Rss

Archives for : Resensi Tahun 2015

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 26)

coveryakitate26

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 26)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 204

Terbit Perdana: 2012

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2012

ISBN: 9786020021300

cooltext-blurb

Akhirnya pertandingan pamungkas! Azuma menyempurnakan Japan sejati. Apa dia bisa benar-benar menyelamatkan bumi!? Inilah jilid terakhir yang mengharukan dengan “Apa!?” yang terakhir dari Kawachi! Simak klimaks yang mengharukan dari komik kocak yang pernah meraih Penghargaan Komik Shogakukan tahun 2004 ini!!

cooltext-review

Yuichi Kirisaki yang telah berubah menjadi monster Maou telah menunggu Azuma dan lainnya di Gua Angin Fujigoku. Tak seperti arena pertandingan pada umumnya, di dasar gua (atau cekungan?) itu hanya terdapat tanah berbatu. Lantas, bagaimana cara membuat roti? Ternyata Maou telah mempersiapkan peralatan canggih yang bisa menghadirkan peralatan masak lengkap di tengah hutan belantara itu.

Karena Japan Azuma akan jadi roti yang lebih empuk dari roti tawar dan lebih keras dari roti Perancis kalau dipanggang kembali! (Halaman 26)

Berbeda dengan pertandingan sebelumnya, kali ini Maou tidak ikut memuat roti. Hal ini dikarenakan tubu dan rupa fisiknya sudah terbuat dari roti sehingga Azuma hanya perlu membuat roti yang jauh lebih enak daripada seluruh roti di dunia yang Maou kenal. Sayangnya hal ini tidak mudah, bahkan untuk mendukung Azuma pun Kawachi merasa kesulitan. Akhirnya dengan berbagai trik khusus, Azuma bisa memanggang roti yang sesuai dengan harapannya.

Seenak apapun rasamu, kau hanya roti yang keluar dari perasaan negatif di hati Kirisaki… Kau takkan bisa menang dari roti yang dibuat dari mimpi dan harapan yang murni. (Halaman 82-83)

Terbebasnya Kirisaki dari Maou bukanlah akhir dari segalanya. Azuma harus menghadapi wujud asli iblis Maou di akhir pertandingan. Bahkan nyawa Yuichi Kirisaki juga terancam karena hal ini. Hmm bagaimana akhirnya yah? Baca sendiri deh. Kemudian setelah segala hingar bingar itu, Azuma dkk diajak berwisata Pierrot di Maladewa. Sayangnya, disini ada sebuah permintaan sangat sulit dari Misha, si gadis Maladewa, yang harus bisa diselesaikan oleh Azuma sang pembuat Japan sejati. Kira-kira bagaimana hasil akhirnya ya?

Makanya, kami ingin juru roti sehebat kalian bikin roti dengan tata cara berbeda dengan yang selama ini kalian lakukan untuk membantu mengurangi pemanasan global. (Halaman 128)

Sejujurnya, menurut saya akhir duel antara Azuma dan Maou itu antiklimaks. Memang sih proses sampai terselesaikannya duel itu menjadi hiburan tersendiri. Bahkan Shigeru pun berkomentar demkian. Sayangnya akhir yang berpotensi dramatis justru berlangsung dengan begitu saja alias so-so. Tetapi tidak bisa dipungkiri sih, saat pertarungan melawan Maou, saya merasa tema komik ini bukanlah kuliner, melainkan action khas Dragon Ball hahaha.

Kemudian kisah mengenai liburan Azuma dkk di Maladewa terasa “aneh” dan maksa jika ditempatkan di bagian paling akhir jilid ini. Saya tahu sih, mungkin chapter ini terbit sebagai bonus ekstra di majalah komik di Jepang sana. Jadi semacam obat penawar rindu para penggemar Azuma. Namun kalau dijadikan satu komik seperti ini, jadi agak hambar. Hal ini karena gregetnya Maladewa tidak bisa mengalahkan gregetnya si monster Maou.

Anyway, akhir petualangan Azuma membuat Japan memang telah mencapai garis akhir. Sejujurnya masih belum bisa move on sih dari dahsyatnya roti buatan Azuma. Tetapi seperti kata pepatah, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Meskipun kisah petualangan yang menakjubkan dari dunia kuliner roti ini harus berakhir, kisah Azuma dan kawan-kawan akan selalu saya ingat. Setidaknya sebagai salah satu komik bertema kuliner yang ciamik. Sayonara~

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 25)

coveryakitate25

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 25)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2011

ISBN: 9786020017105

cooltext-blurb

Demi mendapatkan tepung kuno Daruma, Azuma dan Kawachi harus bertanding… Selain itu, simak cerita tambahan komik pendek ‘Super H!! Tsukino Azusagawa!’ di sini! Jangan lewatkan komik kocak peraih Penghargaan Komik Shogakukan tahun 2004 ini!

cooltext-review

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, jilid ini melanjutkan pertandingan antara Azuma yang berniat memperbaiki hubungannya dengan Kakek Umajirou melawan Kawachi yang telah menjadi ahli juru roti berkat latihan Meister. Pada hari yang ditentukan, Kawachi mendatangi Kakek Umajirou di Prefektur Nara. Ia tidak sendiri, melainkan turut membawa Azuma, Shigeru, Tsukino, dan Manajer Matsushiro. Melihat Azuma, amarah Kakek Umajirou tak terbendung lagi.

Japan bukan roti yang tidak-tidak!! Itu wujud cita-cita yang dibuat dengan sepenuh jiwa!! (Halaman 12)

Persiapan Azuma membuat roti untuk sang kakek sungguh istimewa. Ia memersiapkan adonan selama beberapa hari sebelumnya. Adonan yang berbau menyengat ini membuat Kakek Umajirou menuduh Azuma hendak meracuninya. Kemudian pada hari selanjutnya, Yuichi Kirisaki yang telah sembuh mengadakan konferensi pers bahwa ia akan memperjualbelikan maou, si roti iblis. Tak tinggal diam, Azuma menantang Yuichi membuat roti.

Kalau kau merasa rotiku lebih enak dari rotimu, aku menang. Kalau sebaliknya, aku kalah. (Halaman 88)

Pertarungan terakhir antara Azuma melawan Yuichi dilakukan di Hutan Aokigahara di kaki Gunung Fuji. Pertarungan ini berbeda dengan duel “Yakitate!! 25” yang penuh sorotan kamera dan banyak penonton, kali ini Kirisaki ingin bertanding tanpa adanya gangguan media massa. Merasa bahwa pertarungan ini akan sangat berbahaya, Azuma sedikit membohongi teman-temannya dan berangkat ke lokasi pertandingan seorang diri. Sayangnya, ditengah perjalanan muncul Yukino dan anak buahnya yang bermaksud membunuh Azuma.

Kalau Paman tidak kembali seperti semula, Jepang… Ah, tidak. Seluruh bumi ini pasti jadi milik mereka. (Halaman 137)

Perjalanan Azuma dengan Japan semakin menegangkan. Saat ini Yuichi yang dikenalnya bukan lagi Yuichi yang dulu, melainkan monster roti yang jahat. Agak aneh sih melihat roti bisa menguasai manusia. Padahal roti kan lebut dan lunak tak berdaya *apasih. Kemudian ditambah jurus yang dikeluarkan si monster roti (ini komik apa sih jadinya? Entahlah) sungguh bikin ngilu.

Disisi lain, penampilan Yukino yang berbeda seratus delapan puluh derajat membuat saya mesem-mesem sendiri. Bagaimana tidak, sosok wanita cantik tinggi semampai berubah menjadi benda yang menggelikan. Tetapi tetap saja sifat jahatnya enggak hilang sama sekali. Saat-saat terakhir pertarungan kali ini sepertinya sungguh mendebarkan karena Kirisaki yang menjadi monster tidak akan mengalah begitu saja kepada Azuma.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 24)

coveryakitate24

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 24)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 187

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2011

ISBN: 9786020014173

cooltext-blurb

Sang juri, Kuroyanagi berubah wujud jadi Yuichi Kirisaki! Bagaimana cara Azuma mengatasi krisis dan situasi tanpa harapan yang belum pernah terjadi selama ini!? Kepintaran dan keberanian Azuma, lalu perasaannya pada teman-temannya, membuka pintu pada reaksi baru!

cooltext-review

Jilid ini dibuka dengan kelanjutan pertandingan ke-11 “Yakitate!! 25”. Sekarang saatnya juri Kuroyan mencicipi roti buatan Azuma. Sayangnya, akibat mencicipi roti buatan Meister, Kuroyanagi berubah menjadi Yuichi Kirisaki (iya benar, berubah secara fisik dan sifat jahatnya juga). Bahkan karena hal ini, Kuroyan yang telah menjadi Kirisaki (disebut Kurorin oleh Shigeru) enggan mencicipi roti Azuma dan berniat langsung mengumumkan juara. Untunglah, berkat kelihaian Azuma, rotinya tetap dimakan oleh Kurorin.

Fenomena ini hanya muncul pada roti dari tepung berkualitas tertinggi, selesai dalam kondisi yang paling sempurna, dan dipanggang dalam suhu paling ideal!! (Halaman 26)

Setelah pertandingan ke-11 “Yakitate!! 25” usai dan menyisakan kejanggalan, perhelatan duel maut ini dihentikan sementara waktu akibat sang sponsor, Yuichi Kirisaki, dilarikan ke rumah sakit serta melihat tingkat berbahayanya reaksi yang disebabkan Kuroyanagi. Hal ini membuat Azuma cs memiliki sedikit waktu untuk menyadarkan Yuichi Kirisaki akibat gopan yang telah dibuatnya. Kawachi dan Meister yang telah terbebas dari pengaruh buruk tidak membuat Yuichi ikut terbebas pula. Hal ini sungguh mengherankan karena kepribadian seseorang berubah akibat mengonsumsi roti semata.

Roti pun kalau dibuat juru roti jempolan dengan penuh perasaan, tidak heran kalau punya kehendak sendiri. (Halaman 70)

Karena ingin menyembuhkan Yuichi seperti sedia kala, Azuma berniat meminta tolong dari kakeknya. Kakek Azuma (selain kakek Umatarou dan Umasaburou yang telah muncul di jilid sebelumnya) bernama Umajirou. Kakek ini bertempat tinggal di Prefektur Nara yang terkenal akan hal-hal antik dan kuno. Tentu saja, Kakek Umajirou adalah penggemar fanatik hal antik dan kuno. Hal ini mengakibatkan hubungannya dengan Azuma serta kedua kakek yang lain tidak begitu baik. Oleh karena itu, yang ditunjuk menghadapi Kakek Umajirou adalah Kawachi yang bermuka kuno dan berperilaku antik.

Aku tak tahu seberat apa latihan khususnya, tapi demi teman-teman dan diriku sendiri, aku pasti bisa menjalaninya!! (Halaman 135)

Pola berulang pertandingan “Yakitate!! 25” akhirnya berhenti sudah. Skema muncul lawan-pilih kotak-penentuan lokasi-bikin roti-pencicipan-reaksi-pengumuman juara sudah membuat saya bosan. Untunglah kali ini sudah mulai ada perubahan konsep dengan adanya kasus tumbangnya Yuichi Kirisaki. Meskipun Azuma sangat terkejut akan jati diri asli Yuichi, tidak menyurutkan tekadnya membantu Meister menyadarkan ayahnya.

Kakek Umajirou sebagai tokoh baru yang berbeda jauh dibandingkan Kakek Umatarou dan Umasaburou juga memberikan warna tersendiri. Kecintaannya akan hal-hal kuno dan antik membuat saya geleng-geleng. Bagaimana tidak, tempat tinggalnya bukan lagi berdinding bambu atau beratap daun kelapa, melainkan tempat tinggal yang berada di lubang di dalam tanah. Kawachi yang bermuka kuno saja ikut terkejut juga. Namun entah mengapa mereka berdua sangat cocok satu sama lain.

Duel antara Kawachi melawan Azuma karena permintaan Kakek Umajirou juga menarik untuk diikuti. Apalagi Mesiter menawarkan diri untuk melatih Kawachi agar bisa menjadi juru roti jempolan dan mengalahkan Azuma. Pelatihan yang diberikan Meister juga bisa diterapkan sendiri loh untuk melatih ketankasan tangan. Saya jadi penasaran bagaimana hasil pertarungan mereka berdua di jilid berikutnya.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 23)

coveryakitate23

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 23)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 187

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2011

ISBN: 9786020010434

cooltext-blurb

Roti Yuichi Kirisaki yang berbahaya menyerang Meister dan Kawachi! Ahli pengobatan hewan modern saja, tak mampu menghapuskan efek roti itu… Roti yang bahkan lebih kuat dari obat! Hanya Azuma yang bisa menyelamatkan teman-temannya!!

cooltext-review

Tidak seperti sebelumnya, jilid ini dibuka dengan sebuah cerita pendek diluar tema pertandingan “Yakitate!! 25”. Kisah ini menceritakan seorang bocah bernama Yamatoya Akatsuki yang ingin menjadi juru rasa. Oleh karena itu, dengan sedikit konspirasi, ia berhasil menghadirkan Kuroyanagi sebagai lawan bicara. Namun tak disangka, perangainya yang buruk membuat Kuroyan naik pitam sekaligus tak bisa pergi dari tempat itu.

Tapi, kalau bocah yang sifatnya jelek begini dibiarkan, Jepang akan jadi negara yang lebih buruk… (Halaman 10)

Setelah sedikit penyegaran dengan kisah Yamatoya dan Kuroyanagi, pembaca kembali dibawa pada persiapan pertandingan ke-11 “Yakitate!! 25” antara Azuma cs melawan Meister Kirisaki. Yak benar, Meister yang seorang direktur Pantasia ternyata mengundurkan diri dan berbalik arah menjadi perwakilan St. Pierre melawan Azuma dkk. Meister yang bernama asli Sylvan Kirisaki (anak dari Yuichi Kirisaki) ternyata menyimpan alasan tersendiri kenapa harus menjadi lawan Azuma dan tak boleh kalah darinya.

Yuichi Kirisaki berubah… Ini gara-gara roti luar biasa pengubah sifat buatannya sendiri. (Halaman 50-51)

Pertandingan ke-11 “Yakitate!! 25” kali ini digelar di Kota Tsukuba, Prefektur Ibaraki. Kawachi yang tak tahu apa-apa juga mendapatkan pengaruh buruk akibat Yuichi. Ia harus menjadi seorang pengkhianat karena gopan noumiso, roti buatan Yuichi yang bisa mengendalikan otak. Bahkan dokter hewan (?) di klinik setempat tak bisa menyembuhkan Kawachi. Untung saja Azuma dan Shigeru tidak mendapatkan efek yang sama sehingga mereka bisa melaksanakan pertandingan dengan maksimal.

Licik! Dia hendak mendapatkan Azuma dengan memanfaatkan persahabatan keduanya! (Halaman 108)

Aaaargh, semakin seru saja ini perseteruan antara St. Pierre dan Pantasia. Yuichi Kirisaki benar-benar digambarkan sebagai orang licik dan jahat melebihi Yukino. Sebelumnya sudah bisa dimengerti sih alasan Meister menjadi perwakilan St. Pierre dalam pertandingan selanjutnya. Namun kebenaran yang terungkap justru membuat saya terhenyak. Ternyata Yuichi juga jahat kepada anak kandungnya sendiri.

Yang cukup aneh dan ajaib menurut saya adalah ketika Kawachi terpengaruh gopan noumiso dan dirawat di rumah sakit. Kenapa yang merawat dan memeriksanya adalah seorang dokter hewan? Ya saya tahu sih manusia juga termasuk ras mamalia. Tapi kan tidak harus dokter hewan juga gitu lho. Oh iya, dokter hewan ini adalah karakter yang sudah punya judul komik sendiri lho. Tapi saya lupa judulnya hehehe.

Lagi-lagi akhir halaman jilid ini bersambung pada bagian pencicipan rasa oleh Kuroyan. Setelah memakan roti buatan Meister dan memberikan reaksi yang mengagetkan, roti Azuma masih baru matang. Jadi penassaran lagi deh. Lanjut baca jilid selanjutnya biar nggak penasaran lama-lama kalau begitu. Ciao!

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 22)

coveryakitate22

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 22)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2011

ISBN: 9786020005085

cooltext-blurb

Hasil pertandingan pizza!! Jebakan menakutkan St. Pierre menanti Azuma yang berhasil mengalahkan satu per satu lawannya yang tangguh… Bahaya mengancam Azuma dan Pantasia! Azuma! Ketukkan palu keadilanmu pada mereka yang kejam dan tak berperasaan itu!!

cooltext-review

Jilid kali ini sudah mulai berbeda dengan jilid-jilid sebelumnya yang memberikan dua tema besar dalam satu komik. Kali ini ada satu tema lanjutan jilid sebelumnya serta tema besar yang cukup panjang dan akan menyambung hingga jilid-jilid berikutnya. Pada pertandingan ke-9 “Yakitate!! 25” antara Azuma cs melawan Marco Ciccolini, sang ahli pembuat pizza nomor 1 di Italia. Sudah bisa diperkirakan bahwa pizza hasil buatan Marco tak bisa diabaikan begitu saja. Disisi lain, Azuma mempersiapkan trik agar pizza buatannya tetap bisa bertahan lama.

Hmm, pizza dari kentang legendaris incanomezame memang hebat! (Halaman 8)

Setelah berlalunya pertandinan ke-9, kini duel antara Pantasia dan St. Pierre memasuki edisi ke-10. Setelah berkali-kali diwakili oleh orang-orang diluar bakeri St. Pierre, kali ini yang menjadi lawan Azuma adalah Azusagawa Yukino. Sang direktur St. Pierre ini akhirnya turun tangan melawan Azuma dkk atas perintah Kirisaki. Meskipun Yukino buta dengan dunia roti, alasan yang sangat kuat membuat Kirisaki menunjuknya kali ini.

Tangan yang sangat dingin, lawan dari tangan matahari… Tangan badai salju!! (Halaman 41)

Pertandingan ke-10 “Yakitate!! 25” kali ini digelar di Kota Tomiura, Distrik Minami Busou, Prefektur Chiba. Seperti yang sudah diduga, tema pembuatan roti kali ini sudah ditentukan, yaitu tart. Tentu saja, Yukino sangat ahli dalam pembuatan tart yang istimewa. Namun Shigeru, Kawachi, dan tentu saja Azuma pantang menyerah menghadapi lawan seperti Yukino. Sayangnya, hasil pertandingan yang sudah bisa ditebak justru menyuguhkan twist yang cukup mencengangkan pembaca.

Tepung ajaib yang bisa memenjang lebih panjang dari karet. (Halaman 92)

Akhirnya inti pertandingan “Yakitate!! 25” sudah mulai sedikit tersingkap dengan adanya secuil konspirasi antara Kirisaki dan Yukino. Meskipun beberapa pertandingan sebelumnya juga menarik, perseturuan antara Kirisaki sang pemilik St. Pierre yang berusaha menjatuhkan Pantasia melalui duel ini lebih greget untuk dipaparkan. Apalagi munculnya Yukino membuat saya merindukan tokoh antagonis sekaligus menggelikan ini.

Bagaimana tidak, penampilan fisiknya yang anggun dan berambut panjang cantik justru sempat-sempatnya tidur ditengah pemilihan lokasi pertandingan. Padahal acara itu disiarkan oleh stasiun televisi nasional. Namun, sosok menggelikan itu berubah menjadi pribadi yang kejam dan tak segan menggunakan cara licik untuk memenangkan pertandingan.

Sampai jilid ini, saya masih belum bisa menerka siapa jati diri Kirisaki yang sebenarnya. Saya yakin Kirisaki menyimpan sebuah rahasia yang akan terkuak dimasa mendatang. Sejauh ini pula, segala macam tips tentang per-bakeri-an tidak saya cermati dengan baik. Karena sudah agak membosankan sih daripada “keajaiban” yang disuguhkan saat pertandingan sedang berlangsung. Siapa lagi kalau bukan Kuroyan dan Kawachi yang mengalami hal ajaib itu.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 21)

coveryakitate21

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 21)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 192

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2011

ISBN: 9786020001357

cooltext-blurb

Adu pancake pun akhirnya memasuki final! Azuma VS He… Keduanya mati-matian mengeluarkan seluruh kemampuan mereka yang hasilnya sampai mengubah Kota Iyo! Jangan lewatkan serangkaian hyper-reaction yang luar biasa dahsyat!

cooltext-review

Halo-halo, saya mulai nulis resensi lagi disini. Karena kesibukan mengerjakan skrpsi sudah berlalu, saya jadi bisa punya banyak waktu luang untuk baca buku yang sudah beberapa bulan saya tinggalkan. Otomatis blog ini jadi ada warnanya lagi deh hehehe. Kali ini saya tetap membuat resensi lanjutan judul komik yang sama seperti resensi yang sebelumnya. Cekidot guys!

###

Pembukaan jilid 21 kali ini menyuguhkan kelanjutan pertandingan “Yakitate!! 25” antara Azuma cs melawan Giovanni van der Hesserink. Seperti yang sudah dikatakan pada blurb diatas, pancake yang harus dibuat kali ini harus pancake yang mudah dibuat namun harus laris dijual di bakeri. Taktik yang dibuat Hesserink sungguh memukau. Namun ternyata Azuma memiliki rahasis tersendri untuk memenangkan pertandingan ini. Semua ini karena Kawachi yang memberikan “inspirasi” kepada Azuma.

Kami akan memakai kotoran! Sesuai arti harafiahnya, Japan yang membuat orang sepertimu makan kotoran! (Halaman 20)

Beranjak menuju cerita kedua, adalah pertandingan ke-9 “Yakitate!! 25” yang masih dalam tahap persiapan. Sachihoko yang pernah menjadi lawan Kawachi dalam pertandingan yang sama, datang berkunjung ke Pantasia. Awalnya semua mengira Sachihoko adalah lawan tanding berikutnya. Namun ternyata bukan Sachihoko, melainkan sepupunya, Marco Ciccolini yang menjadi penantang Pantasia kali ini. Lagi-lagi tema pertandingan yang diadakan di Kota Chitose di Hokkaido ini menguntungkan pihak St. Pierre yang diwakili Marco sebagai ahli pembuat pizza nomor 1 di Italia.

Bangkitkan kembali pamor pizza di bakeri dengan trik yang melebihi delivery pizza! (Halaman 122)

Saya sudah menyerah menghapalkan roti yang dibuat Azuma dkk ataupun lawannya dalam setiap pertandingan. Karena jujur saja, semua roti sungguh menakjubkan dan (sepertinya) enak. Oleh karena itu saya membaca komik ini dengan santai saja tanpa terlalu tekun mencermati bagian demi bagian saat pembuatan roti.

Yang menjadi fokus resensi saya kali ini adalah perihal reaksi yang dialami oleh Kuroyan ataupun Kawachi karena mencicipi roti. Karena jujur saja, saya sudah menyerah dengan ke-lebay-an yang diberikan oleh keduanya karena mengecap roti yang (mungkin) memang enak. Sampai membuat danau buatan dalam waktu sekian detik dan wajah berpindah tempat itu sudah memasuki level ajaib menurut saya.

Akibatnya, saya jadi kurang percaya lagi dengan tips yang diselipkan pada komik ini mengandung fakta. Lha gimana mau ada fakta, wong keajaiban terus menerus muncul kok disana-sini. Tetapi saya masih tetap bisa menikmatinya kok. Soalnya gambar yang bagus (apalagi gambar roti) membuat saya pengen banget makan roti saat itu juga.

Pertandingan Marco dengan Azuma sebenarnya sudah hampir berakhir sih. Tidak seperti pertandingan melawan Pak He yang terputus pada saat sebelum hari pertandingan, namun kali ini pizza Marco sudah dicicipi Kuroyan. Sayangnya, jilid ini bersambung ketika roti Azuma baru selesai alias belum sempat dicicipi. Zzzzz. Langsung baca jilid 22 ah kalau begitu..

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 20)

coveryakitate20

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 20)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 190

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2011

ISBN: 9789792796087

cooltext-blurb

Katsuwo, lelaki babi terburuk sepanjang sejarah muncul kembali! Kali ini dengan meminjam kekuatan babi misterius dan Kirisaki yang jelmaan kejahatan, penampilan dan kemampuannya meningkat! Ayo, kalahkan dia dengan Japan andalanmu!

cooltext-review

Akhirnya saya bisa menulis lagi di blog yang penuh tanah (bukan debu) dan sarang naga (bukan laba-laba) ini. Beberapa bulan terakhir saya tidak menulis sama sekali disini. Tidak etis kalau saya menyalahkan skripsi sebagai penyebab ketidak disiplinan saya. Tapi yang jelas, kelulusan saya bulan lalu sudah memberikan napas (sangat) lega sehingga saya bisa menulis resensi lagi. Lho malah curhat. Ah yasudah lanjut ke resensi jilid lanjutan komik favorit saya ah.

###

Jilid ini dibuka dengan pemilihan kotak untuk pertandingan ketujuh dari total 25 kotak yang tersedia. Tim Pantasia memilih kotak dan akhirnya Kota Higashison, Distrik Kunigami, Prefektur Okinawa terpilih sebagai lokasi pertandingan. Kota ini terkenal sebagai produsen daging babi langka, disebut babi agu. Nah yang bikin geregetan, lawan kali ini adalah Katsuwo yang karena suatu sebab memiliki penampilan fisik seperti babi. Tentu saja tak sekadar rupa, namun kemampuan Katsuwo tentang babi juga amat mengagumkan. Lantas, apakah Pantasia akan kalah lagi?

Kekuatan pinjaman dari babi atau Kirisaki! Tak bisa dibandingkan dengan kekuatan hasil dari kepercayaan kedua orang ini!! (Halaman 92)

Kisah kedua adalah permulaan pertandingan kedelapan. Monica pertama kali menyadari hal mengejutkan perihal lawan Azuma nanti. Ia adalah Giovanni van der Hesserink, pemenang Kejuaraan Juru Kue Se-Dunia ke-60. Bersama Suwabara, Monica mendatangi Azuma cs dan membicarakan kekhawatiran mereka. Tak disangka, lokasi selanjutnya di Kota Iyo, Prefektur Ehime sesuai dengan perkiraan Suwabara tentang tema yang harus dibuat oleh peserta pertandingan. Disisi lain, madu Biwa merupakan bahan yang digunakan untuk membuat pancake kali ini. Tentu saja cerita ini dibiarkan bersambung ke jilid selanjutnya.

Bicara Belanda pasti pancake, bicara pancake pasti Belanda. (Halaman 170)

Seperti jilid sebelum-sebelumnya, aroma kecurangan sudah terasa pada setiap pertandingan. Namun seakan mengesampingkan hal itu, membaca detik demi detik pertandingan Azuma dengan perwakilan St. Pierre sungguh mengasyikkan. Setelah sekian lama menjadi orang tidak berguna, Kawachi akhirnya berperan penting melawan si Katsuwo. Sedangkan cerita kedua, si Pak He (panggilan Azuma kepada Giovanni) terlihat sebagai orang agak aneh dan menyebalkan.

Saya suka dengan chemistry keakraban antara Azuma, Shigeru, dan Kawachi sebagai satu tim. Sebenarnya saya adalah tipe orang yang mudah bosan dengan tokoh utama. Seringnya Azuma yang menjadi sosok pahlawan menjadikan saya juga ikut bosan dengannya. Namun akhirnya porsi tokoh pendamping yang agak banyak menjadi sedikit penyegaran.

Mengenai roti yang dibuat, wuh jangan ditanya sepertinya enak bingit. Sayangnya, daging babi yang jadi bahan utama membuat saya nggak minat membayangkan hasil akhirnya. Yah maklum kan daging babi itu haram menurut agama saya. Anyway, reaksi dari Kuroyanagi setelah mencicipi roti (yang selalu luebuay buanget) kali ini membuat saya excited.

Tentang cerita kedua, karena belum ada adegan seru buat-buat roti, jadi saya nggak komen deh. Masih so-so aja sejauh ini. Mungkin jilid berikutnya bisa jadi greget. Penasaran juga sih bagaimana bentuk pancake yang akan dibuat oleh Azuma, Kawachi, dan Shigeru untuk melawan si Giovanni van der Hesserink dari Belanda. Are you ready to see?

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

The Naked Traveler

covertnt1

Judul: The Naked Traveler

Sub Judul: Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia

Penulis: Trinity

Penerbit: C | publisihing

Jumlah Halaman: xii + 282

Terbit Perdana: Juni 2007

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, Juli 2009

ISBN: 9789792439366

cooltext-blurb

Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini. Lucu, sedih, mendebarkan, bahkan menyebalkan. Semua itu menjadi bumbu sedap dalam pengalamannya menjadi “backpacker” yang melanglang buana ke berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar negeri.

Membaca buku ini, kita akan memperoleh bermacam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang “harus” dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat traveling ke sebuah negeri. Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin mencintai negeri sendiri.

Happy traveling!

“Sebuah karya yang sangat personal, jarang terungkap tapi sarat informasi.” – Wien Muldian, pustakawan, pekerja literasi, dan pelancong

“Penuh petualangan, berwawasan, informatif, sering kali lucu…. Merupakan titik kebangkitan bagi yang dunia traveling-nya hanya bermula di Bogor dan berakhr di Bali.” – Daniel Ziv, penulis buku Jakarta Inside Out, Sutradara film dokumenter Jalanan

“Tulisannya spontan, jujur dan personal banget, lengkap dengan pikiran-pikiran liarnya…. Penting buat referensi kalau mau jalan-jalan ke daerah-daerah non-turistik yang seru itu.” – Edna C. Pattisina, wartawan Kompas yang suka jalan-jalan

“It was great pleasure, and even greater fun to read through Trinity’s anecdotes from her travels throughout the World.” – Laszo Wagner, hardcore backpacker asal Hongaria, salah satu penulis buku Lonely Planet.

cooltext-review

Traveling atau jalan-jalan merupakan kegiatan yang lumrah dilakukan orang-orang. Umumnya orang-orang melakukan traveling dalam rangka refreshing melepas penat pada saat liburan. Tujuan traveling juga ada yang dekat ataupun jauh dari tempat tinggal. Jika berbicara traveling dalam konteks liburan, tentu yang dimaksud biasanya berwisata ke tempat-tempat terkenal dan banyak turis yang ikut traveling disana. Hal ini pula yang dialami oleh Trinity, sang penulis buku ini.

Trinity adalah potret seorang mbak-mbak kantoran (pada masa itu) yang hobi jalan-jalan alias traveling. Sayangnya, ia tidak bisa seenak udel traveling dalam rangka wisata akibat pekerjaan rutinnya sebagai karyawati. Oleh sebab itu, ia menyisipkan hal-hal berbau rekreasi meskipun ia melakukan perjalanan dinas ke daerah lain. Lambat laun, pengalamannya dalam hal traveling sudah cukup banyak dan ia bersedia berbagi melalui buku ini.

Buku ini terdiri atas tujuh bagian atau bisa saya katakan sebagai bab yang memiliki tema sendiri-sendiri. Setiap bagian terdiri atas beberapa cerita. Bagian pertama adalah Airport yang mengisahkan berbagai pengalaman Trinity dalam dunia per-bandara-an. Bagian ini terdiri dari delapan cerita, namun favorit saya adalah kisah berjudul Pilih Makan Rendang atau KKN. Jadi dalam kisah ini dituliskan tentang pengalaman Trinity melewati bagian penitipan bagasi. Sayangnya, ada beberapa bandara yang tidak memperbolehkan satu dan lain hal dibawa masuk kedalam pesawat karena alasan khusus.

Saya jadi merasa beruntung karena pernah meloloskan 5 kg rendang ke Amsterdam gara-gara punya Om yang kerjanya di airport situ. Hehe, KKN boleh, dong! (Halaman 18)

Bagian kedua berjudul Alat Transportasi dengan sepuluh cerita. Saya suka dengan kisah berjudul Kumbang, Pantat, dan Kentut yang menyoroti kendaraan pribadi Trinity, sebuah mobil kijang yang dinamai Kumbang. Si Kumbang ini sudah sangat lama menemani keseharian Trinity. Sampai-sampai Kumbang dirasa memiliki nyawa karena membuat repot Trinity disaat yang tidak tepat.

Hah, ternyata ban mobil tadi adalah ban Kumbang yang lepas! Saya langsung turun mengejar si ban yang terus menggelinding… dan akhirnya ban tersebut nyebur ke sungai! (Halaman 62)

Life Sucks! adalah judul bagian ketiga yang terdiri dari sebelas cerita. Bagian ini menyuguhkan berbagai pengalaman Trinity yang menyebalkan akibat suatu hal yang membuat emosi jiwa. Favorit saya adalah Sial atau Tolol? Yang membuat saya tertawa karena kesialan Trinity yang tak kunjung reda (ups, maaf ya Mbak hehe). Salah satu kesialan itu adalah jalanan yang macet parah padahal ia sedang mengejar penerbangan terakhir hanya karena ada kegiatan warga.

Untuk antisipasi, saya pernah berangkat dari Salatiga 4 jam sebelum keberangkatan naik pesawat terakhir dari Semarang. Tak dinyana, jalan macet berat karena ditutup, berhubung ada pawai dalam rangka perayaan 17 Agustus-an! Duh, Indonesia banget! (Halaman 92)

Bagian keempat adalah Tips yang berjumlah 13 cerita dengan isi tips dan trik dari Trinity seputar jalan-jalan. Berbagai hal disampaikan Trinity dengan kocak sehingga menjadikan tips nya tidak wajib untuk dilakukan, namun akan membantu kenyamanan perjalanan jika dilaksanakan. Salah satunya kisah berjudul Manfaat Teman (Nemu di) Jalan yang mengupas tentang suka duka melakukan traveling bersama teman, baik teman yang sudah dikenal ataupun teman yang baru dijumpai. Meskipun terkadang sial, Trinity tidak kapok traveling bersama orang baru sesama backpacker.

Tapi apa daya, tidak semua teman berhobi sama, tidak semua teman mempunyai waktu libur yang sama, dan yang paling sering terjadi adalah tidak semua teman mempunyai jumlah tabungan yang sama. (Halaman 123)

Sok Beranalisa merupakan judul bagian kelima yang terdiri atas sembilan cerita. Jadi bagian ini merupakan sebuah riset sederhana dan agak ngawur seorang Trinity tentang berbagai hal. Mulai dari orang negara mana yang paling cakep hingga keberadaan pekerja seks komersial di berbagai negara. Bagian ini saya nikmati karena Trinity menyebutnya sebagai “ayam” dan disampaikan dengan ringan tanpa maksud menghina profesi tersebut. Cerita ini berjudul Ayam Bakpau Bukan Bakpau Ayam.

Di Thailand, ayamnya membingungkan. Ayamnya memang ayam banget, tapi susah membedakan antara ayam betina atau ayam jantan karena banyak sekali kaum transeksual yang cantiknya melebihi wanita beneran. (Halaman 180)

Lanjut pada bagian keenam yang berjudul Adrenaline. Sepertinya bagian ini adalah cerita yang hampir semuanya berazaskan wisata alias rekreasi. Trinity yang demen dengan hal-hal yang menantang dan mendebarkan mengungkapkannya dalam sembilan cerita lepas. Saya menyukai cerita yang berjudul Thai Message. Ehm, saya enggak salah nulis kok. Tapi Trinity menulis demikian karena menyesuaikan penulisan salah kaprah di Thailand sana. Seperti judulnya, ia menceritakan tentang pengalaman Trinity dipijat alias massage di negara Gajah Putih tersebut.

Kamar yang sunyi ini bau dupa, lampunya sangat minim alias remang-remang, dan semua orang berbaring dengan mata merem melek – suasana yang “mencekam” ini bagaikan pesta opium di benak saya. (Halaman 213)

Bagian terakhir alias ketujuh berjudul Ups! yang mengutarakan berbagai hal konyol yang ditemui Trinity selama traveling. Favorit saya adalah kisah berjudul Pilipina, Filipina, atau Pilifina? yang membahas tentang kesulitan orang negara itu melafalkan huruf P dan F sehingga sering terbalik. Ketidak tahuan Trinity menjadikannya lelucon bagi warga asli negara itu akibat pelafalannya yang dianggap salah. Sayangnya, meskipun salah, Trinity tidak hanya sekali mengalami kejadian sial seperti itu.

Tuh, kan! P & F itu ternyata sudah menjadi epidemi nasional! Huahaha! Pantas saja, mereka sendri menyebut nama negaranya bisa menjadi 3 versi: Pilipina, Filipina, atau Pilifina. (Halaman 271)

Awalnya saya membaca buku ini hanya iseng. Saat itu kakak saya membeli buku ini dan diletakkan sembarangan. Karena tidak ada buku lain, akhirnya saya baca juga deh (saat itu, pada jaman dahulu kala). Ternyata buku ini asik banget! Trinity menulis dengan gamblang, apa adanya, dan sangat subjektif berdasarkan pengalamannya traveling kemana-mana. Ia tidak berusaha menyampaikan segala sesuatu yang positif saja, namun juga tidak serta merta mengungkapkan sisi negatif suatu hal tanpa ada alasan.

Saya suka dengan selera humor Trinity yang khas namun tidak meninggalkan sakit hati (setidaknya saya yang membaca). Misalkan saat ia terjebak macet akibat pawai, ia justru mengungkapkan kesialannya itu tanpa menyalahkan pihak manapun. Sehingga saya yang membaca juga jadi ikut tertawa padahal Trinity mengalami kesulitan akibat budaya negeri sendiri.

Sayangnya, buku ini menjadi terasa nanggung banget apabila dijadikan sebuah panduan traveling ke suatu tempat. Pengalaman yang diceritakan Trinity dalam buku ini memang sangat buanyak banget. Namun ia menceritakan langsung pada inti hal yang menarik tanpa ada intermezo mengenai lokasi ataupun perjalanan yang dilakukan. Hal ini mengakibatkan buku ini hanya cocok dijadikan hiburan dan tidak cocok jika dijadikan panduan berwisata (eh atau memang buku ini memang demikian ya?) Selain itu, ada berbagai tempat yang disebutkan Trinity namun saya tidak tahu dimana persisnya padahal lokasi itu ada di Indonesia. Apabila dijabarkan sedikit lebih rinci mungkin akan lebih baik.

Ketika sedang menceritakan negara lain, Trinity tanpa sadar (atau memang sadar?) kerap membandingkan dengan negara Indonesia. Namun, apabila Trinity mengungkapkan kekurangan Indonesia dibandingkan negara lain, ia tetap cinta dengan negaranya sendiri melalui statement di bagian lain ataupun di cerita yang bersangkutan. Hal ini saya apresiasi karena memang tidak mudah membanggakan kelebihan Indonesia tanpa mau menerima hal buruk negeri sendiri. Jika bukan warga negaranya sendiri, siapa lagi?

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Unforgiven

coverunforgiven

Judul: Unforgiven

Sub Judul: Hantu Rumah Hijau

Penulis: Eve Shi

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: vi + 262

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9797807304

cooltext-blurb

Kaylin tak percaya ada hantu di rumah hijau yang katanya angker. Tak ada yang perlu ditakuti dari rumah tua dan kusam itu.

Namun, sejak rumah kosong itu kedatangan penghuni baru yang misterius, semua berubah.

Tiba-tiba, suara jeritan mengerikan dan suara lirih tangis tengah malam itu terasa sangat nyata di telinga Kaylin. Bau anyir darah tercium dari rumah itu. Sang penghuni baru seakan-akan membangkitkan hantu-hantu yang ada di sana.

Kaylin ingin menarik ucapannya, tetapi terlambat. Sosok itu semakin mendekat, dengan kepala hampir putus….

cooltext-review

Saya cukup jarang menemui (dan membaca) buku bertema horror yang ditulis oleh penulis lokal. Seringnya sih menikmati nuansa horror dalam balutan film hollywood di bioskop. Nah, ternyata ada juga salah satu buku fiksi horror yang cukup banyak disebut-sebut dalam dunia perbukuan lokal. Tak ada salahnya saya mencoba untuk membaca buku seperti ini.

Cerita dibuka oleh percakapan dua orang anak SMA bernama Kaylin dan Rico (yep, that’s me! LOL!) yang dalam perjalanan pulang sekolah menuju kediaman mereka di sebuah komplek perumahan. Obrolan yang awalnya biasa saja menjadi cukup mencekam ketika Kaylin menyebut-nyebut rumah hijau, rumah terbesar dan terluas di komplek itu, menyimpan berita bahwa sering terdengar tangisan dari dalam rumah. Mendengar hal itu, Rico hanya menggumam tak menaruh kepercayaan pada omongan sahabatnya itu.

Tak disangka, obrolan mereka di senja kala itu menjadi cikal bakal teror yang mulai menghantui hidup mereka berdua. Mulai dari Kaylin, ia melihat sebuah tangan misterius yang kurus dan bebercak gelap menggapai gagang pintu rumahnya serta televisi yang tiba-tiba mati. Mencoba berpikir positif, Kaylin hanya menganggap hal itu sebuah halusinasi belaka akibat dirinya yang kelelahan.

Sedangkan Rico mulai mengalami kejadian misterius pula. Berbeda dengan Kaylin, ia mendapati sesosok misterius sedang menonton televisi – yang tentu saja bukan salah sau anggota keluarganya – tanpa ada tanda-tanda kehdupan serta ada tangan misterius yang kotor dan dingin menekan tangan Rico saat ia akan mematikan saklar lampu. Dan seperti Kaylin, ia hanya berpikir itu merupakan imajinasi yang berlebihan.

Sayangnya, kejadian misterius tak hanya sampai disitu. Cherie, adik Kaylin mengalami malapetaka di kamar mandinya sendiri akibat ulah si hantu wanita misterius yang meneror Kaylin. Bahkan Cherie sampai dibawa ke rumah sakit akibat kepalanya membentur lantai. Tak pelak hal ini membuat Kaylin berapi-api ingin menyelesaikan urusan paranormal ini. Mengetahui kejadian aneh tak hanya menimpa dirinya, Rico bersedia ikut membantu.

Urusan ini tidak semudah mereka selesaikan dalam hitungan hari. pasalnya, awal mula teror ini adalah ketika kakek Kaylin, Pak Iswar, dan kakek Rico, Pak Ferdi yang bersahabat dengan kakek pemilik rumah hijau, Pak Theo. Akibat suatu tragedi berdarah puluhan tahun yang lalu, hantu wanita yang bernama Eris menuntut balas pada keluarga Kaylin, sedangkan hantu pria bernama Markus mengusik kehidupan keluarga Rico.

Berbagai misteri yang menyelimuti rumah hijau dan isinya saling berkaitan satu demi satu dan menyebabkan misteri ini tidak mudah diselesaikan. Lantas, apa yang menyebabkan Markus dan Eris rela menunggu puluhan tahun untuk menuntut balas? Sebenarnya apa yang terjadi pada ketiga kakek yang bersahabat baik itu? Apakah semua akan berakhir pada halaman terakhir buku ini? Silakan membaca sendiri ya.

Well, saya cukup menyukai buku ini. Pertama, karena buku ini membuat saya berdebar ketika membacanya. Entahlah apakah imajinasi saya terlalu kuat membuat tulisan buku ini menjadi seram saat dibayangkan atau pilihan kata yang pas oleh penulis. Pokoknya membaca buku ini serasa menonton film horor. Kedua, tokoh utama pria bernama lengkap Rico Novarda. Hahaha aduh subjektif sekali. Tapi beneran kok, deskripsi si Rico yang berkacamata ini terasa saya buanget XD

Rico sendiri, kalau ia mau sombong, tidak standar-standar amat. Tingginya lumayan, 175 sentimeter. Tampangnya tidak mirip seleb mana pun, tapi jauh dari butut. Setidaknya, menurut Rico sendiri. (halaman 24)

Penjabaran betapa seramnya kondisi rumah hijau dan tentu saja, kedua hantu misterius turut menyumbang debar dada ini *halah. Saya baru pertama kali sih menjumpai deskripsi sosok makhluk halus yang berdasarkan penulisannya bisa saya bayangkan sendiri bagaimana rupa aslinya. Dan well, itu bukan hal yang menyenangkan untuk dibayangkan. Tapi justru inilah yang membuat buku ini sukses menjadi buku horror.

Satu yang membuat saya kurang menikmati buku ini dengan maksimal adalah mengenai latar tempat. Maafkan kalau saya terlewat membacanya, tapi saya rasa lokasi cerita Kaylin dan Rico ini dibuat benar-benar seperti sebuah tempat di negeri antah berantah yang tidak jelas. Awalnya ketika membaca nama sekolah Kaylin & Rico yaitu Primavera High, saya mengasumsikan setting-nya adalah di luar negeri, bukan Indonesia. Apalagi mengingat nama-nama tokoh buku ini juga rada kebarat-baratan.

Eh tetapi, ada Pak Herman yang menjabat sebagai ketua RT. Oke saya mungkin cupu, tetapi apakah diluar negeri juga ada RT? Kalaupun ada, mosok ya namanya Pak RT? Menurut saya hal ini jadi membingungkan pembaca, setidaknya saya sendiri. Latar tempat bisa mengungkapkan segalanya, mulai dari budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan berbagai istilah yang umum digunakan di lokasi tertentu. Jika penulis lebih greget menuliskan setting lokasi dengan lebih jelas, bisa jadi cerita horor ini bisa lebih dinikmati.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 19)

coveryakitate19

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 19)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2011

ISBN: 9789792791549

cooltext1660180343

Duel mati-matian dengan lawan tangguh, Norihei, telah usai. Berikutnya sudah menunggu Panda Man misterius. Terlepas apa akan meledak seperti ketenaran Train Man, Kalahkan dia dengan Japan andalanmu!

cooltext1660176395

Wauw, tak terasa saya udah membaca dan meresensi hingga jilid ke-19. Semakin kesini pertandingan yang dihadapi Azuma cs semakin menarik saja. Jilid kali ini dibuka dengan bagian 163 “Evolusi Kawachi” yang menceritakan kelanjutan pertandingan kemarin antara Azuma dan Norihei. Setelah 5 kali berturut-turut menang, kali ini Azuma harus menerima kekalahannya.

Kalau roti, mending diisi bahan yang renyah seperti pate phyllo yang tekstur dan rasa pun lebih cocok daripada bahan sulit dikunyah seperti rice paper! (Hal. 14)

Beranjak menyongsong pertandingan selanjutnya, diceritakan pada bagian 164 “Di Belakang Panel” ketika Shigeru mulai mengendus suatu hal mencurigakan pada pertandingan. Berkali-kali tema yang dilombakan selalu dikuasai oleh perwakilan St. Pierre. Yah meskipun hanya Norihei saja yang bisa menang, tentu kecurigaan Shigeru tidak bisa sirna.

Artinya… Kemungkinan besar St. Pierre sudah tau lokasi pertandingan sebelumnya. (Hal. 24)

Meskipun Shigeru sangat yakin, tidak adanya bukti membuatnya dan Azuma (serta Kawachi) harus tetap berjuang apapun yang terjadi. Pada bagian 165 “Identitas Asli Panda” diceritakan bahwa lokasi pertandingan selanjutnya adalah Kota Gero di Prefektur Gifu. Yang membuat terkejut, lawan kali ini adalah seseorang berkostum panda!!

Bertanding seri melawanmu… Lalu, kalah… Mengubah seluruh jati diriku… (Hal. 42)

Tak perlu susah-susah menyembunyikan jati diri dibalik topeng, ternyata Azuma dkk sudah mengetahui siapa seseorang dibalik kostum panda itu. Pada bagian 166 “Kepercayaan Diri Kawachi” ini berisi tentang semangat membara Panda untuk mengalahkan Azuma. Bahkan Mizuno (ups spoiler nggak yah) juga terkesan dengan semangat juang Panda.

Panda-chan yang kerja di bakeri juga hebat. Tapi dalam pertandingan, semangat juang pun jadi lebih besar, ‘kan? (Hal. 62)

Pada bagian 167 “Yang Bisa Dilakukan Sekarang” mengisahkan bagaimana akhirnya Kawachi “sadar” dari kebodohannya selama ini. Ia yang sebenarnya bagian dari tim justru tidak memberi kontribusi apapun sepanjang pertandingan. Hal inilah yang membuat Shigeru sedikit sebal dan kecewa dengan Kawachi. Lantas, benarkah Kawachi telah berubah?

Kau pikir, kami sungguhan membodohimu dengan menganggapmu sebagai penonton dan mengabaikanmu. (Hal. 78)

Tibalah saat pertandingan! Di kota Gero yang cerah, Azuma + Shigeru melawan Panda membuat roti kukus terhebat. Pada bagian 168 “Mimpi Mokoyama” ini diceritakan bahwa si Panda bisa membuat roti kukus yang meledak berkali-kali. Padahal pada hakikatnya roti kukus diibaratkan seperti balon yang hanya bisa meledak satu kali saja. Hmm, apakah benar demikian?

Roti kukus alps yang meledak berkali-kali… Kalau trik itu benar-benar ada, lawan jelas tak terkalahkan! (Hal. 95)

Sambil menunggu roti kukus buatan Azuma dan Shigeru (jangan tanya dimana Kawachi), roti kukus buatan Panda telah selesai lebih dahulu. Sehingga pada bagian 169 “Kuroyan X” ini dikisahkan mengenai proses penjurian roti milik Panda oleh sang juri, Kuroyanagi. Lagi-lagi reaksi yang ditimbulkan tidak biasa (khas Kuroyan banget!)

Selama ini dia sering menunjukkan no reaction seperti ini dan ternyata ada sesuatu, tapi… (Hal. 113)

Selanjutnya pada bagian 170 “Walau Tak Bisa Naik Kereta” gantian roti kukus Azuma yang dinilai. Lagi-lagi reaksi yang dilakukan Kuroyan sungguh lebay dan cenderung berbahaya. Bahkan kali ini reaksi yang ditimbulkan dari hasil pertandingan juga turut mempengaruhi lawan Azuma kali ini. Hmm kenapa ya kira-kira.

Aduh, Kuroyan… Sudah bikin keributan ternyata hanya bereaksi begitu… (Hal. 135)

Sejenak melupakan pertandingan Pantasia vs St. Pierre, pada bagian 171 “Atshushi dan Akatsuki” kali ini saya diajak berkenalan dengan tokoh selingan bernama Akatsuki Yamatoya. Bocah cilik kaya raya tajir melintir ini ingin menikmati roti kukus buatan Azuma seperti di pertandingan tempo hari. Tentu saja Pantasia tidak menjualnya. Mengetahui hal itu, Azuma bersedia membantu Yamatoya mendapatkan roti itu…dengan tangannya sendiri!

Menurutku… Bocah itu dasarnya bukan orang jahat… Tapi sikapnya yang menggampangkan urusan dengan uang tidak baik. (Hal. 154)

Jilid ini kemudian diakhiri dengan bagian 172 “Dinginkan Kepalamu!” ketika Yamatoya dan (lagi-lagi) Kawachi selesai mencicipi roti buatan Yamatoya. Mereka berdua terlempar ke sebuah dunia lain yang membuat mereka tidak sadarkan diri. Hanya yang berhasil memahami pesan Azuma lah yang bisa kembali ke dunia nyata. Hmm berhasilkah mereka berdua?

Bocah sombong yang tahunya cuma uang sepertimu mending mati di pinggir jalan seperti anjing dunia ini. (Hal. 171)

Huwaah, agak sedih rasanya harus berpisah dengan Norihei Miki. Hal ini tak lain dan tak bukan karena desain karakternya unyu banget dan nyeleneh sendiri dibandingkan tokoh lain. Agak sayang sih kenapa Norihei tidak menjadi tokoh tetap aja.

Kemunculan Panda dan Mizuno sebenarnya tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Selain karena saya juga udah tau siapa jati diri Panda, rasanya jadi tak ada sesuatu yang baru gitu. Padahal tehnik roti kukus yang dilakukan kedua peserta juga cukup hebat lho.

Saya justru tertarik dengan selipan cerita dengan tokoh cameo Yamatoya. Iya benar, ada Yamatoya asli di Jepang sana lho! Cerita ini, meskipun hanya terdiri dari dua chapter saja, pesan moralnya dapet banget. Saya nggak mau cerita banyak ah biar nggak spoiler hehehe.

Selain itu, pertandingan rival antara Pantasia dan St. Pierre semakin mendekati pertengahan. Keadaan yang terbalik membuat Azuma cs harus berusaha keras agar bisa menang. Oh iya, agak mengenaskan juga sih ketika perwakilan Pantasia menginap di sebuah penginapan yang namanya sangat tidak enak diucapkan hehe. Jadi, lanjut baca resensi saya untuk jilid 20 nanti ya :D

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Jomblo

P

Judul: Jomblo

Sub Judul: Sebuah Komedi Cinta

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 211

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Kedua Puluh, 2013

ISBN: 9789797806859

cooltext1660180343

Empat sahabat dengan masalah mereka dalam mencari cinta.

Yang satu harus memilih—seorang yang baik atau yang cocok.

Yang satu harus memilih—antara seorang perempuan atau sahabat.

Yang satu harus memilih—lebih baik diam saja selamanya atau menyatakan cinta.

Yang satu harus memilih—terus mencoba atau tidak sama sekali.

Jomblo adalah sebuah novel yang menjawab semua pertanyaan itu. Pertanyaan yang kita temukan sehari-hari, baik dalam cerita teman atau cerita kita sendiri.

Maret – Adaptasi Buku ke Film

cooltext1660176395

Jomblo itu mungkin bagi sebagian orang adalah status diri yang cukup menyedihkan. Sebagian lain beranggapan jomblo adalah suatu pilihan yang bertanggungjawab. Saya tidak akan membahas jomblo berdasarkan norma agama ataupun nilai sosial. Yang jelas, status jomblo pasti pernah dialami sebagian besar masyarakat Indonesia.

Saya tidak tahu kapan dan siapa yang mencetuskan istilah jomblo. Namun julukan bagi seseorang yang tidak memiliki kekasih ini lebih booming pada kalangan anak muda antara usia sekolah hingga bangku kuliah. Terkadang status jomblo bisa dijadikan lelucon, tetapi seringkali jomblo sangat membuat hati gundah gulana #uhuk #bukancurcol.

Begitu pula yang dialami oleh empat sahabat berjenis kelamin laki-laki bernama Agus Gurniwa, Doni Suprapto, Olfiyan Iskandar, dan Bimo. Sebagai mahasiswa teknik sipil UNB angkatan 96 (gile saya ngerasa muda banget!), sebuah universitas yang minim kaum hawa, menyebabkan mereka dengan bangga menyandang status jomblo. Akibatnya demi memperluas area pencarian jodoh, mereka sengaja bertandang ke kampus tetangga, UNJAT, agar memperoleh akses kepada kaum hawa yang lebih baik.

Hal yang paling memalukan di dunia ini adalah terekspos menjadi jomblo dan jual pesona di kampus orang lain. (Hal. 5)

Sebelumnya saya beri tahu ya, jika kamu menginginkan novel cerita romansa anak muda yang baik-baik dan berbudi luhur nan terpuji, maka kamu tidak perlu repot-repot membaca novel ini. Soalnya keempat orang geng jomblo ini datang ke UNJAT selain ngecengin cewek-cewek, juga dalam rangka menemani Bimo membeli … ganja.

Bener kok kamu ngak salah baca. Kalau sebagian besar novel dengan tokoh anak kuliahan didominasi sifat rajin dan pintar, disini sudah diawali dengan Bimo, sang anak rantau dari Yogyakarta, yang doyan ngemil (?) ganja. Bimo ini anaknya meskipun sangar dan pengguna aktif barang haram tersebut, pengalamannya dalam urusan cinta masih nol besar.

Berbeda dengan Bimo, Agus Gurniwa adalah seorang pemuda Sunda yang menjunjung tinggi logat tanah kelahirannya dalam setiap percakapan. Sayangnya, kehidupan cintanya tidak bisa mencapai puncak tertinggi alias krik krik krik. Namun semua tak berlangsung lama. Berkat permintaan kakaknya membeli keju di pasar, ia bertemu kawan masa sekolahnya dulu bernama Rita Sumantri. Sudah bisa diduga akhirnya Agus dan Rita memasuki tahap pacaran gara-gara keju #terimakasihkeju

“…Kamu yang dulu celananya sering digantungin di tiang bendera kan?” (Hal. 24)

Mari sejenak melupakan Agus. Selanjutnya ada Olfiyan Iskandar yang biasa dipanggil dengan Olip. Dia yang berasal dari Aceh ini sebenarnya mirip-mirip Bimo sih dalam urusan asmara. Hanya saja, sebenarnya Olip sudah memiliki tambatan hati sejak dua tahun yang lalu. Gadis pujaannya ini bernama Asri.

Yang jadi masalah adalah, Olip ini orangnya sangaaaaaaat takut kenalan dengan Asri. Boro-boro Asri kenal, tahu ada spesies bernama Olip di kampusnya juga enggak. Yasudah otomatis Olip hanya bisa memandangi keelokan paras Asri yang anggun dan kalem setiap hari rabu di Kantin Tengah (kenapa rabu dan kantin apa itu? Baca sendiri yee)

Olip kembali konsentrasi pada bidadari paginya. (Hal. 42)

Konflik pertama dialami oleh Bimo. Sudah saya katakan kemampuan Bimo berinteraksi dengan cewek bagaikan anak balita yang diminta lompat indah di kolam renang. Sebuah telepon salah sambung di kos Bimo membuka gerbang perkenalan Bimo dengan seorang gadis.

Gadis yang mengaku bernama Febi ini memiliki suara yang lembut dan sesuai dambaan Bimo. Merasa tidak cukup hanya bercakap selama beberapa minggu melalui telepon SAJA, Bimo mengajak Febi ketemuan. Setelah beberapa kali menolak, Febi akhirnya setuju. Sayangnya pertemuan Febi dan Bimo sungguh diluar dugaan.

Oh iya ketinggalan satu orang lagi. Dia bernama Doni Suprapto. Sebenarnya paras Doni lumayan ganteng dan dari golongan cukup berada. Sayangnya kebiasaan free sex dan enggan berkomitmen dengan perempuan membuatnya betah menyendiri. Ia merasa hubungan dengan cewek tidak perlu terikat. Yang penting sama-sama senang, yasudah.

Merasa kasihan dengan Bimo, akhirnya Doni mengajaknya ke sebuah acara di diskotek untuk memberi pelajaran tata cara berkenalan dengan cewek. Agus ikut serta namun Olip tidak bergabung karena sedang diare (ahelah penyakit sejuta umat anak kos banget).

Disana mereka bertemu dengan seseorang yang sangat familiar. Ternyata dia adalah Asri yang berpenampilan jauh berbeda dibanding saat di kampus (ya iyalah, mosok ya ke diskotek pakai kemeja dan bawa ransel). Merasa ini adalah kesempatan berkenalan dengan Asri agar Olip lebih mudah untuk berhubungan, mereka bertiga mendatangi Asri dan kawan-kawannya.

Agus melihat sebuah pemandangan yang tidak dia percayai. Dia melihat Doni menggamit Asri dan hilang di balik pintu keluar. (Hal. 104)

Di sisi lain, Agus merasa hubungannya dengan Rita menjadi tidak sehat. Ratu drama, posesif, dan semaunya sendiri membuat Agus merasa tertekan. Padahal sifat keibuan dan kalem yang dimiliki Rita adalah hal yang membuat Agus tergila-gila pada awalnya. Sayangnya, Agus tidak bisa menahan dan akhirnya berselingkuh dengan Lani, anak teknik industri angkatan 96, tanpa sepengetahuan Rita (ya iyalah mana aja selingkuh bilang-bilang zzz).

Sementara itu, setelah tiga tahun berdiam diri tanpa langkah apapun, Olip akhirnya mencoba berkenalan dengan Asri di hari rabu di Kantin Tengah #teteup. Entah terlalu gugup atau terlalu semangat, Asri menjadi enggan berdekatan dengan Olip. Sebuah jawaban telak bahkan diberikan Asri pada Olip yang akhirnya membuat Olip tak berkutik. Jawaban apakah itu? Lantas, bagaimana akhir kisah asmara dan persahabatan Doni, Agus, Bimo, dan Olip? Silakan baca bukunya deh.

Sebenarnya inti kisah masing-masing tokoh pria di buku ini sangat lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan anak muda. Bimo adalah potret seorang pria cupu yang tidak memiliki pengalaman interaksi apapun terhadap lawan jenis. Agus adalah representasi seorang pemuda yang jenuh dengan hubungan pacaran dan mengambil jalan keluar singkat.

Doni merupakan tipe anak muda doyan hura-hura dan seks bebas yang menganggap komitmen dengan perempuan adalah hal yang sangat merepotkan. Sedangkan Olip adalah seorang secret admirer yang betah berlama-lama mengagumi gadis pujaan tanpa inisiatif memulai perkenalan. Meskipun begitu, rasa persahabatan mereka cukup erat kok.

Kalau boleh saya berkomentar, sebenarnya masalah yang terjadi dalam kehidupan mereka berempat sangat biasa dan tidak bombastis amat. Bahkan pertemuan Asri dan Lani di toilet terasa kaku, dipaksakan, dan terlalu kebetulan. Oh iya, tindakan Agus wara-wiri memakai kostum ayam demi Lani juga terasa sangat janggal bagi saya, baik alasan maupun tujuannya.

Saya juga merasa konflik setiap tokohnya hanya diselesaikan sekilas tanpa ada keberlanjutan yang lebih jauh. Penyelesaian urusan Lani dan Agus di restoran yang diakhiri dengan ciuman bibir juga membuat saya mengernyit. Haloo, itu restoran masih ada di Indonesia lho ya. Kalau mau cipokan mbok ya jangan di tempat umum #ehsaranapaini.

Ketika sudah mencapai halaman terakhir, saya agak kecewa. Memang urusan asmara dan persahabatan mereka berempat sudah bisa dikatakan terselesaikan. Tetapi tidak tuntas penyelesaiannya. Saya sangat berharap ada epilog tentang kehidupan selanjutnya para tokohnya. Oh iya selain itu yang pasti, gaya hidup tokoh-tokohnya yaitu free sex, drugs, dan minuman keras di diskotek bukan perilaku yang patut dicontoh generasi muda ya.

Namun beberapa kekurangan diatas tertolong oleh gaya penulisan yang kocak dan menghibur. Celetukan dan kalimat-kalimat tidak penting membuat suasana tulisan menjadi segar dan tidak membosankan. Berkali-kali saya dibuat ngakak dengan serpihan-serpihan banyolan penulis pada beberapa sisi tulisan. Tapi meskipun begitu, penulis tetap berhasil menyampaikan inti setiap bagian cerita dengan baik hingga halaman terakhir.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Resensi ini saya posting dalam rangka Baca Bareng BBI. Tema bulan Maret 2015 adalah buku yang diangkat menjadi film. Buku Jomblo karya Adhitya Mulya ini sudah diangkat ke layar lebar pada tahun 2006 dengan pemain-pemain muda (pada masa itu) antara lain Dennis Adhiswara, Rizky Hanggono, Christian Sugiono, Ringgo Agus Rahman, Rianti Cartwright, Nadia Saphira, Karenina, dan Richa Novisha. Berikut ini trailer filmnya.

Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dan Mitzy Christina dari SinemArt adalah produser film ini. Para pemainnya juga berhasil menghidupkan tokoh dalam novel dengan baik (tidak seperti kebanyakan artis jaman sekarang yang cuman modal tampang doang tapi kualitas akting zzzz). Meskipun kocak dan penuh adegan menggelitik, pesan dan makna dalam film ini tersampaikan dengan baik sesuai novelnya. Apalagi Rianti Cartwiright sangat cantik #aduh #gagalfokus.

[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=rsgV48WdMvI[/youtube]

Karya layar lebar hasil arahan sutradara Hanung Bramantyo ini meraih nominasi beberapa ajang penghargaan film, antara lain: nominasi Festival Film Indonesia 2006 untuk Piala Citra kategori Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik; nominasi Festival Film Jakarta 2006 kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terpilih, Pemeran Pembantu Wanita Terpilih, Penulis Skenario Asli Terpilih, Penata Musik Terpilih, dan Penata Suara Terpilih; nominasi MTV Indonesia Movie Awards 2006 kategori Most Favorite Actor, Most Favorite Rising Star, Most Favorite Heart Melting Moment, Best Crying Scene, Best Director, dan Best Movie of The Year.

Saking suksesnya novel dan film ini, bahkan RCTI menayangkan Jomblo The Series (yang saya tidak ingat pernah menontonnya) pada tahun 2007 namun dihentikan penayangannya di tengah jalan karena masalah rating. Padahal tanggapan dari para netizen yang saya baca pada suka loh. Kemudian sempat ditayangkan ulang pada November 2014 lalu (yang saya juga enggak pernah nonton heheheh).

Yakitate!! Ja-Pan Desuyo! (Jilid 18)

coveryakitate18

Judul: Yakitate!! Ja-Pan Desuyo! (Jilid 18)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 196

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2010

ISBN: 9789792784879

cooltext1660180343

Kini berdiri Norihei Miki dari Momoya menghadang Kazuma Azuma yang hendak menyempurnakan Japan! Bagaimana cara Azuma menghadapi lawan tangguh yang mustahil ditaklukkan dalam adu nori!? Telah hadir jilid 18 yang mendebarkan baik tentang arah pertandingan maupun soal perizinan!

cooltext1660176395

Yosshh komik Yakitate!! Ja-Pan sudah memasuki jilid 18. Aslinya sih komik ini udah tamat diterbitkan. Tapi saya masih baca sampai jilid ini. Jadi nggak apa-apa lah ya saya review nya juga nyicil heheheh. Jilid ini dibuka dengan bagian 153 “Tekad Azuma” mengenai pencarian Shigeru dan Kawachi mencari bahan terbaik untuk membuat selai terlezat. Lantas, Azuma dimana? Karena terlalu lelah dan ngedrop, Azuma harus beristirahat di rumah sakit dan tidak bisa ikut bertanding

Justru selai lebih enak dimakan saat hangat! (Hal. 4)

Selanjutnya bagian 154 “Ide Terbaik” menampilkan pagi hari sebelum pertandingan dimulai. Tak disangka, Hashiguchi Takashi (ayah Tsutsumi dan Shigeru, bukan komikus komik ini) turut hadir menyaksikan pertandingan kedua putranya. Tentu saja dengan bala tentara orang-orang sangar di belakangnya.

Padahal selama ini tak pernah hadir di pertandingan olahraga atau hari kunjungan orangtua… Begitu urusan pewaris kelompok Hashiguchi, baru, deh… (Hal. 32)

Mengambil lokasi kota Shinano, pertandingan kali ini diperkirakan cukup alot. Sayangnya, Hashiguchi dan kroni-kroninya yang buta dunia kuliner mulai merasa kedatangan mereka akan membosankan dan sia-sia belaka. Oleh karena itu, sang ayah meminta sedikit bantuan kepada Manajer pada bagian 155 “Inti Dari Segalanya” ini.

Aku minta maaf atas keburukan kami selama ini… Tokong kabulkan satu permohonan ini. (Hal. 51)

Pada bagian 156 “Pengganggu”, pertandingan sudah berlangsung. Sudah dapat diduga, Tsutsumi menggunakan panci (atau wajan?) Yang terbuat dari batu lava sehingga membuat selai yang dimasak akan matang sempurna. Apalagi trik khusus yang mencengangkan turut menambah kemeriahan teknik Tsutsumi ini.

Aku menerapkan semua teknik tradisional dan membuat selai terhebat yang pernah ada. (Hal. 66)

Nah, sejauh ini ada yang penasaran nggak sih apa profesi ayah Shigeru dan Tsutsumi? Sampai-sampai baik Shigeru ataupun Tsutsumi tidak mau menjadi pihak yang kalah dalam pertandingan hehehehe. Pada bagian 157 “Lelaki Kelas Satu” ini akhirnya diumumkan siapa pemenangnya setelah Kuroyan mencicipi roti buatan Tsutsumi dan Shigeru. Lalu pemenangnya siapa?

Menang atau kalah sangat penting bagi kami sampai tak bisa dibandingkan dengan pertandingan sebelumnya dan lebih penting daripada sekadar jadi yakuza bagi yang kalah! (Hal. 91)

Setelah meninggalkan pertandingan keempat, mari beranjak menuju pertandingan kelima. Karena Azuma sudah sembuh dari sakit, kali ini ia bisa ikut berpartisipasi pada bagian 158 “Kekuatan Azuma”. Sebelum pemilihan kotak untuk penentuan lokasi pertandingan, mereka bertiga sudah dikejutkan dengan lawan kali ini. Bahkan kenyataan menakjubkan terkait judul komik jilid ini juga membuat semuanya terhenyak.

Tak usah peduli siapa lawan kita! Yang penting, bikin roti seperti biasa! (Hal. 109)

Lawan dari perwakilan St. Pierre adalah Norihei Miki. Ia adalah seorang ahli dalam bidang pembuatan nori (rumput laut kering). Beliau adalah ikon seorang jenius dalam dunia nori. Yang membuat pusing adalah, pada bagian 159 “Kawachi dan Kura-Kura” ini ternyata lokasi pertandingan ada di Uppurui, kota yang terkenal akan nori! Wah, bagaimana ini ya..

Biar dicoba menutupinya dengan roti seenak apa pun, kita tak mungkin menang. (Hal. 130)

Meskipun begitu, Azuma memiliki sebuah trik yang diharapkan bisa mengalahkan roti buatan Pak Norihei. Pembuatan roti ini dituangkan pada bagian 160 “Adonan Lembut Mengembang” yang cukup menarik. Sayangnya, mereka bertiga (ehm, Shigeru dan Azuma aja, Kawachi nggak usah dihitung) masih belum yakin dengan keampuhan trik Azuma ini.

Kita hanya perlu bikin adonan lembut mengembang seperti nasi yang baru matang. (Hal. 145)

Pada hari pertandingan, tak disangka Azuma dan Pak Norihei menerapkan teknik yang serupa dalam pembuatan creaming dari mentega yang dikocok-kocok. Pada bagian 161 “16 Pulau” ini Kawachi, Tsukino, dan Manajer mulai ragu dengan kelanjutan pertandingan. Pasalnya, jika teknika yang digunakan Azuma dan Pak Norihei sama, tentu ini adalah kekalahan telak untuk Pantasia. Yah meskipun begitu, Kuroyanagi tetap menilai roti Azuma dengan reaksi yang cukup ekstrim.

Kalau melakukan hal lain di luar membuang gas setelah fermentasi pertama, gluten yang sudah terbentuk akan hancur! (Hal. 164)

Bab terakhir sekaligus penutup jilid ini adalah bagian 162 “Rating Cerai Sunday” ketika penilaian dilakukan untuk roti Pak Norihei. Sama seperti roti Azuma, reaksi yang diberikan oleh Kuroyan juga sangat tidak biasa. Bahkan ia meninggalkan lokasi pertandingan selama beberapa lama hanya untuk menunggu roti Pak Norihei selesai dibuat. Lantas, siapa pemenang pertandingan kelima ini?

Aku tak mengerti kehebatan roti itu sampai membuatnya ingin menikah. (Hal. 180)

Akhirnya setelah agak jenuh dengan kemunculan Azuma, untunglah pertandingan keempat menampilkan Shigeru sebagai tokoh utama. Dibumbui dengan konflik keluarga membuat pertandingan Shigeru cukup menarik untuk diikuti. Apalagi teknik dari Tsutsumi sangat menarik minat saya untuk mencoba mempraktikkannya sendiri (dengan resiko kebakaran).

Untuk pertandingan kelima, saya jatuh cinta dengan artwork Norihei Miki. Berbeda dengan artwork tokoh lain, tokoh Norihei memang menyadur dari maskot sebuah merek pasta rumput laut “Gohan Desuyo” yang terkenal di Jepang. Jadi unyu-unyu gitu heheheheh.

Setelah melalui 18 jilid, saya bisa menarik kesimpulan bahwa komik ini bisa dikatakan fiksi-non fiksi ya. Kalau masalah teknik pembuatan roti (khususnya saat pertandingan) dan info-info kuliner roti, saya rasa adalah sebuah fakta yang benar adanya. Apalagi didukung tokoh kuliner sebagai pendukung informasi. Beberapa tips sederhana juga bisa diterapkan di rumah lho.

Nah sisi fiksi komik ini banyak dituangkan pada reaksi yang diberikan Kuroyan (atau Pierrot) sebagai juri yang menilai roti peserta. Sebagian besar (kalau tidak bisa dibilang semua) reaksi sang juri itu luebay dan nggak masuk akal buanget. Tetapi justru saking absurd-nya inilah membuat komik ini memiliki keunggulan dibandingkan komik kuliner serupa.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 17)

coveryakitate17

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 17)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2010

ISBN: 9789792771060

cooltext1660180343

Identitas lawan di pertandingan ketiga yaitu sang ninja misterius ternyata Suwabara! Bagaimana hasil pertandingan sesama kawan yang saling mengerahkan seluruh kemampuannya? Lalu… cari tahu identitas Shigeru Kanmuri sekarang! Plus 10 halaman komik bonus yang patut disimak!

cooltext1660176395

Kecerobohan Kawachi yang penasaran dengan identitas asli lawan perwakilan St. Pierre membuat sebuah kejutan yang nggak heboh-hebioh amat. Pada bagian 144 “Simpati Seorang Samurai” ini, meskipun Suwabara sudah jelas-jelas ketahuan dibalik kostum ninja, ia masih bisa mengelak. Lebih gebleknya lagi, Azuma dan Shigeru juga percaya aja dengan alasan si ninja ini. Hmm benarkah demikian?

Dia seorang pencari kebenaran… Dia akan melakukan apa pun untuk jadi juru roti. (Hal. 11)

Pada bagian 145 “Perbedaan Budaya” ini diceritakan tentang rencana Suwabara dan Azuma agar bisa memenangkan pertarungan. Minimnya bahan khas daerah Ooma membuat kedua tim sama-sama menggunakan bawang daun sebagai bahan utama mereka. Yang tidak mereka sadari satu sama lain, ternyata jenis pengolahan dan roti yang akan dibuat ternyata sama persis!

Karena bahannya sama, berarti yang diadu cara pengolahannya. (Hal. 27)

Keesokan paginya, Azuma masih lesu karena belum menemukan suatu hal baru pada rencananya. Namun Kawachi sudah percaya diri dengan ide Azuma menggunakan bawang daun sebagai bahan roti. Meski diawali dengan kebodohan Kawachi (lagi-lagi), bagian 146 “Rencana Rahasia Suwabara” cukup seru karena Suwabara ternyata sudah memikirkan teknik jitu dalam pertandingan kali ini.

Pertandingan ini… Mungkin berakhir dengan kekalahan Azuma! (Hal. 50)

Selain menggunakan bawang daun, adanya Monica sebagai partner Suwabara membuat kepercayaan diri tim St. Pierre meningkat drastis. Alih-alih memikirkan teknik Azuma, pada bagian 147 “JaPan Lipat” ini menyuguhkan pembuatan roti legendaris dari Suwabara dipadukan dengan pembuatan blanchir oleh Monica, sang master kue.

Monica juga mengakuinya sebagai juru roti hebat. Tapi, kalau tak konsentrasi pada rotimu sendiri, walau mestinya bisa menang, kau bisa jadi kalah, lho. (Hal. 66)

Roti Suwbara matang terlebih dulu. Oleh karena itu Kuroyanagi mencicipi roti Suwabara sambil menunggu roti Azuma. Tak disangka, teknik legendaris dari Suwabara membuat Kuroyanagi berputar! Pada bagian 148 “Misteri Wanita” ini, selain teknik menakjubkan Suwabara, ternyata Azuma memiliki senjata pamungkas sehingga bisa memenangkan pertandingan.

Walau demi bertanding aku sudah berkhianat… Tak ada tempat mati yang lebih sesuai untuk lelaki bengkok sepertiku kecuali di sini. (Hal. 89)

Setelah pertandingan putaran ketiga selesai, Pantasia Cabang Tokyo Selatan dikejutkan oleh orang-orang misterius dan berbuat onar di depan toko. Manajer Matsushiro yang perawakannya mirip preman tentu saja meladeni para biang keributan pada bagian 149 “Rahasia Shigeru” ini.

Kalau sudah jadi begini, semua harus diselesaikan sekarang juga. (Hal. 106)

Ternyata, lawan Pantasia pada pertandingan putaran keempat ini berasal dari kehidupan Shigeru. Meskipun Shieru ingin menolak apa yang diminta sang lawan, Masanobu Tsutsumi, ia tetap harus melakukannya karena tidak ada pilihan lain. Masanobu yang didaulat menjadi koki kerajaan Austria sesungguhnya berpotensi kalah karena pada bagian 150 “Tema Terburuk” ini seharusnya ia tidak mengetahui dengan baik bahan khas daerah di Jepang.

Produk khas Jepang tak umum digunakan sebagai bahan kuliner di Austria. (Hal. 126)

Keesokan harinya adalah pemilihan kotak sekaligus penentuan lokasi. Hal yang cukup berbeda terjadi di pertandingan kali ini. Awalnya daerah yang terpilih adalah Shinano. Yang menjadi tantangan lagi adalah apabila tiga putaran sebelumnya setiap peserta membuat roti, kali ini justru mereka dilarang membuat roti dan harus membuat selai. Pada bagian 151 “Kadang-Kadang, Ajarkan Dendam…” ini disebutkan bahwa penentuan apa yang perlu dibuat peserta ini adalah semata-mata demi rating dan permintaan pemirsa.

Sebenarnya, aku tak begitu berminat pada selai, jadi tak pernah buat. Tapi, menurutku, di balik hal yang sederhana terdapat kerumitan. (Hal. 151)

Sementara itu, nun jauh di suatu daerah, ayah Shigeru dan Masanobu (yep, mereka berdua adalah saudara satu ayah beda ibu), Takashi Hashiguchi, cukup khawatir dengan pertandingan ini. Bukannya apa-apa, hasil pertandingan inilah yang menentukan siapa pewaris dari bisnis keluarga. Mau tahu profesi ayah Shigeru ini? Semua dijelaskan pada bagian 152 “Selai Terlezat” heheheh.

Masanobu tak pernah bertemu Shigeru… Tapi, dia dibesarkan dengan mendengar berita soal Shigeru terus-terusan… (Hal. 166)

Pada dasarnya, pertandingan putaran ketiga yang melibatkan Suwabara dan Monica itu cukup menarik. Diawali oleh kostum ala ninja demi menyamarkan jati diri, alasan Suwabara berkhianat dan menjadi perwakilan St. Pierre, hingga teknik legendaris dari koki Perancis jaman dahulu membuat pertandingan ini seharusnya sangat memukau.

Sayangnya, eksekusi inti yaitu pada pembuatan roti justru disia-siakan Hashiguchi-san. Ramuan yang sudah cukup bagus justru dihancurkan oleh roti yang kalau boleh saya katakan, biasa buanget. Bahkan Azuma yang biasanya memiliki teknik mencengangkan justru menggunakan teknik yang sangat sederhana. Oh please deh.

Kekecewaan saya pada pertandingan putaran ketiga ini diobati oleh (calon) pertandingan putaran keempat. Selain melibatkan masa lalu Shigeru, tokoh Masanobu Tsutsumi terlihat sangat sulit untuk dikalahkan. Apalagi tema kali ini yang sangat dikuasai Masanobu sebagai koki kerajaan Austria membuatnya di atas awan.

Oh iya, ada yang ngeh kalau nama ayah Shigeru dan Masanobu sama persis dengan komikus komik ini? Cukup lucu juga sih mengetahui si komikus menyisipkan dirinya sendiri dalam komik buatannya. Yah ini bisa jadi self-promotion juga sih biar pembaca lebih hapal kepadanya.

Yang tidak kalah menarik, bonus komik tambahan berjudul Wild Life sungguh sayang untuk dilewatkan. Wild Life sebenarnya adalah judul komik tersendiri. Namun disini Hashiguchi-san membuat Wild Life versi buatannya.

Tokoh utama komik bonus ini tetaplah Tessho Iwashiro, seorang dokter hewan. Bahkan demi membuat “rasa khas” Hashiguchi, Kawachi didatangkan sebagai cameo menjadi pasien Iwashiro. Wah, kira-kira apa yang akan dilakukan dokter hewan ini? Baca sendiri ya hehe. Psst, jangan lupa baca review jilid 18 nanti yak!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 16)

coveryakitate16

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 16)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 190

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2010

ISBN: 9789792766813

cooltext1660180343

Lawan yang menanti di pertandingan kedua ‘Yakitate!! 25’ yang sangat tangguh dan menyebalkan sewaan St. Pierre, yaitu grup trio CMAP! Jangan kalah oleh orang-orang seperti itu, Azuma! Japan penuh amarah yang membangkitkan cita rasa khas daerah beraksi!!

cooltext1660176395

Kompetisi akbar dua bakeri terkenal, Pantasia dan St. Pierre masih berlanjut. Kali ini memasuki tahap kedua. Setelah memenangkan tahap pertama, Azuma cs menghadapi lawan yang cukup tangguh dalam bagian 134 “Tiga Anak Panah” ini. Karena bukan hanya satu orang seperti sebelumnya, St. Pierre kali ini menurunkan tiga orang sekaligus!

Bodoh! Kenapa kami bertiga harus bersatu untuk melawan ikan kecil seperti mereka? (Hal. 13)

Pada bagian 135 “Reaksi yang Tak Boleh Disiarkan” telah diumumkan lokasi pertandingan kali ini yaitu Saito. Lagi-lagi karena minimnya dana yang dimiliki, perwakilan Pantasia harus menginap di sebuah penginapan reot dan menyedihkan. Sementara itu, perwakilan St. Pierre yaitu Kaname Hiroshi, Chimatsuri Gou, dan Narumi Shizuto memiliki rencana mengalahkan Azuma.

Saito, sebuah kota di prefektur Miyazaki. Terkenal dengan kompleks pemakaman kuno “Saitohara Kofun Gun”. (Hal. 32)

Selain bahan utama yang bisa dikatakan mahal, ternyata Saito merupakan daerah paling cerah se-Jepang. Berkali-kali Azuma dan Kawachi berpanas-panas ria mencari bahan utama. akhirnya ide mengejutkan Azuma temukan pada bagian 136 “Kita Pakai Haniwa” saat di penginapan.

Untuk bikin kare kental berkualitas tinggi, kau harus memakai mangga. (Hal. 47)

Benar sekali, Saito memiliki keunggulan pada buah mangga yang dihasilkan. Rasanya yang manis dan penampilannya yang cantik membuat mangga Saito menjadi primadona. Alih-alih membuat mangga menjadi ekstrak atau semacamnya, Azuma mengubah mangga ini pada bagian 137 “Sari Buah Mentah” menjadi apa adanya.

Mungkin mereka memakai daging sapi Miyazaki dan saus demi-glance sebagai senjata utama mereka. (Hal. 72)

Tepat pada hari pertandingan, ketiga anggota CMAP perwakilan St. Pierre memiliki teknik dan rencana luar biasa dalam membuat roti. Di sisi lain, Azuma terlihat kesulitan dengan adonan roti yang tidak bisa diuleni. Lah, terus bagaimana cara membuat rotinya? Kisah ini disuguhkan pada bagian 138 “Semenanjung Melayu” yang unik.

Situasi kritis ini pun bisa berubah jadi kesempatan… dengan teknik superku!! (Hal. 84)

Saat Kuroya sebagai juri mencicipi roti peserta St. Pierre yang matang terlebih dahulu, rasanya sungguh menakjubkan. Bahkan Kuroyan repot-repot membawa satwa langka untuk menunjang reaksinya itu. Kemudian roti buatan peserta Pantasia dicicipi pada bagian 139 “Kenikmatan yang Tak Bisa Diperagakan dengan Akting” yang menakjubkan.

Karena nggak mungkin menang dalam rasa, mereka mau menang dalam soal bentuk, ya? Mendingan mati, deh! (Hal. 107)

Seperti yang sudah bisa diprediksi, reaksi Kuroyan setelah mencicipi roti Azuma juga tidak main-main. Bahkan jauh lebih spektakuler dari pencicipan roti CMAP. Wah memangnya apa yang terjadi? Pada bagian 140 “Kontak dengan Haniwa” ini bahkan Kuroyan tak sanggup menjelaskan alasannya.

Tapi, harus ada yang menjelaskan alasan kemenangan kalian pada penonton. (Hal. 121)

Meninggalkan akhir tahap kedua pertandiangan Yakitate!! 25, pada bagian 141 “Usooon” adalah bagian ice breaking dimana kakek Azuma dari Niigata ingin mengunjungi Azuma bersama sang kakak. Bahkan tak segan-segan, Kakek Umataro mengirim tepung khusus agar Azuma bisa menyuguhkan roti terbaik dengan tepung itu.

Karena sudah susah payah dikirim, aku akan bikin jamuan terlezat untuk kakekmu dengan tepung ini! (Hal. 148)

Lanjut pada bagian 142 “Nin Nin” adalah putaran ketiga pertandingan Pantasia dan St. Pierre. Setelah seluruh anggota CMAP takluk oleh kehebatan Azuma dkk, kali ini St. Pierre diwakili oleh sepasang ninja. Saking sebelnya, Kawachi penasaran dengan jati diri kedua ninja ini.

Mungkin saking putus asanya, karena CMAP andalan mereka kalah, St. Pierre akhirnya menurunkan juru roti cosplay! (Hal. 165)

Akhirnya bagian 143 “Yang Bengkok” sebagai penutup mengisahkan perjalanan Azuma, Kawachi, dan Shigeru menelusuri kota Yokosawa yang tidak memiliki bahan khas daerah. Mengira informasi dari Shigeru tidak diketahui orang banyak, Kawachi terkejut dengan penampakan kedua nina yang mengetahui bahan rahasia itu lebih dulu.

Dibandingkan bawang daun biasa, bawang daun bengkok Yokosawa di kota Oota ini sangat lembek. Jadi tak bisa dibudidaya tegak lurus. (Hal. 180)

Putaran kedua pertandingan ini jelas jauh lebih menarik daripada putaran pertama kemarin. Ditambah ketiga member CMAP yang sangat menyebalkan membuat sensasi membaca bagian itu lebih membara. Pengen saya tendang aja itu ketiga member songong itu.

Di sisi lain, roti yang dibuat oleh CMAP ataupun Azuma cs kurang greget jika dibandingkan jilid sebelumnya. Selain saya yang emang nggak tahu dimana menariknya, pembuatan roti di jilid ini terasa singkat dan remeh alias tidak ada sesuatu yang istimewa. Mungkin gara-gara roti ini bukan Ja-Pan milik Azuma.

Titik cukup menarik justru pada putaran ketiga pertandingan. Apa lagi jika bukan melihat lawan pertandingan yang berkostum serba ninja. Saya sebenarnya sudah tahu sih jati diri kedua ninja ini (ya iyalah, wong saya pembaca), tetapi Kawachi dkk sangat lelet menyadari hal ini. jadi tambah bikin geregetan. So, tunggu review jilid 17 yah!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Croissant

covercroissant

Judul: Croissant

Sub Judul: Antologi Kisah Kehidupan

Penulis: Josephine Winda

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: viii + 196

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9786020251394

cooltext1660180343

Ditemani santainya kepulan asap teh saat senja

Sepotong croissant renyah mencecap rasa

Berlapis seperti kisah kehidupan yang tak kunjung habis

Diwakili sepuluh cerita dunia

Semoga tak lekas ucapkan bon voyage—selamat tinggal

Hanya maklumi c’est la vie—itulah hidup.

“… kemahiran memadu judul-judul yang funky, bahasa yang light, dan pilihan tema tentang hidup yang muda dengan segala romantismenya, menjadikan kumpulan cerita buku ini seolah teman yang akan menemani kita melepas lelah.” – Sannie B. Kuncoro, penulis novel “Garis Perempuan”, “Ma Yan”, “Memilikimu”

“… mungkin berlebihan untuk mengatakan saya tersihir oleh tulisan Winda. Tetapi, pasti saya menikmati setiap kata, kalimat, dan keseluruhan ceritanya seperti ketika SD saya menikmati cerita ibu guru saya. Saya bukan sekadar menunggu ending, tetapi juga menikmati bagaimana cerita berproses.” – Her Suharyanto, pegiat dunia perbukuan dan penulisan

cooltext1660176395

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar negara Perancis? Menara Eiffel? Benua Eropa? Musim dingin yang romantis? Atau mungkin roti Perancis yang terkenal itu? Well, sepertinya Perancis memiliki keunikan tersendiri di mata orang-orang. Ada yang suka kulinernya, ada yang terpukau pariwisatanya, ada pula yang terpesona dengan bahasa nasionalnya yang dinilai seksi bagi sebagian orang.

Mari sejenak melupakan bahasanya. Apakah kamu pernah menikmati atau setidaknya mengetahui tentang roti croissant? Di Indonesia, roti ini sudah cukup banyak beredar dimana-mana. Biasanya roti ini dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi. Rasanya yang legit dan menggugah selera sangat cocok dengan orang Indonesia yang suka ngemil makanan manis.

Nah, kamudian apa jadinya jika beberapa istilah bahasa Perancis dituangkan dalam kisah-kisah menyentuh dan memukau? Hal inilah yang saya rasa ingin diberikan penulis, yaitu pembaca menikmati hasil tulisannya sambil mencecap rasa croissant yang enak. Sepuluh cerita yang berbeda dalam satu buku memberikan sensasi berbeda saat membacanya. Simak satu-persatu yuk!

Kisah pertama berjudul Déjà vu dengan tokoh utama Ericka. Gadis yang masih duduk di bangku kuliah ini memiliki kekasih bernama Yuki. Setelah ditinggal Yuki beberapa lama karena praktik kerja lapangan, ia akan berjumpa kembali di kampus. Namanya sang pujaan hati, tentu Ericka bersemangat sekali menyongsong hari perjumpaan mereka kembali.

Yuki ini anaknya gemar melawak dan bertingkah lucu dihadapan kawan-kawannya, tak terkecuali pada Icka (panggilan Ericka). Namun ternyata tidak segala hal bisa dijadikan guyonan, bahkan kepada kekasihnya sendiri. Karena siapa tahu, lawakan itu berakibat fatal.

Mengapa kejadian-kejadian itu sepertinya terus-menerus berulang? Kenapa tidak ada kejadian lagi pada hari setelahnya? (Hal. 12)

Setelah menikmati kisah yang sangat singkat dari Ericka dan Yuki, cerita kedua memiliki judul Bon Apétit. Tokoh dalam kisah ini adalah cewek tambun bernama Talitha yang sangat gemar makan dan kuliner serta cowok muda bernama Idham. Mereka berdua yang dipertemukan pada milis internet ternyata cocok dan saling bertegur sapa.

Karena hobi mereka sama, Idham bermaksud mengajak Talitha wisata kuliner di Semarang. Meski awalnya berfirasat buruk, Talitha menyanggupi tawaran Idham. Tanpa Talitha sadari, keputusannya berjumpa dan menaruh hati pada sosok Idham akan bermuara pada sandiwara menyakitkan.

Ia bingung mengapa Idham sekarang kurus dan tidak lagi bulat seperti yang tampak pada foto? (Hal. 23)

Kisah selanjutnya adalah cerita tentang pembalasan dendam seorang gadis kantoran bernama Dicta kepada rekan kerjanya, Cakra. Pada cerita berjudul Vis-à-Vis ini, Dicta memaparkan alasan ia harus balas dendam dan bagaimana caranya membuat Cakra hancur berkeping-keping. Ternyata sakit hati Dicta dimulai saat masa sekolah tujuh tahun yang lalu.

Merasa Cakra sudah masuk dalam perangkapnya, Dicta tak segan-segan melancarkan aksinya dalam menyakiti hati Cakra. Namun sesungguhnya Dicta tidak mengetahui sebuah fakta menyakitkan yang disimpan Cakra rapat-rapat. Fakta apakah itu?

Ben, apa gunanya memiliki perasaan suka pada seseorang jika kau hanya memendamnya seorang diri? (Hal. 43)

Meninggalkan drama kehidupan Dicta, mari lanjut ke cerita keempat berjudul Mademoiselle. Seperti judulnya, tokoh utama perempuan kali ini bernama Margaretha. Ia memang berpenampilan seperti gadis tahun 1800-an saat bekerja. Apalagi ditambah payung berenda yang tak pernah lupa dibawanya.

Penampilan Margaretha yang mempesona menggetarkan seorang pemuda bernama Galang. Mereka sering menyapa tiap pagi hari. Sayangnya, profesi Galang yang jauh berbeda dibandingkan Margaretha membuatnya ciut nyali. Bahkan ia tidak menyadari bahwa Margaretha akan sangat terluka apabila Galang putus asa dan melakukan sesuatu esok hari.

Lagi pula, bagaimana aku bisa meramalkan perasaannya? Kenal saja tidak. (Hal. 66)

Kisah kelima berjudul Touché yang mengambil kehidupan gadis bernama Kabita. Cewek ini adalah potret gadis yang sulit mendapatkan pasangan. Bukan karena ia tidak laku, hanya saja ia adalah seorang yang cenderung pemilih dan selalu merasa ada yang kurang dari diri laki-laki yang mendekatinya.

Gracia (kok namanya kayak merek ekstrak kulit manggis hehe), sahabat Kabita, juga dibuat pusing karena kondisi ini. kehidupan rumah tangganya yang harmonis berbanding terbalik dengan kisah romansa sahabatnya. Bahkan ia juga tidak menyangka suatu hari Kabita membawa kabar akan segera menikah dengan seorang pria. Apa yang terjadi dengan Kabita?

Sekian tahun lamanya Kabita betah sendiri dan hanya berkencan dengan beberapa pria. Tak seorang pun yang cocok bagi diri Kabita. Selalu ada hal yang membuatnya urung. (Hal. 79)

Rendezvous adalah judul kisah keenam. Disini diceritakan seorang pria bernama Mario yang berjumpa lagi dengan cinta lamanya, Desira. Setelah tiba-tiba Desira meninggalkan Mario tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Mario dikejutkan dengan suara Desira diujung telepon. Tak ingin melewatkan kesempatan, Mario meminta bertemu dengan gadis yang pernah singgah di hatinya itu.

Selain bertukar cerita mengenai kehidupan masing-masing, pertemuan ini juga membahas tentang masa lalu mereka. Lebih tepatnya masa lalu ketika Desira meninggalkan Mario tanpa ada penjelasan sama sekali. Saya sesungguhnya mengharapkan alasan yang lebih greget dibandingkan alasan klise yang diucapkan Desira, tetapi tepat pada kalimat-kalimat mencapai ending, ada suatu hal yang mengejutkan.

Rupanya, bagaimanapun cerita yang lalu dikubur, suatu saat benang merah yang mengaitkan kisah-kisah di antaranya akan muncul kembali ke permukaan. (Hal. 96)

Nah selanjutnya adalah cerita yang tak kalah menarik. Kisah tentang gadis bernama Delia yang mencoba mencari tahu kabar cinta monyet masa sekolahnya dulu. Cerita berjudul Je t’aime ini rasanya cocok untuk orang yang gagal move on dan mencoba terus kepo pada pujaan hatinya.

Delia menunjukkan fakta bahwa meskipun cinta masa lalu masih tersis, bukan berarti orang yang sama akan memiliki sifat dan perilaku yang serupa. Pedro sebagai cinta Delia di masa kini adalah Pedro yang sanat berbeda. Bahkan Pedro membuat Delia sadar dan mengerti tentang arti seseorang yang ada untuknya.

Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata mengapa Delia jatuh cinta di kala itu kepada Pedro. Bukankah cinta tak memerlukan alasan? (Hal. 116)

Beralih pada kehidupan karyawati sebuah perusahaan bernama Fernanda. Dikisahkan Nanda ini adalah tipikal karyawati yang pintar, berdedikasi, rajin, dan professional. Bahkan ketika muncul seorang karyawan baru berparas rupawan dari Colorado bernama Gavin, Nanda tetap pada prinsipnya yang workaholic.

Judul cerita ini yaitu C’est la vie memberikan sebuah isu masa kini tentang kesetaraan gender. Tokoh Nanda dan Gavin memberikan sekeping potret kehidupan mengenai kaum perempuan yang masih dianggap lemah. Saya sangat menyukai adu argumen yang diutarakan Nanda kepada atasannya di cerita ini.

Tak dapat dipungkiri, memiliki wajah ganteng dan postur tubuh tinggi tegap adalah anugerah yang sangat menguntungkan bagi para pria. (Hal. 144)

Voilà. Kata ini biasanya diungkapkan saat ada sesuatu yang mengejutkan. Kata ini juga menjadi sebuah ungkapan yang patut menggambarkan akhir kisahnya. Adalah seorang gadis bernama Selena yang kisah hidupnya beda tipis dengan Kabita. Ya benar, Selena memiliki kisah percintaan yang berantakan dan kurang hoki untuk urusan cowok.

Sedangkan Friska bagaikan Gracia. Ia sering mengenalkan pria-pria yang mungkin bisa menjadi pendamping Selena. Namun sayang, usahanya sia-sia belaka. Suatu hari, Selena membawa kabar gembir untuk Friska. Akhirnya ia akan segera menikah dengan lelaki pujaannya. Sayangnya, sebelum Friska ikut bersorak bahagia, sebuah fakta dari Selena membuat Friska terhenyak.

Jika tidak ada getar yang sama dalam frekuensi kerinduan, bukan jatuh cinta namanya. (Hal. 166)

Kisah penutup dalam buku ini berjudul Bon Voyage dengan kehidupan rumah tangga Nadhira dan Pram sebagai titik fokus. Nadhira adalah tipe seorang istri yang lembut dan penurut pada suami, sedangkan Pram adalah potret suami yang cenderung kasar dan semaunya sendiri. Meskipun dikaruniai suami seperti itu, Nadhira tetap bertahan demi rumah tangga dan kedua anaknya.

Ternyata awal kehidupan menyedihkan ini bermula saat Pram dan Nadhira dijodohkan. Kedua orang tua mereka yang ingin melihat anak masing-masing bersanding di pelaminan, mengabaikan kondisi Nadhira sebagai gadis lugu dan Pram yang memiliki emosi tinggi. Akhirnya hal inilah yang membuat kehidupan pernikahan mereka berdua diujung tanduk.

“Hari genee masih dijodohin? Nggak salah, Nad?! Kamu hidup di abad berapa?” (Hal. 177)

Pada awalnya, saya tidak menghiraukan sub judul Antologi Kisah Kehidupan yang tertulis di cover. Saya mengira kisah kehidupan yang dimaksud adalah kisah cinta muda-mudi yang dimabuk asmara dan berakhir bahagia. Namun saya salah. Memang beberapa kisah diperankan oleh tokoh berusia muda dan happy ending, tetapi sebagian lain memberikan cerita yang berbeda.

Yang saya sukai dari tulisan Winda ini adalah ceritanya membumi. Alih-alih menuliskan kata-kata puitis dengan berbagai ungkapan rumit, penulis menggunakan kata yang sederhana dan tepat sasaran dengan maksud yang ingin disampaikan. Seolah-olah semua tokoh dalam buku ini terasa nyata dan benar-benar terjadi.

Salah satu kekhawatiran saya membaca buku antologi alias kumcer adalah banyaknya tokoh yang muncul sehingga membuat rancu. Lihat saja ada 20 tokoh utama dalam setiap cerita. Belum lagi tokoh pendamping dan figuran yang muncul sekilas. Namun Winda berhasil memberikan karakter cukup kuat pada setiap tokoh utama dalam ceritanya masing-masing.

Selain itu, biasanya saya kurang puas membaca kumcer karena akhir cerita biasanya terjadi terlalu cepat. Maksud saya, cerita-cerita tersebut sebenarnya ada potensi untuk digali lebih dalam. Namun saya tidak menemukannya dalam buku ini. Selain cerita pertama, sembilan cerita yang lain memberikan akhir yang lugas dan pantas. Bahkan apabila terpaksa dipanjangkan, justru menjadi tidak menarik lagi.

Seperti yang sudah saya bilang, kisah pertama tentang Icka dan Yuki terasa sangat singkat bagi saya. Saya ingin ada tambahan sih, tetapi sebenarnya memang harus seperti itulah ending yang sesuai. Akhirnya saya jadi geregetan sendiri.

Oh iya, pada cerita keempat berjudul Mademoiselle, ada sudut pandang yang inkonsisten. Saya tidak tahu apakah ini gaya penulis, namun sudut pandang orang ketiga yang tiba-tiba berubah menjadi orang pertama kemudian kembali lagi ke orang ketiga tanpa adanya pemberitahuan membuat perpindahannya sangat kasar. Inilah yang membuat saya kurang menyukai dengan sudut pandang yang dicampur-campur.

Yang lebih membuat saya heran, kenapa saya tidak menemukan satupun kata croissant ya di buku ini? Mungkin saya luput atau saya lelah, tetapi mosok ya judul buku malah nggak muncul sama sekali di isinya? Padahal adegan makan dan setting di kafe cukup banyak lho. Kemudian Perancis juga tidak saya temukan menjadi lokasi di salah satu ceritanya. Mungkin memang maksud penulis hanya menggunakan stilahnya saja tanpa memaksakan unsur Perancis dalam setiap kisahnya? I don’t know.

Kalau ditanya kisah mana yang menjadi favorit, saya akan menjawab semuanya hehehe. Bukannya maruk, tetapi memang setiap cerita dan tokohnya masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Hal ini tidak lepas dari kepiawaian penulis dalam mengeksekusi karakter dan ceria sehingga meninggalkan kesan bagi pembacanya. Good job, Josephine Winda!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 15)

coveryakitate15

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 15)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792762402

cooltext1660180343

Pantasia akhirnya diambil alih oleh St. Pierre! Yang dapat menyelamatkan Pantasia dari dilema ini hanya kemenangan dalam acara TV ‘Yakitate!! 25’!! Berjuanglah, Azuma!! Raihlah kemenangan dengan Japan yang memakai produk khas daerah!!

cooltext1660176395

Selamat siang. Wah udah semingguan saya nggak update blog ini. Daripada kelamaan berdebu, saya update review komik kesukaan saya deh hehehe. Pada jilid 15 ini, Azuma dan lainnya menghadapi kenyataan mengerikan saat tiba di Jepang. Tidak sampai disitu, pada bagian 124 “Tantangan Kirisaki” Azuma dan kawan-kawan dituntut berpikir ekstra hati-hati.

Tsukino, kalau hanya fokus pada hal yang buruk, kau tak bisa mulai apapun. (Hal. 8)

Selanjutnya pada bagian 125 “Yakitate!! 25” mengisahkan bentuk nyata dari tantangan pemilik St. Pierre tempo hari. Ternyata Kirisaki menawarkan sebuah pertarungan membuat roti dari kedua bakeri ini. Tidak tanggung-tanggung, pertarungan ini akan disiarkan melalui televisi nasional!

Kau harus membayar semua biaya produksi dan penyiaran acara ini dengan 12 miliar yen yang kau dapatkan dari Monaco Cup. (Hal. 24)

Pada bagian 126 “Ajaran Guru” dikisahkan detik-detik pertandingan ini. Namanya sebuah lomba, tentu memerlukan seorang juri yang mengerti roti yang nikmat. Sayangnya, Pierrot sudah tidak muncul lagi disini. Jadi, yang menjadi juri sekaligus penentu pemenang pertandingan adalah… Ryo Kuroyanagi!

Kau harus berhenti jadi juru roti dan beralih jadi kritikus makanan. (Hal. 44)

Setelah juri terpilih dan masing-masing peserta dari kedua bakeri telah siap, maka Yakitate!! 25 akan segera digelar. Pada bagian 127 “CMAP?” mengisahkan pertandingan perdana antara Azuma, Shigeru, dan Kawachi sebagai perwakilan Pantasia melawan Tsubozuka Takumi sebagai perwakilan St. Pierre. Psst, lagi-lagi Kuroyan bertingkah lebay dalam pertandingan ini hahaha.

Tiba-tiba dia mengajukan surat pengunduran diri dari Pantasia… (Hal. 63)

Pada bagian 128 “Super Tuna”, ternyata peserta harus membuat roti dengan menggunakan produk unggulan daerah tertentu. Pada pertandingan kali ini, daerah yang dijadikan lokasi pertandingan adalah Ooma yang unggul akan ikan tunanya. Sayangnya, karena taktik licik Yukino, Azuma cs tidak mendapatkan tuna secuilpun.

Daripada memusingkan lawan yang kuat atau lemah, mendingan pikirkan cara bikin roti enak. (Hal. 77)

Selanjutnya bagian 129 “Dalamnya Putih, Tapi Namanya Ungu” mengisahkan ide brilian Azuma saat menghadapi ikan tuna yang habis dimana-mana. Ternyata selain tuna, ada spesies hewan laut lain yang dilupakan. Padahal spesies ini cukup unggul juga dari Ooma.

Kualitas landak laut Ooma juga tinggi dan harganya jauh lebih murah daripada super tuna. (Hal. 110)

Akhirnya pertandingan resmi digelar. Pada bagian 130 “Sampah Harus Dimasukkan Ke Kantong Sampah” ada sedikit hal aneh, yaitu Kawachi diminta oleh Azuma untuk membuat roti Perancis yang tidak enak. Jadi heran, kenapa Kawachi harus membuat roti yang tidak enak padahal ini pertandingan membuat roti terlezat? Kebingungan Kawachi seolah mendukung ketidak tahuan saya tentang rencana utuh Azuma.

Roti Kawachi yang dulu tak serenyah ini, lebih liat… Sedikit nggak enak! (Hal. 118)

Kemudian pada bagian 131 “Ora…?!” Kawachi tersadar tentang roti yang ia buat beberapa saat yang lalu. Rotinya menjadi liat gara-gara Azuma memasukkannya dalam kantong sampah. Meskipun Shigeru sudah memahami taktik Azuma, tapi sampai halaman ini saya masih belum mengerti apa-apa tuh zzzzz.

Roti Perancis tak enak buatanku… Menyerap uap air dan jadi lebih liat! (Hal. 140)

Pada bagian 132 “Evolusi Lebih Jauh” sudah masuk tahap penjurian. Roti buatan Tsubozuka selesai lebih dahulu sehingga pencicipan dimulai dari roti buatannya. Berbeda dengan Azuma dkk yang tidak mendapatkan tuna, Tsubozuka membuat roti dengan menggunakan super tuna yang lezat. Bahkan Kuroyan menghadirkan respon yang cukup menggigit setelah mencicipi rotinya.

Roti lebih sulit dikunyah. Beda dengan nasi yang mudah hancur di dalam mulut. (Hal. 154)

Bagaimana dengan roti Azuma? Meskipun roti Tsubozuka sangat memukau, Kuroyan masih lebih menyukai roti buatan Azuma. Hal ini dituangkan pada bagian 133 “Sebagai Roti” yang mengungkap keunggulan roti Pantasia. Bahkan roti buruk dan tidak enak buatan Kawachi tadi menjadi nilai plus roti Azuma. Wah saya tidak menyangka sih ternyata roti Azuma sangat menakjubkan.

Baiklah! Aku akan menjelaskan sihir tersembunyi di roti Azuma. (Hal. 171)

Akhirnya petualangan baru Azuma dimulai kembali. Setelah gagal move on dari Monaco Cup yang mengakibatkan saya hiatus update blog *halah alesan* kali ini petualangan baru Azuma cukup menjanjikan. Apalagi konsep pertandingan baru ini tidak akan membosankan.

Jadi sekedar informasi ya, pertandingan ini menggunakan semacam puzzle yang terdiri atas 25 kotak. Setiap pertandingan akan diwakili satu kotak yang masing-masing kotak mewakili suatu daerah di Jepang. Nah, daerah inilah yang harus menjadi dasar bahan makanan unggulan sehingga bisa dijadikan roti.

Saya suka dengan konsep ini karena selain memperkenalkan keunggulan daerah lain, juga sekaligus membuka wawasan tentang daerah non beken. Soalnya kan di komik-komik biasa menggunakan Tokyo, Kyoto, Osaka, Okinawa, dan lain-lain yang sudah umum. Nah dari pertandingan ini, saya mendapatkan sedikit gambaran tentang perfektur lain di Jepang sana.

Melihat ada 25 kotak yang tersedia, maka bisa dipastikan akan ada 25 pertandingan yang akan berlangsung sampai keluarnya juara. Saya jadi penasaran juga sih daerah mana lagi yang akan dijadikan lokasi pertandingan. Apalagi roti yang dibuat Azuma cs dan perwakilan St. Pierre juga menggoda perut *uhuk.

Oh iya ngomong-ngomong peserta, kok saya rasa  aturan pertandingan ini kurang ketat ya dari segi pemilihan peserta. Soalnya St. Pierre seenaknya aja gitu menggunakan Tsubozuka yang jelas-jelas bukan pegawai St. Pierre. Kok kesannya jadi ada KKN banget.

Tapi secara umum sih saya yakin akan suka petualangan Azuma selanjutnya ini. Apalagi Yukino yang menyebalkan benar-benar menjiwai karakter hehehe. Yuk ah, tunggu kehadiran review jilid 16 yaa *entah kapan* ~(ˇ▼ˇ~)(~ˇ▼ˇ)~

Penilaian Akhir:


goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 14)

coveryakitate14

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 14)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 192

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792760743

cooltext1660180343

Sesaat lagi final Monako Cup!! Akan hadir reaksi istimewa yang cocok untuk klimaks berturut-turut!! Ini pasti tak bisa disiarkan begitu saja dalam film kartun! Kau juga harus menyaksikan tantangan tawa dan emosi yang luar biasa yang hanya ada di komik ini!!

cooltext1660176395

Akhirnya partai puncak (?) pertandingan Monaco Cup berlangsung juga. Babak final putaran ketiga dimainkan oleh Azuma Kazuma dan Shadow White pada bagian 115 “Ke Luar Angkasa?!” yang spektakuler. Seperti judulnya, Shadow bermaksud membawa Pierrot dengan roti buatannya ke luar angkasa. Pada bagian ini juga sedikit digambarkan masa lalu Shadow yang meniti karir pantomim layaknya Marcel Marceau.

Pantomimmu tak berjiwa. Kreasi tanpa jiwa tak bertahan lama dalam dunia seni. (Hal. 11)

Kemudian pada bagian 116 “Hal Terpenting” adalah waktu pertandingan. Disini baik Shadow maupun Azuma sama-sama menggunakan bahan yang spektakuler. Keduanya juga sama-sama membuat donat. Yang pertama adalah donat Shadow yang proses pembuatannya direbus kemudian digoreng.

Memikirkan orang yang akan memakannya jadi hal terpenting bagi kita sebagai juru roti. (Hal. 27)

Kemampuan Shadow yang ahli pantomim ternyata menyimpan rahasia tersendiri. Sebenarnya dia sama sekali tidak bisa membuat roti. Bahkan memasak sesuatu pun ia tidak bisa. Namun karena saking mahirnya menirukan orang lain, ia kemudia bisa memasak dan membuat roti dengan cara meniru sang juru roti level dunia. Siapakah dia? Jawabannya ada di bagian 117 “Sinyal Serangan Balik”.

Gerakannya benar-benar mirip juru roti level tinggi seperti yang Azuma bilang!! (Hal. 47)

Pada bagian 118 “Galaxy Express”, donat milik Azuma masih perlu dipanggang terlebih dahulu. Oleh karena itu, donat buatan Shadow sudah bisa selesai duluan. FYI, salah satu bahan yang digunakan Shadow untuk membuat donat adalah beras ketan mezuru yang bernilai sangat tinggi di Jepang. Selain itu juga ada bahan mahal dan kelas tinggi lainnya dalam donat itu.

Kalau roti dengan campuran beras ketan seperti mezuru dipanggang, roti akan mengeras seperti nasi kepal panggang. (Hal. 70)

Selanjutnya bagian 119 “Juru Roti Terbaik” adalah saat Pierrot mencicipi roti Shadow. Yah gara-gara donat dia udah mateng duluan sih. Seperti yang sudah diduga, roti Shadow benar-benar bisa membawa Pierrot ke luar angkasa. Nah, disana Pierrot bertemu siapa sih? Kok sampai-sampai Shadow percaya dirinya akan menang.

Berikutnya, tinggal bersantai dan melihat perjuangan sia-siamu… (Hal. 85)

Nah, setelah donat Azuma matang, bagian 120 “Ke Surga?!” mengisahkan tentang reaksi Pierrot pasca mencicipi roti Azuma. Sebelumnya, donat Azuma lebih lama matang karena Azuma menggunakan proses memanggang, menggoreng, dan memanggang lagi adonan donatnya. Bahkan ia juga menggunakan bahan yang sangat menakjubkan: marijuana. Lantas, Pierrot reaksinya bagaimana ya?

Jadi, Azuma menaburkan campuran kinako dan gula yang banyak, agar pas dipanggang, gula akan meleleh dan terjadi karamelisasi!! (Hal. 105)

Benarkah Pierrot pergi ke surga karena makan donat Azuma? Benar atau tidaknya, yang jelas Pierrot bisa bertemu ayah dan ibunya. Semua terasa bagaikan mimpi bagi Pierrot. Sayangnya, Pierrot tidak bisa mengaku kepada kedua orang tuanya mengenai jati dirinya yang asli. Cerita ini disuguhkan di bagian 121 “Cincin yang Indah” yang sangat menyentuh.

Kalau begitu, aku akan menyuruh koki agar mengubah pola makan Anda jadi menu diet mulai hari ini! (Hal. 124)

Kebenaran perjalanan Pierrot berjumpa dengan ayah ibunya bisa kamu baca di bagian sebelumnya. Namun yang pasti, Pierrot sungguh menyesal dengan apa yang telah dilaluinya pasca makan donat Azuma. Semua kebahagiaan di awal harus dibayar dengan kehilangan yang besar bagi Pierrot di bagian 122 “Rasa Makanan Buatan Tangan” ini.

Penjelajahan waktu yang luar biasa, tapi, akhirnya… Aku tak bisa menolong Ibu. (Hal. 147)

Akhirnya bab terakhir jilid ini adalah bagian 123 “Saling Bermusuhan?” yang fokus pada akhir pertandingan. Penasaran siapa yang menang? Silakan baca sendiri ya. Yang jelas semua juara mendapatkan reward masing-masing. Bahkan Azuma mendapatkan hadiah tambahan lho dari kerajaan Monako.

MVP-nya Azuma!! Aku akan menyerahkan cincin Pieron legendaris warisan turun-temurun keluarga kerajaan! (168)

Sudah selesai pertandingan Monaco Cup. Butuh sekitar delapan jilid komik mulai dari awal sampai akhir Monaco Cup. Selama ini sih saya menikmati pertandingan ini. Selain melibatkan peserta dari berbagai negara, tokoh baru yang bermunculan, serta roti yang menakjubkan. Meski kadang terlalu ajaib, tetep seru aja gitu melihat bahan-bahan dan proses pembuatannya.

Yang saya sayangkan ada satu sih. Entah Hashiguchi-san yang males riset atau emang memiliki nasionalisme yang tinggi, saya agak kurang sreg dengan segala reaksi Pierrot setelah mencicipi roti peserta. FYI lagi, sama seperti Kuroyanagi, Pierrot juga menggunakan semacam kata atau kalimat plesetan untuk menjelaskan reaksinya.

Kalau Kuroyanagi menggunakan kata atau kalimat berbahasa Jepang sebagai plesetan yang berhubungan dengan reaksinya, itu masih wajar karena Kuroyan adalah orang Jepang sekaligus menjadi juri di Jepang. Kalau Pierrot? Ia adalah orang Perancis yang menjadi juri di Monako. Nah, yang bikin saya nggak sreg adalah kata atau kalimat plesetannya.

Ia tetap menggunakan kata atau kalimat berbahasa Jepang. Iya sih sudah dikatakan Pierrot itu badut yang menguasai puluhan bahasa di dunia. Tetapi di Monako, penontonnya mayoritas bule, yang mengerti bahasa Jepang juga sedikit, seriously tetep pakai bahasa Jepang? Trus para orang bule juga ngerti gitu apa yang diucapkan Azuma cs tanpa penerjemah. Oh iya jangan lupa dengan bahan-bahan berkualitas tinggi yang digunakan para peserta mayoritas berasal dari negeri sakura itu! Wow!

Saya sih berharap plesetan reaksinya Pierrot menggunakan bahasa Inggris yang lebih universal. Jadi suasana luar negerinya bisa lebih greget. Gara-gara kebanyakan istilah bahasa Jepang di Monaco Cup, saya merasa pertandingan itu diadakan tetap di Jepang. Yah mungkin nasionalisme Hashiguchi-san sungguh tinggi.

Nah, selanjutnya kompetisi apa yang menanti Azuma dan lainnya? Wah saya juga penasaran nih. Apalagi saya sudah rindu dengan tindak-tanduk pegawai Pantasia cabang Tokyo Selatan yang mengundang tawa. Jadi, tunggu review saya jilid 15 dengan petualangan baru yah!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 13)

coveryakitate13

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 13)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Ervin Kurniawati

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 196

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792758412

cooltext1660180343

Upaya keras Kyosuke Kawachi yang telah bersumpah pada mendiang ayahnya untuk membangkitkan revolusi di dunia roti mengejutkan Kazuma Azuma! Tak hanya itu, sebagai reaksi dari roti Kawachi yang terlalu enak, Juri Pierrot sekarat!

cooltext1660176395

Sudah sampai jilid 13 sodara-sodara. Angka favoritku nih. Jadi review nya juga agak spesial dong. Spesialnya apaan? Ini aku nulisnya penuh rasa bahagia. Udah. Gitu doang #apasih #krikkrik. Langsung aja deh ya. Jilid ini dibuka dengan bagian 105 “Kakuei, Sang Proletar” ketika Kawachi sudah mulai bersemangat menyongsong pertandingan final babak kedua. Tekanan dan ucapan pegawai Pantasia Cabang Tokyo Selatan begitu berat bagi Kawachi.

Si gundul suka meremehkan. Aku ingin dia lebih berusaha. (Hal. 13)

Kemudian pada bagian 106 “Nasihat dan Cerita Masa Lalu” adalah sehari sebelum pertandingan. Akhirnya Kawachi sudah membuat amunisi agar bisa memenangkan pertarungan esok hari. Selain itu, untuk tema roti pangan kali ini, Kawachi juga akan menggunakan bahan pokok yang sudah populer di masyarakat China. Bahan pokok apakah itu?

Dattan soba itu makanan pokok suku Yi di pedalaman China sejak dulu. (Hal. 33)

Pada bagian 107 “Pupnya Pelan-Pelan Saja” adalah hari-H pertandingan. Lagi-lagi penontonnya hanya sedikit. Selain Azuma cs yang tidak bertanding, ada juga keluarga Kawachi yang datang serta keluarga besar Sachihoko. Mungkin gara-gara wakil Perancis sudah kalah, jadi sepi peminat yang ingin menyaksikan babak final ini.

Dia tertekan perasaan tak tenang yang dirasakannya sendiri, karena takut kalah. (Hal. 51)

Di sisi lain, Sachihoko ternyata juga memiliki senjata pamungkas untuk pertandingan kali ini. Ia menggunakan bahan dasar yang kurang familiar namun bernilai tinggi. Namun, Azuma yang sering tampak bodoh justru mengetahui dengan akurat bahan dasar yang digunakan Sachihoko untuk membuat rotinya itu. Kisah ini dimuat pada bagian 108 “Alasan Meraih Penghargaan Komik Shogakukan”.

Dia mencari tahu soal pertanian seluruh Jepang untuk mengalahkanmu!! (Hal. 74)

Ketika Kawachi hendak memanggang adonan, ternyata Sachihoko sudah selesai dengan rotinya. Akhirnya Pierrot mencicipi roti Sachihoko terlebih dahulu. Pada bagian 109 “Aku dan Libya” ini sepertinya Pierrot lagi-lagi melakukan atraksi yang ajaib. Kemudian saat Kawachi sudah selesai memanggang, reaksi Pierrot juga tidak kalah menakjubkan. Bahkan kali ini dia terancam bahaya.

Pierrot mampu menghindari teror tembakan tanpa disadari siapapun… Tapi, kenapa hanya kali ini dia bisa sampai ditusuk pisau? (Hal. 92)

Anyway, di bagian ini ada karakter namanya Conan Tonegawa lho. Ya ampun bisa-bisanya Hashiguchi-san mencomot tokoh beken itu. Oke lanjut. Pada bagian 110 “Menatap Ke Depan” mengisahkan kondisi Pierrot yang kritis karena reaksi “berbahaya” tadi. Sepertinya kali ini beneran serius karena sampai ada pengumuman di penjuru Monako tentang kondisi Pierrot di rumah sakit.

Kalau kehilangan darah sebanyak itu… Kita hanya bisa berdoa… (Hal. 107)

Ternyata eh ternyata, Pierrot kehilangan banyak darah dan membutuhkan pendonor. Yang bikin kaget, golongan darah Pierrot itu adalah golongan darah langka bernama Bombay (ini saya bayanginnya kok jadi onion ring -.-”). Namanya juga golongan darah langka, jadi nggak mudah menemukan pendonor di bagian 111 “Raja dan Pierrot”. Yak betul sekali, ternyata Raja Monako memiliki goldar bombay juga *ahelah kebetulan bingit*

Biasanya orang bertipe bombay lahir dari tradisi pernikahan dengan saudara dekat… (Hal. 129)

Ada yang inget nggak kalau Pierrot itu waktu masih bayi ditinggalkan orangtuanya di tenda sirkus? Nah pada bagian 112 “Identitas Pierrot Sebenarnya” ini memang benar-benar terkuak sih siapa Pierrot itu sebenarnya. Sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan. Bahkan sang Raja juga terhenyak dengan fakta yang beliau hadapi.

Biarkan pangeran Leol, anakku yang baru lahir ini dibesarkan sebagai anak keluarga rakyat biasa. (Hal. 144)

Selanjutnya di bagian 113 “Roti yang Lebih Hebat” adalah beberapa hari menjelang pertandingan babak ketiga. Azuma cs sebenarnya ingin menjenguk Pierrot. Namun istana kerajaan sangat ramai wartawan dan dijaga ketat. Akhirnya dengan dalih ingin mengambil bahan membuat roti, Azuma dkk diperbolehkan masuk. Ternyata, alih-alih terbaring lemah tak berdaya, Pierrot justru berpesta pora di dalam istana itu.

Lantas, kau kira, Yang Mulia tidak akan sedih melihatmu mabuk-mabukan dan hidup bermalas-malasan? (Hal. 171)

Yang terakhir adalah bagian 114 “Bahan Shichimi” mengenai rencana Azuma membuat roti papan alias roti dengan cita rasa kampung halaman. Ia berencana membuat roti dengan sebuah bahan terlarang alias narkoba yaitu marijuana. Eh ternyata yang digunakan Azuma bukan daunnya. Terus apa hayoo?

Itu betul, petani teman kakekku punya izin menanam marijuana. Bisnisnya sukses besar, lho. (Hal. 178)

Jilid 13 ini lebih seru dibandingkan sebelumnya. Selain pertandingan Kawachi memang lebih menegangkan dibandingkan Suwabara, reaksi Pierrot sampai berakhir kritis juga membuat saya kaget. Ada gitu ya juri yang mempertaruhkan nyawa demi reaksi mencicipi roti. Ah tapi ini kan komik. Ya pasti ada lah.

Selain itu, saya senang dengan misteri Pierrot selama 23 tahun akhirnya terkuak. Rasanya turut bahagia gitu karena Pierrot tidak perlu lagi mencari-cari orangtuanya di bangku penonton sambil berharap akan dijemput.

Bagian Pierrot dan Raja memang menyentuh kalbu dan sanubari #tsaah. Beneran deh, kalau sungguh-sungguh menghayati, pasti suasana mellownya dapet. Konsep Tempat Penentuan hidup dan mati juga unik. Bisa dibayangkan sih frustrasinya Pierrot saat berada disana.

Well, babak final terakhir sekaligus penentuan juara Monaco Cup tinggal selangkah lagi. Saya jadi tidak sabar membuat review jilid 14 nanti. Sepertinya akan semakin seru dan menegangkan. Jangan lupa dibaca yah! Sayonara~

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 12)

coveryakitate12

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 12)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Dian I. N.

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 196

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792756739

cooltext1660180343

Akhirnya!! Pertandingan final Monaco Cup akan dimulai!! Babak pertama, Monica Adenauer wakil tim Amerika akan melawan Kai Suwabara wakil dari tim Jepang! Bagaimana jalannya pertandingan nanti!? Mari kita nantikan bersama!!

cooltext1660176395

Melanjutkan seri Yakitate!! JaPan, rasanya saya sendiri dan mungkin para pembaca setia blog saya *ceileh* sudah tidak sabar mengetahui kelanjutan Monaco Cup. Sekedar informasi, saat ini kompetisi tersebut sudah mencapai babak final. Namun sebelumnya, bagian 95 “F1 GP” menceritakan tentang Azuma dan Shadow White, pemenang tema roti olah raga, memberikan roti mereka kepada para pembalap F1, tak terkecuali Michaelli Shumappher (pasti pada ngeh kalo namanya plesetan dari om Schumi).

Kalau Azuma tak bisa melampauinya, kalian berdua yang harus berjuang di final nanti… (Hal. 11)

Pada bagian 96 “Pemimpin”, tema roti yang harus dibuat sudah diumumkan. Kabar buruknya, babak final akan dibagi menjadi 3 ronde dengan masing-masing anggota tim berduel satu lawan satu. Tema roti kali ini adalah Sandang, Pangan, Papan.

Tapi hati-hatilah! Kalau kalah 2 kali berturut-turut, pertandingan ketiga akan ditiadakan. (Hal. 38)

Suwabara yang bertindak sebagai orang pertama yang berlomba mewakili tim Jepang akan berhadapan dengan Monica Adenauer pada roti sandang. Bagian 97 “Monica Sesungguhnya” ini juga menjelaskan tentang asal-usul Monica yang sangat misterius dan alasan ia bisa menjadi peserta Monaco Cup. Bahkan Sofie dan Kuroyanagi juga kesulitan.

Bisa diartikan mereka punya keunggulan dalam teknik pembuatan kue dan biskuit daripada kita sebagai juru roti. (Hal. 55)

Detik-detik menjelang pertandingan, Suwabara berlatih dengan semangat membara agar bisa mengalahkan Monica. Berbeda jauh dengan Kawachi yang santai-santai melulu. Mengetahui hal ini, pada hari pertandingan, Monica mengenakan pakaian yang “berani” untuk menjatuhkan Suwabara. Namun, pada bagian 98 “Na Na Naked” ini justru menggambarkan Suwabara yang tidak gentar meskipun mendapat “gertakan” dari Monica.

Sebenarnya, kau yang di posisi 2 yang jadi penentu kemenangan atau kekalahan kita… (Hal. 69)

Selanjutnya pertandingan yang tengah berlangsung disuguhkan pada bagian 99 “Alasan Juara”. Suwabara membuat dua adonan berbeda ukuran dan kekentalan. Sedangkan Monica membuat lima adonan dengan warna yang berbeda. Sejauh ini masih belum nampak roti seperti apa yang akan mereka hasilkan. Yang jelas, pasti akan spektakuler sekali.

Aku tahu, roti gandum hitam berasal dari Jerman. Tapi, memangnya di sini ada orang Jerman? (Hal. 87)

Ketika roti kedua peserta sudah selesai dipanggang, itulah saatnya Pierrot mencicipi. Sempat terjadi rebutan pada bagian 100 “Intinya, Kau Dicampakkan?” mengenai siapa yang dicipi duluan. Akhirnya Suwabara mengalah dan mempersilakan Pierrot mencoba roti mahkota buatannya. Selain bentuknya seperti mahkota, warnanya juga bisa berkilauan lho.

Aku bisa menempa pedangku sendiri. Bikin cetakan, sih, hal kecil! (Hal. 107)

Selanjutnya pada bagian 101 “Nomor 17 Itu Nomor 110!” Suwabara menjelaskan berbagai keunggulan roti buatannya itu. Betapa tidak, awalnya roti tersebut berwarna hitam legam, namun setelah “kulitnya” dibuka, warnanya menjadi kekuningan (oke, saya nggak tau sih warnanya kuning apa enggak gara-gara komiknya hitam putih) dengan hiasan buah yang berkilauan. Alasannya apa ya?

Dengan cara ini, warna buah jadi semakin terang dan berkilauan!! (Hal. 129)

Setelah puas mencicipi roti Suwabara, Pierrot beralih pada roti Monica. Pada awal bagian 102 “Firasat Sebuah Awal” ini sih biasa saja. Namun permen bunga yang menjadi hiasan roti Monica mekar dengan indahnya. Bahkan Pierrot bersedia ditangkap polisi dan dipenjara karena ulahnya untuk menciptakan reaksi yang spektakuler. Jadi siapa yang menang di babak pertama ini ya?

Tapi, ada sesuatu yang tak terbayangkan dalam roti nona Adenauer ini. (Hal. 145)

Sudah bisa nebak kan siapa pemenangnya? Jadi mari move on ke pertandingan kedua. Kawachi yang kebingungan akan membuat roti apa untuk melawan Spencer Henry Hoko, tiba-tiba ia teringat dengan bekal yang diberikan Shigeru sebelum berangkat ke Perancis dulu. Pada bagian 103 “Kotak Shigeru” ini Kawachi penasaran apakah bekal dari Shigeru bisa membantunya memnangkan pertandingan.

Tapi… Lawanku Shachihoko… Bukan lawan yang gampang dihadapi… (Hal. 162)

Pada review jilid selanjutnya, saya sedikit rindu dengan Tsukino dan Shigeru. Kemudian tadaa! Pada bagian 104 “Tekad Kawachi” ini mereka berdua, termasuk Manajer dan Kinoshita tiba-tiba ada di Monako! Selain gara-gara bakeri mereka sepi karena promo besar-besaran St. Pierre, mereka juga khawatir dengan keteguhan Kawachi.

Aku berusaha meneruskan cita-cita ayah untuk bekerja di bakeri pusat Pantasia… Di mata keluargaku, aku ini pahlawan!! (Hal. 176)

Laga puncak semua kompetisi memang selalu menegangkan yah. Selain yang bertanding memang sudah hebat-hebat semua, tantangan yang diberikan juga tidak main-main sulitnya. Sedikit komerntar saya pada pertarungan Suwabara, ehm dari awal sudah bisa ditebak sih. Tapi saya tercengang justru setelah pertandingan selesai. Karena Suwabara dan Monica malah *some text missing* #dilarangspoiler.

Berkali-kali saya mengutarakan sebelnya saya dengan tokoh Kawachi. Soalnya saya setuju banget dengan pendapat Kuroyan, bahwa Kawachi sungguh tidak berguna di kompetisi ini. Alangkah lebih baik Shigeru saja yang berangkat. Jika Kawachi ini beneran ada di depan saya, pasti akan saya toyor bolak-balik deh.

Nah, untungnya Hashiguchi-san seperti mengerti pembacanya yang penasaran dengan adanya Kawachi di Monaco Cup. Sehingga alih-alih membuat pertandingan tim, pada babak final ini Kawachi juga dituntut serius menghadapi Sachihoko agar Jepang bisa menang. Tetapi sayangnya, ceritanya dibuat ngegantung #pffft.

Saya juga hepi semua pegawai Pantasia Cabang Tokyo Selatan muncul di Monako. Selain bikin tambah rame, saya juga nggak bakal jenuh-jenuh banget dengan Kuroyan-Sofie lagi. Penasaran nih dengan pertandingan Kawachi. Jadi tunggu review saya jilid 13 yah :D

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Indonesia X-Files

coverindonesiax

Judul: Indonesia X-Files

Sub Judul: Mengungkap Fakta dari Kematian Bung Karno Sampai Kematian Munir

Penulis: dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F

Penerbit: Noura Books

Jumlah Halaman: xxiii + 334

Terbit Perdana: Juni 2013

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, Juli 2014

ISBN: 9786027816602

cooltext1660180343

“Kamu gila. Ngelawan arus. Pulang tinggal nama entar.” Begitu yang terlontar dari kolega dr. Abdul Mun’im Idries, ketika akhir 1993, dokter forensik ini berani menjadi saksi ahli kasus pembunuhan Marsinah. Kala itu, santer diyakini pejuang buruh ini dihabisi oknum militer—ketika militer paling ditakuti dengan penculikan senyapnya. Tapi berani-beraninya Mun’im mengusik tentara.

Lalu, apa yang dihadapi Mun’im dan fakta apa yang ia temukan ketika harus terjun pada detik-detik mencekam Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi? Bagaimana analisis forensiknya terkait pembunuhan Munir, Tragedi Tanjung Priuk, Tragedi Beutong Ateuh, dan sebagainya?

Mun’im dalam buku ini membongkar arsip, membeberkan fakta-fakta mengejutkan, mengungkap sejumlah nama tabu, di samping berbagi kisah dan cara ilmiah (kedokteran) forensik dalam membongkar kriminalitas dan kejahatan di negeri ini.

“Buku ini merupakan rekaman dokter Mun’im Idries sebagai rekaman ‘voice of the voiceless’ – rekaman suara dari yang tidak lagi bersuara.” – Prof. Dr. O.C. Kaligis, S.H., M. H.

Februari: Buku Profesi

cooltext1660176395

Penegakan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat memang mutlak diperlukan. Perbuatan baik dan buruk yang membaur jadi satu harus dipisahkan ketika perbuatan buruk tersebut sudah mengganggu kenyamanan bahkan merenggut korban jiwa. Selain polisi yang sudah seharusnya mengurusi hukum dan turunannya, ada sebuah profesi yang tak kalah penting: bagian forensik.

Bagi para penggemar kisah-kisah detektif, misteri, dan kriminal sepertinya sudah agak mengenal tentang profesi inni. Namun lika-liku dan sepak terjangnya dalam pencarian kebenaran suatu kasus yang telah terjadi, sepertinya belum banyak diketahui orang awam. Oleh karena itu, dr. Abdul Mun’im Idries sebagai seorang dokter spesialis forensik ingin berbagi kisah dan pengalamannya dalam buku ini.

Buku Indonesia X-Files terdiri atas enam bab yang berbeda-beda. Masing-masing terdiri dari beberapa sub bab yang berkaitan dengan judul bab. Saya beri cuplikan satu-satu ya. Bab pertama adalah Menyibak Fakta-Fakta Tersembunyi. Sesuai sub judul buku ini, ada sebelas kasus populer Indonesia sepanjang sejarah (yang masih belum tuntas pengerjaannya hingga kini) yang coba diungkap penulis melalui kacamata seorang ahli forensik.

Kasus yang cukup menarik perhatian saya adalah mengenai kematian sang proklamator Indonesia. Saya sih bukan penggemar dunia sejarah, tetapi saya juga sedikit mengetahui tentang misteri kematian presiden pertama Indonesia ini yang bisa dikatakan mendadak dan tiba-tiba. Ada berbagai versi mengenai kematian Bung Karno yang dikebumikan di kota kelahiran saya ini.

Bung Karno, selain tidak mendapat perawatan medis yang memadai untuk penyakit ginjal dan jantung, ditambah dengan kurangnya atensi serta dihilangkannya eksistensi beliau selama menjalani masa tahanan rumah, tak perlu diragukan merupakan keadaan yang bermuara pada kematian. (Hal. 45)

Selain itu, kasus yang tak kalah misteriusnya adalah kematian seorang aktivis HAM di Indonesia, Munir Said Thalib. Siapa sih yang belum pernah mendengar nama beliau ini? Berbagai gerakan mengenai hak asasi manusia sering dilakukan di bumi Indonesia. Meskipun beliau juga satu almamater kampus dengan saya, kematiannya masih diliput misteri hingga saat ini. Bahkan penyelesaian kasusnya juga masih jalan di tempat.

Saat pertemuan pertama tim untuk pertama kalinya, saya melihat pertemuan itu tidak serius menangani kasus Munir. (Hal. 87)

Bab kedua berjudul Kasus-Kasus Kedokteran Forensik, Serangkaian Kisah Membongkar Kejahatan. Setelah mengungkap beberapa fakta dari kasus-kasus populer, penulis mencoba mengajak pembaca berkenalan dengan dunia forensik. Mulai dari autopsi, bedah mayat, hingga perkiraan waktu kejadian dan sebab kematian. Ternyata saya baru tahu beberapa prosedur sebelum dilakukan bedah mayat.

Bedah mayat forensik diperlukan guna membantu tegaknya keadilan dan kebenaran di antara umat manusia. (Hal. 107)

Selain itu, ada bagian menarik lain yaitu mengenai isu tentang malapraktik. Cukup menarik sih mengingat kasus malapraktik sempat terjadi beberapa kali di Indonesia. Itupun yang muncul ke permukaan dan diulas media massa, bagaimana dengan malapraktik yang adem ayem tanpa tersorot kamera?

Perlu diketahui bahwa untuk mengetahui apakah seorang dokter telah melakukan penyimpangan atau tidak, tergantung dari pelbagai faktor, di antaranya kondisi dan fasilitas setempat serta standarisasi pendidikan yang diperoleh dari perguruan tinggi di mana dokter tersebut mendapatkan keahlian. (Hal. 149)

Lanjut ke bab ketiga berjudul Mengungkap Kejahatan Narkoba. Sudah jelas yah dari judulnya, penulis memaparkan berbagai hal yang bisa diungkap dari kematian seorang pengguna narkotika. Seperti yang sudah diketahui, Indonesia masuk dalam zona darurat narkoba. Penyalahgunaan zat terlarang itu memang sangat meresahkan.

Sebenarnya yang membuat narkoba wajib diberantas adalah efek perbuatan dan kondisi yang dilakukan oleh penggunanya. Namun selain narkoba, ada lagi sebuah bahan lain yang hampir sama dampaknya dengan narkoba. Apa itu? Minuman keras. Pasti ingat dong dengan berita miras oplosan yang menewaskan beberapa orang. Nah kedua zat berbahaya ini dipaparkan penulis dalam konteks forensik.

Melihat dampak negatif dari minuman keras dan mudah serta murahnya harga minuman keras bila dibandingkan dengan morfin, heroin, ganja, atau ekstasi, sebenarnya minuman yang mengandung alkohol haruslah lebih diwaspadai. (Hal. 175)

Setelah itu, saya diajak menyelami bab keempat berjudul Membongkar Kekerasan Seksual dan Kejahatan terhadap Anak. Pasti ingat juga dong dengan berbagai kasus kekerasan seksual terhadap anak yang heboh beberapa saat yang lalu. Anak-anak memang masih polos dan belum mengerti tentang hal “dewasa” seperti hubungan seksual.

Selain bercerita tentang pedofilia, penulis juga menulis tentang kasus bayi tertukar, aborsi, hingga pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Dua kasus terakhir cukup membuat saya terhenyak sih. Karena disadari atau tidak, menghilangkan nyawa bayi atau janin yang tidak bersalah sungguh perbuatan yang tidak pantas.

Suatu kenyataan hidup yang ironis: kaum wanita yang biasanya digambarkan sebagai makhluk yang lembut, halus perasaannya, ternyata juga potensial sebagai pelaku pembunuhan. (Hal. 238)

Bab kelima adalah Kedokteran Forensik Sebagai “Pisau” Ilmiah bercerita tentang sekelumit penafsiran yang bisa ditarik setelah dokter ahli forensik melakukan pemeriksaan dari korban tindak kejahatan. Ada yang tentang hasil visum, kematian mendadak, hingga identifikasi korban. Membaca bagian ini, saya baru tahu bahwa sangat panjang proses penarikan kesimpulan dari sebab kematian. Belum lagi penyidikan dan pengusutan kasus yang panjang pula. Mungkin ini alasannya berbagai kasus bisa sangat lama penyelesaiannya.

Fokus dari kriminologi pada saat ini agaknya memang hanya terbatas pada si pelaku/tersangka pelaku kejahatan, bukan kepada efek atau akibat yang ditimbulkan oleh kejahatan itu sendiri. (Hal. 278)

Akhirnya buku ini ditutup dengan bab terakhir berjudul Pembunuhan Sadis, Amukan Massa, dan Kematian Tokoh. Bab ini sebenarnya agak-agak mirip dengan bab satu sih, tetapi kasus yang diangkat tidak sepopuler di bab satu. Kasus yang cukup mencengangkan bagi saya di bab ini adalah kasus mutilasi mayat menjadi 13 bagian.

Si pembunuh tak hanya memotong-motong jasad korban secara sistematis, sempat pula menyayat dan mengupas seluruh daging dari tulang korbannya! (Hal. 300)

Awalnya, saya menganggap buku ini selayaknya buku-buku yang beredar di pasaran tentang pengungkapan fakta-fakta kasus populer di Indonesia. Namun yang membuat saya tertarik membacanya setelah lama ditimbun adalah penulisnya yang berprofesi sebagai dokter spesialis forensik. Penggunaan kacamata yang berbeda saat memandang kasus membuat buku ini spesial.

Saya menyukai buku fiksi dengan genre detektif-detektifan. Nah, kalau di buku seperti itu sebuah kasus selesai ketika sang detektif menyebut si A adalah pelaku. Ya sudah, the end, gitu doang. Tetapi sesungguhnya dibalik detektif yang menyebut pelaku itu, ada berbagai macam tahapan yang perlu dilakukan, khususnya pada bagian forensik.

Jujur, saya hanya sedikit mengetahui berbagai kasus yang disuguhkan di buku ini, baik kasus yang menjadi topik utama sub bab maupun kasus yang menjadi printilan alias sekilas info semata. Selain kasus tersebut terjadi pada tahun-tahun lampau (kebanyakan pada era orde baru), kekurang pedulian saya dengan dunia kriminal di masa lalu juga membuat saya cupu tentang kasus-kasus ini.

Belum lagi berbagai nama tokoh-tokoh terkemuka Indonesia yang lagi-lagi saya kurang mengenal karena mereka-mereka “biasa” nampang bukan di panggung jagat hiburan tanah air. Sebenarnya kalau saya tahu rupa tokoh yang disebutkan, mungkin saya bisa lebih bisa membayangkan tentang kasus yang diceritakan. Tapi yah, itu kan kelemahan dari sisi pembacanya ya hehehe.

Kalau kelemahan dari buku ini sendiri, saya sangat menyayangkan tentang pemaparan penulis. Setelah menutup buku ini, saya jadi agak bingung tentang definisi “mengungkap” fakta. Banyak bagian-bagian yang penulis mengakhirinya dengan ngegantung alias tidak selesai. Saya jadi geregetan dan terlontar “Lho, gini doang? Terus itu gimana jadinya?” berkali-kali. Ibarat kata lagi haus, tapi cuma disuguhi gambar jus jeruk doang, jadinya nanggung gitu. Di dalam buku ini penulis juga sering menggunakan kata “pelbagai” di berbagai kalimat. Saya tahu sih artinya apaan, namun saya kurang terbiasa saja saat membacanya.

Selain itu, berbagai istilah dari dunia kriminal, forensik, dan medis bercampur aduk jadi satu. Penulis mungkin terlalu semangat memaparkan konteks, namun melupakan definisi istilah asing bagi orang awam macam saya ini. Ada cukup banyak istilah yang penulis berikan penjelasan secukupnya, tetapi tidak sedikit pula berbagai istilah yang dibiarkan begitu saja sampai-sampai saya jadi males googling untuk tahu artinya saking banyaknya istilah itu.

Terlepas dari perlunya glosarium atau catatan kaki tentang istilah kurang populer, buku ini isinya bagus kok. Dunia forensik yang awalnya saya ketahui hanya periksa sana periksa sini di TKP, ternyata mengandung beragam kegiatan yang tidak mudah. Berbagai kasus yang diceritakan juga menambah wawasan bagi pembaca yang sebelumnya kurang mengetahui. Siapa tahu setelah membaca buku ini, pembaca bisa menyelami lebih lanjut tentang dunia forensik demi penegakan hukum yang lebih baik. Semoga.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 11)

coveryakitate11

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 11)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Dian I. N.

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 195

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792754377

cooltext1660180343

Kazuma Azuma, pemuda yang berjuang menciptakan ‘Japan’, roti kebanggan Jepang, seperti halnya roti khas Inggris, Jerman, dan Perancis. Bersama teman-temannya, dia berhasil keluar dari gua perangkap! Lalu, pertarungan dengan musuh terkuat Kayser telah menanti! Berjuanglah, Azuma!! Jangan sampai telat lagi, ya!!

cooltext1660176395

Haiyaa..ini sudah review jilid kesebelas. Tidak terasa udah banyak aja kisah kehidupan Azuma bikin JaPan. Nggak usah basa-basi deh, langsung aja ke review. Jilid ini dibuka dengan bagian 85 “Rahasia Kayser” pada setting lima hari sebelum pertandingan. FYI, tema kali ini adalah membuat roti olah raga, tepatnya olah raga F1. Ditengah kebingungan tim Jepang, Kayser bersaudara memamerkan keunggulannya.

Jangan-jangan… Dia tak bicara dan tak berjalan supaya saraf yang berguna untuk bikin roti saja yang berkembang!!? (Hal. 14)

Selanjutnya bagian 86 “Pertanyaan” adalah perbincangan Kuroyan, Sofie, dan Pharaoh. Sebagai pihak berwajib, ia berusaha mencari tahu tentang (calon) tersangka segala tragedi di Monaco Cup yaitu Yuichi Kirisaki. Alih-alih Sofie menyembunyikan informasi, ia justru sangat antusias membantu Pharaoh.

Walaupun sepertinya kalian sudah putus hubungan, anda tetap putrinya. (Hal. 30)

Pada bagian 87 “Tradisi Keluarga Kerajaan”, ada sebuah keuntungan pada pertandingan kali ini. Semua peserta diperbolehkan mengambil bahan apapun yang diperlukan di kerajaan Monako. Disana telah disediakan berbagai bahan unggulan dari seluruh dunia. Namun ternyata, ketika Azuma cs inginj mengambil bahan, sang Raja tidak serta merta mengabulkan permintaan mereka. Beliau memberi pertanyaan yaitu:

Saat berhasil bikin roti yang kelihatannya sangat lezat… Pada siapa kalian akan memberikan rotinya untuk dicicipi pertama kali?! (Hal. 46)

Sementara itu, pada bagian 88 “Kekuatan Gran” adalah saat menjelang turnamen. Azuma yang awalnya percaya diri dengan Japan 51, menjadi ragu karena tidak berhasil membuatnya lebih baik lagi. Tidak disangka, Suwabara memberikan sebuah nasihat penting sehingga membuat semangat Azuma kembali berkobar. Sedangkan Kawachi? Oh siapa dia? Apa fungsinya? Zzzz.

Sebagai juru roti, kau harus senantiasa berdiri di pihak penikmat rotimu dan terus berusaha membuat roti… (Hal. 65)

Selanjutnya pertandingan dimulai!! Tim Jepang melawan tim Perancis dikisahkan pada bagian 89 “Di Balik Mantel” ini. Metode pertandingan kali ini adalah adu roti terbaik yang bisa dihasilkan tiap tim. Setiap tim bisa membuat maksimal tiga roti. Roti yang terbaik akan otomatis meloloskan pembuatnya. Tidak disangka, Gran Kayser sungguh menakjubkan penampilannya.

Si sulung menyangga kedua saudaranya dengan lengannya saja!? (Hal. 87)

Sayangnya, Azuma datang terlambat karena pagi-pagi dia harus ke istana kerajaan untuk meminta bahan yang kurang. Padahal waktu minimal membuat roti sudah berlalu. Jadi bisa dikatakan jika Azuma tidak hadir, maka hanya roti Suwabara dan Kawachi saja yang bisa dinilai. Kisah ini ada pada bagian 90 “Antiangin”. Kawachi dengan segala kepanikannya sungguh menjengkelkan, by the way.

Cowok bandana boleh juga… Tapi, aku tak mengerti, beraninya kau mengejekku begitu rupa… (Hal. 111)

Cerita masih berlanjut pada bagian 91 “Saat Menggambar Naskah Ini, Hanshin Belum Dipastikan Menang” ketika tim Perancis hanya membuat satu roti saja. Bisa dikatakan karena sangat percaya dengan kemampuan Gran, mereka hanya membuat satu macam saja. Tidak heran segala bahan dasar rotinya sungguh memukau. Mulai dari tepung mutiara, blueberry, dan ekstrak bunga hortensia.

Bahkan tim Kayser hanya mengandalkan roti Gran… Mereka tak berpikir bakal kalah dari kami!!? (Hal. 133)

Saat segala daya upaya terasa sia-sia, tak disangka Azuma muncul dari bangku penonton. Tentu saja dia membawa roti hasil kreasinya yang menakjubkan. Beruntung dia datang sebelum waktu pertandingan habis. Sehingga pada bagian 92 “Kenapa “Gundul” Bukan Kata Diskriminatif” ini Pierrot bisa mencicipi rotinya. Namun naas, Pierrot enggan mencicipu karena tidak percaya roti tersebut adalah murni buatan Azuma dan dibuat dalam waktu 150 menit.

Bentuk roti ini tak menimbulkan selera makan, tapi baunya membuat perutku keroncongan… (Hal. 153)

Tetapi untunglah, pada bagian 93 “Dibaca Dari Bawah Juga ‘Amay X Amay’“ muncul Raja Monako yang mengatakan keterlambatan Azuma adalah kesalahannya. Oleh karena itu, Pierrot harus sudi mencicipi roti Azuma karena pembuatannya juga di hadapan sang Raja sendiri. Melihat kenyataan itu, Pierrot mau tidak mau mencicipi roti Azuma. Bagaimana reaksinya?

Roti buatanmu memang enak… Tapi, sayang… (Hal. 164)

Udah lah ya saya nggak mau membocorkan hasil pertandingan karena sudah pasti bisa ditebak. Kemudian lanjut pada bagian 94 “Yang Ditiru” dengan cerita santai ketika Kawachi, Azuma, Suwabara, Kuroyanagi, dan Sofie ngopi-ngopi cantik di sebuah kafe. Semua penasaran dengan roti Azuma yang tampak tidak menarik itu. Rahasianya apa ya?

Kita menang berkat kenaifan seseorang yang percaya pada lelucon kakek pikun yang tak bisa membedakan manusia dan singa. (Hal. 179)

Akhirnyaaa rasa ketidaksukaan saya dengan tim Perancis berakhir sudah. Saya tahu sih cepat atau lambat mereka pasti kena batunya. Dan saya rasa Azuma sukses memberikan “hadiah” itu kepada mereka. Tidak seperti jilid sebelumnya, jilid ini full setting-nya ada di Monaco Cup. Karena semuanya di Monaco, saya jadi merindukan Tsukino dan Shigeru.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Hashiguchi-san membuat ketegangan pertandingan ini dengan rapat. Sayangnya, saya masih merasa terlalu banyak kebetulan. Misalnya saja saat Azuma terlambat, ternyata gara-gara terjebak macet sama Raja Monako. Trus dia masih bisa bikin roti gitu di dalam mobil. Really?

Lambat laun saya jadi bingung ini komik cerita fiksi berdasarkan kenyataan atau murni rekayasa. Soalnya segala hal ajaib itu saya yakin murni hanya akal-akalan Hashiguchi-san. Tapi saya sempat baca kalau segala tehnik pembuatan roti di komik ini berdasarkan info seorang Konsultan Bakeri bernama Uchimura Kouichi. So, pasti fakta dong ya kan.

Oh iya satu lagi, jujur saya nggak pernah baca judul tiap chapter. Soalnya kadang judulnya nggak nyambung dengan isi ceritanya. Jadi saya terobos aja gitu langsung ke ceritanya hahahaha. Tapi ya sudah lah ya, yang penting dinikmati saja. Sejauh ini sih masih belum kerasa bosan dengan atmosfer Monaco Cup. Moga aja jilid selanjutnya lebih menegangkan lagi. Kan udah babak 4 besar. Hehehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 10)

coveryakitate10

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 10)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Annisa Laila Khaled

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792751277

cooltext1660180343

Bersama teman-temannya, Kazuma Azuma, pemuda yang mengejar kesempurnaan Japan atau roti kebanggan Jepang, terkurung dalam gua! Apa yang sebenarnya terjadi?! Plus kali ini, cerita tambahan ‘Lord of The (Yu) Biwa’! Simak petualangan Azuma dkk di dunia fantasi yang berbeda dari biasanya!

cooltext1660176395

Petualangan Azuma membuat roti berlanjut lagi nih. Sekadar catatan edisi sembilan kemarin nih, setelah lolos dari babak delapan besar, Azua terjebak di pulau terpencil untuk membuat roti manis. Setelah perjuangan yang sangat berat, akhirnya tim Jepang sukses membuat roti manis. Namun, pada bagian 78 “Wajah Asli Pierrot” diceritakan nasib tim Jepang selanjutnya.

Yang anehnya lagi, di antara 4 negara yang lolos, tidak ada satu pun yang menentang pertandingan ulang ini. (Hal. 15)

Ya benar sekali. Kabar buruk menerpa tim Jepang. Meskipun mereka berhasil membuat roti manis, pertandingan sebelumnya dianggap tidak sah dan akan diadakan pertandinga ulang. Tentu saja Kawachi mencak-mencak. Bahkan Pierrot sebagai juri juga sangat kecewa dengan keputusan Ketua Komite. Mau tidak mau semua tim harus menerima dan akan berangkat esok pagi menuju lokasi pertandingan baru. Kisah ini disuguhkan di bagian 79 “Pengetahuan Umum Pierrot”.

Om instruktur, sepertinya di bawah tidak ada sungai… Malah ada lubang besar sekali… (Hal. 32)

Lagi-lagi pada bagian 80 “Nathalie ~ ♪” ini tim Jepang mendapat perlakuan tidak adil dari Ketua Panitia. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Pierrot juga turut terdampar di sebuah  gua gelap gulita bernama Huautla di Meksiko. Lebih buruknya lagi, Pierrot tidak tahu bagaimana cara keluar dari gua tersebut. Sesaat kemudian, mereka menemukan air terjun Iglesia yang bermuara di sungai. Ditengah rasa kalut tim Jepang, Pierrot berujar bahwa ia bisa menyelam sejauh 2-3 kilometer dalam sekali napas. Tak pelak ini bagaikan angin segar bagi Azuma cs.

Itu karena peraturan pertandingan di sungai kali ini beda dengan di pulau tak berpenghuni yang mengharuskan bertanding sambil bertahan hidup. (Hal. 46)

Selanjutnya pada bagian 81 “Pierrot Salah Perhitungan” dikisahkan sebuah rahasia besar Pierrot. Sambil menunggu roti enak sebagai dalih tenaga berenang Pierrot, ia terus memutar otak bagaimana cara menghindari kata-kata yang telah ia lontarkan sebelumnya. Gengsi yang inggi dan tidak mau mengecewakan tim Jepang membuat Pierrot tidak kuasa berkata sejujurnya.

Maaf, ya, wakil Jepang… Tadi aku bilang begitu untuk membangkitkan semangat kalian… (Hal. 61)

Akhirnya pada bagian 82 “Bedanya Bodoh dan Jenius Itu” Pierrot berhasil memikirkan sebuah jalan keluar untuk mengulur waktu. Ia telah mepersiapkan sebuah respon yang sulit untuk dipecahkan sehingga Azuma dkk kebingungan memecahkan apa maksud setelah mencicipi roti buatan mereka. Sayangnya, semua pemikiran njelimet Pierrot berhasil dipecahkan Azuma dalam satu halaman saja *buahahahahak*

Sampai mereka berhasil menjawabnya, aku bisa dengan tenang memikirkan jalan keluar lainnya. (Hal. 83)

Pierrot yang telah kecewa karena tebakan jitu Azuma mau tidak mau harus menyelam sungai yang telah ditemukan tadi. Tiba-tiba, sang wakil Mesir yang berpakaian aneh, bernama Pharaoh datang menyelamatkan mereka semua. Kisah ini disughkan pada bagian 83 “’Itu’ yang Dibuat di Pantai”. Membaca penuturan Pharaoh ini sebenarnya amat sangat tidak masuk akal. Tapi yang bisa saya lakukan hanya mengikuti alur saja deh hehehe.

Dengan kekuatan ajaib piramida Mesir, aku melacak keberadaan kalian di Meksiko dan untunglah aku berhasil menggali lubang dari pulau tak berpenghuni sampai ke gua ini. (Hal. 107)

Sementara itu, Eurlick Lame, sang Ketua Komite Penyelenggara Monaco Cup ditemukan bunuh diri. Tak pelak hal ini membuat geger lokasi pertandingan Monaco Cup. Akibatnya, sang Raja Monako bernama Leonheart XIV harus turun tangan dan bertanggung jawab pada pertandingan ini. pada bagian 84 “Raja Monako” ini digambarkan rupa dari sang raja yang sangat ehm…unik.

Mulai sekarang, saya akan memimpin langsung pertandingan dan tidak akan membiarkan adanya kejahatan yang bisa menguntungkan atau merugikan pihak tertentu. (Hal. 130)

Seperti yang sudah tertulis pada blurb, bab terakhir jilid ini adalah kisah spin off yang berbeda dari biasanya. Judul bagian ini adalah Yakitate!! Japan Side Story: Lord of The (Yu) Biwa (seems like TLOTR, eh?). Jadi pada kisah ini diceritakan Azuzu si pembuat roti menemukan buah biwa mencurigakan yang tidak mau lepas dari tangannya.

Di dalam mimpi… Biwa itu akan menggoda tuannya dengan berbagai cara dan menyeretnya ke dalam kegelapan. (Hal 145)

Ia kemudian meminta bantuan pada Watchi. Karena Watchi tidak bisa membantu, akhirnya bantuan diberikan oleh Princess Moon. Katanya, biwa tersebut harus dibuang di Hari Pembuangan Sampah Organik. Lokasi yang tepat adalah di Istana Kegelapan, tempat tinggal ratu kejahatan, Snowzer. Akhirnya Azuzu berangkat ditemani Meistrof, Ken, Kain, dan Clowny. Lantas bagaimana kelanjutannya?

Jilid ini secara umum isinya hampir sama dengan jilid sebelumnya. Masih ada konspirasi, ada tektik curang, dan nasib merugikan yang dialami tim Jepang. Namun berbagai masalah itu bisa diselesaikan dengan baik oleh Azuma. Saya sudah mulai agak jenuh dengan Azuma. Meskipun ia tooh utama, tapi porsinya terlalu banyak. Padahal Kawachi dan Suwabara juga ikut bertanding. Namun mereka berdua hanya bagaikan tempelan saja.

Selain itu, kematian Eurlick Lame sangat-sangat mendadak. Baru juga muncul sekilas di dua jilid, udah mati aja dia. Saya sih pengennya tindakan liciknya masih bisa dikembangkan lagi. Tetapi mungkin Hashiguchi-san ingin segera mengakhiri hidup ketua komite ini. saya jadi penasaran siapa yang akan membantu tindakan curang pemilik St. Pierre selanjutnya.

Bab tambahan tentang biwa itu saya rasa sangat menarik. Intinya sih semua tokohnya sama aja. Bahkan sifat dan kepribadiannya juga sama. Hanya namanya jadi berubah. Rasanya sangat mengasyikkan saat membaca cerita berbeda dari tokoh yang sama. Saya sih ingin special story ini bisa dimunculkan beberapa kali di jilid selanjutnya agar tidak bosan.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 9)

coveryakitate9

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 9)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Annisa Laila Khaled

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792747430

cooltext1660180343

Ada roti khas Inggris, Jerman, dan Perancis, tapi tak ada roti khas Jepang! Karenanya, Kazuma Azuma akan menciptakannya!! Tema berikutnya pertandingan adu cepat membuat roti! Dengan Japan andalan, dia akan mengalahkan musuh-musuh kuatnya!

cooltext1660176395

Halo-halo pembaca setia Rico Bokrecension (idih pede bener kayak ada yang baca aja). Setelah beberapa saat vakum update blog karena teserang rasa malas yang amat sangat, kali ini saya akan mulai membuat review lagi. Melanjutkan komik Yakitate!! Japan yang kemarin, kali ini sudah ada di jilid sembilan. Kalau ada yang lupa, silakan cari di postingan yang lalu-lalu yah.

Komik ini dibuga pada bagian 70 “Pintu Takdir” sebelum pertandingan Monaco Cup dilanjutkan. Ternyata tema babak tersebut adalah membuat roti secepat mungkin. Yang jadi masalah adalah, Pierrot, sang juri, tidak menghendaki peserta membuat roti tanpa fermentasi. Padahal roti fermentasi perlu cukup waktu alias nggak bisa cepet-cepet dikerjakan.

Kalian menyedihkan sekali! Dasar wakil Jepang!! Monaco Cup itu kompetisi level internasional! (Hal. 12)

Selanjutnya pada bagian 71 “Captain Cook” mengisahkan pertandingan itu sudah mulai berlangsung dari sekian banyak peserta, hanya akan diambil delapan tim paling cepat dala membuat roti yang tentu saja, harus enak. Salah satu tim yang sudah berhasil dan lolos melaju pada babak delapan besar adalah wakil dari Amerika.

Kami memasang dragon hook pada mixer kuat yang punya tenaga kuda berkali-kali lipat dari mixer biasa! (Hal. 28)

Azuma yang tiba-tiba menghilang meninggalkan Kawachi dan Suwabara, tentu saja menjadi kepanikan tersendiri. Pada bagian 72 “Hargai Elektronik, Ya” Kawachi yang sangat berisik begitu kebingungan saat peserta yang lolos sudah mencapai tujuh tim. Artinya, hanya satu tempat yang terisi. Kalau Jepang tidak cepat, maka Kawachi dkk akan pulang dengan tangan hampa. Untunglah, Azuma berhasil membuat roti tersebut tepat waktu dan segera diserahkan kepada Pierrot. Sayangnya, Pierrot memiliki penilaian mengejutkan atas roti Azuma.

Kupikir, penilaian Pierrot memang aneh. Jadi, aku hanya melakukan yang seharusnya, kok. (Hal. 62)

Selanjutnya pada bagian 73 “Bob, Sang Wakil Perancis, Ternyata Takut Naik Kendaraan” menceritakan mengenai babak delapan besar. Disini sudah mulai terlihat gelagat mencurigakan yang dilakukan oleh pemilik St. Pierre karena mencoba menggganggu jalannya pertandingan. Tidak tanggung-tanggung, Eurlick Lame, sang Ketua Komite Penyelenggara Monaco Cup tidak bisa berkutik dan mengikuti perintahnya.

Kalian akan tinggal di pulau tak berpenghuni itu selama 1 minggu dan kalian harus mencari makanan sendiri. (Hal. 87)

Tidak bisa dipungkiri bahwa lokasi pertandingan di pulau tersebut sangat merugikan tim Jepang. Selain lokasi yang tidak strategis, bencana air laut juga sudah menyulitkan mereka. Alhasil, Azuma terseret ombak dan masuk ke pusaran air. Melihat kenyataan itu, Kawachi menyalahkan Suwabara yang tidak menyelamatkan Azuma. Namun, benarkan Azuma sudah meninggal? Kisah ini dijabarkan pada bagian 74 “Juru Roti Sejati”.

Bagaimana kalau mereka mati? Ini bukan saatnya meributkan soal eliminasi, ‘kan?! (Hal. 104)

Di tempat lain, Kuroyanagi dan Sofie merasa penempatan Jepang pada bagian tidak menguntungkan di pulau tak berpenghuni sungguh aneh. Namun mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sementara itu, pada bagian 75 “Utusan Keadilan” diceritakan Kawachi dan Suwabara berjumpa dengan ti Mesir. Tak disangka, mereka telah menyelamatkan Azuma dari kematian. Sebenarnya, siapakah tim dari Mesir itu?

Mungkin ada konspirasi besar di balik ujian di pulau tak berpenghuni ini… (Hal. 125)

Pada bagian 76 “Manusia Segitiga” menceritakan perkembangan pertandingan ini. oh iya, tema pada babak ini adalah adu cepat membuat roti manis. Yang menjadi masalah adalah setiap tim hanya dibekali sekarung tepung. Oleh karena itu lokasi tim Jepang yang jauh dari buah-buahan tentu sangat merugikan. Belum sempat berpaling, bagian pulau yang penuh buah-buahan tiba-tiba terbakar habis.

Kalian juga berjuang agar jangan sampai kalah, karena konspirasi mereka. (Hal. 142)

Tentu komik ini tidak akan seru kalau Azuma tidak memiliki ide apapun. Jadi bisa ditebak lah ya, Azuma dkk bisa membuat roti manis tanpa bantuan buah-buahan. Lantas pakai apa dong? Percaya atau tidak, Azuma menggunakan ubi dan getah pohon kelapa. Wow saya juga baru tahu getah kelapa itu manis. Hal ini dijelaskan pada bagian terakhir yaitu bagian 77 “Tekanlah”.

Belajar dari pengalaman, dong! Setiap kali selalu saja mengejutkan orang!! (Hal. 164)

Sebanarnya membaca komik ini dilematis. Di satu sisi, saya bisa menebak akhir cerita seri komik ini seperti apa. Tapi di sisi lain, hal-hal ajaib yang dibuat oleh Azuma sangat sayang untuk dilewatkan. Jadi mau tidak mau saya harus tekun membaca lembar demi lembar padahal saya sudah tau pasti bagaimana akhir ceritanya.

Sejauh ini, Hashiguchi-san berhasil menciptakan tokoh antagonis yang mumpuni. Saya benar-benar dibikin geregetan dengan tim Perancis. Apalagi pemilik St. Pierre itu. Sejauh ini sih tokoh antagonis ini benar-benar digambarkan hitam pekat alias tidak ada baik-baiknya sama sekali. Berpotensi akan membuat saya bosan sih, tapi saya masih bisa menikmatinya.

Oh iya ada satu lagi yang agak-agak aneh. Alasan Pierrot yang memiliki kemampuan dan bakat “istimewa” sebagai badut kelas dunia sebenarnya menarik. Tapi sumpah ya itu alasannya luebuay buanget. Andaikan Pierrot ada di depan saya dan menjelaskan alasan ia bisa memiliki kemampuan itu, akan saya jawab “Oh gitu? Emang penting?” buahahahahak.

Anyway, segini saja deh komentar saya tentang jilid sembilan. Nantikan review saya pada jilid sepuluh ya. Psst, penerjemah jilid ini sudah ganti lagi lho. Entahlah apa alasannya. Namun sejauh ini terjemahannya bisa diikuti meskipun agak-agak kaku. Jadi mari nantikan resensi saya untuk jilid sepuluh nanti.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Men’s Guide to Style

covermen

Judul: Men’s Guide to Style

Sub Judul: Tip Dasar Tampil Maksimal

Penulis: Titoley Yubilate Tako

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: xx + 137

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9789797807078

cooltext1660180343

Tanda-tanda jika pakaianmu telah fit, sesuai bentuk tubuhmu.

  • Menunjang bentuk tubuh sehingga terlihat lebih menarik.
  • Tetap bisa bernapas lega sekalipun bajumu terlihat slim.
  • Saat bercermin, you feel good about yourself.
  • Teman kerjamu memuji penampilanmu.

Tip memilih jeans

Jika kakimu pendek dan kurus, maka skinny cut bisa menjadi pilihan utama karena memberikan kesan langsing dan lebih tinggi. Jika kamu tinggi – baik kurus ataupun gendut – straight leg cut merupakan pilihan yang tepat karena dapat menyeimbangkan proporsi badan agar kamu tidak terlihat sangat tinggi.

Ada banyak hal sederhana yang perlu kamu perhatikan demi penampilan terlihat maksimal. Tak hanya soal fashion, kamu juga perlu memperhatikan urusan grooming, serta mengetahui aturan-aturan dasar tentang style. Buku ini memberikan banyak tip men’s style yang praktis. Setiap pembahasan bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, plus dilengkapi dengan ilustrasi dan foto fashion.

Men’s Guide to Style akan membantumu memahami dasar style dengan baik. Tentunya, kamu akan tampil maksimal dan penuh percaya diri!

“It’s so exciting! Kami bisa berkolaborasi memvisualisasikan buku panduan basic yang begitu cemerlang dikemukakan oleh Tito.” – ADIBA MUSAWA, editor in chief Yess! Magazine

“Men’s Guide to Style bukan hanya buku tentang cara berpakaian, tetapi memberikan banyak informasi dasar tentang menswear, secara umum. Buku ini ringan dan terstruktur sehingga mudah untuk dibaca.” – JESSY ISMOYO, kontributor Nylon Magazine Indonesia

cooltext1660176395

Saya mau buat pengakuan dulu. Saya ini orangnya cenderung cuek dengan penampilan. Saya bukanlah tipikal pria metroseksual yang dandy dalam berpenampilan. Ditambah kondisi paras wajah yang kurang mempesona dan badan yang tidak proporsional alias gendut juga membuat saya tambah males berpenampilan aneh-aneh. Bisa dikatakan, yang penting saya nyaman berpakaian juga udah cukup.

Nah, pria-pria seperi saya inilah yang penulis coba untuk sadarkan. Pada bagian kata pengantar sudah disinggung bahwa sesungguhnya style itu genderless. Seringkali orang-orang, termasuk saya, berpikiran bahwa dunia fashion dan style hanyalah monopoli kaum perempuan. Sedangkan kaum adam tidak cocok berkutat dengan dunia tersebut. Padahal sesungguhnya perempuan dan laki-laki harus tetap memperhatikan penampilan agar terlihat menarik di mata orang lain.

Buku ini terdiri dari enam bagian. Saya kupas satu-satu ya. Bagian pertama berjudul Basic Rules of Style. Pada bagian ini, penulis mengajak pembaca untuk berkenalan dengan dunia –yang katanya – milik perempuan, yaitu fashion dan style. Ternyata, kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda. Jadi fashion bisa disebut dengan tren, sesuatu yang ramai dibicarakan pada waktu tertentu. Sedangkan style bersifat personal milik individu.

Fashion atau tren datang dan pergi begitu saja, tetapi style tetap untuk selamanya. (hal. 3)

Buku ini memang sudah berfokus tentang style sebagai kepribadian, bukan fashion yang hanya sesaat. Pada bagian pertama  ini, saya dijelaskan tentang aturan dasar memilih pakaian. Salah satunya adalah ukuran. Jelas lah ya, kan setiap orang memiliki ukuran tubuh yang berbeda. Akibatnya pakaian yang dikenakan juga bermacam-macam ukurannya.

Penulis menekankan tentang konsep fit alias pas. Dan salah satu tip yang diberikan penulis kepada setiap pria untuk menciptakan “fit” tersebut paling mengejutkan bagi saya adalah: miliki tailor langganan. Batin saya saat membacanya: “He? Saya ke tukang jahit? Duh apaan deh ini maksudnya.” Namun kemudian seakan menjawab saya, penulis memberikan penjelasan yang lengkap perihal pentingnya memiliki tailor.

Kemudian pada bagian kedua berjudul Basic of Staples, saya diajak setingkat lebih tinggi mengenai hal-hal terkait pakaian yang wajib dimiliki seorang pria. Penulis menyebutnya sebagai investasi. Well, bukan hanya tanah dan bangunan saja. Bahkan pakaian pun juga perlu diinvestasikan.

Kita mungkin sering mendengar bahwa salah satu tip style terbaik adalah memadupadankan high and low pieces. (hal. 22)

Jujur saya belum pernah denger tuh hehehe. Nah jadi bagian kedua ini mengupas bagian pakaian apa yang bisa menjadi investasi berpenampilan. Sehingga pengeluaran saat membeli pakaian juga tidak akan sia-sia. Bahkan penulis juga memberikan sejumput tip mengenai belanja pakaian bagi seorang pria. Ada bagian tentang penampilan rapi saat melamar kerja lho.

Selanjutnya bagian ketiga adalah How to Wear. Bagian ini memiliki sub bagian paling banyak diantara bagian yang lain. Bisa saya katakan bagian inilah inti buku ini. jadi setelah mengenal konsep dasar style dan memiliki item wajib pakaian, di bagian tiga ini saya dijelaskan do’s and dont’s terkait berpakaian.

Meminjam istilah from head to toe, bagian ketiga ini dikupas satu persatu tentang cara mix and match, cara pemakaian dan perawatan kemeja, kaus, celana, jaket, hingga kaus kaki dan sandal. Meskipun sangat banyak, penulis menyampaikannya dengan mudah dan diselipi humor. Hal ini membuat saya nyaman membacanya satu persatu. Part paling menarik bagi saya adalah tentang 7 fashion item yang wajib dihindari.

Sepatu sandal karet. Terutama sepatu sandal yang memiliki desain gelembung aneh di bagian depan. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan betapa jeleknya penampilanmu saat memakainya. (hal. 95)

Huahahaha. Meskipun penulis tidak sebut merek, saya bisa langsung tahu sandal apa yang dimaksud. Selain sandal itu, ada enam lainnya yang membuat saya terbelalak karena kalau dipikir-pikir, benar juga ya. Deskripsi tentang masing-masing fashion item wajib juga membuka wawasan saya tentang bagaimana cara memperlakukan pakaian agar lebih awet dan tidak rusak.

Bagian keempat adalah Grooming. Awalnya saya mikir ini berisi tip menuju pelaminan (kan groom artinya mempelai pria kan? #krikkrik). Eh ternyata groom ada arti lain yaitu perawatan. Yak benar, setelah bagian sebelumnya sudah dijelaskan perawatan pakaian, bagian ini mengupas tentang perawatan fisik pria, meliputi rambut, kulit, wajah, gigi, mulut, dan kaki.

Kalau kamu yang berpikir jika penampilan tidak perlu diperhitungkan, maka kamu mungkin bisa berhenti membaca buku ini. Namun, bagi mereka yang menginginkan kulit sehat dan segar serta karier yang gemilang untuk waktu yang lama, terapkan tiga rutinitas berikut. (hal. 107)

Tidak bisa dipungkiri bahwa penampilan sebaik apapun, jika wajahnya kucel dan jerawatan, pasti jadi nggak menarik lagi. Hal inilah yang menjadikan perawatan fisik sangat dibutuhkan untuk menunjang penampilan yang mempesona. Bahkan ada penjelasan tentang macam-macam parfum yang saya juga baru tahu kalau parfum itu ada beraneka jenis.

Bagian kelima adalah Perawatan Pakaian. Bagian ini mengupas serba-serbi mencuci dan menyetrika. Salah satu part paling penting adalah mengenai 22 simbol perawatan pakaian yang tertera pada label pakaian. Jujur lagi, saya baru tahu arti masing-masing simbol dari buku ini. Bahkan cara mengatur lemari pakaian juga sempat disinggung.

Keluarkan pakaian yang sudah tidak pantas dipakai, entah karena kekecilan atau tidak trendi lagi, dan sumbangkan. (hal. 121)

Bagian ini memang cukup singkat. Namun informasi yang diberikan cukup padat dan tidak berbelit-belit. Selain itu, ada juga section khusus tentang aturan dasar mengatur isi koper atau backpack saat akan traveling. Cukup berguna sih apabila ada pekerjaan dinas keluar kota atau ingin liburan keluar negeri.

Akhirnya bagian terakhir adalah Belajar Tentang Style. Bagian ini menyuguhkan tip memperkaya ilmu tentang style. Mulai dari menentukan style icon, referensi website tentang style yang bagus, yang kemudian ditutup dengan definisi beberapa istilah asing yang disebutkan dalam buku. Bagian ini seolah-olah berisi pesan dari penulis agar pembaca memperdalam ilmu style lebih luas dari berbagai referensi, bukan hanya berhenti setelah membaca buku ini.

Membangun sense of style bukanlah sesuatu hal yang bisa dicapai hanya dalam semalam. (hal. 133)

Satu kata yang bisa saya gambarkan untuk buku ini: informatif. Bagaimana tidak, semua hal-hal mendasar tentang penampilan seorang pria dikupas habis. Saya yang awalnya adalah orang yang cuek tentang penampilan, menjadi termotivasi memperbaiki penampilan setelah membaca buku ini. Tidak ekstrim sampai operasi plastik dan menyewa designer, namun cukup memaksimalkan isi lemari baju.

Buku ini sangat membantu saya dalam berpenampilan dasar agar bisa tampak lebih menarik. Sayangnya, salah satu kesalahan fatal yang saya rasa menganggu adalah kurangnya ilustrasi. Saya ambil contoh tentang jenis jeans yaitu straight leg jeans, boot jeans, slim jeans, dan skinny jeans. Meskipun dijelaskan, saya butuh gambar asli yang menunjang penjelasan tersebut. Dan gambar yang saya maksud adalah foto asli jeans, bukan gambar karikatur jeans. Hal ini juga berlaku bagi fashion item lainnya.

Saya pribadi merasa, beberapa halaman yan menampilkan model dengan outfit dasar sudah bagus. Tapi agak mubazir aja satu halaman hanya diisi satu gambar orang saja dengan caption yang sedikit. Alangkah lebih baik gambar model itu berukuran kecil tapi banyak dan menyebar di halaman lain. Saya sadar kalau mau banyak gambar, saya bisa membeli majalah fashion. Tapi majalah fashion itu kan sudah tingkat expert. Sedangkan saya hanya ingin berbagai hal dasar di buku ini bisa ditunjang dengan gambar yang cukup. Pokoknya saya kecewa dengan minimnya gambar dalam buku ini.

Selain itu mengenai glosarium alias definisi istilah fashion. Pada bagian kata pengantar, penulis sudah berujar bahwa apabila pembaca bingung dengan berbagai istilah bahasa Inggris terkait fashion, sudah disediakan kamus di akhir buku. Tapi saya lagi-lagi kecewa dengan glosarium yang bisa dikatakan “ngirit bingit”. Sebut saya cupu dan kuper, tapi saya berharap berbagai istilah fashion yang digunakan – sesederhana apapun – bisa dijelaskan artinya. Bukankah segmen buku ini kebanyakan pria yang masih buta style and fashion?

Pada akhirnya, buku ini memang sangat membantu bagi kaum pria yang cuek tentang penampilam. Soalnya kalau pria metroseksual dandy yang baca buku ini, pasti akan mencemooh karena ilmunya sudah jauh lebih tinggi. Sedangkan pria cuek penampilan akan merasa bahwa sudah saatnya berpenampilan baik dan menarik. Selain bisa meningkatkan rasa percaya diri, penampilan yang menarik sudah pasti akan memberikan persepsi menarik dari orang lain. So, let’s change our outfit!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Why Not? Fiqih Itu Asyik

coverfiqih

Judul: Why Not? Fiqih Itu Asyik

Sub Judul: Dari Kitab Tebal, Jenggot Panjang, Sampai Beda Mazhab

Seri: Penuntun Remaja

Penulis: Herry Nurdi

Penerbit: DAR! Mizan

Jumlah Halaman: 174 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9789797520779

cooltext1660180343

Seperti sebuah jejaring laba-laba, Islam menempatkan posisi satu ilmu dengan ilmu lainnya saling berkaitan. Dan titik dari segala ilmu itu, seperti jejaring laba-laba pula, ada di tengah dan menjadi poros segala, dan itu adalah Allah.

Dari rangkaian tersebut, fiqih menempati posisi yang begitu vital dan mampu mengantarkan seorang Muslim, menemukan satu dari seribu jalan setapak menuju hakikat. Sebab, fiqih akan membuat kita paham atas rangkaian ilmu pengetahuan yang memang saling bertautan.

cooltext1660176395

Saya adalah seorang muslim. Terlahir dari keluarga muslim dan hidup di lingkungan (mayoritas) muslim. Tetapi sebagai seorang muslim, saya sadar betul bahwa ilmu tentang agama saya sendiri saja saya tidak begitu ahli. Memang sih pada tingkat sekolah dasar hingga menengah (bahkan perguruan tinggi), saya mendapatkan pelajaran tentang Agama Islam. Tapi pendidikan Islam tidak cukup hanya disampaikan dalam ± 12,5 tahun, seminggu sekali pula.

Saya juga ikut dalam kegiatan di TPQ di desa saya. Tapi memang masih kurang sih ilmunya (apalagi jika dibandingkan ilmu fisika, biologi, kimia dan lain-lain yang begitu intens penyampaiannya di sekolah). Oleh karena itu, buku-buku bertemakan Islam menjamur di Indonesia. Mungkin dikarenakan mayoritas masyarakatnya beragama Islam, membuat buku bernuansa Islami juga mudah ditemui di pasaran. Setidaknya, buku-buku ini bisa membantu saya yang masih cetek ilmu agama ini bisa mendalami mengenai agama saya sendiri.

Salah satu buku yang saya baca tentang agama Islam adalah buku berjudul Fiqih Itu Asyik hasil tulisan Herry Nurdi. Sang penulis berusaha menyampaikan hal tentang fiqih, yang awalnya saya anggap sebagai sebuah ilmu yang “berat” dan membuat “pusing”, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Buku ini terdiri atas lima bagian utama. Bagian pertama yaitu berjudul “Kenapa Fiqih?” menceritakan tentang apa itu fiqih. Saya diajak penulis untuk berkenalan dengan fiqih. Anggapan saya tentang ilmu fiqih hanyalah ilmu tentang agama Islam saja ternyata kurang tepat.

Fiqih, sejatinya juga seperti ilmu filsafat, sebuah pengetahuan tentang reason. Sebuah pencarian tentang alasan dan dasar. (Hal. 26)

Ternyata meskipun hulunya adalah Islam, tetapi fiqih juga bisa bermuara di bidang ilmu pengetahuan, bahkan ilmu perdagangan dan pemerintahan. Setelah berkenalan dengan fiqih, pada bagian kedua berjudul “Sebelum Hukum Ditetapkan”, saya diajak untuk perjumpa dengan berbagai hukum yang ada dalam Islam. Seperti wajib, sunnah, makruh, mubah, haram, sahih, dan bathil. Pada bagian ini pula penulis menjelaskan dengan cukup sederhana mengenai empat sumber hukum utama, yaitu: Al-Quranulkarim, hadis/Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, ijma para ulama (kesepakatan bersama para alim & para mujtahid atas hal itu), serta qiyas atau analogi.

Seorang yang telah melakukan kebohongan atau ketidakjujuran, namanya akan ditulis dengan tinta atau tanda tertentu yang menyatakan si fulan pernah berbohong atau tidak jujur. (Hal. 60)

Bagian ketiga berjudul “Fiqih Praktis, Fiqih Asyik” menjelaskan tentang bagaimana seharusnya bahasa fiqih dalam kehidupan saat ini. Penulis mengaku bahwa pada zaman dahulu, ilmu fiqih dipelajari dengan sangat “berat”. Mulai dari kalimat yang puanjang, ratusan kata, berbagai catatan kaki di kitab kuning yang tak kalah panjang lebarnya. Bahkan penulis juga tidak menyangkal ia sempat puyeng mempelajari hal itu. Tetapi intinya seharusnya fiqih itu disampaikan dengan mudah dan tidak dipersulit. Di sub bab terakhir bagian ketiga ini penulis juga berkisah tentang sebuah film Hollywood yang cukup berkaitan dengan ilmu fiqih.

Bagaimana bisa belajar dengan senang, fiqih bukan dunia ilmu yang murung dan gloomy. (Hal. 94)

Setelah berkenalan dengan fiqih dan implementasinya, saya diajak berkenalan dengan empat ulama ahli fiqih sepanjang masa pada bagian “Berdiri Di Atas Pundak Para Raksasa” di urutan keempat. Beliau-beliau ini adalah penghulu dari Ahlu Sunnah wal Jamaah. Ada yang tahu? Yak benar, beliau adalah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Setiap ulama ahli fiqih dituliskan cukup jelas dan sederhana dengan menitikberatkan tentang pengalaman setiap ulama ahli fiqih saat menuntut ilmu.

Ia adalah alim yang memilih menjadi awam. Hal ini menunjukkan, betapa rendah hati imam yang satu ini. (Hal. 112)

Bagian terakhir adalah bagian penutup berjudul “Menengahi Pertikaian”. Jujur, saya merasa kecewa saat sudah di bagian akhir ini. Bukan kecewa karena isinya menjemukan, justru karena isinya yang menarik minat saya, saya jadi kecewa kenapa buku ini harus berakhir dengan cepat. Pada bagian ini, saya tertarik dengan cerita Rasulullah tentang nasib buruk yang akan menimpa umatnya di masa depan nanti. Jujur saja, saya amat sangat membenarkan tentang cerita tersebut telah terjadi pada kehidupan saat ini.

Makna lain fiqih adalah pemahaman. Artinya, memahami adalah proses yang paling penting dalam pendalaman ilmu fiqih. (Hal. 149)

Pada akhirnya, saya menyukai buku ini. Awalnya saya berpikiran bahwa kalimat dan penulisan dalam buku ini akan cenderung berat dan menekan penuh kemampuan berpikir saya. Namun ternyata saya salah besar. Penulis menuliskannya dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Saya yang masih cetek ilmu agama ini aja bisa paham, tentu masyarakat yang lebih pintar akan lebih mudah memahaminya. Tak jarang penulis menyelipkan sedikit humor sebagai ice breaking setelah memaparkan hal yang cukup berbobot.

Segmen buku ini memang untuk remaja. Tetapi bukan berarti yang dewasa dilarang membacanya. Bahkan untuk menarik perhatian remaja, banyak diselipkan karikatur-karikatur lucu yang mendukung tulisan yang berkaitan. Diharapkan karikatur ini bisa sedikit memberi gambaran tentang maksud dari sang penulis.

Kekurangannya apa ya. Oh iya, ada kesalahan kesalahan layout atau tata letak paragraf pada halaman 38. Seharusnya ada di halaman selanjutnya, tapi entah kenapa tertera di halaman 38 itu. Saya jadi bingung sendiri awalnya. Ada beberapa typo juga sih. Tapi karena saya menikmati isi bukunya, saya jadi tidak sempat mencatat typo nya sebelah mana saja.

Dan terakhir, ada buuuanyaaak sekali nama-nama Arab yang ada di buku ini. Mulai dari para ulama fiqih, sahabat Rasulullah, hingga orang-orang di masa modern yang menjadi rujukan penulis dalam membangun tulisannya. Selain nama yang sebelumnya sudah familiar, saya tidak bisa mengingat nama siapa saja yang disebut saking banyaknya. Tapi ini bukan kekurangan bukunya sih ya. Hanya karena saya aja yang belum tahu hehehe. Kesimpulannya, buku ini recommended deh.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Sweet Winter

coversweetwi

Judul: Sweet Winter

Sub Judul: Saat Dingin Itu Menghangatkan Hati

Penulis: Kezia Evi Wiadji

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah Halaman: vi + 207 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2014

ISBN: 9786022516514

cooltext1660180343

Matthew:

Aku berharap takdir yang mempertemukan kita di sini dapat memperbaiki kesalahanku.

Karin:

Oh Tuhan, kenapa kami harus bertemu, jika akhirnya harus kembali berpisah?!

Karin dan Matthew, dua sahabat yang saling mencintai. Tetapi takdir mempermainkan mereka layaknya dua layang-layang yang meliuk-liuk di langit. Akankah mereka bersatu, jika wedding song telah mengalun lembut dan salah satu dari mereka harus berjalan menuju altar untuk mengucapkan sumpah setianya?

Kisah Karin dan Matthew yang ceria seperti membawa langkah saya kembali pada masa remaja. Masa di mana semua terlihat demikian berkilau, saat kita menemukan cinta pertama (dan mungkin sejati). Evi berhasil membuat saya percaya, kadang tak perlu menoleh terlalu jauh untuk menemukan orang yang tepat, belahan hatimu. This kind of love could happen to anyone to us. :) – Rina Suryakusuma, Penulis Just Another Birthday dan Lullaby

Ah, saya iri sama Karin. Dia bisa bercerita so romantic di sini tentang apa yang dia rasa dan akhirnya menemukan cinta lamanya kembali dari orang di masa lalunya. Kalau ingin merasakan romantisme cerita cinta Karin di antara suasana negeri yang melahirkan banyak boy and girl band itu, baca deh novel ini sampai tuntas. Pasti kamu akan merasakan apa yang saya rasakan. – Anjar Anastasia, Penulis Renjana

cooltext1660176395

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka membutuhkan orang lain untuk menjalani hidup. Berbagai karakter yang dimiliki manusia tentu menghadapkan manusia lain untuk bisa memiliki orang dengan karakter baik untuk menemani hari-harinya. Orang baik tersebut bisa berwujud sebagai sahabat karib yang selalu ada dalam duka dan bahagia. Bisa pula orang baik tersebut memiliki wujud sebagai tambatan hati yang menemani hari-hari hingga ajal memisahkan.

Hidup itu pilihan. Begitu pula yang dirasakan Karin, sang tokoh utama buku ini. Ia berhasil mendapatkan orang baik yang mengisi hidupnya. Bonusnya, orang tersebut menjadi kawan baik sekaligus pujaan hatinya. Hayoloh, sampai sini saja saya sudah sirik sama Karin. Kisah dibuka dengan prolog mengenai perjalanan Karin menuju Korea Selatan untuk berwisata. Kepribadiannya yang mandiri tidak membuatnya takut berkelana seorang diri. Disana tidak ada kerabat atau orang lain yang dikenalnya. Sehingga Karin benar-benar ingin bebas menikmati segala macam keindahan di negeri ginseng tersebut.

Saat keluar bandara, tiba-tiba ia dipanggil oleh seorang lelaki. Ternyata ia adalah Matthew. Tetangga, sahabat, sekaligus cinta pertamanya yang telah menghilang bertahun-tahun. Prolog ini kemudian langsung digantung begitu saja. Kemudian, pembaca dibawa ke bagian pertama yang flashback tiga belas tahun yang lalu. Saat itu, rumah disebelah tempat tinggal Karin ada penghuni baru. Tidak disangka, keluarga baru itu memiliki anak lelaki sebaya Karin. Jendela kamar rumah sebelah yang berhadapan dengan jendela kamar Karin membuat mereka berdua cepat akrab.

Tiba-tiba bayangan itu berubah, bukan lagi sosok Tessa dan Joni, tetapi dirinya dan Matthew!!! (Hal. 26)

Setiap hari Karin dan Matt (panggilan Matthew) menjalani hari-hari penuh suka cita. Berangkat dan pulang sekolah bareng naik sepeda, belajar setiap malam, main layangan, saling mengucapkan good night sebelum tidur, dan beragam kegiatan lainnya. Hingga saat kelas 3 SMP, Karin merasakan suatu rasa yang berbeda dari dirinya untuk Matt. Tetapi, kehadiran anak baru di kelas Karin dan Matt memberikan sebuah konflik awal untuk hubungan mereka berdua.

Matthew memang mencintai Silvia, itu yang membuatnya susah untuk bersikap apa adanya. (Hal. 58)

Ya benar. Cinta Karin tidak bisa membuat Matt mencintainya dengan utuh. Ia harus menelan kekecewaan saat Matt mengakui ia memang menyukai Silvia. There is something different between Karin and Sisil (panggilan Silvia). Hal itu pula yang membuat Matt memilih Sisil untuk mengisi hari-harinya. Sayangnya, emosi labil Karin bukannya membuat Matt tetap nyaman menjadi sahabat, justru membuat Matt menjauhi Karin.

Mana ada sih, cowok dan cewek bisa jadi sahabat sejati. Hasilnya mereka malah saling suka dan aku hanya jadi obat nyamuk buat kalian. (Hal. 62)

Pada bagian kedua, kisahnya melanjutkan akhir prolog yang menggantung tadi. Saya jadi mengerti kenapa Karin sampai bingung dan kikuk berhadapan dengan Matt. Beruntung Matt bisa mencairkan suasana dan sukses meyakinkan Karin untuk menikmati wisata di Korea Selatan bersamanya. Layaknya kenalan yang sudah lama tidak berjumpa, mereka berdua juga terlibat berbagai topik cerita, termasuk kisah pahit yang dialami Matt.

Perbedaan fisik yang harus ditebusnya dengan harga mahal karena melakukan perbuatan yang salah. (Hal. 98)

Sampai bagian ini, saya sudah bisa menebak selanjutnya akan seperti apa. Tebakan saya, Karin dan Matt akan pulang ke Indonesia kemudian mereka menikah dan hidup bahagia selama-lamanya (aih, dongeng Disney banget). Sayangnya, saya salah. Memang benar Karin pulang ke Indonesia. Tetapi tidak dengan Matt yang masih harus bekerja di Korea Selatan. Semenjak kepergian Karin, ia tidak bisa melupakan sahabatnya itu. Matt menyadari bahwa ia sesungguhnya mencintai Karin.

Sejak bertemu dengan Karin di bandara, sejak itu pula ia selalu ingin merekuh Karin dalam pelukannya, ingin menciumnya. (Hal. 120)

Begitu pula dengan Karin. Bagian ketiga yang sudah memiliki setting di Indonesia menghadirkan Karin dengan kegelisahan dan perasaan campur aduknya. Perjumpaannya dengan Matt di Korea Selatan adalah hal yang sangat tidak diperkirakan olehnya. Awalnya ia sudah bertekad akan melupakan cintanya kepada Matt sepulang dari Korea. Hal ini dikarenakan sebulan lagi Karin akan menikah dengan pria kawan sekampusnya dulu.

Ia takut hatunya akan semakin patah. Dekat namun tak terjamah. Dekat namun tak bisa memiliki. Rasanya sungguh menyakitkan. (Hal. 144)

Batin Karin yang semakin kalut serta perasaan Matt yang tak menentu menghiasi sebagian besar cerita bagian ketiga ini. Lantas bagaimana kelanjutannya? Bagaimana pernikahan Karin? Bagaimana sang calon mempelai pria, Bram, saat menghadapi Matt? Dan tindakan apa yang akan dilakukan Matt?

Overall, saya menyukai buku ini. Ceritanya manis dan gaya penceritaannya mengalir. Bisa dikatakan sang penulis mampu membuat saya terhanyut mengikuti masa kecil Karin dan Matt, beranjak pada masa kini, hingga konflik besar yang harus dihadapi keduanya. Oh iya, jadi yang usil menyembunyikan buku Sisil siapa dong? Masih misteri nih. Dan pada dasarnya, Karin dan Matt adalah potret orang-orang yang terjebak friendzone dan gagal move on #bukancurcol.

Saat bagian masa lalu, penulis berhasil menggambarkan masa kanak-kanak yang gemar bermain tetapi juga mulai mengenalkan cinta monyet ketika remaja. Apa yang dilakukan oleh Karin benar-benar sangat masuk akal untuk usia yang masih labil. Sayangnya, saya agak bingung kenapa tidak ada tokoh yang lain, selain Karin, Matt, dan Sisil. Apakah mereka tidak punya teman sekolah sama sekali sampai-sampai tidak ada tokoh lain. Tetapi mungkin ini memang niat penulisnya untuk hanya fokus pada kehidupan mereka bertiga.

Ketika setting di Korea Selatan, penulis cukup banyak bercerita tentang tempat-tempat menarik disana. Mulai dari Seoul, Cheonggyecheon Stream, kota Jeonju, ski resort Yongpyong, Nami Island, sampai lokasi paling nge-hits yaitu Jeju Island. Deskripsinya membuat saya ngebet ke Korea saat itu juga. Apalagi suasana musim dingin plus saljunya juga digambarkan dengan cantik disela-sela kebahagiaan Karin tentang cintanya yang hadir kembali. Judulnya Sweet Winter memang pas kok.

Satu lagi yang saya sukai, meskipun Karin dan Matt (dan juga Bram) masih berusia muda, mereka tidak memanggil satu sama lain dengan loe-gue. Bahkan pada kisah masa lalu saat keduanya berusia remaja, mereka tetap memanggil dengan sebutan aku-kamu. Padahal mereka tinggal di daerah Tangerang lho, yang biasa ber-loe-gue.

Bukannya saya tidak suka istilah loe-gue, tetapi saya pribadi merasa bahwa panggilan itu menghilangkan kesan manis dan rasa cinta sehingga terkesan hanya romansa picisan tak bermakna #tsaah. Alih-alih terkesan kaku, saya justru merasakan kehangatan pada perbincangan mereka.

Sayangnya, meskipun tadi saya sebutkan bahwa saya salah menebak perkembangan cerita, lambat laun saya bisa merevisi dan sukses menebak kelanjutan ceritanya sampai akhir. Karena novel ini ceritanya FTV material banget. Mungkin saya kebanyakan nonton FTV (tapi tidak nonton sinetron), sehingga konflik dan hal-hal lain di separuh akhir buku sudah bisa saya perkirakan.

Memang sangat-sangat FTV-able mulai dari flashback-nya, wisatanya, pernikahannya, pergolakan batinnya, sampai kehidupan masa depannya. Mungkin kalau ada sutradara yang tertarik, harus mempersiapkan budget syuting di Korea saat musim dingin aja yang pasti agak mahal. By the way, alasan Matt bisa berjumpa dengan Karin sungguh FTV banget lho #tidakmauspoiler.

Tetapi, gaya bercerita Evi yang lembut dan smooth membuat saya enggan melewati kata demi kata yang ia tulis. Mungkin kalau buku lain yang gaya berceritanya buruk, saya akan langsung baca halaman terakhir untuk mengetahui ending-nya. Sedangkan Evi sukses membuat saya untuk membuktikan perkiraan saya sendiri sambil menikmati tulisannya yang menghanyutkan itu.

Anyway, saya penasaran. Dulu ketika masih sekolah, saya diajari guru saya ketika menulis sebuah merek dalam cerita, merek tersebut ditulis miring atau diberi tanda kutip. Misalnya “Nokia” atau Nokia. Tapi di buku ini tetap ditulis tegak biasa aja gitu. Mungkin sudah bergeser ya ketentuan penulisan merek. Dan saya juga curiga, jangan-jangan Mbak Evi di-endorse SUV Hyundai, Jazz, Samsung, Garuda Airlines, dan Avanza sebagai brand ambassador saking cukup banyaknya merek diatas tertulis di cerita hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Miminlicious

covermiminlicious

Judul: Miminlicious

Sub Judul: Tak Ada Mimin yang Tak Retak

Penulis: Jacob of @divapress01

Penerbit: DIVA Press

Jumlah Halaman: 212 halaman

Terbit Perdana: Januari 2015

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Januari 2015

ISBN: 9786022558002

cooltext1660180343

Alkisah….

Setelah menonton Twilight, seorang pemuda jadi rajin berkaca. Dia mematut-matut diri, mulai dari rambut, warna kulit, hingga biseps dan trisepnya. Lama kemudian, dia bergumam, “Hih! Kok nggak mirip si Jacob, sih!”

Sejak itu, dia pun terobsesi… dan muncul dalam jagat maya melalui akun @divapress01. Kehadirannya selalu dinanti followers. Banyak yang tergila-gila, nggak sedikit yang iri hati. Ototnya dari kawat, biar jempolnya bisa ngeladenin pertanyaan-pertanyaan followers yang ajaib. Tulangnya dari besi… *Ish! Ini MinCob apa Gatotkaca.

Siapakah Jacob sebenarnya?

Sebuah fanpage dan akun eksis karena dukungan para followers. Jadi, seajaib apa pun seorang followers, seorang admin ditutntut memiliki kesabaran dalam rangka melayani mereka. Kita akan kuak bersama bagaimana keseharian Jacob, seorang admin yang baru naik daun *juga naik darah karena tiap hari dikerjain followers.

cooltext1660176395

Pada jaman modern saat ini, internet bukanlah hal yang sulit untuk diakses kebanyakan orang. Selain mencari berbagai informasi, internet juga menawarkan sebuah hal baru yaitu media sosial. Jika setengah abad lalu orang-orang harus menempuh jarak cukup jauh dan bertatap muka jika ingin berbincang, sekarang cukup dengan update status ataupun nge-twit sudah bisa bercengkrama dengan orang lain di belahan bumi yang lain.

Media sosial, sebut saja twitter dan facebook, pada awalnya hanya digunakan oleh individu. Namun seiring perkembangan jaman, berbagai perusahaan ataupun instansi, bahkan berjualan produk juga bisa dituangkan dalam media sosial. Meskipun menyandang nama sebuah lembaga, akun tersebut tetap dioperasikan oleh seseorang. Orang ini biasa disebut dengan administrator (biasa disingkat admin). Kalau boleh saya katakan sih, admin ini adalah seorang operator yang menjalankan akun suatu lembaga itu.

Dalam dunia perbukuan, akun media sosial tentu dimiliki oleh penulis dan pembaca. Tidak heran karena mereka berdiri sebagai diri mereka sendiri. Bagaimana dengan penerbit? Ternyata penerbit tak mau kalah. Beberapa penerbit juga memiliki akun media sosial yang dalam kesehariannya dioperasikan oleh seorang admin. Lain penerbit, lain pula akunnya. Hal ini otomatis membuat adminnya juga beda *yaiyalah. Salah satu penerbit dengan admin yang “berbeda” adalah penerbit DIVA Press dengan akun @divapress01.

Admin media sosial penerbit ini dijuluki MinCob, MinLev, dan (dulu ada) MinDah. Ibarat kepribadian dan perbedaan karakter tiap orang, para followers akun ini (yang berjumlah ribuan) juga memiliki “keunikan” tersendiri. Oleh karena itu, salah satu admin akun penerbit DIVA, MinCob, bermaksud berbagi tentang hal-hal “berbeda” itu selama menjadi admin.

Begitulah anak jaman sekarang. Saking kreatifnya, ada lho yang bercita-cita ingin menjadi seorang admin fanpage atau grup komunitas di media sosial. (Hal. 4)

Buku ini terdiri atas delapan bagian utama yaitu Bagian Pengantar, Bagian berjudul “Dunia Mimin” dari satu sampai enam, serta Bagian Penutup dan Terima Kasih. Pada bagian Dunia Mimin 1 dengan sub judul Takkan Lari Admin Dikejar, MinCob bercerita tentang obrolannya dengan beberapa followers (yang sudah disamarkan namanya).

Bukan obrolan biasa dan penuh kewajaran, melainkan obrolan yang awalnya biasa namun kemudian justru bikin keki dan emosi jiwa. Saya rasa baik MinCob ataupun sang follower juga sama emosinya (dalam hal yang berbeda, tentu saja). Bagian ini sukses bikin saya ngakak sih. Soalnya apa ya, kalau saya jadi MinCob, pasti udah minus umur saya ngeladenin follower yang kudet gitu. Hih!

Lu cerewet banget ya Min, kayak corong stasiun! (Hal. 35)

Bagian Dunia Mimin 2, memiliki sub judul Rupa-Rupa Kak Nita. Sejenak meninggalkan ocehan MinCob, saya diajak berkenalan dengan keseharian Kak Nita. Bagi yang belum tahu, Kak Nita ini adalah orang yang bertanggungjawab dengan segala kepentingan orang-orang yang ingin memesan buku DIVA Press.

Karena Kak Nita bisa dijangkau melalui nomor telepon, maka percakapan dan obrolan “tidak biasa” juga disajikan dari hasil SMS dan telepon yang Kak Nita alami. Karena itu, bagian Kak Nita ini jadi cukup panjang. Agak takjub sih saya, kok ya ada para (calon) pemesan buku yang ngeselin begitu.

Masak penerbit kok nggak tahu jadwal dan rute bus malam. *tutup telepon* (hal. 61)

Selanjutnya, saya diajak ke bagian Dunia Mimin 3, dengan sub judul Admin Baik vs Mimin @divapress01 Slebor. Sudah sempat saya singgung diawal, admin itu ada berbagai macam. Alih-alih menjadi admin yang baik dan penuh semangat kehangatan demi para followers-nya, admin @divapress01 ini justru mendobrak pakem dengan menjadi admin yang ehm “unik”.

Segala keunikan dan betapa slebor-nya kata-kata admin ini (khususnya dalam twitter) disajikan dengan membandingkan tulisan admin baik dan admin slebor. Lucu sih, soalnya saya nggak ngira aja admin yang membawa nama lembaga justru berkelakuan begini. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, ini justru menjadi nilai plus admin @divapress01 yang slebor ini.

Admin-admin slebor macam merekalah yang entah kenapa malah digilai oleh follower dengan jumlah follower yang ngehit sampai ratusan ribu. (Hal. 76)

Setelah berkenalan dengan Kak Nita, saya diajak berkenalan dengan Mas Dion. Pada bagian Dunia Mimin 4 dengan sub judul Proposal Oh Proposal ini, diceritakan beberapa keganjilan-keganjilan yang dialami Mas Dion selama bertanggungjawab menangani program buku gratis DIVA Press. Sekedar informasi, DIVA Press memiliki sebuah program bernama #AksiSejutaBukuGratis yang diperuntukkan bagi perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia.

Jadi intinya pihak perpustakaan yang berminat, bisa mengirimkan proposal pengajuan untuk mendapat buku gratis. Apabila sudah acc, voila! 100 eksemplar buku gratis dari DIVA Press sudah bisa dibawa ke perpustakaan tersebut. Nah, pengalaman Mas Dion menghadapi para (calon) pemohon inilah yang memenuhi bagian ini. Saya juga tidak menyangka ada orang-orang yang saking kudet-nya jadi tidak memahami prosedur yang ada *pukpuk Mas Dion*.

Buset itu tulisannya kecil-kecil, hemat bahan banget, spasinya setengah sentimeter dengan font Calibri dikebiri. (Hal. 120)

Setelah dibuat nyengir-nyengir membaca empat Dunia Mimin tadi, pada Dunia Mimin 5 dan 6 memiliki konsep yang hampir sama. Di Dunia Mimin 5, MinCob (atau MinLev juga?) membagikan pertanyaan-pertanyaan penting-nggak penting dari followers, yang kemudian dijawab juga dengan absurd oleh MinCob. Sedangkan bagian Dunia Mimin 6, perbedaannya adalah MinCob membagikan jawaban dari pertanyaan followers yang aslinya itu nggak direspon.

Pada umumnya sih, saya menyukai konsep buku ini. Seorang admin @divapress01 slebor berbagi tentang kesehariannya. Sedikit banyak hal ini bisa membuat para non-admin, khususnya followers, menjadi tahu tentang dunia admin. Tidak selamanya menjadi admin itu enak. Namun bukan berarti menjadi admin itu selalu menguras emosi. Yang penting bagaimana tetap enjoy dalam menjalani pekerjaan itu.

Layout dan tata letak yang sangat cantik, plus beberapa karikatur unyu di beberapa halaman, membuat buku ini rame. Tulisan MinCob saja sebenarnya sudah lucu. Namung dengan adanya panel-panel unyu dan selipan nggak penting dalam pojok-pojok tulisan membuat saya sering nyengir saat membacanya.

Sayangnya, saya kecewa dengan bagian Dunia Mimin 5 dan 6. Sebenarnya lucu-lucu aja sih membaca pertanyaan absurd followers sekaligus jawaban tambah absurd dari MinCob. Tetapi jumlah halaman yang sangat banyak (sekitar 83 halaman) membuat saya bosan. Sorry to say, bahkan saya tidak bisa menyelesaikan buku ini sekali duduk karena sudah keburu males dengan seabrek pertanyaan-jawaban absurd itu. Alhasil, tehnik skip-skip-skip saya lakukan.

Tapi besoknya saya baca lagi bagian ini. Ternyata, kalau sedikit dan tidak dibaca dalam waktu yang sama, saya justru dapet lucunya. Tapi kalau langsung dibaca semua sampai habis dalam satu waktu? Zzzz. Berarti sekitar 39% buku ini hanya berisi ocehan itu. Padahal kalau dibanyakin Dunia Mimin 1, 2, 3, ataupun 4, tentu buku ini lebih menarik.

Hidup itu perjuangan, penuh cobaan, dan butuh kesabaran, sesabar MinCob @divapress01 jawab pertanyaan-pertanyaan absurd para followers. (Hal. 141)

Pada bagian terakhir buku ini, saya justru lebih mendapat feel-nya. Tentang ucapan MinCob kepada para kontributor a.k.a followers yang sudi nama akunnya dicantumkan dalam halaman terima kasih. Selain itu juga ada halaman Tentang Penulis mengenai asal-usul MinCob. Lantas, siapakah MinCob itu? Sampai kata terakhir dalam buku ini pun masih belum terjawab. Yang jelas, MinCob akan tetap berusaha menjadi sahabat pembaca dalam mengarungi dunia perbukuan saat ini. Nice book, MinCob!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 8)

coveryakitate8

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 8)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Aryabhima A. Rahman

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 190 halaman

Terbit Perdana: 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2009

ISBN: 9789792743777

cooltext1660180343

Ada roti khas Inggris, Jerman, dan Perancis, tapi tak ada roti khas Jepang! Karenanya, Kazuma Azuma akan menciptakannya!! Azuma, selamatkan Pantasia dari rencana jahat si licik Yukino Azusagawa dengan menjuarai Monaco Cup! Tunjukkan kehebatan Japan!

cooltext1660176395

Monaco Cup sudah dimulai. Awal yang greget sudah menarik perhatian dibandingkan Kompetisi Pegawai Baru yang lalu. Terang saja, karena peserta pertandingan ini adalah para perwakilan dari 135 negara di dunia. Bagian 60 “Padahal Kita Tidak Terlambat” adalah awal pertandingan yang dibuka dengan eksibisi yaitu pameran roti dari tiap peserta. Lagi-lagi Jepang melakukan hal “aneh” disini.

Monaco Cup disiarkan langsung lewat internet, sehingga para penjudi di seluruh dunia bisa menontonnya! (Hal. 9)

Bagian 61 “Rolet Bahan Makanan” adalah babak pertama pertandingan. Setiap peserta melakukan permainan rolet (putaran pakai bola kecil) untuk menentukan bahan-bahan yang boleh digunakan saat membuat roti. Selain bahan yang diperoleh, tidak bisa digunakan. Tiap tim ada tiga kali kesempatan memilih bahan. Jepang ternyata mendapat bahan yang sangat err…banyak.

Bagaimanapun juga mereka adalah anak buah Kirisaki! Tak mungkin dia mengirim para pecundang dua tahun berturut-turut. (Hal. 25)

Bagian 62 “Level Dunia” sudah masuk tahap pembuatan. Bahan-bahan yang tidak menguntungkan mau tidak mau harus dibuat menjadi roti yang memukau. Ketika Kawachi dan Suwabara kebingungan, ternyata Azuma memiliki ide cemerlang dengan membuat JaPan 21.

Memang kondisi mereka sangat tak menguntungkan, tapi kelihatannya Azuma sudah memikirkan sesuatu… (Hal. 45)

Bagian 63 “Barang Ketinggalan” adalah saat-saat pencicipan untuk menentukan 16 tim dengan nilai tertinggi sehingga bisa masuk ke babak berikutnya. Pada Monaco Cup putaran kedua ini, dibagi menjadi dua sesi dengan masing-masing sesi bisa memperoleh nilai maksimal 5 poin. Sayangnya, Azuma cs mendapat hambatan.

Bagaimana reaksi lelaki level dunia yang menguasai 135 bahasa dan mampu memperbanyak diri ini!? (Hal. 62)

Setelah usai sesi yang pertama, sesi kedua Monaco Cup dimulai pada bagian 64 “Slot Bahan Makanan”. Berbeda dengan sesi pertama, pemilihan (atau pengundian) bahan makanan tiap tim dengan menggunakan slot (mesin jackpot) yang mengeluarkan koin. Koin inilah yang menjadi bahan karena setiap koin tertulis nama bahan yang harus digunakan.

Aku harus mengalahkan sebanyak mungkin para juara dunia disini!! (Hal. 86)

Bagian 65 “Roti Baru Suwabara” menunjukkan betapa ambisiusnya Suwabara untuk menang. Karena pada sesi pertama ia hanya “bantu-bantu” Azuma membuat roti, pada sesi ini ia yang akan membuat sendiri tanpa bantuan Azuma atau Kawachi. Padahal dengan bahan yang banyak, sulit bagi Suwabara membuatnya sendirian.

Kenapa kau tidak memberi tahu kami, kalau tahun lalu ada aturan seperti ini juga?! (Hal. 101)

Bagian 66 “Kalau Menghancurkan Apelnya, Gusinya…!?” adalah saat-saat pembuatan roti. Secara kebetulan, meja tim Jepang bersebelahan dengan meja tim Perancis. Bisa ditebak lah ya, Suwabara yang emosinya meledak-ledak meladeni ocehan tim Perancis alias Edward Kayser yang sangat meremehkan. Apalagi bahan tim Perancis yang tidak “sebanyak” Jepang juga menjadi hal menguntungkan.

Apa kita akan mendapat 4 angka atau 5 angka… Semuanya tergantung pada bagian nama Kai (kai) itu… (Hal. 121)

Bagian 67 “Pierrot Talk” adalah saat-saat penjurian oleh Pierrot. Tak disangka, roti kouglof au miel milik tim Perancis mendapatkan 5 poin. Padahal Pierrot sama sekali tidak mencicipinya. Ternyata eh ternyata, roti itu adalah roti yang sama yang dibuat tim Perancis pada final Monaco Cup tahun lalu. Sedangkan pain d’epices kai milik tim Jepang harus menunggu untuk dicicipi.

Sulit untuk tahu apa-apa saja yang terkandung dalam pain d’epices ini… (Hal. 137)

Bagian 68 “Nama Pasaran Ada Stempelnya” adalah pasca pengumuman 16 peserta yang lolos. Ditengah hiruk pikuk, tim Perancis dengan kostum aneh itu menghampiri tim Jepang untuk sekedar basa-basi. Kawachi sungguh emosi dengan tim itu sehingga menanggapi dengan acuh tak acuh. Sedangkan Suwabara bersikap lembut kepada mereka.

Untuk berikutnya lakukan dengan jujur. Sehingga paling tidak, kita bisa benar-benar bertanding. (Hal. 157)

Bagian 69 “Kinoshita dan Sirkus” bersetting di Pantasia Cabang Tokyo Selatan. Setelah tiba-tiba St. Pierre memberlakukan diskon 70% untuk setiap produk buatannya, hal ini membuat Tsukino and the gank kelabakan. Pasalnya, mereka tak memiliki modal lagi untuk menyaingi apa yang dilakukan oleh St. Pierre. Tetapi ternyata Manajer memiliki pemikiran lain untuk menanggulanginya.

Demo satu orang yang mampu melakukan banyak pekerjaan sekaligus kayak gini cuma ada di bakeri kita. (Hal. 176)

Tidak bisa dipungkiri, babak pembukaan Monaco Cup membuat saya excited. Selain ada Pierrot sang juri (yang bahkan lebih absurd dan gahar dibandingkan Kuroyanagi), saya yakin pasti muncul berbagai macam roti menakjubkan. Berbeda dengan Kompetisi Pegawai Baru, roti-roti ini berasal dari seluruh dunia. Jadi tentu saja semakin menarik.

Ada yang sedikit menarik perhatian saya saat baca jilid ini. Pada bagian awal, saat eksibisi, Shigeru melihat daftar peringkat 135 negara peserta Monaco Cup. Peringkat ini berdasarkan banyaknya petaruh yang memegang jagoannya. And guess what, Jepang berada di urutan bawah. Bukan itu yang bikin saya mesem. Tapi negara dengan peringkat tepat diatas Jepang. Bisa nebak? Ya benar, Indonesia!

Saya nggak tahu sih ini akal-akalan penerjemah (btw, ada yang ngeh kalau penerjemah komik ini dilakukan oleh tiga orang yang berbeda sejak jilid pertama?) atau memang aslinya begitu. Tetapi yang pasti, sangat unik sekaligus menggembirakan ada nama Indonesia di komik buatan Jepang. Memang sih konteksnya adalah negara di dunia, tapi kenapa harus Indonesia yang dituliskan? Kan ada 134 negara lain sebagai peserta. Meskipun hanya tulisan dan tidak berarti apa-apa dalam cerita, saya mengapresiasi Hashiguchi-san yang memasukkan Indonesia (kalau beneran itu dari komikusnya).

Oh iya, tokoh Pierrot Bolnez yang berprofesi sebagai badut dunia cukup menarik buat saya. Bukannya badut itu hanya untuk lelucon dan lucu-lucuan ya? Tetapi Pierrot membuktikan bahwa badut tak hanya orang lucu, tapi juga pintar dengan segala trik sulap dan kemampuan menguasai 138 bahasa. Penasaran sih bagaimana reaksi yang akan dia buat setelah makan roti. Apakah selebay Kuroyanagi? Tunggu saja review saya jilid kesembilan nanti!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 7)

coveryakitate7

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 7)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Julianti

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 182 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792740455

cooltext1660180343

Tak disangka, Shigeru memilih bergabung dengan Azuma, dkk di Pantasia Cabang Tokyo Selatan demi membalas dendam pada Yukino. Langkah pertamanya memenangkan 10 miliar melalui Monaco Cup!

cooltext1660176395

Pertandingan perebutan juara ketiga dalam Kompetisi Pegawai Baru Pantasia ke-39 dimulai! Bagian 51 “Louis Louis” adalah saat yang menegangkan. Kawachi dengan rambut kribonya percaya diri menghadapi Suwabara si pemakai bandana. Tak disangka, mereka berdua sama-sama membuat roti Perancis! Ternyata kedua roti juga ada keunggulannya.

Jangan mengajakku bicara. Konsentrasilah pada pangganganmu sendiri. (Hal. 11)

Bagian 52 “Kid!” adalah saat-saat penjurian. Sebelumnya, baik roti buatan Kawachi ataupun Suwabara memiliki hal menakjubkan masing-masing. Tak pelak hal ini membuat sulit sang juri, Kuroyanagi. Meskipun begitu, keputusan sudah bulat. Di sisi lain, para pegawai bakeri Pantasia cabang Tokyo selatan sangat ilfil dengan perilaku Kawachi (plus gara-gara rambut kribonya).

Cita-citaku bukan bekerja di bakeri pusat. Tapi, membuat Ja-Pan!! (Hal. 28)

Tiba saatnya penyerahan hadiah pada bagian 53 “‘Apa!?’ Di Situasi Begini”. Azuma juara satu, Shigeru juara dua, dan tebak siapa juara ketiganya? Ternyata…Kawachi dan Suwabara. Ditengah-tengah penyerahan hadiah, Kawachi yang sudah mantap akhirnya pindah ke Pantasia pusat. Tak disangka, Shigeru memberikan sesuatu kepada Kawachi.

Aku ‘kan sudah pernah belajar di Perancis 2 tahun. Lagipula aku nggak begitu suka Perancis. (Hal. 45)

Kepindahan Shigeru ke bakeri milik Tsukino ternyata amat mengejutkan.  Bagian 54 “Laki-Laki 10 Miliar” menguak sebuah rahasia alasan mengapa Shigeru bertindak sejauh itu dengan meninggalkan bakeri milik Yukino. Saya pribadi menilai alasannya agak lebay dan terlalu ambisius sih. Tapi yah suka-sukanya sang mangaka lah ya mau buat cerita seperti apa hehehheh.

Pengambil alihan Pantasia oleh St. Pierre dan Yukino Azusagawa tinggal masalah waktu!! (Hal. 59)

Bagian 55 “Badut” adalah alasan lebih rinci mengenai strategi yang ingin diterapkan Shigeru untuk melawan Yukino. Sadar diri bahwa ia sudah tak punya apa-apa, ia berniat memberikan tampuk kedaulatan di balik bakat Azuma. Itulah sebabnya yang berangkat ke Perancis untuk belajar membuat roti adalah Azuma, Suwabara, dan Kawachi.

Apa maksudmu ingin membuat Azuma mandapatkan 10 miliar!? (Hal. 92)

Bagian 56 “Take Home” adalah detik-detik terakhir sebelum keberangkatan mereka ke Perancis. Shigeru juga meminta bantuan kepada seluruh pegawai Pantasia cabang Tokyo selatan untuk membantu. Tak disangka, hasil yang didapatkan cukup besar. Meskipun masih jauh dari sasaran, namun Shigeru yakin bahwa pasti ada jalan lain untuk menggapainya.

Saat ini sudah terkumpul 51 juta 700 ribu yen… Butuh lebih dari 194 kali lipat untuk mencapai 10 miliar… (Hal. 110)

Bagian 57 “Kau Siapa?” adalah bagian yang sudah bersetting di Paris. Disana, Kawachi, Azuma, Suwabara, dan Kuroyanagi bertemu dengan adik Meister Kirisaki. Gadis itu bernama Sofie Balzac Kirisaki. Ia adalah staf Bakeri Golden Blue di Paris. Sempat terjadi tragedi yang melibatkan Kawachi, Sofie, dan Kuu (burung merak milik Meister yang tak sengaja terbawa ke Paris).

Paris tidak seperti Tokyo. Tidak aman. Kau harus berusaha lebih keras. (Hal. 128)

Bagian 58 “Lentur” menjelaskan alasan mengapa bakeri Sofie sepi pengunjung. Padahal roti yang dijual juga tidak terlalu buruk. Tak disangka, alasan yang sama dengan Pantasia Cabang Tokyo Selatan juga dialami bakeri ini. Gara-gara Bakeri Maison Kayser yang lebih megah dan terkenal berdiri di hadapan Bakeri Golden Blue *krik krik*.

Dengan mengetahui kekuatan lawan, bisa saja rasa percaya diri kalian malah hilang… (Hal. 145)

Bagian 59 “Isi Kotaknya?” adalah bagian penutup jilid ini. Dikisahkan Kawachi and the gank (males nulis semua euy!) “bertamu” ke bakeri Kayser untuk bertemu dengan sang wakil Perancis. Mereka bertemu dengan tiga “bersaudara” bernama Grand Kayser, Bob Kayser, dan Edward Kayser. Ternyata mereka memiliki bakat istimewa bernama taktik ‘tangan dewi’ yang bisa membuat adonan empuk sekaligus kenyal.

Daripada sendirian membuat roti yang tidak laku, lebih baik menemani kalian… (Hal. 162)

Jujur, saya masih belum bisa move on dengan Kompetisi Pegawai Baru. Karena selain bermunculan roti yang (kelihatannya) lezat, aura ketegangan juga terasa. Apalagi dengan hadirnya Yukino, wuuuh tambah sebel diri ini kepadanya. Seperti yang sudah saya singgung di review sebelumnya, saya kurang sreg dengan drama kehidupan di tengah-tengah kompetisi.

Namun di jilid ketujuh ini, saya tidak ada pilihan lain selain menikmati kisah hidup Azuma cs pasca pertandingan. Bisa menikmati sih, cuman porsi roti-rotinya jadi sedikit dan kurang greget. But anyway, semua itu terobati dengan Sofie yang cantik banget (bahkan Tsukino aja kalah!) heheheh. Penasaran juga sih apa yang akan terjadi di Monaco Cup nanti. Sepertinya jilid delapan akan menjawab rasa penasaran saya. So, tunggu yak!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 6)

coveryakitate6

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 6)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Julianti

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 186 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792736243

cooltext1660180343

Babak final Kompetisi Pegawai Baru. Azuma vs Shigeru! Sama-sama jenius dan pemilik tangan matahari! Kelenturan adonan dan sang juri super, Meister Kirisaki, yang akan menentukan pemenangnya!

cooltext1660176395

Heihoo ketemu lagi di resensi Yakitate!! Ja-Pan. Yang kamu baca sekarang sudah mencapai jilid keenam. Kalau penasaran dengan resensi jilid sebelumnya, silakan buka homepage yah. Di jilid enam ini ada sembilan bagian. Langsung saja ya. Bagian 42 “Kuroyanagi In Heaven” berkisah tentang Kuroyanagi yang meninggal dunia karena mencicipi roti buatan Azuma. Eh, bukan Kuroyan saja dink. Tapi Sensei Gembul juga ikut meninggal. Kenapa bisa begitu? Jangan-jangan ada racunnya.

Dasar licik! Kau berbuat begitu karena tidak mau kalah dariku, ‘kan!? (Hal. 14)

Bagian 43 “Santai?” adalah saat Kawachi yang sudah mulai menerima kekalahan, diingatkan oleh Meister Kirisaki tentang perebutan juara 3. Ternyata, juara 3 juga memiliki kesempatan untuk menjadi pegawai Pantasia pusat. Tentu saja Kawachi tertarik dengan fakta ini. Tetapi…

Pertandingan perebutan juara 3!! Aku…mana bisa menang melawan Suwabara!! (Hal. 39)

Bagian 44 “Padahal Papannya” adalah detik-detik saat bebak final Azuma melawan Shigeru dimulai. Azuma merasa khawatir dengan hal serupa yang dialami Kawachi akan ia alami esok hari. Tentu saja, Yukino yang jahat bagai mak lampir itu akan menghalalkan segala cara untuk menang. Tapi bukan Azuma namanya kalau akhirnya tidak percaya diri.

Kalau Shigeru punya ragi samudra, aku pun punya papan petalite!! (Hal. 52)

Bagian 45 “Yang Kental Itu, Ya” mengisahkan Kawachi yang pergi ke suatu tempat atas rekomendasi Manajer. Ia berujar bahwa disana adalah tempat hebat yang akan membuat Kawachi bisa memenangkan pertandingan perebutan juara ketiga. Tempat itu adalah Gereja St. Andrew. Orang yang harus ditemui Kawachi adalah Romo Andrew Graham. Sayangnya, Romo sudah meninggal dan disana hanya ada putrinya, Suster Maku Graham.

Tapi, kalau kau kalah dalam perebutan juara 3… Itu akan membuat Yukino, orang yang lebih jahat darimu, jadi gede kepala… (Hal. 73)

Kembali ke pertandingan final. Bagian 46 “Pertandingan Final Dimulai” menunjukkan betapa babak final dinantikan (hampir) semua orang. Penonton membludak dan membuat suasana memanas. Baik Azuma ataupun Shigeru mempersiapkan roti terbaik mereka. Meskipun Azuma mengalami kehilangan yang berarti, ia tidak gentar melawan Shigeru. Sedangkan Shigeru harus berusaha keras agar laboratorium dan data penelitiannya tidak dihancurkan Yukino.

Aku nggak akan memakainya di final ini. Ah, tepatnya… Tidak bisa. Soalnya sudah hilang. (Hal. 91)

Bagian 47 “Swan Lake” adalah saat-saat Shigeru dan Azuma membuat roti. Seperti yang bisa dibayangkan, Shigeru bisa membuat adonan sangat lentur hingga bisa melar sepanjang rentangan tangan. Ketika asyik memanggang roti, ia baru sadar bahwa Azuma juga sanggup memelarkan adonan! Hal ini tentu aneh karena ramuan Shigeru tidak ada yang tahu.

Adonan yang sudah dicuci dibiarkan begitu saja, lalu mulai membuat adonan baru lagi!! (Hal. 112)

Bagian 48 “Good!!” yaitu proses penjurian. Juri kali ini adalah Meister Kirisaki, bukannya Kuroyanagi. Ternyata ini adalah permintaan Kirisaki, bahwa General Manager akan menjadi juri saat babak final. Yang pertama dicicipi adalah roti buatan Shigeru, kemudian Azuma. Ternyata tak dinyana, reaksi yang didapatkan begitu mencengangkan kedua peserta.

Saya belum pernah makan pain aux restique seenak ini. (Hal. 128)

Bagian 49 “Teka-Teki Kribo” adalah saat ketika Kawachi sudah kembali ke area pertandingan setelah mengunjungi gereja. Dan tebak apa yang terjadi? Rambut Kawachi menjadi kribo. Yak benar! Persis seperti rambut sang Manajer. Apa yang sebenarnya terjadi tidak terlalu masalah hingga Suwabara memberikan sepatah kalimat untuk Kawachi.

Mustahil amatiran sepertimu bisa mengalahkanku! (Hal. 157)

Bagian 50 “Payah” adalah bagian terakhir sebelum pertandingan Kawachi dimulai. Sudah dapat diduga, akhirnya akan nggantung dan bersambung ke jilid berikutnya. Pokoknya, pertandingan Kawachi dan Suwabara tidak boleh dilewatkan begitu saja. Yah, meskipun hanya untuk juara 3 sih.

Model rambut yang menggelikan!! (Hal. 171)

Akhirnya laga puncak Kompetisi Pegawai Baru Pantasia berakhir sudah. Segala kekacauan dan keajaiban roti di babak sebelumnya akhirnya ditutup oleh Shigeru dan Azuma di babak final. Namun saya pribadi merasa roti di babak sebelumnya justru lebih wah dibandingkan roti babak final. Hanya bonus Meister Kirisaki dengan respon “unik” saja yang menjadi nilai plus. Sedangkan dari rotinya sendiri sih biasa saja.

Tetapi selain itu, saya menyukai jilid ini karena tidak terlalu banyak drama yang berlebihan. Saya sih sebenarnya suka mengikuti kehidupan pribadi masing-masing tokoh. Cuman kan ini lagi ada kompetisi. Mbok ya itu aja yang dijadikan fokus cerita, jangan kemana-mana seperti jilid sebelumnya.

Eh by the way, Shigeru itu cowok apa cewek ya? Fisik sih cewek, tapi agak nanggung sikapnya jadi cewek. Kalau jadi cowok malah terlalu lembut. Entahlah. Oh iya, babak perebutan juara 3 oleh Kawachi vs Suwabara yang akan disuguhkan jilid depan saya rasa juga (akan) tidak semenarik babak sebelumnya. Tapi entahlah, mari buktikan saja dulu. Siap-siap baca review saya yang jilid ketujuh yak!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 5)

coveryakitate5

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 5)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Julianti

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 186 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792732481

cooltext1660180343

Taktik kotor Yokino menyebabkan kekalahan Kawachi. Sekalipun sempat terpuruk karenanya, berkat dorongan Kawachi, Azuma bangkit dan bertekad mengalahkan Suwabara dengan Japan 44!!

cooltext1660176395

Kompetisi Pegawai Baru sudah memasuki putaran puncak. Bakat-bakat istimewa dan roti beraneka rupa juga mulai bermunculan. Bagian 33 “Wujud Sihir Sesungguhnya” bercerita tentang roti hewan buatan Azuma yang berwarna hijau. Yak benar, roti yang harusnya kecoklatan karena proses dioven, justru tetap hijau. Rahasianya apa?

Trik memanggang dengan suhu super rendah dalam waktu lama!!! (Hal. 5)

Bagian 34 “Dua Kesalahan” adalah proses penjurian oleh Sensei Gembul dan Kuroyanagi. Agak wasting panel aja sih sampai jadi dua bagian terpisah. Tapi memang saya akui bahwa penjurian juga sudah semakin ketat. Koala sebagai lawan Azuma juga tak bisa dipandang remeh dengan roti hewan miliknya.

Sesuai dengan angka hasil penilaian Sensei Gembul. Karena seri, pertandingannya diulang!! (Hal. 27)

Bagian 35 “Serangan Balasan Katsuwo” adalah cerita saat Kawachi dan Umino Katsuwo bertanding. Katsuwo yang berpostur pendek dan seperti anak kecil, ternyata sudah berusia 31 tahun dan memiliki istri. Saya turut paham tentang betapa genggeus-nya Katsuwo dan istrinya ini. Hih!

Manusia juga bisa dibilang salah satu bagian dari kelompok hewan. Idenya amat menarik! (Hal. 48)

Bagian 36 “Ziarah”, selepas pengumuman empat peserta yang maju pada babak semifinal, Manajer mengajak Azuma dan Kawachi ke taman pemakaman. Ternyata disana ada sebuah tragedi memilukan tentang mendiang ibunda Tsukino. Pantas saja setelah pengumuman, Tsukino langsung meninggalkan aula pertandingan.

Ah, aku cuma kasih sedikit semangat. Lagian dia bukan lawan yang sebanding denganku, kok… (Hal. 63)

Bagian 37 “Senior Kuroyanagi?” adalah bagian yang bukan tentang pertandingan. Hanya ngobrol-ngobrol tentang siapa lawan Kawachi selanjutnya. Ia adalah Kanmuri Shigeru, pegawai bakeri cabang Shinjuku pusat. Secara kebetulan, manajer bakeri tersebut adalah Azusagawa Yukino, kakak Tsukino. Dan ternyata lagi, Shigeru dan Kuroyanagi satu almamater. Too much coinsidence, euh.

Kuroyanagi baru berusia 22 tahun dan sudah menjadi eksekutif bakeri pusat. Apa kalian tahu gimana caranya melakukan itu!? (Hal. 78)

Bagian 38 adalah “Perangkap Yukino”. Seperti yang bisa diduga, Yukino yang berperangai jahat tanpa setitikpun kebaikan dalam jiwa sanubarinya *tsaah* menghalalkan segala cara agar Shigeru menang. Apakah kalian berpikir Yukino mencurangi pertandingan? Yak benar sekali. Sampai-sampai Kawachi dibuat tak berdaya sama sekali.

Tiga tahun setelah Kakak lulus… Akhirnya, aku sudah menyempurnakan ‘itu’. (Hal. 102)

Bagian 39 “Kenangan Akan Laut” berfokus pada hasil roti kreasi Shigeru yang dicicipi oleh Kuroyanagi dan Sensei Gembul. Disini terjadi sebuah keajaiban pada Sensei Gembul. Semua itu karena roti Shigeru yang ajaib dan tidak biasa. Tak pelak hal ini memukul hati Kawachi. Karena apa yang terjadi sungguh bukanlah hal yang diharapkannya.

Aku sudah memakai ragi samudra impianku untuk roti ini… (Hal. 117)

Bagian 40 “Cukup Buat Roti Enak” adalah saat sebelum Azuma bertanding. Ia yang sangat merasakan kesedihan Kawachi, tidak memiliki semangat untuk bertanding lagi menghadapi Suwabara. Simpatinya yang mendalam kepada rekan kerjanya sungguh tinggi. Bahkan Tsukino juga memperbolehkan Azuma mundur dari pertandingan jika ia merasa tidak kuat. Namun ternyata Kawachi memiliki pemikiran sendiri.

Shigeru… Kemampuannya diatas rata-rata!! (Hal. 137)

Bagian 41 “Maaf, Ya” adalah saat-saat pertandingan Azuma dan Suwabara. Ternyata selama ini, setelah kalah dari Azuma di ujian masuk Pantasia, Suwabara telah berlatih keras dan menemukan sebuah roti baru yang ia yakin akan mengalahkan roti buatan Azuma (meskipun agak lebay sih sebutannya). Apakah jenis roti itu?

Inilah croissant tehebat sepanjang sejarah!! Croissant 648 lapis super vapor action!!! (Hal. 164)

Bagian terakhir adalah “Bonus Spesial Takitate!! Gohan”. Seneng banget ada omake (bagian tambahan) tentang gohan ini. Rasanya sesuatu yang berbeda 180 derajat dibandingkan ceritanya Azuma. Cerita bagian ini mirip dengan chapter 2 Yakitate!! Ketika ujian masuk sebuah katering ternama, Tom datang terlambat sehingga poinnya dipotong lima poin oleh juri bernama Shiroyanagi Ryo. Disini Tom juga berkenalan dengan sesama peserta bernama Kishiwada. Tantangan pertama adalah membuat onigiri. Bagaimana akhir nasib Tom?

Ini kedai nasi! Kami tak akan mempekerjakan penyuka roti! (Hal. 173)

Semakin kesini, kompetisi juga semakin menegangkan. Peserta yang lolos juga bukan peserta yang tidak sanggup membuat roti. Entah kenapa, saya justru menanti kehadiran peserta baru dengan bakat menakjubkan membuat roti yang ajaib, alih-alih menanti Azuma membuat Ja-Pannya. Mungkin karena dia tokoh utama, saya udah terlanjur bosan duluan dengan tipikal Azuma.

Kemunculan Yukino sukses membuat saya membenci tokoh ini, bahkan lebih benci dibandingkan tokoh Mizuno. Tipikal peran antagonis di sinetron sih sebenarnya Yukino ini. Tapi Hashiguchi-san berhasil menggambarkan mimik muka dan perilaku jahatnya dengan sangat pas.

By the way, per jilid lima ini, saya kok jadi merasa sebel dengan Azuma ya. Sifatnya itu terlalu polos padahal kenyataannya dia jenius dalam membuat roti yang ajaib. Kesannya jadi pura-pura blo’on. Kalau ada di dunia nyata, saya yakin Azuma adalah orang yang tidak saya sukai hahahaha.

Oh iya, jangan lupakan dengan bonus spesial Takitate!! Gohan. Ketika membaca bagian ini, saya merasa membaca Yakitate!! namun dengan baju yang berbeda. Kesan barunya dapet, tapi nostalgia dengan chapter aslinya juga dapet. Lumayan jadi ice breaking sesaat dari tegangnya Kompetisi Pegawai Baru Pantasia. So, let’s wait my review of volume 6! Coming soon, I swear!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 4)

coveryakitate4

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 4)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Annisa Laila Khaled

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 195 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792728514

cooltext1660180343

Mengetahui Shachihoko adalah ahli membuat roti yakisoba, Azuma dan Kawachi berguru pada Liu, seorang master mi. Tapi, Azuma tetap tak punya ide untuk menandingi roti yakisoba Shachihoko.

cooltext1660176395

Berbeda dengan ketiga jilid sebelumnya, jilid keempat ini memiliki dua bab spesial selain bab utama lanjutan jilid sebelumnya. Bagian spesial pertama berjudul “Bonus Spesial Matsushiro Deluxe” yang mengisahkan awal mula Matsushiro berniat menggeluti dunia roti. Ternyata gara-gara cinta monyet masa SMA. *Ciee melankolis juga ternayata*

Aku dan B-saku yang sama-sama suka A-ko mendengar hal itu… (Hal. 9)

Bagian bonus kedua adalah “Bonus Spesial Takitate!! Gohan” yang sangat unik. Jadi kisahnya mengenai Tom Crusoe (seems like Tom Cruise, huh?) yang hidup di Amerika. Ia sangat menyukai nasi. Namun ayahnya menolak mentah-mentah usulnya menjadikan nasi sebagai menu sarapan. Bonus ini jalan ceritanya persis dengan chapter pertama di jilid 1. Cuman beda tokoh dan objek saja.

Aku sudah coba merekomendasikan Gohan sama Daddy… Tapi, malah ditentang. (Hal. 33)

Bagian selanjutnya sudah mulai kembali pada Kompetisi Pegawai Baru Pantasia. Bagian 26 “Perfect Melon” mengisahkan pertarungan Azuma melawan Mizuno. Ternyata, untuk membuat roti melon, Mizuno membuatnya dari 100% buah melon mahal nan lezat seharga 3000 yen! Sedangkan Azuma, cuma menggunakan jus kalengan seharga 120 yen. Zzzzz…

Wah, melonnya kayaknya mahalan, tuh… Melon si Azuma, sih, nggak ada apa-apanya… (Hal. 50)

Bagian 27 “Dasar Gegabah” adalah mengenai pertandingan Kawachi pada hari berikutnya. Ia yang sudah memiliki tangan matahari menjadi terlena dan menganggap remeh lawannya. Padahal menurut Manajer, lawan Kawachi, Yuko Motohashi, bukanlah lawan yang mudah. Hal ini membuat Kawachi ketar-ketir.

Dia itu ratu kantin pengurus menu makan siang sekolah dan wanita pemilik ‘Tangan Ibu’!!! (Hal. 69)

Bagian 28 “Kelemahan Azuma” mengisahkan babak berikutnya, dimana Azuma yang akan bertanding terlebih dahulu melawan Spencer Henry Hoko atau biasa dipanggil Shachihoko yang berasal dari Nagoya. Kejutannya, tema pertandingan babak tersebut adalah membuat yakisoba alias mi goreng, bukannya membuat roti. Ternyata, Azuma tidak pernah tahu cara memasak mi goreng! Sedangkan Shachihoko sudah terkenal dengan kemampuannya membuat mi goreng.

Aku akan memperkenalkan kalian seorang ahli mi. Lebih bagus lagi, kalau kalian bisa langsung belajar cara membuatnya disana! (Hal. 93)

Bagian 29 “Tim yang Kompak” berlokasi di tempat seorang ahli mi, Liu Lao Mian. Ia merupakan kawan Manajer. Selain nyentrik, ia juga senang menggunakan kekerasan kepada siapapun. Bagaimana bisa orang seperti itu bisa menjadi ahli pembuat mi? Azuma dan Kawachi sudah keder duluan. Tapi niat membuat mi terbaik tidak boleh luntur begitu saja.

Aku mesti berjuang sekuat tenaga dan nggak boleh meremehkan lawan siapapun orangnya!! (Hal. 108)

Bagian 30 “Reaksi Terlarang” merupakan hari pertandingan Azuma. Seperti yang diprediksi sebelumnya, tehnik pembuatan mi Shachihoko sungguh memukau. Tidak heran ia mendapatkan penghargaan tentang pembuatan mi yakisoba terlezat. Sedangkan Azuma harus berusaha dengan keras agar bisa mengalahkannya.

Meskipun Azuma sudah berusaha keras, kalau cuma mengandalkan mi goreng, dia bisa kalah! (Hal. 132)

Bagian 31 “Wujud Asli Koala” adalah kisah tentang pertandingan Azuma melawan Koala, pegawai Mizuno, di babak berikutnya. Karena Mizuno dan Tsukino sudah melakukan perjanjian tertulis, maka Azuma tidak boleh kalah. Atau reputasi dan masa depan Tsukino dipertaruhkan. Namun yang masih menjadi misteri, siapa orang dibalik topeng Koala itu sebenarnya?

Azuma! Lawan terkuat di kompetisi pegawai baru ini ternyata bukan Suwabara… Tapi, mungkin si Koala itu!!! (Hal. 154)

Bagian 32 “Pakai Sihir” adalah hari-H pertandingan Azuma. Tema roti yang harus dibuat adalah roti hewan. Sebagai tambahan, Kuroyanagi memanggil seorang juri baru bernama Sensei Gembul Hashiguchi dan asistennya, Heidi. Ada yang ngeh kalau juri tambahan ini adalah representasi komikus Yakitate!! Ja-Pan? Hehehe. Di sisi lain, setelah dianalisis, Koala adalah orang yang ahli dengan pembuatan roti hewan.

Bukan berarti menang kalahnya ditentukan dari bisa nggaknya bikin roti dengan 20 jalinan, ‘kan?! (Hal. 173)

Babak Kompetisi Pegawai Baru yang semakin seru menjadi fokus utama jilid keempat ini. Peserta yang ajaib dengan roti yang menakjubkan menjadi salah satu titik kenikmatan saya membaca komik ini. Saya tidak tahu apakah segala tehnik di komik ini akurat atau tidak. Tapi yang pasti semuanya membuat saya terpana.

Efek respon yang dialami oleh Kuroyanagi sebagai juri ketika mencicipi roti buatan peserta juga aneh-aneh. Meskipun semakin kesini semakin lebay dan tidak bisa diterima akal sehat, penjelasan setelah melakukan respon itulah yang membuat saya kagum. Apa ya, andaikata segala hal di komik ini hanyalah bualan semata, Hashiguchi-san sukses membuat saya percaya bahwa profesi juru roti itu keren banget!

By the way, tokoh favorit saya adalah Kinoshita. Dia selalu terlupakan sebagai pegawai bakeri cabang Tokyo Selatan. Entahlah, segala nasib buruk yang dialaminya membuat saya justru nyengir melulu *pukpuk Kinoshita*. Oh iya, akhir cerita yang menggantung membuat saya geregetan. Jadi, ayo tunggu review saya untuk jilid kelima nanti! ~(ˇ▼ˇ)~

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Shift

covershift

Judul: Shift

Sub Judul: Jika kau memiliki kekuatan untuk mengubah kenyataan, apa yang akan kau ubah?

Seri: Shift #1

Penulis: Kim Curran

Penerjemah: Indriani Grantika

Penerbit: Grantika Publishing

Jumlah Halaman: 363 halaman

Terbit Perdana: April 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2014

ISBN: 9786021791400

cooltext1660180343

Bagaimana jika kau bisa beralih dari versi kenyataan yang sedang kau jalani saat ini ke versi kenyataan alternatif? Bagaimana jika kau bisa mengubah keadaan saat ini dengan membatalkan segala keputusan yang telah kau ambil di masa lalu? Sehingga kau bisa mengubah kejadian yang tak kau inginkan hanya dalam sekejap mata.

Scott Tyler bisa melakukannya karena dia adalah seorang Pengalih. Scott tak pernah mengetahui bahwa dirinya adalah Pengalih sampai suatu ketika dia tanpa sengaja menggunakan kekuatannya untuk mengubah kenyataan.

Awalnya Scott mengira kekuatannya itu luar biasa, sampai akhirnya dia menyadari bahwa ada konsekuensi yang tak terprediksi setiap kali dia menggunakan kekuatannya. Dengan beralih dari satu versi kenyataan ke versi kenyataan lainnya, Scott tak hanya membuat keselamatannya terancam, tapi juga membuat keselamatan orang-orang di sekitarnya terancam.

Saat Scott terjebak dalam versi kenyataan yang bagaikan mimpi buruk, akankah dia berhasil memilih versi kenyataan yang membuat kehidupannya kembali normal? Atau dia justru memilih versi kenyataan yang membawa malapetakan bagi orang-orang yang disayanginya?

“Seperti video game yang seru.” – Amazon

“Seperti perpaduan film Jumper dan Butterfly Effect.” – GoodReads

cooltext1660176395

Setiap manusia di muka bumi ini memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang berbakat menyanyi, memasak, menembak, dan lain sebagainya. Pada umumnya bakat tersebuat adalah sebuah keahlian yang wajar dan bisa diterima akal sehat. Lantas bagaimana jika ada manusia yang memiliki kemampuan “unik” dan mencengangkan?

Adalah Scott Tyler, seorang pemuda Inggris berusia 16 tahun yang tinggal bersama kedua orang tuanya yang selalu cekcok sepanjang hari dan adik perempuannya, Katie. Hidup Scott begitu membosankan. Ia tidak pandai bergaul sehingga kawannya sedikit. Bahkan di akhir pekan, ia hanya bermain video game dengan adik yang usianya lima tahun lebih muda.

Satu-satunya teman dekat (Scott tidak menyebutnya sebagai sahabat), Hugo, mengajak Scott untuk meninggalkan game itu dan mengunjungi Rectory Ground. Tempat yang disingkat RC ini semacam tempat nongkrong anak-anak populer dari sekolah Scott dan Hugo. Salah satu anak paling populer adalah Sebastian Cartwright. Meskipun usianya diatas Scott, ia membiarkan Scott dan Hugo ikut bergabung di “pesta anak populer” tersebut.

Scott yang mulai mabuk berusaha membuktikan pada semua orang disitu bahwa ia bukan seorang pecundang dengan cara memanjat sebuah tower listrik. Ia yakin tower itu sudah tidak dialiri listrik sehingga ia tidak perlu mengkhawatirkan nyawanya. Tepat sebelum puncak menara, Scott terjatuh ke tanah yang jaraknya cukup jauh. Apakah Scott mati? Ternyata tidak.

Tanpa membuka mata, kujulurkan tanganku yang gemetar, lalu meraba-raba batang logam di atas kepala. (Hal. 20)

Suatu hal aneh terjadi. Scott tidak cedera. Bahkan ia berjarak cukup jauh dari menara disertai tawa orang-orang yang menganggapnya pecundang karena Scott terjatuh dari pagar, BUKAN dari menara. Apa yang terjadi? Seorang gadis bernama Aubrey Jones mengajak Scott pergi dari tempat itu sambil menjelaskan apa yang terjadi. Mereka menuju sebuah kasino.

Aubrey menjelaskan bahwa Scott adalah seorang Pengalih. Biasanya Pengalih akan segera ditangkap oleh Regulator untuk dibawa ke markas besar. Markas tersebut semacam pangkalan militer untuk membina Pengalih melalui sebuah Program. Aubrey ternyata adalah seorang Pelacak resmi (Spotter) sehingga ia bisa mengetahui keberadaan Scott. Ia berasal dari ARES atau Agen Regulasi dan Evaluasi Pengalih.

Shifter atau Pengalih punya kemampuan untuk Mengalihkan kenyataan. Dengan Mengalihkan kenyataan, Pengalih menciptakan kenyataan baru di sekitarnya. (Hal. 35)

Tiba-tiba, muncul kelompok bernama Satuan Liberasi Pengalih (SLP) atau disebut Pembelot yang diketuai oleh Isaac Black atau biasa dipanggil Zac. Tak disangka, terjadi sedikit kericuhan antara Aubrey dan Zac di dalam kasino itu. Sebelum semua bertambah panas, mendadak muncul sebuah kejadian yang akhirnya membuat Scott dan Aubrey harus pergi secepat mungkin.

Di apartemen Aubrey, Scott mendapat informasi yang lebih rinci mengenai apa yang terjadi. Selain jenis pekerjaan yang disebutkan Aubrey di kasino tadi, ada lagi Pemeta yang berspesialisasi pada konsekuensi dan prediksi. Awalnya Scott tidak percaya semua kata-kata Aubrey. Namun menyadari keadaan tentang tragedi menara-menjadi-pagar tadi membuat Scott percaya. Bakat seorang Pengalih ini hanya muncul di usia muda dan akan menghilang ketika sudah berusia dewasa. Waktu ketika kekuatan menghilang ini disebut dengan istilah Entropi.

Ini semacam psikosis di mana kau mendapati dirimu berada dalam versi kenyataan baru yang mengganggu, itu karena kau tidak merencanakan alur Peralihan yang kau lakukan dengan hati-hati. (Hal. 96)

Keesokan harinya, Scott yang baru saja mengalami sebuah “hidup” yang memilukan akhirnya berinisiatif untuk menghubungi ARES. Ia percaya bahwa ARES akan membantunya menangani kemampuan ini. Keputusan ini ditentang Aubrey dengan keras. Scott tidak perduli dan tetap pada pendiriannya. Di kantor ARES yang berlokasi di East London, Scott bertemu dengan Komandan Morgan sebagai Kepala Divisi Peralihan ARES.

Ternyata Program ARES untuk para Pengalih itu adalah semacam sekolah. Komandan Morgan menyambut baik kehadiran Scott dan memintanya bergabung di kelas Sersan Jon Cain. Di kelas itu ada Jake, Max, CP, Molly, dan Ben. Mereka berusia dibawah Scott namun kemampuannya lebih baik. Selain itu juga ada Mr. Abbott yang mengajar kelas Sejarah.

Begitu Pengalih menyadari kemampuannya, segelintir pertanyaan pertama yang terbersit di benaknya adalah ‘Bisakah kita mengubah sejarah? (Hal. 164)

Hari-hari Scott dalam Program ARES selama liburan musim panas membuatnya menjadi orang berbeda. Ayah dan ibunya merasa Scott yang “bekerja” di ARES adalah sesuatu yang membanggakan. Namun Katie dan Hugo merasa bahwa Scott telah berubah dan tidak seperti yang dulu. Hal ini mungkin karena ia menghadapi berbagai kesulitan yang harus ia hadapi. Mulai dari kecelakaan kereta, pertemuan dengan orang jahat, bahkan mengalami tekanan menyakitkan bersama teroris.

“Semua teroris adalah pengecut, Scott. Mereka adalah pengintimidasi yang bersembunyi di balik prinsip-prinsip untuk membenarkan tindak kekerasan.” (Hal. 189)

Bagaimana hari-hari Scott selanjutnya? Mengapa semua orang menjulukinya sebagai Pengalih terkuat? Bagaimana mungkin Scott yang baru saja mengetahui kemampuan tersebut bisa menjadi yang terkuat? Lantas, mengapa bisa muncul SLP buatan Zac? Apa yang menjadi tujuan mereka? Lebih penting lagi, kemampuan apa yang dimiliki Scott itu sebenarnya? Silakan dibaca sendiri yah!

Awalnya, saya mengira buku ini akan menceritakan kehidupan remaja dengan kemampuan unik yang kemudian kemampuan tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari unuk menjahili. Tetapi saya salah. Pada beberapa bab awal memang dikisahkan bagaimana hari-hari Scott yang membosankan dan khas remaja banget. Bahkan kehidupannya di rumah juga terlukiskan sangat membuat depresi.

Namun semua berubah saat negara api menyerang kemampuan Beralih itu Scott gunakan, ehm lebih tepatnya tidak sengaja digunakan. Pertemuannya dengan Aubrey adalah cikal bakal kehidupan baru yang harus Scott hadapi mulai awal libur musim panas dan seterusnya. Dua hari cukup bagi saya untuk menyelesaikan buku ini.

Penulis piawai dalam bercerita. Alih-alih menggunakan kalimat panjang dan bertele-tele, ia menggunakan kalimat singkat dan mudah dipahami. Sudut pandang orang pertama dari tokoh Scott membuat saya bisa lebih relate dengan cerita dan mengerti apa yang Scott alami. Dialog yang bertebaran cukup banyak juga banyak membantu saya mamahami cerita dibandingkan narasi yang berpotensi membuat saya bosan.

Bagian terbaik bagi saya adalah saat perubahan hidup Scott yang awalnya biasa-biasa saja cenderung membosankan menjadi penuh petualangan dan ketegangan. Betul sekali, mulai pertengahan hingga akhir semuanya full action dan berbeda 180 derajat dibandingkan bab awal yang membuat saya ngantuk. Tidak bisa saya pungkiri bahwa penulis sanggup membuat saya penasaran hingga halaman terakhir.

Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat saya agak kecewa. Ketika Scott dan Aubrey (atau remaja lain di ARES) bercakap-cakap dalam sebuah pembicaraan, saya tidak bisa membayangkan usia mereka hanya 16 tahun. Dalam benak saya justru tergambar tokoh dengan usia 24 tahun keatas gara-gara saking “beratnya” obrolan mereka. Terlalu dewasa dan tidak cocok dengan usia mereka sih. Apalagi kehidupan baru yang Scott jalani pasca tragedi-menara tadi terkesan too damn different than before, dan itu sangat-sangat aneh karena terjadi dalam hitungan bulan saja.

Dan hal yang cukup fatal membuat saya jengkel sendiri adalah tentang konsep Shift atau Peralihan itu sendiri. Awalnya saya menganggap itu semacam kemampuan kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan lalu kembali lagi ke masa sekarang. Sayangnya bukan itu maksudnya. Bahkan sampai ada kalimat penegasnya lho.

Tapi kita tidak bisa memutar ulang waktu. Kita hanya bisa membatalkan keputusan. (Hal. 220)

Lah terus apa dong?? Penulis tidak memberikan sebuah penjelasan gamblang yang bisa memuaskan saya tentang kemampuan itu. Ada sih penjelasan tentang konsep mekanika kuantum sebagai konsep shift, tapi apa ya, saya masih bingung (maafkan otak saya yang cetek ini). Buku ini adalah buku pertama dari trilogi Shift. Mungkin apabila saya membaca buku selanjutnya, segala kerisauan saya diatas bisa terjawab dengan baik.

Anyway, saya kagum dengan editornya karena saya nyaris tidak menemukan typo. Hanya satuuu saja yaitu kata menganguk di halaman 317. Selain itu, semuanya bersih tanpa salah penulisan (menurut saya). Jos banget deh. Oh iya, saya acungi jempol untuk penerjemahnya. Saya rasa 99% terjemahannya memang benar-benar menggunakan bahasa Indonesia karena ada beberapa kata yang harus saya googling karena saya tidak familiar hehe.

Kenapa saya katakan hanya 99% saja? Karena panggilan orang seperti Mr., Mrs., Ms., dan Sir justru tidak diterjemahkan. Entah apa alasannya. Saya rasa lebih baik total saja dalam penerjemahan. Karena nanggung banget semuanya sudah pakai bahasa Indonesia yang baik, sedangkan panggilan masih menggunakan bahasa asli. Toh penerjemahan hal itu juga tidak mengurangi esensi cerita. Tapi yang jelas, saya tidak sabar menunggu kelanjutan seri ini. Mengingat buku aslinya sudah tamat, semoga bisa segera diterjemahkan sekuelnya di Indonesia ya.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 3)

coveryakitate3Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 3)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Annisa Laila Khaled

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 190 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792720587

cooltext1660180343

Setelah lolos kualifikasi Kompetisi Pegawai Baru, Azuma dan Kawachi menghadapi soal babak berikutnya yang tak kalah sulit. Membuat butter roll. Celakanya, Azuma salah memilih mentega!

cooltext1660176395

Lagi males bikin intermezzo, jadi langsung aja ya hehehe. Jilid ketiga ini terdiri dari 10 bagian (chapter). Dan seperti jilid sebelumnya, chapter disini memiliki urutan lanjutan dari jilid sebelumnya. Bagian 16 berjudul “Anjing Pecundang” menceritakan tentang Kawachi yang makin bingung sekaligus pesimis dengan latihan yang diterapkan Tsukino untuk membuatnya kuat.

Jangka waktu sampai babak akhir hanya 1 bulan. Dalam waktu sesingkat itu, mana mungkin bisa jadi macho!! (hal. 13)

Bagian 17 “Laki-Laki Itu” mengisahkan Azuma yang sudah kembali dari perjalanannya ke Izu. Oleh karena itu, ia sudah memiliki senjata pamungkas untuk membuat roti tawar yang tidak mudah basi sebagai syarat lolos babak penyisihan Kompetisi Pegawai Baru.

Cuma dikasih hadiah kayak gini, usahaku itu nggak murahan, tahu… (Hal. 37)

Bagian 18 “Rival Sejati” merupakan titik balik semangat Kawachi yang muncul kembali untuk mengalahkan Azuma. Meskipun mereka bekerja dalam satu toko yang sama, Kawachi masih menyimpan ambisi menjadi pegawai Pantasia pusat. Dan Azuma dianggap penghalang terbesar Kawachi dalam meraih mimpinya itu.

Untuk saat ini, jangan sembarangan bicara denganku. Aku enggan mengobrol denganmu. (Hal. 48)

Bagian 19 “Japan Bersejarah” menceritakan Azuma yang (lagi-lagi) kabur ke Gifu. Disini hidup kakek bernama Azuma Umasaburo. Ia merupakan kakak dari Azuma Umataro, kakek yang tinggal bersama Azuma di Niigata. Saking jarangnya bertemu, ia mengira adiknya sudah meninggal dunia. Di bagian ini ada sedikit cerita sedih yang disuguhkan.

Tanah di sekitar Kota Toki ini memang banyak mengandung petalite yang dibutuhkan untuk bikin itu. (Hal. 64)

Bagian 20 “Sampah!!” sudah mengambil waktu ketika Kompetisi Pegawai Baru Pantasia sudah dimulai. 58 pegawai yang sukses membuat roti tawar yang tidak gampang basi sudah berkumpul di Pantasia pusat di Tokyo. Sayangnya, ada sedikit kericuhan saat pegawai yang tidak lolos meminta penjelasan dari Kuroyanagi, sang juri.

Gimana kalau babak penyisihannya sekali lagi? Nggak masalah, ‘kan? (Hal. 92)

Bagian 21 “Pemilihan Mentega” adalah tantangan kedua membuat butter roll. Yang membuat sulit, setiap peserta diminta memilih satu mentega dari delapan jenis mentega yang disiapkan. Tentu saja mereka tidak boleh memegangnya terlebih dulu. Kawachi agak tertinggal dari Azuma yang sudah memilih duluan.

Itu tandanya, nggak mungkin salah!! Kita sudah menyaksikan kelihaiannya!! (Hal. 108)

Bagian 22 adalah “Ultra C” mengisahkan bahwa Azuma terancam gagal. Namun ternyata, ada sebuah trik jitu yang disadari atau tidak, menyelamatkan Azuma dari kegagalan itu. Sehingga ia lolos ke babak berikutnya. Bagaimana dengan Kawachi? Baca sendiri yah hehe.

Pertandingan kali ini 100% ditentukan dari pemilihan mentega!! (Hal. 122)

Bagian 23 “Sangat Bahagia” masih dalam suasana kompetisi, muncul tokoh antagonis baru bernama Azusagawa Mizuno. Ia merupakan adik dari Tsukino yang berasal dari ibu yang berbeda meskipun satu ayah. Di bagian ini, terkuak sedikit tentang asal-usul Tsukino.

Tsukino itu putri dari istri simpanan Sadamichi, putra kakek Azusagawa. (Hal. 146)

Bagian 24 “Tantangan Sulit” adalah babak kedua dimana setiap peserta saling duel satu lawan satu dengan peserta lain. Dibagi dua blok dengan masing-masing juara blok akan bertanding di final. Kawachi berbeda blok dengan Azuma. Ia akan melawan Motohashi Yuko. Sedangkan Azuma?

Azuma melawan Mizuno… Bebannya jadi berat, nih… (Hal. 159)

Bagian 25 adalah chapter terakhir berjudul “Jadilah Pasanganku” mengisahkan tantangan membuat roti melon sebagai roti yang harus dibuat peserta. Pegawai Mizuno, Koala, tampak mencurigakan dengan topengnya itu. Semua orang dari Pantasia cabang Tokyo Selatan menaruh kecurigaan padanya.

Menjual roti gosong itu tabu. Makanya, banyak bakeri menjual roti melon dengan bagian cookie yang setengah matang. (Hal. 178)

Setelah agak krik krik di jilid yang lalu, saya sudah bisa enjoy dengan volume 3 ini. Tidak bisa dipungkiri saya sering menunggu roti-roti ajaib yang dibuat oleh tokoh-tokohnya, terutama Azuma. Soul-nya komik ini memang berada di situ sih.

Awalnya, untuk drama-dramanya sih sebenernya nggak begitu penting bagi saya. Tapi mulai jilid ini kok mulai seru juga menyimak jalan cerita yang disuguhkan. Sehingga fokus saya tidak hanya pada roti, tapi juga pada konflik cerita.

Selain itu apa lagi ya? Oh iya, humor! Meskipun tidak sampai ngakak guling-guling, kadar humor yang digambarkan sungguh pas dan bikin nyengir. Bukan slapstick, tapi apa ya, bagus deh *apasih*. Sebenernya lebay, tapi tetep asik waktu bacanya hehehe. Masih penasaran dengan hasil akhir kompetisi pegawai baru Pantasia ini. Mari nunggu review jilid keempat saya heheheheh.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 2)

coveryakitate2

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 2)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Dudi Yudia Permana

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 189 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792718492

cooltext1660180343

Roti bakeri cabang Tokyo Selatan nggak laku-laku! Soalnya pesaing mereka, bakeri St. Pierre pusat ada di depan bakeri mereka. Gimana caranya biar menang dari St. Pierre, ya?

cooltext1660176395

Karir Azuma berlanjut lagi di jilid kedua ini. Setelah awalnya terkejut dengan “rupa” sang manajer bakeri Pantasia cabang Tokyo Selatan, Kawachi dan Azuma ditantang untuk membuat roti yang sangat sulit. Chapter pada komik Yakitate!! Japan ini memiliki sistem lanjutan chapter komik sebelumnya. Sehingga kisah pertama ini disuguhkan pada bagian ketujuh berjudul “Enak Buat Kuda”.

Mentega yang terbuat dari susu juga sama!! Walau sudah tahu, kamu masih memakai itu!? (hal. 28)

Awalnya Azuma pede dengan roti yang akan dihasilkannya. Namun, meski dibantu oleh kakaknya yang jauh-jauh datang dari kampung, ternyata bagian kedelapan berjudul “Roti Ideal” membuka mata Azuma mengenai roti yang sesungguhnya dari persepsi sang manajer.

Kalau kau maju dengan percaya pada diri sendiri, suatu hari akan datang saat di mana kau berhasil menciptakan roti idealmu. (hal. 46)

Di hari yang baru, bagian kesembilan berjudul “Ditutupi!?”, Kawachi dan Azuma sangat frustasi dengan roti bakeri mereka yang tidak laku keras. Hal ini jauh berbeda dengan Pantasia pusat yang selalu laris manis diserbu pembeli. Karena penasaran, mereka bertanya pada manajer. Alih-alih mendapat jawaban memuaskan, mereka justru diseret ke depan toko.

Itu sebab utama segala masalah bagi kita!! Rival utama jaringan bakeri Pantasia! Bakeri pusat St. Pierre. (hal. 54)

Manajer St. Pierre di depan Pantasia berniat memperkenalkan produk baru. Matsushiro sang manajer yang jengkel akhirnya malah menantang duel membuat roti dengan Azuma sebagai perwakilan. Cerita kesepuluh berjudul “Bakeri Pusat” ini menunjukkan awal pertarungan Azuma dengan Mokoyama Tsuyoshi, sang manajer bakeri St. Pierre.

Kalau begini, sih… Kita nggak bisa kabur lagi! (hal 73)

Tiba di hari pertandingan, tiba-tiba muncul Meister Kirisaki, general manager Pantasia pusat. Entah apa yang dilakukannya pada pertandingan itu. Semua yang mengenalnya bahkan heran dengan kedatangan Kirisaki disana. Bagian ke-11 berjudul “Kelemahan…!?” memperlihatkan bagaimana Azuma dengan Ja-Pan memiliki kelemahan dibandingkan roti Mokoyama. Juri pada pertandingan itu adalah Hattari Sachio, Midorikawa Kyouko, dan Minokami Koji.

Azuma nggak mau menyia-nyiakan roti buatanku, buatanmu, juga buatan Tsukino… Karena rasanya enak. (hal. 101)

Dengan asumsi akan kalah, Azuma terus berusaha meyakinkan juri bahwa rotinya jauh lebih unggul. Tak disangka, Kirisaki muncul kembali dan bertindak seolah “menyelamatkan” Pantasia. Kisah ini tersaji pada bagian ke-12 berjudul “Taktik Rahasia Meister”.

Menurutku, sebagai produk baru, selain akan dipajang di toko, harga juga akan menjadi referensi yang bagus dalam memberi nilai. (hal. 107)

Pada hari berikutnya, Kawachi dibuat geleng-geleng dengan ulah Azuma yang aneh. Meskipun suka bereksperimen, Kawachi masih ingin mengalahkan Azuma dalam membuat roti. Cerita ini berjudul “Japan 2!” yang sekaligus menghadirkan tokoh lucu di bagian akhirnya pada urutan ke-13.

Bisa-bisanya dia membuat roti pakai rice cooker. (hal. 124)

“Kompetisi Pegawai Baru” adalah kisah selanjutnya (ke-14) mengenai lomba yang diikuti oleh seluruh pegawai Pantasia di penjuru negeri. Hadiah yang menggiurkan menjadi dambaan setiap peserta. Matsushiro dan Tsukino sempat menjadi juara pada tahun-tahun sebelumnya.

Kompetisi untuk mengetahui siapa pegawai baru terhebat di antara seluruh pegawai baru di 128 bakeri cabang grup Pantasia di Jepang ini. (hal. 148)

Kawachi yang sangat ingin memenangkan perlombaan namun merasa sudah kalah dibandingkan Azuma, menjadi muak dengan dirinya sendiri. Tsukino yang mengetahui hal tersebut, menawarkan sebuah hal yang membuat pemikiran Kawachi berubah. Apakah hal itu? Sedangkan Azuma? Ia telah pergi entah kemana. Cerita ke-15 ini berjudul “Izu” sekaligus penutup jilid kedua ini.

Setiap pagi dan malam berenanglah sejauh 10 km sebanyak 2 kali. (hal. 167)

Jilid kedua ini saya masih tetap menyukainya. Tokoh baru Meister Kirisaki menyedot perhatian saya dengan gaya berbusana yang agak nyentrik. Selain itu, yang saya sukai adalah kadar humor yang pas dan pengetahuan tentang roti yang bertebaran. Khusus untuk bagian ini, saya rasa merupakan fakta alias bukan karangan semata. Sehingga ketika membaca komik ini, saya mendapatkan ilmu baru. Jadi jelas kan, komik tak hanya menghibur saja, namun juga bisa menambah pengetahuan.

Jka berbicara kekurangannya dengan edisi sebelumnya, saya rasa adalah roti buatan Azum yang kurang memukau. Ada sih Ja-Pan yang dibuatnya, namun kurang greget dibandingkan Ja-Pan di edisi sebelumnya. Jadi saya agak krik krik saat membacanya. Tetapi mungkin saja Ja-Pan spektakuler diberikan Takashi-san di jilid-jilid berikutnya. Jadi mari ditunggu saja yah ulasan saya untuk jilid selanjutnya.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 1)

coveryakitate1

Judul: Yakitate!! Ja-Pan (Jilid 1)

Komikus: Hashiguchi Takashi

Penerjemah: Dudi Yudia Permana

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 188 halaman

Terbit Perdana: 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2007

ISBN: 9789792717143

cooltext1660180343

Ada roti khas Inggris, Jerman, dan Perancis, tapi tak ada roti khas Jepang! Namun kini, Kazuma Azuma dengan tangan mataharinya berhasil menciptakan JAPAN, roti khas Jepang! Roti apaan, tuh!

cooltext1660176395

Masyarakat Indonesia (khususnya saya) sangat damiliar dengan nasi sebagai makan pokok. Bahkan muncul istilah “belum makan kalau belum makan nasi” yang diciptakan orang Indonesia. Selain Indonesia, Jepang juga salah satu negara yang mayoritas penduduknya mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok sehari-hari. Hal ini jauh berbeda dengan negara-negara Eropa yang menggunakan roti sebagai bahan pokok utama konsumsi penduduknya.

Terkadang muncul pemikiran: apakah orang Jepang tidak bosan makan nasi? Mengapa roti kurang populer dibandingkan nasi? Bukannya tidak ada yang doyan, tapi sepertinya nasi masih dipilih untuk menghilangkan lapar. Oleh karena itu, Takashi-san menciptakan komik ini yang memiliki tokoh seorang anak laki-laki dengan mimpi menciptakan roti khas Jepang bernama Ja-Pan.

Pada bagian pertama berjudul “Road To Japan” menceritakan tokoh utama kita, Azuma Kazuma yang tinggal bersama ibunya (Azuma Hieko), kakaknya (Azuma Inaho), serta kakek dan neneknya. Beberapa tahun yang lalu, kehidupan di desa yang asri membuat keluarga Azuma terbiasa makan nasi untuk makan setiap hari.

Sayangnya, Inaho yang sudah bosan makan nasi, ingin sesekali makan roti untuk sarapan. Tentu saja hal ini ditentang oleh Kakek dan Kazuma. Karena marah, Inaho mengajak Kazuma ke sebuah toko roti di desa mereka bernama St. Pierre.

Tapi aku bercita-cita membuat roti yang bagi orang Jepang rasanya dapat melampaui nasi suatu saat nanti!! (hal. 18)

Sang koki (dipanggil Paman) memiliki keinginan membuat roti yang istimewa. Karena Kazuma sudah merasakan enaknya roti, ia membantu Paman. Di bagian kedua berjudul “Turun Dari Langit!!” menceritakan Azuma yang menjalani tes pegawai bakeri terkenal, Pantasia, di pusat kota Tokyo. Ia menjadi salah satu peserta yang menonjol gara-gara telat datang dan berpenampilan acak-acakan.

Tangan hangat yang melampaui kemampuan orang biasa, yang mampu menjaga suhu ideal untuk pertumbuhan ragi! (hal. 62)

Banyak sekali peserta yang gugur karena sang juri yang sangat hebat, Kuroyanagi Ryo, tidak kenal ampun dalam seleksi. Akhirnya yang lolos ke babak selanjutnya adalah Azuma Kazuma, Azusagawa Tsukino, Suwabara Kai, dan Kawachi Kyosuke. Di bagian ketiga berjudul “Kari? Ya ‘House’, Dong!” inilah yang menunjukkan kemampuan Azuma. Tetapi, karena hanya satu orang yang bisa diterima, akhirnya mereka berempat bersaing kembali keesokan harinya dengan tantangan baru.

Malam ini kalian menginap di toko ini, sebelum jam 12 besok siang buatlah croissant!! (hal. 96)

Bagian keempat berjudul “324 Lapis!!” menceritakan kemampuan Azuma yang pandai (dan Kawachi yang sangat berniat lolos menjadi pegawai) yang berusaha mengalahkan Suwabara, sang pesaing tersulit disini. Meskipun tidak memikirkan Tsukino, mereka bekerjasama untuk menggapai keberhasilan.

Jika gagal, aku… adik-adikku… akan jadi anak jalanan! (hal. 108)

Meskipun Azuma tidak tahu apa itu croissant, ia dan Kawachi berhasil membuat croissant yang mengagumkan. Pertanyaannya adalah: apakah Suwabara bisa mengalahkan croissant mereka berdua? Dan tiba-tiba, terkuak sebuah kenyataan mengejutkan di bagian kelima berjudul “Orang Kampung” ini.

Lihat! Inilah croissant 324 minus 10 lapis dengan tebal 1 mm! (hal. 136)

Pada akhirnya, Kawachi dan Azuma dipekerjakan di Pantasia cabang Tokyo selatan, alih-alih di Pantasia pusat. Meskipun tidak sesuai perkiraan, mereka tetap mau menjadi pegawai disana. Di bagian terakhir berjudul “Pekerjaan Pertama” inilah mereka berkenalan dengan Kinoshita Kageto, pegawai lama, dan juga Tsukino. Siapa Tsukino sebenarnya? Dan siapa pula manajer bernama Matsushiro Ken yang tidak pernah muncul di toko itu?

Roti Perancis itu jenisnya saja ada lebih dari 10 macam. Nah, buatlah Parisien. Ini jenis yang paling umum. (hal. 154)

Saat pertama kali membeli komik ini, saya tidak memperkirakan akan sangat menyukainya. Saya kira hanya komik buat roti biasa yang kurang greget. Tapi ternyata saya salah. Memang sih ada bagian-bagian tips membuat roti yang bisa dipraktikkan. Namun berbagai hal ajaib yang muncul di komik ini membuat saya geleng-geleng terpukau.

Terlalu imajinatif kalau boleh saya bilang. Komikus mencoba menggabungkan dunia realita bakery dengan hal-hal ajaib yang bisa terjadi dalam pembuatan roti. Perpaduan hal tersebut justru membuat saya berdecak kagum. Keajaiban yang masuk akal menurut saya *lah, maksudnya? Abaikan*

Kekurangannya sih masih belum ada kalau menurut saya. So far so great deh hehehe. Saya sudah punya volume selanjutnya. Jadi saya tidak akan menunda untuk membacanya. Sungguh waktu membaca komik ini, saya kepikiran dengan nikmatnya roti yang baru selesai dikeluarkan dari oven *slurp*

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Silver Amulet (Jilid 1)

coversilver1

Judul: Silver Amulet (Jilid 1)

Judul Asli: Gin no Amulet

Komikus: Kazama Hiroko

Penerjemah: Adi Humardani

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 189 halaman

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2003

ISBN: 9789792041064

cooltext1660180343

Sepulang dari ekspedisi di Gurun Takla Makan, ayah membawa satu benda aneh. Saat kuperhatikan, sesuatu di dalamnya bergerak. Tidak berapa lama, Ayah ditemukan tewas mengenaskan dengan penyebab yang masih tidak diketahui. Lalu, tiba-tiba sosokku berubah menjadi seekor singa. Apa yang terjadi? Rahasia apa yang terdapat dalam Amulet penemuan ayah…?

cooltext1660176395

Manusia adalah makhluk terbaik diantara makhluk hidup lain di muka Bumi ini. Mulai dari akal budi hingga nafsu emosi dimiliki manusia. Lantas, bagaimana jadinya jika manusia bisa berubah bentuk menjadi “sesuatu” yang lain? Simak dulu di komik Silver Amulet karya Kazama Hiroko ini.

Bab pertama berjudul Changing menggambarkan awal mula kisah ini. Seorang arkeolog bernama Mizuki Suzuki bersama asistennya, Kijima, sedang berada di Gurun Takla Makan. Di tengah pekerjaan, keduanya menemukan sebuah benda misterius. Karena penasaran, benda itupun dibawa pulang. Esok harinya, putri Mizuki bernama Yumi Suzuki terkejut melihat ayahnya tertidur di ruang kerja karena kelelahan.

Kalau ibu masih hidup, pasti bilang seperti ini ‘seberapa pun sukanya bukan berarti kerja terus sampai merusak badan, kan’. (hal. 10)

Tak disangka, keingintahuan Yumi terhadap benda misterius itu akan mengubah hidupnya. Merasa tak ada hal aneh, ia berangkat sekolah dengan Kenichi Domoto, yang kebetulan menjadi calon guru di sekolah sekaligus gebetan Yumi. Namun di bab kedua berjudul Destiny, terjadi suatu tragedi mengerikan yang melibatkan orang-orang sekitar Yumi.

Aku tidak tahu! Aku belum pernah lihat makhluk seperti itu! Aku hanya bisa bilang, itu monster! (hal. 77)

Di tengah misteri dan tragedi yang menimpa, Yumi dikejutkan dengan seorang ibu hamil yang (secara kebetulan) hampir jatuh di depan rumahnya. Pada bab ketiga berjudul Decision ini, Yumi merasa harus menolong sang ibu hamil itu. Dan kebetulan lagi, ibu itu akan melahirkan. Setelah sukses melahirkan bayi, tiba-tiba ibu itu lenyap dengan meninggalkan secarik surat untuk Yumi.

Maaf, aku memutuskan sendiri. Tolong titip bayiku. Dua-tiga hari nanti pasti dijemput. (hal. 109)

Yumi yang kini memiliki kemampuan (atau kutukan) bisa berubah bentuk menjadi “makhluk lain” semakin terpukul mengetahui Ken juga ikut menghilang. Sehingga pada bab terakhir di komik ini berjudul Friends, diceritakan perjalanan Yumi mencari Ken. Di bagian ini pula Yumi menemukan seorang gadis (atau seekor hewan?) yang menjadi kawan barunya. Lantas, bagaimana kelanjutan ceritanya? Dapatkah Yumi menemukan Ken? Apa sesungguhnya makhluk di dalam diri Yumi?

Setelah jadi separuh manusia, aku memahami kejelekan sifat manusia. Berbuat kejam bagi kepentingan pribadi. (hal. 188)

Awalnya saya agak-agak serem gimana gitu waktu liat gambar covernya. Siapa (atau apa?) itu masih belum jelas sih. Tapi entah kenapa sedikit creepy aja. Dari blurb yang tertera sih, kirain ini cerita horror biasa aja. Eh ternyata melipir-melipir fantasy juga. Nilai plus deh.

Dari segi artwork, hmm agak kurang pas sih. Soalnya desain gambar tokoh-tokohnya yang belo dan berbulu mata lentik sedikit aneh aja jika dipadukan horror fantasy. Oh iya, beberapa tokoh yang seharusnya penting malah tiba-tiba mati itu sungguh menyebalkan bagi saya. Tapi kalau dari segi cerita bagus kok.

Tokoh favorit saya justru Chai, sang tokoh baru di bab terakhir yang mendampingi Yumi. Awalnya meski agak jengah dengan gambar tokoh yang terlalu lembut, tokoh Chai membuat saya luluh. Meskipun masih sedikit, tapi saya yakin akan menyukai karakternya di jilid berikutnya. Tapi sayangnya, saya cuman punya edisi perdana doang ini. Jadi yaa wes nggak ada yang jual lagi kayaknya.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Tsubasa. Reservoir Chronicle (Jilid 1)

covertsubasa1

Judul: Tsubasa. Reservoir Chronicle (Jilid 1)

Sub Judul: Kan Kulindungi Kau yang Terkasih

Komikus: CLAMP

Penerjemah: Desiree Marietta

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 187 halaman

Terbit Perdana: 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2007

ISBN: 9789792710380

cooltext1660180343

Aku telah membaca ingatanmu. ‘Sayap’ Tuan Putri telah terpencar. Sayap itu adalah jiwa Tuan Putri. Semua kenangan dalam dirinya. Sejak lahir sampai sekarang telah lenyap. Kau harus pergi lintas dimensi demi mencarinya. Perjalanan untuk mengumpulkan kepingan kenangan. Yang tak diketahui keberadaan maupun jumlahnya.

cooltext1660176395

Seorang komikus yang memiliki banyak karya dengan tokoh masing-masing tentu memiliki penggemar tersendiri. Setiap karya yang dihasilkan memiliki hal khusus yang tidak dimiliki karya yang lain, meskipun berasal dari komikus yang sama. Sehingga tidak banyak spin-off dari seri yang sudah ada yang dimunculkan komikus dalam seri tersendiri. Setahu saya hanya muncul sekilas-sekilas saja.

CLAMP dengan karya gemilang Card Captor Sakura ternyata memiliki pemikiran lain. Penggemar CCS (bukan GGS lho ya) tentu menyukai setiap tokohnya sekaligus sedih dengan berakhirnya seri tersebut. Oleh karena itu, CLAMP mengobati kerinduan penggemar CCS dengan menyuguhkan karya terbarunya, Tsubasa RESERVoir CHRoNiCLE (ini saya menyadur tulisan judul asli di komiknya lho, bukan karena saya 4L4Y, camkan!).

Mengambil setting di sebuah daerah bernama Negeri Clow, hiduplah seorang pemuda yang berprofesi sebagai arkeolog bernama Syaoran. Pada bab pertama berjudul “Kan Kulindungi Kau yang Terkasih”, diceritakan Syaoran baru tiba di rumah setelah penggalian situs. Tiba-tiba, muncul Sakura, sang putri kerajaan Clow sekaligus adik dari Raja Toya, di depan pintu. Tentu saja lah ya bisa ditebak: mereka berdua ini dimabuk asmara tapi gengsi mengungkapkan.

Aku juga begitu, kok. Aku juga sering memikirkan… “Sakura sedang apa, ya”… (hal. 21)

Sayangnya, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Suatu ketika, Sakura yang menyusul Syaoran ke lokasi situs, justru kehilangan jiwanya dalam bentuk serpihan sayap yang menyebar ke seluruh dimensi dunia ini. Yukito sebagai ahli sihir, mengirim Syaoran dan Sakura yang pingsan kepada seorang penyihir dimensi, Yuko, agar bisa menolong Sakura. Cerita ini tersaji pada bab kedua berjudul “Harga Pertukaran Sepotong Ingatan”.

Kalau sendiri-sendiri, keinginan itu tak mungkin diwujudkan. (hal. 97)

Pada dimensi yang lain, Kurogane dikirim ke tempat yang sama oleh Putri Tomoyo karena melakukan onar di Negeri Jepang. Sedangkan Fai D. Fluorite yang memiliki sihir, mengirim dirinya sendiri agar bisa enyah dari Negeri Ceres. Ketiga orang dengan tujuan masing-masing bertemu di satu tempat pada bab ketiga “Nasib Bulu Sayap yang Sudah Digariskan”.

Aku ingin pulang ke duniaku sendiri. Cuma itu tujuanku. Niat membantu atau menolong kalian sama sekali tidak ada. (hal. 129)

Pada bab keempat berjudul “Kekuatan Bertarung”, Mokona Modoki yang membantu mereka bertiga berpindah dimensi, telah tiba di Negeri Republik Hanshin. Karena tidak punya tempat tinggal, mereka menumpang di kos-kosan milik pasangan Sorata Arisugawa dan Arashi. Ternyata di negeri tersebut ada sebuah kemampuan yang dimiliki setiap penduduknya. Kemampuan itu disebut “kudan” yang sepertinya semacam sihir gitu deh.

Itu tergantung pemiliknya. Kudan itu mau dipakai untuk tujuan apa terserah saja. (hal. 152)

Meskipun sebuah sayap jiwa (ingatan) Sakura telah ditemukan, ternyata Mokona masih merasakan ada serpihan sayap yang lain. Ia juga tidak mau meninggalkan sebuah negeri jika sayap Sakura belum ditemukan. Sehingga pada bab kelima (yang nanggung dan ternyata bersambung) berjudul “Saat Bangkitnya Kekuatan” menggambarkan awal petualangan mereka di negeri tersebut.

Untuk menyeberang dimensi satu kali saja, dengan mengerahkan seluruh kemampuan sihirku pun sangat sulit. (hal. 171)

Saya rasa, keputusan CLAMP membuat seri TRC dengan mengadopsi tokoh di CCS adalah hal yang sangat bagus. Pasalnya, saya sangat bisa menikmati cerita yang disuguhkan alih-alih membanding-bandingkan dengan versi CCS. Di TRC ini, cerita yang diangkat memang berbeda jauh dan cenderung lebih kompleks dibanding CCS.

Masalah tokoh yang sama tapi beda latar belakang, justru membuat saya seperti terkesima dibandingkan dengan versi CCS. Karena hal inilah saya jadi bisa menikmati ceritanya dengan lebih saksama. Apalagi ditunjang dengan artwork yang sangat memukau khas CLAMP.

Kekurangannya sejauh ini masih belum kelihatan sih. Meskipun agak lebay dalam penggambaran (seperti gaun Sakura yang kayaknya terbuat dari bermeter-meter kain), justru membuat menarik untuk dilihat. Kemudian tokoh yang cukup banyak di jilid perdana, tidak lantas membuat ada yang numpang lewat. Tapi memang ada fungsinya dalam cerita. Well, kesimpulannya saya suka banget!

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus