltext1660180343

Kesurupan Mbak Minah semakin menjadi-jadi. Tubuhnya semakin susah dikendalikan oleh kita bertiga. Lalu tiba-tiba, Ingga berkata, ‘Pencet idungnya, Bang.’

‘Apa?’

‘Idungnya,’ Ingga meyakinkan. ‘Aku pernah baca di mana gitu, pencet aja idungnya.’

‘Tapi, Ngga?’

‘ABANG! PENCET IDUNGNYA SEKARANG!’ Edgar memerintahkan gue.

Daripada kehilangan nyawa, gue ikutin saran mereka. HAP! Gue pencet idungnya Mbak Minah. Kita semua terdiam untuk beberapa saat. Semua menunggu efek yang datang dari mencet idung orang kesurupan. Apakah setannya akan keluar? Apa yang akan terjadi setelah ini?

Ternyata,

gak ngefek.

‘Kok nggak ngaruh?’ tanya gue.

Ami, yang emang expert soal kesurupan, langsung teriak, ‘YA IYALAH!!!! JEMPOL KAKINYA TAU YANG DIPENCET, BUKAN IDUNG!’

Babi Ngesot: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang adalah kumpulan cerita pendek pengalaman pribadi Raditya Dika, penulis Indonesia terbodoh saat ini. Simak tujuh belas cerita aneh-tapi-nyata Raditya di buku ini, termasuk kalang kabut digencet kakak kelas, dihantuin setan rambut poni, sampai perjuangan menyelamatkan keteknya yang sedang ‘sakit’

cooltext1660176395

Ini merupakan buku keempat Raditya Dika setelah Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, dan Radikus Makankakus. Saya sedikit heran juga saat membaca judul novel ini. Apakah suster ngesot telah melakukan hubungan terlarang dengan babi ngepet? Ataukah kedua bayi babi ngepet yang baru lahir telah dipotong demi memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia? Saya tidak tahu.

Anyway, novel ini memuat 17 cerita gokil dan konyol khas Raditya Dika. Karena tidak mungkin saya menceritakan kesan-kesan saya membaca semua ceritanya, jadi saya ambil acak saja ya. Soalnya di buku ini tidak ada yang tidak saya sukai. Semua sukses menorehkan kesan mendalam di sanubari hati saya *apasih*

Sebuah cerita berjudul “Ketekku, Bertahanlah!” adalah salah satu kisah yang menggelikan sekaligus menjijikkan. Jadi saya ketawa sambil agak-agak jijik gitu. Jadi disini diceritakan bahwa Dika mulai (atau telah lama) terserang hypochondria, yaitu ketakutan abnormal seseorang atas kesehatan diri sendiri. Terutama kekhawatiran dirinya terkena penyakit serius.

Di bawah ketek gue ada tonjolan kecil. ‘Tonjolan apa ini? Perasaan kemarin kok gak ada,’ pikir gue. (hal. 109)

Parno yang semakin menjadi membuatnya mencari tahu secara absurd di internet. Merasa tak mendapat jawaban pasti, akhirnya Dika meluncur ke dokter. Setelah sesi interview *dikira wawancara kerja* dengan dokter, akhirnya Dika menceritakan kronologis masalah keteknya. Ternyata dokter memberikan jawaban yang membuat Dika ternganga lebar.

Ada lagi cerita yang mengusung judul cover yaitu “Babi Ngesot” sebagai kisah dua terakhir. Jadi Dika rencananya mau pelihara tuyul sebagai jalan pintas mendapatkan uang berlimpah. Ternyata tuyul itu ada berbagai jenis spesies, yaitu tuyul profesional, tuyul enterprise, dan tuyul maestro. Dari berbagai deskripsinya sih, sepertinya tuyul merupakan pekerjaan menjanjikan di masa depan *setelah mati*

Gue selalu seneng sama anak kecil. Tuyul, dalam beberapa hal, seperti anak kecil, kan? (hal. 224)

Sepertinya mengasosiasikan tuyul dengan anak kecil adalah hal yang salah. Yaiyalah, wong kemudian Dika melaporkan dengan gembira rencananya memelihara tuyul kepada sang kekasih. Bagaimana reaksi pacarnya ketika mendengar rencana tersebut? Hmm asik deh pokoknya.

Raditya Dika kayaknya udah gak perlu diragukan lagi gaya nulisnya. Selalu gokil dan kocak parah. Sebenarnya sih kejadian yang diceritakan adalah hal yang biasa dan lumrah dialami setiap orang. Namun kalau umumnya orang lain menceritakan dengan “biasa” hanya sekitar 2-3 halaman, Raditya Dika bisa memanjangkan hingga 15 halaman lebih dengan dominasi humor. Inilah yang membuat Dika berbeda dengan penulis yang lain.

Di buku ini juga diselingi dengan komik mini 1 halaman untuk tiap cerita. Well, ini sangat membantu saya membayangkan keadaan yang diceritakan. Berkali-kali saya ketawa ngakak pas baca. Karena tak jarang komik ini lebih lucu daripada tulisan narasi yang ada. Sehingga seolah-olah narasi dan komik ini saling melengkapi satu sama lain bagai sejoli.

Perihal judul Babi Ngesot, seperti yang saya sebutkan diawal, saya awalnya ngira ada kawin silang antara babi ngepet dengan suster ngesot akibat perselingkuhan terlarang di dunia supranatural. Tapi ternyata kok gak ada ya. Bahkan di kisah yang berjudul sama dengan cover, sang babi ngesot tidak dijelaskan dengan banyak. Ujung-ujungnya jadi tuyul. Jadi agak gak sinkron gitu.

Overall, novel ini bisa sangat menghibur ketika kesedihan melanda hati. Apalagi humor yang disajikan sangat Indonesia banget celetukan dan pilihan katanya. Tetapi bisa juga setelah membaca novel ini menjadi makin stress karena tulisan Dika yang super gokil. Setiap lapisan masyarakat bisa membaca buku ini kok.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Pingsan Together

coverlupusk

Judul: Pingsan Together

Seri: Lupus Kecil

Penulis: Hilman Hariwijaya & Boim Lebon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 112 halaman

Terbit Perdana: Oktober 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Oktober 2003

ISBN: 9789792205136

cooltext1660180343

Mami dan Papi ketiban sial. Mami ditipu dua laki-laki yang mengaku tukang servis jok. Dan yang bikin kesel, Papi juga ditipu dua lelaki yang menipu Mami itu. Keluarga Lupus kompak pingsan sama-sama alias pingsan together!

Dalam buku ini juga ada cerita-cerita menarik lainnya, seperti cerita tentang Lulu yang nyaris hilang terbawa bus, atau tentang Lupus yang mau kabur dari rumah, dan masih banyak lagi!

Yang jelas, di setiap cerita selalu ada tebakan konyol dan… ada bonus dahsyatnya, yaitu kom…mik! Seru deh pokoknya!

cooltext1660176395

Ini merupakan buku seri Lupus kecil yang pertama dan satu-satunya yang saya miliki. Dalam buku ini terdapat sepuluh cerita yang memiliki keunikan masing-masing. Cerita yang paling menarik bagi saya adalah “Kerja di Hari Minggu? Oh, No!”.

Jadi dalam cerita ini, entah kenapa tiba-tiba Mami memberikan titah kepada Lupus dan Lulu untuk membereskan rumah. Kebetulan itu adalah hari Minggu. Tentu saja Lupus dan Lulu (yang berstatus anak kecil nan imut) ngomel-ngomel karena tak rela hari libur mereka terganggu.

 “Nah, ini yang belum kami ngerti. Maksudnya beres-beres rumah itu gimana? Soalnya rumah kita ini kelihatannya beres-beres aja, tidak kurang suatu apa,” tanya Lupus bergaya pejabat. (hal. 23)

Tentu saja Mami memiliki jawaban jitu (dan iming-iming imbalan) bagi kedua anaknya agar bersedia membantu dalam rangka kebersihan rumah. Apakah hanya segitu saja? Tentu tidak. Meski awalnya berjalan cukup lancar, lambat laun hari bersih-bersih itu menjadi malapetaka dan berujung membuat Papi murka.

Cerita yang sangat menghibur juga bisa ditemukan pada kisah “Pingsan Together” yang merupakan judul di bagian cover. Sebenarnya cerita ini bersambung dengan kisah berjudul “Memburu Mobil yang Hilang”. Sesuai yang dicantumkan pada blurb diatas, sepertinya keluarga Lupus sedang tertimpa cobaan berat. Mulai dari Mami yang ditipu tukang servis jok hingga Papi yang mobilnya hilang dicuri. Apesnya lagi, penipu Mami dan pencuri mobil Papi adalah orang yang sama. Tentu saja hal ini membuat uang simpanan mereka menipis. Padahal Lupus & Lulu sudah dijanjikan piknik.

“Tenang.. Tenang…,” Papi masih berusaha menenangkan. “Kita semua akan tenang, karena sebentar lagi kita pasti… Pingsan together…” (hal. 63)

Alih-alih lapor polisi, mereka sekeluarga pergi ke dukun demi menemukan sang pelaku. Hal ini dikarenakan STNK mobil Papi sudah kadaluwarsa. Takutnya disita polisi kalo ketahuan. Di tempat dukun itupun juga tidak terlepas dari kekonyolan yang dialami hingga akhirnya pulang dengan sebuah jawaban mengejutkan atas permasalahan mereka.

Lupus merupakan buah karya kolaborasi Hilman Hariwijaya & Boim Lebon. Seri Lupus sempat melejit dan digandrungi remaja pada tahun 90-an. Bahkan sampai muncul serial televisinya juga. Saya pribadi tidak tahu tentang bekennya Lupus, karena saya masih usia SD saat itu (dan anggapan Lupus adalah nama penyakit membuat saya tidak peduli).

Di buku ini, Lupus kecil digambarkan sebagai anak yang suka main tebak-tebakan. Entah mengapa kebiasaan ini dimunculkan sebagai hobi Lupus. Eh adiknya, Lulu, juga demen main tebakan juga. Jadi sangat lumayan saya bisa menemukan berbagai tebakan menarik dalam sepuluh kisah yang disajikan. Selain itu, konflik yang disuguhkan setiap cerita sungguh sederhana sehingga mudah dimengerti. Penyelesaian dan pesan moral setiap cerita bisa dipetik untuk segala usia.

Meskipun tebakannya sangat banyak, saya rasa hal ini menjadi bumerang bagi jalannya cerita itu sendiri. Karena saya rasa beberapa tebakan terkesan dipaksakan untuk masuk dalam cerita, alih-alih mendukung kisah yang disajikan. Selain itu, karena buku ini terbit akhir 2003 membuatnya seolah-olah (memang) jadul sehingga ketika saya membacanya di masa kini menjadi “aneh dan kuno” karena perbedaan kebiasaan.

Satu lagi yang menurut saya kelemahan buku ini adalah kurangnya eksplorasi tokoh dan penokohan. Hampir pasti di setiap cerita hanya berkutat pada Lupus, Lulu, Mami, dan Papi. Selang-seling sampai bosen. Memang sih saya tau mereka adalah tokoh utama. Tapi saya rasa menghadirkan keempat tokoh terus-terusan malah jadi membosankan. Padahal tokoh lain juga bisa dijelaskan secara menarik, misalnya teman-teman Lupus atau tetangga Mami.

Secara umum, pantas saja kisah Lupus Kecil bisa dijadikan bacaan mendidik bagi anak-anak. Selain itu, setiap cerita ada bosmik alias bonus sisipan komik dua halaman sehingga membuat pembaca mudah menggambarkan situasi cerita yang didominasi teks. Anak-anak bisa menangkap maksud setiap cerita dengan mudah karena permasalahan yang diangkat sangat bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Telepon Umum & Kecoak Nungging

coverlupusa

Judul: Telepon Umum & Kecoak Nungging

Seri: Lupus ABG

Penulis: Hilman Hariwijaya & Boim Lebon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 96 halaman

Terbit Perdana: Oktober 1999

Kepemilikan: Cetakan Keempat, September 2004

ISBN: 9789796554194

cooltext1660180343

Lupus jail!

Semua orang tau!

Lupus usil!

Semua orang ngerti!

Lupus centil!

Semua orang juga, eh, enggak ding!

Gara-gara ber-ail-ria dengan kecoak nungging, si Lupus bisa mesra ama Prudence!

“Cayangku, kamu tau nggak hewan bersel satu?”

“Amuba, honey.”

“Kalo hewan bersel banyak?”

“Enggak tau, tuh.”

“Amuba lagi kampanye! Hehehe!”

Tapi gara-gara kecoak nungging itu ngedatenya juga jadi berantakan!

Apa istimewanya kecoak nungging itu, kok bisa-bisanya bikin Lupus senang sekaligus sengsara? Pengen tau? Baca aja!

cooltext1660176395

Lupus sekarang sudah ABG alias Anak Baru Galau *eh. Maksudnya Anak Baru Gede, atau bahasa resminya sih Remaja. Ketika masih remaja, saya teringat dengan perilaku seenaknya sendiri dan semau gue, tapi tak jarang menimbulkan penyesalan ataupun malapetaka. Kalo istilah jaman sekarang sih, ababil kali ya. Begitu pula yang dialami oleh Lupus.

Di buku ini ada delapan cerita mengenai kehidupan Lupus yang beranjak remaja. Mulai dari mengenal cinta-cintaan, pacaran, pergaulan diluar sekolah, dan sebagainya. Dari sekian kisah tersebut, saya suka dengan cerita berjudul “Biasa, Tujuh Belasan Lagi”. Cerita ini mengangkat problema Lupus yang tergabung dengan Karang Taruna kompleks rumahnya. Lupus dan anak muda sekompleks berencana mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia (aduh jadi kangen masa-masa di karang taruna desa saya dulu).

Tetapi masalahnya, selain anak muda, bapak-bapak dan ibu-ibu komplek rumah Lupus juga mengadakan acara peringatan kemerdekaan pula. Otomatis dana yang diperoleh Lupus cs jadi berkurang. Lha donaturnya sibuk bikin acara juga. Bukan Lupus namanya jika tidak kreatif. Ia sukses menemukan ide untuk sokongan dana sebagai bekal acara itu. Meski dengan pinjaman Bang Aziz, sang ketua Karang Taruna. Namun akhirnya malah menemui hal yang sangat menyedihkan bagi Lupus, Bang Aziz, dan anggotanya yang lain.

“Itu juga betul. Tapi, Pus, kamu tau kan kalo pahlawan-pahlawan kita berkorban tanpa pamrih. Mereka rela mengorbankan segala-galanya, dari mulai uang, tenaga, pikiran, ya semuanya dikorbankan demi kemerdekaan bangsa kita. Coba kamu bandingkan dengan pengorbanan kita ini. Nggak ada apa-apanya, kan?” (hal. 43) 

Bagus banget gak sih kata-katanya Bang Aziz itu. Saya sendiri merasa tersindir juga karena kurang (bahkan tidak) bisa menghargai pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Selain kisah diatas, yang menurut saya menarik adalah cerita berjudul “Tamu Tak Diundang Itu Bernama Dadang”. Kisah ini terdiri dari dua bagian yang sekaligus menjadi penutup rangkaian kisah di buku ini. Membaca istilah tamu tak diundang, saya langsung teringat sejenis-setan-yang-kamu-pasti-sudah-tau. Tetapi perkiraan saya meleset sodara-sodara.

Jadi, Dadang itu adalah teman Mami waktu masih SMA dulu. Atau lebih tepatnya mungkin adalah kekasih Mami ketika SMA. Nah, si Dadang ini tiba-tiba muncul di depan rumah Mami setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar. Tentu saja Mami kaget sekaligus senang bisa bertemu dengan cinta masa lalunya *ahem CLBK ni yee*.

Hal ini membuat Papi menjadi jealous. Ya iya lah, suami mana yang gak cemburu coba. Jadi Papi berusaha dengan keras mencari tahu hubungan Mami dan Dadang itu. Yah siapa tau tiba-tiba ada sesuatu yang dirahasiakan. Saya suka dengan kata-kata Papi di akhir cerita ini. Sangat makjleb banget.

“Ya, sebetulnya Papi ngerti kalo Mami sedang berada dalam sebuah kenangan manis. Tapi yang namanya kenangan hanya boleh diingat-ingat aja, nggak usah berharap kenangan itu menjadi nyata lagi.” (hal. 84)

Seperti seri Lupus Kecil, buku ini masih mempertahankan hobi Lupus (dan Lulu) yaitu bermain tebakan. Setiap cerita ada aja tebakan yang bisa saya comot ketika ngumpul bareng teman-teman. Kemajuannya, tebakan yang tersaji di buku ini tidak terlalu banyak dan fokus kepada inti cerita. Konflik dan problematika yang disuguhkan sangat dekat dengan kejadian sehari-hari. Sehingga memahami dan menarik kesimpulan juga sangat terbantu.

Selain itu, setiap kisah pasti ada pesan moralnya, atau minimal ada kata-kata mutiara seperti diatas. Sehingga saya rasa kisah tersebut tidak hanya lucu, namun ada goal yang tercapai. Karikatur yang menhiasi setiap cerita (biasanya dua karikatur) membuat proses membaca jadi happy. Soalnya imut sekali gitu lho hehehe. Oh iya, di bagian tengah buku, ada delapan halaman mengenai tips & trik dalam menghadapi masalah sehari-hari. Tentu saja ditulis hanya untuk lucu-lucuan saja.

Sayangnya, edisi perdana tahun 1999 membuat berbagai macam hal di buku ini menjadi ketinggalan jaman. Contohnya adalah kado yang dibeli Lupus untuk Lulu yaitu sebuah pager seharga dua puluh ribu perak. Saya gak tau ya tingkat nilai rupiah jaman itu seperti apa, tapi hal ini membuat saya jadi berpikir sepertinya buku ini memang untuk generasi om tante saya. Selain itu penyebutan mobil menjadi boil juga sempat membingungkan saya yang tidak mengerti maksudnya. Oh iya, bagaimana dengan cerita “Telepon Umum & Kecoak Nungging” yang tercantum di cover? Sungguh disayangkan, saya sama sekali tidak bisa mengerti kenapa judul cerita itu yang dipilih sebagai headline (selain berada di urutan pertama tentu saja). Karena saya rasa kisah itu justru biasa-biasa saja dan tidak terlalu greget.

Lupus ABG ini menurut saya sangat cocok dibaca bagi segala umur. Karena bahasa yang sangat mudah dipahami dan tidak kaku, serta kelucuan yang dikemukakan juga sesuai dengan jamannya. Sebab meskipun sudah ABG, Lupus masih seorang anak yang baik dan mengutamakan keluarga. Berbeda dengan ABG jaman sekarang yang bertransformasi jadi cabe-cabean dan terong-terongan. *halah malah OOT*

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Marmut Merah Jambu

covermarmut

Judul: Marmut Merah Jambu

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: vi + 222 halaman

Terbit Perdana: Mei 2010

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, 2012

ISBN: 9786028066648

cooltext1660180343

… Momennya lagi pas banget, pikir gue. Seperti yang Ara tadi anjurkan lewat telepon, ini adalah saatnya gue bilang ke Ina kalau gue sangat menikmati malam ini.

‘Tau gak sih, Na,’ kata gue sambil menyetir, memberanikan diri untuk bicara. ‘Gue seneng banget hari ini.’

‘Seneng kenapa?’ tanya Ina.

‘Seneng, soalnya,’ kata gue, berhenti bicara sebentar dan menengok ke kiri untuk melihat muka Ina. Gue masang muka sok ganteng. Gue natap mukanya dengan jelas, memasang mata nanar, berkata dengan sungguh-sungguh, ‘Seneng… soalnya… hari ini akhirnya… gue bisa pergi sama-’

‘AWAS!!!!’ jerit Ina memecahkan suasana.

BRAK! Mobil gue naik ke atas trotoar. Mobil masih melaju kencang, dan di depan ada pohon gede. Ina ngejerit, ‘Itu pohon! ITU ADA POHON, GOBLOK!’

‘AAAAAAAAHHHH!’ jerit gue, kayak cewek disetrum. Lalu gue ngerem dengan kencang. Ina teriak lepas. Suasana chaos.

Marmut Merah Jambu adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sebagian besar dari tiga belas tulisan ngawur di dalamnya adalah pengalaman dan observasi Raditya dalam menjalani hal paling absurd di dunia: jatuh cinta.

cooltext1660176395

Sebuah rasa yang dirasakan setiap makhluk hidup di dunia, termasuk manusia. Sebuah pengalaman hidup manusia yang mungkin tak hanya sekali bagi sebagian orang. Sebuah rasa yang tidak dapat dipikirkan oleh otak, namun dapat dirasakan oleh hati. Apakah rasa itu? Cinta. Raditya Dika mencoba untuk mengangkat sebuah perasaan universal sejuta umat dalam novel ketiganya. Itulah sebabnya judul novel kali ini menyinggung merah jambu. Sebuah warna yang khas dengan peasaan cinta, terlebih pada pengalaman jatuh cinta.

Novel dibuka dengan pengalaman Dika – dan beberapa temannya – yang jatuh cinta kepada seorang gadis saat masih duduk di bangku SMP. Layaknya remaja ABG yang mash awam dengan keberanian mengungkapkan perasaan, mereka bertiga hanya bisa melakukan hal yang umum dilakukan: jatuh cinta diam-diam. Mulai dari memandang dari kejauhan, menelpon tapi tidak bersuara, dan lain lain.

Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya hanya melamun dengan tidak pasti, memandang waktu yang berjalan dengan sangat cepat dan menyesali semua perbuatan yang tidak mereka lakukan dulu. (hal. 14)

Bab pertama ini sukses besar menyindir dan menusuk hati saya dalam dunia perjombloan kronis yang hanya bisa memendam perasaan kepada orang yang disukai. Saya tidak menampik bahwa yang dituliskan Dika dalam berbagai kalimat di bab pembuka ini sungguh benar adanya. Tapi ternyata Dika tidak larut dalam kata dan kalimat puitis mengharu-biru. Ia tetap dengan celetukan kocak dan humor khas Indonesia dalam beberapa kisah selanjutnya.

Kisah yang berjudul “Panduan Menghadapi Cewek Sehari-hari” adalah salah satu kumpulan tips yang diberikan Dika dalam menghadapi kaum perempuan. Di bagian ini semuanya dikemas dengan lucu namun masih terselip beberapa fakta yang benar adanya. Dibagian ini kemungkinan banyak para gadis dan non-gadis diluar sana yang tersindir dengan tulisan Dika yang ini. Namun mungkin para kaum adam juga sedikit merasa makjleb saat membaca tips ini.

Cowok menjadi budak cewek pas malem minggu. Karena sebagai seorang cowok, kita diharuskan untuk selalu menghabiskan malam minggu bersama pacar kita. Dan ketika kita punya rencana lain, si cewek akan membuat cowoknya memilih antara rencana lain itu atau dirinya. (hal. 100)

Kisah terakhir yang ada di novel ini berjudul sama seperti cover, yaitu “Marmut Merah Jambu”. Disini dibeberkan apa latar belakang Dika menulis novel yang mengangkat tema jatuh cinta, terutama tentang pengalamannya jatuh cinta-pacaran-putus yang ia alami selama ini. Alih-alih meletakkan bagian ini di awal novel, namun Dika menempatkannya di akhir. Sehingga kisah ini berhasil menutup rangkaian cerita novel di buku ini dengan sangat manis.

Gue memulai buku ini dengan berusaha memahamiapa itu cinta melalui introspeksi kedalam pengalaman-pengalamangue. Dan di halaman terakhir ini, gue merasa…tetap gak mengerti, sama seperti gue memulai halaman pertama. (hal. 218)

Pada dasarnya, novel ini menjelaskan sebuah perasaan jatuh cinta yang selalu dirasakan setiap orang minimal sekali dalam hidupnya. Dengan adanya novel ini, Dika berharap agar pembaca bisa lebih mengerti esensi jatuh cinta serta dapat memahami mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam jatuh cinta. Termasuk mengetahui bahwa jatuh cinta tak hanya selalu berbunga-bunga, namun bisa pula pahit tak terkira. Tetapi setiap hal tersebut bisa dilihat secara positif dengan sentuhan humor.

Menurut saya pribadi, tulisan Dika tidak ada yang membosankan. Maksudnya tiap buku ada hal kocak lain yang disajikan, sehingga ciri khas dan sensasi yang berbeda bisa dirasakan ketika membacanya alias tidak hanya sekedar berlalu begitu saja. Ketika membaca judul buku ini yaitu marmut merah jambu, bisa saya tebak isinya tidak jauh-jauh dari cinta. Di buku ini, tiap cerita ada semacam benang merah yang menghubungkan, yaitu jatuh cinta dan segala hal merah jambu itu tadi. Ada kalanya cerita tersebut dibuka dengan konyol, namun lambat laun malah mengharu biru.

Saya rasa kisah yang berjudul “Panduan Menghadapi Cewek Sehari-hari” agak kurang pas bila dibandingkan dengan kisah yang lain. Saya sesungguhnya suka sekali dengan part ini. Tetapi maksud saya, bagian ini terkesan meng-underestimate cewek (dan cowok juga sih). Bukankah dalam jatuh cinta (dan proses selanjutnya) tidak perlu berkeluh kesah dengan yang ada? Katanya cinta, kok masih menggerutu aja.

Selain itu saya rasa Dika sangat tidak cocok dengan genre yang menye-menye seperti yang diusung novel ini. Image yang saya berikan kepadanya adalah sosok yang gokil dan kocak dalam bercerita. Saya sangat bersyukur sense of humor yang tersaji di buku ini masih mendominasi dibandingkan romansanya. Sehingga tidak mengurangi minat saya untuk menghabiskan novel ini hingga bagian terakhir.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

ga-gi-gu giGi

covergagigu

Judul: ga-gi-gu giGi

Tagline: Dunia Dukun Pergigian, Kisah Unjuk Gokil Mahasiswa Kedokteran Gigi

Penulis: Lia Indra Andriana

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah halaman: 168 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9786028260084

cooltext1660180343

*kisah-kisah gokil bikin meler… tentang rahasia dunia pergiGian yang bikin ngakak*

inilah daftar kelakuan unik + menarik dari pasien-pasien yang datang ke klinik FKG:

  1. Setelah duduk di dental chair, langsung buka mulut. Padahal operatornya (mahasiswa/dokter) saat itu mau tanya-tanya dulu apa… *hobi, shio, dan ukuran sepatunya, ehh maksudnya apa keluhannya.
  2. Bahkan sebelum si operator selesai melakukan tanya jawab tentang keluhannya itu (kapan sakitnya, udah minum obat belum, gimana rasa sakitnya, dll), si pasien yang kebanyakan enggak sabar langsung nunjuk-nunjuk ke giGinya yang bermasalah: ’Ini lho dok *suara ga jelas soalnya sambil buka mulut, yang ini’.
  3. Menelan air yang seharusnya dibuat kumur. *halah, tau aja klo harga minuman sekarang lagi mahal :)
  4. Duduk menyilangkan kaki di dental chair sambil ngedip-ngedipin mata. Kayak playboy katro siap maen catur di pos hansip.
  5. Dandan sebelum foto. Dikiranya ini mau photobox, padahal kan foto rontgen giGi doang :)

cooltext1660176395

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “gigi”? Kalo saya sih, teringat sang gigi emas yang harganya mahal *uhuk*. Lantas, ketika melihat buku yang mengangkat tentang dunia sang maestro gigi a.k.a (calon) dokter gigi, saya tertarik sekali. Apalagi genre yang diangkat adalah nonfiksi komedi. Saya penasaran hal konyol apa yang bisa terjadi dalam dunia dokter gigi yang terkesan mahal (biayanya) itu.

Novel ini mengangkat dunia para calon alias mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi yang serba konyol dan mengundang tawa. Ada 35 cerita unik menggelitik yang penulis hadirkan dalam masa-masa ia menempuh pendidikan dokter spesialis itu. Karena tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, jadi saya ambil beberapa yang mengesankan saja ya.

Adalah kisah nomer 3 berjudul “FKG: Fakultas Keliling Gang”. Ketika membaca judul ini, kening saya berkerut heran. Apakah saat ini FKG sudah berganti nama berdasarkan SK Menteri Kesehatan? Oh ternyata tidak. Jadi disebutkan demikian dikarenakan para mahasiswa FKG yang sedang praktik diwajibkan mencari calon pasien yang bermasalah dengan giginya. Salah satu caranya dengan berkeliling gang demi gang perkampungan untuk mencari calon pasien. Mudah? Tentu tidak. Ternyata orang yang bermasalah dengan giginya itu sangat sedikit. Kalaupun ada, pasti jaim enggan diperiksa (gratis) sok-sok sehat-sehat aja.

Hopeless deh… Padahal jelas-jelas gigi depannya lubang item-item. Ini mah sama aja dengan pencuri lagi pegang barang curian tapi enggak ngaku. (Hal. 23)

Gilee niat bener gitu lho. Beda dengan dokter umum yang saya rasa lebih beragam penyakit yang dikeluhkan sehingga lebih mudah dapet pasien. Lha ini, nyari pasien yang bermasalah dengan gigi, terlebih ketidakpercayaan dengan status yang masih mahasiswa, membuat sulitnya dobel.

Yang cukup menarik lagi adalah kisah kesepuluh berjudul “Dia Naksir Enggak, Ya? Bawa ke Dokter!!!”. Baiklah saya akui saya terkesan dengan ini karena bisa menjadi salah satu tips bagi saya yang jomblo untuk mengetahui gebetan saya demen ama saya atau enggak. Salah satunya dengan dibawa ke dokter (dalam hal ini dijelaskan klinik FKG sebagai contoh). Dibaca-baca sih, masuk akal juga. Tapi masalahnya, bagaimana saya ngajak gebetan yang saya sendiri juga masih malu-malu kucing untuk dibawa ke dokter.

Bila dijelaskan secara medis, begini: saat seseorang memiliki perasaan naksir, kerja jantung akan meningkat karena adanya produksi adrenalin yang lebih. (hal. 53)

Tuh kan berguna banget penjelasannya. Bisa segera dipraktekin nih *uhuk*. Berbagai kisah lainnya juga cukup menarik untuk diikuti. 33 cerita yang lain rata-rata mengenai pengalaman menggelikan ketika sedang ko-ass, ujian praktik dengan PPDGS, dan trivia-trivia terselubung tentang dunia pergigian.

Di bagian awal buku, penulis sudah menegaskan bahwa penulisan “gigi” diubah menjadi “giGi” untuk menghindari adanya salah persepsi dengan group band Gigi yang telah beken di Indonesia. Jadi emang bukan gara-gara typo. Secara umum tidak ada masalah sih untuk penulisan.

Melihat covernya yang unyu, saya langsung kepincut melihat gigi-gigi yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Ada gigi susu, gigi berkawat, karang gigi, hingga gigi emas. Alangkah gembiranya jika gigi saya bisa seunyu cover itu *atau malah menyeramkan*

Nilai plus yang bisa saya kemukakan adalah benar-benar bisa membuka mata saya bahwa tak ada manusia yang sempurna di dunia ini *asek*, termasuk para calon dokter gigi. Saya sih menganggap image mereka itu pinter, rajin, cerdas, dan serius. Tetapi setelah membaca lika-liku kehidupan mahasiswa kedokteran gigi di buku ini, kayaknya di FKG sering dapet kejadian konyol deh hehehe.

Selain itu, saya mengapresiasi sekali informasi-informasi perihal kedokteran gigi (dan istilah medis) yang sangat-sangat berguna bagi orang awam seperti saya untuk memahaminya. Setidaknya, saya tidak perlu bayar kuliah puluhan juta tiap semester untuk mengetahui istilah dan teknis pelaksanaan mengenai dunia kedokteran.

Saat membaca keterangan di bagian belakang buku, tertulis ini merupakan novel non fiksi bergenre komedi. Aduh, saya langsung pesimis. Bukannya apa-apa, saya selalu cenderung gak yakin dengan penulis perempuan yang mengusung genre komedi. Saya rasa pasti akan lucu yang nanggung alias bikin ketawa-tapi-bingung-gak-jelas. Tapi akhirnya saya tetap membeli novel ini untuk membuktikan bahwa underestimate saya keliru. Dan ternyata…benar.

Memang sih disini komedi atau hal konyol yang disajikan cukup banyak. Sampai 35 cerita lho dalam halaman yang kurang dari 200. Itu merupakan jumlah bab yang banyak sekali menurut saya. Benar saja, setiap cerita “hanya” disajikan rata-rata tiga hingga empat halaman. Paling banyak enam halaman dan paling sedikit dua halaman saja. Belum lagi gara-gara karikatur tiap cerita yang memakan hampir satu halaman sendiri, menjadi penggalan kisah yang sangat nanggung.

Sehingga sungguh amat disayangkan, saya tidak bisa menikmati kelucuan novel ini. Karena ya itu tadi, perempuan itu sebagian besar ketika menulis genre komedi malah akan membuat garing (ini murni opini saya lho). Jadi ya gitu, kurang lebih satu jam saya baca, paling mentok saya cuman nyengir. Itupun bisa dihitung jari.

Akhir kata, buku ini cocok dibaca semua umur (yang sudah bisa membaca tentunya) karena humornya yang ringan (terlalu ringan sampai garing kalo menurut saya) serta beragamnya cerita sehingga tidak membosankan. Dari buku ini sedikit banyak juga bisa memberikan gambaran mengenai dunia perkuliahan Fakultas Kedokteran Gigi yang tidak hanya kaku dan serius, tapi bisa menghadirkan pengalaman menggelikan.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus