Rss

Sweet Words No Love

coversweet

Judul: Sweet Words No Love

Judul Asli: Hitotsuno Shigusamo

Komikus: Fujita Nimi

Penerjemah: Wulung Pambuko

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 186 halaman

Terbit Perdana: Juli 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juli 2007

ISBN: 9789792313949

cooltext1660180343

Namanya Hiroyuki Ito. Kami biasa memanggilnya Hiro. Dia masih muda, tinggi, serta tampan. Dia wali kelasku di kelas 3-3 SMP Swasta Pasifik. Berkat senyum dan kebaikannya hatiku telah tertammbat padanya. Berkat senyum dan kebaikannya, aku menginginkan lebih banyak lagi, bukan hanya sekedar seorang guru dan murid…

cooltext1660176395

Mencintai sesorang memang hak setiap individu. Siapa yang dicintai juga itu terserah kehendak hati. Barangkali hal inilah yang terkadang menyebabkan sebuah proses mencintai menghadapi jalan berliku sampai fase dicintai balik (kok istilah saya aneh, biarkanlah).

Mari kita berkenalan dengan Tachibana Haruka, seorang siswi kelas 3 SMP dalam kisah berjudul “Sweet Words No Love”. Cinta monyetnya akan berlangsung biasa saja jika saja ia tidak mencintai gurunya sendiri. Ya benar, Hiroyuki Ito adalah guru matematika di sekolah Haruka yang berusia 25 tahun. Kepribadiannya yang ramah dan hangat kepada siapa saja, membuatnya populer di kalangan para siswi, bahkan ada yang naksir kepadanya, termasuk Haruka.

Belum jelas tersampaikan tapi sudah menyerah? (hal. 40)

Tak tahan dengan apa yang dirasakan, akhirnya Haruka mengutarakan perasaannya pada Hiroyuki. Tanggapan Hiro? Tentu saja menolaknya, bahkan ketika Haruka belum selesai berkata-kata. Di sisi lain, ada seorang siswa bernama Kyoka Honmachi yang pernah menyatakan cinta pada Haruka. Karena ia masih tergila-gila pada Hiro, tentu saja Kyoka ditolak. Meskipun begitu, Kyoka tidak menyerah begitu saja. Lantas, bagaimana kelanjutannya?

Aku nggak ingin melihatmu menangis lagi. Terlebih karena cowok lain. (hal. 85)

Awal-awalnya saya ilfil banget dengan Haru. Ia benar-benar gambaran gadis remaja tanggung labil karena mencintai guru yang 10 tahun lebih tua.  Dan lebih bodohnya lagi karena dia mengungkapkannya. Bukan maksud saya mengungkapkan perasaan itu bodoh, tapi mbokya tau situasi dan kondisi lah ya. Ya gitu itu bocah ababil yang pikirannya masih pendek. Hiro juga sih, jadi guru kok kecakepan banget di depan para siswi. Bukankah guru memiliki kode etik sebagai pengajar ya.

Pada cerita kedua berjudul “Your Wish”, adalah spin-off cerita sebelumnya dengan tokoh utama Kyoka. Meskipun sangat singkat (hanya 7 halaman), saya jauh menyukai cerita ini. Bersetting pada musim panas sesaat setelah ia ditolah Haruka.

Meski kamu suka dengan orang lain, yang pasti aku suka kamu. Biarkan saja sampai perasaan ini berubah alami. (hal. 113)

Cerita ketiga berjudul “My Ideal Lover” dengan tokoh utama (lagi-lagi) gadis kelas 3 SMP bernama Mihiro Ichikawa. Ia sering sekali menerima “tembakan” cowok dengan dalih siapa tahu nanti tiba-tiba cinta, alih-alih menerima dengan perasaan cinta terlebih dahulu. Salah seorang teman sekelasnya, Masaru, sering sekali menggodanya. Dia ini sebenarnya 11-12 dengan Mihiro, yaitu suka kencan dengan kekasih orang lain.

Yang mengajakku kencan sudah punya cowok semua. Anggap saja appetizer. (hal. 123)

Yang jelas, Masaru adalah orang yang tak akan pernah dijadikan pacar oleh Mihiro. Suatu hari, cowok bernama Tazawa menyatakan cinta pada Mihiro. Sayangnya, dia sangat membenci Masaru yang selalu menggoda Mihiro. Padahal Mihiro juga selalu merespon dengan ketus apa yang dilaukan Masaru. Pergolakan batin akhirnya dirasakan Mihiro kemudian hari saat kejadian di atap sekolah.

Makanya… Kalo coba pacaran dengan cowok yang nembak duluan, aku berharap ada yang berubah.. (hal. 144)

Di cerita ini saya suka dengan karakter Masaru yang ceria dan enerjik. Meski sering disebelin sama Mihiro, ia tetap saja suka padanya. Sedangkan Mihiro, seorang gadis mandiri yang ternyata rapuh di dalam. Pokoknya cerita ini bagus deh. Sayangnya tidak sepanjang kisah yang pertama.

“You Are Here” adalah cerita terakhir dalam komik ini. Berkisah pada pasangan Koyuki Watanabe dan Syota Hino. Koyuki adalah seorang cewek yang sangat ingin mesra-mesraan dengan kekasih. Tidak dalam arti mesra sampai di tempat tidur *eh* tapi cukup bergandengan tangan saja. Masalahnya, Syota orang yang agak males begituan. Tentu saja hal ini mengganggu pikiran Koyuki.

Siapa yang suka memaksakan? Syota nggak pernah telpon. Nggak pernah pegangan tangan. Kalo memang pacaran, pikirkan aku sedikit, dong! Bego! (hal.164)

Koyuki yang tidak sengaja melihat Syota dengan kawan-kawannya, mendengar apa yang dikatakan Syota. Hal ini membuat ia marah besar dan galau berat. Namun emosinya yang mudah membaik membuatnya kembali ceria. Suatu hari, ia berkencan dengan Syota di sebuah taman hiburan. Ternyata ada sebuah kejutan tak terduga yang menunggu Koyuki disana.

Meskipun hanya 4 cerita dalam buku ini, tapi saya puas bacanya. Humor yang tidak berlebih serta romance yang kuat membuat setiap pasangan dalam tiap cerita memiliki hal yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Hal percintaan yang diangkat juga remaja banget yang kalau dipikir sebenernya itu hal yang sepele dan tak perlu dibesar-besarkan. Tapi Fujita-san berhasil menghadirkan cerita manis dengan gambar yang memukau.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

One Side of Love

coverone

Judul: One Side of Love

Judul Asli: Katakoi Seikatsu

Komikus: Sasada Asuka

Penerjemah: Nanda Andriyana

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 215 halaman

Terbit Perdana: Juni 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juni 2007

ISBN: 9789792312904

cooltext1660180343

Kudo adalah teman terbaikku. Tempatku menumpahkan air mata kala cintaku hancur berantakan. Dengan rasa persahabatan di antara kami, tak ada salahnya bukan jika kami menikah? Kami akan jadi pasangan yang paling hebat karena selalu rukun dan harmonis. Namun aku mulai mengenal sisi cinta yang lain pada diri Kudo…

cooltext1660176395

Saya jarang sekali baca shoujo manga. Karena tak lain tak bukan karena tema yang diangkat pada umumnya adalah romance. Tak heran penikmat komik semacam ini adalah kaum hawa. Sampai-sampai, dinamai sebagai “Serial Cantik” oleh salah satu penerbit. Saya awalnya mengira semua Serial Cantik pasti menceritakan romansa muda-mudi usia remaja. Eh ternyata ada juga yang berlabel dewasa. Salah satunya adalah komik ini.

Sasada-san telah menulis setiap cerita di komik ini beberapa lama sebelum akhirnya dijadikan satu dalam sebuah komik utuh. Komik ini ada 6 cerita yang bisa dinikmati. Cerita pertama berjudul “One Side of Love”. Mengisahkan tentang persahabatan Kudo dan Saki. Keduanya akhirnya sepakat menikah dengan hubungan persahabatan. Meski awalnya berjalan lancar, Saki mulai merasa ada yang tidak beres dengan hatinya. Sampai-sampai ia tak bisa berpikir jernih.

Aku nggak mau cerai! Sampai kamu menemukan wanita yang kamu cintai. (hal. 24)

Meninggalkan konflik Saki-Kudo, mari berlanjut ke cerita kedua berjudul “Let’s Go to A Happy Ending!” yang memiliki tokoh utama Sachi Tanaka. Ia adalah tipikal orang yang enggan menjalin hubungan dengan orang lain dan sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan kedua sahabat karibnya selalu meledek Sachi karena tak kunjung menikah ataupun punya kekasih. Well, semua prinsip dan pemikiran Sachi tersebut berubah ketika tak sengaja ia bertemu Sei’ichi Ito.

Benar, sebenarnya aku bukannya nggak butuh pacar! Aku juga ingin kehidupan cinta! Tapi aku malas untuk mencarinya. (hal. 43)

Cerita ketiga berjudul “The Sleeping Beauty” berfokus pada pasangan Soko dan Yuta yang akan melangsungkan upacara pernikahan. Mereka berdua adalah orang yang (kelewat) nyantai. Pagi hari sebelum upacara, Soko kurang tidur sedangkan Yuta datang tanpa pakai jas. Hal ini sebenarnya biasa saja. Namun ketika dalam upacara pernikahan, bukan hal yang baik jika terlalu woles.

Upacara pernikahan itu rasanya seperti dunia yang tidak nyata. Rasanya tidak melakukan ini juga tak apa. (hal. 84)

Cerita keempat adalah “We Are Sitting Here” yang mengisahkan Mihoko dan Fumihiko yang masih berpacaran namun sudah tinggal dalam satu atap. Hmm, iya sih kayaknya emang kumpul kebo. Tapi tapi, ya sudahlah namanya juga imajinasi sang mangaka. Jadi ceritanya Mihoko ini sudah mulai ragu dengan cinta Fumihiko kepadanya. Selain hobi bermalas-malasan dalam kotatsu (meja pemanas Jepang), Fumihiko juga jarang sekali memperhatikan ucapan kekasihnya sendiri. Ketika sedang nongkrong dengan kawannya, Arisa, Mihoko sadar bahwa ia sudah jarang memperhatikan penampilan. Mungkin inilah yang membuat sikap Fumihiko berubah.

Oh, managerku sudah menikah 10 tahun tapi setiap hari berpenampilan bagus, lho! Makanya, masalahnya adalah sifatmu. (hal. 124)

Bagian lima sudah lebih serius. Kisah yang memiliki judul “Our Walk” mengetengahkan kehidupan seorang ibu muda bernama Mana Hashimoto dengan anaknya, Taichi (btw, Taichi nggemesin banget!). Mana bersama suaminya, Masahiro, mengajak sang ibu, Asa Hashimoto untuk tinggal bersama. Hubungan Mana dengan sang mertua inilah yang menjadi inti cerita. Mulai dari sifat Mana, ibu-ibu yang suka gosip, hingga sifat Asa yang jaim.

Ibu bukannya pemalas, tapi orang yang suka santai. Ibu lebih suka disebut begitu. (hal. 158)

Penutup kisah adalah “As Far As We Can See” dengan menceritakan gadis bernama Chika. Sama seperti Sachi di cerita kedua, Chika ini juga selalu diceramahi sang ibu karena tak kunjung memiliki pasangan. Kehidupan di sebuah kota kecil membuat segala tabiat dan gosip mudah sekali menyebar. Ketika seorang cowok bernama Heizo pindah ke kota tempat Chika tinggal untuk bekerja, secara kebetulan mereka berdua dekat. Awalnya Chika mengelak apa yang ditanyakan orang-orang. Namun ia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Akhir-akhir ini banyak yang tanya mengenai kalian. Misalnya, kapan pernikahanmu. (hal 184)

Saya suka semua cerita yang disuguhkan dalam komik ini. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda dan tema kisah yang beragam. Saya bisa mengerti kegalauan dan kekesalan setiap tokoh utama wanita dalam setiap ceritanya. Oh iya, ada semacam humor atau adegan lucu yang diselipkan. Hal ini membuat saya sering nyengir sendiri. Kelucuan ini dituangkan dalam bentuk gambar maupun kata-kata. Jadinya pas aja gitu dengan seluruh isi cerita.

Kekurangannya adalah artwork. Bukan, bukan maksud saya gambarnya acak-acakan. Gambarnya bagus kok. Ceweknya cantik dan cowoknya ehm cantik rupawan juga. Tapi entahlah, Sasada-san memang menggilai gadis berambut pendek atau gimana. Karena semua (iya SEMUA) tokoh utama wanita di komik ini memiliki rambut pendek sebahu. Kecuali Mana yang berambut hitam, sisanya memiliki rambut pirang (?) yang warnanya transparan (ah gimana ya ngomongnya, pokoknya begitu deh) alias warna cerah.

Akibatnya apa? Ya benar, saya tidak bisa membedakan tiap tokoh utamanya. Semua terasa orang yang sama yang muncul dalam cerita berbeda. Sayang sekali padahal ceritanya sangat bagus. Kalau tokoh utama pria juga begitu hampir mirip semuanya. Tapi sayangnya kebanyakan tokoh utama pria hanya terkesan tokoh pendamping saking kurangnya dialog dan penggambaran dibanding sang wanita.

Tapi secara umum, komik ini cukup bagus kok. Semua terasa lengkap komposisinya. Ada yang masih tahap pedekate, ada yang masih pacaran, ada yang hendak menikah, bahkan ada yang sudah berumah tangga. Baca komik ini jadi bisa tahu perbedaan konflik dan cara penyelesaian yang unik dari setiap tahap kehidupan percintaan.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Polka Dot Fabric

coverpolka

Judul: Polka Dot Fabric

Judul Asli: Mizutama Fabric

Komikus: Hayashi Mikase

Penerjemah: Ine Martiana

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 188 halaman

Terbit Perdana: November 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, November 2007

ISBN: 9789792314939

cooltext1660180343

Yori Fukakawa bertubuh jangkung, tapi dia suka baju-baju cantik. Suatu hari, ketika para murid diperolehkan memakai baju bebas, cowok yang ia sukai bilang kalau Yori enggak pantas pakai baju seperti itu. Yori pun jadi trauma memakai baju cantik. Namun ternyata Yori malah direkrut pemilik Hollyhock untuk jadi model!

cooltext1660176395

Tak dapat dipungkiri, genre romance masih menjadi daya tarik untuk diangkat sebagai tema komik. Apalagi komik hasil karya orang-orang Jepang. Entahlah, sepertinya para mangaka (sebutan komikus Jepang) tidak kehabisan ide untuk membuat komik.

Pada komik Polka Dot Fabric ini, terdapat 4 buah cerita pendek. Cerita ini awalnya dimuat pada majalah komik mingguan. Namun kemudian dijadikan satu dalam sebuah buku tersendiri. Cerita pertama yang juga menjadi judul komik ini bercerita tentang Yori Fukakawa. Gara-gara disebut tidak pantas memakai baju cantik oleh gebetannya, ia trauma mengenakan baju seperti itu.

Ini baju khusus untukmu. Nggak ada yang lebih pantas memakainya selain kamu. (hal. 15-16)

Karena tak sengaja memecahkan dagangan di sebuah toko Hollyhock, Yori harus menjadi model busana toko yang digawangi oleh Toya Asagi, Tetsuda Yazawa, dan Hayato Higuchi itu. Berhasilkah dia?

Cerita kedua berjudul “Love Story In Somagi Family” berkisah pada seorang gadis SMA bernama Kujira Umino. Karena kabur dari rumah, ia melamar menjadi pembantu pada sebuah keluarga Somagi (yang ternyata hanya terdiri atas saudara “kembar” Arata Somagi dan Takumi Somagi). Cerita ini saya rasa jauh lebih bagus daripada Yori di kisah pertama. Lebih menyentuh aja gitu.

Lebih baik kita tahu kesukaan masing-masing. Kemarin Takumi bilang begitu, kan? Biar kita lebih akrab. (hal. 57)

Cerita ketiga berjudul “Guiding Angel”. Satu-satunya cerita fantasi yang unik. Berkisah tentang dunia roh, dengan tokoh penuntun roh yang disebut shisha (kenapa saya keinget sisha khas Arab itu yah ehehehe). Hotaru sebagai shisha yang magang menjadi penuntun roh, menjalani tugas pertama untuk menuntun roh Otoha Koizumi yang meninggal karena kecelakaan.

Untuk roh yang baru terpisah dari tubuhnya, ada dua pintu berbeda. Satu pintu untuk kembali ke tubuhnya, satu lagi ke akhirat. (hal. 95)

Sedangkan kisah terakhir tentang sepasang muda-mudi bernama Momiji Konno dan Kiwa Hiiragi. Mereka berdua menyukai bintang-bintang dan hal-hal astronomi. Bahkan pertemuan mereka terjadi di planetarium yang menjelang gulung tikar. Jujur, pada kisah ini buanyak yang saya skip gara-gara nggak paham tentang penjelasan segala hal astronominya. Saya justru bingung karena penjelasannya terlalu ilmiah.

Kau tahu orion? Di kiri atas konstelasi orion adalah betelgeuse, bintang dari kelas magnitud pertamai. Lalu bintang procyon di konstelasi canis minor. (hal. 142)

Secara umum, artwork Hayashi-san cukup bagus. Yah namanya juga shoujo manga pasti ya gitu deh. Ceweknya cantik-cantik, cowoknya juga cantik. Nggak ada deh yang buruk rupa. Semua hidup dengan rupa good looking tanpa cela hahaha.

Minusnya apa ya, mungkin karena 4 cerita dijadikan dalam satu buku, jadi tidak maksimal penggalian karakter dan plot cerita. Tapi secara umum bisa menghibur lah. Bagaimana kikuknya Yori, sedihnya Kujira, bingungnya Otoha, dan kerinduannya Konno. Masing-masing menghadirkan cerita yang berbeda namun tetap dengan penyelesaian yang masuk akal.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Bleach (Jilid 1)

coverbleach1

Judul: Bleach (Jilid 1)

Tagline: The Death and The Strawberry

Komikus: Kubo Tite

Penerjemah: Lenny

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 187 halaman

Terbit Perdana: Oktober 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Oktober 2007

ISBN: 9789792314960

cooltext1660180343

Ichigo Kurosaki (15 tahun) bisa melihat hantu. Ichigo menjalani hari-hari yang damai dengan kemampuan khususnya itu. Tiba-tiba dia bertemu dengan gadis yang menamakan dirinya Shinigami dan diserang roh jahat yang disebut “Hollow”. Dimulailah pertarungan panjang Ichigo.

cooltext1660176395

Dunia supranatural sepertinya cukup memukau jika diangkat menjadi sebuah komik. Bukan hantu berseliweran dengan wajah rusak dan mengagetkan jantung, melainkan dikemas dengan gaya yang modern dan shounen banget. Tite Kubo sepertinya sukses menjalankan imajinasinya tersebut melalui komik ini.

Kurosaki Ichigo sebagai anak seorang dokter, memiliki kemampuan melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Mulai hantu anak-anak hingga kakek-kakek. Tak terkecuali adik-adiknya, Karin dan Yuzu. Satu-satunya orang di dalam rumahnya yang tak memiliki kemampuan tersebut hanyalah sang ayah. Oh iya, ibu mereka sudah lama tiada.

Suatu malam, ada seorang gadis yang bernama Kuchiki Rukia, yang menamakan dirinya shinigami. Tugasnya membasmi roh jahat atau disebut hollow dari muka bumi. Seharusnya Rukia tidak bisa dilihat oleh manusia. Namun Ichigo bisa melihatnya. Di sisi lain, kemampuan Rukia mendeteksi hollow tidak bekerja saat di kamar Ichigo.

Entah kenapa, barusan, aku tidak bisa merasakan hawa kehadirannya… (hal. 23)

Akibat hal tersebut, keluarga Ichigo terluka parah. Sok pahlawan, Ichigo berniat membunuh hollow tersebut. Rukia yang merasa kasihan, akhirnya meminjamkan separuh kekuatan shinigaminya untuk dipakai Ichigo membunuh hollow. Naas, bukannya separuh, malah hampir semua kekuatan Rukia disedot oleh Ichigo. Akibatnya, Rukia tidak bisa kembali ke Soul Society (dunia roh) dan meminta Ichigo menggantikan tugasnya sampai kekuatannya kembali.

Aku tidak bisa bertarung dengan monster seperti gitu demi orang yang tidak dikenal! Aku bukan manusia sebaik itu! (hal. 72)

Suatu hari, teman Ichigo, Inoue Orihime, yang berkali-kali mengalami kecelakaan, ternyata ada hollow yang ingin merebut nyawanya. Sebenarnya Rukia lah yang harus menyelamatkan Orihime. Namun karena tenaganya tidak mencukupi, akibatnya Ichigo yang mau tidak mau harus bekerja. Dan ternyata, Rukia diam-diam menumpang di lemari kamar Ichigo alih-alih menyewa penginapan.

Uwaaa!? Ka… Ka… Ka… Ka… Kau! Sejak kapan disitu!? (hal. 99)

Ketika sampai di rumah Orihime, hollow tersebut telah sukses melukai Orihime dan sahabatnya, Tatsuki. Mereka berdua yang tidak bisa merasakan kehadiran hantu, merasa ketakutan dengan segala luka yang mereka terima. Apalagi siapa yang melukaipun mereka juga tidak tahu.

Hollow bukan memakan jiwa karena lapar… Tapi, memakan jiwa untuk lari dari penderitaan. (hal. 116)

Huwaah! Dari jilid pertama aja udah seru banget. Actionnya dapet, horrornya kerasa, humornya lucu, dan ceritanya juga asik. Interaksi antara Ichigo dan tokoh yang lain juga pas. Dalam artian tidak terlalu lebay dan deramah-deramah. Terjemahannya juga nyaman banget dibaca. Pada jilid ini, pembaca juga diperkenalkan pelan-pelan mengenai hollow, shinigami, soul society, dan lain sebaginya. Penjelasannya juga tidak rumit sehingga mudah dimengerti. Karena pemahaman ini harus terpatri karena istilah-istilah itu akan muncul pada jilid-jilid berikutnya.

Tidak heran sih komik ini sampai dibikin anime dan sampai sekarang belum tamat. Karena ide ceritanya emang unik. Seorang bocah usia 15 tahun menjadi pembasmi roh jahat. Kalau dilihat-lihat sih, agak enggak masuk akal usia segitu udah bisa menghunus pedang dan lari-larian di atap (pakai kimono lagi!) tanpa kesulitan. But, it’s cool! Abis baca jilid 1 ini, saya emang penasaran jilid selanjutnya. Tapi udah males ngumpulin sisanya hahaha.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Kyuma! (Jilid 1)

coverkyuma1

Judul: Kyuma! (Jilid 1)

Komikus: Maeda Shunshin

Penerjemah: Agung Nugroho A.P

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 186 halaman

Terbit Perdana: 2007

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2007

ISBN: 9789792703948

cooltext1660180343

Kyuma! Bocah ninja yang diundang suatu klub baseball untuk memperkuat timnya. Wah, bagaimana jadinya klub itu karena Kyuma sama sekali nggak tahu menahu soal baseball. Bisa-bisa klub tersebut jadi kacauuuu!!

cooltext1660176395

Apa jadinya jika seorang ninja bermain baseball? Unik? Atau justru aneh? Sepertinya pertanyaan itu berusaha dijawab oleh Maeda Shunshin melalui karyanya ini. Ninja – yang seperti kita ketahui – seorang prajurit asal Negeri Sakura yang terkenal gesit dan lincah, dipadukan dengan olahraga baseball yang menuntut kecepatan dan ketepatan. Secara materi sih, sebenarnya cocok-cocok saja ya.

Hattori Kyuma adalah seorang ninja usia bocah (entah berapa tahun, enggak disebutin) hidup di gunung bersama anjing peliharaannya, Inui. Sebenarnya Kyuma tinggal bersama kawan-kawan seperguruannya. Namun semuanya telah “bertugas” dan meninggalkan gunung tersebut. Sampai akhirnya hanya Kyuma dan Inui yang tersisa. Kyuma selalu berharap kelak ada seorang tuan yang bersedia mempekerjakannya.

Di kota dekat gunung tersebut, ada sebuah klub baseball yang bernama Hoshinotsuki. Karena berkali-kali kalah disebabkan hanya satu orang dalam tim yang bisa memukul bola (gilee miris bener), tim lawan mengusulkan bahwa siapapun yang menang pada pertandingan selanjutnya, berhak menggunakan lapangan (ground) sesuka hati. Padahal ground itu biasa digunakan tim Hoshinotsuki untuk berlatih.

Yoko, salah satu anggota tim yang bisa meramal (ada gitu orang begini main baseball hihi) berkata bahwa orang yang hidup di gunung lah yang bisa membawa tim mereka memenangkan pertandingan. Oleh sebab itu, sang kapten, Kaoru, mengendap-ngendap ke gunung demi menemukan sang penyelamat timnya tersebut. Siapakah dia? Tentu saja Kyuma lah ya, siapa lagi coba *plakk

Tenaga yang sangat kuat! Tangkapan yang sangat akurat! Dan, batting yang sangat tajam! Mengagumkan! Kau Si Jenius yang dilahirkan untuk bermain baseball! (hal. 22)

Kyuma yang menganggap Kaoru sebagai “Tuan” akhirnya bersedia menjalankan perintah Kaoru untuk bermain bersama di tim Hoshinotsuki. Meski awalnya sulit (karena Kyuma tidak tahu apapun tentang baseball), namun akhirnya tim Hoshinotsuki bisa memenangkan pertandingan dan tidak kehilangan ground.

Inui telah mengajari saya. Meskipun terkena bola dan terluka… dia tetap bertahan dan melindungi bangku cadangan itu! Karena itulah, saya juga! Dan anda sekalian juga… Bila kita melakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang, maka kemenangan itu pasti akan datang dengan sendirinya!! Kita tidak boleh menyerah sampai akhir!! (hal. 41)

Kepolosan (atau ketidaktahuan) Kyuma tentang hal modern juga sempat disinggung ketika akan menghadapi pertandingan persahabatan. Pertandingan ini dilakukan di ground lawan. Jadi mereka berangkat ke daerah lain (kayaknya sih komplek sebelah gitu ya). Bahkan Kyuma sempat shock ketika baru sampai disana.

Di sekeliling ground ini ada banyak sekali bangunan-bangunan batu yang kelihatannya kuat. Ini berarti musuh yang akan kita hadapi kali ini sangat terbiasa dalam pertempuran! (hal. 82)

Lantas, bagaimana kelanjutan pertandingan ini? Apakah tim Hoshinotsuki bisa mengalahkan mereka? Ada lagi cerita ketika tim Hoshinotsuki bermaksud mencari seorang pelatih baseball. Karena dipikir-pikir, tanpa pelatih, permainan mereka tidak berkembang. Sempat terjadi salah paham antara Kyuma dan Kaoru terkait sang “calon” pelatih ini.

Tuan! Hamba mohon, mengertilah!! Orang itu, bagaimanapun juga dia bukanlah orang jahat!! (hal. 153)

Ide ceritanya sih unik ya. Ninja yang biasanya melempar-lempar shuriken dan sembunyi-sembunyi justru bermain baseball. Jadi sebuah bumbu sendiri sih. Apalagi Kyuma yang polos juga menjadikannya lucu sekaligus cupu. Dan oh iya, Inui gemesin banget. Apalagi setia banget di sisi Kyuma.

Sayangnya, saya merasa agak nanggung ketika membaca komik ini. Mungkin karena masih jilid pertama ya, jadi semua serba biasa. Trik baseball-nya biasa. Trik ninjanya juga minim. Dan lagi, Kyuma yang tinggal di gunung kok bisa bikin nasi ya? Kalaupun beli di pasar di kaki gunung, seharusnya dia tidak secupu itu dong lihat rumah. Kalau menanam padi sendiri, kok ya hebat bener sebagai seorang bocah. Jadi saya ngerasanya Kyuma seperti anak baru kenal yang ikut baseball alih-alih sebagai seorang ninja. Mungkin di jilid-jilid berikutnya lebih dijabarkan lagi.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Gege Mengejar Cinta

covergege

Judul: Gege Mengejar Cinta

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 228 halaman

Terbit Perdana: November 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, November 2004

ISBN: 9789793600437

cooltext1660180343

Mana yang seseorang akan pilih? Mereka yang dia cintai? Atau mereka yang mencintainya? Ini adalah sebuah pertanyaan penting yang entah kenapa orang tidak pernah cukup peduli untuk kaji dan tanyakan pada diri sendiri. Buku ini bercerita tentang Gege. Pria yang akhirnya dihadapkan dengan pertanyaan itu.

“…saya mendapatkan novel ini benar-benar berbeda. Ide-idenya mengalir unprecedented dan menghanyutkan, suatu originalitas yang sulit didapatkan hari ini. Saya suka pendekatannya terhadap klimaks yang chaotic seperti fireworks in the fair ground. Beginilah penulis muda seharusnya, smart, playful, dan explosive.” – Jose Poernomo – Produser & Sutradara Film

cooltext1660176395

Jatuh cinta berjuta rasanya. Banyak yang merasakan manis ketika cintanya mendapat balasan yang sama, namun tak sedikit pula yang harus menelan rasa pahit ketika pujaan hati menolak untuk bersama. Cinta juga sangat identik dengan pengorbanan dan perjuangan. Semakin besar cinta seseorang, maka semakin besar pula perjuangan dan pengorbanan yang sanggup untuk dilakukan.

Begitu pula dengan Gege, tokoh utama dalam novel ini. Pada usia telah mencapai 27 tahun, ia bekerja sebagai seorang produser dalam sebuah radio di Jakarta. Suatu hari, Program Director radio alias atasan Gege, mengumumkan sebuah informasi dari Asosiasi Radio Jakarta terkait penyambutan hari kemerdekaan Indonesia.

Dalam rangka menyambut ulang tahun Indonesia ke-59, sebuah dewan juri akan menilai secara kualitatif, radio mana yang paling mampu menyambut kemerdekaan. (hal. 12)

Gege sebagai sang produser acara, didaulat untuk membuat sebuah acara radio yang bisa membawa Radio Hertz menjadi juara. Akhirnya ide yang dilaksanakan adalah mengenai sandiwara radio. Karena menyewa pengisi suara yang bagus cukup mahal, maka Gege berinisiatif melibatkan rekan-rekan kerjanya dalam sandiwara ini. Tak terkecuali Tia, sang gadis di kantor yang ehm, naksir Gege. Tia ini orangnya gengsi pake banget. Termasuk urusan menyatakan cinta. Bahkan dalam hal ngedeketin aja dia punya alasan jitu.

“Cowok beda Ge, sama cewek. Cowok memang pada kodratnya mempermalukan diri dan usaha untuk kenalan, ngejar cewek.” (hal. 32-33)

Gege tentu saja sebagai seorang cowok, yang merupakan spesies yang dianggap tidak kurang peka, tidak menyadari apa yang Tia rasakan. Justru ia larut dalam pengerjaan sandiwara radio karena cinta lamanya datang kembali. Ya benar, gadis pujaan Gege, sejak SMP hingga SMP, tetangga depan rumahnya, yang menghilang begitu lama, kembali muncul di hadapan Gege. Tentu saja Gege tak menyia-nyiakan hal tersebut dan mencoba mendekati Caca, sang gadis itu. Bahkan kemungkinan terburukpun ia hiraukan.

“Setidaknya gua tahu dan gua masih bisa nunggu.” (hal. 89)

Sinting? Yah mungkin saja. Namanya juga orang jatuh cinta. Dan Tia juga melakukan pengorbanan untuk Gege. Mulai dari mengganti kacamata dengan soft lens, meluruskan rambut (yang akhirnya jadi kribo), sampai dandan menarik agar Gege menyadari perasaannya. Namun apa daya, gengsi telah mengalahkan perjuangannya.

Sulitnya jadi perempuan. Gengsi adalah kulit kedua mereka. Kulit yang mengikat mereka meraih takdir yang sebenarnya jauh lebih luas. Yang sebenarnya dapat membuat mereka mendapatkan apa yang benar-benar mereka mau. (hal. 102)

Di saat Tia sibuk menebar tanda-tanda yang tak kunjung disadari sang pujaan hati, Gege justru sukses pedekate dengan Caca. Bahkan keduanya bisa dikatakan tahu-sama-tahu tentang perasaan masing-masing. Namun untuk berkata jujur, Gege masih belum sanggup.

Anehnya wanita. Selalu menuntut kejujuran dari pria tapi akan lari jika kejujuran itu datang terlalu cepat atau jika sang wanita belum cukup kuat atau nyaman menerimanya. (hal. 153)

Lantas, bagaimana kelanjutan kisah drama percintaan Gege, Tia, dan Caca? Silakan baca sendiri deh. Soalnya seru banget. Karena sang penulis piawai menempatkan segi humor dan serius dalam takaran yang pas dan tidak berlebihan. Tokoh-tokoh figuran, meskipun tidak tampil sebanyak Gege, Tia, dan Caca, mereka tetap memiliki karakter yang kuat.

Selain itu, saya menyukai banyaknya dialog yang dilakukan antar tokoh. Hal ini membuat saya tidak bosan membacanya. Kan ada ya tuh, novel yang menarasikan segala tindak tanduk sang tokoh sampai panjang lebar. Saya justru menyukai sifat, karakter, dan perilaku tokoh disampaikan melalui dialog. Istilahnya kalau tidak salah showing than telling.

Oh iya, banyak sekali catatan kaki (footnotes) yang bertebaran dalam buku ini. Alih-alih sebuah informasi tambahan tentang kutipan yang dimaksud, justru catatan kaki ini semacam perasaan atau pemikiran atau pembelaan penulis ketika pembaca sampai pada kata/kalimat yang dimaksud. Banyak catatan kaki yang lebih lucu dibanding teks di novelnya sendiri hehehe.

Saya juga suka karakter para tokoh utama yang kuat. Saya bisa merasakan sakitnya Tia ketika mengetahui Gege mendamba Caca, saya juga bisa mengerti alasan Gege masih menunggu Caca sekian lama, dan saya juga bisa memahami perasaan Caca yang bahagia dicintai Gege. Hal inilah yang membuat novel ini sangat bagus untuk dinikmati.

Kekurangannya saya rasa ketika ada dialog yang melibatkan beberapa tokoh (lebih dari dua), saya tertukar-tukar siapa yang berkata begini, siapa yang ngomong begitu. Karena penulis hanya meuliskan tanda kutip saja, tanpa disertai siapa tokoh yang berbicara. Tapi kalau dicantumkan juga malah mengganggu yak. Typo sih ada beberapa, namun karena terlanjur asik mengikuti cerita, jadi saya abaikan deh hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta

coverbm100

Judul: 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta

Seri: Lagak Jakarta

Komikus: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: 160 halaman

Terbit Perdana: Januari 2008

Kepemilikan: Cetakan Kedua, April 2008

ISBN: 9789799100993

cooltext1660180343

KOMENTAR PARA PENGGEMAR SERI LAGAK JAKARTA:

Emang edan, to the point, bikin orang tertawa terpingkal2… nurutku ini salah satu karya anak bangsa yang lumayan orisinil, satrical, to the point, and realis…. cocok untuk dikoleksi dan dibaca berulang2… – www.klubsaham.com/index.fundamentalman

Sebenernya gw baca komik ini juga gara2 salah beli. Maksud gw mau beli yang bundel komik, yang kebeli malah Lagak Jakarta, habis pengarangnya sama. Tapi gw ternyata ga menyesal… tu komik bagus banget, dn bikin gw yang besar di (pinggiran) Jakarta agak2 tertohok! Baca deh… ga nyesel… dan rasakan bahwa kadang-kadang realitas lebih fiksi daripada cerita fiksi – www.friendster.com/review.php?action=all&uid=10331918

Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad sangat luwes dan membumi dalam menggambarkan peristiwa sehari-hari Jakarta. Salah satu yang menarik buat gua adalah pada detail akurat dan penokohan yang kuat. …Hm, kebayang nggak sih, selama naik bajaj kita jelalatan dan mencatat semua pernak-perniknya? Belum lagi tokoh sopir bajaj ngeselin tapi lucu. – mpokb.blogdrive.com/archive/172.html

ISINYA MENGGUGAH, MENYAYAT SEKALIGUS KOCAK…. disain komiknya… 1.000% bagus… kertas covernya bagus, cover doublenya bagus banget… pilihan warna sangat kocak…. kerennn… buat gue kerennn deee kerennnnnnnnnnnnnnnnn… haheauheuhaeuhauehae. ENJOYYYYYY!!!! Dan jangan lupa dibeli yaaaaaaaa… biar kita makin cinte sama Jakarteeee kiteeeeee neeeeee. Wekekkwkekwekwkek. – momobilanku.multiply.com/photos/album/88/BENNY_MICE_LAGAK_JAKARTA

Nggak salah, ini emang buku wajib para komikus. …Kartunnya sendiri nggak humor-humor amat tapi cukup memotret keadaan sosial saat itu. – rinurbad.multiply.com/reviews/item/15

November – Buku yang Ada Unsur Angka

cooltext1660176395

Ada yang ngeh dengan penulisan judul buku ini yang menggunakan tanda kutip pada kata tokoh? Ternyata hal itu bukan tanpa alasan. Seringkali kita mendefinisikan “Tokoh” adalah orang-orang yang terkenal, berpengaruh dalam kehidupan, ataupun orang-orang yang membekas dalam benak masyarakat luas. Namun sepertinya Benny dan Mice enggan membuat sebuah karya dengan “tokoh” yang mainstream.

Lahirlah kumpulan karikatur dan sejumput komik berjudul 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta ini. Bukan para artis ataupun sang pejabat terkemuka yang dimaksud komikus ini, melainkan para orang “biasa” yang sudah dikenal akrab oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta.

Kita semua inilah ‘Tokoh-Tokoh’ yang mewarnai Jakarta! …he..he…he… (hal. 7)

Ada 100 orang manusia berbagai profesi dan latar belakang kehidupan masing-masing yang sempat digambarkan Benny dan Mice di buku ini. Karena terlalu banyak, jadi saya kemukakan segelintir saja ya yang cukup memorable. Salah satunya adalah tokoh “Mas-Mas Mudik” dengan deskripsi yang unik.

Rambut khas mas-mas. Jeans yang masih biru banget. Jacket supaya nggak masup angin di perjalanan. (hal. 20)

Btw, rambut khas mas-mas itu yang gimana sih? Saya biasa dipanggil “Mas” tapi kok rambut saya beda dengan karikatur si “Mas-Mas” itu. Jadi saya bukan “Mas-Mas” tulen dong? Ada lagi tokoh yang cukup bikin saya nyengir adalah deskripsi “Cewek Berjilbab 2”. Kenapa 2? Karena “Cewek Berjilbab 1” adalah potret sang muslimah sejati dengan pakaian yang memenuhi syariat Islam. Sedangkan yang kedua? Baca deh:

T-shirt lengan panjang tapi ketat! (lekuk tubuh masih terlihat jelas). Celana stretch!! (lekuk pinggul dan paha nyéplak banget!) (hal. 25)

Ada yang unik, ada juga yang bikin ngikik. Salah satu tokoh tersebut adalah “SPG Rokok”. Gile, ada aja nih prfesi yang dimasukin ke buku ini. Yah meskipun rokok itu tidak baik untuk kesehatan, tidak menghilangkan profesi SPG kok. Berikut cuplikannya:

Raut muka ‘menggoda’ iman dengan kata2 manis untuk mengajak melanggar peringatan pemerintah, bahwa: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, bla… bla… bla… (hal. 73)

Dipikir-pikir iya juga sih. Kalo promosi rokok masih merajalela, ya konsumennya tetep ada. Jadinya rokok nggak bisa hilang dengan mudah. Anyway, salah dua yang menjadi favorit saya adalah potret dua keluarga yang berbeda nasib. Nasib keluarga miskin dan kesusahan berdampingan dengan keluarga yang sangat berkecukupan di halaman sebelahnya. Keluarga pertama disebut “Keluarga Susah Makan”.

Seekor ikan kembung goreng buat lauk bersama. Sengaja makan sedikit, mengalah… supaya anak-anaknya dapat porsi lebih banyak (menunjuk gambar ibu). Sambil berpikir…. mencari uang untuk makan esok hari (menunjuk gambar bapak). (hal. 112)

Awalnya sih saya idak mengira potret kedua keluarga yang berbeda ini disandingkan bersama. Rasanya Benny dan Mice ingin menyadarkan pembaca bahwa ada berbagai macam kehidupan di dunia ini. Untuk keluarga kedua disebut “Keluarga Doyan Makan”.

Nasi goreng ikan asin porsi jumbo. Nasi sapi lada hitam. Ayam kuluyuk buat bersama. Kwetiau goreng sapi porsi kedua. Sup kepiting sebagai apetizer. (hal. 113)

Kedua halaman tersebut sempat membuat saya terhenyak dan langsung bersyukur kepada Allah SWT. Selain orang-orang Indonesia, ternyata Benny dan Mice tidak melupakan orang luar negeri yang malang melintang di Jakarta. Mereka turut ambil bagian menjadi “tokoh” yang digambarkan di buku ini. Antara lain “Bule Ransel”, “India Pasar Baru”, “Nigeria Kebon Kacang”, dan “Arab Atrium”.

Selain karikatur para “tokoh”, ada bonus 5 komik pendek di sela-sela halaman di buku ini. Tentunya komik itu menceritakan sepenggal kisah hidup para “tokoh” yang telah digambarkan sebelumnya. Saya suka seka dengan keduanya, baik karikatur maupun komiknya. Benny dan Mice seakan menuliskan apa yang ada di benak saya (atau kita semua?) ketika melihat “tokoh-tokoh” itu di dunia nyata.

Meskipun judulnya dituliskan 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta, bukan berarti warga yang tidak berdomisili maupun yang tidak pernah ke Jakarta tidak bisa menikmatinya. Karena saya rasa, mayoritas para “tokoh” tersebut juga hidup di berbagai wilayah lain di Nusantara kok. Jadi siapapun pembacanya juga bisa relate dengan goresan gambar di buku ini.

Kekurangannya apa ya, mungkin penulisan kata-kata agak kurang rapi. Sepertinya karena semua gambar dan tulisannya hand made alias gambar manual terus di scan *CMIIW* jadi agak sedikit belepotan. Oh iya, kekurangan yang cukup fatal adalah: kurang tebal! Hahahaha. Saya sih pengennya 1000 tokoh yang mewarnai Indonesia. Biar puas bacanya hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

A.S. (Animal Sense) (Jilid 1)

coveranimal1

Judul: A.S. (Animal Sense) (Jilid 1)

Komikus: Maekawa Takeshi

Penerjemah: Yenny Hendrawatih

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 184 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792731378

cooltext1660180343

Fuzuki Hoshino, gadis siswa SMU, pernah mengalami kejadian aneh waktu kelas 3 SD. Kini, kejadian aneh itu datang lagi. Ia bisa ‘masuk’ ke dalam binatang, lalu bisa melihat dengan mata binatang yang dimasukinya itu. Bukan hanya penglihatan, tapi juga indera lainnya yang dimiliki hewan yang dimasukinya, bisa ia rasakan. Kekuatan apa itu sebenarnya.!?

cooltext1660176395

Hewan adalah salah satu makhluk hidup yang mendiami bumi ini. Meskipun manusia juga dikategorikan sebagai hewan, namun tingkat pemikiran dan naluri yang dimiliki manusia jauh lebih tinggi dibandingkan hewan. Segala perilaku dan apa yang dipikirkan oleh hewan terkadang membuat kita menerka-nerka, apa sih yang sebenarnya hewan-hewan itu rasakan.

Hal itu mungkin mendasari Maekawa Takeshi sehingga membuat komik Animal Sense ini. Yah namanya juga komik, apapun bisa terjadi. Begitu pula dengan tokoh utamanya, Fuzuki Hoshino yang (seharusnya) hanya seorang siswi SMA biasa, menjalani  hidup yang biasa, justru memiliki sebuah kemampuan yang tidak biasa. Hal ini tertuang pada chapter 1 berjudul “Fuzuki Hoshino”.

Kekuatan yang bangkit kembali ini… aku tidak tahu kapan lenyap lagi… makanya aku tidak menceritakannya pada orang lain. (hal. 25)

Benar sekali, pada masa kecilnya, Hoshino bisa merasa apa yang seekor hewan lakukan. Seolah ia bisa masuk dalam tubuh hewan tersebut. Tak mau mengulangi masa kecilnya yang ia justru dianggap bercanda, saat ini Hoshino memilih menyimpannya rapat-rapat. Ia berpikir toh, nanti juga hilang sendiri.

Namun kemudian mau tidak mau ia harus menggunakan ‘kekuatannya’ itu untuk menolong seorang ibu-ibu yang menjadi korban perampokan. Melalui anjing peliharaan sang ibu-ibu, Hoshino mengejar sang perampok hingga sampai di belakang gudang. Bagaimana Hoshino tahu? Ternyata ia melihat menggunakan “mata” si anjing yang bernama Snoopy. Bahkan polisi yang menjumpainya juga dibuat heran.

Baru mulai menghitung uangnya itu maksudnya… kok, tahu? Memangnya kamu ahli nujum? (hal. 45)

LOL! Polisinya lucu juga, pake istilah ahli nujum. Bukannya dukun kek, penyihir kek, peramal kek. Eh, atau penerjemahnya yang jenaka? Entahlah. Kembali ke Hoshino. Pada chapter 2 berjudul “Kekuatan yang Bangkit”, diceritakan seorang pasangan lansia kehilangan anjing peliharaan mereka. Karena lama tidak ditemukan, mereka memberitahukan kepada ayah Hoshino, sebagai pemilik klinik hewan. Di tempat yang berbeda, Kurosawa, kawan sekelas Hoshino, memiliki masalah pribadi karena ayahnya dililit hutang 10 juta yen.

Kami tak menyangka, hubungan kepercayaan kami dengan perusahaan dagang itu akan dikhianati dengan cara seperti ini. (hal. 85)

Entah kebetulan atau tidak, anjing hilang (bernama Merry) milik pasangan lansia bernama Ozu ditemukan oleh Kurosawa. Karena mengetahui akan diberi imbalan bagi siapapun yang menemukannya, Kurosawa bermaksud menghubungi keluarga Ozu. Pada chapter ketiga berjudul “Kekuatan Berevolusi”, ternyata keluarga Ozu masih dilanda kecemasan yang berarti. Bahkan sang istri sampai terbaring sakit.

Kurasa, kita tak usah khawatir dia celaka… soalnya tak ada kabar apa-apa dari klinik hewan dan puskesmas. (hal. 97)

Pada chapter terakhir dengan judul “Animal Sense”, diceritakan orang yang (bisa dikatakan) memeras ayah Kurosawa mengetahui perihal anjing hilang (dan imbalan) tersebut. Tentu kesempatan ini tidak disia-siakan untuk memeras keluarga Ozu.

Nyawa keluarga begitu murah nilainya? Kalau begitu, Bapak beli saja anak anjing baru di pet shop! (hal. 147)

Ada yang tahu manga fenomenal Kung Fu Boy? Nah komikusnya sama dengan Animal Sense ini. Apa? Oh kamu sudah tahu? Yah kirain saya yang tahu duluan fakta ini *oke skip*. Saya sudah baca Kung Fu Boy sih, dan rasanya kok tidak apple to apple kalau mau saya banding-bandingkan.

Secara tema, komik ini cukup unik. Mengangkat sebuah “kekuatan” untuk merasakan dunia binatang. Dipikir-pikir asik juga yah bisa punya kekuatan kayak Hoshino. Kan lumayan bisa jadi pawang segala hewan. Trus bisa tampil di sirkus *eh. Dari sisi artwork sih, udah rapi kok. Apalagi gambar hewannya terasa nyata banget.

Minusnya apa ya. Hmmm..konfliknya masih datar-datar saja. Meskipun hampir di akhir halaman sedikit greget, tapi masih terasa so-so gitu. Mungkin karena masih edisi perdana kali ya. Jadi hal-hal menegangkannya masih disimpan di volume berikutnya. By the way, Hoshino cantik loh.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Manusia Setengah Salmon

covermanusia

Judul: Manusia Setengah Salmon

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: viii + 264 halaman

Terbit Perdana: 2011

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, 2012

ISBN: 9789797805319

cooltext1660180343

Nyokap memandangi penjuru kamar gue. Dia diam sebentar, tersenyum, lalu bertanya, ‘Kamu takut ya? Makanya belom tidur?’

‘Enggak, kenapa harus takut?’

‘Ya, siapa tahu rumah baru ini ada hantunya, hiiiiii…,’ kata Nyokap, mencoba menakut-nakuti.

‘Enggak takut, Ma,’ jawab gue.

‘Kikkikikiki.’ Nyokap mencoba menirukan suara kuntilanak, yang malah terdengar seperti ABG kebanyakan ngisep lem sewaktu hendak photobox. ‘Kikikikikiki.’

‘Aku enggak ta—’

‘KIKIKIKIKIKIKIKI!’ Nyokap makin menjadi.

‘Ma,’ kata gue, ‘kata orang, kalo kita malem-malem niruin ketawa kuntilanak, dia bisa dateng lho.’

‘JANGAN NGOMONG GITU, DIKA!’ Nyokap sewot. ‘Kamu durhaka ya nakut-nakutin orang tua kayak gitu! Awas, ya, kamu, Dika!’

‘Lah, tadi yang nakut-nakutin siapa, yang ketakutan siapa.’

Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sembilan belas bab di dalam bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Simak juga bab berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat khas Raditya Dika.

cooltext1660176395

Another book of Raditya Dika. Saya cenderung menyukai banyolan dan guyonan dalam tulisan Dika. Terasa segar (air mineral kali ah) dan menghibur. Usianya yang masih belum terlalu tua juga sedikit banyak bisa membuat kejadian-kejadian masa kini menjadi bahan tulisannya. Termasuk pada buku Manusia Setengah Salmon ini.

Ada 19 bab di buku ini yang Dika suguhkan. Ada yang lucu, ada yang mellow, ada pula yang absurd dan nggak jelas. Karena nggak mungkin saya ulas satu persatu, jadi saya tuliskan beberapa saja ya. Salah satu kisah yang menurut saya cukup menarik adalah yang berjudul “Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat”. Pada cerita ini, Dika yang mengalami putus cinta menjadi tahu apa esensi dari kenangan masa lalu.

Harga diri lebih penting daripada sakit hati. (hal. 22)

Putus cinta memang menyakitkan. Namun di cerita tersebut Dika menyelipkan sebuah pesan moral mengenai arti dari merelakan. Lain hal pada kisah berjudul “Kasih Ibu Sepanjang Belanda” yang menurut saya lucu sekaligus menyentuh. Alkisah Dika yang melanjutkan studi ke Belanda mengalami fase “ingin mandiri” dengan mencoba mengacuhkan segala perhatian nyokapnya yang terus menghubungi Dika tiap jam.

Memang perut gue ini perut belalang kupu-kupu, kalau siang makan nasi kaau malam minum susu. (hal. 117)

Pada kisah tersebut Dika seakan ingin mengingatkan pada jutaan orang yang (mengaku) dewasa yang masih memiliki orang tua bahwa sesungguhnya perhatian orang tua itulah yang sesungguhnya amat berharga. Karena kita tak akan tahu kapankah orang tua akan pergi meninggalkan kita…ke dunia yang berbeda.

Pada kisah lain berjudul “Tarian Musim Kawi”, Dika menceritakan tentang curhat sahabatnya, Trisna, yang menjadi jomblo perak karena pada usia menginjak 25 tahun belum pernah berpacaran. Ingin membantu, Dika mengusulkan Trisna mencari (calon) pasangan melalui Twitter.

Timeline Twitter seseorang menunjukkan sifat asli orang tersebut. (hal. 151)

Saya sangat sependapat sih dengan bahasan Dika pada kisah ini. Karena tidak dapat dipungkiri di era serba modern (termasuk munculnya social media) bisa menunjukkan jati diri asli seseorang. Trisna yang merasa tertarik dengan usul Dika pun juga begitu. Lantas, berhasilkah Trisna mendapatkan pasangan hanya bermodalkan timeline?

Cerita yang cukup memilukan hadir pada judul “Lebih Baik Sakit Hati”. Bukannya apa-apa, di kisah ini Dika menceritakan mengenai pengalamannya sakit gigi akibat gigi geraham bungsunya mulai tumbuh. Tak tanggung-tanggung, ia musti rela disuntik dan dioperasi demi menyembuhkan giginya. Sakit? Tentu saja. Bahkan ia membandingkan dengan rasa sakit hati yang pernah ia alami.

Orang yang bilang lebih baik sakit hati daripada sakit gigi, pasti belum pernah sakit gigi. Dan, orang yang belum pernah sakit gigi, belum tahu rasanya menjadi dewasa. (hal. 204)

Bab penutup berjudul “Manusia Setengah Salmon” seakan menjadi kesimpulan dari segala macam bab galau dan mellow yang dikisahkan pada bab-bab sebelumnya. Pada akhir penutup ini, Dika seakan kembali menegaskan bahwa perpindahan adalah sebuah hal yang lumrah terjadi.

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. (hal 255)

Ketika menutup buku ini, saya merasa puas. Dalam artian saya menemukan sebuah hal baru pada gaya tulisan Dika. Meskipun guyonan dan candaan masih dipertahankan, namun saya bisa merasakan pesan moral ataupun kutipan menyentuh di buku ini. Pada buku ini saya juga mengetahui bahwa Dika bukan hanya piawai dalam menyusun tulisan komedi nan menggelitik, namun juga sukses mengingatkan saya tentang pelajaran hidup.

Sayangnya, kelebihan diatas justru menjadi bumerang. Saya jadi kurang menyukai semua bab bertema lucu yang diletakkan selang-seling dengan bab bertema mellow. Memang sih mungkin tujuannya agar pembaca bisa sedikit refreshing pada bab yang lucu setelah menikmati mellow-nya bab sebelumnya. Tapi saya justru merasa aneh. Ibarat lagi makan kue bolu dan rempeyek (aduh, maafkan pemilihan yang absurd ini), saya harus berganti-ganti kedua makanan tersebut tiap lima detik. Enak? Tentu tidak. Saya jauh lebih setuju jika buku ini full bab bertema mellow. Sisi-sisi komedi sebagai identitas Dika cukup diselipkan dalam bab-bab itu saja. Tak perlu disendirikan.

But overall, saya suka dengan buku ini. Meskipun kadar komedinya tidak terlalu dominan, saya justru mendapat sebuah pemahaman baru mengenai secuil pengalaman hidup. Dika yang masih muda juga sanggup menghadirkan tulisan yang bisa dinikmati kawula muda. Good job!

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Fairy Tail (Jilid 1)

coverfairy1

Judul: Fairy Tail (Jilid 1)

Komikus: Mashima Hiro

Penerjemah: Agung Nugroho AP

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 191 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792730418

cooltext1660180343

Natsu si penjinak api dan Lucy sang penyihir roh bintang. Mereka dua dari sekelompok anggota serikat penyihir FAIRY TAIL yang suka membuat kekacauan. Takdir mempertemukan mereka untuk berkawan di Harjion! Dunia sihir akan semakin kacau.

cooltext1660176395

Komik yang menceritakan mengenai penyihir dengan hal ajaib lainnya memang tidak sedikit. Namun penyihir yang bersatu dalam sebuah serikat (guild) sepertinya belum terlalu banyak. Salah satu komik yang mengangkat hal ini adalah Fairy Tail hasil karya Mashima Hiro. Komik berjenis kelamin shounen alias lebih mudah dinikmati kaum laki-laki ini memang cocok dengan segala macam action dan pertarungan yang melibatkan sihir tokoh-tokohnya.

Chapter pertama berjudul “Fairy Tail” mengisahkan tentang Natsu, penyihir lelaki kekar bersama Happy, kucing kecil yang menuju Kota Harjion demi menemui Salamander, sang penyihir api. Meskipun belum tahu bagaimana rupa Salamander, mereka beranggapan ia adalah sang naga bernama Igneel yang telah membesarkan Natsu sejak lahir.

O…orang yang bisa menggunakan sihir api yang tak bisa dibeli di toko itu ada di kota ini!? (hal. 14)

Tak disangka, Salamander yang dimaksud hanyalah lelaki jahat yang berniat buruk pada wanita-wanita muda di Kota Harjion, tak terkecuali Lucy, sang penyihir roh bintang. Pertemuan Natsu dan Lucy pun terjadi dengan tidak sengaja ketika Salamander sedang melakukan “aksinya”. Mengetahui Lucy terjebak masalah, Natsu dan Happy tak segan menolongnya demi membalas budi.

Paru-paru naga menyemburkan api, sisik naga meleburkan api, kuku naga mengenakan api, ini adalah mantra kuno untuk mengubah diri menjadi tubuh naga… (hal. 73)

Lucy yang sangat berniat menjadi anggota serikat (guild) sihir bernama Fairy Tail, diajak Natsu dan Happy untuk singgah kesana. Pada chapter berjudul “Munculnya Master” ini baru diketahui ternyata Natsu dan Happy juga merupakan anggota Fairy Tail! Sang ketua guild (disebut master) bernama Makarov ternyata bukanlah orang yang “besar”. Banyak sekali anggota Fairy Tail yang “unik” dan cenderung suka berbuat onar. Padahal maksud utama sebuah guild adalah membantu sesama. Namun ternyata sang Master Makarov memiliki pandangan tersendiri.

Jalanilah jalan yang kalian yakini!! Itulah penyihir Fairy Tail!! (hal. 110)

Pada chapter ketiga berjudul “Naga Api, Kera dan Sapi”, Natsu dan Happy bermaksud mencari Macao, salah satu angota Fairy Tail yang seminggu belum kembali dari tugasnya. Merasa tertarik, Lucy pun ikut serta. Namun apa daya menemukan Macao bukanlah hal mudah, bahkan untuk penyihir sekalipun.

Tu…tunggu!!! Horologium!! Jangan hilang!! Perpanjang!! Perpanjang!! Heei!! (hal. 138)

Chapter terakhir berjudul “Roh Bintang Anjing Kecil” mengisahkan Lucy yang mendapatkan tempat tinggal baru (namun selalu diganggu Natsu dan Happy, bahkan setelah Lucy mandi!) di kota Magnolia. Oh iya, Lucy baru saja membeli kunci roh bintang. Sehingga sebagai penyihir roh bintang, Lucy harus melakukan perjanjian atau kontrak pada kunci yang dimilikinya.

Penyihir roh bintang menitikberatkan pada perjanjian…atau kontrak. Makanya aku pasti tak akan ingkar janji… (hal. 176)

Secara umum, saya suka pake banget dengan Fairy Tail. Awalnya saya ragu, soalnya goresan gambar-gambarnya hampir mirip dengan manga One Piece. Jadi saya kira tema yang diangkat juga agak-agak sama. Eh ternyata cukup unik juga. Penyihir yang menjalani rutinitas menyelesaikan pekerjaan terasa begitu..apa ya, berbeda.

Pada komik perdana ini memang masih sedikit sekali penjelasan jenis sihir yang dimiliki orang-orang. Namun seiring berjalannya waktu *halah*, jenis sihir yang ada di komik Fairy Tail ada buuuuuuuuuuuuuuuanyak banget. Lho kok saya tahu? Ehm, soalnya saya udah nonton anime-nya. Bahkan sampai detik ini sudah sampai episode 207 lho.

Dan karena saya lebih menikmati visualisasi di anime hasil donlot ilegal di internet, jadinya saya tidak meneruskan membeli kelanjutan manga ini hehehe. Anyway, karena ini masih jilid 1, jadi masih edisi perkenalan sepertinya. Akibatnya berbagai misteri dan pertanyaan masih berkeliaran dimana-mana. But it’s okay. Namanya juga edisi perdana. Pokoknya kesimpulannya: bagus bangeeeet!! Tonton deh anime-nya kalo enggak percaya.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Radikus Makankakus

coverradikus

Judul: Radikus Makankakus

Tagline: Bukan Binatang Biasa

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 232 halaman

Terbit Perdana: 2007

Kepemilikan: Cetakan Keempat, 2007

ISBN: 9789797801663

cooltext1660180343

Beberapa menit kemudian kelas dimulai. Kayaknya ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell. Baru masuk aja udah berisik banget.

‘Selamat siang, saya Dika,’ gue bilang ke kelas 1 SMP yang baru gue ajar ini. ‘Saya guru untuk pelajaran ini.’

‘Siang, Pak!’ kata anak cewek yang duduk di depan.

‘Jangan Pak. Kakak aja,’ kata gue sok imut. Gue lalu mengambil absensi dan menyebutkan nama mereka satu per satu.

‘Sukro,’ gue manggil.

‘Iya, Kak.’ Sukro menyahut.

‘Kamu kacang apa manusia?’

‘Hah? Maksudnya?’

‘Engga, habis namanya Sukro, kayak jenis kacang,’ kata gue, kalem. ‘Oke, kacang apa manusia?’

‘Ma-manusia, Kak.’

‘KURANG KERAS!’ Gue menyemangatinya.

‘MANUSIA, KAK!’

Satu kelas hening.

RADIKUS MAKANKAKUS: Bukan Binatang Biasa adalah buku ketiga Raditya Dika (setelah Kambingjantan dan Cinta Brontosaurus) berisi pengalaman-pengalaman pribadi Raditya Dika sendiri yang bego, tolol, dan cenderung ajaib.

Simak kisah Raditya Dika jadi badut Monas sehari, ngajar bimbingan belajar, dikira hantu penunggu WC, sampai kena kutuk orang NTB.

Penulis Indonesia, tidak pernah segoblok ini.

cooltext1660176395

Raditya Dika bukanlah orang asing dalam dunia buku non fiksi komedi di Indonesia. Karya fenomenal Kambing Jantan mengantarkannya sebagai salah satu penulis yang cukup berkompeten di Indonesia. Beberapa buku juga ia hasilkan setelah Kambing Jantan. Buku Radikus Makankakaus ini adalah buku ketiganya. Garis besarnya masih sama dengan pendahulunya, yaitu menceritakan pengalaman-pengalaman unik dan absurd Dika dalam bahasa komedi lugas dan cenderung blak-blakan.

Ada 17 cerita yang disajikan di buku ini. Ada yang cukup membekas dalam sanubari, ada pula yang berlalu begitu saja tanpa arti. Jadi saya ulas yang cukup memorable saja ya. Salah satunya cerita berjudul “Balada Badut Mabok”. Pada cerita pertama ini, Dika bermaksud melakukan penelitian dengan menjadi badut.

Gak beberapa lama kemudian, anak-anak itu udah ada di samping kaca mobil gue. Kepala gue ditoyor-toyor. Tangan-tangan butek item mereka nyolok-nyolok idung gue. (hal. 12)

Ternyata menjadi badut bukanlah hal yang mudah. Lantas bagaimana kelanjutan penelitian Dika? Ada lagi kisah berjudul “Arti Hidup?” merupakan salah satu cerita yang sedikit mellow dan inspiratif. Mengambil waktu saat Dika masih SMA, ada seorang guru bernama Ibu Irfah. Meskipun Dika nakal bagai setan, beliau tetap care pada Dika.

Kamu masih punya waktu untuk berubah. Kamu pasti mau kan lulus SPMB, masuk UI? Kamu belajar yang bener dari sekarang. Jangan bandel kayak gini. Kasihan tahu, orang tua kamu. Mulai semester depan, perbaiki ya? (hal. 94)

Ibu Irfah adalah salah satu potret guru yang pasti dicintai oleh murid-muridnya, tak terkecuali Dika yang menulis kisah ini. Meskipun tidak meninggalkan ocehan komedi, kisah ini bisa dibilang kisah paling memorable bagi saya pribadi. Karena juga meninggalkan pertanyaan dalam diri saya sendiri.

Kisah yang cukup unik berjudul “Guruku Seperti Macan”. Jadi ceritanya Dika yang udah kuliah dan lagi libur, diminta menjadi guru/tentor pada LBB yang dimiliki nyokapnya. Meskipun “hanya” mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kelas 1 SMP dan 3 SMP, itu cukup membuatnya ketar-ketir.

Ngebayangin anak-anak SMP zaman sekarang, kayaknya mereka udah brutal banget. Gak ada yang tau betapa ganas ataup betapa bandelnya mereka. Apalagi, film-film sekarang ini banyak yang menggambarkan anak-anak sekolah ngomong makin kasar, makin suka ngerjain, makin binal. (hal. 107)

Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Tayangan televisi nasional sekarang banyak yang tidak mendidik generasi muda. Apalagi sinetron-sinetron sampah selalu berlalu-lalang di layar kaca. Mungkin hal inilah yang menjadi kekhawatiran Dika sebelum mengajar (calon) siswanya. Perbedaan generasi terkadang menimbulkan perbedaan perangai. Dahulu santun, sekarang bisa tak tahu malu. Yang tadinya sopan, bisa jadi sekarang suka ngomong kasar.

Secara umum sih saya suka buku ini. Sebenernya buku ini sudah punya sejak lama. Cuman baru bisa nulis review sekarang. Ciri khas Dika dalam tulisan komedi sepertinya sudah tak bisa dipungkiri. Apalagi kodratnya sebagai laki-laki menjadi lebih bebas dalam menulis. Tidak seperti kebanyakan penulis perempuan yang mengusung tema komedi malah jadinya garing.

Namun yang disayangkan, saya kurang bisa menikmati seluruh komedi yang dituliskan, khususnya tulisan-tulisan yang mencela orang lain. Terlepas maksudnya hanya bercanda atau tidak, tidak sepatutnya menghina orang lain sebagai bahan kelucuan. Mau itu kenyataan ataupun hanya guyonan, humor dengan menghina orang itu amat sangat basi banget. Bahkan ada salah satu tulisan berikut ini:

‘ASTAGFIRULOH!!!’ salah satu orang masih menjerit kayak orang gila. (hal. 65)

Hah? Apa? Mengucap istighfar (meskipun penulisannya kurang tepat) dikatain orang gila? Kok saya rasanya agak tersinggung ya ketika membacanya. Saya tau kok maksudnya hanya bercanda. Namun bercanda dengan membawa-bawa SARA itu enggak bagus lho, IMHO. Ada lagi yang seperti ini:

Gak taunya nih orang melihara ikan di bak mandi! Gila. (hal. 156)

Dih, ini Dika alay banget sih cuman liat ikan doang. Pake ngatain gila lagi. Emang sih, kayaknya dia baru tau ikan itu fungsinya buat makan jentik nyamuk demam berdarah. Tapi please, piara ikan di bak mandi masih lebih waras dibandingkan tidak melakukan apa-apa demi mencegah demam berdarah. Hih!

Akhirnya, buku ini masih layak baca kok meskipun ada beberapa kekurangan. Saya rasa masih belum ada penulis komedi di Indonesia (yang karyanya udah saya baca) yang bisa mengalahkan Raditya Dika dalam menulis komedi. Hanya saja, saya rasa Dika harus mencoba mengubah konteks komedinya tanpa membawa-bawa SARA dan celaan pada orang lain agar humor yang ia sajikan bukan hanya menghibur semata, namun juga cerdas.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Angelic Layer (Jilid 1)

coverangelic1

Judul: Angelic Layer (Jilid 1)

Komikus: CLAMP

Penerjemah: Novi Sri Intan

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 176 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2003

cooltext1660180343

Suzuhara Misaki adalah siswi baru kelas 1 SMP Eriol. Tanpa sengaja, ia melihat acara ANGELIC LAYER di televisi. Terkesan oleh pertarungan antar Angel itu, Misaki memutuskan untuk membeli ANGEL Egg!

cooltext1660176395

Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan kegembiraan. Salah satu yang memberikan sumbangsih terhadap keceriaan mereka adalah mainan. Disadari atau tidak, anak cowok atau cewek, pasti suka sekali dengan mainan. Saya dulu juga begitu. Sekarang saya sangaaaaaaat merindukan masa kecil saya yang cerah ceria tanpa ada kegalauan yang menghantui *halahcurhat*

Begitu pula dengan Suzuhara Misaki yang akan sekolah di SMP Eriol. Setelah ditinggal oleh sang ayah, ia akhirnya pindah ke rumah adik ibunya di Tokyo. Masalah timbul ketika ia menolak dijemput dan akan berangkat sendiri ke rumah tantenya setelah sampai di stasiun Tokyo. Bukannya berusaha mencari rute yang benar, Misaki jusru terpukau dengan tayangan perkelahian yang disiarkan televisi di dekat stasiun. Ternyata itu adalah turnamen mainan Angelic Layer.

Akhirnya Misaki pergi ke toko mainan dan menghabiskan uang di dompetnya untuk membeli mainan terbut. Dibantu oleh orang aneh yang muncul tiba-tiba bernama Icchan, Misaki yang tidak tahu menahu mengenai Angelic Layer menjadi lebih mengerti ketika akan membeli perlengkapannya. Mulai dari bentuk tubuh, model rambut, hingga pakaian bisa disesuaikan sendiri oleh pemiliknya.

Telur ini berisi Angel. Makanya disebut Angel Egg. Kamu bisa desain sendiri Angel impianmu di dalam telur ini. (hal. 25)

Dalam perjalanan menuju sekolah, Misaki bertemu dengan Kobayashi Kotarou dan adiknya, Hatoko yang masih berusia lima tahun. Tak disangka, Hatoko sangat mengerti dengan tipe Angel milik Misaki (yang bernama Hikaru) hanya dengan melihatnya. Sang kakak, Kotarou, ternyata sekelas dengan Misaki di SMP Eriol. Kehidupan sekolah lebih berwarna dengan kehadiran Kizaki Tamayo yang juga sekelas dengan mereka.

Cuma gara-gara pakai kacamata dan baju putih, aku langsung dituduh cowok mesum! (hal. 67)

Icchan yang selalu muncul tiba-tiba di hadapan Misaki membuat komik ini semakin kocak. Belum lagi pandangan “aneh” orang-orang ketika melihat penampilan Icchan justru memperburuk keadaan. Bermaksud membantu Misaki, Icchan mengajaknya ke tempat latihan Angel agar Hikaru bisa lebih kuat. Tentu saja Misaki menyetujuinya. Harga sewanya 400 yen untuk dua jam lho.

Di sini, Deus atau kamu berkuasa seperti dewa dan mengatur semua gerakan Angel. (hal. 91)

Setelah dua jam berlatih (yang cuman membuat Hikaru bisa nolah-noleh dan berlari doang), Icchan mengajak Misaki bertarung sungguhan di sebuah turnamen. Sebagai pendatang baru yang masih awam, Hikaru bisa mengalahkan lawannya dan membuat Misaki mendapatkan Angel Card yang bisa membuatnya mengikuti turnamen manapun.

Kalau kamu diam, Hikaru juga nggak bisa buat apa-apa! Kamu harus tenang supaya Hikaru nggak terluka! (hal. 103)

Pada turnamen daerah, Misaki mencoba juga untuk mengikutinya. Lawannya ternyata adalah Hatoko! Anak usia TK itu menjadi lawan Misaki pada babak penyisihan pertama! Lantas, bagaimana nasib Misaki selanjutnya? Sanggupkah Hikaru mengalahkan lawan-lawannya dan menjadi juara turnamen daerah?

Dari ide cerita, CLAMP sanggup menghadirkan sebuah ide segar dalam konteks mainan anak-anak. Angel yang modern dan bisa dikendalikan oleh manusia bisa saya katakan sebagai game virtual namun berbentuk tiga dimensi. Tokoh Misaki dengan kepolosan dan perangainya yang menyenangkan sangat khas dengan CLAMP. Humor yang disuguhkan juga terasa pas dan membuat saya nyengir-nyengir.

Ada yang sudah tau Card Captor Sakura? Nah, entah kebetulan atau bukan, saya merasa pola tokoh di Angelic Layer hampir sama dengan Card Captor Sakura. Saya enggak tahu sih yang mana duluan yang muncul di pasaran, tapi rasanya bisa saya asosiasikan Misaki adalah Sakura, Kotarou adalah Syaoran, Tamayo adalah Tomoyo, Hikaru adalah Kero-chan. Meski ceritanya berbeda jauh, saya tidak bisa relate dengan tokoh di Angelic Layer selayaknya Card Captor Sakura. Mungkin karena efek saya tahu Card Captor Sakura duluan kali ya.

Sebagai seri pembuka, buku komik ini sanggup membuat saya penasaran. Jarang-jarang CLAMP yang biasa membuat komik mengharu-biru dengan sketsa “cewek banget” memunculkan adegan pertarungan keren (yah meski pertarungan mainan sih). Tapi mau nyari lanjutannya kok ya kayaknya udah enggak dijual lagi sekarang.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Mr Subase

covermr

Judul: Mr Subase

Tagline: Boss Vintage di Era Modern

Penulis: eVe

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah Halaman: 224 halaman

Terbit Perdana: 2010

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, 2013

ISBN: 9786028260749

cooltext1660180343

Kenapa harus Mr. Subase?

Begini ceritanya. Saya ngefans banget sama Supermen. Bagi saya Supermen adalah manusia terhebat yang hanya bisa ditandingin sama Spidermen, Wonderwoman, Megalomen, atau Satria Baja Hitam. Saya berharap, suatu saat kelak, semua jagoan ini bakal berkumpul kemudian bersatu padu melawan Shinchan. Huahahhaha. TAROHAN! Pasti menang Sinchan!

Ups, balik lagi ke Mr. Subase.

Gak tau kenapa, saya suka banget ama nama manusia yang terdiri dari tiga suku kata. Yang saya amatin, para jagoan dan orang tersohor dunia itu namanya terdiri dari tiga suku kata. Contohnya ya itu tadi, Su-per-men. Yang terkenal di Indonesia, Soe-har-to. Terus di dunia, ada O-ba-ma. Semuanya pake tiga suku kata. Kalaulah Supermen adalah manusia terkuat di hati saya, so’ saya percayakan nasib Boss terlucu di kantor saya pada sebuah nama panggilan sayang, “SU-BA-SE”.

Call him, Mr. Subase!

“Setiap Boss, baik Boss saya maupun Boss kamu semua, kalo ada yang kelakuannya lucu, yang bisa membuat kita semua terhibur dan betah berlama-lama di kantor, silakan panggil dia Mr. Subase.”

cooltext1660176395

Bekerja adalah hal yang lumrah dilakukan seseorang yang telah cukup umur sebagai tenaga siap kerja. Ketika bekerja, mereka mendapatkan gaji/upah sebagai bentuk apresiasi kerja keras mereka dalam tiap satuan waktu tertentu. Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi seseorang yang mendapatkan warisan segunung yang tak habis hingga turunan keseribu.

Ketika bekerja, terkadang pekerja dihadapkan pada rekan kerja yang beraneka macam sifat. Ada yang menyenangkan, menyebalkan, optimis, ataupun oportunis. Tak terkecuali dengan atasan yang jabatannya lebih tinggi. Selayaknya manusia biasa, mereka juga memiliki sifat yang beraneka rupa. Keseharian bersama rekan kerja membuat hari-hari bekerja menjadi lebih berwarna.

Setiap Boss, baik Boss saya maupun Boss kamu semua, kalo ada yang kelakuannya lucu unik, konyol, gaptek yang bisa membuat kita semua terhibur dan betah berlama-lama di kantor, silakan panggil dia Mr. Subase. (hal. 13)

Ada banyak kisah yang disuguhkan dalam buku 224 halaman ini. Rata-rata emang fokus pada hal lucu, konyol, dan ajaibnya kelakuan sang Boss (dalam hal ini Mr. Subase menjadi Direktur Utama), baik dalam hal yang menyangkut pekerjaan ataupun tidak. Salah satu kisah yang menarik adalah kebiasaan Mr. Subase ketika pipis di dalam WC kantor.

“Jawaban lo hampir betul, Mang! Model pipisnya Mr. Subase kayak anak bayi, doi buka semua celananya, dari celana panjang sampe celana dalemnya dibuka dan digantung di pintu kamar mandi, dannnnn… gak ditutup mennnn!” (hal. 85)

Ada lagi cerita tentang Mr. Subase yang latah mengikuti hal trendi dari seorang Komisaris kantor. Niat hati ingin mencari tahu sambil memuji, Mr. Subase malah dibikin keki ama sang komisaris. Malum sepertinya Mr. Subase ini adalah orang yang sudah tidak cocok mengikuti perkembangan tren.

Mr. Subase kecele. Terlalu berusaha cari perhatian memang bisa membuat kita justru jatuh terhempas. Sakit, bokkk. (hal. 105)

Selain Mr. Subase, ada juga Boss yang lain bernama Mrs. Hana sebagai pemegang kuasa keuangan perusahaan. Beliau ini disinyalir adalah orang tajir. Maklum saja, karena bekerja di kantor Mr. Subase bukanlah pekerjaan primer. Beliau memiiki usaha butik yang cukup sukses juga.

Tiap Sabtu ama Minggu pagi, mata saya disejukkan ama puluhan apartemen yang wara-wiri di layar tivi. Belum lagi pembahasan pusat perbelanjaan yang lagi melego jualannya dengan harga yang katanya murah. Kayaknya tontonan tivi kayak gitu khusus buat orang yang tiap hari mandi uang. Yang setiap harinya kerjaannya membungkus emas batangan. Yang lulurannya pake platina. Yang kontak lens matanya terbuat dari berlan. (hal. 147)

Jadi ceritanya, Mrs. Hana ingin membeli (atau memesan) kuburan untuk keluarganya kelak ketika telah meninggal. Sampe milih yang di depan danau lho (ajegilee). Ada lagi kisah cukup unik saat semua orang kantor hendak jalan-jalan ke Jogja. Mr. Subase yang sangat excited sampe jadi lebay untuk urusan datang ke stasiun saat kereta berangkat jam delapan.

“Hooooo… jangan mepet-mepet datangnya, nanti kamu terlambat! Hoooo… datang aja jam 6, dua jam sebelum berangkat! Yah… yah!” (hal. 206)

30 cerita pendek di buku ini selalu menyangkut-pautkan tingkah ajaib sang Boss (mayoritas sih Mr. Subase yang diceritakan). Saya suka cara penulisan eVe. Sangat mengalir dan tidak dibuat-buat untuk menimbulkan kelucuan. eVe adalah salah satu penulis perempuan yang saya rasa cukup sukses mengusung tema humor dalam tulisannya.

Diksi yang sangat pas membuat tiap kalimat bisa saya nikmati dengan nyaman. Tidak seperti penulis humor pada umumnya yang terkesan “maksa” biar bisa lucu. Mr. Subase yang diceritakan juga membuat saya gemes dan mikir sebenarnya kerjaan beliau ini ngapain kok bisa jadi Dirut.

Kelemahan yang saya temukan hanyalah: typo. Ada banyaak broo! Saking banyaknya, saya males nulisin ulang hehehe. Saya mencatat ada 11 kesalahan penulisan dalam buku ini. Itupun yang saya anggap parah dan mengganggu. Belum termasuk kesalahan penulisan tanda baca, pemenggalan kata, penulisan nama artis, penulisan nama tempat, dan penggunaan ejaan kata berbahasa Inggris. Namun karena tidak terlalu mengganggu saat membaca, jadi saya biarkan saja.

Saya juga suka buku ini yang terdiri dari bagian depan yaitu pengenalan tokoh; bagian tengah adalah cerita lika-liku kehidupan Mr. Subase; dan bagian akhir sebagai kisah penutup. Meskipun tidak berhubungan satu sama lain, hal ini membuat saya puas membaca buku ini sampai akhir. So, buku ini cocok dibaca siapa saja. Karena percayalah, berbagai sifat orang ada di dunia ini. Bahkan, orang ajaib kelakuannya juga bisa menjadi Direktur kok.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Hiyokoya Shop (Jilid 1)

coverhiyokoya1

Judul: Hiyokoya Shop (Jilid 1)

Judul Asli: Ikai Hanjouki Hiyokoya Shouten

Komikus: Suda Yuriko

Penerjemah: Wulung Pambuko

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 176 halaman

Terbit Perdana: Juli 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juli 2008

ISBN: 9789792318951

cooltext1660180343

Riku Fukugawa, anak SMP kelas 3 yang hidup sendirian. Dia amnesia, ingatannya sampai umur 10 tahun seakan tidak ada. Namun dia menjalani kehidupan yang damai.

Suatu hari muncul anak-anak aneh tapi lucu di depannya dan menyebutnya “saudara”! Riku pun diminta kerja sambilan di “Hiyokoya Shop” yang dikelola mereka di dunia lain!?

cooltext1660176395

Suatu hal yang ajaib dan tak bisa diterima akal sehat bukanlah halangan dalam dunia komik. Segala macam imajinasi, selama hal itu bisa digambar, rasanya sah-sah aja. Mau itu aneh banget, bikin dahi berkerut, tidak logis, ya silakan semau komikus aja. Termasuk Hiyokoya Shop ini.

Cerita bermula dari seorang anak SMP bernama Riku Fukugawa yang amnesia sejak usia 10 tahun dan tinggal di asrama. Karena sangat menyukai kucing liar di depan asrama, ia berniat untuk merawat kucing tersebut dengan membelikan makanan. Untuk mendapatkan uang, ia berjualan soal perkiraan ujian mid semester kepada teman sekelasnya.

1 mata pelajaran 300 yen. Prakiraan soal ujian mid semester hari ke-3. (hal. 11)

Saat pulang sekolah bersama Mizuno, gadis yang menyukainya, serta kedua sahabat Riku, mereka melewati taman yang kebetulan ada free market (semacam bazaar kali yah). Riku yang belum pernah tahu hal itu, setuju saja ketika diajak kawan-kawannya untuk melihat-lihat. Di pasar tersebut, ada penjual yang menjual ikan mas aneh.

Masa ikan punya kaki dan tangan. Mau makan anak lagi! Apa sih ini? (hal. 22)

Terjadi keanehan saat RIku dan sang penjual berdebat. Karena penjual tersebut mengetahui mata kiri Riku yang aneh dan “tidak biasa”. Belum sempat Riku membalas ocehan si penjual bernama Satsuki itu, ia sudah diminta pulang kerumah oleh Satsuki. Tentu saja Riku heran, ia tidak mengenalnya sama sekali.

Batu roh anak kelima “Hiyokoya” bercahaya. Jadi kau… penghubung yang mereka cari-cari. (hal 28)

Belum hilang rasa heran dan panik, Riku sudah diculik oleh penjual ikan mas tadi (bernama Satsuki, Shii, dan Futaba) melalui pintu aneh di tengah kolam. Saat tersadar, Riku sudah berada di sebuah daerah lain. Ia berada di desa Genroku, dunia Yamato. Ternyata Satsuki cs membawanya ke toko keluarga Hiyokoya.

Rumah Riku… “Hiyokoya” ini. Toko serba ada 3 generasi di desa Genroku. Toko ini diurus oleh kami, suku Hina. (hal 44)

Ternyata eh ternyata, mereka menjelaskan bahwa Riku sesungguhnya berasal dari Genroku dan telah menghilang selama lima tahun lamanya. Kemudian mereka semua berusaha menjemput Riku dan membawanya ke rumahnya sendiri. Riku yang masih belum bisa mengerti, akhirnya memutuskan magang (kerja sambilan) di Hiyokoya satu minggu sekali sambil sekolah di dunia yang “asli”. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah Riku sebenarnya?

Sebenarnya ide ceritanya cukup menarik. Tentang seorang anak yang amnesia dan kembali dijemput keluarga yang telah hilang dari hidupnya. Ditambah ternyata keluarga tersebut menjalankan sebuah toko yang dikelola seluruh anggota keluarga. Meskipun barang yang dijual aneh-aneh, rasanya saya senang sekali membayangkan kehangatan keluarga mereka saat berada di toko.

Kekurangan yang cukup mengganggu adalah banyaknya tulisan di tiap panel. Sampe ada yang nyempil-nyempil. Sebenernya sih gak penting-penting amat. Tapi mata saya terlanjur kepo pengen baca semuanya. Sebagai jilid pertama, terlalu banyak tokoh yang dimunculkan. Jadi kesannya rombongan tokoh bejubel di satu komik. Saya jadi sering lupa namanya siapa aja. Sehingga terkadang ada yang kemunculannya hanya tempelan belaka.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Metro

covermetro

Judul: Metro

Penulis: Gola Gong

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: vi + 106 halaman

Terbit Perdana: Mei 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2005

ISBN: 9789793600710

cooltext1660180343

Jakarta. Kota metropolitan yang sudah terlanjur dicap dengan kehidupan masyarakatnya yang glamour, egois, individualis dan materialistis. Dengan gaya metroseksual, sebagian orang Jakarta tidak peduli dengan kehidupan sosial di sekitarnya. Karena itu, Gola Gong tergugah untuk menyampaikan pesan moral tersebut melalui novel terbarunya, METRO.

Novel beraromakan kekerasan jalanan, yang kuat nuansa islaminya. Bercerita tentang tokoh bernama Baron, petinju yang juga petarung bebas. Dia hidup di lingkungan yang penuh dengan maksiat. Tiba-tiba saja dia melihat bulan sabit dan bintang serta mendengar alunan suara adzan. Pertanda apakah itu?

Metro, sebuah novel yang mempertanyakan jiwa sosial, jati diri, dan solidaritas kita di tengah masyarakat hedonis.

cooltext1660176395

Sisi lain ibukota sepertinya masih menarik dijadikan tema cerita oleh para penulis lokal. Setidaknya kesan glamour, mewah, dan gemerlapan yang digantikan kekerasan dan kekelaman bisa memberikan nuansa baru dalam memandang kota meropolitan dalam sebuah cerita. Karena sesungguhnya segala sesuatu memiliki sisi yang baik dan buruk.

Baron sebagai seorang petinju sekaligus petarung bebas juga seperti itu. Meskipun ia memiliki “pekerjaan” yang sanggup memenuhi kebutuhannya, ia masih merasa tersesat. Khususnya dalam sebuah pandangan mengenai agama.

Baginya agama adalah urusannya dengan Tuhan. (hal. 3)

Bagaimana tidak, ia mendapati bulan sabit dan bintang di langit sore namun kekasihnya, Kirana, tidak melihat hal yang sama. Baron menjadi bingung sekaligus penasaran. Pertanda apakah itu. Karena menurutnya agama bukanlah prioritasnya dalam menjalani hidup. Lagipula Kirana berhasil menjadikannya model produk minuman sehingga penghasilannya lebih dari cukup dibandingkan menjadi petinju dan petarung bebas saja.

Meski Baron adalah seseorang yang keras dan tak segan menghajar lawannya saat pertandingan, ia justru sangat hobi membaca buku. Seems weird, huh? Hal ini membuatnya menjadi idola orang-orang, bahkan ibu-ibu juga tak segan meminta foto bersama.

Sangat jarang seorang petinju profesional, petarung bebas, dan chief security di sebuah tempat hiburan gila pada buku! (hal. 23)

Ketika menjelang pertarungannya dengan Landung, ia mendapati preman terminal, Yopi, kalah dalam pertandingan. Merasa iba, Baron membawanya ke rumah sakit dan membantu pengobatannya. Hal inilah yang membuat Baron menjadi semakin terlihat bukan petarung biasa. Bahkan ketika mengantar Yopi pulang, Baron sempat tertegun melihat keadaan sekitarnya.

Baginya, orang-orang kecil yang mengais rezeki di kerasnya Jakarta itulah, yang menopang kehidupan Jakarta. (hal. 58)

Lantas bagaimana kelanjutan pertarungan Baron dengan Landung? Lantas apa makna bulan sabit dan bintang yang dilihatnya? Apa yang terjadi kemudian dengan hubungan asmaranya? Dan yang lebih penting, siapa sebenarnya Baron itu? Silakan baca sendiri ya.

Ketika membaca novel yang tipis (banget) ini saya tidak berekspektasi macam-macam. Sebisa mungkin saya membaca tanpa beban dan menikmati kata demi kata yang tertulis. Sosok Baron menurut saya adalah pribadi yang langka hampir imajiner. Apalagi jika bukan karena kebiasaannya membaca buku yang berbeda jauh dengan pekerjaannya sebagai petarung. Inilah salah satu poin plus untuk novel ini.

Kekurangannya bagaimana? Ehm, ada beberapa hal sih. Saya bingung kenapa ini novel singkat banget. Mungkin akan lebih baik kisah Baron ini disebut cerpen daripada novel. Selain itu? Endingnya menggantung. Argh! Saya jadi kesal saat membaca halaman terakhir. Banyak sekali pertanyaan di benak saya yang tidak terjawab, bahkan hingga kata paling akhir.

Novel ini juga menyisipkan berbagai kutipan dan informasi yang berfungsi sebagai trivia saat membaca kisahnya. Namun saya pribadi amat jauh lebih menyukai sumber atau info tersebut dijadikan catatan kaki di halaman yang bersangkutan, dibandingkan meletakkan semuanya di halaman belakang yang merepotkan saya bolak balik halaman. Akhirnya trivia keempat dan seterusnya tidak saya pedulikan lagi.

Anyway, kalau membutuhkan bacaan ringan dan tipis, novel (atau cerpen?) ini bisa dijadikan selingan. Konflik yang minim dan tidak terlalu berat membuatnya mudah untuk dipahami. Apalagi alurnya yang maju dan sedikit menguak kehidupan Jakarta bisa memberikan sedikit pandangan mengenai apa yang terjadi di sebuah kota metropolitan ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Jump Around!

coverjump

Judul: Jump Around!

Komikus: Kelingking Kuroshiro

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: iv + 203 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2008

ISBN: 9789792731453

cooltext1660180343

Satria adalah seorang anak SMA yang tidak memiliki kelebihan apa pun yang bisa dibanggakan. Perkenalannya dengan Dio dan klub basket SMA-nya akan membawa Satria menuju dunia basket pelajar di kota Medan, yang saat ini dikuasai oleh tim SMA Sutama 1. Tim basket bergelar ‘The Invincible Team’.

cooltext1660176395

Cabang olahraga bukan sebuah tema yang banyak diminati untuk diangkat menjadi sebuah komik. Selain peminatnya tidak banyak (dibanding romance, IMHO), tema olahraga harus mengandung fakta tentang cabang olahraga yang dimaksud. Artinya, komikus tidak bisa seenak udelnya mengubah komposisi pemain sepakbola menjadi 3 orang saja, misalnya. Namun Kelingking memilih tema olahraga basket menjadi buah karyanya ini.

Adalah seorang anak SMA kelas 1 di SMA S58 kota Medan, Sumatera Utara, yang selalu ditindas. Baik ditindas kakak kandungnya sendiri, maupun ditindas oleh kakak kelasnya yang notabene adalah preman sekolah. Bersama Ade, kawan karibnya, dunia Satria seolah penuh dengan sengsara, duka, dan nestapa *lebay*

Apa boleh buat… udah nasib… kita pendek, sih… jadinya gampang dikerjai… (hal. 27)

Yak benar, salah satu alasan kenestapaan Satria (dan Ade) adalah karena postur mereka yang pendek. Tinggi mereka yang “hanya” 158 cm (kalo gak salah baca) membuat mereka menjadi sasaran empuk kejahilan kakak kelas. Oleh sebab itu, Satria bertekad menjadi anggota klub basket sekolah biar menjadi lebih tinggi sehingga kelak tidak dipermainkan lagi.

Sayangnya, klub basket sekolah sedang mendapat skorsing dari pengurus yayasan Harlex Foundation karena salah seorang anggotanya ketahuan menggunakan narkoba. Padahal sang kapten tim basket, Nakaronne (bacanya naecker-ron) masih berminat melanjutkan klub itu. Oleh karena itu, Satria harus berjuang keras untuk mengaktifkan kembali klub itu demi mencapai impiannya.

Tikus yang terjepit memang memiliki suara mencicit paling memekakkan teling. (hal. 182)

Jalan yang tidak mudah, mulai dari ketua pengurus yayasan yang masih “bocah”, pelatih tim basket yang lebih “imut” dibanding Satria dan Ade, hingga lawan tanding tim basket yang hebat membuat impian Satria tidak dapat diraih dengan jalan yang mulus. Lantas bagaimana akhir dari kisah ini?

Saya memberikan apresiasi yang tinggi pada hasil karya anak bangsa. Terlepas jenis buku apa, temanya apa, dan atau apapun, sudah selayaknya penghargaan yang baik harus diberikan kepada produk lokal dalam negeri. Tak terkecuali komik Jump Around! ini. Salah satu hal yang membuat saya terkesan adalah setting tempat yang ada di Medan. Bukannya apa-apa, saya sudah bosan dengan kisah yang mengambil tempat di Pulau Jawa. 17000 pulau Nusantara masih berpotensi kok dijadikan setting tempat.

Kemudian keberanian Kelingking mengangkat basket sebagai tema cerita cukup unik. Apalagi Satria sebagai tokoh utama yang berbadan “mungil” telah mematahkan pakem bahwa hanya orang berbadan tinggi yang pantas menjadi atlet basket. Dari sini saya sudah bisa mengambil pesan tersirat bahwa kita tidak boleh menyerah meski apapun yang terjadi.

Kekurangannya menurut saya salah satunya adalah artwork. Mulai dari tokoh yang penggambarannya mirip (Satria dan Ade mirip cuman beda warna rambut; Nakaronne dan Harlex mirip cuman beda kostum), goresan yang masih kurang rapi pada adegan pertandingan, hingga postur tubuh yang agak-agak kaku.

Selain itu saya bingung komik ini ingin fokus pada bagian apa. Basketnya kah, kehidupan Satria kah, atau apa. Karena kalau saya baca, bagian basket justru membuat saya bingung sama sekali. Terutama pada istilah-istilah basket yang tidak ada penjelasannya, bahkan sekedar catatan kaki pun tidak. Mungkin emang saya yang cupu, tapi terlalu banyak istilah basket yang bertaburan membuat saya senewen sendiri. Kalau ingin fokus pada kehidupan Satria, malah tidak jelas sama sekali. Dalam arti plotnya kurang komplit. Ibarat puzzle, serpihan yang tidak cocok dipaksa menjadi satu dengan menggunakan selotip.

But anyway, saya cukup enjoy kok membaca komik ini. Di akhir cerita ada sejumput kalimat “C U at the next jump!” membuat saya penasaran membaca kelanjutan komik ini. Eh tapi ada tulisan “TAMAT” juga sih. Enggak tau deh maksudnya mau dilanjutin atau cukup sampai disini saja. Kalaupun dilanjut, semoga ada perbaikan yang cukup sehingga membuat sekuelnya lebih baik dibandingkan yang ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Magic Kaito (Jilid 1)

coverkaito1

Judul: Magic Kaito (Jilid 1)

Judul Asli: Majikku Kaito

Komikus: Aoyama Gosho

Penerjemah: Yuli Restianti

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 186 halaman

Terbit Perdana: 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2005

ISBN: 9789792078992

cooltext1660180343

Kaito Kid selalu datang dan hilang di kegelapan demi mendapatkan barang berharga. Targetnya malam ini, mencuri batu bulan senilai 400 juta yen. Menghadapi ulah Kaito ini, para polisi dan detektif terkenal dibuat sibuk…

cooltext1660176395

Apa jadinya jika seorang pencuri menggunakan sulap untuk mencuri barang buruannya? Sepertinya sangat menarik. Hal inilah yang diangkat oleh Aoyama Gosho dala komiknya berjudul Magic Kaito. Jadi ceritanya, ada seorang pencuri ulung yang tak pernah gagal mencuri buruannya. Bahkan polisi dibuat kelabakan. Namun entah kenapa, pencuri tersebut menghilang selama delapan tahun. Di sisi lain, terdapat seorang remaja SMA bernama Kaito Kuroba yang juga menggemari sulap.

Jadi panel ini terbuka setelah 8 tahun… sulap terakhir Touichi Kuroba. (hal. 22)

Yak benar. Ternyata ayah Kaito, Touichi adalah sang pencuri ulung bernama Kaito Kid yang telah menghilang tadi. Oleh karena itu, Kaito berinisiatif menjadi pengganti sang ayah untuk mencuri Batu Mata Bulan senilai 400 juta yen. Berhasilkan Kaito sebagai Kaito Kid junior?

Di hari yang lain, seorang putri dari negara Sabrina mengunjungi Jepang. Ia memakai batu berharga terbesar di Eropa bernama Full Sun in Paris. Tentu saja Kaito Kid bermaksud mencurinya. Yang jadi masalah, ada seorang detektif bernama Delon yang turut melindungi sang Putri, termasuk dari sasaran pencurian.

Kau lengah Kaito Kid!! Kau tidak tahu kalau batu itu akan bersinar dalam kegelapan.. (hal. 59)

Pada kisah selanjutnya, ada sebuah robot yang berhasil menculik Kaito dan meng-copy ingatannya. Akibatnya, mulai dari sekolah, pekerjaan rumah, hingga menjadi Kaito Kid berhasil dilakukan sang robot. Seolah hal itu adalah kebanggan tersendiri bagi sang robot.

Apa kau sudah lupa? Semua gerak-gerikmu sudah ada dalam programku! Pendek kata, aku bisa memprediksi gerakanmu dengan cepat… (hal. 83)

Cerita paling unik adalah yang berjudul “Kaito Kids’s Busy Holiday” karena pada cerita ini Kaito hampir terbongkar identitasnya saat mencoba mencuri mahkota bidadari. Tak tanggung-tanggung, Aoko sebagai anak perempuan Detektif Nakamori lah yang menjadi saksi mata untuk membuktikan kebenarannya.

Kena kau, Kaito Kid!! Sekarang akan kubongkar identitasmu!! (hal. 108)

Cerita terakhir sebagai penutup komik ini berlangsung pada hari Valentine. Aoko yang malu-malu memberi cokelat pada Kaito ternyata tidak sempat memberikannya. Hampir semua anak laki-laki di kelas terpesona pada anak baru, Akako Koizumi. Ternyata, ia adalah seorang penyihir dan bermaksud menggunakan sihir untuk merebut hati Kaito Kid.

Lagipula, memaksa mendapatkan hati orang dengan sihir hanya akan membuatmu kesepian. (hal. 178)

Secara keseluruhan, komik ini asyik untuk diikuti. Jarang-jarang seorang pencuri menggunakan sulap dan kecerdasan otak untuk mencuri barang buruan. Meskipun pola ceritanya cenderung sama yaitu kirim pemberitahuan-polisi siaga-Kaito Kid mencuri-polisi terkecoh-barang berharga berhasil lenyap. Namun selalu ada sesuatu yang berbeda yang Aoyama berikan. Mulai tehnik mencuri, cara penyamaran, hingga sulap yang dilakukan.

Kekurangannya adalah, karena saya udah baca Detektif Conan duluan, komik ini jadi sedikit membosankan. Mulai dari tokoh yang hampir mirip (Kaito Kuroba = Shinichi Kudo, Aoko Nakamori = Ran Mouri, Detektif Nakamori = Kogoro Mouri, dan lainnya). Memang sih mereka semua juga berperan dalam beberapa kisah Conan, tapi rasanya jadi membosankan meskipun spin-off.

Tapi cukup menarik apabila ingin menikmati goresan gaya Aoyama Gosho yang apik itu. Apalagi tehnik sulap yang disuguhkan dalam komik ini sangat menarik dan memukau (meskipun terlalu ajaib dan mustahil dilakukan). By the way, agak terganggu dengan kebodohan polisi (dan masyarakat) yang tidak ngeh dengan nama “Kaito Kid” dan “Kaito Kuroba”. Padahal kan bisa melakukan investigasi khusus untuk membuktikan kebenarannya.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Seniormoon

coversenior

Judul: Seniormoon

Tagline: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu!

Penulis: Airra Nugie

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: x + 278 halaman

Terbit Perdana: Maret 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2009

ISBN: 9786028066358

cooltext1660180343

Merasa senior kamu galak? Tunggu sampai baca buku ini.

“Lu tau sendiri kan, kalo kita ini sering ngusilin adik-adik kelas.”

“Iya. Terus?”

“Nah itu. Sekarang kita daftar ke IPDN yang budaya senioritasnya keras banget. Itu artinya kita mengantarkan diri ke karma kita sendiri.”

“Apa sih maksud lu? Gue nggak ngerti.”

“Pokoknya, entar di IPDN kita bakal dapet balesan kayak apa yang sering kita lakukan dulu ke anak-anak baru.”

Seniormoon: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu! adalah buku tentang senioritas. Di mulai dari Nugie menjadi senior yang membabat habis-habisan juniornya, sampai masuk IPDN di mana Nugie dibabat habis oleh seniornya, dan di dalamnya diisi oleh pemahaman Nugie tentang arti “kekuasaan” yang sesungguhnya.

cooltext1660176395

Indonesia adalah sebuah negara yang menerapkan pendidikan formal bertingkat. Maksudnya mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Setiap tingkat pendidikan memiliki lama masa belajar yang bervariasi. Ada yang dua tahun, tiga tahun, empat tahun, enam tahun, dan tak hingga yang berujung DO (drop out). Sehingga lahirlah istilah kakak kelas-adik kelas ataupun kakak tingkat-adik tingkat pada setiap masa pendidikan tersebut. Istilah tersebut ditinjau dari waktu pertama kali mengenyam pendidikan dan masa studi.

Disadari atau tidak, istilah tersebut juga sering melahirkan sebutan junior-senior pada lingkungan sekolah ataupun kuliah. Julukan tersebut seringkali didengungkan ketika masa orientasi siswa/mahasiswa baru. Idealnya, senior mengayomi junior dan junior menghormati senior. Namun kenyataannya, ada saja pihak yang menyalahgunakan predikat itu. Hal inilah yang diangkat Nugie dalam bukunya ini.

Paskibra, biarpun tugasnya cuma mengibarkan bendera setiap upacara, tapi pembinaan mental mereka jauh lebih menyeramkan daripada yang lain. (hal. 16)

Buku non-fiksi ini dibuka dengan kisah keisengan Nugie saat masa SMA yang selalu mengincar adik kelasnya. Mulai dari saat MOS hingga pembinaan ekstrakurikuler. Sebenarnya maksud Nugie dan kawan-kawan hanyalah usil ngerjain junior baru. Tapi mungkin hal ini justru balik memberi mereka pelajaran…..dari guru BP. Sepak terjang Nugie ngerjain junior hanya sebagai pembuka kisah. Setelah lulus SMA, ia terancam tak bisa menggapai cita-citanya menjadi sarjana karena terhalang biaya. Tak menyerah, ia mencoba peruntungan pada sebuah lembaga pendidikan yang gratis biaya, yaitu IPDN.

Saat berhasil menjadi anggota IPDN, Nugie bersyukur bukan kepalang. Akhirnya cita-citanya melanjutkan sekolah tanpa merepotkan kedua orang tuanya berhasil. Namanya anak baru (junior), Nugie masih beradaptasi pada berbagai hal yang ditemuinya di kampus. Kisah cerita dalam IPDN inilah yang menghiasi sebagian besar halaman buku ini.

Nambah lagi satu pengetahuanku tentang larangan di IPDN. Pertama dilarang senyum, kedua dilarang cengengesan, dan yang ketiga dilarang makan dan minum sambil berdiri, mungkin lebih baik ngupil pakai jempol kaki. (hal. 102)

Di IPDN, para Muda Praja (sebutan untuk mahasiswa tingkat/tahun pertama) juga menjalani kuliah. Karena kegiatan yang sangat padat dan kurangnya waktu istirahat, saat kuliah berlangsung adalah waktu yang terpaksa dikorbankan untuk tidur melepas lelah.

Hah, gimana negara mau maju, kalau calon pamongnya saja pada tidur pas jam kuliah. (hal. 145)

Masih ingat kasus penganiayaan senior kepada junior IPDN (dulu namanya STPDN) yang mengakibatkan tewasnya junior tersebut beberapa tahun silam? Hal inilah yang dialami Nugie. Setidaknya ia tidak sampai meregang nyawa. Teror bermula ketika Nugie sedang jaga malam. Ia memergoki tiga orang laki-laki sedang merokok dan (sepertinya) menggunakan narkoba.

Kemudian mataku ditutup saputangan. Mereka menyeret tubuhku ke dinding. Aku dipukuli. Beramai-ramai. Aku tersungkur. Mereka menendang dan menonjok perutku dengan membabi buta. Entah berapa kali aku dipukuli, ditendang, dan ditampar. Yang jelas aku merasa sekujur tubuhku hancur seketika. Sakit tak terperi. (hal. 157)

Membaca bagian itu, emosiku tersulut. Itukah sikap calon abdi negara yang kelak memimpin negeri ini? Sekumpulan pengecut yang tak sudi kesalahannya terbongkar. Diri ini merasa tak ikhlas uang pajak rakyat Indonesia digunakan untuk membiayai kuliah ketiga berandalan itu. Selain itu, ada juga sebuah agenda yang cukup memprihatinkan di IPDN (pada saat itu, entah saat ini masih ada atau tidak), namanya kumpul kontingen.

Kegiatan malam yang berisi dengan pemukulan dari senior kepada para junior satu kontingennya tanpa kecuali. Semua pasti mendapat jatah ditonjok perut atau ditendang. Walaupun kita nggak punya salah, tapi pasti pukulan atau tendangan itu akan kita dapatkan. Kegiatan itu sudah turun-temurun dilakukan. Ilegal, tapi tidak pernah ada tindakan dari pihak kampus. Tidak jarang, banyak korban berjatuhan setelah kegiatan ini selesai. (hal. 165)

WTF?! Darah serasa mendidih saat membacanya. Inilah salah satu hal yang membuat saya tidak respek kepada institusi pendidikan bersistem seperti ini. Bagaimana bisa kampus tidak mengambil tindakan? Apakah mau nunggu sampai semua penghuni kampus mati mengenaskan? Sepertinya korban yang tewas beberapa tahun silam karena penganiayaan senior disana juga akibat acara tak berguna ini.

Bunga belum punya pacar, itu artinya aku punya kesempatan untuk bisa menjadi pacarnya. Tapi aku masih ragu untuk mengatakan semuanya. (hal. 182)

Sepertinya Nugie tidak ingin pembacanya larut dalam amarah. Ia menghadirkan sejumput kisah cintanya di IPDN. Ya, Bunga adalah seorang gadis asal Riau yang memikat hatinya. Bagian ini terasa sebuah oase diantara gurun penderitaan IPDN yang penulis ceritakan.

Secara keseluruhan, saya suka buku ini. Bukannya menyukai penderitaan yang Nugie alami. Namun lebih kepada rasa salut karena penulis bersedia membagi catatan hitam kehidupannya saat menjadi bagian kampus besar IPDN. Keberanian yang patut diacungi jempol. Tidak banyak orang yang mau membeberkan kisah dibalik gerbang megah kampus tersebut.

Karena buku ini adalah personal literature, saya bisa mengerti apa yang dirasakan penulis ketika mendapat tindakan penganiayaan, baik dalam konteks kurikulum/sistem kampus maupun “keisengan” senior. Saya adalah orang yang anti kekerasan. Apalagi kekerasan di sebuah lembaga pendidikan yang dilakukan oleh senior kepada junior.

Nugie berani membeberkan boroknya IPDN dengan cukup jelas (semoga kegiatan penganiayaan dengan alasan apapun seperti itu saat ini sudah musnah). Meskipun tidak semuanya, namun saya sudah memiliki cukup gambaran kehidupan IPDN di masa lalu. Oh iya, kisah cintanya dengan Bunga juga menarik untuk diikuti. Saya bisa merasakan ketika seusianya pastilah bahagia-bahagia-agak-salting saat pengen mengungkapkan cinta hehehe.

Kekurangannya menurut saya adalah nuansa humor pada bagian awal-awal terasa berlebihan. Baik secara tulisan reka kejadian ataupun berbagai hal absurd tak penting. Mungkinkah karena editor buku ini adalah Raditya Dika? Entahlah. Namun, agak ke tengah hingga halaman terakhir, humor yang ditulis sudah bisa dikondisikan porsinya dan membuat saya nyaman membaca.

Kisah yang dialami penulis dan dituliskan di buku ini terasa sangat miris dan membuat hati ini teriris (yes, I make a rhyme!). Budaya perploncoan memang harus dibumihanguskan dari lembaga pendidikan manapun. Terlebih lagi perploncoan yang dibarengi dengan penyiksaan fisik. Bagaimana bisa seorang peserta didik menjadi termotivasi menuntut ilmu apabila selalu dibayangi siksaan fisik ataupun “keisengan” senior.

Buku ini membuka pikiran saya bahwa tak selamanya kakak tingkat/kakak kelas adalah orang yang patut dijadikan teladan. Terkadang beberapa dari mereka tak lebih dari sekedar manusia pengecut tak memiliki hati nurani. Yang jelas, dalam menghadapi situasi sesulit apaun, kita masih memiliki Tuhan yang senantiasa membantu hamba-Nya yang selalu dekat kepada-Nya. Ingatlah, bahwa setelah hujan masalah akan ada pelangi kebahagiaan yang muncul. Buku ini cocok dibaca usia remaja hingga usia senja karena bisa membuka pikiran serta banyak terselip pesan moral menyejukkan hati.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Western Shotgun (Jilid 1)

coverwestern1

Judul: Western Shotgun (Jilid 1)

Komikus: Park Min-Seo

Penerjemah: Blue Moon

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 168 halaman

Terbit Perdana: 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2004

ISBN: 9789792052930

cooltext1660180343

Sting, yang memilih menjadi bounty hunter setelah bertemu dengan Black, menetapkan Gold Romany sebagai target utamanya. Namun, uang hadiah 70 juta drobe atas mereka jelas menunjukkan mereka bukan orang sembarangan…

cooltext1660176395

Sebuah tema kekerasan dengan menggunakan pistol dan adegan tembak-tembakan sepertinya cukup banyak dalam dunia perkomikan. Selain target pasarnya emang anak lelaki (yang entah kenapa adegan seperti itu terlihat keren banget), tema seperti itu bisa sedikit memberikan pesan moral bahwa kekerasan terkadang tak bisa menyelesaikan masalah.

Begitu pula dengan komik berjudul Western Shotgun hasil karya Park Min-Seo. Sepertinya sih, komik ini khas korea yang biasa disebut manhwa ya *cmiiw. Meskipun Min-Seo orang Korea, dari sketsa gambar mirip-mirip dengan manga. Maklum gaya gambar manga memang masih juara dalam dunia perkomikan dunia (menurut saya).

Cerita dibuka pada sebuah daerah Barat (yang entah dimana), ada seorang bandit bernama Dark Scorpion beserta anak buahnya sedang baku tembak dengan Black, sang hunter. Ditengah pertarungan, muncul seorang anak yang bertindak bodoh sehingga ditangkap oleh Dark sebagai sandera.

Jika kau tidak membuang senjatamu, anak ini akan kesakitan!! (hal. 10)

Meskipun agak ceroboh, anak bernama Sting ini malah berhasil mengalahkan Dark Scorpion. Namun bukannya membagi hasil imbalan, Black justru meninggalkan Sting sendirian. Merasa merana dan tak ada uang sama sekali, akhirnya Sting memutuskan menjadi hunter untuk menyambung hidup. Ia ingin menangkap Gold Romany yang berharga 70 juta drobe.

Pada sebuah toko, ia bertemu dengan Romie. Sang gadis cantik itu hendak membeli (ehm, lebih tepatnya ngutang) bahan makanan. Tak disangka, malah terjadi perampokan dengan Romie sebagai korban. Yang dirampok adalah bahan belanjaan Romie (gile gak penting banget). Sting yang masih ada disekitar toko itu berhasil mengalahkan perampok dan berbaik hati mengawal Romie hingga ke rumah.

Apa pekerjaan Tuan Sting? Saat ini, jarang sekali, lho ada orang yang berpetualang sendirian. (hal. 43)

Ternyata Romie tinggal dengan tiga orang wanita yang lain (sepertinya sih saudarinya). Setelah berbincang singkat dan diberi makan, Sting pun pulang ke err, hotel (iya, cuman bisa bayar semalem doang hahaha). Secara kebetulan, hari itu adalah saatnya pasukan petugas keamanan menangkap Gold Romany yang berusaha mencuri batangan emas.

Dasar tikus! Tempat sekecil ini saja masih bisa menghindar!! (hal. 77)

Emang Sting ini bego atau pura-pura bego, ia malah numpang di mobil yang dicuri Gold Romany dan tidak sadar bahwa supir di hadapannya itu adalah anggota Gold Romany. Lantas, apakah ia sukses menggagalkan rencana Gold Romany? Apakah Sting bisa mendapat 70 juta drobe? Bagaimana dengan Romie dan saudarinya? Silakan baca sendiri deh.

Komik edisi nomor 1 memang masih tidak jelas asal-usul dan jalan ceritanya mau dibawa kemana hubungan kita. Siapakah Sting sebenarnya, mengapa ia bisa memiliki kemampuan hebat, dan berbagai hal lain belum dijelaskan di jilid ini. Mungkin di jilid selanjutnya akan dipaparkan lebih lanjut.

Oh iya, mengenai setting tempat, memang tidak jelas ya daerah Barat itu maksudnya yang dimana. Namun setting waktu membuat saya bingung juga. Soalnya dari pakaian para tokohnya pada belibet semua. Mungkinkah mengambil waktu abad pertengahan? Eh tapi ada pistol dan nitro (iya buat bikin cepet mobil itu tuh) juga. Entahlah, saya juga jadi penasaran.

So far so good sih, bisa menghibur dan emang keren. Terutama adegan pertarungan dan action yang tersebar dimana-mana. Humornya juga pas, enggak berlebihan dan kekurangan. Sensasi tersendiri aja sih baca komik yang tokoh harusnya sangar gahar dan beringas malah bisa guyon hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Anak Kos Dodol

coveranak

Judul: Anak Kos Dodol

Tagline: Catatan Mahasiswa Gokil van Djokja

Seri: Anak Kos Dodol #1

Penulis: Dewi “dedew” Rieka

Penerbit: Gradien Mediatama

Jumlah Halaman: 191 halaman

Terbit Perdana: 2008

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, 2009

ISBN: 9789791550161

cooltext1660180343

“Benar2 nyata. Benar2 dodol. Tapi juga benar2 bermakna. Buku harian yang memberi tawa ‘n perenungan” – Ken Terate, Penulis Teenlit, Djokdja

“Pengalaman ngekos emang selalu seru! So buku ini bisa jadi ‘bacaan nostalgia’ yang asyik buat yang pernah ngekos, bisa juga jadi ‘bacaan menyenangkan’ buat yang ingin tau dunia kos lahir-batin, tapi bisa juga jadi ‘bacaan bimbingan’ cara ngekos yang baik dan benar buat yang ingin ngekos! Jadi mari kita ngekos bareng-bareng eh sory, maksudnya mari kita nikmati isi buku ini!” – Boim Lebon, Penulis Cerita Anak & Remaja, Produser TV, Jakarta

“Asli, kocak banget! Nih buku pasti bikin semua anak kos terkenang-kenang masa hepi, pas bokek, bebas merdeka en nonton VCD malam pertamanya! Hehehe… Kudu dibaca!” – Afny Yuniandari, Karyawati Swasta, Penghuni kos 5 tahun, Bekasi

“Seger banget. Awalnya, aku pikir bakal ngebosenin eh ternyata malah jadi ga bisa berhenti baca. Bikin gue mupeng, pengen ngekos bareng cewek-cewek dodol! Hohoho.” – Adhika Putra R, Dokter Muda Unpad, Jomblo Bahagia, Bandung

cooltext1660176395

Usia remaja hingga dewasa muda, biasanya pernah mengalami masa-masa ngekos. Baik dalam rangka menuntut ilmu saat sekolah/kuliah ataupun ketika memasuki dunia kerja. Ngekos banyak dipilih karena tidak terlalu ribet daripada ngontrak rumah. Saya aja udah empat tahun ngekos sejak saya masih mahasiswa baru.

Buku ini mengangkat tema bagaimana seru dan dodolnya dunia perkos-kosan kaum hawa di kota pelajar, Yogyakarta. Penulis seakan ingin memberi kesan bahwa ngekos itu tidak selalu identik dengan kelaparan, irit, dan sengsara tapi juga bisa dibawa hepi dan terkadang membawa pengalaman unik yang baru.

Karena ada 33 cerita, jadi saya ambil beberapa saja ya yang berkesan. Kisah pertama adalah cerita tentang adanya desas-desus hantu/setan di kosnya Mbak Dewi. Namanya kos-kosan cewek, pasti jadi panik dan takut gara-gara isu itu. Untuk menghalau rasa takut, mereka tidur bareng-bareng bak ikan pindang dijemur.

Untuk bisa tidur pulas dalam suasana seperti itu, dibutuhkan keahlian khusus. (hal. 19)

Kisah agak sedikit mellow dan inspiratif berjudul “Ulang Tahun ke-20” karena bercerita tentang dampak negatif dari sesuatu hal yang tidak penting. Ceritanya anak kos ingin memberi kejutan pada Kayla yang berulang tahun. Celakanya, keisengan itu berujung maut dan memberikan dampak traumatis pada penghuni kos.

Tiba-tiba, gadis itu menginjak pecahan telur dan… gubrak! (hal. 27)

Ada lagi cerita berjudul “Balada Beasiswa Kita” seakan-akan penulis sedang menyindir para beasiswa hunter (dan beasiswa taker) yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan beasiswa tanpa melihat kondisi dirinya yang bisa dikatakan sangat jauh dari kata miskin (alias kaya raya). Padahal orang yang jauh lebih membutuhkan masih ada di sekitarnya.

“Aku sudah berusaha keras, Ret… mencari surat keterangan tak mampu itu, aku sampai direndahkan petugas. Kulengkapi semua persyaratan. Masya Allah, aku tak mendapatkan beasiswa itu, Ret… padahal aku butuh sekali untuk kuliah lapangan,” isaknya pilu. (hal. 44)

Yang tak kalah menarik adalah kisah berjudul “Mbah Dukun? Nyai Peramal?” yang mencoba mengangkat fenomena ramalan yang melanda anak kos. Namanya anak muda, masih suka yang seru-seruan sekaligus bermanfaat (ada gak ya?). Ramalan terasa sebagai salah satu keisengan yang bisa dijadikan jalan keluar. Kalau ramalannya baik, hati senang. Tapi kalau ramalannya buruk, jadi was-was juga.

Hmm… kenapa ya pada berbondong-bondong ke peramal, apakah dengan datang pada mereka menimbulkan rasa aman? Memuaskan keingintahuan kita? Padahal Tuhan adalah sang pemiliki kebenaran dan semua bermuara pada kehendak Dia. (hal. 90)

33 cerita yang dimuat dalam 191 halaman ini terasa cukup banyak (ralat, banyak banget) menurut saya. Tidak adanya keterkaitan satu cerita dengan cerita lain membuat buku ini asik dibaca mau dari cerita manapun. Sesuai blurb diatas, buku ini cukup cocok sebagai media nostalgia, media cerminan diri, ataupun gambaran ngekos seperti apa.

Kekurangannya? Sorry to say, but I’ve found a lot of weaknesses (from my point of view, of course). Mulai dari gaya bercerita. Baiklah saya tau setiap penulis memiliki ciri khas masing-masing. Tapi cara penulisan Mbak Dewi Rieka ini menurut saya: sangat lebay banget. Mulai dari “ciee”, “bo!”, “apaseeeeh?”, “maksud loe?” dan sebagainya yang disisipkan ke berbagai kalimat di buku ini. Menurut saya kata-kata seperti itu tidak penting dan mengganggu kenyamanan saya saat membaca. Alih-alih membuat terpingkal, saya justru jengkel sendiri saat membacanya.

Pada beberapa cerita, terdapat ending atau akhir yang jelas. Yah meskipun tidak semuanya mengandung pesan moral, tapi setidaknya ada akhirnya lah. Tapi beberapa cerita malah ada yang ngegantung. Aduh niat nulis cerita nggak, sih? Saya tipikal orang yang menyukai akhir yang jelas (terserah mau hepi atau tidak).

Dari segi humor, saya tidak merasa lucu tuh. Paling mentok nyengir, itupun bisa dihitung jari. Karena sependapat saya, kalau perempuan menulis genre humor, jatohnya jadi garing. Kedodolan para penghuni yang diceritakan disini malah tidak membuat saya tertawa, tapi mengernyitkan dahi gara-gara enggak tahu kocaknya dimana.

Di halaman terakhir, sempat disinggung sebenarnya tulisan di buku ini adalah postingan di blog pribadi penulis *cmiiw. Tapi apakah memang tidak ada proses editing? Saya tahu mungkin jika diedit akan mempengaruhi orisinalitas tulisan, tapi mosok ya penulisan huruf yang benar bisa mempengaruhi? Karena saya banyak sekali menemukan typo dimana-mana. Saya tidak mencatat semuanya sih.

By the way, penulisan “Djokdja” terasa agak aneh buat saya. Saya agak heran kenapa buku ini bisa sampai tiga seri (kalau tidak salah) bahkan muncul komiknya juga. Apakah mungkin karena buku ini bukan my cup of tea, saya cowok yang tak bisa mengerti dunia kosan cewek, atau entahlah. Euphoria yang terasa bombastis (pada jaman dahulu) itu menurut saya kok terlalu dibesar-besarkan. But anyway, kalau mau baca tulisan cukup menghibur dunia kos-kosan cewek, boleh lah melirik buku ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Tahuchi Mister

covertahuchi

Judul: Tahuchi Mister

Komikus: DS Group

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 180 halaman

Terbit Perdana: 1996

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 1996

ISBN: 9796630249

cooltext1660176395

Komik khas Indonesia, baik cerita, tokoh, atau bahkan penulisnya sendiri sangat jarang ditemukan. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit. Setahu saya, kebanyakan pemilik bakat komikus hanya menghiasi ilustrasi-ilustrasi buku non komik ataupun banting setir ke format buku yang lain. Hal ini salah satunya disebabkan oleh anggapan umum masyarakat bahwa komik yang bagus (baik cerita ataupun tokohnya) adalah komik dari negeri sakura.

Sekitar 18 tahun yang lalu, (sepertinya) Dwianto Setyawan bermaksud untuk kembali mengangkat kehidupan komik Indonesia. Secara kebetulan, pada tahun tersebut, Indonesia didera euphoria komik bejudul Kungfu Boy hasil karya Takeshi Maekawa. Sehingga Dwianto membentuk tim bernama DS Group untuk menggarap sebuah komik asli Indonesia dengan mengadaptasi tema yang seupa. Kemudian lahirlah Tahuchi Mister.

Cerita bermula dari seorang ahli silat di perkampungan pabik tahu yang sedang berlatih. Ia bernama Tahuchi. Ternyata menjadi seorang ahli silat atau kungfu itu tidak mudah. Benar saja, ia mendapat serangan dari penjahat bernama Jagoan Bengong yang merupakan seorang murid dari makhluk luar angkasa. Ealah tenyata Tahuchi malah sukses menghajar Jagoan Bengong.

Kamu memang bodoh!! Ke mana jurus Jupiter, Mars, Saturnusnya? Tendangan pinalti! Cakar ayam dan bogem mentah! (hal. 23)

Setelah behasil mengalahkan Jagoian Bengong, Tahuchi berhadapan dengan Tombak Sakti. Meeka bertarung di Bukit Sansan. Apakah Tombak Sakti menang? Ehm, ternyata dia kalah sodara-sodara hahahaha. Bahkan sang Tombak memanggil bala bantuan untuk bisa melawan Tahuchi.

Siapa dulu dong orangnya? Tahuchi Mister! Jago dari segala jago taichi! (hal. 47)

Kemudian setelah membereskan musuhnya, Tahuchi pergi ke Bukit Barisan untuk bertemu dengan Pangeran Ling-Lung, seorang tuan tanah yang kejam. Kayaknya sih Tahuchi ingin membereskan segala macam ketidakadilan di dunia ini *ahelah. Tak disangka-sangka, ia malah bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Lilin. Bahkan  sempat terjadi kesalah pahaman disini.

Datang-datang kamu langsung menyerang! Apa salahku suaaayaaank! (hal. 23)

Saling bahu-membahu, mereka berdua pergi untuk melawan sang Pangeran. Apakah mereka berhasil dalam menggempur istana dan bertemu pangeran kejam? Silakan ikuti dalam komik one shot asli Indonesia berjudul Tahuchi Mister.

Disaat komik Indonesia mengalami mati suri (cmiiw) pada tahun tersebut, saya rasa Tahuchi mampu memberi sebuah nuansa komedi segar dalam bentuk komik. Apalagi latar belakang Tahuchi sebagai juragan tahu sepertinya terasa Indonesia banget (meski di Jepang juga ada sih). Kemudian nama-nama tokohnya juga sangat Indonesia dan tidak sok-sok pakai bahasa asing agar terlihat keren.

Dari segi cerita, saya rasa cukup bagus. Meskipun mengadaptasi (atau terinspirasi?) dari Kungfu Boy, Tahuchi tidak disebutkan sedang mempelajari kungfu. Melainkan silat sebagai budaya Indonesia. Dan segala macam tempat tidak ada yang menggunakan bahasa asing (bahsa Inggris) sih, kecuali emang sebuah tempat tertentu (misalnya Bukit Sansan). Jadi kental banget bahasa Indonesianya.

Kekurangannya bagaimana? Sayang sekali, ide dan tujuan terpuji untuk membangkitkan perkomikan Indonesia tidak diimbangi dengan eksekusi yang sempurna. Alur cerita berjalan sangat cepat dan tidak jelas asal-usulnya. Maksudnya, dalam 180 halaman menampung banyak cerita dan puluhan tokoh yang tidak jelas juga. Saya tidak bisa mengerti apa alasannya.

Karena ini komik humor, saya justru menyayangkan humor yang terlalu banyak dan ditempatkan pada bagian yang tidak pas. Jadi membuat saya sering berkata “apa sih ini??” berkali-kali. Tahuchi sebagai tokoh utama malah tidak terlalu lucu. Dan apa ya, humornya itu terasa sangat garing.

Saya rasa alangkah lebih baik jika emang berminat membuat komik one shot, tidak usah terlalu banyak konflik. Lebih baik sedikit namun mendalam daripada terlalu banyak malah kemana-mana. Kalau niat banyak konflik, buat berseri saja lebih cocok. Sangat disayangkan sih padahal sebagai komik asli Indonesia seharusnya patut mendapatkan apresiasi yang baik.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Demam Kabin

covertengil6

Judul: Demam Kabin

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Cabin Fever

Seri: Diary Si Bocah Tengil #6

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Maria Lubis

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218 halaman

Terbit Perdana: November 2013

Kepemilikan: Cetakan Ketiga, November 2013

ISBN: 9786021440209

cooltext1660180343

Greg Heffley terlibat masalah besar. Properti sekolah dirusak, dan Greg adalah tersangka utama. Tapi, yang gila adalah, dia tidak bersalah. Atau, setidaknya bisa dikatakan begitu.

Pihak berwenang mulai memburunya, tapi saat badai salju tiba-tiba menyerang, keluarga Heffley terperangkap di dalam rumah. Greg tahu, saat salju sudah mencair, dia harus menghadapi masalah ini. Namun, mungkinkah hukuman apa pun bisa lebih buruk daripada terjebak di dalam rumah bersama keluagamu selama liburan?

PARA PEMBACA MENGGEMARI SERIAL DIARY SI BOCAH TENGIL – USA Today, Publishers Weekly, Wall Street Journal, dan Bestseller No. 1 New York Times

“Diary si Bocah Tengil karya Jeff Kinney adalah keajaiban baru dalam bisnis buku.” – Parade

“Serial Diary si Bocah Tengil adalah suatu pencapaian besar dalam dunia penerbitan masa kini.” – The Hollywood Reporter

“Diary si Bocah Tengil akan mendominasi dunia.” – Time

“Salah satu serial anak-anak paling sukses yang pernah diterbitkan.” – The Washington Post

cooltext1660176395

Lika-liku perjalanan kehidupan Greg masih berlanjut pada buku keenam (yang diterjemahkan). Pada buku bersampul warna biru cerah ini, Greg kembali bercerita mengenai kehidupan remajanya yang sepertinya makin hari makin memuakkan. Salah satu masalah yang ia hadapi adalah menghilangnya peralatan bermain di sekolah. Ia merasa tersiksa ketika jam istirahat tiba.

Aku mendengar sekolah mengalami masalah pembayaran asuransi taman bermain, jadi setiap kali ada suatu kecelakaan atau luka akibat peralatan itu, hal paling mudah untuk dilakukan adalah menyingkirkannya. (hal. 23)

Hal yang selalu ada di buku Diary si Bocah Tengil adalah mengenai Greg yang ingin meminta hadiah untuk Natal ataupun ulang tahun. Tak terkecuali di buku ini. Namun bedanya, di buku ini Greg mendapat kesulitan karena banyak sekali hal yang ngin ia minta.

Yang kusadari adalah, jika setiap kali kita mendapatkan sesuatu yang keren sebagai hadiah ulang tahun atau Natal, seminggu kemudian, benda itu akan digunakan sebagai senjata pemeras bagi kita. (hal. 47)

Ada lagi masalah di sekolah ketika ada Tes Kebugaran Nasional untuk semua sekolah. Dan mau tidak mau, sekolah memberlakukan sebuah latihan olahraga intensif untuk semua siswa agar bisa meningkatkan posisi peringkat sekolah.

Orang-orang dewasa berkata bahwa masalah terbesar anak-anak zaman sekarang adalah kebugaran tubuh, karena kami tidak cukup banyak berolahraga. (hal. 99)

Di hari yang lain, Greg ingin menjual buku komik miliknya yang ditandatangai oleh penulis. Namun Mom malah melarangnya karena beranggapan ketika Greg memiliki anak nanti di masa depan, mereka akan murka mengetahui ayah mereka menjual komik yang sangat berharga. Namun bisa kamu tebak apa yang dipikirkan Greg?

Aku ingin menjadi bujangan seperti Paman Charlie-ku, yang menghabiskan seluruh uangnya untuk liburan, dudukan toilet yang bisa dihangatkan, dan hal-hal semacam itu, bukannya membiayai sekawanan anak tak tahu terima kasih. (hal. 110)

Di sisi lain, kasus mengenai kerusakan fasilitas sekolah yang menggegerkan itu ternyata berujung maut pada Greg. Alih-alih ia selamat dari tuduhan dan hidup damai, justru dengan mudah ia dipanggil oleh Wakil Kepala Sekolah untuk mempertanggungjwabkan perbuatannya. Dan tahukah siapa yang melaporkan Greg?

Aku tak tahu apakah Rowley melakukannya secara sengaja atau apakah dia benar-benar tolol, tapi kukira yang benar adalah kemungkinan kedua. (hal. 149)

Sepertinya keluarga Heffley benar-benar menghadapi masa sulit ketika hujan badai salju berlangsung sehingga mereka terjebak di dalam rumah karena salju menghalangi pintu keluar. Keadaan bertambah parah saat Manny melakukan sabotase pada salran listrik di rumah.

Mom bertanya pada Manny mengapa dia memadamkan listrik bagian rumah yang lain, dan Manny mulai mengoceh. Katanya, itu karena tidak ada yang mau mengajarinya menalikan sepatu. (hal. 204)

Saat membaca buku ini, apa ya, terasa ada sesuatu yang beda. Apakah dikarenakan penerjemahnya ganti setelah lima buku pendahulunya sehingga taste of words-nya berbeda? Entahlah. Tapi kalau dari segi tema, memang berbeda sih. Disini Greg terkesan menjadi seorng berandalan cilik meskipun dengan alasan yang menurutnya baik.

Di buku ini, saya sukses membenci tokoh Manny dan Rowley. Sang penulis berhasil menggambarkan Manny sebagai adik yang menyebalkan buianget. Jika saya menjadi Greg, saya rasa tidak akan berpikir dua kali untuk menendang Manny (aduh kok saya jahat). Tapi ya gimana, Manny benar-benar licik dan sangat egois terhadap diri sendiri.

Bagaimana dengan Rowley? Aduh saya tidak bisa memahami ada seorang siswa SMP yang sangat tolol dan kekanakan sekali seperti anak SD. Tidak hanya dalam akademis, tapi juga sikap dan perilaku. Saya bahkan tak bisa mengerti mengapa Greg betah bersahabat dengan Rowley.

Dibalik kelebihannya yang bisa menggambarkan sosok Rowley dan Manny untuk saya benci, ternyata ada beberapa kekurangan sih. Salah satunya adalah humor. Ya benar, ketika membaca buku ini, saya sama sekali tidak tertawa seperti ketika membaca lima buku sebelumnya. Paling banter hanya nyengir, itupun bisa dihitung gak sampe lima kali kayaknya. Apakah karena perbedaan terjemahan? Atau memang aslinya begitu? Enggak tau ya. Tapi saya benar-benar kecewa karena lucunya (yang seharusnya ditonjolkan novel ini) malah tidak sampai ke saya.

Sebagai sekuel Diary si Bocah Tengil, buku ini cukap baik lah mengobati kerinduan terhadap hari-hari Greg. Tapi kalo dlihat segi kelucuan, bagi saya sih amat sangat kurang. Saya berharap buku selanjutnya (apabila memang diterjemahkan) bisa menghadirkan kelucuan yang sempat hilang di buku ini hehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Q.E.D (Jilid 1)

coverqed1

Judul: Q.E.D (Jilid 1)

Tagline: Quod Erat Demonstrandum

Komikus: Motohiro Katou

Penerjemah: Faira Ammadea

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: 198 halaman

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2003

ISBN: 9789792041927

cooltext1660180343

Kana, putri seorang polisi yang tomboi, bersama Toma yang jenius, berusaha menyelesaikan kasus-kasus yang ada di sekitar mereka. Kasus pertama yang mereka hadapi adalah kematian ayah teman Kana, seorang presdir suatu perusahaan game. Dia meninggal dengan menggenggam kartu King Diamond…

cooltext1660176395

Kisah detektif sepertinya tidak ada habisnya untuk diangkat menjadi sebuah komik. Salah satu komik tersebut adalah Q.E.D hasil karya Motohiro Katou. Tokoh utama dalam komik ini adalah Toma dan Kana. Awalnya mereka berdua tidak saling kenal. Hanya kebetulan di sebuah game centre, Toma berhasil mengalahkan 100 pemain pada sebuah permainan. Ujung-ujungnya malah memicu perkelahian. Beruntung ia berhasil keluar disusul oleh Kana dan Noriko, teman Kana.

Selama ini dia tinggal di Amerika, lho. Karena nilainya bagus, dia bisa meloncat ke jenjang yang lebih tinggi. Saking pintarnya, sebenarnya dia sudah kuliah. (hal. 15)

Kasus pertama berjudul “Burung Hantu Minerva” ternyata melibatkan ayah Noriko, Arita, seorang presiden direktur perusahaan game bernama A-KS Entertainment. Beliau tewas karena sebuah pisau menembus jantungnya. Ada enam orang yang dicurigai sebagai pelakunya yaitu Ryuuzo Kishikawa, Juuzo Shikijima, Tokuji Namiki, Tsunehiro Asanuma, Tadashi Furuike, dan Tohko Minamida.

Suatu kasus bisa diibaratkan seperti puzzle kejadian yang terjadi di masa lalu. Dan secara teori, fakta adalah potongan-potongan yang akan membentuk keseluruhan puzzle itu. (hal 50)

Kasus semakin rumit ketika Ryuuzo Kishikawa meninggal karena jatuh dari atap gedung dengan meninggalkan sebuah pesan kematian. Benarkah demikian? Lantas siapakah sesungguhnya  yang tega membunuh ayah Noriko? By the way, cara Kana untuk mencari bukti dari kesaksian tiap tersangka cukup menarik untuk diikuti.

Kasus kedua dengan judul “Si Mata Perak” mengambil tokoh tetangga Kana bernama Suzuko Nanasawa. Ibu Suzuko, Katsumi Nanasawa merupakan pembuat boneka terkenal. Bahkan boneka yang dibuat beliau bisa laku seharga dua hingga tiga juta yen. Sedikit masalah ketika di pameran boneka, Noriko dituduh oleh pria bernama Akutsu karena merusakkan sebuah boneka mahal tersebut. Beruntung dengan ketelitian Toma, justru Akutsu yang kena batunya.

Korban menderita penyakit kelainan ritme jantung… untuk mengatasinya, korban memakai alat pacu jantung istrik supaya kembali normal. Mungkin saja alat itu tiba-tiba rusak… tapi kita baru akan mengetahuinya setelah dilakukan autopsi. (hal. 131)

Ya benar, Atsuku meninggal dunia pada museum boneka Nanasawa yang hendak dibuka sebulan lagi. Yang menemukan mayat beliau adalah Suzuko Nanasawa, Yasumichi Yosino (tunangan Suzuko), dan Akira Yasuoka (pengawas museum sekaligus pelayan Katsumi). Yang janggal adalah, ketika dimintai keterangan, mereka bertiga memberikan kesaksian yang saling bertentangan. Lantas, siapakah pelaku sesungguhnya?

Ciri khas kisah-kisah pada komik detektif adalah banyaknya tokoh baru di setiap kasus namun akan menghilang ketika kasus tersebut telah diselesaikan. Begitu pula dengan Q.E.D ini. Dan saya sama sekali tidak berminat menghapalkan nama tokoh (selain tokoh utama) agar bisa lebih menikmati cerita huahahaha

Sebagai edisi pembuka serial Q.E.D, saya rasa sudah cukup bagus dalam membangun rasa penasaran. Misalnya mengapa Toma bisa begitu pintar namun malah masuk SMA biasa, siapakah nama lengkap Kana dan Toma (serius, saya tidak bisa menemukan nama keluarga mereka berdua meskipun ayah Kana adalah polisi yang juga muncul di cerita), serta apa arti Q.E.D alias Quod Erat Demonstrandum. Karena Toma selalu menuliskan Q.E.D ketika telah menemukan jawaban kasus yang terjadi. Oh iya, gambar di komik ini tidak terlalu berdarah-darah sehingga masih aman dibaca saat sedang makan *eh

Kekurangannya mungkin latar belakang tokoh utama masih belum terjelaskan (mungkin nanti di jilid berikutnya kali ye). Selain itu, agak aneh aja Kana yang belum kenal Toma tiba-tiba langsung menyeret-nyeret Toma dan memarahinya, bahkan langsung mengajaknya ke tempat kasus ayah Noriko. Terlalu SKSD aja sih menurut saya dan cenderung dipaksakan banget.

Kalau dari segi penyelesaian kasus, sebenarnya bagus dan membuat saya kagum. Cuman, banyak sekali hal-hal yang tidak digambarkan pada saat penyelidikan. Tiba-tiba Toma bisa tahu dan menjelaskan dengan lancar. Seolah pembaca tidak diberi kesempatan untuk menebak dengan pemikirannya sendiri. Padahal sensasi seperti itulah yang saya nikmati saat membaca komik detektif.

Saya rekomendasikan kepada remaja hingga dewasa yang ingin menikmati komik detektif cukup ringan, bisa membaca Q.E.D sebagai alternatif. Karena penyelesaiannya masuk akal dan cenderung mudah diikuti. Berbeda dengan komik sebelah yang memiliki tokoh anak kecil berkacamata, saya malah pusing membacanya karena bahasa yang ketinggian (tapi saya suka!).

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Kenyataan Pahit

covertengil5

Judul: Kenyataan Pahit

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: The Ugly Truth

Seri: Diary Si Bocah Tengil #5

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 219 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2011

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, Februari 2014

ISBN: 9789790244740

cooltext1660180343

Sejak dulu, Greg Heffley selalu ingin cepat-cepat dewasa. Namun, apakah bertambah usia memang seenak yang dia bayangkan?

Greg mendadak harus berurusan dengan berbagai macam tekanan, yang disebabkan oleh pesta menginap di sekolah, bertambahnya tanggung jawab, dan bahkan oleh perubahan-perubahan canggung yang biasa timbul seiring dengan bertambahnya usia. Dia terpaksa menghadapi semua itu tanpa kehadiran sang sahabat baik, Rowley, di sisinya. Dapatkah Greg melewatinya seorang diri? Ataukah dia harus berhadapan dengan “kenyataan pahit”?

“Detail yang sempurna dalam tulisan dan gambar.” – Publishers Weekly

“Diary si Bocah Tengil kelihatannya akan mendominasi dunia.” – Majalah Time

“Salah satu buku bacaan berseri untuk anak-anak tersukses yang pernah diterbitkan.” – Washingtn Post

“Kalau anak-anak Anda suka membaca … dan lebih-lebih jika mereka tidak suka membaca, maka buku ini adalah buku yang tepat untuk mereka.” – Whoopi Goldberg, The View

cooltext1660176395

Kisah hdup Greg Heffley masih berlanjut. Setelah di buku-buku sebelumnya Greg bagaikan soulmate abadi dengan Rowley, di buku kelima ini akhirnya mereka mengalami cobaan dalam hubungan persahabatan. Entah Greg yang terlalu egois ataupun Rowley yang terlalu kekanakan sehingga persahabatan mereka berhenti untuk sementara.

Satu-satunya anak lain seusiaku yang belum memiliki sahabat adalah Fregley. Namun, sudah lama aku mencoret namanya dari daftar calon sahabat baikku. (hal. 3)

Greg merasa memiliki seorang sahabat baik dapat membantunya dalam kesulitan ataupun memanfaatkan untuk sebuah kebaikan bersama. Apalagi di sekolah, Greg sama sekali tidak punya teman biasa yang layak untuk dijadikan sahabat. Namun, ketika melihat teman satu angkatannya yang populer, Bryce Anderson, membuatnya agak tersadar.

Nah, Bryce Anderson memang benar. Dia tidak MEMBUTUHKAN sahabat baik, karena dia memiliki segerombolan tukang jilat yang sangat memujanya. (hal. 12)

Padahal kalau dipikir-pikir, Rowley juga bukan seorang yang populer ataupun pintar dalam bidang akademis. Greg selalu merasa dengan bersahabat dengan Rowley, ia merasa setingkat lebih tinggi dari Rowley dalam bidang apapun. Saya rasa emang akhirnya persahabatan mereka hanya menguntungkan Greg aja sih ya.

Pokoknya, aku rasa Rowley termasuk salah seorang anak yang akan selalu tertinggal beberapa tahun di belakang dalam urusan kedewasaaan. (hal. 21)

Selain perihal persahabatan dengan Rowley yang lumayan hancur, Greg juga menghadapai sebuah kenyataan bahwa ia bukanlah anak-anak lagi. Padahal menurutnya dengan menjadi anak-anak semua terasa lebih mudah dan indah, termasuk terpilih menjadi bintang iklan di teve.

Nah, ketika kamu masih anak-anak, tidak ada yang memperingatkan bahwa kamu memiliki tanggal kadaluwarsa. Pada suatu saat, kamu menjadi pujaan, saat berikutnya kamu cuma seonggok sampah. (hal. 33)

Di hari yang lain, Mom mengumumkan pada seluruh keluarga Heffley bahwa ia akan mengambil pelajaran selama satu semester untuk mengasah otaknya setelah bertahun-tahun mengurus rumah. Akibatnya, Greg mengalami hal yang buruk bahkan nyaris dihukum di sekolah.

Namun, aku TAHU bahwa kita seharusnya jangan mengumumkanhukuman yang akan dijatuhkan SEBELUM kita menyuruh orang yang bersalah menyerahkan diri. (hal. 81)

Di sisi lain, Mom merasa harus mempekerjakan seorang asisten rumah tangga agar rumah bisa terjaga selama ia mengambil pelajaran. Oleh karena itu, seorang pembantu bernama Isabella bekerja di rumah Heffley selama Mom berada di sekolah. Namun Greg sangat membenci Isabella karena menurutnya ia tidak melakukan apa-apa sebagai seorang pembantu.

Yang bisa aku katakan hanyalah: kalau saja menjadi pembantu Cuma berarti menonton televisi sepanjang hari, menyantap makanan kecil, dan tidur siang di ranjangku; maka, aku rasa aku akhirnya berhasil menemukan karir yang bisa membuatku bersemangat. (hal. 128)

Cerita tentang menginap di sekolah saya rasa adalah cerita paling mengenaskan dalam buku ini. Acara menginap ini adalah sebuah acara rame-rame di sekolah Greg untuk semua murid. Tapi ternyata kesialan-kesialan bermunculan satu persatu. Ada yang pemisahan lokasi tidur laki-laki dan perempuan, dilarangnya makan cemilan saat jam tidur, serta permainan-permainan konyol yang diadakan oleh pengawas acara tersebut.

Nah, hal seperti inilah yang membuat aku tidak tahan terhadap anak laki-laki seusiaku. Kalau sudah bercanda, mereka mirip segerombolan binatang. (hal. 156)

Di hari lain, Greg mendapat sebuah ceramah dari Gammie (nenek buyut Greg) yang sedikit membuatnya tersadar bahwa tak selamanya menjadi dewasa itu menyenangkan. Saya rasa sebagai seorang nenek buyut, Gammie cukup bijak dalam memberi petuah kepada Greg.

Gammie mengatakan bahwa sebagian besar anak-anak seusiaku selalu ingin buru-buru tumbuh dewasa, tapi bila aku memang cerdas, aku pasti akan menikmati masa kecilku selagi masih sempat. (hal. 209)

Meskipun ada beberapa hal yang lucu, saya justru tidak bisa menikmati dengan baik. Mungkin kalau membaca versi aslinya (bukan terjemahan) akan bisa saya resapi lagi kelucuannya. Entah bahasa yang digunakan ataupun istilah asing yang “terpaksa” diterjemahkan. Overall, buku ini sudah baik. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang penuh lelucon dan kekonyolan, di novel kelima ini saya mendapat banyak pelajaran tentang kehidupan. Khususnya kehidupan masa kecil hingga remaja. Seperti Greg, saya dulu juga ingin sekali tumbuh dewasa. Namun ketika telah dewasa, saya merindukan sekali masa kanak-kanak.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Monika dan Kawan-Kawan (Jilid 86)

covermonika86

Judul: Monika dan Kawan-Kawan (Jilid 86)

Judul Asli: Monica and Friends

Komikus: Mauricio de Sousa

Penerjemah: Sumiati & Suryani das Neves Syamsu

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 160 halaman

ISBN: 9789792305838

cooltext1660176395

Petualangan Monika dan kawan-kawan beranjut lagi. Sepertinya Mauricio tidak kehabisan ide segar dalam menuangkan kisah khas anak-anak (dan remaja) dalam bentuk komik yang menghibur hati dan pelipur lara. Sebenarnya tokoh utama dalam komik ini hanyalah Monika, Jimmy Lima, Dekil, dan Meggi. Namun pada beberapa bagian dimunculkan tokoh selingan lain agar pembaca tidak bosan.

Kisah yang mengesankan salah satunya berjudul “Hati yang Hancur”. Jadi ceritanya Megi mendapatkan sebuah boneka (sepertinya terbuat dari keramik) yang sangat rapuh dan bermaksud menunjukkannya kepada Monika. Tetapi apa yang terjadi? Sepertinya kekuatan Monika terlalu besar sehingga boneka itu hancur berkeping-keping. Akibatnya, Meggi membenci Monika. Tak tahan dengan rasa bersalahnya, Monika menemui Franklin, sang jenius cilik untuk membantunya mengembalikan boneka Meggi.

Apa artinya sebuah boneka yang retak hanya karena dilihat, dibanding dengan persahabatan yang nggak akan retak karena apapun? (hal. 28)

Ada lagi kisah berjudul “Rencana Kejutan” yang sangat menarik. Jadi ceritanya, Meggi sedang berjalan melenggak-lenggok santai sambil makan es krim. Nah sayup-sayup ia mendengar Jimmy Lima dan Dekil sedang berdiskusi mengenai sebuah rencana yang akan mengejutkan. Meggi yang mencuri dengar tentu beranggapan rencana itu untuk menjahili Monika.

Bagus kalau begitu, kalena dia nggak boleh tahu tentang lencana ini sebelum waktunya! (hal. 102)

Si Meggi yang penasaran akhirnya membuntuti mereka berdua hingga di sebuah gudang. Ternyata, seluruh kawan-kawan juga ikut berkumpul untuk berdiskusi lebih lanjut demi memastikan rencana mereka dapat terlaksana dengan lancar. Berhasilkah Meggi menggagalkan rencana itu?

Eh ternyata ada lagi kisah unyu berjudul “Pembersihan Binatang”. Ceritanya, Dekil yang sangat tidak menyukai air (termasuk mandi), membuatnya sangat berbau tidak sedap. Bahkan Jimmy Lima ngomong kalo Dekil jauh lebih bau dibandingkan anjing peliharannya. Dekil yang tak mau dibandingkan dengan binatang tentu saja sewot. Tapi ia tak mau berpikir lebih jauh karena menganggap binatang bisa jauh lebih “wangi” dibandingkan dirinya karena suatu reaksi kimia dan sihir.

Ini adalah formula transmutan neurologis insting binatang baruku! Formula ini bisa membuat kita bisa merasakan apa yang dirasakan binatang apa pun yang kita mau! (hal. 115)

Bisa menebak siapa yang berbicara dialog diatas? Yak benar, Franklin. Ternyata ia kehilangan kelinci percobaannya dan berharap Dekil bisa menggantikan. Seems coincidence, right? Tapi dasar gengsinya tinggi, Dekil ogah membantu Franklin. Meski akibatnya, ia merasakan “sesuatu” saat Franklin pergi dari lab-nya.

Satu hal yang pasti dari setiap cerita di komik ini adalah Mauricio menuliskan siapa tokoh sentral di samping judul kisah. Sehingga pembaca bisa tau siapakah tokoh yang menjadi titik menarik dan lucunya kisah itu. Kalaupun banyak yang berperan, Mauricio menuliskan “Kawan-Kawan” agar lebih praktis.

Oh iya, saya penasaran apakah komik Monika ini juga diterbitkan berseri di negara asalnya sana, Brasil. Soalnya terdapat tulisan “Copyright © 1996 Mauricio de Sousa Produҫӧes” di bagian dalam komik. Tulisan itu juga sama dengan jilid 28. Mosok ya dari 50 lebih jilid tetap dari tahun 1996? Dan saya juga tidak yakin maksudnya 1996 itu adalah terbitnya komik Monika di Brasil sana.

Tapi, sebuah kemajuan dibandingkan edisi 28 yang telah saya review sebelumnya, di komik ini sudah muncul ISBN. Namun untuk tahun terbit masih belum nampak sama sekali. Jadinya identitas yang tercantum sangat minimalis (kalau tidak bisa dibilang kurang).

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Hari-Hari Sial

covertengil4

Judul: Hari-Hari Sial

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Dog Days: Book Four

Seri: Diary Si Bocah Tengil #4

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218 halaman

Terbit Perdana: Desember 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Desember 2010

ISBN: 9789790244566

cooltext1660180343

Liburan musim panas yang seharusnya sangat mengasyikkan dan ditunggu-tunggu ternyata berubah menjadi serentetan peristiwa yang tidak menyenangkan – dimulai  dari ibu Greg yang mencanangkan program pengetatan ikat-pinggang (selamat tinggal deh acara jalan-jalan ke pantai!), diikuti dengan pengalaman tidak menyenangkan di kolam renang kota. Lalu, hadiah ulang tahun yang diidam-idamkan ternyata mengecewakan. Selain itu, pertengkaran dengan Rowley, tambahan anggota keluarga baru yang banyak tingkah, dan masih banyak lagi hal-hal menyebalkan lainnya. Sungguh apes nasib Greg kali ini.

“Serial yang mampu menggebrak genre bacaan yang sudah ada … dilengkapi dengan humor yang pas dan ramuan cerita yang mengasyikkan.” – Publishers Weekly, ulasan dengan anugrah bintang

“Diary si Bocah Tengil kelihatannya akan mendominasi dunia.” – Majalah Time

“Salah satu buku bacaan berseri untuk ank-anak tersukses yang pernah diterbitkan.” – Washington Post

“Telah menyingkirkan kata ‘segan’ dari istilah ‘orang-orang yang segan membaca.’” – USA Today

cooltext1660176395

Ah tak terasa saya sudah membaca dan mereview buku diary si Greg ini pada buku keempat. Edisi yang ini cukup mencolok mata dengan warna cover yang menurut saya kuning banget tu. Tinggal dilempar ke sungai biar mengapung kayak ta…*some text missing*

Anyway, buku ini konsepnya adalah membeberkan hari-hari yang dialami Greg yang berujung dengan kesialan dan kenestapaan selama liburan musim panas. Tidak hanya hari-hari bersama keluarganya saja sih, tapi juga ketika bersama teman-teman sepermainannya. Oh iya, buku yang ini juga sudah diangkat ke layar lebar lho.

Aku rasa Dad Cuma iri saja karena dia terpaksa pergi bekerja sementara kami semua bisa bersantai dan berleha-leha setiap hari. (hal. 13)

Namanya juga anak-anak sekolah, tentu sangat bahagia ketika libur tiba. Dan saya sangat mirip dengan Greg dalam menghabiskan liburan dengan cara bersantai alias tidur dan doing nothing huahahahhaa. Yah meskipun orang tua saya juga sama dengan Dad-nya Greg yang mewajibkan saya melakukan sesuatu yang lebih berguna. Oh iya, ada lagi kisah lucu saat Greg sedang potong rambut di salon langganan Mom.

Ketika rambutku sedang dipotong, aku menyadari hal terhebat mengenai salon kecantikan, dan hal itu adalah GOSIP. (hal. 21)

Agak bener juga sih menurut saya. Maklum salon kan khas sebagai tempat tongkrongan para kaum hawa. Apalagi salon yang pelanggannya ibu-ibu. Aduuh pasti ada aja yang diobrolin. Termasuk gosip para tetangga-tetangga sekitar *ups sorry for the ladies*

Hari sial berikutnya adalah ketika Greg ingin memiliki akuarium. Jadi ceritanya Greg ini sudah punya ikan di sebuah toples. Namun ia ingin akuarium dengan satu ton ikan untuk menemani ikan mungil miliknya. Saat meminta pada Dad, tentu saja ia mendapat penolakan keras.

Nah, inilah jeleknya menjadi seorang anak. Kamu cuma mendapat dua kesempatan untuk mendapatkan barang yang kamu inginkan, yaitu pada saat Natal dan pada saat kamu berulang tahun. (hal. 94)

Berbagai kejadian mengerikan lain selama musim panas juga membuat hubungan Greg dengan Dad sedikit merenggang. Maklum sepertinya Dad sangat tidak menyukai perilaku Gre yang selalu merepotkannya karena kenakalan-kenakalan yang selalu Greg lakukan. Namun lambat laun, hal itu bisa segera terselesaikan. Bukan keluarga Heffley namanya kalau tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Aku dan Dad mungkin tidak akur dalam segala hal, tapi setidaknya kami sepaham dalam urusan yang penting. (hal 213)

Saya tidak berbicara lebih banyak ah tentang sekuel Diary si Bocah Tengil ini. Karena sangat menghibur gitu lho. Eh bukannya saya menyukai kesialan Greg yang dipaparkan hampir seluruh halaman di buku ini. Tapi apa ya, Jeff Kinney sukses membuat tokoh Greg sebagai anak pra-remaja yang pantas mendapat simpati dan sekaligus nyebelin setengah mati.

Dari segi penerjemahan, asik-asik aja. Maksudnya mengalir aja gitu dan tidak kaku. Oh iya, saya suka sekali dengan karikatur yang bertebaran di setiap halaman. Dan lebih lucu lagi saat dialog berteriak, penerjemah mencantumkan “Jeriiiiiit!” pada balon dialog, alih-alih menuliskan “Aduuuh!” atau “Aaaargh!” atau “Aaaaww!” ataupun yang lainnya. Agak aneh-tapi-lucu sih ngebayangin saya sendiri teriak kaget dengan kata-kata “Jeriiiit!”

Kalau dari kekurangan, hmm saya rasa lambat laun kehidupan si Greg ini kok terasa sangat kekanakan sekali ya. Padahal kan dia udah SMP. Tapi kok masih suka main game, permen, coklat, dan ding-dong. Eh tapis aya juga suka sih. Tapi entahlah, saya rasa penjabaran latar belakang Greg membuat saya mengira ia masih kelas 3 SD daripada anak SMP.

Secara umum buku ini lebih baik daripada buku sebelumnya. Namun tetap saja tidak bisa mengalahkan buku pertama. Entahlah, mungkin sesuatu yang pertama kali itu terasa sangat mengesankan. Buku ini saya rekomendasikan untuk semua ramaja tanggung yang udah bisa baca. Yah, daripada alay-alay gak jelas dan tidak bermanfaat, mending baca buku ini deh hehehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Monika dan Kawan-Kawan (Jilid 28)

covermonika28

Judul: Monika dan Kawan-Kawan (Jilid 28)

Judul Asli: Monica and Friends

Komikus: Mauricio de Sousa

Penerjemah: Anni Pramudito

Penerbit: m&c!

Jumlah Halaman: 192 halaman

cooltext1660180343

Semakin nakal & menggemaskan! Jangan dilewatkan untuk dikoleksi!

cooltext1660176395

Jika berbicara tentang komik, pada umumnya kita akan mengingat negara Jepang sebagai produsen paling banyak dalam menghasilkan komik. Berbagai judul baru terbit tiap tahunnya demi memuaskan dahaga para penikmat komik. Meski beberapa negara lain juga telah mampu menghasilkan komik sendiri, saya rasa belum ada yang bisa mengalahkan dominasi Jepang dalam dunia perkomikan.

Jika Jepang mewakili benua Asia, maka tentu kita ingat komik superhero dari benua Amerika yang berulang kali diangkat menjadi film layar lebar dengan berbagai visual effect canggih. Rata-rata komik seperti itu berasal dari negara Amerika Serikat. Lantas, bagaimana dengan negara lain misalnya pada bagian Amerika Selatan?

Negara Brasil adalah salah satu negara yang menghasilkan sebuah komik berjudul Monica and Friends. Komik ini ditulis oleh Mauricio de Sousa. Beruntung komik ini telah didapatkan hak terjemahannya di Indonesia oleh m&c! sehingga bisa memperluas penikmat komik ini.

Komik Monika dan Kawan-Kawan (terjemahan di Indonesia) menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Monika (iya pake “k”, bukan “c” seperti versi aslinya) dan teman-temannya di sekitar rumah. Ada saja kelucuan yang sanggup diceritakan oleh Mauricio perihal kehidupan Monika ini. Salah satunya tentang kawan Monika bernama Jimmy Lima dan Dekil yang selalu jahil mengganggu Monika.

Setiap kali kamu membaca sebuah buku, kamu pasti membuat rencana. Lalu kamu minta tolong aku … yang berakhir pemukulan dari Monika! (hal. 2)

Ya benar, Jimmy dan Dekil idak jera mengganggu Monika meskipun mereka berdua sering sekali mendapatkan pembalasan dari Monika (dalam hal ini adalah pukulan). Iya ceritanya Monika ini sangat kuat meskipun perempuan. Lantas, apakah Jimmy dan Dekil sanggup mengerjai Monika lagi kali ini?

Selain Monika dan teman sepermainannya, ada tokoh lain di komik ini yaitu tokoh-tokoh dalam dunia horor. Salah satunya tentang Dewi Kematian yang bertanggungjawab menghidupkan kembali hantu-hantu pada suatu waktu tertentu. Alih-alih menulis pada secarik kertas, ia menggunakan komputer modern agar memudahkan pekerjaan. Namun ternyata hal itu berakibat buruk.

Tahu, nggak? Teknologi canggih dapat sangat berguna jika kita tahu cara menggunakannya. (hal. 48)

Ada lagi salah satu kawan Monika yang jenius bernama Franklin. Ia frustasi ingin menciptakan sebuah permainan baru pada sebuah taman hiburan agar pengunjung lebih betah di taman bermain bernama Taman Bermain Monika. Ia meminta bantuan Meggi, anak yang gemar makan untuk memberinya inspirasi. Namun bukannya mendapat ide, ia malah semakin tertekan.

Whuaaaa! Aku tidak dapat menciptakan apa-apa! Bahkan aku bicara dengan perut! (hal. 153)

Apakah akhirnya Franklin sanggup menciptakan wahana permainan baru? Baca sendiri deh ya hehehe. Ada lagi cerita tentang Marina dan Rachel. Ceritanya, mereka berdua ini sahabat karib. Nah, si Rachel sedang cemas karena suatu hal yang sangat mengganggunya. Namun Marina menganggap hal itu tidak patut untuk dipikirkan karena mereka masih kecil.

Umurku hampir delapan tahun dan aku belum punya pacar! (hal. 171)

See? Gemes sekali rasanya usia delapan tahun udah ribut masalah pacar. Saya aja yang udah usia segini belum punya kok *halah curcol*. Ternyata pucuk dicinta ulam tiba. Rachel mendapatkan yang diimpikannya meskipun harus melakukan sebuah cara yang agak “cerdik”.

Komik Monika ini adalah salah satu komik dari benua Amerika yang saya kenal, dan salah satu komik yang tidak menggunakan tokoh superhero didalamnya. Maklum rata-rata kan komik Amrik berkutat pada kekuatan super. Sedangkan komik Monika ini berkutat pada dunia anak-anak (sebagian besar sih, meski ada tokoh orang dewasa juga) yang sarat akan masalah-masalah khas anak-anak.

Hasil terjemahannya bagus dan tidak kaku membuat saya menikmati dan seolah-olah setting dan tokohnya ada di Indonesia (atau gara-gara semua nama tokohnya telah diterjemahkan juga kali yah) sehingga tidak membosankan. Pesan moral yang disuguhkan juga mudah sekali untuk dimengerti. Saya rasa anak-anak juga bisa membacanya tanpa membuat orang tua khawatir.

Kekurangannya, mungkin bukan mengenai isi, melainkan identitas buku. Karena di halaman pertama, sudah langsung komik. Tidak ada pendahuluan siapa yang terlibat dalam proses penerjemahan komik ini. Hanya judul asli, penulis, penerjemah, penerbit, artistik, dan penulis teks. Udah. Itu aja. Bahkan ISBN pun tidak ada. Padahal penerbitnya adalah m&c! yang serumpun dengan Gramedia lho. Saya pun jadi tidak bisa mengidentifikasi kapankah terbitnya buku komik ini.

NB: karena saya tidak bisa menemukan waktu terbitnya komik kepunyaan saya ini kapan, saya menggunakan asumsi. Saya tahu bahwa pada bulan Oktober 2005 terbit komik Monika jilid 79. Jadi kemungkinan komik ini terbit beberapa tahun sebelumnya (saya males ngitung bulan persisnya kapan hehe)

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Kedai 1002 Mimpi

cover1002

Judul: Kedai 1002 Mimpi

Penulis: Valiant Budi @vabyo

Penerbit: GagasMedia

Jumlah halaman: 384 halaman

Terbit Perdana: Mei 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2014

ISBN: 9789797807115

cooltext1660180343

Konon, kalau tidak mengerti, harus bertanya.

Giliran banyak bertanya, diancam mati.

Bisa jadi, kalau mengerti harus mati.

Pernahkah kau terluka dan meminta pertolongan, tapi mereka malah mengira kau mengada-ada?

Terkadang memang lebih baik bungkam, tapi izinkan jemari ini yang memberi tahumu.

Karena ternyata, tidak ada akhir yang bahagia, selama memang belum selesai dan selayaknya tenteram.

Kedai 1002 Mimpi.

Berdasarkan kisah nyata seorang mantan TKI yang berharap hidup lega tanpa drama.

Tak perlu dipercaya karena semua berhak mencari fakta.

Salam damai,

Valiant Budi Vabyo

cooltext1660176395

VABYO IS BACK!!! Setelah sukses dengan kisah pengalaman pahit nan nyelekit ketika menjadi TKI Arab Saudi di buku Kedai 1001 Mimpi, kini ia kembali dengan novel yang sedikit nyerempet judulnya dengan pendahulunya. Jadi konsepnya, novel ini berisi kisah-kisah yang ia alami selepas pulang dari negara tempat ia bekerja dahulu. Ia berkisah mengenai kehidupan yang ia jalani setelah pengalaman “mengesankan” sempat menghampiri kesehariannya.

Novel ini dibuka dengan kisah detik-detik Vabyo menuju tanah air Indonesia dalam rangka kebebasannya. Tetapi tak semudah yang dibayangkan. Ada saja beberapa keparnoan yang dirasakan. Mulai dari takutnya paspor dicuri kondektur bus demi kepentingan pengecekan identitas, petugas imigrasi yang terlihat galak dan mengintimidasi, teror bom dalam bus yang ditumpanginya menuju bandara, hingga kesewotan perlakuan “khusus” TKI di bandara Indonesia.

Mati adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan. (hal. 2)

Kehidupan di Bandung, kampung halaman Vabyo berawal biasa-biasa saja. Setelah menyandang pensiunan barista Sky Rabbit, ia berencana mencari penghasilan tambahan (selain royalti buku sebelumnya). Pucuk dicinta ulam tiba. Vabyo sukses dengan sebuah boyband. Bukan, bukan menjadi anggota yang jejogetan berkaos V-neck. Tetapi menjadi penulis lirik lagu yang dibawakan boyband itu.

Selain berkecimpung dengan lagu-lagu boyband, Vabyo juga memanfaatkan keahliannya dalam racik meracik aneka kopi dengan membuka cafe baru di Bandung. Cafe ini dinamakan Warung Ngebul yang minim filosofi hahaha. Pendirian cafe ini bersama kakak Vabyo, Vanvan. Ternyata, animo masyarakat sungguh tinggi. Entah karena terpikat Vabyo di novel 1001, atau murni karena rasa dan suasana warung hehheehe.

Berburuk sangka adalah kegiatan pengganggu hidup nomor dua setelah diare tapi nggak ada air di kamar mandi. (hal. 32)

Kehidupan yang happy ternyata tidak sampai di ending. Selain mendapat kecaman, teror lewat dunia maya, hingga dianiaya orang tak dikenal mengendarai motor menjadi makanan sehari-hari. Oh iya kebiasaan ganti ban mobil gara-gara dirusak oknum tak bertanggungjawab juga masuk dalam kesehariannya.

Dunia maya memungkinkan kita jadi siapa saja, berkata apa saja, mencintai dan menyakiti tanpa henti. Ada yang membuat rindu, ada yang tak henti mengganggu. (hal. 42)

Sekali dua kali tak masalah, namun akhirnya Vabyo gerah dan melaporkan kepada pihak berwajib. Meskipun akhirnya Vabyo & Vanvan mengetahui salah satu pelakunya, di novel ini tidak disebutkan. Sepertinya nama baik sang pelaku masih bisa terjaga.

Mungkin ada pemahaman baru ‘teman dekat’ di era digital ini. Begitupun dengan ‘berantem’ atau ‘dibully’. Seperti layaknya tidak sempat membalas mention atau email sudah tercap ‘sombong’ tanpa maaf. (hal. 101)

Di lain hari, demi menyegarkan pikiran, Vabyo pergi ke Eropa untuk berlibur sekaligus ketemuan dengan Teh Yuti. Tempat ketemuannya di depan Menara Eiffel lagi. Gimana gak romantis coba (meski dijelaskan ternyata di Eiffel banyak sampah *ew). Selain itu ia juga menjalani sesi meditasi yang entah kenapa jadi mengharu biru akhir-akhirnya.

Orang sering menyangka bermeditasi adalah mengosongkan pikiran. Padahal yang benar adalah biarkan pikiranmu menjelajah. Amati apa yang kita lihat dalam benak. (hal. 180)

Seperempat terakhir buku, penulis bercerita tentang mimpinya yang lain di negara yang berbeda; Italia dan Inggris. Oh iya, ada juga bonus blog yang judulnya Durian dan Mangga. Disini penulis mengibaratkan dua pihak yang saling mempertahankan prinsip masing-masing namun cenderung menyalahkan pihak lainnya. Yang menjadi favorit saya adalah surat cinta untuk Vabyo dan resep-resep ciamik sentuhan Arab yang bisa langsung dicoba.

Pertama kali saya mengetahui Vabyo adalah melalui buku Kedai 1001 Mimpi. Penulis dan bukunya yang fenomenal ini membeberkan fakta-fakta yang mengejutkan perihal pengalamannya menjadi TKI di negara Timur Tengah itu. Secara umum novel ini berisi bagaimana teror-teror kerap menghantuinya baik di dunia maya maupun dunia nyata dengan bumbu kenangan masa-masa selama menjadi TKI di Bahrain yang belum diceritakan di buku pertamanya. Di buku ini, penulisnya lebih dewasa dan legowo dalam memandang situasi, terlebih ketika sang Ayah sakit.

Ayah bukan bapak terbaik di dunia. Tapi aku juga bukan anak tersoleh yang bisa Ayah banggakan. Dan bisa jadi, justru karena itu kami dipasangkan. (hal. 270)

Oh iya tulisan mengenai penilaian plus-minus yang saya beberkan selanjutnya ini sangat subjektif ya. Dan saya mau tidak mau jadi membandingkan dengan buku pendahulunya. Jadi maafkan dengan beberapa poin yang agak gimana-gimana hehehe. Covernya menarik dengan sentuhan tulisan kapur di papan tulis yang berwarna-warni. Tetapi jika dibandingkan dengan 1001, saya lebih suka yang lama. Sepertinya roh Arab bisa saya rasakan di buku 1001.

Mengenai isi, saya sangat sangat lebih suka buku pendahulunya. Bukan berarti saya bahagia meembaca kisah memilukan penulis yang sepatutnya tidak pernah terjadi. Tapi gimana ya, ketika baca buku 1002 ini saya rasa semuanya serba nangung. Misalnya tentang flashback-nya, tentang terornya, tentang liburannya, seolah hanya disajikan sepenggal dengan penggalan yang lain tercecer entah dimana. Setiap bab terasa terlalu cepat untuk berakhir. Berbeda dengan buku 1001 yang saya rasa sangat pas dalam mengakhiri cerita.

Saya agak risih dengan tulisan yang dalam satu paragraf membentuk rima. Bukannya apa-apa, tapi saya jadi serasa membaca puisi/pantun dan hilang “rasa” novelnya. Selain itu, karikatur yang menghiasi buku ini membuat saya jengah. Kalau tidak boleh dikatakan jelek, saya katakan agak “sederhana”. Saya jauh lebih menikmati apabila tidak ada karikatur. Ataupun jika memang terpaksa ada, seharusnya mengadopsi gambar manga Jepang saja. Saya lebih bisa merasakan sosok “manusia” dalam goresan manga daripada karikatur di buku ini.

Tetapi, bukan berarti buku yang kedua kurang nendang, saya ikut emosi juga kok pas baca teror-teror yang dialami sang penulis. Tak jarang saya tersenyum ketika membaca potongan kata mutiara di buku ini. Secara umum novel ini bisa dinikmati siapa saja. Namun akan lebih cocok dibaca usia remaja hingga dewasa agar bisa lebih memahami kejamnya dunia yang penulis hadirkan di buku ini.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Cabe Rawit

covercabe2

Judul: Cabe Rawit

Tagline: Kumpulan Humor Menggigit Untuk Anak-Anak Kreatif

Seri: Cabe Rawit #2

Penyusun: Tim Redaksi Penerbit Arena

Penerbit: Arena

Jumlah Halaman: ii + 74 halaman

Terbit Perdana: 1993

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 1993

cooltext1660176395

Sebuah tulisan bernuansa komedi singkat sebenarnya bisa ditemukan dimana saja, alias tak selalu dalam bentuk lembaran buku. Melainkan tersebar di jagat maya. Apalagi dunia internet telah sedemikian canggih saat ini. Namun bagaimana ketika internet masih belum terlalu populer bahkan belum dikenal? Mungkin dari sebuah bukulah humor tersebut bisa diketahui. Salah satunya dari buku berjudul Cabe Rawit ini.

Guru: Coba ceritakan kepada saya, apa yang kau ketahui mengenai para sarjana abad ke-18.

Sami: Semua sudah meninggal, Bu. (hal. 16)

Itu tadi salah satu contoh humor yang disuguhkan di buku ini. Hampir semuanya merupakan humor singkat berisi percakapan dua orang (secara singkat pula) dan diakhiri dengan sebuah tanggapan lucu. Salah satu alasan singkatnya percakapan ini mungkin agar pembaca tidak perlu melalui intermezo yang terlalu panjang dan bisa langsung tahu letak kelucuannya.

Pak Guru: Siapa namamu?

Henri: Henri!

Pak Guru: Biasakan sopan. Jangan lupa menyebut bapak.

Henri: Bapak Henri. (hal. 48)

Saat membaca humor itu, saya agak telmi memahami letak lucunya dimana. Oh ternyata saya baru ngeh kalau maksudnya sang Pak Guru yang harus dipanggil Bapak. Karena percakapannya terlalu singkat, saya jadi agak bingung mencerna beberapa humor yang dituliskan di buku ini.

Secara umum buku humor ini cukup menarik. Ada buuuuanyak sekali (aduh ketahuan deh saya orang asli daerah mana) humor-humor jenaka yang disajikan. Namun seperti yang saya kemukakan tadi, percakapan yang terlalu singkat membuat saya menjadi bingung. Ibarat makan di restoran, saya langsung disodori main course, tapi setelah menikmati beberapa suap, langsung ditarik lagi dan diganti menu yang baru. Enak sih enak, tapi rasanya jadi tidak puas.

Kelebihan yang buku ini berikan salah satunya adalah adanya karikatur yang selalu berada di halaman ganjil. Jadi lumayan membantu memahami cerita. Pada dasarnya, mungkin tim penyusun buku ini ingin menghibur pembaca secara instan. Dan saya rasa hal itu cukup berhasil (setidaknya kepada saya). Namun kesannya justru terburu-buru. Mungkin ini alasannya buku ini menjadi sangat tipis.

Hal yang menjadi sorotan saya adalah kualitas cetakan. Ya ampun, ini seperti hasil fotokopian alias tulisan ada bolong-bolong tidak tercetak sempurna. Tapi jika dilihat isi, semua lapisan masyarakat berusia berapapun yang penting bisa baca, saya rasa cocok membaca buku ini untuk menghilangkan penat ataupun saat lagi galau *eaaa.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Usaha Terakhir

covertengil3

Judul: Usaha Terakhir

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: The Last Straw: Book Three

Seri: Diary Si Bocah Tengil #3

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218

Terbit Perdana: Mei 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2010

ISBN: 9789791411240

cooltext1660180343

Ayo akui saja: Greg Heffley tidak akan pernah mengubah sikapnya yang tengil dan gampang menyerah. Harus ada seseorang yang menjelaskan hal ini pada ayah Greg.

Tahu tidak, Frank Heffley benar-benar merasa dirinya mampu membuat putranya menjadi lebih tegar, dan dia pun mendaftarkan Greg dalam berbagai olahraga yang terorganisasi dan kegiatan “cowok” lainnya.

Tentu saja, Greg dengan mudah mampu mengelak dari segala usaha sang ayah yang ingin mengubah dirinya. Namun, ketika ayahnya mengancam akan mengirimnya ke akademi militer, Greg sadar dia harus membenahi diri … atau kalau tidak, dia pasti akan dikirim pergi.

“Minggir, Harry Potter … Ada satu buku berseri bari yang mendominasi pasaran buku anak-anak dan buku-buku ini sama sekali bukan buku ‘fantasi’.” – Andrea Yeats, NPR’s All Things Considered

“Gebrakan besar untuk mereka yang malas membaca dan bagi setiap orang yang mendambakan buku jenaka.” – School Library Journal

“Cara penyajiannya tepat dan tokoh utamanya yang egois sangat meyakinkan …” – The New York Times

cooltext1660176395

Lanjutan dari si bocah tengil horee *joget-joget*. Buku ini menceritakan kelanjutan hal-hal konyol yang dialami si Greg di kesehariannya. Saya heran kok sang penulis bisa memahami dunia remajanya Greg. Padahal ia sudah tidak muda lagi. Buku ini diawali dengan kisah mengenai resolusi awal tahun. Ironis sekali ketika tiap anggota keluarga Heffley membuat resolusi namun tidak pernah terlaksana hingga akhir tahun, bahkan bulan depan. Malah Manny si anak bungsu, tidak bertahan selama satu menit. Hal itu sedikit banyak nyambung pada hari Natal yang penuh hadiah bagi anak-anak, namun tidak untuk Greg.

Kurasa, begitu kau sudah SMP, orang dewasa langsung menganggap kau terlalu tua untuk mendapatkan hadiah mainan atau apa saja yang benar-benar menyenangkan. (hal. 8)

Suatu hari, Greg terkejut ketika bus jemputan sekolah merubah rute dan mengakibatkannya harus berjaan kaki ke sekolah. Ia berpikir hal itu sungguh buruk bagi anak sekolah. Sepertinya saya agak setuju dengan pendapat Greg yang satu ini. Maklum saya ketika sekolah dulu benar-benar tidak bergairan dengan namanya PR.

Zaman sekarang, para guru memberikan terlalu banyak PR sehingga dengan semua buku serta kertas yang kau bawa pulang, berat ranselmu akhirnya mencapai bobot empat kilogram. (hal. 14)

Ada lagi cerita tentang si Greg menyalahkan pencuri jatah camilan makan siang sehingga menyebabkan hidupnya sungguh memuakkan. Untuk menyelamatkan hidupnya dari kenestapaan dunia *apasih* dia berusaha mencari tahu dan menangkap basah si pencuri camilan. Ya benar, menangkap di dalam rumahnya sendiri alias salah satu keluarganya yang jadi tersangka. Tidak tanggung-tanggung, ia sampai sembunyi di dalam tumpukan pakaian kotor disamping mesin cuci. Konyol namun sukses menemukan pencuri camilan itu di malam hari yang gelap gulita.

Ternyata si maling adalah Dad. Aku seharusnya sudah menduga dari awal. Dia benar-benar KETAGIHAN makanan tidak sehat. (hal.82)

Kisah yang menjadi headline blurb buku ini adalah kisah mengenai rencana Greg dikirim ke sekolah militer oleh Dad. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Dad beranggapan anak-anaknya tidak terlalu kuat sebagai seorang lelaki sejati.

Kalau Dad melihat bagaimana sekolah bisa mengubah seorang bandit remaja seperti Lenwood Heath menjadi seorang pria dewasa, maka dia pasti beranggapan sekolah itu pun juga bisa mengubah anak selembek AKU menjadi pria dewasa. (hal. 158)

Apakah rencana Dad benar-benar terlaksana? Silakan baca buku ini. Namun saya sangat iri dengan kemujuran yang diperoleh Greg. Meskipun dia bukanlah anak yang baik, namun kreatif dan kelicikannya terkadang membawa dampak baik dan menyenangkan baginya.

Karena seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku adalah salah satu orang terbaik yang kukenal. (hal. 216)

Cerita ini tentang resolusi sebagai pembuka sedikit nyindir saya sih. Awal tahun, bahkan tiap pagi hari saya pasti ada niat melakukan sesuatu. Namun realisasinya benar-benar nihil alias hanya wacana semata. Huahahahahaha *ketawa miris*. Overall, saya rasa buku ini masih khas lelucon yang disajikan Jeff Kinney. Tapi tetap masih belum bisa mengalahkan buku pertamanya. Di buku ketiga ini juga tidak terlalu banyak yang membuat terpingkal-pingkal.

Kekurangan buku ini masih sama dengan pendahulunya, yaitu terlalu banyak tokoh yang slonong-boy alias numpang lewat saja. Sehingga latar belakang tokoh lain hanya dijelaskan sekilas, yang penting mendukung kisah yang sedang diceritakan. Saya rasa terkadang Greg benar-benar orang paling melas dan menderita di buku ini. Alih-alih sebagai anak tengil (dalam kamus saya tengil itu nyebelin). Yang ada malah orang-orang di sekitar Greg lah yang nyebelin. Saya jadi agak bingung sih dengan judul buku dan isinya. Atau jangan-jangan efek sudut pandang si Greg yang jadi fokus cerita? Who knows.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Rodrick yang Semena-Mena

covertengil2

Judul: Rodrick yang Semena-Mena

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules: Book Two

Seri: Diary Si Bocah Tengil #2

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 216

Terbit Perdana: November 2009

Kepemilikan: Cetakan Keempat, Februari 2010

ISBN: 9789791411226

cooltext1660180343

Apa pun alasannya, jangan tanya Greg Heffley tentang liburan musim panasnya, kerena dia pasti tidak mau cerita.

Saat Greg memulai tahun ajaran baru di sekolah, dia bertekad melupakan semua peristiwa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir…khususnya sebuah peristiwa yang ingin ia rahasiakan.

Malang bagi Greg, kakaknya, Rodrick, tahu semua peristiwa yang ingin Greg simpan rapat-rapat. Namun, serapat apapun dia menyembunyikannya, rahasia itu terbongkar juga…terutama jika sebuah diary ikut terlibat.

“Novel kartun yang bikin pembaca ‘ngakak guling-guling’ … dengan perut terkocok.” – Publishers Weekly

“Novel kartun yang sangat menarik.” – Majalah People

“Humor yang sangat lepas.” – Kirkus Review

“Pilihan cemerlang bagi yang malas membaca.” – School Library Journal

cooltext1660176395

Serial si bocah tengil berlanjut lagi hehehe. Setelah sukses dengan pendahuluunya, Jeff Kinney menghadirkan buku kedua. Kali ini berkisah tentang kehidupan Greg yang mendapatkan hal-hal buruk dari sang kakak, Rodrick. Tapi ternyata di buku ini tidak khusus mengenai Rodrick saja. Selayaknya buku harian, ada pula berbagai kejadian yang dialami Greg diluar masalahnya dengan Rodrick.

Beberapa minggu lalu, Rodrick mendapatkan buku jurnal LAMA milikku, dan itu benar-benar bencana. (hal. 1)

Tentu saja disebut bencana karena itulah awal mula Rodrick bisa mengancam Greg untuk menuruti segala macam perintahnya. Greg juga tak bisa apa-apa selain menurut dan berharap Rodrick tak menyebarkan rahasianya ke seluruh pelosok dunia *lebay*.

Di hari yang lain, ketika Greg telah kembali bersekolah (kisah sebelumnya adalah saat liburan), Mom meminta Rodrick menjemput adiknya dengan mobil van miliknya. Greg sangat tidak yakin bahwa Rodrick menjemputnya adalah gagasan yang baik. Namun karena Mom yang menyuruh, mau tidak mau Greg hanya bisa menerima.

Jadi, saat Rodrick menjemputku hari ini, aku akan memintanya untuk berhati-hati saat mengerem. (hal. 20)

Lain Rodrick, lain pula Manny, sang bungsu keluarga Heffley. Pada berbagai kisah, Greg menceritakan bagaimana buruknya kelakuan Manny (sesungguhnya Greg sih yang bermasalah) ketika berada dalam situasi yang tidak menguntungkan Greg. Namun ia tak bisa apa-apa ketika ada Mom. Ya benar, Mom adalah pengawas kejahatan di dalam rumah bagi Greg. Ketika ia menyakiti Manny, maka Mom tak segan-segan memberikan hukuman.

Aku benar-benar ingin menghajar Manny, tapi aku tidak mampu berbuat apa-apa karena Mom berdiri di dekat kami. (hal. 42)

Ada lagi kisah bersama Rowley. Jadi ceritanya Rowley ini membeli sebuah buku diary. Karena suatu hal (baca di buku ini ya) Rowley menjadi populer di kalangan para gadis. Greg penasaran dengan topik yang mereka bicarakan. Salah satunya, dengan membaca diary Rowley. Tapi ternyata isi diary Rowley membuat Greg tertegun.

Setelah melihat isi pikiran Rowley, aku mulai bertanya-tanya mengapa aku dulu mau berteman dengannya. (hal. 93)

Secara umum, buku ini bisa saya nikmati dengan lancar tanpa berhenti hingga halaman terakhir. Berbeda dengan buku pertamanya yang mengulas tindak-tanduk Greg, di buku ini justru diceritakan bagaimana kelakuan orang-orang terdekat Greg sehingga membawa pengaruh buruk bagi hidupnya. Karena ini adalah buku harian Greg, maka ia selalu membenarkan apa yang dia lakukan. Padahal sesungguhnya jika diperhatikan, Greg bukanlah seorang anak yang baik.

Lelucon yang disajikan pada buku ini sebenarnya ada banyak. Sayangnya, tidak semua bisa membuat saya tertawa seperti buku pertama. Oh iya, saya agak-agak gimana gitu ketika membaca berbagai cerita yang mengangkat tema tugas sekolah. Percaya deh, tugas Greg dan Rodrick bagaikan tugas kelas 2 SD di Indonesia. Saya tidak tahu itu hanya bualan atau kenyataan. Tapi tugas seperti itu untuk sekolah menengah di Amerika? Well, betapa pintarnya orang Indonesia.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Diary Si Bocah Tengil

covertengil1

Judul: Diary Si Bocah Tengil

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid

Seri: Diary Si Bocah Tengil #1

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: viii + 216

Terbit Perdana: Mei 2009

Kepemilikan: Cetakan Keenam, Februari 2010

ISBN: 9789791411202

cooltext1660180343

Bosan dengan buku cerita penuh tulisan tanpa gambar? Atau bosan dengan kisah fantasi penuh hal-hal gaib? Atau ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang daripada komik tetapi tidak seberat novel? Nah, inilah jawabannya. Baca, deh diary milik Greg Heffley. Selain banyak kejadian lucu, di dalamnya juga bertaburan gambar-gambar kartun jenaka.

Kisah hidup Greg Heffley selama satu tahun ajaran sekolah ini dijamin bisa membuat pipi pegal, perut terkocok, bahkan mata berair. Kekonyolan dan kemalangan Greg akan membuat kalian mengingat kembali kejadian serupa yang mungkin pernah kalian alami.

Di dalamnya ada Sentuhan Keju yang menyeramkan, “Zoo-Wee Mama” yang menyebalkan, seorang anak yang mabuk gula, dan masih banyak lagi. Ingin tahu lebih lanjut? Cepat buka halaman pertama …

cooltext1660176395

Buku ini saya beli sudah lama, sudah saya baca, tapi belum saya review. Yasudah saya re-read aja sekalian nostalgia hehe. Awalnya saya beli buku ini juga pakai sistem random-pick. Maklum, saya ini kalo liat buku terjemahan rasanya udah skepstis duluan dan tidak berharap banyak. Apapun genre-nya, siapapun penerjemahnya, siapapun penulisnya.

Karena apa? Ya, benar sekali. Karena bahasanya. Bukannya saya tidak menghargai sang penerjemah ya, tapi saya pribadi beranggapan karya terjemahan itu pasti feel-nya beda dibandingkan buku yang asli bahasanya. Entah karena beda budaya, beda sense of humor (kalo buku komedi) ataupun identitas tulisan. Para penerjemah yang seringnya menggunakan bahasa yang baku, jadi agak kaku gitu pasti, terlebih untuk novel humor seperti ini.

Tapi kemudian semua berubah saat negara api menyerang ketika saya baca buku ini. Well, saya tidak tau apakah om Jeff Kinney ini sudah tau sense of humor negara Indonesia atau penerjemahnya yang udah kenal banget ama om Jeff. Tapi saya rasa meskipun menggunakan bahasa baku, buku ini tetap menarik minat saya untuk menyelesaikannya.

Dalam novel ini, kita berkenalan dengan seorang remaja tanggung bernama Gregory Heffley. Diceritakan ia baru saja masuk sekolah menengah pertama dan mulai menulis jurnal (bukan diary, menurut Greg) tentang kesehariannya baik di sekolah ataupun lingkungan rumahnya.

Di sekolah menengah pertama ada anak-anak seperti aku yang belum mencapai masa akil balig, tetapi sudah dicampur bersama para gorila yang harus bercukur sebanyak dua kali sehari. (hal. 3)

Di sekolah ini, ada sebuah situasi yang cukup aneh namun menggelitik. Di lapangan basket sekolah, ada sebuah keju yang telah menempel sejak musim semi yang lalu. Keju tersebut mulai ditumbuhi jamur dan terlihat menjijikkan. Anehnya, tak seorangpun berani menyingkirkan keju tersebut.

Kalau kalian mendapat Sentuhan Keju, kalian akan memilikinya sampai mengoperkannya pada orang lain. (hal. 9)

Suatu hari, tepatnya hari Halloween, Greg dan kawan karibnya, Rowley hendak berkelana meminta permen dari rumah ke rumah. Greg iri pada kostum Rowley yang keren berbentuk kesatria lengkap dengan helm, perisai, dan pedang. Tapi ternyata, Mom memberikan Greg kostum bajak laut yang sangat bagus…dengan syarat turut serta mengajak Manny, sang adik.

Aku bilang pada Mom kami TIDAK MUNGKIN mengajak Manny karena kami akan menyantroni 152 rumah dalam waktu tiga jam. (hal. 66)

Ada lagi cerita tentang kewajiban siswa laki-laki di sekolah untuk mengikuti tim gulat selama enam minggu. Ternyata, kostum yang harus digunakan saat gulau adalah sebuah “singlet” yang tampak mirip pakaian renang tahun 1800-an. Akibatnya, ketika bertarung Greg merasa terlalu “dekat” dengan sang lawan.

Selama jam pelajaran ketujuh, aku terpaksa mengenal Fregley JAUH lebih intim dibandingkan dengan yang aku inginkan. (hal. 83)

Yang paling menarik adalah cerita tentang sekolah Greg yang mencari seorang kartunis untuk mengisi kolom komik strip pada koran sekolah. Ia berencana mengisi lowongan tersebut dan menjalin kerjasama dengan Rowley. Kartun lucu yang ia ciptakan adalah sebuah kartun dengan kalimat andalan “Zoo-Wee-Mama!” di setiap stripnya. Namun akhirnya, rencana itu tidak berjalan mulus.

Masalah “Zoo-Wee-Mama” ini benar-benar membuatku sewot. Rowley mendapatkan semua pujian atas komik yang kami ciptakan bersama. (hal. 205)  

Yah, meskipun saya tidak tertawa terpingkal-pingkal bagaikan nonton Srimulat *apasih* tapi setidaknya saya masih senyum-senyum baca buku ini. Itu sebuah prestasi karena saya biasanya sangat jarang bisa menikmati tulisan terjemahan. Apalagi ditambah dengan karikatur khas yang sangat menunjang ceritanya. Kalau kekurangannya sih mungkin saya pribadi agak sulit memahami adat budaya yang disajikan dan tidak ada di Indonesia. Oh iya, terlalu banyak tokoh yang numpang lewat (baik beneran muncul atau cuma namanya saja) di buku ini.

Format cerita di buku ini tidak menggunakan model bab, namun menggunakan seperti buku harian *yaiyalah* dengan font yang sangat menarik. Jadi yang dilihat adalah hari ini, kejadian ini. Plus karikatur juga ada di SETIAP halamannya. Ini sebuah buku novel yang sayang kalau sampai dilewatkan. Karena ceritanya benar-benar jempolan.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

You Are Invited

coveryou

Judul: You Are Invited

Penulis: Kezia Evi Wiadji

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah halaman: 216

Terbit Perdana: April 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2014

ISBN: 9786022514930

cooltext1660180343

Stacy Tanu dan John Edward, berencana melangsungkan pesta pernikahan. Selain mengundang 400 tamu, juga enam orang yang mempunyai hubungan sangat spesial dengan kedua calon mempelai. Mereka adalah Dina, Ben, Lyla, Sonia, Edo, dan James.

Beberapa minggu menjelang pesta pernikahan itu, masalah demi masalah silih berganti menghampiri mereka. Dapatkah mereka bergabung dengan tamu undangan lain untuk merayakan pesta pernikahan Stacy dan John?

cooltext1660176395

Awalnya saya melihat cover novel ini sedikit heran. Ini novel atau undangan kawinan? Tapi ternyata ide cerita novel ini memang demikian, mengenai hari-hari menjelang pesta pernikahan John dan Stacy. Well, cover sudah mencuri perhatian saya. Mari simak isi di dalamnya. Ekspektasi saya sih novel ini mengisahkan prahara dan permasalahan sebelum pesta itu terlaksana. Jika membaca blurb diatas, seharusnya tokoh utama dalam novel ini adalah John dan Stacy (ya iyalah kan mereka yang mau merit). Tapi setelah membaca hingga tuntas, bukan mereka saja yang berperan. Terdapat delapan bab yang disuguhkan, masing-masing bercerita tentang kedua calon mempelai plus kehidupan orang-orang terdekat mereka.

Bab pertama tentu saja mengenai kedua calon pengantin yaitu John dan Stacy. Mereka menentukan jumlah undangan dan siapa saja yang hendak diundang. Tabir kehidupan masa lalu sedikit terkuak ketika Stacy ingin mengundang mantan kekasihnya, Ben dan menawarkan John untuk melakukan hal serupa dengan mengundang Dina, pacarnya dimasa lalu. Bab ini merupakan pintu gerbang awal cerita bab yang lain.

“Tapi aku nggak mau mengundang mantanku. Aku nggak mau mengorek luka lama. (hal. 7)

Bagian kedua menguak kehidupan Dina. Setelah putus secara tidak baik-baik dengan John, ternyata Dina masih galau. Sebenarnya dia sudah menemukan tambatan hati yang baru, namun ia belum bisa melupakan John. Terlebih sang pujaan hati baru yang bernama Cello ini membuat Dina pusing tujuh keliling gara-gara nge-PHP si Dina *kasian*.

“Kenapa lo marah? Kapan gue pernah minta lo jadi pacar gue? Gue juga nggak pernah bilang cinta ke lo. Nggak pernah bilang suka ke lo. Lo aja yang beranggapan kalo kita pacaran.” (hal. 32)

Bab ketiga bercerita tentang kehidupan Ben semenjak berpisah dengan Stacy. Diceritakan Ben yang menemukan pengganti Stacy, bernama Princille dengan jalan yang kurang mulus pada awalnya. Saya suka sekali dengan sosok Princille yang “istimewa” ini. Bagian tentang Ben yang gemar bertualang ini sukses membuat saya ingin berwisata ke Danau Maninjau. Penulis berhasil menceritakan daerah yang dikunjungi Ben dengan baik.

Pantulan sinar matahari di air danau layaknya serpihan kaca retak yang bergerak-gerak. Semakin mempercantik Danau Maninjau dengan luas hampir 100 km2 yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang membentuk dinding. (hal. 54)

Bab selanjutnya bercerita tentang Lyla, sahabat Stacy. Sebenernya kisah yang dibawakan oleh Lyla cukup menarik yaitu tentang pengalaman naik gunung dan menemukan cinta. Cuma, menurut saya kok rasanya agak kurang pas. Karakter Lyla inilah yang saya rasa paling tidak membekas di hati (kecuali bagian wisata kuliner yang membuat cacing perut saya berdemo). Penyelesaiannya juga terburu-buru dan serba kebetulan.

Bab selanjutnya adalah Sonia, adik John yang menjalani kehidupan pahit setelah ditinggal cinta pertamanya. Saya rasa kisah Sonia tidak ada sangkut pautnya dengan Stacy ataupun John sih, selain status keluarga saja. Tetapi justru Sonia memiliki nasib paling mengenaskan diantara pemain lain di novel ini.

Kemudian ada kisah Edo, sahabat John yang juga sebagai cinta pertama Sonia. Saya suka dengan tokoh Edo yang meskipun awalnya miskin, namun semangat menuntut ilmu hingga jadi dokter patut diacungi jempol. Yah meskipun mengorbankan perasaannya terhadap Sonia, saya suka dengan takdir manis yang dia dapatkan.

Ada lagi kisah James yaitu kakak Stacy yang kehilangan kekasihnya saat SMA karena overdosis. Kemudian menemukan orang baru yang memiliki fisik serupa dengan kekasih masa lalunya itu. Saya rasa agak aneh ini cerita James. Diantara ratusan jiwa manusia di Indonesia, kok ada orang yang sama setelah mati. Takdir sih mungkin, tapi saya rasa it’s too good to be true.

“Hidup itu berawal dari huruf B dan berakhir di huruf D. Huruf B artinya Birth dan D artinya Death. Tapi di antara huruf B ada huruf C, yang artinya Choice. Artinya, hidup selalu menawarkan pilihan.” (hal. 198)

Terakhir adalah bab pesta pernikahan yang saya lihat sangat cantik dan meriah dari deskripsinya namun dengan jumlah halaman paling sedikit dibandingkan yang lain. Plus bikin saya mupeng pengen punya pesta pernikahan kayak gitu *uhuk*

Overall, saya suka dengan buku ini. Emosi dan konflik yang disajikan adalah masalah orang dewasa. Ingat, yang saya maksud dewasa adalah adanya adegan-yang-seperti-itu. Masalah setting, saya acungi jempol deh. Detil banget dalam mengemukakan keunggulan daerah dan membuat saya bisa membayangkan dengan jelas. Saya rasa novel ini bagus dengan ciri “Indonesia banget” yang meliputi Jakarta, Bali, Pekanbaru, Solo, Bandung, Batam, dan Medan. Tentu saja wisata kuliner yang diceritakan sukses membuat saya menelan air liur berkali-kali.

Tetapi, saya agak kecewa dengan pembagian tokoh. Harapan saya sih, Stacy dan John merupakan tokoh sentral di novel ini. Namun kok saya rasa justru mereka berdua hanya sebagai “status” tokoh yang lain. Sehingga seolah-olah ini adalah kumpulan cerpen yang digabung jadi satu buku dengan status “kerabat dekat John & Stacy”. Imbasnya, cerita tiap bab (tiap tokoh) kurang tergali. Dan juga setiap bab ada tokoh-tokoh baru (bisa tiga atau lebih) yang mengiringi tokoh utama tiap bab sehingga saya jadi bingung nama-namanya siapa aja (sering juga tertukar namanya) saat membaca cerita lain.

Pada awalnya saya berpikir cerita ini akan mengangkat cerita persiapan Stacy dan John sebelum pernikahan dengan menemui masing-masing tokoh lain dan menemukan masalah. Tetapi ternyata hanya diceritakan kisah tokoh lain di dunianya sendiri. Saya berharap jika nantinya ada spin-off tiap tokoh di novel ini menjadi novel tersendiri. Karena sepenggal kisah yang disajikan sangat menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut.

Well, novel ini cocok dibaca golongan pra-dewasa hingga orang dewasa. Maklum adegan-yang-seperti-itu cukup bikin deg-degan hehehe. Meski genre-nya adalah romance, tetapi penulis sanggup menghadirkan kisah cinta yang tidak menye-menye dan lebay khas fiksi remaja. Selain itu penyelesaian masalah yang masuk akal dan ending yang sangat pas membuat saya puas membaca novel ini.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Cado-Cado Kuadrat

covercado2

Judul: Cado-Cado Kuadrat

Tagline: Dokter Muda Serba Salah

Seri: Cado-Cado #2

Penulis: Ferdiriva Hamzah

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: xii + 188 halaman

Terbit Perdana: Juli 2010

Kepemilikan: Cetakan Kedua, Agustus 2010

ISBN: 9786028066709

cooltext1660180343

Pernah satu saat ketika menolong seorang ibu melahirkan, aku dan Budi megang toa serta spanduk bertuliskan: “Ayo, Ibu! Kamu bisa!” Sementara itu, Evie lompat-lompat dan jumpalitan di depan si Ibu kayak cheerleader, lengkap dengan pompomnya, sambil ikutan teriak-teriak, “Ayooo, Ibu bisaaa!!! Tarik napassss!!! Doroooonggg!!! Doroooooonggg!!!”

Ibu yang sedang menjalani persalinan itu saking terharunya melihat usaha kami sampe teriak, “Doook! Huf…huf…huf…. Aduuuh… huf… huf… huf… dorong… dorong, saya jadi pengen pup! … Huf… huf…huf!”

Tiba-tiba… Prrrooootttt!!! Si Ibu beneran pup! Alhasil, aku, Budi, dan Evie dihukum PPDS untuk membersihkan lantai kamar bersalin.

Ketemu lagi sama dokter dodol, Ferdiriva, yang akan membuat kalian jumpalitan ketawa lewat tulisannya. Banyak pengalaman lucu dibagi sama Riva, sewaktu ko-ass atau pendidikan lanjut mahasiswa kedokteran dulu. Mulai dari nanganin pasien yang ngejedot-jedotin stetoskop ke kepalanya sendiri, sampai dia sendiri yang ngejedot-jedotin kepalanya ngehadapin dosen.

A must read book bagi kalian yang ingin tahu susahnya jadi dokter. Riva, dengan serial CADO-CADO ini sukses membuat saya menunggu karya dia berikutnya. Keep it coming, Bro! – Adhitya Mulya, penulis Jomblo, Gege Mengejar Cinta

Sumpah deh! Lucu dan keren cerita-cerita di buku ini! I love it, Doc! – Nycta ‘Jeng Kelin’ Gina, dokter/artis

cooltext1660176395

Saat lihat buku ini di rak toko buku, pertama terpikir adalah ini buku teks kedokteran. Otak saya kalo nyangkut dunia kedokteran itu udah capek duluan. That’s not my world banget *ahem. Pasti isinya sudah di luar kepala semua alias gak paham huahaha. Oke back to review.

Buku ini sebenarnya adalah buku kedua setelah Cado-Cado. Saya yang saat itu entah tidak ngeh atau emang cupu, gak beli edisi pendahulunya dulu. Ah nasi emang udah jadi bubur, biarlah. Di buku ini ada sepuluh cerita dalam 188 halaman. Dan lagi-lagi karena keterbatasan waktu *uhuk* jadi saya hanya bahas beberapa aja yang membekas di benak ya hehehe. Ada sebuah kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Bedah: (Amit-Amit Jadi) Dokter Cabul” sebagai kisah keempat. Membaca judulnya aja saya udah mesem duluan.

Seorang dokter itu selalu diharapkan untuk berpikir super-cepat, atau super-super-duper cepat, soalnya pekerjaannya kan menyangkut keselamatan orang. (hal. 69)

Lantas, apa hubungannya dengan dokter cabul? Ternyata, si Riva ini sedang ujian pada bagian ilmu bedah. Ternyata sistem ujiannya adalah sang calon dokter diberi tanggung jawab memeriksa seorang pasien yang nantinya akan diambil alih oleh dokter ahli bedah ketika sudah selesai. Sang pasien bernama Angel ini kayaknya emang secantik namanya ya *keplak*

Keluhan yang diderita Angel ini ternyata adalah adanya benjolan di (maaf) payudara. Yak benar, di bagian itu. Seperti biasanya, dokter kan selalu memeriksa dengan seksama bagian yang menjadi keluhan melalui duo indra (penglihatan dan peraba). Bisa terbayang kan bagaimana sikap Riva ketika menghadapi keluhan Angel? Hehehe.

Ada lagi kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Kesehatan Anak: Gagal Sok Cool” yang awalnya saya pikir ceritanya unyu-unyu khas anak kecil. Lah, apa hubungannya kecoa dengan bagian kesehatan anak? Oh ternyata (kok jadi kayak judul ftv di Tr*nsTV) kamar jaga di ko-ass anak itu sangat jorok sehingga sering mengundang kecoa-kecoa berdatangan. Dan Riva terlalu takut untuk menghadapinya sendirian.

Ada satu hal yang selalu aku harapkan nggak akan pernah menggangguku di saat jaga malam, juga nggak akan pernah membuatku keringat dingin saat melihatnya. Mayat? Bukan. Hantu? Bukan. TAPI… KECOA! (hal. 122)

Dengan bangga, saya menobatkan buku ini sebagai salah satu terbitan Bukuné yang terbaik. Karena saya sukses ketawa ngakak saat membaca berbagai kisahnya. Awalnya saya heran, buku teks kedokteran kok letaknya di deretan buku humor, jadi penasaranlah saya ini. Saat baca blurb di belakang buku, wah kok kayaknya seru. Bayangin aja, image para dokter (termasuk mahasiswa kedokteran, versi saya) itu kan elegan, higienis, pinter, dan sebagainya. Tapi, buku ini sukses bikin image itu hancur lebur.

Ternyata calon dokter juga manusia. Mereka kadang (sering, di buku ini) melakukan hal-hal bego dan lucu dalam kesehariannya. Mereka tidak selalu kaku dan saklek kok. Mereka juga bisa ngocol dan gokil. Apalagi namanya status masih mahasiswa ya, belom jadi dokter beneran, masih aja tetep nyinyirin dokter di rumah sakit yang bikin merinding disko.

Banyak sekali cerita-cerita kocak di buku ini. Namun, tenang saja. Meskipun banyak sekali istilah-istilah kedokteran dan medis, bagi pembaca (saya khususnya) yang amat sangat awam sekali dengan dunia dokter, jadi tidak terlalu kesulitan untuk mengerti. Karena ada penjelasan di awalnya dengan bahasa yang mudah dipahami. But overall, buku ini sukses bikin citra dokter itu tidak selalu kaku sodara-sodara. Kalo bicara cocoknya sih, buku ini pantas dibaca remaja hingga dewasa. Humornya yang segar dan tidak kaku bisa jadi hiburan tersendiri.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Talk About Hapé

coverbmtalk

Judul: Talk About Hapé

Seri: Kartun Benny & Mice

Komikus: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Nalar

Jumlah Halaman: vi + 106 halaman

Terbit Perdana: Maret 2008

Kepemilikan: Cetakan Kedua, Mei 2008

ISBN: 9789792690132

cooltext1660180343

Bener-bener humor yang jujur dan asli cerminan rakyat banget, realistis dan mengena, tanpa harus dibagus-baguskan dan ditambah-tambahi. Mudah-mudahan mas Benny dan mas Mice yang asli tetep konsisten dengan karya mereka yang menurut gw ga ada matinya ini. – kepakkepik.multiply.com

Alasan kenapa bintang 4 : karena gw paling suka kartun Benny & Mice diantara kartun lainnya yang hadir di Koran Kompas Minggu. Alasan kenapa bintangnya bukan 5 : karena halamannya kurang banyak. I want more!!!!!!! – blogindonesia.com/…/english/tsite/hprlnks_gintsya_dot_multiply_dot_com_slsh_reviews_slsh_item_slsh_100

Kalau saya diminta untuk mengajukan satu film animasi yang ‘tersinting’, saya akan mengajukan nama South Park. Bagaimana tidak, kartun ini berani mengkritik bangsanya sendiri dengan cara-cara yang ekstrem. Saya pikir, Benny and Mice merupakan kartun yang dapat mewakilkan ‘southpark’-nya Indonesia, selain kritik disampaikan dengan cara yang pas dengan kultur Indonesia, juga dapat mengibur.. Maju terus Benny dan Mice!!! – id.wordpress.com/tag/benny-dan-mice/feed/

“KOCAK DAN NORAAAAKKKK ABIISSSSS!!!”, itulah kalimat yang keluar dari mulut adik saya setelah membaca buku kumpulan kartun Benny & Mice karangan Benny Rahmadi dan Muhammad Misrad. Akhirnya setelah sekian lama menanti buku ini terbeli juga, setelah sebelumnya membaca buku Lagak Jakarta. Suatu cerita tentang realita Jakarta tetapi dilihat dari sudut yang berbeda, atau lebih tepat dari sudut pandang secara humor. – cdavidar.blogspot.com/2008/01/kartun-benny-mice.html

Benny & Mice kept finding their own unique (and hilarious!) way in adapting and blending in with the crowds, without conveying urbanity as *The Evil Being* but more of as a compliment to their gullibility. The strip is weekly published on Kompas every Sunday. – journal.marisaduma.net/2008/01/29/comic-strips-for-the-rest-of-us/

cooltext1660176395

Kartun Benny & Mice hadir lagi! Kali ini bukan dengan kumpulan kartun mereka yang dimuat di Kompas setiap hari Minggu. Dalam kartun ini mereka mengupas perilaku kita dengan handphone. Mereka juga mengkritik provider nomor telepon, penjual handphone dan pulsa, dan pelaku-pelaku lainnya. Tentu saja dengan gaya lucu, pedas, dan segar.

Pada buku ini, Benny dan Mice mengangkat fenomena penggunaan handphone alias HP alias hapé yang malanda masyarakat Indonesia. Tak dapat dipungkiri mulai dari tukang becak, pegawai kantoran, hingga presiden pun memiliki dan sanggup menggunakan hapé. Tak jarang sebagian orang memiliki hapé bukan karena kebutuhan, melainkan karena gaya-gayaan saja.

Cara orang membawa HP 3: Digantung, hidup ini sudah penuh dengan berbagai masalah dan beban, teman… Kenapa mesti ditambah lagi beban berupa HP yang gelantungan di leher? (hal. 74)

Selain itu, hapé identik dengan fasilitas sejuta umat yang disebut Short Messaging Service (SMS) yang memungkinkan setiap orang berkirim pesan singkat kepada orang lain menggunakan hapé. Selain tujuan umum tersebut, tentu ada sebagan orang yang melakukan iseng dengan mengirim SMS palsu kepada Mice seperti yang diceritakan di buku ini. SMS tersebut berisi sebagai berikut:

Nama saya Ayu, umur saya 6 tahun. Kemaren saya meninggal dunia karena tertabrak truk gandeng ketika saya menyeberang jalan… kepala saya remuk, sehingga darah berceceran di jalanan… saat ini arwah saya tidak tenang… dan gentayangan… Kirimkan SMS ini ke 20 temanmu..saat ini juga… Jika tidak, saya akan menghampirimu malam ini… (hal. 55)

Apesnya Mice, pulsanya habis. Dan ia terlalu takut mengabaikan SMS itu. Kemudian ia langsung ke counter pulsa dekat rumah untuk membeli pulsa demi menghilangkan ketakutan. Apakah berhasil? Tentu tidak dikarenakan counter pulsa tersebut sudah tutup.

Perlukah nomor cantik? Ketika mau menelpon Anda yang dicari di Phone Book adalah nama Anda, bukan nomor cantik Anda. (hal. 29)

Sebagian orang memang sengaja membeli nomor yang mudah diingat agar orang lain yang ingin menghubunginya tidak kesulitan. Tak jarang nomor yang biasa disebut nomor cantik ini harganya mahal. Padahal sesungguhnya, hapé berbeda dengan telepon umum atau telepon rumah yang calon penelepon harus mengingat nomor, hapé memilki fasilitas phone book yang menampilkan nama sehingga lebih mudah dicari. Artinya, penggunaan nomor cantik bisa dikatakan hampir sia-sia.

Saya mengenal Benny & Mice sebagai komikus sekitar 8 tahun yang lalu ketika menerbitkan buku. Maklum saya tidak pernah berlangganan koran harian Kompas karena harganya mahal. Padahal di koran tersebut menayangkan kartun Benny & Mice setiap minggu. Serasa ketinggalan hehehe. Karena komikus ini berasal dari Indonesia, goresan komik yang mereka hasilkan juga tidak jauh-jauh dari kebudayaan dan kebiasaan Indonesia. Salah satunya adalah penggunaan hapé.

Tidak sampai 1 jam saya membaca komik ini sampai habis, sumpah rasanya makjleb. Ya iyalah, soalnya kedua kartunis ini sukses menyindir sebagian besar masyarakat khususnya Indonesia yang memiliki hapé sebagai alat komunikasi. Mulai dari saat krisis beli pulsa, saling telepon dengan si yayang, bahkan pemilihan nomor cantik aja juga dijadikan bahan sindiran. Tak lupa promo dari provider telepon seluler turut menjadi bahan di buku ini. Menggelitik namun tetap cerdas.

Kekurangan komik ini saya rasa hanya pada jumlah halaman yang (menurut saya) amat sangat kurang sekali. Karena saya pengennya sampe 1000 halaman penuh. Maklum komik (apalagi komik humor) selalu tak pernah ada bosannya untuk saya baca, rasanya jadi ketagihan. Well, saya rasa saya hanya bisa menanti karya kartunis kocak ini saja daripada ngoceh-ngoceh lewat hapé hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Humor Obat Stres

coverhumor

Judul: Humor Obat Stres

Judul Asli: Jokes of Joginder Singh

Seri: Humor Obat Stres #1

Penulis: Joginder Singh

Penerjemah: Safrie HS

Penerbit: Hanggar Kreator

Jumlah Halaman: 114 halaman

Terbit Perdana: Maret 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2005

ISBN: 9799799892668

cooltext1660180343

Seorang bocah laki-laki dan neneknya yang menyayanginya sedang berjalan-jalan di tepian pantai. Tiba-tiba datang ombak dan menggulung bocah itu membawanya ke lautan. Wanita yang ketakutan itu, berlutut di atas pasir, menatap ke langit dan memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan cucu tercintanya. Dan kemudian datanglah ombak lagi yang membawa bocah yang pingsan itu menggeletakkannya di atas pasir tepat di depan neneknya. Sang nenek memeriksa cucunya dengan seksama. Dia baik-baik saja. Namun sang nenek tetap menatap dengan marah ke langit. “Sewaktu kami datang tadi,” katanya dengan marah, “dia pakai topi!”

cooltext1660176395

Saya baru tahu buku ini sebenernya adalah karya terjemahan ketika membaca informasi di dalamnya. Saya kira ini tulisan orang dalam negeri bumi Indonesia tercinta hehehehe. Iseng-iseng kemaren saya browsing wajah sang penulis yang berasal dari India ini. Ternyata…lebih ganteng saya *ahem. Baiklah lanjut ke isi buku aja deh yak hahaha.

Jadi buku ini berisi humor pendek yang sebenernya lucu-nanggung-akhirnya-rada-garing. Saya enggak ngitung ada berapa humor di dalamnya, tapi yang jelas buanyak banget. Lumayan bisa buat habisin waktu kalau lagi ngabuburit *aduh saya jadi kangen bulan ramadhan yang udah berlalu :’(*

Toni dan ibunya sedang melihat-lihat foto keluarga. Tatkala meihat foto seorang pemuda tampan berkumis ia bertanya, “Siapa ini?”

“Lho, itu kan ayahmu,” kata ibunya dengan bangga.

“Yeah?!” ujar Toni dengan skeptis. “Lalu siapa laki-laki botak yang tinggal dengan kita selama ini?” (hal. 52)

See? Agak agak garing kan ya? Lucu sih sebenernya *mungkin* kalau pakai bahasa aslinya. Tapi gara-gara ini terjemahan, jadi pakai bahasa baku. Menurut saya, penggunaan bahasa baku sedikit mengurangi kadar kelucuan suatu tulisan. Tapi bukan berarti semua tulisan di buku ini buruk. Ada lagi seperti ini yang cukup menggelikan.

Dua orang misionaris di Afrika ditangkap oleh sebuah suku kanibal. Mereka berdua dimasukkan ke dalam kuali raksasa berisi air dan direbus di sana. Beberapa menit kemudian, salah seorang misionaris itu tertawa terpingkal-pingkal. Temannya tak percaya melihat keadaan temannya itu dan bertanya,“Ada apa denganmu? Kita sedang direbus hidup-hidup! Mereka akan memakan kita! Apa yang lucu pada saat seperti ini?”

Misionaris satunya itupun menjawab,”Aku baru saja pipis di dalam sup ini!” (hal. 88)

Humor tersebut adalah segelintir humor yang membuat saya nyengir babi. Nyengir? Iya soalnya tidak ada satupun yang sanggup membuat saya tertawa lebar. Oh iya, sebelumnya, saya mau menginformasikan bahwa buku ini saya beli sekitar tahun 2005 ketika saya masih usia SD. Pada jaman itu saya sangat kekurangan bacaan yang lucu-lucu tapi bukan untuk anak-anak. Maksudnya bacaan yang tidak khas anak-anak yang sarat akan bahasa formal dan pesan moral. Maklum, udah ABG jadi nyarinya yang “berbeda”.

Saya ini tipenya kalau udah baca satu humor model beginian pasti bakal inget terus di memori. Mungkin inilah alasannya saya tidak terlalu bisa ketawa waktu baca buku ini. Ya mungkin karena sebelumnya sudah saya baca entah dimana. Dan saya juga tipe yang tidak bisa tertawa dengan lelucon yang sama. Tapi jika untuk sekedar selingan ringan untuk refresh otak yang lagi suntuk, buku ini mantap untuk dicoba kok.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Gigi Kelinci

covergigi

Judul: Gigi Kelinci

Penulis: Arifia Sekar Seroja

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Jumlah Halaman: x + 86 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9789796945849

cooltext1660180343

Bagaimana rasanya kalau kita memiliki gigi seperti kelinci alias tonggos? Itulah yang dialami oleh Mia. Ia menjadi sensitif dan minder. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Kristal, seorang anak yang memiliki problem gigi kelinci seperti dirinya. Ikutilah kisah serunya dalam buku ini.

Buku ini menyuguhkan kisah dan dunia anak yang sungguh-sungguh. Dengan cara bercerita yang menarik dan jalan pikiran yang runut serta emosi dan kegalauan yang khas anak, Arifia menyentakkan kita akan pentingnya kesahajaan. – Prof. Dr. Riris K. Toha-Sarumpaet, pakar sastra anak dan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Luar biasa! Dengan membaca buku ini kita seperti dibawa ke dunia anak-anak yang menggemaskan, kadang-kadang juga menjengkelkan dan sekaligus menyenangkan. Dan kita akan rindu pada dunia itu. – Maman S. Mahayana, M.Hum., pengamat dan kritikus sastra

cooltext1660176395

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek. Yang membuat unik adalah penulisnya yang masih berusia sembilan tahun (saat itu). Sangat jarang sekali (pada masa itu) ada penulis anak-anak yang sanggup merilis sebuah buku. Di buku ini ada sembilan cerita pendek yang semuanya adalah tokoh anak-anak. Saya kupas beberapa saja ya.

Kisah nomor satu tentu saja berjudu “Gigi Kelinci” sesuai yang tertera pada cover. Dikisahkan seorang anak perempuan bernama Mia yang tinggal di sebuah panti asuhan. Ia tidak percaya diri bergaul dan bermain dengan teman-temnnya. Hal itu dikarenakan kondisi fisik yang menurutnya sangat menyebalkan.

Gigiku tumbuh tidak beraturan, dan dua buah gigi atasku tumbuh lumayan besar seperti gigi kelinci atau orang biasa menamakan gigi tonggos! (hal. 2)

Namun semuanya berubah ketika negara api menyerang seorang gadis baru di panti asuhan bernama Kristal mencoba mendekatinya. Meskipun awalnya Mia sangat membenci Kristal, lambat laun sebuah rahasia besar terungkap dan membuat Mia terkejut. Hal ini membuat penilaian Mia terhadap Kristal menjadi berubah.

Ada lagi kisah pendek berjudul “Perkenalanku dengan Dony”. Tokoh utama kisah ini bernama Desty berusia sepuluh tahun. Ia menyukai Dony, teman satu sekolahnya. Kalau jaman sekarang sih istilahnya malu-malu kucing si Desty ini untuk kenalan duluan dengan Dony.

“Aku suka pada Dony. Pasti kalian belum tahu siapa Dony. Dia orangnya pintar, baik, dan suka olahraga. Aku ingin sekali berkenalan dengannya, tapi aku malu. (hal. 42)

Ternyata pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya Desty memiliki kesempatan untuk berkenalan langsung. Kisah berjumlah tiga halaman ini berakhir manis sekali untuk mereka berdua. Saya pribadi sedikit agak-agak kurang sreg dengan cerita ini sih. Secara umum semua cerita di buku ini menarik. Tentang dunia anak-anak, ditulis oleh anak-anak, dan ditujukan untuk pembaca anak-anak. Beberapa cerita juga mengandung pesan moral yang sangat baik bagi anak-anak. Selain itu terdapat ilustrasi yang mendukung inti setiap kisah yang disuguhkan.

Namun yang saya sayangkan, tata letak atau layout tulisan benar-benar menjengkelkan. Margin kanan tidak rata. Saya gemes pengen ngasih tau editor buku ini untuk mengaktifkan teks rata kanan-kiri alias justify di Microsoft Word. Bukannya apa-apa, tapi buku ini jadi terkesan terburu-buru diterbitkan gara-gara layout yang berantakan.

Dari segi cerita, biasa saja sih. Untuk ukuran seorang anak usia sekolah dasar (saat itu), sudah bagus bisa membangun imajinasi dan menulis cerita seperti ini. Namun sebagai pembaca yang sudah dewasa tua, saya merasa terkadang penjelasan mengenai tokoh, setting, ataupun plot masih sangat kurang. Jadi saya sering menemukan plot hole dimana-mana.

Oh iya, kisah berjudul “Perkenalanku dengan Dony” yang saya singgung diatas sebenermya gak begitu saya sukai jika dibaca anak-anak. Soalnya bercerita tentang seorang gadis berusia sepuluh tahun yang naksir kepada temennya sendiri (meski tidak eksplisit). Saya pikir itu terlalu dini banget. Usia segitu harusnya belajar yang rajin dan ngerjain PR, gak usah mikir naksir-naksiran. But anyway, buku ini cocok dibaca siapa saja kok hehe.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Kanza Si Gadis Berkuda

coverkanza

Judul: Kanza Si Gadis Berkuda

Penulis: Saiman Ian Mahesa

Penerbit: Studia Press

Jumlah Halaman: iv + 76

Terbit Perdana: Februari 2002

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Februari 2002

cooltext1660180343

Nama saya yang sebenarnya, Saiman. Nama tambahan Ian Mahesa. Kalau dipanjangin jadi Saiman Ian Mahesa. Nah, kalau untuk tulisan fiksi saya sering memakai nama komplit, tapi tak jarang Cuma tertulis Ian Mahesa saja atau Saiman saja. Kata orang tua sih, saya lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, tanggal 3 Agustus 1966. Dalam catatan buku harian, ternyata saya hobi nulis sejak mulai bisa membaca.

Mulanya nulis bahan-bahan belanjaan, kalau disuruh ke pasr oleh Ibu. Terus nulis puisi untuk dibaca sendiri. Tulisan lain, bertebaran pada Majalah Dinding Sekolah. Pokoknya, kalau perlu seluruh majalah dinding berisi tulisan saya saja…soalnya yang lain pada nggak mau ngisi. Lantaran nulis di mading memang nggak ada honornya… sejak SMA sudah menulis di HAI, untuk liputan kegiatan sekolah. Tahun 1990-1997 bekerja sebagai Wartawan Majalah HumOr.

Selain jadi wartawan, saya juga getol nulis naskah komedi, terutama untuk acara Bagito Show di RCTI. Kemudian juga bikin naskah untuk NGELABA Patrio di TPI. Cerpen dan cerbung saya sudah tak terhitung. Tersebar diberbagai majalah remaja, antara lain; Anita Cemerlang, Warta Pramuka, Kawanku. Nah, kalau menulis untuk anak-anak, saya baru mulai tahun 1998, untuk BOBO, INA, dan ORBIT. Khusus di ORBIT saya membuat cerita bersambung “KANZA SI GADIS BERKUDA.” Yang sekarang bukunya sedang kalian baca ini. O-ya, sebelumnya saya sudah membuat 3 novel remaja (serial IGO) yang diterbitkan oleh ELEXMEDIA KOMPUTINDO. Sekarang saya bekerja di Indosiar Visual Mandiri (INDOSIAR), bagian Scriptwriter Drama. Yang terpenting, ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti. Semoga…

cooltext1660176395

Apa jadinya sebuah cerita bersambung (cerbung) dalam sebuah majalah anak-anak diangkat menjadi novel? Hal inilah yang dialami cerbung hasil karya Saiman Ian Mahesa. Kanza Si Gadis Berkuda sesungguhnya merupakan cerita bersambung mingguan di majalah ORBIT. Kemudian suatu hari cerbung tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh dan menjadi buku.

Kisah bermula dari sebuah arena pacuan kuda mini (yang entah berada dimana), dimana sedang berlangsung turnamen pacuan lima ekor kuda. Kuda pertama hingga keempat telah melaju kencang meninggalkan kuda kelima yang melenggang santai. Joki sang kuda ini tentu saja kesal bukan main ketika tertinggal satu putaran. Namun entah kenapa, tiba-tiba kuda bernama Jaranda ini bisa melesat dan mendahului kuda yang lain sehingga menjadi juara pertama.

Tubuh Jaranda melesat bagai anak panah yang diluncurkan dari busurnya. Begitu cepat. Sampai sang joki menjerit-jerit. (hal. 4)

Ternyata hal ini karena kendali remote control seseorang bernama Profesor Tantan. Ia telah mengubah Jaranda dari kuda pacuan biasa menjadi kuda super. Namun hal ini membuat sang penjahat kelas kakap bernama Jack Boban berusaha membeli Jaranda meskipun Profesor Tantan tak menyetujuinya.

Karena terdesak, Jaranda kabur melarikan diri hingga sapai di kaki Gunung Gede, Jawa Barat. Ketiga anak buah Jack yang mengejarnya pun semakin bernafsu menangkap kuda itu. Namun naas, pertolongan gadis bernama Kanza membuat ketiganya lari tunggang-langgang. Bersama kedua orang tuanya, Kanza mencoba merawat kuda itu alih-alih menyerahkan kepada ketiga penjahat tadi.

“Kenapa kaki belakang kuda itu keras sekali. Tidak ada unsur daging di dalamnya. Lalu kenapa pula ada jahitan di luarnya….” (hal. 47)

Ternyata tak dinyana, ketiga penjahat (yang bernama Junoro, Dulpon, dan Ludri) datang kembali bermaksud mengambil Jaranda. Tentu saja terjadi pertarungan sengit ketiga penjahat melawan Jaranda dan Kanza dibantu sang ayah, Pak Rusli Amin. Bagaimanakah nasib Jaranda selanjutnya? Apa rahasia yang ia sembunyikan? Apa pula keuntungan bagi Kanza?

Pada dasarnya, ide yang diangkat dalam buku ini cukup menarik. Tentang kuda super yang bisa menjuarai pacuan kuda dengan mudah. Daya tarik humor paling menonjol adalah dialog antara Junoro, Dulpon, dan Ludri yang kocak. Selain kedua hal tersebut, saya bisa katakan tidak ada yang membekas di benak.

Di sampul belakang, saya sama sekali tidak bisa menemukan inti cerita. Malah profil penulis yang dituliskan. Di awal cerita, saya sungguh bingung dimanakah lokasi pacuan kuda. Karena kemudian tiba-tiba Jaranda berlari hingga kaki Gunung Gede. Tidak ada penjelasan diawal.

Lantas, sebagai cerita untuk anak-anak, banyak sekali hal yang tidak patut di buku ini. Misalnya adalah umpatan dan makian Jack Boban yang bertebaran serta kekerasan yang disajikan ketika bertarung. Entah kenapa, saya juga sangat terganggu dengan penyebutan bapak Kanza, bernama Pak Rusli Amin. Kenapa penyebutan nama beliau harus diulang-ulang dengan “Pak Rusli Amin”?? Apakah tidak cukup dengan “Pak Rusli” saja. Kemudian pemberian nama tokoh yang tidak tepat. Saya rasa joki yang sempat berdialog lebih pantas diberi nama (daripada disebut joki satu, dua, tiga, dst) dibanding nama peternak kuda yang muncul sedetik dalam cerita saja tidak.

Berbagai kata tidak baku juga menghiasi buku ini. Membuat saya jengah membacanya. Misalnya “ngejoprak” dan “semaput”. Saya pikir kata tersebut belum diserap dalam KBBI. Sebenarnya alur cerita mengalir lancar. Tapi saking lancarnya jadi kayak arus deras. Berbagai hal terasa sekilas, bahkan tidak dijelaskan asal-usulnya.

Akhir yang terburu-buru dan menggantung (dan sangat ajaib) adalah kekurangan fatal cerita ini menurut saya. Sebaiknya bisa diselesaikan secara realistis dan masuk akal. Oh iya by the way, *SPOILER* kalau hanya kaki Jaranda yang dikendalikan, bagaimana mungkin organ tubuh yang lain juga ikut menuruti perintah? Ah saya tak mengerti maksud penulis buku ini bagaimana.

Penilaian Akhir:

goodreads-badge-add-plus