Rss

Angan Senja & Senyum Pagi

coverangan

Judul: Angan Senja & Senyum Pagi

Penulis: Fahd Pahdepie

Penerbit: Falcon Publishing

Jumlah Halaman: 360

Terbit Perdana: Maret 2017

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2017

ISBN: 9786026051455

Format: Paperback

cooltext-blurb

Hujan malam itu lambat dan panjang. Angan dan Pagi saling mematung, terpisah jarak dari kisah mereka yang beku di ujung waktu. Lanskap taman seolah tak ingin menunjukkan diri, lampu merkuri temaram di antara mereka berdua, dikaburkan rintik hujan.

Angan memerhatikan wajah Pagi. Wajah itu, wajah yang pertama kali ia lihat belasan tahun lalu dan membuat matanya nyalang semalaman, wajah yang entah bagaimana diciptakan Tuhan dengan alis yang sempurna, hidung yang sempurna, bibir yang sempurna… Tak pernah bisa pergi dari inti memorinya selama ini.

Angan melangkah mendekat ketika payung miliknya lepas dari genggaman. Kemudian ia menarik ujung payung bening milik Pagi. Angan masih bisa melihat wajah Pagi dari balik payung bening itu, meski titik-titik hujan masa lalu sedikit mengaburkannya. Namun, itu cukup buat Angan… Itu cukup. Sebab ketika ia mengecup payung itu, seolah di kening Pagi, ia tak perlu menjelaskan apa-apa lagi…

Tentang Angan Senja yang tak pernah berhenti menanti Senyum Pagi.

“Kisah cinta yang dewasa. Liris. Manis. Puitis.” —Reza Rahadian, Aktor

“Novel yang indah. Ada rasa kesal, lega, sedih, haru, kecewa, bahagia. Semua jadi satu.” —Bunga Citra Lestari, Aktris dan Penyanyi.

cooltext-review

CLBK sering digunakan sebagai akronim Cinta Lama Bersemi Kembali. Namun, kadang ada pula yang mengatakan CLBK adalah kependekan dari Cinta Lama Belum Kelar. Novel berjudul Angan Senja & Senyum Pagi ini sepertinya mengangkat kepanjangan CLBK yang kedua sebagai inti utama kisahnya. Cinta belasan tahun kemudian antara dua sejoli yang menghiasi buku sepanjang 360 halaman ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Penasaran?

Mari berkenalan dengan tokoh utama pria, Angan Senja. Pemuda berusia 35 tahun ini adalah seorang akuntan hebat di bidang pajak dan keuangan yang sangat sukses berkarir di Jakarta. Statusnya yang masih lajang belum cukup ditutupi oleh berbagai prestasi membanggakan sejak masa sekolah hingga dewasa. Perhatian serius dari ibunya sendiri yang tidak terlalu dianggap oleh Angan berujung pada perginya Ibun –panggilan ibu Angan– menghadap Sang Khalik.

Tapi males aja. Di Indonesia jadi ilmuwan nggak ada masa depannya. Ekonomi lebih asyik… (Halaman 51)

Sepeninggal Ibun, Angan menghadapi sebuah wasiat dari almarhumah yang meminta Angan segera membina rumah tangga. Bahkan Ibun telah mempersiapkan calon istri untuk anak semata wayangnya itu. Meskipun demikian, Angan justru teringat pada masa-masa sekolah menengah. Saat ia merasakan cinta, kebahagiaan, sekaligus penderitaan hingga hampir tujuh belas tahun terakhir karena seorang perempuan.

Adalah Senyum Pagi, sang primadona sekolah penyuka musik dari Dewa 19 sekaligus perebut hati Angan. Perjumpaan tak sengaja di sebuah bilik tak terpakai di sudut sekolah antara Angan dan Pagi membuat mereka semakin dekat. Meskipun terpaut dua jenjang tingkatan kelas, Pagi berencana mengungkapkan perasaannya pada adik kelasnya yang langganan juara olimpiade matematika itu. Sayang, rencana yang matang harus berakhir tanpa ungkapan.

Hidup tetap indah, kok, meski kita tak bisa menyelesaikan hitungan-hitungan matematika. Sebab hidup jadi indah karena kita tak selalu dapat memperhitungkannya, kan? (Halaman 66)

Kondisi yang satu merasa tidak pantas untuk yang lain akhirnya memupuskan hari penting itu. Hujan deras seakan mewakili perasaan Pagi yang harus menyingkir dari kehidupan Angan selama-lamanya. Tujuh belas tahun berselang, Pagi telah tumbuh menjadi ibu tunggal berusia 36 tahun dari seorang anak perempuan bernama Embun. Bakat alami sang anak membawanya berjumpa dengan Angan, masa lalu yang ia coba hapus dari memorinya.

Musik itu matematika perasaan. Mungkin ia bisa dikalkulasi, tapi punya kemungkinan yang tak terbatas… Infinity. (Halaman 183)

Perjumpaan antara Senyum Pagi dan Angan Senja tidak bisa dibilang mulus. Meski keduanya telah “menyelesaikan” apa yang seharusnya diakhiri belasan tahun yang lalu, keduanya tidak bisa memaksakan keadaan. Terlebih Pagi berencana menikah dengan seorang pengacara sukses bernama Hari beberapa pekan lagi. Pun demikian dengan Angan yang merasa bersalah karena masa lalu akhirnya mencoba menunaikan wasiat Ibun dengan melamar sepupu jauhnya, Dini.

Mungkin aku tak akan bisa melupakan Pagi. Tapi, bersama Dini aku bisa bahagia, meski tak sama dengan saat aku bersama Pagi. (Halaman 258)

Novel ini memiliki 35 bab utama beralur maju dengan latar masa kini serta 10 bab sampingan berisi flashback masa SMA yang terdiri atas empat bab dari sudut pandang Pagi dan enam lainnya dari sudut pandang Angan. Melalui sepuluh bab masa lalu inilah pembaca bisa merasakan betapa kuatnya rasa cinta yang dialami kedua tokoh utama saat itu.

Akhir masa SMA tidak turut mengkahiri kisah cinta Angan dan Pagi. Persepsi kebahagiaan yang kelak akan ditemui membuat satu sama lain harus menelan pahitnya kehilangan tanpa ada kejelasan. Namun, siapa sangka tujuh belas tahun kemudian Angan dan Pagi dipertemukan ketika situasi tak lagi sama dengan sebelumnya. Inilah saat pendirian keduanya diuji.

Pada umumnya kejujuran bisa menyelesaikan masalah. Pun demikian dengan masalah Angan dan Pagi yang mengganjal dimasa lalu. Keduanya memang tidak jujur pada perasaan masing-masing. Mereka memahami perasaan mereka sendiri namun tidak saling tahu tentang perasaan yang lain. Naas, kejujuran mereka sekarang justru menimbulkan masalah baru.

Rasa cinta akan menemukan jalan dan muaranya masing-masing. Sekuat apa pun setiap orang menahannya, sejauh apa pun jalan yang harus ditempuh… Jika mereka ditakdirkan bersama dan saling mencintai, mereka akan bersama pada waktunya. (Halaman 159)

Setiap halaman buku ini sejak awal hingga hampir akhir membawa pembaca turut hanyut pada perasaan Pagi dan Angan. Sudut pandang orang ketiga membuat eksplorasi perasaan tokoh tidak ada yang lebih unggul. Semua mengundang simpati pembaca. Bahkan tokoh yang pada awalnya terasa kurang baik ternyata menyimpan suatu hal yang cukup mengecoh.

Novel ini memiliki jumlah halaman yang cukup tebal dengan tulisan yang tidak terlalu kecil. Seharusnya jumlah halaman bisa dikurangi dengan sedikit mengecilkan ukuran huruf. Atau tetap mempertahankan halaman yang tebal dengan mengecilkan tulisan, tetapi ditambah beberapa bagian yang kurang. Misalnya kisah perjuangan Angan setelah berpisah dengan Pagi.

Bab pertama hingga bab 32 yang sangat mengagumkan seolah merupakan tanda bahwa lima bintang patut disematkan untuk novel indah karya Fahd Pahdepie ini. Sayang, bab 33 dan bab 34 sanggup menggugurkan satu bintang penilaian. Akhir kisah yang terasa amat dipaksakan dan kurang realistis justru merusak sederhananya kepingan kisah yang tersaji sebelumnya.

Meskipun demikian, novel ini termasuk karya yang bagus. Penulis tidak menggunakan istilah sulit dan bahasa tinggi, melainkan dengan lugas menyampaikan maksud melalui kalimat yang pendek dengan diksi yang sangat kaya. Perpindahan latar waktu masa kini dan masa lalu terlihat jelas perbedaannya sehingga pembaca tidak dibuat bingung.

Chemistry yang terbangun antar tokoh juga tidak bisa dilupakan begitu saja. Semua memiliki porsi masing-masing, tetapi tidak mengikis eratnya hubungan yang terjalin satu sama lain. Sejak awal hingga akhir cerita, sang penulis piawai memperhatikan ikatan tersebut meskipun banyak gejolak penting yang mengiringi kehidupan sang tokoh. Sangat bagus.

Tambahan bintang penilaian juga disebabkan oleh banyaknya singgungan matematika dan musik yang dapat menyatu sehingga menghasilkan alunan nada indah. Bahkan Embun berpartisipasi pada acara bertajuk Mathematical Concert. Meski awalnya kurang jelas konsep itu, penjelasan Angan tentang frekuensi dari senar alat musik sedikit menghalau rasa penasaran.

Satu lagi hal yang sangat unik dari novel ini adalah nama para tokohnya yang sangat Indonesia. Selain Angan Senja dan Senyum Pagi, sebut saja Embun Fajar, Nyala Cakrawala, Dini Cahya Wulan, Wak Siti, hingga Wak Sabar dan Pakde Slamet. Hal ini seolah mengindikasikan kata-kata dalam bahasa Indonesia sangat keren saat menjelma menjadi nama seseorang.

Kegelisahan perasaan Angan, kalutnya pikiran Pagi, kerasnya kemauan Hari, serta santunnya seorang Dini adalah hal-hal yang sangat memukau di novel ini. Hangatnya keseharian Angan dan Pagi saat masa sekolah serta bimbangnya masa kini yang dijalani oleh keduanya membuat novel ini sulit ditinggalkan sebelum halaman terakhir tanpa menyisakan rasa penasaran.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Kesetiaan Mr. X

coverkesetiaan

Judul: Kesetiaan Mr. X

Judul Asli: Yôgisha X No Kenshin

Seri: Detective Galileo #3

Penulis: Keigo Higashino

Penerjemah: Faira Ammadea

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 320

Terbit Perdana: 25 Juli 2016

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 25 Juli 2016

ISBN: 9786020330525

cooltext-blurb

Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.

Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.

Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.

cooltext-review

Saya tidak sering membaca novel terjemahan dengan tema fiksi kriminal. Ini pertama kalinya saya mencicipi sebuah novel terjemahan dari Negeri Sakura yang mengusung genre thriller-kriminal-misteri. Yōgisha X No Kenshin atau Kesetiaan Mr. X adalah buku ketiga dari seri Detective Galileo karangan Keigo Higashino. Premis ceritanya sangat menarik yaitu tentang kegigihan seseorang menyembunyikan fakta kejahatan agar tidak dapat diungkap kepolisian. Akankah usahanya berhasil?

Tetsuya Ishigami adalah seorang guru matematika. Ia hidup sendiri di sebuah apartemen dan memiliki tetangga seorang wanita bernama Yasuko Hanaoka dan anak perempuannya, Misato Hanaoka. Akibat sebuah kejadian dimasa lalu, Ishigami memendam rasa pada Yasuko. Sampai-sampai hampir setiap hari Ishigami membeli bekal makan di Kedai Benten-tei, tempat Yasuko bekerja.

Kehidupan Yasuko mulai terusik saat suatu hari mantan suaminya, Shinji Togashi, mengunjunginya. Puncaknya, kehadiran Togashi di apartemen Yasuko harus berakhir dengan tragis. Meski awalnya Yasuko ingin menyerahkan diri ke polisi, Ishigami yang mencintai wanita itu menawarkan bantuan untuk “mengurus” mayat Togashi dan membuat alibi sempurna untuk tetangganya itu agar bebas dari kecurigaan polisi.

Bukan ilmu matematika sejati namanya kalau menggunakan komputer untuk membuktikan kebenaran sebuah teori. (Halaman 90)

Sementara itu, Detektif Shunpei Kusanagi dan Detektif Kishitani yang menangani kasus tersebut mengalami jalan buntu karena kecurigaan mereka pada Yasuko terhalangi oleh alibi sempurna buatan Ishigami. Yukawa Manabu, sahabat Kusanagi, merupakan orang yang sering mendapat keluhan Kusanagi saat menemui hambatan dalam bertugas. Kali ini ketertarikannya timbul saat mengetahui bahwa Yasuko dan Ishigami hidup bertetangga.

Rupanya ada alasan pribadi di balik kasus ini sehingga Yukawa memutuskan untuk menjumpainya sendiri. Apa pun alasannya, Kusanagi tidak ingin mengusiknya. (Halaman 180)

Keadaan bertambah pelik ketika Kudo Kuniaki, duda yang menyimpan rasa pada Yasuko sejak lama, mulai sering mengunjungi Yasuko. Ia berdalih hanya ingin memastikan Yasuko baik-baik saja setelah kematian Togashi. Awalnya Yasuko juga menaruh hati kepada Kudo. Namun kata-kata Misato membuat Yasuko sadar bahwa “kebaikan hati” Ishigami tidak dapat dilupakan begitu saja.

Setelah sekian lama mempersiapkan segalanya dengan amat matang, Ishigami mulai gentar karena Yukawa ikut campur dalam kasus ini. Begitu pula Yasuko sempat membohongi Ishigami dan menyeret Kudo dalam pusaran situasi ini. Yukawa Manabu sang Profesor Galileo yang baru saja reuni dengan “sahabat” lama juga tidak berniat menjebloskan Ishigami ke penjara. Namun, apakah Yukawa bisa bertahan melihat fakta-fakta yang ia pecahkan sendiri?

Jangan terlalu banyak berpikir. Mungkin temanmu itu memang genius matematika, tapi dalam membunuh dia hanyalah amatir. (Halaman 200)

Gila. Saya tidak menyesal karena mengawali debut membaca novel fiksi misteri-thriller-kriminal dengan membaca Kesetiaan Mr. X. Eksplorasi tokoh, latar, hingga situasi yang berlangsung tertuang jelas melalui tulisan Keigo ini. Bagaimana tidak, awal bab di buku ini saja sudah berisi kematian Togashi. Keigo memang tidak membuat kematian Togashi sebagai puncak kisah, melainkan proses pengungkapan fakta kejadian tersebut yang ia tonjolkan.

Ada sembilan belas bab dalam buku ini. Bab pertama hingga empat belas masih berkutat pada penyidikan kasus. Meski saya agak bosan membaca bagian itu, rasa tegang sudah mulai saya rasakan kala memasuki bab lima belas hingga terakhir. Meskipun novel ini isinya thriller ala detektif, ada drama memilukan hati yang disisipkan oleh Keigo. Saya rasa hal inilah yang menjadi daya tarik terbesar novel ini.

Mengenai matematika dan fisika yang tertulis di blurb, saya merasa agak kecewa karena “porsi” matematika & fisika sangat terbatas. Saya awalnya menduga novel ini mengisahkan bagaimana Ishigami menciptakan sebuah “kondisi” ideal menggunakan teori matematika, kemudian Yukawa memecahkan teka-teki itu memakai rumus fisika. Nyatanya, saya keliru. Justru dunia filsafat dan filosofi tentang sejumput ilmu sains yang bertebaran.

Wajar jika seseorang bertanya-tanya mengapa ia harus mempelajari sesuatu, karena niat untuk belajar akan lahir saat pertanyaan itu terjawab. (Halaman 220)

Oh iya, Yukawa di sini tidak terlalu greget. Bahkan sebagai pengungkap kasus, ia tidak bisa menjawab satu keping misteri yang tertinggal. Selain itu, kepiawaian Yukawa dan Ishigami menunjukkan bahwa para detektif tidak becus apa-apa selain sebagai “pencari data” semata. Saya juga agak janggal membaca Ishigami yang cenderung anti sosial dan selalu fokus matematika bisa memperkirakan langkah-langkah yang akan diambil detektif.

Terlepas dari itu semua, saya sangat menikmati alur novel ini. Bahkan saya menyelesaikannya dalam waktu kurang dari empat jam. Semua itu tidak terlepas dari gaya terjemahan yang sangat baik dan nyaris tanpa typo. Oh, sebuah twist menjelang babak akhir buku membuat saya ternganga dan tidak menyangka bahwa Keigo akan menuliskan akhir kisah seperti itu. Mengapa oh mengapa.. T-T

Setelah menutup lembar terakhir buku ini, saya tidak menganggap penjahat selalu “hitam” dan orang baik selalu “putih”. Mereka memiliki alasan dalam bersikap. Tidak patut menghakimi orang lain tanpa melihat sudut pandang yang lain. Kejahatan yang dilakukan dengan dalih kebaikan juga bukan hal yang boleh dilakukan. Karena pada akhirnya, kejahatan yang paling sempurna tidak akan pernah menang.

Kita tidak bicara masalah perasaan. Menurutku tidak masuk akal jika seseorang merasa membunuh adalah jalan keluar dari penderitaan. Untuk apa menambahkan penderitaan lain dengan benar-benar melakukannya. (Halaman 212)

Penilaian Akhir:

goodreads badge add plus

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Blog Rico Bokrecension mendapatkan kehormatan menjadi host blogtour buku Kesetiaan Mr. X hasil karya Keigo Higashino. Ada satu orang pemenang di blog Rico Bokrecension yang akan mendapatkan novel ini persembahan Gramedia Pustaka Utama. Syarat dan mekanisme berikut ini mohon diperhatikan dengan cermat. Karena partisipan yang tidak memenuhi ketentuan akan didiskualifikasi.

  1. Follow akun twitter Gramedia dan akun richoiko.
  2. Share giveaway ini melalui twitter dengan hashtag #MrXBlogTour. Jangan lupa cantumkan url giveaway ini ya.
  3. Jawab pertanyaan berikut ini: Menurut kamu, manakah yang paling mudah saat mengerjakan soal matematika: “mencari sendiri jawabannya” atau “memastikan benar salahnya jawaban orang lain”?
  4. Jika sudah melengkapi persyaratan di atas, silakan tinggalkan komentar di bawah postingan ini dengan mencantumkan Nama, Link Share, dan Jawaban.
  5. Pemenang saya pilih berdasarkan jawaban yang paling menarik sesuai kehendak saya hoahahaha. Saya tidak mencari jawaban yang benar kok. Saya hanya ingin melihat pendapat kamu saja.
  6. Periode giveaway di Rico Bokrecension berlaku mulai tanggal 20 Agustus 2016 hingga tanggal 21 Agustus 2016, dan hanya untuk kamu yang memiliki alamat kirim di Indonesia. Pengumuman pemenang serentak pada tanggal 29 Agustus 2016 bersama host yang lain.

Nah, sekian informasi giveaway dalam rangkaian blogtour buku Kesetiaan Mr. X di Rico Bokrecension. Terima kasih sudah membaca postingan ini sampai akhir. Bagi kamu yang sudah ikutan, saya doakan semoga menang.. (˘ʃƪ˘) Jika ada yang kurang jelas, jangan sungkan tanya ya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan selamat pagi!

Sebelumnya, saya mengucapkan mohon maaf atas beberapa kendala yang terjadi selama berlangsungnya giveaway ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih pada penerbit Gramedia Pustaka Utama (yang diwakili oleh mbak Faira Ammadea, sang penerjemah) yang memberikan kesempatan pada saya untuk menjadi host dalam blogtour. Oh, tentu tak lupa divisi humas BBI a.k.a Mas Dion yang memenangkan saya dalam tender blogtour hehe.

Terakhir, untuk 16 orang yang telah mengikuti giveaway ini, terima kasih banyak! Jawaban kalian bagus-bagus semua. Membuat saya bingung tentang manakah yang lebih mudah dalam menjawab soal matematika, meskipun pertanyaan saya memunculkan persepsi baru dan rada ambigu T.T Langsung saja, ini dia nama pemenang beserta jawabannya yang berhasil mendapatkan hadiah buku Kesetiaan Mr. X by Keigo Higashino:

WIRDA ADILLA RIDYANANDA
Cari sendiri aja deh. Baru cek jawaban yang benar gimana. At least dengan begitu, kita tahu dimana letak kesalahan kita, bagian apanya yang susah. Jadi belajar lah, lagian juga jadi inget rumusnya. Soalnya jawaban orang lain (yang bukan jawaban dari si pemberi/pembuat soal) belum tentu bener juga meskipun lebih gampang dan lebih sedikit geraknya XD Memastikan benar salah jawaban orang lain juga pointless kalau jawaban benernya nggak tau.

Yak, selamat! Untuk pemenang, akan saya hubungi melalui media sosial. Diwajibkan konfirmasi maksimal tanggal 30 Agustus 2016 pukul 09.00 WIB. Kalau tidak ada kabar sama sekali, saya akan pilih pemenang baru. Bagi yang belum beruntung, jangan kecewa. Saya akan mengadakan giveaway lagi di blog ini. Kapan? Rahasia. Tunggu aja pokoknya :)

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan sampai jumpa lagi!

SuperDidi

coverdidi

Judul: SuperDidi

Sub Judul: Karena jadi Ayah itu, seru!

Penulis: Silvarani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 256

Terbit Perdana: 2 Mei 2016

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2 Mei 2016

ISBN: 9786020326900

cooltext-blurb

Menjadi ayah itu susah-susah gampang,

Atau malah gampang-gampang susah?

Mimpi buruk semakin memperkeruh hari-hari Arka karena Wina belum bisa kembali ke Jakarta, padahal Anjani dan Velia akan tampil dalam drama sekolah. Pada hari yang sama, Arka harus mempresentasikan proyek bernilai triliunan rupiah. Kalau sudah begitu, apakah Anjani dan Velia yang harus dikorbankan?

Apakah mereka harus tampil tanpa ditonton kedua orangtua?

Mungkin begitu.

Sampai suatu saat, sang “Didi” melakukan tindakan “super”!

cooltext-review

Membentuk sebuah keluarga dan menjadi seorang ayah adalah impian sebagian besar pria. Memanjakan buah hati dengan pergi berlibur, makan malam bersama istri, dan bersenang-senang dengan seluruh anggota keluarga adalah sebuah hal yang membahagiakan. Namun semua itu terkadang sulit diwijudkan karena tersandung paradigma masyarakat umum tentang “peran dan tugas” seorang ibu dan ayah.

Begitu pula yang terjadi dengan keluarga kecil Arka, sang tokoh utama novel ini. Ia bersama Wina, sang istri, membina rumah tangga dan berperan menjadi orang tua Anjani dan Velia. Semua tampak baik-baik saja bagi Arka alias Didi. Pagi hari dibangunkan oleh dua ocehan manja dari sang buah hati, sarapan bersama sebelum beraktivitas, dan bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Hingga suatu ketika muncul sebuah tantangan baru untuk Arka.

Wina–yang biasa dipanggil Muti–harus rela meninggalkan anak-anak dan sang suami dikarenakan sahabat baiknya, Meisya, mengalami masalah besar di Hongkong. Hal ini tentu membuat Arka alias Didi harus berperan menjadi ayah sekaligus ibu untuk sementara waktu bagi Anjani dan Velia. Sebagai bantuan, Wina sudah memberikan catatan yang berisi jadwal penting Anjani dan Velia setiap hari.

Zaman sekarang, tak ada itu mengotak-ngotakkan kerjaan cowok atau kerjaan cewek. Semua bisa. (Halaman 93)

Disaat yang sama, Arka baru saja mendapatkan kehormatan menjadi ketua dalam tim pembangunan proyek benilai triliunan rupiah. Deadline yang hanya dua minggu membuatnya berpacu dengan waktu karena mengurusi segala keperluan Anjani dan Velia bukanlah hal yang mudah. Keterlambatan Wina pulang ke Indonesia juga menjadi masalah berat yang harus dihadapi Arka.

Puncaknya, pementasan drama yang dilakoni Anjani dan Velia terancam tidak dapat dihadiri Didi dan Muti karena keduanya berhalangan. Nah, hal ini menjadikan Arka harus berjuang keras agar kedua anaknya dapat berperan dengan sungguh-sungguh dalam pementasan tersebut. Berhasilkah Arka datang tepat waktu?

Arka juga menyadari bahwa peran Wina sebagai “muti”-nya Anjani dan Velia memang tidak dapat digantikan oleh siapapun. Begitu juga peran Arka sebagai “didi” tak dapat digantikan oleh Wina. Mereka berdua adalah satu kesatuan yang sama-sama berarti bagi Anjani dan Velia. (Halaman 175)

Menyentuh. Kata yang saya rasa sanggup mewakili perasaan saya setelah membaca novel ini hingga akhir. Ini bukanlah novel romansa tentang dua insan manusia, melainkan kisah keluarga yang saling menyayangi, gigih, dan pengertian. Saya jarang menjumpai novel Indonesia bertema keluarga. SuperDidi adalah salah satu novel yang menyuguhkan drama keluarga yang menjadi kesukaan saya.

Arka alias Didi bukanlah ayah yang sempurna. Ia harus bekerja keras mencari nafkah. Namun semuanya rela ia tinggalkan sejenak hanya untuk mengurus keperluan Anjani dan Velia. Wina alias Muti juga bukan ibu yang sempurna. Meninggalkan suami dan anak yang masih kecil selama beberapa minggu adalah satu hal yang tidak bisa saya setujui. Namun saya memahami bagaima ia merindukan dan mengasihi suami dan kedua anaknya dengan tulus.

Sifat dan perilaku Anjani dan Velia terdeskripsikan dengan baik sebagaimana anak usia TK pada umumnya. Mereka masih cengeng, mereka masih suka makanan manis, mereka masih suka bermain, dan mengidolakan Elsa dan Anna dari Frozen. Satu poin plus yang saya sukai adalah mereka sudah bisa memahami perihal kepergian Muti ataupun Didi yang tidak bisa mengantar les balet.

Alur yang disuguhkan novel ini adalah alur maju dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Saya rasa ini cocok karena apabila menggunakan sudut pandang orang pertama, perasaan dan pergolakan batin tokoh lain menjadi kurang tersampaikan dengan baik. Saya rasa ini adalah keberhasilan penulis yang telah berdiskusi secara matang dengan produser.

Produser? Ya benar, SuperDidi pada awalnya adalah film layar lebar yang rilis pada tanggal 21 April 2016 lalu. Kemudian tanggal 2 Mei 2016 lahirlah bentuk novelisasi film tersebut yang ditulis oleh Silvarani. Jujur saya belum sempat menonton filmnya, hanya menonton lewat trailer. Namun saya sudah bisa memastikan bahwa apa yang ada di film sudah tersaji lengkap di dalam novel.

Meskipun ini film bertema keluarga, sang produser, Reymund Levy, tidak lupa memberikan sepercik konflik asmara beberapa tokoh pendamping. Hal ini membuat saya tidak diliputi kebosanan karena mengikuti kisah keluarga Arka saja. silvarani sang penulis juga sukses menghadirkan kisah sampingan ini tanpa mengganggu kisah utama Arka. Oh iya, saya menemukan beberapa typo namun karena saya asyik membaca, typo tersebut tidak mengganggu kok.

Sebagai penutup, saya ingin merekomendasikan novel ini untuk para pembaca yang (mungkin) sudah bosan dengan drama romansa dua anak manusia, bisa melirik novel ini. Tema keluarga yang diangkat membuat kita bisa merenungkan apakah memang tidak mudah menjadi seorang ibu? Apakah memang berat menjadi seorang ayah? Yang jelas, berat ataupun tidak, selama dijalani bersama dan saling mendukung, niscaya kesulitan itu akan terlewati.

Tak gampang untuk menjadi seorang ayah

Tapi, tidak ada kata menyerah.

Malah terkadang semuanya tampak mudah.

Apalagi ketika melihat senyum mungil itu merekah.

Untuk seluruh ayah hebat di muka bumi ini…. (Halaman 5)

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah

coversejak

Judul: Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah

Sub Judul: Jalan Berliku Cinta dan Impian

Penulis: Sisimaya

Penerbit: DIVA Press

Jumlah Halaman: 268

Terbit Perdana: Februari 2016

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Februari 2016

ISBN: 9786023910809

cooltext-blurb

Dua jalan bercabang dalam hutan. Dan aku-

Aku memilih yang jarang ditempuh

Dan perbedaannya besar sungguh.

“Jalan yang Tak Dipilih” —Robert Frost

 

Pikiranku dipenuhi dengan satu tanda tanya yang tak seorang pun bisa membantuku memberikan jawaban. Benarkah jalan dengan semak belukar yang belum pernah ditempuh itu kelak akan membawa perubahan besar dalam hidupku?

 

Agus dalam dilema. Kariernya sebagai auditor di kosmopolitan Jakarta sedang menanjak, namun sang kakak memintanya pulang ke Desa Manggar Wangi di Blitar. Mas Bayu membangun mimpi membuat pabrik gula jawa. Dan Agus diminta untuk membantu mewujudkan mimpi itu.

Banyak yang Agus pertaruhkan; kenyamanan pekerjaan, cinta sang kekasih.

Maka, jalan mana yang akan ia pilih?

cooltext-review

Percayalah, manisnya gula jawa tidak selalu bisa memaniskan hidup pembuatnya. (Halaman 9)

Novel ini dibuka dengan tokoh utama Agus Wicaksono yang harus lahir namun kehilangan ibu. Masa kecilnya dihabiskan berdua dengan ayah yang seorang pengrajin gula jawa di Kabupaten Blitar, mengikuti tradisi turun temurun di desa Manggar Wangi. Keluarga yang sangat sederhana ini tidak selalu berbahagia. Puncaknya, kehilangan ayah selama-lamanya membuat Agus harus mengalami kisah pilu.

Ingat, Le, sebisa mungkin hindari berutang. Urusannya bisa panjang di akhirat nanti jika kamu berutang di dunia dan meninggal sebelum utangmu itu dilunasi. (Halaman 41)

Kondisi menyesakkan yang dialami Agus berangsur membaik ketika ia diangkat menjadi anak Pak Lurah. Pesan mendiang sang ayah selalu Agus ingat hingga memasuki jenjang perkuliahan sehingga tidak merepotkan keluarga barunya. Perjuangan menamatkan kuliah mengantarkannya menjadi warga metropolitan dengan kemewahan dan jabatan strategis sebuah perusahaan terkemuka.

Cinta itu memang klise. Tapi terkadang ia bisa membuat segala urusan menjadi rumit. (Halaman 75)

Kehidupan Agus di Jakarta mulai terusik ketika anak sulung Pak Lurah, Bayu, mengajaknya mendirikan pabrik gula di Manggar Wangi. Agus tak langsung menyanggupi. Selain rasa bimbang meninggalkan kesuksesan, ia juga sulit berhubungan jarak jauh dengan Anggi, kekasih yang hendak ia lamar. Namun sebuah kesepakatan dengan atasannya di kantor membuatnya mengikuti ide Bayu.

Selama kita masih mau merasakan perasaan dan kepentingan orang lain, kita tidak perlu takut menjadi tidak berguna untuk sesama. Hati yang dikotori oleh keegoisanlah yang membuat seolah tak ada gunanya Tuhan menciptakan kita, sekalipun hidup bergelimang harta. (Halaman 109)

Sejak saat itu, pembangunan pabrik dilaksanakan. Ilmu teknik yang dimiliki Bayu dan ilmu teknologi pangan milik Agus menghasilkan pabrik dengan sistem bagus. Sayangnya, perjalanan menuju pembuatan gula kelapa harus menemui cobaan bertubi-tubi. Tetapi Ratna, adik Bayu yang mengidap kekurangan ternyata bisa menjadi penyelamat menyelesaikan masalah.

Pada akhirnya, tetap saja ada cinta yang tidak mungkin bisa digenggam sekalipun sudah jatuh cinta mati-matian. (Halaman 160)

Meskipun permasalahan mengenai pabrik gula ini terselasaikan, tujuan akhir yang dharapkan Bayu dan Agus tidak tercapai mulus. Bahkan polemik antara Agus, Ratna, dan Anggi, muncul ditengah proses operasi pabrik yang tidak bisa ditinggal. Lantas, bagaimana Agus menyikapi segalanya? Apakah keputusannya benar dengan kembali ke desa dan meninggalkan hingar-bingar ibukota?

Dan biasanya hal-hal yang bertentangan dengan kelaziman yang sudah jamak diterima masyarakat biasanya masuk dalam kategori tidak normal alias gila. (Halaman 164)

Novel ini cukup padat dengan 20 bab cerita, ditambah prolog dan epilog. Jumlah halaman tiap bab yang tidak banyak membuat saya memiliki jeda dalam membaca. Cover buku yang memiliki siluet rumah, pohon kelapa, dan gedung bertingkat merepresentasikan isi novel. Banyaknya kutipan kalimat bagus serta berbagai ilmu yang diberikan penulis membuat saya sering ber-ooh.

Hal yang saya sayangkan adalah Manggar Wangi. Saya tidak mendapatkan jawaban mengapa penulis harus membuat desa fiktif. Saya lahir dan tumbuh dewasa hingga saat ini di Blitar. Seumur hidup saya tidak pernah tahu Manggar Wangi. Bahkan saya membaca Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2015 Tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan di Jawa Timur, tetap nihil. Seharusnya penulis memakai Desa Dayu sebagai sentra penghasil gula jawa di Blitar, tidak perlu mengada-ada.

Oh iya, novel ini sangat terasa sekali suasana Jawa Timur, khususnya Blitar. Karena saya merasa adat dan kebiasaan dalam kisah ini erat sekali dengan lingkungan saya yang ditunjang berbagai istilah bahasa Jawa yang digunakan. Namun alangkah lebih baik apabila dilengkapi catatan kaki karena ada beberapa ungkapan yang mungkin tidak dimengerti orang yang tidak memahami bahasa Jawa.

Mengenai tokoh, penulis piawai menciptakan tokoh yang cerdas dan baik hati. Saya bisa merasakan aura tokoh Bayu seperti BJ Habibie yang pintar dan rendah hati. Sedangkan tokoh Agus, justru saya agak kurang suka karena tidak tegas mengambil keputusan akibat terlalu banyak hal yang ia pertimbangkan, termasuk kelanjutan hubungannya dengan Anggi.

Ratna menurut saya adalah kuda hitam dalam cerita ini. Dibalik kekurangannya, ia menjadi juru kunci penyelamat dari jerat masalah pabrik. Hal ini membuat kisah ini terasa manis bagai gula kelapa meskipun saya sudah bisa menebak akhir ceritanya. Intinya, novel ini berisi banyak pembelajaran bagi anak muda masa kini. Sebagai penutup, ini ada kutipan paling favorit.

Menurut Mas Bayu, sudah terlalu banyak anak muda yang tergiur untuk berkarier di kota dan lupa bahwa kampung halaman mereka juga memerlukan sumbangan buah pikiran dan tenaga. (Halaman 260)

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Blog Rico Bokrecension mendapatkan kehormatan menjadi host blogtour buku Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah. Apakah kamu sudah ikutan giveaway kloter pertama di blog Utami Pratiwi? Belum menang? Sudah ikut yang kloter kedua di blog Nisa Rahmah? Masih belum sukses? Bagaimana dengan kloter ketiga di blog Afifah Mazaya? Masih belum dapet juga?

Baiklah ini adalah kesempatan terakhirmu mendapatkan satu novel Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah gratis persembahan DIVA Press. Syarat dan mekanismenya mohon diperhatikan dengan cermat. Karena partisipan yang tidak memenuhi ketentuan akan didiskualifikasi dan tidak akan memiliki kesempatan menang.

  1. Follow twitter divapress01 atau like fanpage Penerbit DIVA Press.
  2. Follow twitter richoiko.
  3. Promosikan GA ini melalui twitter dengan mention divapress01 dan richoiko. Jangan lupa cantumkan url giveaway ini ya.
  4. Ceritakan SATU hal yang ada di daerahmu (bisa daerah tempat tinggalmu saat ini atau kampung halamanmu) yang kurang dilirik namun menyimpan potensi besar apabila dikembangkan. Hal tersebut bisa berupa kuliner, pariwisata, kerajinan, sumber daya alam, atau apapun.
  5. Jika sudah melengkapi semua persyaratan diatas, silakan tinggalkan komentar di bawah postingan ini dengan mencantumkan Nama, Link Share, dan Jawaban.
  6. Pemenang dipilih berdasarkan jawaban yang menurut saya paling unik.
  7. Periode giveaway ini berlaku mulai tanggal 21 Maret 2016 hingga tanggal 27 Maret 2016 jam 23.59 WIB, dan hanya untuk kamu yang memiliki alamat kirim di Indonesia. Pengumuman pemenang pada tanggal 28 Maret 2016.

Nah, sekian informasi giveaway dalam rangkaian terakhir blogtour buku Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah di Rico Bokrecension. Terima kasih sudah membaca postingan ini sampai akhir. Bagi kamu yang sudah ikutan, saya doakan semoga menang.. (˘ʃƪ˘) Jika ada yang kurang jelas, jangan sungkan tanya ya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan selamat pagi!

Sebelumnya, saya mengucapkan mohon maaf atas beberapa kendala yang terjadi selama berlangsungnya giveaway ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih pada penerbit DIVA Press yang memberikan kesempatan pada saya untuk menjadi host dalam blogtour. Terima kasih juga saya ucapkan kepada penulis, Sisimaya, atas kesediannya saya usik sebentar melalui twitter karena bertanya beberapa hal hehe.

Terakhir, untuk 14 orang yang telah mengikuti giveaway ini, terima kasih banyak! Jawaban kalian bagus-bagus semua. Membuat saya yakin bahwa Indonesia masih memiliki banyak potensi daerah yang unggul. Langsung saja, ini dia nama pemenang beserta jawabannya yang berhasil mendapatkan hadiah buku Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah:

RINI CIPTA RAHAYU
Aku berasal dari Sibetan, Karangasem. Salah satu desa di timur pulau Bali yang terkenal sebagai daerah penghasil buah Salak terbaik di Bali. Buah dan olahan inilah yang jadi sumber daya alam yang menjadi unggulan daerahku. Salak yang kini tersebar di di Bali saat ini diduga berasal dari Sibetan. Sekitar 13 jenis Salak Bali telah teridentifikasi, yang biasa dikonsumsi adalah salak biasa (salak Bali), salak gula pasir, salak nangka. Jenis Salak Gula Pasir yang menjadi unggulan karena daging buahnya berwarna putih, rasanya manis tanpa rasa sepat atau asam.
Sebenarnya sudah ada agrowisata dan kelompok-kelompok tani yang membuat olahan dari Buah Salak, selain menjual buah aegar dan menyediakan bibit tanaman. Hanya saja masih ada banyak kendala terkait pengembangan potensi lokal ini. Agrowisata belum banyak dikenal, pengelolaannya juga masih perlu ditingkatkan. Pemasaran olahan Salak seperti wine, dodol salak, kurma salak, keripik salak juga masih terbatas. Sumber daya manusianya juga menurutku dapat ditingkatkan dengan mengadakan pelatihan atau pengembangan usaha kecil menengah. Ketika masa panen, harga Salak bisa menjadi sangat murah per kilogramnya.
Jika dikembangkan dan dikelola dengan baik, aku yakin Salak bisa menjadi ciri khas Karangasem dan tentu saja tujuan wisata baru. Masyarakat juga diberdayakan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Yak, selamat! Untuk pemenang, akan saya hubungi melalui media sosial. Diwajibkan konfirmasi maksimal tanggal 30 Maret 2016 pukul 09.00 WIB. Kalau tidak ada kabar sama sekali, saya akan pilih pemenang baru. Bagi yang belum beruntung, jangan kecewa. Saya akan mengadakan giveaway lagi di blog ini. Kapan? Rahasia. Tunggu aja pokoknya :)

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan sampai jumpa lagi!

Unforgiven

coverunforgiven

Judul: Unforgiven

Sub Judul: Hantu Rumah Hijau

Penulis: Eve Shi

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: vi + 262

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9797807304

cooltext-blurb

Kaylin tak percaya ada hantu di rumah hijau yang katanya angker. Tak ada yang perlu ditakuti dari rumah tua dan kusam itu.

Namun, sejak rumah kosong itu kedatangan penghuni baru yang misterius, semua berubah.

Tiba-tiba, suara jeritan mengerikan dan suara lirih tangis tengah malam itu terasa sangat nyata di telinga Kaylin. Bau anyir darah tercium dari rumah itu. Sang penghuni baru seakan-akan membangkitkan hantu-hantu yang ada di sana.

Kaylin ingin menarik ucapannya, tetapi terlambat. Sosok itu semakin mendekat, dengan kepala hampir putus….

cooltext-review

Saya cukup jarang menemui (dan membaca) buku bertema horror yang ditulis oleh penulis lokal. Seringnya sih menikmati nuansa horror dalam balutan film hollywood di bioskop. Nah, ternyata ada juga salah satu buku fiksi horror yang cukup banyak disebut-sebut dalam dunia perbukuan lokal. Tak ada salahnya saya mencoba untuk membaca buku seperti ini.

Cerita dibuka oleh percakapan dua orang anak SMA bernama Kaylin dan Rico (yep, that’s me! LOL!) yang dalam perjalanan pulang sekolah menuju kediaman mereka di sebuah komplek perumahan. Obrolan yang awalnya biasa saja menjadi cukup mencekam ketika Kaylin menyebut-nyebut rumah hijau, rumah terbesar dan terluas di komplek itu, menyimpan berita bahwa sering terdengar tangisan dari dalam rumah. Mendengar hal itu, Rico hanya menggumam tak menaruh kepercayaan pada omongan sahabatnya itu.

Tak disangka, obrolan mereka di senja kala itu menjadi cikal bakal teror yang mulai menghantui hidup mereka berdua. Mulai dari Kaylin, ia melihat sebuah tangan misterius yang kurus dan bebercak gelap menggapai gagang pintu rumahnya serta televisi yang tiba-tiba mati. Mencoba berpikir positif, Kaylin hanya menganggap hal itu sebuah halusinasi belaka akibat dirinya yang kelelahan.

Sedangkan Rico mulai mengalami kejadian misterius pula. Berbeda dengan Kaylin, ia mendapati sesosok misterius sedang menonton televisi – yang tentu saja bukan salah sau anggota keluarganya – tanpa ada tanda-tanda kehdupan serta ada tangan misterius yang kotor dan dingin menekan tangan Rico saat ia akan mematikan saklar lampu. Dan seperti Kaylin, ia hanya berpikir itu merupakan imajinasi yang berlebihan.

Sayangnya, kejadian misterius tak hanya sampai disitu. Cherie, adik Kaylin mengalami malapetaka di kamar mandinya sendiri akibat ulah si hantu wanita misterius yang meneror Kaylin. Bahkan Cherie sampai dibawa ke rumah sakit akibat kepalanya membentur lantai. Tak pelak hal ini membuat Kaylin berapi-api ingin menyelesaikan urusan paranormal ini. Mengetahui kejadian aneh tak hanya menimpa dirinya, Rico bersedia ikut membantu.

Urusan ini tidak semudah mereka selesaikan dalam hitungan hari. pasalnya, awal mula teror ini adalah ketika kakek Kaylin, Pak Iswar, dan kakek Rico, Pak Ferdi yang bersahabat dengan kakek pemilik rumah hijau, Pak Theo. Akibat suatu tragedi berdarah puluhan tahun yang lalu, hantu wanita yang bernama Eris menuntut balas pada keluarga Kaylin, sedangkan hantu pria bernama Markus mengusik kehidupan keluarga Rico.

Berbagai misteri yang menyelimuti rumah hijau dan isinya saling berkaitan satu demi satu dan menyebabkan misteri ini tidak mudah diselesaikan. Lantas, apa yang menyebabkan Markus dan Eris rela menunggu puluhan tahun untuk menuntut balas? Sebenarnya apa yang terjadi pada ketiga kakek yang bersahabat baik itu? Apakah semua akan berakhir pada halaman terakhir buku ini? Silakan membaca sendiri ya.

Well, saya cukup menyukai buku ini. Pertama, karena buku ini membuat saya berdebar ketika membacanya. Entahlah apakah imajinasi saya terlalu kuat membuat tulisan buku ini menjadi seram saat dibayangkan atau pilihan kata yang pas oleh penulis. Pokoknya membaca buku ini serasa menonton film horor. Kedua, tokoh utama pria bernama lengkap Rico Novarda. Hahaha aduh subjektif sekali. Tapi beneran kok, deskripsi si Rico yang berkacamata ini terasa saya buanget XD

Rico sendiri, kalau ia mau sombong, tidak standar-standar amat. Tingginya lumayan, 175 sentimeter. Tampangnya tidak mirip seleb mana pun, tapi jauh dari butut. Setidaknya, menurut Rico sendiri. (halaman 24)

Penjabaran betapa seramnya kondisi rumah hijau dan tentu saja, kedua hantu misterius turut menyumbang debar dada ini *halah. Saya baru pertama kali sih menjumpai deskripsi sosok makhluk halus yang berdasarkan penulisannya bisa saya bayangkan sendiri bagaimana rupa aslinya. Dan well, itu bukan hal yang menyenangkan untuk dibayangkan. Tapi justru inilah yang membuat buku ini sukses menjadi buku horror.

Satu yang membuat saya kurang menikmati buku ini dengan maksimal adalah mengenai latar tempat. Maafkan kalau saya terlewat membacanya, tapi saya rasa lokasi cerita Kaylin dan Rico ini dibuat benar-benar seperti sebuah tempat di negeri antah berantah yang tidak jelas. Awalnya ketika membaca nama sekolah Kaylin & Rico yaitu Primavera High, saya mengasumsikan setting-nya adalah di luar negeri, bukan Indonesia. Apalagi mengingat nama-nama tokoh buku ini juga rada kebarat-baratan.

Eh tetapi, ada Pak Herman yang menjabat sebagai ketua RT. Oke saya mungkin cupu, tetapi apakah diluar negeri juga ada RT? Kalaupun ada, mosok ya namanya Pak RT? Menurut saya hal ini jadi membingungkan pembaca, setidaknya saya sendiri. Latar tempat bisa mengungkapkan segalanya, mulai dari budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan berbagai istilah yang umum digunakan di lokasi tertentu. Jika penulis lebih greget menuliskan setting lokasi dengan lebih jelas, bisa jadi cerita horor ini bisa lebih dinikmati.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus

Jomblo

P

Judul: Jomblo

Sub Judul: Sebuah Komedi Cinta

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 211

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Kedua Puluh, 2013

ISBN: 9789797806859

cooltext1660180343

Empat sahabat dengan masalah mereka dalam mencari cinta.

Yang satu harus memilih—seorang yang baik atau yang cocok.

Yang satu harus memilih—antara seorang perempuan atau sahabat.

Yang satu harus memilih—lebih baik diam saja selamanya atau menyatakan cinta.

Yang satu harus memilih—terus mencoba atau tidak sama sekali.

Jomblo adalah sebuah novel yang menjawab semua pertanyaan itu. Pertanyaan yang kita temukan sehari-hari, baik dalam cerita teman atau cerita kita sendiri.

Maret – Adaptasi Buku ke Film

cooltext1660176395

Jomblo itu mungkin bagi sebagian orang adalah status diri yang cukup menyedihkan. Sebagian lain beranggapan jomblo adalah suatu pilihan yang bertanggungjawab. Saya tidak akan membahas jomblo berdasarkan norma agama ataupun nilai sosial. Yang jelas, status jomblo pasti pernah dialami sebagian besar masyarakat Indonesia.

Saya tidak tahu kapan dan siapa yang mencetuskan istilah jomblo. Namun julukan bagi seseorang yang tidak memiliki kekasih ini lebih booming pada kalangan anak muda antara usia sekolah hingga bangku kuliah. Terkadang status jomblo bisa dijadikan lelucon, tetapi seringkali jomblo sangat membuat hati gundah gulana #uhuk #bukancurcol.

Begitu pula yang dialami oleh empat sahabat berjenis kelamin laki-laki bernama Agus Gurniwa, Doni Suprapto, Olfiyan Iskandar, dan Bimo. Sebagai mahasiswa teknik sipil UNB angkatan 96 (gile saya ngerasa muda banget!), sebuah universitas yang minim kaum hawa, menyebabkan mereka dengan bangga menyandang status jomblo. Akibatnya demi memperluas area pencarian jodoh, mereka sengaja bertandang ke kampus tetangga, UNJAT, agar memperoleh akses kepada kaum hawa yang lebih baik.

Hal yang paling memalukan di dunia ini adalah terekspos menjadi jomblo dan jual pesona di kampus orang lain. (Hal. 5)

Sebelumnya saya beri tahu ya, jika kamu menginginkan novel cerita romansa anak muda yang baik-baik dan berbudi luhur nan terpuji, maka kamu tidak perlu repot-repot membaca novel ini. Soalnya keempat orang geng jomblo ini datang ke UNJAT selain ngecengin cewek-cewek, juga dalam rangka menemani Bimo membeli … ganja.

Bener kok kamu ngak salah baca. Kalau sebagian besar novel dengan tokoh anak kuliahan didominasi sifat rajin dan pintar, disini sudah diawali dengan Bimo, sang anak rantau dari Yogyakarta, yang doyan ngemil (?) ganja. Bimo ini anaknya meskipun sangar dan pengguna aktif barang haram tersebut, pengalamannya dalam urusan cinta masih nol besar.

Berbeda dengan Bimo, Agus Gurniwa adalah seorang pemuda Sunda yang menjunjung tinggi logat tanah kelahirannya dalam setiap percakapan. Sayangnya, kehidupan cintanya tidak bisa mencapai puncak tertinggi alias krik krik krik. Namun semua tak berlangsung lama. Berkat permintaan kakaknya membeli keju di pasar, ia bertemu kawan masa sekolahnya dulu bernama Rita Sumantri. Sudah bisa diduga akhirnya Agus dan Rita memasuki tahap pacaran gara-gara keju #terimakasihkeju

“…Kamu yang dulu celananya sering digantungin di tiang bendera kan?” (Hal. 24)

Mari sejenak melupakan Agus. Selanjutnya ada Olfiyan Iskandar yang biasa dipanggil dengan Olip. Dia yang berasal dari Aceh ini sebenarnya mirip-mirip Bimo sih dalam urusan asmara. Hanya saja, sebenarnya Olip sudah memiliki tambatan hati sejak dua tahun yang lalu. Gadis pujaannya ini bernama Asri.

Yang jadi masalah adalah, Olip ini orangnya sangaaaaaaat takut kenalan dengan Asri. Boro-boro Asri kenal, tahu ada spesies bernama Olip di kampusnya juga enggak. Yasudah otomatis Olip hanya bisa memandangi keelokan paras Asri yang anggun dan kalem setiap hari rabu di Kantin Tengah (kenapa rabu dan kantin apa itu? Baca sendiri yee)

Olip kembali konsentrasi pada bidadari paginya. (Hal. 42)

Konflik pertama dialami oleh Bimo. Sudah saya katakan kemampuan Bimo berinteraksi dengan cewek bagaikan anak balita yang diminta lompat indah di kolam renang. Sebuah telepon salah sambung di kos Bimo membuka gerbang perkenalan Bimo dengan seorang gadis.

Gadis yang mengaku bernama Febi ini memiliki suara yang lembut dan sesuai dambaan Bimo. Merasa tidak cukup hanya bercakap selama beberapa minggu melalui telepon SAJA, Bimo mengajak Febi ketemuan. Setelah beberapa kali menolak, Febi akhirnya setuju. Sayangnya pertemuan Febi dan Bimo sungguh diluar dugaan.

Oh iya ketinggalan satu orang lagi. Dia bernama Doni Suprapto. Sebenarnya paras Doni lumayan ganteng dan dari golongan cukup berada. Sayangnya kebiasaan free sex dan enggan berkomitmen dengan perempuan membuatnya betah menyendiri. Ia merasa hubungan dengan cewek tidak perlu terikat. Yang penting sama-sama senang, yasudah.

Merasa kasihan dengan Bimo, akhirnya Doni mengajaknya ke sebuah acara di diskotek untuk memberi pelajaran tata cara berkenalan dengan cewek. Agus ikut serta namun Olip tidak bergabung karena sedang diare (ahelah penyakit sejuta umat anak kos banget).

Disana mereka bertemu dengan seseorang yang sangat familiar. Ternyata dia adalah Asri yang berpenampilan jauh berbeda dibanding saat di kampus (ya iyalah, mosok ya ke diskotek pakai kemeja dan bawa ransel). Merasa ini adalah kesempatan berkenalan dengan Asri agar Olip lebih mudah untuk berhubungan, mereka bertiga mendatangi Asri dan kawan-kawannya.

Agus melihat sebuah pemandangan yang tidak dia percayai. Dia melihat Doni menggamit Asri dan hilang di balik pintu keluar. (Hal. 104)

Di sisi lain, Agus merasa hubungannya dengan Rita menjadi tidak sehat. Ratu drama, posesif, dan semaunya sendiri membuat Agus merasa tertekan. Padahal sifat keibuan dan kalem yang dimiliki Rita adalah hal yang membuat Agus tergila-gila pada awalnya. Sayangnya, Agus tidak bisa menahan dan akhirnya berselingkuh dengan Lani, anak teknik industri angkatan 96, tanpa sepengetahuan Rita (ya iyalah mana aja selingkuh bilang-bilang zzz).

Sementara itu, setelah tiga tahun berdiam diri tanpa langkah apapun, Olip akhirnya mencoba berkenalan dengan Asri di hari rabu di Kantin Tengah #teteup. Entah terlalu gugup atau terlalu semangat, Asri menjadi enggan berdekatan dengan Olip. Sebuah jawaban telak bahkan diberikan Asri pada Olip yang akhirnya membuat Olip tak berkutik. Jawaban apakah itu? Lantas, bagaimana akhir kisah asmara dan persahabatan Doni, Agus, Bimo, dan Olip? Silakan baca bukunya deh.

Sebenarnya inti kisah masing-masing tokoh pria di buku ini sangat lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan anak muda. Bimo adalah potret seorang pria cupu yang tidak memiliki pengalaman interaksi apapun terhadap lawan jenis. Agus adalah representasi seorang pemuda yang jenuh dengan hubungan pacaran dan mengambil jalan keluar singkat.

Doni merupakan tipe anak muda doyan hura-hura dan seks bebas yang menganggap komitmen dengan perempuan adalah hal yang sangat merepotkan. Sedangkan Olip adalah seorang secret admirer yang betah berlama-lama mengagumi gadis pujaan tanpa inisiatif memulai perkenalan. Meskipun begitu, rasa persahabatan mereka cukup erat kok.

Kalau boleh saya berkomentar, sebenarnya masalah yang terjadi dalam kehidupan mereka berempat sangat biasa dan tidak bombastis amat. Bahkan pertemuan Asri dan Lani di toilet terasa kaku, dipaksakan, dan terlalu kebetulan. Oh iya, tindakan Agus wara-wiri memakai kostum ayam demi Lani juga terasa sangat janggal bagi saya, baik alasan maupun tujuannya.

Saya juga merasa konflik setiap tokohnya hanya diselesaikan sekilas tanpa ada keberlanjutan yang lebih jauh. Penyelesaian urusan Lani dan Agus di restoran yang diakhiri dengan ciuman bibir juga membuat saya mengernyit. Haloo, itu restoran masih ada di Indonesia lho ya. Kalau mau cipokan mbok ya jangan di tempat umum #ehsaranapaini.

Ketika sudah mencapai halaman terakhir, saya agak kecewa. Memang urusan asmara dan persahabatan mereka berempat sudah bisa dikatakan terselesaikan. Tetapi tidak tuntas penyelesaiannya. Saya sangat berharap ada epilog tentang kehidupan selanjutnya para tokohnya. Oh iya selain itu yang pasti, gaya hidup tokoh-tokohnya yaitu free sex, drugs, dan minuman keras di diskotek bukan perilaku yang patut dicontoh generasi muda ya.

Namun beberapa kekurangan diatas tertolong oleh gaya penulisan yang kocak dan menghibur. Celetukan dan kalimat-kalimat tidak penting membuat suasana tulisan menjadi segar dan tidak membosankan. Berkali-kali saya dibuat ngakak dengan serpihan-serpihan banyolan penulis pada beberapa sisi tulisan. Tapi meskipun begitu, penulis tetap berhasil menyampaikan inti setiap bagian cerita dengan baik hingga halaman terakhir.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Resensi ini saya posting dalam rangka Baca Bareng BBI. Tema bulan Maret 2015 adalah buku yang diangkat menjadi film. Buku Jomblo karya Adhitya Mulya ini sudah diangkat ke layar lebar pada tahun 2006 dengan pemain-pemain muda (pada masa itu) antara lain Dennis Adhiswara, Rizky Hanggono, Christian Sugiono, Ringgo Agus Rahman, Rianti Cartwright, Nadia Saphira, Karenina, dan Richa Novisha. Berikut ini trailer filmnya.

Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dan Mitzy Christina dari SinemArt adalah produser film ini. Para pemainnya juga berhasil menghidupkan tokoh dalam novel dengan baik (tidak seperti kebanyakan artis jaman sekarang yang cuman modal tampang doang tapi kualitas akting zzzz). Meskipun kocak dan penuh adegan menggelitik, pesan dan makna dalam film ini tersampaikan dengan baik sesuai novelnya. Apalagi Rianti Cartwiright sangat cantik #aduh #gagalfokus.

YouTube Preview Image

Karya layar lebar hasil arahan sutradara Hanung Bramantyo ini meraih nominasi beberapa ajang penghargaan film, antara lain: nominasi Festival Film Indonesia 2006 untuk Piala Citra kategori Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik; nominasi Festival Film Jakarta 2006 kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terpilih, Pemeran Pembantu Wanita Terpilih, Penulis Skenario Asli Terpilih, Penata Musik Terpilih, dan Penata Suara Terpilih; nominasi MTV Indonesia Movie Awards 2006 kategori Most Favorite Actor, Most Favorite Rising Star, Most Favorite Heart Melting Moment, Best Crying Scene, Best Director, dan Best Movie of The Year.

Saking suksesnya novel dan film ini, bahkan RCTI menayangkan Jomblo The Series (yang saya tidak ingat pernah menontonnya) pada tahun 2007 namun dihentikan penayangannya di tengah jalan karena masalah rating. Padahal tanggapan dari para netizen yang saya baca pada suka loh. Kemudian sempat ditayangkan ulang pada November 2014 lalu (yang saya juga enggak pernah nonton heheheh).

Croissant

covercroissant

Judul: Croissant

Sub Judul: Antologi Kisah Kehidupan

Penulis: Josephine Winda

Penerbit: Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman: viii + 196

Terbit Perdana: 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2014

ISBN: 9786020251394

cooltext1660180343

Ditemani santainya kepulan asap teh saat senja

Sepotong croissant renyah mencecap rasa

Berlapis seperti kisah kehidupan yang tak kunjung habis

Diwakili sepuluh cerita dunia

Semoga tak lekas ucapkan bon voyage—selamat tinggal

Hanya maklumi c’est la vie—itulah hidup.

“… kemahiran memadu judul-judul yang funky, bahasa yang light, dan pilihan tema tentang hidup yang muda dengan segala romantismenya, menjadikan kumpulan cerita buku ini seolah teman yang akan menemani kita melepas lelah.” – Sannie B. Kuncoro, penulis novel “Garis Perempuan”, “Ma Yan”, “Memilikimu”

“… mungkin berlebihan untuk mengatakan saya tersihir oleh tulisan Winda. Tetapi, pasti saya menikmati setiap kata, kalimat, dan keseluruhan ceritanya seperti ketika SD saya menikmati cerita ibu guru saya. Saya bukan sekadar menunggu ending, tetapi juga menikmati bagaimana cerita berproses.” – Her Suharyanto, pegiat dunia perbukuan dan penulisan

cooltext1660176395

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar negara Perancis? Menara Eiffel? Benua Eropa? Musim dingin yang romantis? Atau mungkin roti Perancis yang terkenal itu? Well, sepertinya Perancis memiliki keunikan tersendiri di mata orang-orang. Ada yang suka kulinernya, ada yang terpukau pariwisatanya, ada pula yang terpesona dengan bahasa nasionalnya yang dinilai seksi bagi sebagian orang.

Mari sejenak melupakan bahasanya. Apakah kamu pernah menikmati atau setidaknya mengetahui tentang roti croissant? Di Indonesia, roti ini sudah cukup banyak beredar dimana-mana. Biasanya roti ini dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi. Rasanya yang legit dan menggugah selera sangat cocok dengan orang Indonesia yang suka ngemil makanan manis.

Nah, kamudian apa jadinya jika beberapa istilah bahasa Perancis dituangkan dalam kisah-kisah menyentuh dan memukau? Hal inilah yang saya rasa ingin diberikan penulis, yaitu pembaca menikmati hasil tulisannya sambil mencecap rasa croissant yang enak. Sepuluh cerita yang berbeda dalam satu buku memberikan sensasi berbeda saat membacanya. Simak satu-persatu yuk!

Kisah pertama berjudul Déjà vu dengan tokoh utama Ericka. Gadis yang masih duduk di bangku kuliah ini memiliki kekasih bernama Yuki. Setelah ditinggal Yuki beberapa lama karena praktik kerja lapangan, ia akan berjumpa kembali di kampus. Namanya sang pujaan hati, tentu Ericka bersemangat sekali menyongsong hari perjumpaan mereka kembali.

Yuki ini anaknya gemar melawak dan bertingkah lucu dihadapan kawan-kawannya, tak terkecuali pada Icka (panggilan Ericka). Namun ternyata tidak segala hal bisa dijadikan guyonan, bahkan kepada kekasihnya sendiri. Karena siapa tahu, lawakan itu berakibat fatal.

Mengapa kejadian-kejadian itu sepertinya terus-menerus berulang? Kenapa tidak ada kejadian lagi pada hari setelahnya? (Hal. 12)

Setelah menikmati kisah yang sangat singkat dari Ericka dan Yuki, cerita kedua memiliki judul Bon Apétit. Tokoh dalam kisah ini adalah cewek tambun bernama Talitha yang sangat gemar makan dan kuliner serta cowok muda bernama Idham. Mereka berdua yang dipertemukan pada milis internet ternyata cocok dan saling bertegur sapa.

Karena hobi mereka sama, Idham bermaksud mengajak Talitha wisata kuliner di Semarang. Meski awalnya berfirasat buruk, Talitha menyanggupi tawaran Idham. Tanpa Talitha sadari, keputusannya berjumpa dan menaruh hati pada sosok Idham akan bermuara pada sandiwara menyakitkan.

Ia bingung mengapa Idham sekarang kurus dan tidak lagi bulat seperti yang tampak pada foto? (Hal. 23)

Kisah selanjutnya adalah cerita tentang pembalasan dendam seorang gadis kantoran bernama Dicta kepada rekan kerjanya, Cakra. Pada cerita berjudul Vis-à-Vis ini, Dicta memaparkan alasan ia harus balas dendam dan bagaimana caranya membuat Cakra hancur berkeping-keping. Ternyata sakit hati Dicta dimulai saat masa sekolah tujuh tahun yang lalu.

Merasa Cakra sudah masuk dalam perangkapnya, Dicta tak segan-segan melancarkan aksinya dalam menyakiti hati Cakra. Namun sesungguhnya Dicta tidak mengetahui sebuah fakta menyakitkan yang disimpan Cakra rapat-rapat. Fakta apakah itu?

Ben, apa gunanya memiliki perasaan suka pada seseorang jika kau hanya memendamnya seorang diri? (Hal. 43)

Meninggalkan drama kehidupan Dicta, mari lanjut ke cerita keempat berjudul Mademoiselle. Seperti judulnya, tokoh utama perempuan kali ini bernama Margaretha. Ia memang berpenampilan seperti gadis tahun 1800-an saat bekerja. Apalagi ditambah payung berenda yang tak pernah lupa dibawanya.

Penampilan Margaretha yang mempesona menggetarkan seorang pemuda bernama Galang. Mereka sering menyapa tiap pagi hari. Sayangnya, profesi Galang yang jauh berbeda dibandingkan Margaretha membuatnya ciut nyali. Bahkan ia tidak menyadari bahwa Margaretha akan sangat terluka apabila Galang putus asa dan melakukan sesuatu esok hari.

Lagi pula, bagaimana aku bisa meramalkan perasaannya? Kenal saja tidak. (Hal. 66)

Kisah kelima berjudul Touché yang mengambil kehidupan gadis bernama Kabita. Cewek ini adalah potret gadis yang sulit mendapatkan pasangan. Bukan karena ia tidak laku, hanya saja ia adalah seorang yang cenderung pemilih dan selalu merasa ada yang kurang dari diri laki-laki yang mendekatinya.

Gracia (kok namanya kayak merek ekstrak kulit manggis hehe), sahabat Kabita, juga dibuat pusing karena kondisi ini. kehidupan rumah tangganya yang harmonis berbanding terbalik dengan kisah romansa sahabatnya. Bahkan ia juga tidak menyangka suatu hari Kabita membawa kabar akan segera menikah dengan seorang pria. Apa yang terjadi dengan Kabita?

Sekian tahun lamanya Kabita betah sendiri dan hanya berkencan dengan beberapa pria. Tak seorang pun yang cocok bagi diri Kabita. Selalu ada hal yang membuatnya urung. (Hal. 79)

Rendezvous adalah judul kisah keenam. Disini diceritakan seorang pria bernama Mario yang berjumpa lagi dengan cinta lamanya, Desira. Setelah tiba-tiba Desira meninggalkan Mario tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Mario dikejutkan dengan suara Desira diujung telepon. Tak ingin melewatkan kesempatan, Mario meminta bertemu dengan gadis yang pernah singgah di hatinya itu.

Selain bertukar cerita mengenai kehidupan masing-masing, pertemuan ini juga membahas tentang masa lalu mereka. Lebih tepatnya masa lalu ketika Desira meninggalkan Mario tanpa ada penjelasan sama sekali. Saya sesungguhnya mengharapkan alasan yang lebih greget dibandingkan alasan klise yang diucapkan Desira, tetapi tepat pada kalimat-kalimat mencapai ending, ada suatu hal yang mengejutkan.

Rupanya, bagaimanapun cerita yang lalu dikubur, suatu saat benang merah yang mengaitkan kisah-kisah di antaranya akan muncul kembali ke permukaan. (Hal. 96)

Nah selanjutnya adalah cerita yang tak kalah menarik. Kisah tentang gadis bernama Delia yang mencoba mencari tahu kabar cinta monyet masa sekolahnya dulu. Cerita berjudul Je t’aime ini rasanya cocok untuk orang yang gagal move on dan mencoba terus kepo pada pujaan hatinya.

Delia menunjukkan fakta bahwa meskipun cinta masa lalu masih tersis, bukan berarti orang yang sama akan memiliki sifat dan perilaku yang serupa. Pedro sebagai cinta Delia di masa kini adalah Pedro yang sanat berbeda. Bahkan Pedro membuat Delia sadar dan mengerti tentang arti seseorang yang ada untuknya.

Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata mengapa Delia jatuh cinta di kala itu kepada Pedro. Bukankah cinta tak memerlukan alasan? (Hal. 116)

Beralih pada kehidupan karyawati sebuah perusahaan bernama Fernanda. Dikisahkan Nanda ini adalah tipikal karyawati yang pintar, berdedikasi, rajin, dan professional. Bahkan ketika muncul seorang karyawan baru berparas rupawan dari Colorado bernama Gavin, Nanda tetap pada prinsipnya yang workaholic.

Judul cerita ini yaitu C’est la vie memberikan sebuah isu masa kini tentang kesetaraan gender. Tokoh Nanda dan Gavin memberikan sekeping potret kehidupan mengenai kaum perempuan yang masih dianggap lemah. Saya sangat menyukai adu argumen yang diutarakan Nanda kepada atasannya di cerita ini.

Tak dapat dipungkiri, memiliki wajah ganteng dan postur tubuh tinggi tegap adalah anugerah yang sangat menguntungkan bagi para pria. (Hal. 144)

Voilà. Kata ini biasanya diungkapkan saat ada sesuatu yang mengejutkan. Kata ini juga menjadi sebuah ungkapan yang patut menggambarkan akhir kisahnya. Adalah seorang gadis bernama Selena yang kisah hidupnya beda tipis dengan Kabita. Ya benar, Selena memiliki kisah percintaan yang berantakan dan kurang hoki untuk urusan cowok.

Sedangkan Friska bagaikan Gracia. Ia sering mengenalkan pria-pria yang mungkin bisa menjadi pendamping Selena. Namun sayang, usahanya sia-sia belaka. Suatu hari, Selena membawa kabar gembir untuk Friska. Akhirnya ia akan segera menikah dengan lelaki pujaannya. Sayangnya, sebelum Friska ikut bersorak bahagia, sebuah fakta dari Selena membuat Friska terhenyak.

Jika tidak ada getar yang sama dalam frekuensi kerinduan, bukan jatuh cinta namanya. (Hal. 166)

Kisah penutup dalam buku ini berjudul Bon Voyage dengan kehidupan rumah tangga Nadhira dan Pram sebagai titik fokus. Nadhira adalah tipe seorang istri yang lembut dan penurut pada suami, sedangkan Pram adalah potret suami yang cenderung kasar dan semaunya sendiri. Meskipun dikaruniai suami seperti itu, Nadhira tetap bertahan demi rumah tangga dan kedua anaknya.

Ternyata awal kehidupan menyedihkan ini bermula saat Pram dan Nadhira dijodohkan. Kedua orang tua mereka yang ingin melihat anak masing-masing bersanding di pelaminan, mengabaikan kondisi Nadhira sebagai gadis lugu dan Pram yang memiliki emosi tinggi. Akhirnya hal inilah yang membuat kehidupan pernikahan mereka berdua diujung tanduk.

“Hari genee masih dijodohin? Nggak salah, Nad?! Kamu hidup di abad berapa?” (Hal. 177)

Pada awalnya, saya tidak menghiraukan sub judul Antologi Kisah Kehidupan yang tertulis di cover. Saya mengira kisah kehidupan yang dimaksud adalah kisah cinta muda-mudi yang dimabuk asmara dan berakhir bahagia. Namun saya salah. Memang beberapa kisah diperankan oleh tokoh berusia muda dan happy ending, tetapi sebagian lain memberikan cerita yang berbeda.

Yang saya sukai dari tulisan Winda ini adalah ceritanya membumi. Alih-alih menuliskan kata-kata puitis dengan berbagai ungkapan rumit, penulis menggunakan kata yang sederhana dan tepat sasaran dengan maksud yang ingin disampaikan. Seolah-olah semua tokoh dalam buku ini terasa nyata dan benar-benar terjadi.

Salah satu kekhawatiran saya membaca buku antologi alias kumcer adalah banyaknya tokoh yang muncul sehingga membuat rancu. Lihat saja ada 20 tokoh utama dalam setiap cerita. Belum lagi tokoh pendamping dan figuran yang muncul sekilas. Namun Winda berhasil memberikan karakter cukup kuat pada setiap tokoh utama dalam ceritanya masing-masing.

Selain itu, biasanya saya kurang puas membaca kumcer karena akhir cerita biasanya terjadi terlalu cepat. Maksud saya, cerita-cerita tersebut sebenarnya ada potensi untuk digali lebih dalam. Namun saya tidak menemukannya dalam buku ini. Selain cerita pertama, sembilan cerita yang lain memberikan akhir yang lugas dan pantas. Bahkan apabila terpaksa dipanjangkan, justru menjadi tidak menarik lagi.

Seperti yang sudah saya bilang, kisah pertama tentang Icka dan Yuki terasa sangat singkat bagi saya. Saya ingin ada tambahan sih, tetapi sebenarnya memang harus seperti itulah ending yang sesuai. Akhirnya saya jadi geregetan sendiri.

Oh iya, pada cerita keempat berjudul Mademoiselle, ada sudut pandang yang inkonsisten. Saya tidak tahu apakah ini gaya penulis, namun sudut pandang orang ketiga yang tiba-tiba berubah menjadi orang pertama kemudian kembali lagi ke orang ketiga tanpa adanya pemberitahuan membuat perpindahannya sangat kasar. Inilah yang membuat saya kurang menyukai dengan sudut pandang yang dicampur-campur.

Yang lebih membuat saya heran, kenapa saya tidak menemukan satupun kata croissant ya di buku ini? Mungkin saya luput atau saya lelah, tetapi mosok ya judul buku malah nggak muncul sama sekali di isinya? Padahal adegan makan dan setting di kafe cukup banyak lho. Kemudian Perancis juga tidak saya temukan menjadi lokasi di salah satu ceritanya. Mungkin memang maksud penulis hanya menggunakan stilahnya saja tanpa memaksakan unsur Perancis dalam setiap kisahnya? I don’t know.

Kalau ditanya kisah mana yang menjadi favorit, saya akan menjawab semuanya hehehe. Bukannya maruk, tetapi memang setiap cerita dan tokohnya masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Hal ini tidak lepas dari kepiawaian penulis dalam mengeksekusi karakter dan ceria sehingga meninggalkan kesan bagi pembacanya. Good job, Josephine Winda!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Sweet Winter

coversweetwi

Judul: Sweet Winter

Sub Judul: Saat Dingin Itu Menghangatkan Hati

Penulis: Kezia Evi Wiadji

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah Halaman: vi + 207 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2014

ISBN: 9786022516514

cooltext1660180343

Matthew:

Aku berharap takdir yang mempertemukan kita di sini dapat memperbaiki kesalahanku.

Karin:

Oh Tuhan, kenapa kami harus bertemu, jika akhirnya harus kembali berpisah?!

Karin dan Matthew, dua sahabat yang saling mencintai. Tetapi takdir mempermainkan mereka layaknya dua layang-layang yang meliuk-liuk di langit. Akankah mereka bersatu, jika wedding song telah mengalun lembut dan salah satu dari mereka harus berjalan menuju altar untuk mengucapkan sumpah setianya?

Kisah Karin dan Matthew yang ceria seperti membawa langkah saya kembali pada masa remaja. Masa di mana semua terlihat demikian berkilau, saat kita menemukan cinta pertama (dan mungkin sejati). Evi berhasil membuat saya percaya, kadang tak perlu menoleh terlalu jauh untuk menemukan orang yang tepat, belahan hatimu. This kind of love could happen to anyone to us. :) – Rina Suryakusuma, Penulis Just Another Birthday dan Lullaby

Ah, saya iri sama Karin. Dia bisa bercerita so romantic di sini tentang apa yang dia rasa dan akhirnya menemukan cinta lamanya kembali dari orang di masa lalunya. Kalau ingin merasakan romantisme cerita cinta Karin di antara suasana negeri yang melahirkan banyak boy and girl band itu, baca deh novel ini sampai tuntas. Pasti kamu akan merasakan apa yang saya rasakan. – Anjar Anastasia, Penulis Renjana

cooltext1660176395

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka membutuhkan orang lain untuk menjalani hidup. Berbagai karakter yang dimiliki manusia tentu menghadapkan manusia lain untuk bisa memiliki orang dengan karakter baik untuk menemani hari-harinya. Orang baik tersebut bisa berwujud sebagai sahabat karib yang selalu ada dalam duka dan bahagia. Bisa pula orang baik tersebut memiliki wujud sebagai tambatan hati yang menemani hari-hari hingga ajal memisahkan.

Hidup itu pilihan. Begitu pula yang dirasakan Karin, sang tokoh utama buku ini. Ia berhasil mendapatkan orang baik yang mengisi hidupnya. Bonusnya, orang tersebut menjadi kawan baik sekaligus pujaan hatinya. Hayoloh, sampai sini saja saya sudah sirik sama Karin. Kisah dibuka dengan prolog mengenai perjalanan Karin menuju Korea Selatan untuk berwisata. Kepribadiannya yang mandiri tidak membuatnya takut berkelana seorang diri. Disana tidak ada kerabat atau orang lain yang dikenalnya. Sehingga Karin benar-benar ingin bebas menikmati segala macam keindahan di negeri ginseng tersebut.

Saat keluar bandara, tiba-tiba ia dipanggil oleh seorang lelaki. Ternyata ia adalah Matthew. Tetangga, sahabat, sekaligus cinta pertamanya yang telah menghilang bertahun-tahun. Prolog ini kemudian langsung digantung begitu saja. Kemudian, pembaca dibawa ke bagian pertama yang flashback tiga belas tahun yang lalu. Saat itu, rumah disebelah tempat tinggal Karin ada penghuni baru. Tidak disangka, keluarga baru itu memiliki anak lelaki sebaya Karin. Jendela kamar rumah sebelah yang berhadapan dengan jendela kamar Karin membuat mereka berdua cepat akrab.

Tiba-tiba bayangan itu berubah, bukan lagi sosok Tessa dan Joni, tetapi dirinya dan Matthew!!! (Hal. 26)

Setiap hari Karin dan Matt (panggilan Matthew) menjalani hari-hari penuh suka cita. Berangkat dan pulang sekolah bareng naik sepeda, belajar setiap malam, main layangan, saling mengucapkan good night sebelum tidur, dan beragam kegiatan lainnya. Hingga saat kelas 3 SMP, Karin merasakan suatu rasa yang berbeda dari dirinya untuk Matt. Tetapi, kehadiran anak baru di kelas Karin dan Matt memberikan sebuah konflik awal untuk hubungan mereka berdua.

Matthew memang mencintai Silvia, itu yang membuatnya susah untuk bersikap apa adanya. (Hal. 58)

Ya benar. Cinta Karin tidak bisa membuat Matt mencintainya dengan utuh. Ia harus menelan kekecewaan saat Matt mengakui ia memang menyukai Silvia. There is something different between Karin and Sisil (panggilan Silvia). Hal itu pula yang membuat Matt memilih Sisil untuk mengisi hari-harinya. Sayangnya, emosi labil Karin bukannya membuat Matt tetap nyaman menjadi sahabat, justru membuat Matt menjauhi Karin.

Mana ada sih, cowok dan cewek bisa jadi sahabat sejati. Hasilnya mereka malah saling suka dan aku hanya jadi obat nyamuk buat kalian. (Hal. 62)

Pada bagian kedua, kisahnya melanjutkan akhir prolog yang menggantung tadi. Saya jadi mengerti kenapa Karin sampai bingung dan kikuk berhadapan dengan Matt. Beruntung Matt bisa mencairkan suasana dan sukses meyakinkan Karin untuk menikmati wisata di Korea Selatan bersamanya. Layaknya kenalan yang sudah lama tidak berjumpa, mereka berdua juga terlibat berbagai topik cerita, termasuk kisah pahit yang dialami Matt.

Perbedaan fisik yang harus ditebusnya dengan harga mahal karena melakukan perbuatan yang salah. (Hal. 98)

Sampai bagian ini, saya sudah bisa menebak selanjutnya akan seperti apa. Tebakan saya, Karin dan Matt akan pulang ke Indonesia kemudian mereka menikah dan hidup bahagia selama-lamanya (aih, dongeng Disney banget). Sayangnya, saya salah. Memang benar Karin pulang ke Indonesia. Tetapi tidak dengan Matt yang masih harus bekerja di Korea Selatan. Semenjak kepergian Karin, ia tidak bisa melupakan sahabatnya itu. Matt menyadari bahwa ia sesungguhnya mencintai Karin.

Sejak bertemu dengan Karin di bandara, sejak itu pula ia selalu ingin merekuh Karin dalam pelukannya, ingin menciumnya. (Hal. 120)

Begitu pula dengan Karin. Bagian ketiga yang sudah memiliki setting di Indonesia menghadirkan Karin dengan kegelisahan dan perasaan campur aduknya. Perjumpaannya dengan Matt di Korea Selatan adalah hal yang sangat tidak diperkirakan olehnya. Awalnya ia sudah bertekad akan melupakan cintanya kepada Matt sepulang dari Korea. Hal ini dikarenakan sebulan lagi Karin akan menikah dengan pria kawan sekampusnya dulu.

Ia takut hatunya akan semakin patah. Dekat namun tak terjamah. Dekat namun tak bisa memiliki. Rasanya sungguh menyakitkan. (Hal. 144)

Batin Karin yang semakin kalut serta perasaan Matt yang tak menentu menghiasi sebagian besar cerita bagian ketiga ini. Lantas bagaimana kelanjutannya? Bagaimana pernikahan Karin? Bagaimana sang calon mempelai pria, Bram, saat menghadapi Matt? Dan tindakan apa yang akan dilakukan Matt?

Overall, saya menyukai buku ini. Ceritanya manis dan gaya penceritaannya mengalir. Bisa dikatakan sang penulis mampu membuat saya terhanyut mengikuti masa kecil Karin dan Matt, beranjak pada masa kini, hingga konflik besar yang harus dihadapi keduanya. Oh iya, jadi yang usil menyembunyikan buku Sisil siapa dong? Masih misteri nih. Dan pada dasarnya, Karin dan Matt adalah potret orang-orang yang terjebak friendzone dan gagal move on #bukancurcol.

Saat bagian masa lalu, penulis berhasil menggambarkan masa kanak-kanak yang gemar bermain tetapi juga mulai mengenalkan cinta monyet ketika remaja. Apa yang dilakukan oleh Karin benar-benar sangat masuk akal untuk usia yang masih labil. Sayangnya, saya agak bingung kenapa tidak ada tokoh yang lain, selain Karin, Matt, dan Sisil. Apakah mereka tidak punya teman sekolah sama sekali sampai-sampai tidak ada tokoh lain. Tetapi mungkin ini memang niat penulisnya untuk hanya fokus pada kehidupan mereka bertiga.

Ketika setting di Korea Selatan, penulis cukup banyak bercerita tentang tempat-tempat menarik disana. Mulai dari Seoul, Cheonggyecheon Stream, kota Jeonju, ski resort Yongpyong, Nami Island, sampai lokasi paling nge-hits yaitu Jeju Island. Deskripsinya membuat saya ngebet ke Korea saat itu juga. Apalagi suasana musim dingin plus saljunya juga digambarkan dengan cantik disela-sela kebahagiaan Karin tentang cintanya yang hadir kembali. Judulnya Sweet Winter memang pas kok.

Satu lagi yang saya sukai, meskipun Karin dan Matt (dan juga Bram) masih berusia muda, mereka tidak memanggil satu sama lain dengan loe-gue. Bahkan pada kisah masa lalu saat keduanya berusia remaja, mereka tetap memanggil dengan sebutan aku-kamu. Padahal mereka tinggal di daerah Tangerang lho, yang biasa ber-loe-gue.

Bukannya saya tidak suka istilah loe-gue, tetapi saya pribadi merasa bahwa panggilan itu menghilangkan kesan manis dan rasa cinta sehingga terkesan hanya romansa picisan tak bermakna #tsaah. Alih-alih terkesan kaku, saya justru merasakan kehangatan pada perbincangan mereka.

Sayangnya, meskipun tadi saya sebutkan bahwa saya salah menebak perkembangan cerita, lambat laun saya bisa merevisi dan sukses menebak kelanjutan ceritanya sampai akhir. Karena novel ini ceritanya FTV material banget. Mungkin saya kebanyakan nonton FTV (tapi tidak nonton sinetron), sehingga konflik dan hal-hal lain di separuh akhir buku sudah bisa saya perkirakan.

Memang sangat-sangat FTV-able mulai dari flashback-nya, wisatanya, pernikahannya, pergolakan batinnya, sampai kehidupan masa depannya. Mungkin kalau ada sutradara yang tertarik, harus mempersiapkan budget syuting di Korea saat musim dingin aja yang pasti agak mahal. By the way, alasan Matt bisa berjumpa dengan Karin sungguh FTV banget lho #tidakmauspoiler.

Tetapi, gaya bercerita Evi yang lembut dan smooth membuat saya enggan melewati kata demi kata yang ia tulis. Mungkin kalau buku lain yang gaya berceritanya buruk, saya akan langsung baca halaman terakhir untuk mengetahui ending-nya. Sedangkan Evi sukses membuat saya untuk membuktikan perkiraan saya sendiri sambil menikmati tulisannya yang menghanyutkan itu.

Anyway, saya penasaran. Dulu ketika masih sekolah, saya diajari guru saya ketika menulis sebuah merek dalam cerita, merek tersebut ditulis miring atau diberi tanda kutip. Misalnya “Nokia” atau Nokia. Tapi di buku ini tetap ditulis tegak biasa aja gitu. Mungkin sudah bergeser ya ketentuan penulisan merek. Dan saya juga curiga, jangan-jangan Mbak Evi di-endorse SUV Hyundai, Jazz, Samsung, Garuda Airlines, dan Avanza sebagai brand ambassador saking cukup banyaknya merek diatas tertulis di cerita hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Shift

covershift

Judul: Shift

Sub Judul: Jika kau memiliki kekuatan untuk mengubah kenyataan, apa yang akan kau ubah?

Seri: Shift #1

Penulis: Kim Curran

Penerjemah: Indriani Grantika

Penerbit: Grantika Publishing

Jumlah Halaman: 363 halaman

Terbit Perdana: April 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2014

ISBN: 9786021791400

cooltext1660180343

Bagaimana jika kau bisa beralih dari versi kenyataan yang sedang kau jalani saat ini ke versi kenyataan alternatif? Bagaimana jika kau bisa mengubah keadaan saat ini dengan membatalkan segala keputusan yang telah kau ambil di masa lalu? Sehingga kau bisa mengubah kejadian yang tak kau inginkan hanya dalam sekejap mata.

Scott Tyler bisa melakukannya karena dia adalah seorang Pengalih. Scott tak pernah mengetahui bahwa dirinya adalah Pengalih sampai suatu ketika dia tanpa sengaja menggunakan kekuatannya untuk mengubah kenyataan.

Awalnya Scott mengira kekuatannya itu luar biasa, sampai akhirnya dia menyadari bahwa ada konsekuensi yang tak terprediksi setiap kali dia menggunakan kekuatannya. Dengan beralih dari satu versi kenyataan ke versi kenyataan lainnya, Scott tak hanya membuat keselamatannya terancam, tapi juga membuat keselamatan orang-orang di sekitarnya terancam.

Saat Scott terjebak dalam versi kenyataan yang bagaikan mimpi buruk, akankah dia berhasil memilih versi kenyataan yang membuat kehidupannya kembali normal? Atau dia justru memilih versi kenyataan yang membawa malapetakan bagi orang-orang yang disayanginya?

“Seperti video game yang seru.” – Amazon

“Seperti perpaduan film Jumper dan Butterfly Effect.” – GoodReads

cooltext1660176395

Setiap manusia di muka bumi ini memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang berbakat menyanyi, memasak, menembak, dan lain sebagainya. Pada umumnya bakat tersebuat adalah sebuah keahlian yang wajar dan bisa diterima akal sehat. Lantas bagaimana jika ada manusia yang memiliki kemampuan “unik” dan mencengangkan?

Adalah Scott Tyler, seorang pemuda Inggris berusia 16 tahun yang tinggal bersama kedua orang tuanya yang selalu cekcok sepanjang hari dan adik perempuannya, Katie. Hidup Scott begitu membosankan. Ia tidak pandai bergaul sehingga kawannya sedikit. Bahkan di akhir pekan, ia hanya bermain video game dengan adik yang usianya lima tahun lebih muda.

Satu-satunya teman dekat (Scott tidak menyebutnya sebagai sahabat), Hugo, mengajak Scott untuk meninggalkan game itu dan mengunjungi Rectory Ground. Tempat yang disingkat RC ini semacam tempat nongkrong anak-anak populer dari sekolah Scott dan Hugo. Salah satu anak paling populer adalah Sebastian Cartwright. Meskipun usianya diatas Scott, ia membiarkan Scott dan Hugo ikut bergabung di “pesta anak populer” tersebut.

Scott yang mulai mabuk berusaha membuktikan pada semua orang disitu bahwa ia bukan seorang pecundang dengan cara memanjat sebuah tower listrik. Ia yakin tower itu sudah tidak dialiri listrik sehingga ia tidak perlu mengkhawatirkan nyawanya. Tepat sebelum puncak menara, Scott terjatuh ke tanah yang jaraknya cukup jauh. Apakah Scott mati? Ternyata tidak.

Tanpa membuka mata, kujulurkan tanganku yang gemetar, lalu meraba-raba batang logam di atas kepala. (Hal. 20)

Suatu hal aneh terjadi. Scott tidak cedera. Bahkan ia berjarak cukup jauh dari menara disertai tawa orang-orang yang menganggapnya pecundang karena Scott terjatuh dari pagar, BUKAN dari menara. Apa yang terjadi? Seorang gadis bernama Aubrey Jones mengajak Scott pergi dari tempat itu sambil menjelaskan apa yang terjadi. Mereka menuju sebuah kasino.

Aubrey menjelaskan bahwa Scott adalah seorang Pengalih. Biasanya Pengalih akan segera ditangkap oleh Regulator untuk dibawa ke markas besar. Markas tersebut semacam pangkalan militer untuk membina Pengalih melalui sebuah Program. Aubrey ternyata adalah seorang Pelacak resmi (Spotter) sehingga ia bisa mengetahui keberadaan Scott. Ia berasal dari ARES atau Agen Regulasi dan Evaluasi Pengalih.

Shifter atau Pengalih punya kemampuan untuk Mengalihkan kenyataan. Dengan Mengalihkan kenyataan, Pengalih menciptakan kenyataan baru di sekitarnya. (Hal. 35)

Tiba-tiba, muncul kelompok bernama Satuan Liberasi Pengalih (SLP) atau disebut Pembelot yang diketuai oleh Isaac Black atau biasa dipanggil Zac. Tak disangka, terjadi sedikit kericuhan antara Aubrey dan Zac di dalam kasino itu. Sebelum semua bertambah panas, mendadak muncul sebuah kejadian yang akhirnya membuat Scott dan Aubrey harus pergi secepat mungkin.

Di apartemen Aubrey, Scott mendapat informasi yang lebih rinci mengenai apa yang terjadi. Selain jenis pekerjaan yang disebutkan Aubrey di kasino tadi, ada lagi Pemeta yang berspesialisasi pada konsekuensi dan prediksi. Awalnya Scott tidak percaya semua kata-kata Aubrey. Namun menyadari keadaan tentang tragedi menara-menjadi-pagar tadi membuat Scott percaya. Bakat seorang Pengalih ini hanya muncul di usia muda dan akan menghilang ketika sudah berusia dewasa. Waktu ketika kekuatan menghilang ini disebut dengan istilah Entropi.

Ini semacam psikosis di mana kau mendapati dirimu berada dalam versi kenyataan baru yang mengganggu, itu karena kau tidak merencanakan alur Peralihan yang kau lakukan dengan hati-hati. (Hal. 96)

Keesokan harinya, Scott yang baru saja mengalami sebuah “hidup” yang memilukan akhirnya berinisiatif untuk menghubungi ARES. Ia percaya bahwa ARES akan membantunya menangani kemampuan ini. Keputusan ini ditentang Aubrey dengan keras. Scott tidak perduli dan tetap pada pendiriannya. Di kantor ARES yang berlokasi di East London, Scott bertemu dengan Komandan Morgan sebagai Kepala Divisi Peralihan ARES.

Ternyata Program ARES untuk para Pengalih itu adalah semacam sekolah. Komandan Morgan menyambut baik kehadiran Scott dan memintanya bergabung di kelas Sersan Jon Cain. Di kelas itu ada Jake, Max, CP, Molly, dan Ben. Mereka berusia dibawah Scott namun kemampuannya lebih baik. Selain itu juga ada Mr. Abbott yang mengajar kelas Sejarah.

Begitu Pengalih menyadari kemampuannya, segelintir pertanyaan pertama yang terbersit di benaknya adalah ‘Bisakah kita mengubah sejarah? (Hal. 164)

Hari-hari Scott dalam Program ARES selama liburan musim panas membuatnya menjadi orang berbeda. Ayah dan ibunya merasa Scott yang “bekerja” di ARES adalah sesuatu yang membanggakan. Namun Katie dan Hugo merasa bahwa Scott telah berubah dan tidak seperti yang dulu. Hal ini mungkin karena ia menghadapi berbagai kesulitan yang harus ia hadapi. Mulai dari kecelakaan kereta, pertemuan dengan orang jahat, bahkan mengalami tekanan menyakitkan bersama teroris.

“Semua teroris adalah pengecut, Scott. Mereka adalah pengintimidasi yang bersembunyi di balik prinsip-prinsip untuk membenarkan tindak kekerasan.” (Hal. 189)

Bagaimana hari-hari Scott selanjutnya? Mengapa semua orang menjulukinya sebagai Pengalih terkuat? Bagaimana mungkin Scott yang baru saja mengetahui kemampuan tersebut bisa menjadi yang terkuat? Lantas, mengapa bisa muncul SLP buatan Zac? Apa yang menjadi tujuan mereka? Lebih penting lagi, kemampuan apa yang dimiliki Scott itu sebenarnya? Silakan dibaca sendiri yah!

Awalnya, saya mengira buku ini akan menceritakan kehidupan remaja dengan kemampuan unik yang kemudian kemampuan tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari unuk menjahili. Tetapi saya salah. Pada beberapa bab awal memang dikisahkan bagaimana hari-hari Scott yang membosankan dan khas remaja banget. Bahkan kehidupannya di rumah juga terlukiskan sangat membuat depresi.

Namun semua berubah saat negara api menyerang kemampuan Beralih itu Scott gunakan, ehm lebih tepatnya tidak sengaja digunakan. Pertemuannya dengan Aubrey adalah cikal bakal kehidupan baru yang harus Scott hadapi mulai awal libur musim panas dan seterusnya. Dua hari cukup bagi saya untuk menyelesaikan buku ini.

Penulis piawai dalam bercerita. Alih-alih menggunakan kalimat panjang dan bertele-tele, ia menggunakan kalimat singkat dan mudah dipahami. Sudut pandang orang pertama dari tokoh Scott membuat saya bisa lebih relate dengan cerita dan mengerti apa yang Scott alami. Dialog yang bertebaran cukup banyak juga banyak membantu saya mamahami cerita dibandingkan narasi yang berpotensi membuat saya bosan.

Bagian terbaik bagi saya adalah saat perubahan hidup Scott yang awalnya biasa-biasa saja cenderung membosankan menjadi penuh petualangan dan ketegangan. Betul sekali, mulai pertengahan hingga akhir semuanya full action dan berbeda 180 derajat dibandingkan bab awal yang membuat saya ngantuk. Tidak bisa saya pungkiri bahwa penulis sanggup membuat saya penasaran hingga halaman terakhir.

Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat saya agak kecewa. Ketika Scott dan Aubrey (atau remaja lain di ARES) bercakap-cakap dalam sebuah pembicaraan, saya tidak bisa membayangkan usia mereka hanya 16 tahun. Dalam benak saya justru tergambar tokoh dengan usia 24 tahun keatas gara-gara saking “beratnya” obrolan mereka. Terlalu dewasa dan tidak cocok dengan usia mereka sih. Apalagi kehidupan baru yang Scott jalani pasca tragedi-menara tadi terkesan too damn different than before, dan itu sangat-sangat aneh karena terjadi dalam hitungan bulan saja.

Dan hal yang cukup fatal membuat saya jengkel sendiri adalah tentang konsep Shift atau Peralihan itu sendiri. Awalnya saya menganggap itu semacam kemampuan kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan lalu kembali lagi ke masa sekarang. Sayangnya bukan itu maksudnya. Bahkan sampai ada kalimat penegasnya lho.

Tapi kita tidak bisa memutar ulang waktu. Kita hanya bisa membatalkan keputusan. (Hal. 220)

Lah terus apa dong?? Penulis tidak memberikan sebuah penjelasan gamblang yang bisa memuaskan saya tentang kemampuan itu. Ada sih penjelasan tentang konsep mekanika kuantum sebagai konsep shift, tapi apa ya, saya masih bingung (maafkan otak saya yang cetek ini). Buku ini adalah buku pertama dari trilogi Shift. Mungkin apabila saya membaca buku selanjutnya, segala kerisauan saya diatas bisa terjawab dengan baik.

Anyway, saya kagum dengan editornya karena saya nyaris tidak menemukan typo. Hanya satuuu saja yaitu kata menganguk di halaman 317. Selain itu, semuanya bersih tanpa salah penulisan (menurut saya). Jos banget deh. Oh iya, saya acungi jempol untuk penerjemahnya. Saya rasa 99% terjemahannya memang benar-benar menggunakan bahasa Indonesia karena ada beberapa kata yang harus saya googling karena saya tidak familiar hehe.

Kenapa saya katakan hanya 99% saja? Karena panggilan orang seperti Mr., Mrs., Ms., dan Sir justru tidak diterjemahkan. Entah apa alasannya. Saya rasa lebih baik total saja dalam penerjemahan. Karena nanggung banget semuanya sudah pakai bahasa Indonesia yang baik, sedangkan panggilan masih menggunakan bahasa asli. Toh penerjemahan hal itu juga tidak mengurangi esensi cerita. Tapi yang jelas, saya tidak sabar menunggu kelanjutan seri ini. Mengingat buku aslinya sudah tamat, semoga bisa segera diterjemahkan sekuelnya di Indonesia ya.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Gege Mengejar Cinta

covergege

Judul: Gege Mengejar Cinta

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: x + 228 halaman

Terbit Perdana: November 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, November 2004

ISBN: 9789793600437

cooltext1660180343

Mana yang seseorang akan pilih? Mereka yang dia cintai? Atau mereka yang mencintainya? Ini adalah sebuah pertanyaan penting yang entah kenapa orang tidak pernah cukup peduli untuk kaji dan tanyakan pada diri sendiri. Buku ini bercerita tentang Gege. Pria yang akhirnya dihadapkan dengan pertanyaan itu.

“…saya mendapatkan novel ini benar-benar berbeda. Ide-idenya mengalir unprecedented dan menghanyutkan, suatu originalitas yang sulit didapatkan hari ini. Saya suka pendekatannya terhadap klimaks yang chaotic seperti fireworks in the fair ground. Beginilah penulis muda seharusnya, smart, playful, dan explosive.” – Jose Poernomo – Produser & Sutradara Film

cooltext1660176395

Jatuh cinta berjuta rasanya. Banyak yang merasakan manis ketika cintanya mendapat balasan yang sama, namun tak sedikit pula yang harus menelan rasa pahit ketika pujaan hati menolak untuk bersama. Cinta juga sangat identik dengan pengorbanan dan perjuangan. Semakin besar cinta seseorang, maka semakin besar pula perjuangan dan pengorbanan yang sanggup untuk dilakukan.

Begitu pula dengan Gege, tokoh utama dalam novel ini. Pada usia telah mencapai 27 tahun, ia bekerja sebagai seorang produser dalam sebuah radio di Jakarta. Suatu hari, Program Director radio alias atasan Gege, mengumumkan sebuah informasi dari Asosiasi Radio Jakarta terkait penyambutan hari kemerdekaan Indonesia.

Dalam rangka menyambut ulang tahun Indonesia ke-59, sebuah dewan juri akan menilai secara kualitatif, radio mana yang paling mampu menyambut kemerdekaan. (hal. 12)

Gege sebagai sang produser acara, didaulat untuk membuat sebuah acara radio yang bisa membawa Radio Hertz menjadi juara. Akhirnya ide yang dilaksanakan adalah mengenai sandiwara radio. Karena menyewa pengisi suara yang bagus cukup mahal, maka Gege berinisiatif melibatkan rekan-rekan kerjanya dalam sandiwara ini. Tak terkecuali Tia, sang gadis di kantor yang ehm, naksir Gege. Tia ini orangnya gengsi pake banget. Termasuk urusan menyatakan cinta. Bahkan dalam hal ngedeketin aja dia punya alasan jitu.

“Cowok beda Ge, sama cewek. Cowok memang pada kodratnya mempermalukan diri dan usaha untuk kenalan, ngejar cewek.” (hal. 32-33)

Gege tentu saja sebagai seorang cowok, yang merupakan spesies yang dianggap tidak kurang peka, tidak menyadari apa yang Tia rasakan. Justru ia larut dalam pengerjaan sandiwara radio karena cinta lamanya datang kembali. Ya benar, gadis pujaan Gege, sejak SMP hingga SMP, tetangga depan rumahnya, yang menghilang begitu lama, kembali muncul di hadapan Gege. Tentu saja Gege tak menyia-nyiakan hal tersebut dan mencoba mendekati Caca, sang gadis itu. Bahkan kemungkinan terburukpun ia hiraukan.

“Setidaknya gua tahu dan gua masih bisa nunggu.” (hal. 89)

Sinting? Yah mungkin saja. Namanya juga orang jatuh cinta. Dan Tia juga melakukan pengorbanan untuk Gege. Mulai dari mengganti kacamata dengan soft lens, meluruskan rambut (yang akhirnya jadi kribo), sampai dandan menarik agar Gege menyadari perasaannya. Namun apa daya, gengsi telah mengalahkan perjuangannya.

Sulitnya jadi perempuan. Gengsi adalah kulit kedua mereka. Kulit yang mengikat mereka meraih takdir yang sebenarnya jauh lebih luas. Yang sebenarnya dapat membuat mereka mendapatkan apa yang benar-benar mereka mau. (hal. 102)

Di saat Tia sibuk menebar tanda-tanda yang tak kunjung disadari sang pujaan hati, Gege justru sukses pedekate dengan Caca. Bahkan keduanya bisa dikatakan tahu-sama-tahu tentang perasaan masing-masing. Namun untuk berkata jujur, Gege masih belum sanggup.

Anehnya wanita. Selalu menuntut kejujuran dari pria tapi akan lari jika kejujuran itu datang terlalu cepat atau jika sang wanita belum cukup kuat atau nyaman menerimanya. (hal. 153)

Lantas, bagaimana kelanjutan kisah drama percintaan Gege, Tia, dan Caca? Silakan baca sendiri deh. Soalnya seru banget. Karena sang penulis piawai menempatkan segi humor dan serius dalam takaran yang pas dan tidak berlebihan. Tokoh-tokoh figuran, meskipun tidak tampil sebanyak Gege, Tia, dan Caca, mereka tetap memiliki karakter yang kuat.

Selain itu, saya menyukai banyaknya dialog yang dilakukan antar tokoh. Hal ini membuat saya tidak bosan membacanya. Kan ada ya tuh, novel yang menarasikan segala tindak tanduk sang tokoh sampai panjang lebar. Saya justru menyukai sifat, karakter, dan perilaku tokoh disampaikan melalui dialog. Istilahnya kalau tidak salah showing than telling.

Oh iya, banyak sekali catatan kaki (footnotes) yang bertebaran dalam buku ini. Alih-alih sebuah informasi tambahan tentang kutipan yang dimaksud, justru catatan kaki ini semacam perasaan atau pemikiran atau pembelaan penulis ketika pembaca sampai pada kata/kalimat yang dimaksud. Banyak catatan kaki yang lebih lucu dibanding teks di novelnya sendiri hehehe.

Saya juga suka karakter para tokoh utama yang kuat. Saya bisa merasakan sakitnya Tia ketika mengetahui Gege mendamba Caca, saya juga bisa mengerti alasan Gege masih menunggu Caca sekian lama, dan saya juga bisa memahami perasaan Caca yang bahagia dicintai Gege. Hal inilah yang membuat novel ini sangat bagus untuk dinikmati.

Kekurangannya saya rasa ketika ada dialog yang melibatkan beberapa tokoh (lebih dari dua), saya tertukar-tukar siapa yang berkata begini, siapa yang ngomong begitu. Karena penulis hanya meuliskan tanda kutip saja, tanpa disertai siapa tokoh yang berbicara. Tapi kalau dicantumkan juga malah mengganggu yak. Typo sih ada beberapa, namun karena terlanjur asik mengikuti cerita, jadi saya abaikan deh hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Metro

covermetro

Judul: Metro

Penulis: Gola Gong

Penerbit: GagasMedia

Jumlah Halaman: vi + 106 halaman

Terbit Perdana: Mei 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2005

ISBN: 9789793600710

cooltext1660180343

Jakarta. Kota metropolitan yang sudah terlanjur dicap dengan kehidupan masyarakatnya yang glamour, egois, individualis dan materialistis. Dengan gaya metroseksual, sebagian orang Jakarta tidak peduli dengan kehidupan sosial di sekitarnya. Karena itu, Gola Gong tergugah untuk menyampaikan pesan moral tersebut melalui novel terbarunya, METRO.

Novel beraromakan kekerasan jalanan, yang kuat nuansa islaminya. Bercerita tentang tokoh bernama Baron, petinju yang juga petarung bebas. Dia hidup di lingkungan yang penuh dengan maksiat. Tiba-tiba saja dia melihat bulan sabit dan bintang serta mendengar alunan suara adzan. Pertanda apakah itu?

Metro, sebuah novel yang mempertanyakan jiwa sosial, jati diri, dan solidaritas kita di tengah masyarakat hedonis.

cooltext1660176395

Sisi lain ibukota sepertinya masih menarik dijadikan tema cerita oleh para penulis lokal. Setidaknya kesan glamour, mewah, dan gemerlapan yang digantikan kekerasan dan kekelaman bisa memberikan nuansa baru dalam memandang kota meropolitan dalam sebuah cerita. Karena sesungguhnya segala sesuatu memiliki sisi yang baik dan buruk.

Baron sebagai seorang petinju sekaligus petarung bebas juga seperti itu. Meskipun ia memiliki “pekerjaan” yang sanggup memenuhi kebutuhannya, ia masih merasa tersesat. Khususnya dalam sebuah pandangan mengenai agama.

Baginya agama adalah urusannya dengan Tuhan. (hal. 3)

Bagaimana tidak, ia mendapati bulan sabit dan bintang di langit sore namun kekasihnya, Kirana, tidak melihat hal yang sama. Baron menjadi bingung sekaligus penasaran. Pertanda apakah itu. Karena menurutnya agama bukanlah prioritasnya dalam menjalani hidup. Lagipula Kirana berhasil menjadikannya model produk minuman sehingga penghasilannya lebih dari cukup dibandingkan menjadi petinju dan petarung bebas saja.

Meski Baron adalah seseorang yang keras dan tak segan menghajar lawannya saat pertandingan, ia justru sangat hobi membaca buku. Seems weird, huh? Hal ini membuatnya menjadi idola orang-orang, bahkan ibu-ibu juga tak segan meminta foto bersama.

Sangat jarang seorang petinju profesional, petarung bebas, dan chief security di sebuah tempat hiburan gila pada buku! (hal. 23)

Ketika menjelang pertarungannya dengan Landung, ia mendapati preman terminal, Yopi, kalah dalam pertandingan. Merasa iba, Baron membawanya ke rumah sakit dan membantu pengobatannya. Hal inilah yang membuat Baron menjadi semakin terlihat bukan petarung biasa. Bahkan ketika mengantar Yopi pulang, Baron sempat tertegun melihat keadaan sekitarnya.

Baginya, orang-orang kecil yang mengais rezeki di kerasnya Jakarta itulah, yang menopang kehidupan Jakarta. (hal. 58)

Lantas bagaimana kelanjutan pertarungan Baron dengan Landung? Lantas apa makna bulan sabit dan bintang yang dilihatnya? Apa yang terjadi kemudian dengan hubungan asmaranya? Dan yang lebih penting, siapa sebenarnya Baron itu? Silakan baca sendiri ya.

Ketika membaca novel yang tipis (banget) ini saya tidak berekspektasi macam-macam. Sebisa mungkin saya membaca tanpa beban dan menikmati kata demi kata yang tertulis. Sosok Baron menurut saya adalah pribadi yang langka hampir imajiner. Apalagi jika bukan karena kebiasaannya membaca buku yang berbeda jauh dengan pekerjaannya sebagai petarung. Inilah salah satu poin plus untuk novel ini.

Kekurangannya bagaimana? Ehm, ada beberapa hal sih. Saya bingung kenapa ini novel singkat banget. Mungkin akan lebih baik kisah Baron ini disebut cerpen daripada novel. Selain itu? Endingnya menggantung. Argh! Saya jadi kesal saat membaca halaman terakhir. Banyak sekali pertanyaan di benak saya yang tidak terjawab, bahkan hingga kata paling akhir.

Novel ini juga menyisipkan berbagai kutipan dan informasi yang berfungsi sebagai trivia saat membaca kisahnya. Namun saya pribadi amat jauh lebih menyukai sumber atau info tersebut dijadikan catatan kaki di halaman yang bersangkutan, dibandingkan meletakkan semuanya di halaman belakang yang merepotkan saya bolak balik halaman. Akhirnya trivia keempat dan seterusnya tidak saya pedulikan lagi.

Anyway, kalau membutuhkan bacaan ringan dan tipis, novel (atau cerpen?) ini bisa dijadikan selingan. Konflik yang minim dan tidak terlalu berat membuatnya mudah untuk dipahami. Apalagi alurnya yang maju dan sedikit menguak kehidupan Jakarta bisa memberikan sedikit pandangan mengenai apa yang terjadi di sebuah kota metropolitan ini.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Demam Kabin

covertengil6

Judul: Demam Kabin

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Cabin Fever

Seri: Diary Si Bocah Tengil #6

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Maria Lubis

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218 halaman

Terbit Perdana: November 2013

Kepemilikan: Cetakan Ketiga, November 2013

ISBN: 9786021440209

cooltext1660180343

Greg Heffley terlibat masalah besar. Properti sekolah dirusak, dan Greg adalah tersangka utama. Tapi, yang gila adalah, dia tidak bersalah. Atau, setidaknya bisa dikatakan begitu.

Pihak berwenang mulai memburunya, tapi saat badai salju tiba-tiba menyerang, keluarga Heffley terperangkap di dalam rumah. Greg tahu, saat salju sudah mencair, dia harus menghadapi masalah ini. Namun, mungkinkah hukuman apa pun bisa lebih buruk daripada terjebak di dalam rumah bersama keluagamu selama liburan?

PARA PEMBACA MENGGEMARI SERIAL DIARY SI BOCAH TENGIL – USA Today, Publishers Weekly, Wall Street Journal, dan Bestseller No. 1 New York Times

“Diary si Bocah Tengil karya Jeff Kinney adalah keajaiban baru dalam bisnis buku.” – Parade

“Serial Diary si Bocah Tengil adalah suatu pencapaian besar dalam dunia penerbitan masa kini.” – The Hollywood Reporter

“Diary si Bocah Tengil akan mendominasi dunia.” – Time

“Salah satu serial anak-anak paling sukses yang pernah diterbitkan.” – The Washington Post

cooltext1660176395

Lika-liku perjalanan kehidupan Greg masih berlanjut pada buku keenam (yang diterjemahkan). Pada buku bersampul warna biru cerah ini, Greg kembali bercerita mengenai kehidupan remajanya yang sepertinya makin hari makin memuakkan. Salah satu masalah yang ia hadapi adalah menghilangnya peralatan bermain di sekolah. Ia merasa tersiksa ketika jam istirahat tiba.

Aku mendengar sekolah mengalami masalah pembayaran asuransi taman bermain, jadi setiap kali ada suatu kecelakaan atau luka akibat peralatan itu, hal paling mudah untuk dilakukan adalah menyingkirkannya. (hal. 23)

Hal yang selalu ada di buku Diary si Bocah Tengil adalah mengenai Greg yang ingin meminta hadiah untuk Natal ataupun ulang tahun. Tak terkecuali di buku ini. Namun bedanya, di buku ini Greg mendapat kesulitan karena banyak sekali hal yang ngin ia minta.

Yang kusadari adalah, jika setiap kali kita mendapatkan sesuatu yang keren sebagai hadiah ulang tahun atau Natal, seminggu kemudian, benda itu akan digunakan sebagai senjata pemeras bagi kita. (hal. 47)

Ada lagi masalah di sekolah ketika ada Tes Kebugaran Nasional untuk semua sekolah. Dan mau tidak mau, sekolah memberlakukan sebuah latihan olahraga intensif untuk semua siswa agar bisa meningkatkan posisi peringkat sekolah.

Orang-orang dewasa berkata bahwa masalah terbesar anak-anak zaman sekarang adalah kebugaran tubuh, karena kami tidak cukup banyak berolahraga. (hal. 99)

Di hari yang lain, Greg ingin menjual buku komik miliknya yang ditandatangai oleh penulis. Namun Mom malah melarangnya karena beranggapan ketika Greg memiliki anak nanti di masa depan, mereka akan murka mengetahui ayah mereka menjual komik yang sangat berharga. Namun bisa kamu tebak apa yang dipikirkan Greg?

Aku ingin menjadi bujangan seperti Paman Charlie-ku, yang menghabiskan seluruh uangnya untuk liburan, dudukan toilet yang bisa dihangatkan, dan hal-hal semacam itu, bukannya membiayai sekawanan anak tak tahu terima kasih. (hal. 110)

Di sisi lain, kasus mengenai kerusakan fasilitas sekolah yang menggegerkan itu ternyata berujung maut pada Greg. Alih-alih ia selamat dari tuduhan dan hidup damai, justru dengan mudah ia dipanggil oleh Wakil Kepala Sekolah untuk mempertanggungjwabkan perbuatannya. Dan tahukah siapa yang melaporkan Greg?

Aku tak tahu apakah Rowley melakukannya secara sengaja atau apakah dia benar-benar tolol, tapi kukira yang benar adalah kemungkinan kedua. (hal. 149)

Sepertinya keluarga Heffley benar-benar menghadapi masa sulit ketika hujan badai salju berlangsung sehingga mereka terjebak di dalam rumah karena salju menghalangi pintu keluar. Keadaan bertambah parah saat Manny melakukan sabotase pada salran listrik di rumah.

Mom bertanya pada Manny mengapa dia memadamkan listrik bagian rumah yang lain, dan Manny mulai mengoceh. Katanya, itu karena tidak ada yang mau mengajarinya menalikan sepatu. (hal. 204)

Saat membaca buku ini, apa ya, terasa ada sesuatu yang beda. Apakah dikarenakan penerjemahnya ganti setelah lima buku pendahulunya sehingga taste of words-nya berbeda? Entahlah. Tapi kalau dari segi tema, memang berbeda sih. Disini Greg terkesan menjadi seorng berandalan cilik meskipun dengan alasan yang menurutnya baik.

Di buku ini, saya sukses membenci tokoh Manny dan Rowley. Sang penulis berhasil menggambarkan Manny sebagai adik yang menyebalkan buianget. Jika saya menjadi Greg, saya rasa tidak akan berpikir dua kali untuk menendang Manny (aduh kok saya jahat). Tapi ya gimana, Manny benar-benar licik dan sangat egois terhadap diri sendiri.

Bagaimana dengan Rowley? Aduh saya tidak bisa memahami ada seorang siswa SMP yang sangat tolol dan kekanakan sekali seperti anak SD. Tidak hanya dalam akademis, tapi juga sikap dan perilaku. Saya bahkan tak bisa mengerti mengapa Greg betah bersahabat dengan Rowley.

Dibalik kelebihannya yang bisa menggambarkan sosok Rowley dan Manny untuk saya benci, ternyata ada beberapa kekurangan sih. Salah satunya adalah humor. Ya benar, ketika membaca buku ini, saya sama sekali tidak tertawa seperti ketika membaca lima buku sebelumnya. Paling banter hanya nyengir, itupun bisa dihitung gak sampe lima kali kayaknya. Apakah karena perbedaan terjemahan? Atau memang aslinya begitu? Enggak tau ya. Tapi saya benar-benar kecewa karena lucunya (yang seharusnya ditonjolkan novel ini) malah tidak sampai ke saya.

Sebagai sekuel Diary si Bocah Tengil, buku ini cukap baik lah mengobati kerinduan terhadap hari-hari Greg. Tapi kalo dlihat segi kelucuan, bagi saya sih amat sangat kurang. Saya berharap buku selanjutnya (apabila memang diterjemahkan) bisa menghadirkan kelucuan yang sempat hilang di buku ini hehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Kenyataan Pahit

covertengil5

Judul: Kenyataan Pahit

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: The Ugly Truth

Seri: Diary Si Bocah Tengil #5

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 219 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2011

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, Februari 2014

ISBN: 9789790244740

cooltext1660180343

Sejak dulu, Greg Heffley selalu ingin cepat-cepat dewasa. Namun, apakah bertambah usia memang seenak yang dia bayangkan?

Greg mendadak harus berurusan dengan berbagai macam tekanan, yang disebabkan oleh pesta menginap di sekolah, bertambahnya tanggung jawab, dan bahkan oleh perubahan-perubahan canggung yang biasa timbul seiring dengan bertambahnya usia. Dia terpaksa menghadapi semua itu tanpa kehadiran sang sahabat baik, Rowley, di sisinya. Dapatkah Greg melewatinya seorang diri? Ataukah dia harus berhadapan dengan “kenyataan pahit”?

“Detail yang sempurna dalam tulisan dan gambar.” – Publishers Weekly

“Diary si Bocah Tengil kelihatannya akan mendominasi dunia.” – Majalah Time

“Salah satu buku bacaan berseri untuk anak-anak tersukses yang pernah diterbitkan.” – Washingtn Post

“Kalau anak-anak Anda suka membaca … dan lebih-lebih jika mereka tidak suka membaca, maka buku ini adalah buku yang tepat untuk mereka.” – Whoopi Goldberg, The View

cooltext1660176395

Kisah hdup Greg Heffley masih berlanjut. Setelah di buku-buku sebelumnya Greg bagaikan soulmate abadi dengan Rowley, di buku kelima ini akhirnya mereka mengalami cobaan dalam hubungan persahabatan. Entah Greg yang terlalu egois ataupun Rowley yang terlalu kekanakan sehingga persahabatan mereka berhenti untuk sementara.

Satu-satunya anak lain seusiaku yang belum memiliki sahabat adalah Fregley. Namun, sudah lama aku mencoret namanya dari daftar calon sahabat baikku. (hal. 3)

Greg merasa memiliki seorang sahabat baik dapat membantunya dalam kesulitan ataupun memanfaatkan untuk sebuah kebaikan bersama. Apalagi di sekolah, Greg sama sekali tidak punya teman biasa yang layak untuk dijadikan sahabat. Namun, ketika melihat teman satu angkatannya yang populer, Bryce Anderson, membuatnya agak tersadar.

Nah, Bryce Anderson memang benar. Dia tidak MEMBUTUHKAN sahabat baik, karena dia memiliki segerombolan tukang jilat yang sangat memujanya. (hal. 12)

Padahal kalau dipikir-pikir, Rowley juga bukan seorang yang populer ataupun pintar dalam bidang akademis. Greg selalu merasa dengan bersahabat dengan Rowley, ia merasa setingkat lebih tinggi dari Rowley dalam bidang apapun. Saya rasa emang akhirnya persahabatan mereka hanya menguntungkan Greg aja sih ya.

Pokoknya, aku rasa Rowley termasuk salah seorang anak yang akan selalu tertinggal beberapa tahun di belakang dalam urusan kedewasaaan. (hal. 21)

Selain perihal persahabatan dengan Rowley yang lumayan hancur, Greg juga menghadapai sebuah kenyataan bahwa ia bukanlah anak-anak lagi. Padahal menurutnya dengan menjadi anak-anak semua terasa lebih mudah dan indah, termasuk terpilih menjadi bintang iklan di teve.

Nah, ketika kamu masih anak-anak, tidak ada yang memperingatkan bahwa kamu memiliki tanggal kadaluwarsa. Pada suatu saat, kamu menjadi pujaan, saat berikutnya kamu cuma seonggok sampah. (hal. 33)

Di hari yang lain, Mom mengumumkan pada seluruh keluarga Heffley bahwa ia akan mengambil pelajaran selama satu semester untuk mengasah otaknya setelah bertahun-tahun mengurus rumah. Akibatnya, Greg mengalami hal yang buruk bahkan nyaris dihukum di sekolah.

Namun, aku TAHU bahwa kita seharusnya jangan mengumumkanhukuman yang akan dijatuhkan SEBELUM kita menyuruh orang yang bersalah menyerahkan diri. (hal. 81)

Di sisi lain, Mom merasa harus mempekerjakan seorang asisten rumah tangga agar rumah bisa terjaga selama ia mengambil pelajaran. Oleh karena itu, seorang pembantu bernama Isabella bekerja di rumah Heffley selama Mom berada di sekolah. Namun Greg sangat membenci Isabella karena menurutnya ia tidak melakukan apa-apa sebagai seorang pembantu.

Yang bisa aku katakan hanyalah: kalau saja menjadi pembantu Cuma berarti menonton televisi sepanjang hari, menyantap makanan kecil, dan tidur siang di ranjangku; maka, aku rasa aku akhirnya berhasil menemukan karir yang bisa membuatku bersemangat. (hal. 128)

Cerita tentang menginap di sekolah saya rasa adalah cerita paling mengenaskan dalam buku ini. Acara menginap ini adalah sebuah acara rame-rame di sekolah Greg untuk semua murid. Tapi ternyata kesialan-kesialan bermunculan satu persatu. Ada yang pemisahan lokasi tidur laki-laki dan perempuan, dilarangnya makan cemilan saat jam tidur, serta permainan-permainan konyol yang diadakan oleh pengawas acara tersebut.

Nah, hal seperti inilah yang membuat aku tidak tahan terhadap anak laki-laki seusiaku. Kalau sudah bercanda, mereka mirip segerombolan binatang. (hal. 156)

Di hari lain, Greg mendapat sebuah ceramah dari Gammie (nenek buyut Greg) yang sedikit membuatnya tersadar bahwa tak selamanya menjadi dewasa itu menyenangkan. Saya rasa sebagai seorang nenek buyut, Gammie cukup bijak dalam memberi petuah kepada Greg.

Gammie mengatakan bahwa sebagian besar anak-anak seusiaku selalu ingin buru-buru tumbuh dewasa, tapi bila aku memang cerdas, aku pasti akan menikmati masa kecilku selagi masih sempat. (hal. 209)

Meskipun ada beberapa hal yang lucu, saya justru tidak bisa menikmati dengan baik. Mungkin kalau membaca versi aslinya (bukan terjemahan) akan bisa saya resapi lagi kelucuannya. Entah bahasa yang digunakan ataupun istilah asing yang “terpaksa” diterjemahkan. Overall, buku ini sudah baik. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang penuh lelucon dan kekonyolan, di novel kelima ini saya mendapat banyak pelajaran tentang kehidupan. Khususnya kehidupan masa kecil hingga remaja. Seperti Greg, saya dulu juga ingin sekali tumbuh dewasa. Namun ketika telah dewasa, saya merindukan sekali masa kanak-kanak.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Hari-Hari Sial

covertengil4

Judul: Hari-Hari Sial

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Dog Days: Book Four

Seri: Diary Si Bocah Tengil #4

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218 halaman

Terbit Perdana: Desember 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Desember 2010

ISBN: 9789790244566

cooltext1660180343

Liburan musim panas yang seharusnya sangat mengasyikkan dan ditunggu-tunggu ternyata berubah menjadi serentetan peristiwa yang tidak menyenangkan – dimulai  dari ibu Greg yang mencanangkan program pengetatan ikat-pinggang (selamat tinggal deh acara jalan-jalan ke pantai!), diikuti dengan pengalaman tidak menyenangkan di kolam renang kota. Lalu, hadiah ulang tahun yang diidam-idamkan ternyata mengecewakan. Selain itu, pertengkaran dengan Rowley, tambahan anggota keluarga baru yang banyak tingkah, dan masih banyak lagi hal-hal menyebalkan lainnya. Sungguh apes nasib Greg kali ini.

“Serial yang mampu menggebrak genre bacaan yang sudah ada … dilengkapi dengan humor yang pas dan ramuan cerita yang mengasyikkan.” – Publishers Weekly, ulasan dengan anugrah bintang

“Diary si Bocah Tengil kelihatannya akan mendominasi dunia.” – Majalah Time

“Salah satu buku bacaan berseri untuk ank-anak tersukses yang pernah diterbitkan.” – Washington Post

“Telah menyingkirkan kata ‘segan’ dari istilah ‘orang-orang yang segan membaca.’” – USA Today

cooltext1660176395

Ah tak terasa saya sudah membaca dan mereview buku diary si Greg ini pada buku keempat. Edisi yang ini cukup mencolok mata dengan warna cover yang menurut saya kuning banget tu. Tinggal dilempar ke sungai biar mengapung kayak ta…*some text missing*

Anyway, buku ini konsepnya adalah membeberkan hari-hari yang dialami Greg yang berujung dengan kesialan dan kenestapaan selama liburan musim panas. Tidak hanya hari-hari bersama keluarganya saja sih, tapi juga ketika bersama teman-teman sepermainannya. Oh iya, buku yang ini juga sudah diangkat ke layar lebar lho.

Aku rasa Dad Cuma iri saja karena dia terpaksa pergi bekerja sementara kami semua bisa bersantai dan berleha-leha setiap hari. (hal. 13)

Namanya juga anak-anak sekolah, tentu sangat bahagia ketika libur tiba. Dan saya sangat mirip dengan Greg dalam menghabiskan liburan dengan cara bersantai alias tidur dan doing nothing huahahahhaa. Yah meskipun orang tua saya juga sama dengan Dad-nya Greg yang mewajibkan saya melakukan sesuatu yang lebih berguna. Oh iya, ada lagi kisah lucu saat Greg sedang potong rambut di salon langganan Mom.

Ketika rambutku sedang dipotong, aku menyadari hal terhebat mengenai salon kecantikan, dan hal itu adalah GOSIP. (hal. 21)

Agak bener juga sih menurut saya. Maklum salon kan khas sebagai tempat tongkrongan para kaum hawa. Apalagi salon yang pelanggannya ibu-ibu. Aduuh pasti ada aja yang diobrolin. Termasuk gosip para tetangga-tetangga sekitar *ups sorry for the ladies*

Hari sial berikutnya adalah ketika Greg ingin memiliki akuarium. Jadi ceritanya Greg ini sudah punya ikan di sebuah toples. Namun ia ingin akuarium dengan satu ton ikan untuk menemani ikan mungil miliknya. Saat meminta pada Dad, tentu saja ia mendapat penolakan keras.

Nah, inilah jeleknya menjadi seorang anak. Kamu cuma mendapat dua kesempatan untuk mendapatkan barang yang kamu inginkan, yaitu pada saat Natal dan pada saat kamu berulang tahun. (hal. 94)

Berbagai kejadian mengerikan lain selama musim panas juga membuat hubungan Greg dengan Dad sedikit merenggang. Maklum sepertinya Dad sangat tidak menyukai perilaku Gre yang selalu merepotkannya karena kenakalan-kenakalan yang selalu Greg lakukan. Namun lambat laun, hal itu bisa segera terselesaikan. Bukan keluarga Heffley namanya kalau tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Aku dan Dad mungkin tidak akur dalam segala hal, tapi setidaknya kami sepaham dalam urusan yang penting. (hal 213)

Saya tidak berbicara lebih banyak ah tentang sekuel Diary si Bocah Tengil ini. Karena sangat menghibur gitu lho. Eh bukannya saya menyukai kesialan Greg yang dipaparkan hampir seluruh halaman di buku ini. Tapi apa ya, Jeff Kinney sukses membuat tokoh Greg sebagai anak pra-remaja yang pantas mendapat simpati dan sekaligus nyebelin setengah mati.

Dari segi penerjemahan, asik-asik aja. Maksudnya mengalir aja gitu dan tidak kaku. Oh iya, saya suka sekali dengan karikatur yang bertebaran di setiap halaman. Dan lebih lucu lagi saat dialog berteriak, penerjemah mencantumkan “Jeriiiiiit!” pada balon dialog, alih-alih menuliskan “Aduuuh!” atau “Aaaargh!” atau “Aaaaww!” ataupun yang lainnya. Agak aneh-tapi-lucu sih ngebayangin saya sendiri teriak kaget dengan kata-kata “Jeriiiit!”

Kalau dari kekurangan, hmm saya rasa lambat laun kehidupan si Greg ini kok terasa sangat kekanakan sekali ya. Padahal kan dia udah SMP. Tapi kok masih suka main game, permen, coklat, dan ding-dong. Eh tapis aya juga suka sih. Tapi entahlah, saya rasa penjabaran latar belakang Greg membuat saya mengira ia masih kelas 3 SD daripada anak SMP.

Secara umum buku ini lebih baik daripada buku sebelumnya. Namun tetap saja tidak bisa mengalahkan buku pertama. Entahlah, mungkin sesuatu yang pertama kali itu terasa sangat mengesankan. Buku ini saya rekomendasikan untuk semua ramaja tanggung yang udah bisa baca. Yah, daripada alay-alay gak jelas dan tidak bermanfaat, mending baca buku ini deh hehehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Cabe Rawit

covercabe2

Judul: Cabe Rawit

Tagline: Kumpulan Humor Menggigit Untuk Anak-Anak Kreatif

Seri: Cabe Rawit #2

Penyusun: Tim Redaksi Penerbit Arena

Penerbit: Arena

Jumlah Halaman: ii + 74 halaman

Terbit Perdana: 1993

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 1993

cooltext1660176395

Sebuah tulisan bernuansa komedi singkat sebenarnya bisa ditemukan dimana saja, alias tak selalu dalam bentuk lembaran buku. Melainkan tersebar di jagat maya. Apalagi dunia internet telah sedemikian canggih saat ini. Namun bagaimana ketika internet masih belum terlalu populer bahkan belum dikenal? Mungkin dari sebuah bukulah humor tersebut bisa diketahui. Salah satunya dari buku berjudul Cabe Rawit ini.

Guru: Coba ceritakan kepada saya, apa yang kau ketahui mengenai para sarjana abad ke-18.

Sami: Semua sudah meninggal, Bu. (hal. 16)

Itu tadi salah satu contoh humor yang disuguhkan di buku ini. Hampir semuanya merupakan humor singkat berisi percakapan dua orang (secara singkat pula) dan diakhiri dengan sebuah tanggapan lucu. Salah satu alasan singkatnya percakapan ini mungkin agar pembaca tidak perlu melalui intermezo yang terlalu panjang dan bisa langsung tahu letak kelucuannya.

Pak Guru: Siapa namamu?

Henri: Henri!

Pak Guru: Biasakan sopan. Jangan lupa menyebut bapak.

Henri: Bapak Henri. (hal. 48)

Saat membaca humor itu, saya agak telmi memahami letak lucunya dimana. Oh ternyata saya baru ngeh kalau maksudnya sang Pak Guru yang harus dipanggil Bapak. Karena percakapannya terlalu singkat, saya jadi agak bingung mencerna beberapa humor yang dituliskan di buku ini.

Secara umum buku humor ini cukup menarik. Ada buuuuanyak sekali (aduh ketahuan deh saya orang asli daerah mana) humor-humor jenaka yang disajikan. Namun seperti yang saya kemukakan tadi, percakapan yang terlalu singkat membuat saya menjadi bingung. Ibarat makan di restoran, saya langsung disodori main course, tapi setelah menikmati beberapa suap, langsung ditarik lagi dan diganti menu yang baru. Enak sih enak, tapi rasanya jadi tidak puas.

Kelebihan yang buku ini berikan salah satunya adalah adanya karikatur yang selalu berada di halaman ganjil. Jadi lumayan membantu memahami cerita. Pada dasarnya, mungkin tim penyusun buku ini ingin menghibur pembaca secara instan. Dan saya rasa hal itu cukup berhasil (setidaknya kepada saya). Namun kesannya justru terburu-buru. Mungkin ini alasannya buku ini menjadi sangat tipis.

Hal yang menjadi sorotan saya adalah kualitas cetakan. Ya ampun, ini seperti hasil fotokopian alias tulisan ada bolong-bolong tidak tercetak sempurna. Tapi jika dilihat isi, semua lapisan masyarakat berusia berapapun yang penting bisa baca, saya rasa cocok membaca buku ini untuk menghilangkan penat ataupun saat lagi galau *eaaa.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Usaha Terakhir

covertengil3

Judul: Usaha Terakhir

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: The Last Straw: Book Three

Seri: Diary Si Bocah Tengil #3

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218

Terbit Perdana: Mei 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2010

ISBN: 9789791411240

cooltext1660180343

Ayo akui saja: Greg Heffley tidak akan pernah mengubah sikapnya yang tengil dan gampang menyerah. Harus ada seseorang yang menjelaskan hal ini pada ayah Greg.

Tahu tidak, Frank Heffley benar-benar merasa dirinya mampu membuat putranya menjadi lebih tegar, dan dia pun mendaftarkan Greg dalam berbagai olahraga yang terorganisasi dan kegiatan “cowok” lainnya.

Tentu saja, Greg dengan mudah mampu mengelak dari segala usaha sang ayah yang ingin mengubah dirinya. Namun, ketika ayahnya mengancam akan mengirimnya ke akademi militer, Greg sadar dia harus membenahi diri … atau kalau tidak, dia pasti akan dikirim pergi.

“Minggir, Harry Potter … Ada satu buku berseri bari yang mendominasi pasaran buku anak-anak dan buku-buku ini sama sekali bukan buku ‘fantasi’.” – Andrea Yeats, NPR’s All Things Considered

“Gebrakan besar untuk mereka yang malas membaca dan bagi setiap orang yang mendambakan buku jenaka.” – School Library Journal

“Cara penyajiannya tepat dan tokoh utamanya yang egois sangat meyakinkan …” – The New York Times

cooltext1660176395

Lanjutan dari si bocah tengil horee *joget-joget*. Buku ini menceritakan kelanjutan hal-hal konyol yang dialami si Greg di kesehariannya. Saya heran kok sang penulis bisa memahami dunia remajanya Greg. Padahal ia sudah tidak muda lagi. Buku ini diawali dengan kisah mengenai resolusi awal tahun. Ironis sekali ketika tiap anggota keluarga Heffley membuat resolusi namun tidak pernah terlaksana hingga akhir tahun, bahkan bulan depan. Malah Manny si anak bungsu, tidak bertahan selama satu menit. Hal itu sedikit banyak nyambung pada hari Natal yang penuh hadiah bagi anak-anak, namun tidak untuk Greg.

Kurasa, begitu kau sudah SMP, orang dewasa langsung menganggap kau terlalu tua untuk mendapatkan hadiah mainan atau apa saja yang benar-benar menyenangkan. (hal. 8)

Suatu hari, Greg terkejut ketika bus jemputan sekolah merubah rute dan mengakibatkannya harus berjaan kaki ke sekolah. Ia berpikir hal itu sungguh buruk bagi anak sekolah. Sepertinya saya agak setuju dengan pendapat Greg yang satu ini. Maklum saya ketika sekolah dulu benar-benar tidak bergairan dengan namanya PR.

Zaman sekarang, para guru memberikan terlalu banyak PR sehingga dengan semua buku serta kertas yang kau bawa pulang, berat ranselmu akhirnya mencapai bobot empat kilogram. (hal. 14)

Ada lagi cerita tentang si Greg menyalahkan pencuri jatah camilan makan siang sehingga menyebabkan hidupnya sungguh memuakkan. Untuk menyelamatkan hidupnya dari kenestapaan dunia *apasih* dia berusaha mencari tahu dan menangkap basah si pencuri camilan. Ya benar, menangkap di dalam rumahnya sendiri alias salah satu keluarganya yang jadi tersangka. Tidak tanggung-tanggung, ia sampai sembunyi di dalam tumpukan pakaian kotor disamping mesin cuci. Konyol namun sukses menemukan pencuri camilan itu di malam hari yang gelap gulita.

Ternyata si maling adalah Dad. Aku seharusnya sudah menduga dari awal. Dia benar-benar KETAGIHAN makanan tidak sehat. (hal.82)

Kisah yang menjadi headline blurb buku ini adalah kisah mengenai rencana Greg dikirim ke sekolah militer oleh Dad. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Dad beranggapan anak-anaknya tidak terlalu kuat sebagai seorang lelaki sejati.

Kalau Dad melihat bagaimana sekolah bisa mengubah seorang bandit remaja seperti Lenwood Heath menjadi seorang pria dewasa, maka dia pasti beranggapan sekolah itu pun juga bisa mengubah anak selembek AKU menjadi pria dewasa. (hal. 158)

Apakah rencana Dad benar-benar terlaksana? Silakan baca buku ini. Namun saya sangat iri dengan kemujuran yang diperoleh Greg. Meskipun dia bukanlah anak yang baik, namun kreatif dan kelicikannya terkadang membawa dampak baik dan menyenangkan baginya.

Karena seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku adalah salah satu orang terbaik yang kukenal. (hal. 216)

Cerita ini tentang resolusi sebagai pembuka sedikit nyindir saya sih. Awal tahun, bahkan tiap pagi hari saya pasti ada niat melakukan sesuatu. Namun realisasinya benar-benar nihil alias hanya wacana semata. Huahahahahaha *ketawa miris*. Overall, saya rasa buku ini masih khas lelucon yang disajikan Jeff Kinney. Tapi tetap masih belum bisa mengalahkan buku pertamanya. Di buku ketiga ini juga tidak terlalu banyak yang membuat terpingkal-pingkal.

Kekurangan buku ini masih sama dengan pendahulunya, yaitu terlalu banyak tokoh yang slonong-boy alias numpang lewat saja. Sehingga latar belakang tokoh lain hanya dijelaskan sekilas, yang penting mendukung kisah yang sedang diceritakan. Saya rasa terkadang Greg benar-benar orang paling melas dan menderita di buku ini. Alih-alih sebagai anak tengil (dalam kamus saya tengil itu nyebelin). Yang ada malah orang-orang di sekitar Greg lah yang nyebelin. Saya jadi agak bingung sih dengan judul buku dan isinya. Atau jangan-jangan efek sudut pandang si Greg yang jadi fokus cerita? Who knows.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Rodrick yang Semena-Mena

covertengil2

Judul: Rodrick yang Semena-Mena

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules: Book Two

Seri: Diary Si Bocah Tengil #2

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 216

Terbit Perdana: November 2009

Kepemilikan: Cetakan Keempat, Februari 2010

ISBN: 9789791411226

cooltext1660180343

Apa pun alasannya, jangan tanya Greg Heffley tentang liburan musim panasnya, kerena dia pasti tidak mau cerita.

Saat Greg memulai tahun ajaran baru di sekolah, dia bertekad melupakan semua peristiwa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir…khususnya sebuah peristiwa yang ingin ia rahasiakan.

Malang bagi Greg, kakaknya, Rodrick, tahu semua peristiwa yang ingin Greg simpan rapat-rapat. Namun, serapat apapun dia menyembunyikannya, rahasia itu terbongkar juga…terutama jika sebuah diary ikut terlibat.

“Novel kartun yang bikin pembaca ‘ngakak guling-guling’ … dengan perut terkocok.” – Publishers Weekly

“Novel kartun yang sangat menarik.” – Majalah People

“Humor yang sangat lepas.” – Kirkus Review

“Pilihan cemerlang bagi yang malas membaca.” – School Library Journal

cooltext1660176395

Serial si bocah tengil berlanjut lagi hehehe. Setelah sukses dengan pendahuluunya, Jeff Kinney menghadirkan buku kedua. Kali ini berkisah tentang kehidupan Greg yang mendapatkan hal-hal buruk dari sang kakak, Rodrick. Tapi ternyata di buku ini tidak khusus mengenai Rodrick saja. Selayaknya buku harian, ada pula berbagai kejadian yang dialami Greg diluar masalahnya dengan Rodrick.

Beberapa minggu lalu, Rodrick mendapatkan buku jurnal LAMA milikku, dan itu benar-benar bencana. (hal. 1)

Tentu saja disebut bencana karena itulah awal mula Rodrick bisa mengancam Greg untuk menuruti segala macam perintahnya. Greg juga tak bisa apa-apa selain menurut dan berharap Rodrick tak menyebarkan rahasianya ke seluruh pelosok dunia *lebay*.

Di hari yang lain, ketika Greg telah kembali bersekolah (kisah sebelumnya adalah saat liburan), Mom meminta Rodrick menjemput adiknya dengan mobil van miliknya. Greg sangat tidak yakin bahwa Rodrick menjemputnya adalah gagasan yang baik. Namun karena Mom yang menyuruh, mau tidak mau Greg hanya bisa menerima.

Jadi, saat Rodrick menjemputku hari ini, aku akan memintanya untuk berhati-hati saat mengerem. (hal. 20)

Lain Rodrick, lain pula Manny, sang bungsu keluarga Heffley. Pada berbagai kisah, Greg menceritakan bagaimana buruknya kelakuan Manny (sesungguhnya Greg sih yang bermasalah) ketika berada dalam situasi yang tidak menguntungkan Greg. Namun ia tak bisa apa-apa ketika ada Mom. Ya benar, Mom adalah pengawas kejahatan di dalam rumah bagi Greg. Ketika ia menyakiti Manny, maka Mom tak segan-segan memberikan hukuman.

Aku benar-benar ingin menghajar Manny, tapi aku tidak mampu berbuat apa-apa karena Mom berdiri di dekat kami. (hal. 42)

Ada lagi kisah bersama Rowley. Jadi ceritanya Rowley ini membeli sebuah buku diary. Karena suatu hal (baca di buku ini ya) Rowley menjadi populer di kalangan para gadis. Greg penasaran dengan topik yang mereka bicarakan. Salah satunya, dengan membaca diary Rowley. Tapi ternyata isi diary Rowley membuat Greg tertegun.

Setelah melihat isi pikiran Rowley, aku mulai bertanya-tanya mengapa aku dulu mau berteman dengannya. (hal. 93)

Secara umum, buku ini bisa saya nikmati dengan lancar tanpa berhenti hingga halaman terakhir. Berbeda dengan buku pertamanya yang mengulas tindak-tanduk Greg, di buku ini justru diceritakan bagaimana kelakuan orang-orang terdekat Greg sehingga membawa pengaruh buruk bagi hidupnya. Karena ini adalah buku harian Greg, maka ia selalu membenarkan apa yang dia lakukan. Padahal sesungguhnya jika diperhatikan, Greg bukanlah seorang anak yang baik.

Lelucon yang disajikan pada buku ini sebenarnya ada banyak. Sayangnya, tidak semua bisa membuat saya tertawa seperti buku pertama. Oh iya, saya agak-agak gimana gitu ketika membaca berbagai cerita yang mengangkat tema tugas sekolah. Percaya deh, tugas Greg dan Rodrick bagaikan tugas kelas 2 SD di Indonesia. Saya tidak tahu itu hanya bualan atau kenyataan. Tapi tugas seperti itu untuk sekolah menengah di Amerika? Well, betapa pintarnya orang Indonesia.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Diary Si Bocah Tengil

covertengil1

Judul: Diary Si Bocah Tengil

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid

Seri: Diary Si Bocah Tengil #1

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: viii + 216

Terbit Perdana: Mei 2009

Kepemilikan: Cetakan Keenam, Februari 2010

ISBN: 9789791411202

cooltext1660180343

Bosan dengan buku cerita penuh tulisan tanpa gambar? Atau bosan dengan kisah fantasi penuh hal-hal gaib? Atau ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang daripada komik tetapi tidak seberat novel? Nah, inilah jawabannya. Baca, deh diary milik Greg Heffley. Selain banyak kejadian lucu, di dalamnya juga bertaburan gambar-gambar kartun jenaka.

Kisah hidup Greg Heffley selama satu tahun ajaran sekolah ini dijamin bisa membuat pipi pegal, perut terkocok, bahkan mata berair. Kekonyolan dan kemalangan Greg akan membuat kalian mengingat kembali kejadian serupa yang mungkin pernah kalian alami.

Di dalamnya ada Sentuhan Keju yang menyeramkan, “Zoo-Wee Mama” yang menyebalkan, seorang anak yang mabuk gula, dan masih banyak lagi. Ingin tahu lebih lanjut? Cepat buka halaman pertama …

cooltext1660176395

Buku ini saya beli sudah lama, sudah saya baca, tapi belum saya review. Yasudah saya re-read aja sekalian nostalgia hehe. Awalnya saya beli buku ini juga pakai sistem random-pick. Maklum, saya ini kalo liat buku terjemahan rasanya udah skepstis duluan dan tidak berharap banyak. Apapun genre-nya, siapapun penerjemahnya, siapapun penulisnya.

Karena apa? Ya, benar sekali. Karena bahasanya. Bukannya saya tidak menghargai sang penerjemah ya, tapi saya pribadi beranggapan karya terjemahan itu pasti feel-nya beda dibandingkan buku yang asli bahasanya. Entah karena beda budaya, beda sense of humor (kalo buku komedi) ataupun identitas tulisan. Para penerjemah yang seringnya menggunakan bahasa yang baku, jadi agak kaku gitu pasti, terlebih untuk novel humor seperti ini.

Tapi kemudian semua berubah saat negara api menyerang ketika saya baca buku ini. Well, saya tidak tau apakah om Jeff Kinney ini sudah tau sense of humor negara Indonesia atau penerjemahnya yang udah kenal banget ama om Jeff. Tapi saya rasa meskipun menggunakan bahasa baku, buku ini tetap menarik minat saya untuk menyelesaikannya.

Dalam novel ini, kita berkenalan dengan seorang remaja tanggung bernama Gregory Heffley. Diceritakan ia baru saja masuk sekolah menengah pertama dan mulai menulis jurnal (bukan diary, menurut Greg) tentang kesehariannya baik di sekolah ataupun lingkungan rumahnya.

Di sekolah menengah pertama ada anak-anak seperti aku yang belum mencapai masa akil balig, tetapi sudah dicampur bersama para gorila yang harus bercukur sebanyak dua kali sehari. (hal. 3)

Di sekolah ini, ada sebuah situasi yang cukup aneh namun menggelitik. Di lapangan basket sekolah, ada sebuah keju yang telah menempel sejak musim semi yang lalu. Keju tersebut mulai ditumbuhi jamur dan terlihat menjijikkan. Anehnya, tak seorangpun berani menyingkirkan keju tersebut.

Kalau kalian mendapat Sentuhan Keju, kalian akan memilikinya sampai mengoperkannya pada orang lain. (hal. 9)

Suatu hari, tepatnya hari Halloween, Greg dan kawan karibnya, Rowley hendak berkelana meminta permen dari rumah ke rumah. Greg iri pada kostum Rowley yang keren berbentuk kesatria lengkap dengan helm, perisai, dan pedang. Tapi ternyata, Mom memberikan Greg kostum bajak laut yang sangat bagus…dengan syarat turut serta mengajak Manny, sang adik.

Aku bilang pada Mom kami TIDAK MUNGKIN mengajak Manny karena kami akan menyantroni 152 rumah dalam waktu tiga jam. (hal. 66)

Ada lagi cerita tentang kewajiban siswa laki-laki di sekolah untuk mengikuti tim gulat selama enam minggu. Ternyata, kostum yang harus digunakan saat gulau adalah sebuah “singlet” yang tampak mirip pakaian renang tahun 1800-an. Akibatnya, ketika bertarung Greg merasa terlalu “dekat” dengan sang lawan.

Selama jam pelajaran ketujuh, aku terpaksa mengenal Fregley JAUH lebih intim dibandingkan dengan yang aku inginkan. (hal. 83)

Yang paling menarik adalah cerita tentang sekolah Greg yang mencari seorang kartunis untuk mengisi kolom komik strip pada koran sekolah. Ia berencana mengisi lowongan tersebut dan menjalin kerjasama dengan Rowley. Kartun lucu yang ia ciptakan adalah sebuah kartun dengan kalimat andalan “Zoo-Wee-Mama!” di setiap stripnya. Namun akhirnya, rencana itu tidak berjalan mulus.

Masalah “Zoo-Wee-Mama” ini benar-benar membuatku sewot. Rowley mendapatkan semua pujian atas komik yang kami ciptakan bersama. (hal. 205)  

Yah, meskipun saya tidak tertawa terpingkal-pingkal bagaikan nonton Srimulat *apasih* tapi setidaknya saya masih senyum-senyum baca buku ini. Itu sebuah prestasi karena saya biasanya sangat jarang bisa menikmati tulisan terjemahan. Apalagi ditambah dengan karikatur khas yang sangat menunjang ceritanya. Kalau kekurangannya sih mungkin saya pribadi agak sulit memahami adat budaya yang disajikan dan tidak ada di Indonesia. Oh iya, terlalu banyak tokoh yang numpang lewat (baik beneran muncul atau cuma namanya saja) di buku ini.

Format cerita di buku ini tidak menggunakan model bab, namun menggunakan seperti buku harian *yaiyalah* dengan font yang sangat menarik. Jadi yang dilihat adalah hari ini, kejadian ini. Plus karikatur juga ada di SETIAP halamannya. Ini sebuah buku novel yang sayang kalau sampai dilewatkan. Karena ceritanya benar-benar jempolan.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

You Are Invited

coveryou

Judul: You Are Invited

Penulis: Kezia Evi Wiadji

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah halaman: 216

Terbit Perdana: April 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2014

ISBN: 9786022514930

cooltext1660180343

Stacy Tanu dan John Edward, berencana melangsungkan pesta pernikahan. Selain mengundang 400 tamu, juga enam orang yang mempunyai hubungan sangat spesial dengan kedua calon mempelai. Mereka adalah Dina, Ben, Lyla, Sonia, Edo, dan James.

Beberapa minggu menjelang pesta pernikahan itu, masalah demi masalah silih berganti menghampiri mereka. Dapatkah mereka bergabung dengan tamu undangan lain untuk merayakan pesta pernikahan Stacy dan John?

cooltext1660176395

Awalnya saya melihat cover novel ini sedikit heran. Ini novel atau undangan kawinan? Tapi ternyata ide cerita novel ini memang demikian, mengenai hari-hari menjelang pesta pernikahan John dan Stacy. Well, cover sudah mencuri perhatian saya. Mari simak isi di dalamnya. Ekspektasi saya sih novel ini mengisahkan prahara dan permasalahan sebelum pesta itu terlaksana. Jika membaca blurb diatas, seharusnya tokoh utama dalam novel ini adalah John dan Stacy (ya iyalah kan mereka yang mau merit). Tapi setelah membaca hingga tuntas, bukan mereka saja yang berperan. Terdapat delapan bab yang disuguhkan, masing-masing bercerita tentang kedua calon mempelai plus kehidupan orang-orang terdekat mereka.

Bab pertama tentu saja mengenai kedua calon pengantin yaitu John dan Stacy. Mereka menentukan jumlah undangan dan siapa saja yang hendak diundang. Tabir kehidupan masa lalu sedikit terkuak ketika Stacy ingin mengundang mantan kekasihnya, Ben dan menawarkan John untuk melakukan hal serupa dengan mengundang Dina, pacarnya dimasa lalu. Bab ini merupakan pintu gerbang awal cerita bab yang lain.

“Tapi aku nggak mau mengundang mantanku. Aku nggak mau mengorek luka lama. (hal. 7)

Bagian kedua menguak kehidupan Dina. Setelah putus secara tidak baik-baik dengan John, ternyata Dina masih galau. Sebenarnya dia sudah menemukan tambatan hati yang baru, namun ia belum bisa melupakan John. Terlebih sang pujaan hati baru yang bernama Cello ini membuat Dina pusing tujuh keliling gara-gara nge-PHP si Dina *kasian*.

“Kenapa lo marah? Kapan gue pernah minta lo jadi pacar gue? Gue juga nggak pernah bilang cinta ke lo. Nggak pernah bilang suka ke lo. Lo aja yang beranggapan kalo kita pacaran.” (hal. 32)

Bab ketiga bercerita tentang kehidupan Ben semenjak berpisah dengan Stacy. Diceritakan Ben yang menemukan pengganti Stacy, bernama Princille dengan jalan yang kurang mulus pada awalnya. Saya suka sekali dengan sosok Princille yang “istimewa” ini. Bagian tentang Ben yang gemar bertualang ini sukses membuat saya ingin berwisata ke Danau Maninjau. Penulis berhasil menceritakan daerah yang dikunjungi Ben dengan baik.

Pantulan sinar matahari di air danau layaknya serpihan kaca retak yang bergerak-gerak. Semakin mempercantik Danau Maninjau dengan luas hampir 100 km2 yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang membentuk dinding. (hal. 54)

Bab selanjutnya bercerita tentang Lyla, sahabat Stacy. Sebenernya kisah yang dibawakan oleh Lyla cukup menarik yaitu tentang pengalaman naik gunung dan menemukan cinta. Cuma, menurut saya kok rasanya agak kurang pas. Karakter Lyla inilah yang saya rasa paling tidak membekas di hati (kecuali bagian wisata kuliner yang membuat cacing perut saya berdemo). Penyelesaiannya juga terburu-buru dan serba kebetulan.

Bab selanjutnya adalah Sonia, adik John yang menjalani kehidupan pahit setelah ditinggal cinta pertamanya. Saya rasa kisah Sonia tidak ada sangkut pautnya dengan Stacy ataupun John sih, selain status keluarga saja. Tetapi justru Sonia memiliki nasib paling mengenaskan diantara pemain lain di novel ini.

Kemudian ada kisah Edo, sahabat John yang juga sebagai cinta pertama Sonia. Saya suka dengan tokoh Edo yang meskipun awalnya miskin, namun semangat menuntut ilmu hingga jadi dokter patut diacungi jempol. Yah meskipun mengorbankan perasaannya terhadap Sonia, saya suka dengan takdir manis yang dia dapatkan.

Ada lagi kisah James yaitu kakak Stacy yang kehilangan kekasihnya saat SMA karena overdosis. Kemudian menemukan orang baru yang memiliki fisik serupa dengan kekasih masa lalunya itu. Saya rasa agak aneh ini cerita James. Diantara ratusan jiwa manusia di Indonesia, kok ada orang yang sama setelah mati. Takdir sih mungkin, tapi saya rasa it’s too good to be true.

“Hidup itu berawal dari huruf B dan berakhir di huruf D. Huruf B artinya Birth dan D artinya Death. Tapi di antara huruf B ada huruf C, yang artinya Choice. Artinya, hidup selalu menawarkan pilihan.” (hal. 198)

Terakhir adalah bab pesta pernikahan yang saya lihat sangat cantik dan meriah dari deskripsinya namun dengan jumlah halaman paling sedikit dibandingkan yang lain. Plus bikin saya mupeng pengen punya pesta pernikahan kayak gitu *uhuk*

Overall, saya suka dengan buku ini. Emosi dan konflik yang disajikan adalah masalah orang dewasa. Ingat, yang saya maksud dewasa adalah adanya adegan-yang-seperti-itu. Masalah setting, saya acungi jempol deh. Detil banget dalam mengemukakan keunggulan daerah dan membuat saya bisa membayangkan dengan jelas. Saya rasa novel ini bagus dengan ciri “Indonesia banget” yang meliputi Jakarta, Bali, Pekanbaru, Solo, Bandung, Batam, dan Medan. Tentu saja wisata kuliner yang diceritakan sukses membuat saya menelan air liur berkali-kali.

Tetapi, saya agak kecewa dengan pembagian tokoh. Harapan saya sih, Stacy dan John merupakan tokoh sentral di novel ini. Namun kok saya rasa justru mereka berdua hanya sebagai “status” tokoh yang lain. Sehingga seolah-olah ini adalah kumpulan cerpen yang digabung jadi satu buku dengan status “kerabat dekat John & Stacy”. Imbasnya, cerita tiap bab (tiap tokoh) kurang tergali. Dan juga setiap bab ada tokoh-tokoh baru (bisa tiga atau lebih) yang mengiringi tokoh utama tiap bab sehingga saya jadi bingung nama-namanya siapa aja (sering juga tertukar namanya) saat membaca cerita lain.

Pada awalnya saya berpikir cerita ini akan mengangkat cerita persiapan Stacy dan John sebelum pernikahan dengan menemui masing-masing tokoh lain dan menemukan masalah. Tetapi ternyata hanya diceritakan kisah tokoh lain di dunianya sendiri. Saya berharap jika nantinya ada spin-off tiap tokoh di novel ini menjadi novel tersendiri. Karena sepenggal kisah yang disajikan sangat menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut.

Well, novel ini cocok dibaca golongan pra-dewasa hingga orang dewasa. Maklum adegan-yang-seperti-itu cukup bikin deg-degan hehehe. Meski genre-nya adalah romance, tetapi penulis sanggup menghadirkan kisah cinta yang tidak menye-menye dan lebay khas fiksi remaja. Selain itu penyelesaian masalah yang masuk akal dan ending yang sangat pas membuat saya puas membaca novel ini.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Humor Obat Stres

coverhumor

Judul: Humor Obat Stres

Judul Asli: Jokes of Joginder Singh

Seri: Humor Obat Stres #1

Penulis: Joginder Singh

Penerjemah: Safrie HS

Penerbit: Hanggar Kreator

Jumlah Halaman: 114 halaman

Terbit Perdana: Maret 2005

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2005

ISBN: 9799799892668

cooltext1660180343

Seorang bocah laki-laki dan neneknya yang menyayanginya sedang berjalan-jalan di tepian pantai. Tiba-tiba datang ombak dan menggulung bocah itu membawanya ke lautan. Wanita yang ketakutan itu, berlutut di atas pasir, menatap ke langit dan memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan cucu tercintanya. Dan kemudian datanglah ombak lagi yang membawa bocah yang pingsan itu menggeletakkannya di atas pasir tepat di depan neneknya. Sang nenek memeriksa cucunya dengan seksama. Dia baik-baik saja. Namun sang nenek tetap menatap dengan marah ke langit. “Sewaktu kami datang tadi,” katanya dengan marah, “dia pakai topi!”

cooltext1660176395

Saya baru tahu buku ini sebenernya adalah karya terjemahan ketika membaca informasi di dalamnya. Saya kira ini tulisan orang dalam negeri bumi Indonesia tercinta hehehehe. Iseng-iseng kemaren saya browsing wajah sang penulis yang berasal dari India ini. Ternyata…lebih ganteng saya *ahem. Baiklah lanjut ke isi buku aja deh yak hahaha.

Jadi buku ini berisi humor pendek yang sebenernya lucu-nanggung-akhirnya-rada-garing. Saya enggak ngitung ada berapa humor di dalamnya, tapi yang jelas buanyak banget. Lumayan bisa buat habisin waktu kalau lagi ngabuburit *aduh saya jadi kangen bulan ramadhan yang udah berlalu :’(*

Toni dan ibunya sedang melihat-lihat foto keluarga. Tatkala meihat foto seorang pemuda tampan berkumis ia bertanya, “Siapa ini?”

“Lho, itu kan ayahmu,” kata ibunya dengan bangga.

“Yeah?!” ujar Toni dengan skeptis. “Lalu siapa laki-laki botak yang tinggal dengan kita selama ini?” (hal. 52)

See? Agak agak garing kan ya? Lucu sih sebenernya *mungkin* kalau pakai bahasa aslinya. Tapi gara-gara ini terjemahan, jadi pakai bahasa baku. Menurut saya, penggunaan bahasa baku sedikit mengurangi kadar kelucuan suatu tulisan. Tapi bukan berarti semua tulisan di buku ini buruk. Ada lagi seperti ini yang cukup menggelikan.

Dua orang misionaris di Afrika ditangkap oleh sebuah suku kanibal. Mereka berdua dimasukkan ke dalam kuali raksasa berisi air dan direbus di sana. Beberapa menit kemudian, salah seorang misionaris itu tertawa terpingkal-pingkal. Temannya tak percaya melihat keadaan temannya itu dan bertanya,“Ada apa denganmu? Kita sedang direbus hidup-hidup! Mereka akan memakan kita! Apa yang lucu pada saat seperti ini?”

Misionaris satunya itupun menjawab,”Aku baru saja pipis di dalam sup ini!” (hal. 88)

Humor tersebut adalah segelintir humor yang membuat saya nyengir babi. Nyengir? Iya soalnya tidak ada satupun yang sanggup membuat saya tertawa lebar. Oh iya, sebelumnya, saya mau menginformasikan bahwa buku ini saya beli sekitar tahun 2005 ketika saya masih usia SD. Pada jaman itu saya sangat kekurangan bacaan yang lucu-lucu tapi bukan untuk anak-anak. Maksudnya bacaan yang tidak khas anak-anak yang sarat akan bahasa formal dan pesan moral. Maklum, udah ABG jadi nyarinya yang “berbeda”.

Saya ini tipenya kalau udah baca satu humor model beginian pasti bakal inget terus di memori. Mungkin inilah alasannya saya tidak terlalu bisa ketawa waktu baca buku ini. Ya mungkin karena sebelumnya sudah saya baca entah dimana. Dan saya juga tipe yang tidak bisa tertawa dengan lelucon yang sama. Tapi jika untuk sekedar selingan ringan untuk refresh otak yang lagi suntuk, buku ini mantap untuk dicoba kok.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Gigi Kelinci

covergigi

Judul: Gigi Kelinci

Penulis: Arifia Sekar Seroja

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Jumlah Halaman: x + 86 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9789796945849

cooltext1660180343

Bagaimana rasanya kalau kita memiliki gigi seperti kelinci alias tonggos? Itulah yang dialami oleh Mia. Ia menjadi sensitif dan minder. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Kristal, seorang anak yang memiliki problem gigi kelinci seperti dirinya. Ikutilah kisah serunya dalam buku ini.

Buku ini menyuguhkan kisah dan dunia anak yang sungguh-sungguh. Dengan cara bercerita yang menarik dan jalan pikiran yang runut serta emosi dan kegalauan yang khas anak, Arifia menyentakkan kita akan pentingnya kesahajaan. – Prof. Dr. Riris K. Toha-Sarumpaet, pakar sastra anak dan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Luar biasa! Dengan membaca buku ini kita seperti dibawa ke dunia anak-anak yang menggemaskan, kadang-kadang juga menjengkelkan dan sekaligus menyenangkan. Dan kita akan rindu pada dunia itu. – Maman S. Mahayana, M.Hum., pengamat dan kritikus sastra

cooltext1660176395

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek. Yang membuat unik adalah penulisnya yang masih berusia sembilan tahun (saat itu). Sangat jarang sekali (pada masa itu) ada penulis anak-anak yang sanggup merilis sebuah buku. Di buku ini ada sembilan cerita pendek yang semuanya adalah tokoh anak-anak. Saya kupas beberapa saja ya.

Kisah nomor satu tentu saja berjudu “Gigi Kelinci” sesuai yang tertera pada cover. Dikisahkan seorang anak perempuan bernama Mia yang tinggal di sebuah panti asuhan. Ia tidak percaya diri bergaul dan bermain dengan teman-temnnya. Hal itu dikarenakan kondisi fisik yang menurutnya sangat menyebalkan.

Gigiku tumbuh tidak beraturan, dan dua buah gigi atasku tumbuh lumayan besar seperti gigi kelinci atau orang biasa menamakan gigi tonggos! (hal. 2)

Namun semuanya berubah ketika negara api menyerang seorang gadis baru di panti asuhan bernama Kristal mencoba mendekatinya. Meskipun awalnya Mia sangat membenci Kristal, lambat laun sebuah rahasia besar terungkap dan membuat Mia terkejut. Hal ini membuat penilaian Mia terhadap Kristal menjadi berubah.

Ada lagi kisah pendek berjudul “Perkenalanku dengan Dony”. Tokoh utama kisah ini bernama Desty berusia sepuluh tahun. Ia menyukai Dony, teman satu sekolahnya. Kalau jaman sekarang sih istilahnya malu-malu kucing si Desty ini untuk kenalan duluan dengan Dony.

“Aku suka pada Dony. Pasti kalian belum tahu siapa Dony. Dia orangnya pintar, baik, dan suka olahraga. Aku ingin sekali berkenalan dengannya, tapi aku malu. (hal. 42)

Ternyata pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya Desty memiliki kesempatan untuk berkenalan langsung. Kisah berjumlah tiga halaman ini berakhir manis sekali untuk mereka berdua. Saya pribadi sedikit agak-agak kurang sreg dengan cerita ini sih. Secara umum semua cerita di buku ini menarik. Tentang dunia anak-anak, ditulis oleh anak-anak, dan ditujukan untuk pembaca anak-anak. Beberapa cerita juga mengandung pesan moral yang sangat baik bagi anak-anak. Selain itu terdapat ilustrasi yang mendukung inti setiap kisah yang disuguhkan.

Namun yang saya sayangkan, tata letak atau layout tulisan benar-benar menjengkelkan. Margin kanan tidak rata. Saya gemes pengen ngasih tau editor buku ini untuk mengaktifkan teks rata kanan-kiri alias justify di Microsoft Word. Bukannya apa-apa, tapi buku ini jadi terkesan terburu-buru diterbitkan gara-gara layout yang berantakan.

Dari segi cerita, biasa saja sih. Untuk ukuran seorang anak usia sekolah dasar (saat itu), sudah bagus bisa membangun imajinasi dan menulis cerita seperti ini. Namun sebagai pembaca yang sudah dewasa tua, saya merasa terkadang penjelasan mengenai tokoh, setting, ataupun plot masih sangat kurang. Jadi saya sering menemukan plot hole dimana-mana.

Oh iya, kisah berjudul “Perkenalanku dengan Dony” yang saya singgung diatas sebenermya gak begitu saya sukai jika dibaca anak-anak. Soalnya bercerita tentang seorang gadis berusia sepuluh tahun yang naksir kepada temennya sendiri (meski tidak eksplisit). Saya pikir itu terlalu dini banget. Usia segitu harusnya belajar yang rajin dan ngerjain PR, gak usah mikir naksir-naksiran. But anyway, buku ini cocok dibaca siapa saja kok hehe.

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus

Kanza Si Gadis Berkuda

coverkanza

Judul: Kanza Si Gadis Berkuda

Penulis: Saiman Ian Mahesa

Penerbit: Studia Press

Jumlah Halaman: iv + 76

Terbit Perdana: Februari 2002

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Februari 2002

cooltext1660180343

Nama saya yang sebenarnya, Saiman. Nama tambahan Ian Mahesa. Kalau dipanjangin jadi Saiman Ian Mahesa. Nah, kalau untuk tulisan fiksi saya sering memakai nama komplit, tapi tak jarang Cuma tertulis Ian Mahesa saja atau Saiman saja. Kata orang tua sih, saya lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, tanggal 3 Agustus 1966. Dalam catatan buku harian, ternyata saya hobi nulis sejak mulai bisa membaca.

Mulanya nulis bahan-bahan belanjaan, kalau disuruh ke pasr oleh Ibu. Terus nulis puisi untuk dibaca sendiri. Tulisan lain, bertebaran pada Majalah Dinding Sekolah. Pokoknya, kalau perlu seluruh majalah dinding berisi tulisan saya saja…soalnya yang lain pada nggak mau ngisi. Lantaran nulis di mading memang nggak ada honornya… sejak SMA sudah menulis di HAI, untuk liputan kegiatan sekolah. Tahun 1990-1997 bekerja sebagai Wartawan Majalah HumOr.

Selain jadi wartawan, saya juga getol nulis naskah komedi, terutama untuk acara Bagito Show di RCTI. Kemudian juga bikin naskah untuk NGELABA Patrio di TPI. Cerpen dan cerbung saya sudah tak terhitung. Tersebar diberbagai majalah remaja, antara lain; Anita Cemerlang, Warta Pramuka, Kawanku. Nah, kalau menulis untuk anak-anak, saya baru mulai tahun 1998, untuk BOBO, INA, dan ORBIT. Khusus di ORBIT saya membuat cerita bersambung “KANZA SI GADIS BERKUDA.” Yang sekarang bukunya sedang kalian baca ini. O-ya, sebelumnya saya sudah membuat 3 novel remaja (serial IGO) yang diterbitkan oleh ELEXMEDIA KOMPUTINDO. Sekarang saya bekerja di Indosiar Visual Mandiri (INDOSIAR), bagian Scriptwriter Drama. Yang terpenting, ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti. Semoga…

cooltext1660176395

Apa jadinya sebuah cerita bersambung (cerbung) dalam sebuah majalah anak-anak diangkat menjadi novel? Hal inilah yang dialami cerbung hasil karya Saiman Ian Mahesa. Kanza Si Gadis Berkuda sesungguhnya merupakan cerita bersambung mingguan di majalah ORBIT. Kemudian suatu hari cerbung tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh dan menjadi buku.

Kisah bermula dari sebuah arena pacuan kuda mini (yang entah berada dimana), dimana sedang berlangsung turnamen pacuan lima ekor kuda. Kuda pertama hingga keempat telah melaju kencang meninggalkan kuda kelima yang melenggang santai. Joki sang kuda ini tentu saja kesal bukan main ketika tertinggal satu putaran. Namun entah kenapa, tiba-tiba kuda bernama Jaranda ini bisa melesat dan mendahului kuda yang lain sehingga menjadi juara pertama.

Tubuh Jaranda melesat bagai anak panah yang diluncurkan dari busurnya. Begitu cepat. Sampai sang joki menjerit-jerit. (hal. 4)

Ternyata hal ini karena kendali remote control seseorang bernama Profesor Tantan. Ia telah mengubah Jaranda dari kuda pacuan biasa menjadi kuda super. Namun hal ini membuat sang penjahat kelas kakap bernama Jack Boban berusaha membeli Jaranda meskipun Profesor Tantan tak menyetujuinya.

Karena terdesak, Jaranda kabur melarikan diri hingga sapai di kaki Gunung Gede, Jawa Barat. Ketiga anak buah Jack yang mengejarnya pun semakin bernafsu menangkap kuda itu. Namun naas, pertolongan gadis bernama Kanza membuat ketiganya lari tunggang-langgang. Bersama kedua orang tuanya, Kanza mencoba merawat kuda itu alih-alih menyerahkan kepada ketiga penjahat tadi.

“Kenapa kaki belakang kuda itu keras sekali. Tidak ada unsur daging di dalamnya. Lalu kenapa pula ada jahitan di luarnya….” (hal. 47)

Ternyata tak dinyana, ketiga penjahat (yang bernama Junoro, Dulpon, dan Ludri) datang kembali bermaksud mengambil Jaranda. Tentu saja terjadi pertarungan sengit ketiga penjahat melawan Jaranda dan Kanza dibantu sang ayah, Pak Rusli Amin. Bagaimanakah nasib Jaranda selanjutnya? Apa rahasia yang ia sembunyikan? Apa pula keuntungan bagi Kanza?

Pada dasarnya, ide yang diangkat dalam buku ini cukup menarik. Tentang kuda super yang bisa menjuarai pacuan kuda dengan mudah. Daya tarik humor paling menonjol adalah dialog antara Junoro, Dulpon, dan Ludri yang kocak. Selain kedua hal tersebut, saya bisa katakan tidak ada yang membekas di benak.

Di sampul belakang, saya sama sekali tidak bisa menemukan inti cerita. Malah profil penulis yang dituliskan. Di awal cerita, saya sungguh bingung dimanakah lokasi pacuan kuda. Karena kemudian tiba-tiba Jaranda berlari hingga kaki Gunung Gede. Tidak ada penjelasan diawal.

Lantas, sebagai cerita untuk anak-anak, banyak sekali hal yang tidak patut di buku ini. Misalnya adalah umpatan dan makian Jack Boban yang bertebaran serta kekerasan yang disajikan ketika bertarung. Entah kenapa, saya juga sangat terganggu dengan penyebutan bapak Kanza, bernama Pak Rusli Amin. Kenapa penyebutan nama beliau harus diulang-ulang dengan “Pak Rusli Amin”?? Apakah tidak cukup dengan “Pak Rusli” saja. Kemudian pemberian nama tokoh yang tidak tepat. Saya rasa joki yang sempat berdialog lebih pantas diberi nama (daripada disebut joki satu, dua, tiga, dst) dibanding nama peternak kuda yang muncul sedetik dalam cerita saja tidak.

Berbagai kata tidak baku juga menghiasi buku ini. Membuat saya jengah membacanya. Misalnya “ngejoprak” dan “semaput”. Saya pikir kata tersebut belum diserap dalam KBBI. Sebenarnya alur cerita mengalir lancar. Tapi saking lancarnya jadi kayak arus deras. Berbagai hal terasa sekilas, bahkan tidak dijelaskan asal-usulnya.

Akhir yang terburu-buru dan menggantung (dan sangat ajaib) adalah kekurangan fatal cerita ini menurut saya. Sebaiknya bisa diselesaikan secara realistis dan masuk akal. Oh iya by the way, *SPOILER* kalau hanya kaki Jaranda yang dikendalikan, bagaimana mungkin organ tubuh yang lain juga ikut menuruti perintah? Ah saya tak mengerti maksud penulis buku ini bagaimana.

Penilaian Akhir:

goodreads-badge-add-plus

Maju Iyus Pantang Mundur!

coveriyus

Judul: Maju Iyus Pantang Mundur!

Penulis: Boim Lebon

Penerbit: Lingkar Pena Kreativa

Jumlah Halaman: xxv + 134 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9799793651162

cooltext1660180343

Masa SMA? Saya terpaksa harus jujur, bahwa saya tidak pernah sampai duduk di bangku SMA apalagi punya ijazah SMA. Dan saya merasa lebih sedih lagi tidak pernah punya kenangan manis dengan teman sekelas, apalagi jatuh cinta pada teman sekelas! … karena saya sekolah di STM, muridnya cowok semua! – Dedi “Mi’ing” Gumelar, pelawak dan presenter

Waktu SMA saya rajin belajar. Tapi jarang masuk sekolah, karena saya belajarnya di luar sekolah, yaitu belajar bilyard. Menurut saya itu positif karena selain bisa bilyard juga bisa bercanda. Sampai sekarang candaannya jadi duit. – Komenk, pelawak

Dulu saya aktif di organisasi. Pernah ditampar guru pake kamus bahasa Inggris yang tebeeel, setebel muka saya sekarang kalau tampil di publik. – Mucle Bendio, pelawak

Bosen sama bacaan biasa? Pengen yang istimewa dan bikin ketawa? Udah, gebet aja buku baru Boim Lebon ini. Cerita dunia SMA-nya seru dan lucu abiz. Kamu juga bisa nostalgia lho!

cooltext1660176395

Selain serial Lupus, ternyata saya baru tahu Boim Lebon juga aktif menulis hingga menghasilkan berbagai buku. Salah satunya adalah buku berjudul “Maju Iyus Pantang Mundur!” ini. Meskipun tetap mengusung tema komedi, di buku ini Boim Lebon memberi sentuhan islami dan remaja (khususnya usia SMA) pada semua kisahnya. Terdapat sembilan cerita yang terdapat di buku ini. Semuanya bagus kok. Tapi saya akan membeberkan dua favorit saja ya.

Kisah berjudul “Trio Bebek” sebagai pembuka sungguh mengesankan bagi saya. Alkisah terdapat tiga orang pengurus mading sekolah di SMA Mandiri bernama Andra, Gugun, dan Boy. Dikatakan “bebek” dikarenakan mereka cenderung “cerewet” lewat tulisan yang mereka buat dalam menyikapi sebuah situasi dan kondusif yang tidak kondusif.

Di lapangan Senayan sejak pagi sampai sore tadi tidak ada pertandingan bola sama sekali. Hingga tak ada satu gol pun tercipta. Di sana juga tak terlihat wasit yang sibuk dengan peluitnya. Pedagang asongan jugatak ada. Penonton sepi. Mobil-mobil sepi. (hal. 3)

Sungguh kurang kerjaan bener trio bebek ini bikin berita tidak penting kayak gitu. Tetapi justru itulah yang membuat mading mereka laris manis dibaca seantero sekolah. Namun semua berubah ketika negara api menyerang secara tidak langsung mereka berkenalan dengan Nurhaliza, sang wakil ketua rohis sekolah. Yah layaknya anak muda, mereka terpikat dan saling berkompetisi dengan mengirim tulisan ke media cetak yang berbeda. Hasilnya sungguh mengejutkan yang bikin saya jadi ketawa.

Ada lagi kisah berjudul “Menuju Puncak Banget” yang memiliki tokoh utama bernama Komala. Sekilas judul cerita ini seperti judul jingle sebuah ajang pencarian bakat di televisi sepuluh tahun silam. Diceritakan Komala (yang kemudian dipanggil Mala) sedang mengikuti sebuah ajang pencarian bakat bernama Multi Talent Cup (entah ini kontes atau lomba sepak bola).

“Para anak muda itu sudah melupakan akar budayanya sendiri,” kata Mala setelah berhasil mendapatkan jalan keluar untuk penampilannya. (hal 38)

Benar saja, Mala menghadiri kontes tersebut dengan mengenakan pakaian yang sangat berbeda dengan seluruh peserta yang lain. Hal ini membuat juri menjadi terpukau dan memberi nilai tambah. Lantas apakah Mala lolos sebagai kontestan di ajang tersebut? Ternyata sungguh diluar dugaan Mala tentang hasil yang ia dapatkan.

Secara umum setiap kisah di buku ini memiliki keunikan masing-masing. Tetapi setiap cerita ada benang merah yaitu remaja dan islami. Selayaknya kisah islami pada umumnya, semua kisah di buku ini berujung *SPOILER* happy ending atau paling tidak ada akhir yang masuk akal. Tema islami yang disuguhkan juga membuat saya menemukan kesamaan pada mayoritas tokoh wanita di buku ini, yaitu berjilbab, santun, lemah lembut, namun tegas dan mandiri. Sungguh kombinasi ideal calon istri saya perempuan yang sesungguhnya.

Kekurangan yang saya rasakan ketika membaca buku ini adalah beberapa cerita ada yang ending-nya gantung. Jadi kesel gara-gara penasaran bagaimana akhirnya. Menurut saya itu cukup fatal untuk ukuran sebuah kumpulan cerpen. Seharusnya hakikat sebuah cerpen itu harus memiliki akhir atau end of story yang jelas, entah itu happy atau unhappy ending. Kalau akhirnya gantung sih, mending jadi cerbung di majalah aja. Oh iya cerita “Maju Iyus Pantang Mundur!” malah kurang begitu melekat dalam pikiran saya. Padahal judul itu tersaji dalam cover. Entah kenapa. Buku ini cocok dibaca mulai remaja hingga dewasa. Karena tema yang diangkat adalah problema remaja, terlebih dengan nuansa islami yang kental, bisa membuat para remaja pembaca menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Sekayu

coversekayu

Judul: Sekayu

Seri: Cerita Kenangan Nh. Dini #4

Penulis: Nh. Dini

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 184

Terbit Perdana: Januari 1988

ISBN: 9789794034118

cooltext1660180343

“Alangkah sukar serta tidak enak menjadi anak-anak, karena semua dilarang, segala sesuatu tidak bisa diperbuat,” demikian Dini remaja mengeluh. Dini tidak mau lagi disebut anak-anak. Ia sudah berada di ambang kedewasaan. Ia mau agar orang memperlakukan dirinya seperti orang dewasa: orang yang berhak dan bisa berbuat sekehendak hati.

Dalam Sekayu dikisahkan bagaimana Dini (yang telah memasuki dunia remaja) melihat segala persoalan di sekitar rumah tangga, teman, dan kotanya. Juga dikisahkan rasa kesepian Dini setelah ditinggal oleh ayah tercinta, disusul dengan cinta remajanya yang sepihak, dan perkawinan kakaknya. Semua dikisahkannya dengan manis dan tidak membosankan. Buku ini adalah buku keempat dari seri “cerita kenangan” Nh. Dini.

cooltext1660176395

Nh. Dini bukanlah orang baru dalam dunia tulis-menulis di Indonesia. Berbagai karya telah ia hasilkan. Novel ini mengajak pembaca apabila ingin melihat seseorang yang masih beranjak dewasa menyikapi hal-hal di sekitarnya dengan positif. Karena meskipun terdapat berbagai masalah, bukan alasan untuk larut dalam kesedihan. Dengan penulisan yang teliti, jujur dan halus, pengalaman pribadi pengarang ini merupakan salah satu sumber daya ciptanya yang subur di kemudian hari.

Cerita dibuka dengan kematian ayah dari tokoh utama bernama Sri Hardini. Kematian kepala keluarga yang dikasihinya membuat ia bagai kehilangan kehidupannya. Namun nasi telah menjadi bubur. Tak mungkin ia bisa menghidupkan ayahnya kembali, meskipun segala kenangan tentang ayahnya, dari menonton wayang, bermain, sampai melihat perayaan di alun-alun kota sering menghuni pikirannya.

“Alangkah sukar serta tidak enak menjadi anak-anak, karena semua dilarang, segala sesuatu tidak bisa diperbuat. (hal. 14)

Sebagai anak bungsu, Hardini hanya bisa diam mendapati kakak-kakaknya akan meneruskan sekolah dan meninggalkannya dengan sang ibu dan seorang kakaknya. Dini tidak mau lagi disebut anak-anak. Ia sudah berada di ambang kedewasaan. Ia mau agar orang memperlakukan dirinya seperti orang dewasa: orang yang berhak dan bisa berbuat sekehendak hati. Heratih sebagai anak sulung telah berkeluarga dan menetap di kota lain dengan suaminya Utono. Hanya sesekali saja ia menengok ibu dan Hardini.

Anak kedua, Maryam, yang masih mengecap bangku kuliah, sering pulang pergi dari kota tempat tinggalnya ke Gadjah Mada Jogjakarta. Lain halnya dengan si tengah, Nugroho, ia masih duduk di bangku SMU yang masih awam dengan kehidupan berumahtangga. Kemudian ada Teguh, adik Heratih, Maryam, dan Nugroho sekaligus kakah Hardini. Entah kenapa, ia selalu terlibat cekcok dengan Nugroho. Meskipun itu adalah hal yang sepele.

Dalam bidang karang-mengarang, pintu keluar pertama bagiku ialah siaran-siaran di RRI. (hal. 15)

Hardini yang hobi membaca dan menulis, akhirnya memberanikan diri untuk mengirimkan tulisannya ke radio RRI Yogjakarta. Pucuk dicinta ulam tiba, tulisannya yang berupa cerpen dan sajak, sering mengisi saluran sandiwara di radio tersebut. Namun permasalahan datang saat ia mengenal yang namanya cinta. Saat di Sekolah Rakyat (kini disebut Sekolah Dasar), ia mendengar kabar bahwa ada seorang anak laki-laki yang menaruh perhatian padanya. Tapi, ia tak ingin konsentrasinya bersekolah terganggu dengan gosip itu.

Setelah lulus dan meneruskan di SMP, ia mulai merasakan getaran cinta pada seseorang bernama Digar. Namun, apa daya, ternyata cinta itu bertepuk sebelah tangan. Meskipun Digar sangat perhatian padanya, Digar telah memilih orang lain yang hinggap di hatinya. Adik Digar, Marso, yang notabene adalah cowok idola di sekolahnya, mulai mendekati Hardini. Namun Hardini (yang lambat laun dipanggil Dini), tak menghiraukan perhatian Marso kepadanya.

Di SMA, ia kembali mengalami cinta sepihak dengan guru pemberantas buta huruf di desanya. Meskipun sang guru yang masih muda ini, Pak Yanto sangat menaruh perhatian terhadapnya, Dini hanya bisa menghindarinya kapanpun ia sempat. Lantas, ia jatuh hati kepada salah seorang pemain drama pada perkumpulan karawitan yang diikutinya. Namun apa daya, Dini hanya dianggap adik semata oleh Mas Nur, sang pujaan hati Dini.

Persoalan di rumahnya tidak begitu berat. Karena uang honorarium dari radio itu telah mampu mencukupi sebagian kebutuhannya. Sehingga ia tak perlu meminta tambahan uang pada ibunya yang telah ditinggal sang ayah. Perlakuan sang ibu pada awalnya adalah menganggap Dini sebagai anak kecil yang lugu dan tak tahu apa-apa. Namu lambat laun, sang ibu mulai terbuka pada Dini yang akhirnya membuat Dini bahagia. Ia pun mulai berkomentar terhadap orang-orang di sekelilingnya. Mulai dari sanak saudaranya, tetangganya, sampai bakal calon pengantin Nugroho dan Maryam. Kesuksesan kedua kakaknya dalam percintaan sampai ke pelaminan tidak menurun pada Dini. Ia seringkali mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun ia hanya bisa diam dan merenungi segala hal yang mengisi hari-harinya.

Bahasa yang digunakan penulis dalam novel ini adalah bahasa yang singkat dan mudah dimengerti. Selain itu, penulis mampu menghadirkan suasana tradisional namun peduli dengan perkembangan jaman dengan bahasanya. Bahasa yang seolah menasehati namun tidak menggurui membuat kita dapat menangkap pesan moral yang tersirat di dalamnya. Permasalahan Dini di sekolah, rumah, tempat karawitan, hingga masalah percintaannya cukup menarik untuk diikuti.

Namun sayangnya, meskipun bahasa di novel ini tidak terlalu kaku, banyak terdapat istilah-istilah kedaerahan yang kurang dimengerti. Selain itu, banyak pula istilah-istilah yang artinya terdapat pada novel yang lebih dahulu terbit. Hal ini akhirnya membuat pembaca yang belum pernah membaca karya Nh. Dini yang lain menjadi bingung. Alur yang maju membuat kita nyaman membacanya. Tetapi seringkali terdapat cerita yang menceritakan masa lalu (flashback), yang mungkin membuat sebagian pembaca agak kesulitan saat kembali ke cerita utama. Namun secara keseluruhan, novel ini sanggup membuat pembaca ingin mengetahui akhir ceritanya. Novel ini tentu sangat berharga bagi peminat sastra.  Novel ini teramat sayang apabila dilewatkan begitu saja.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Pingsan Together

coverlupusk

Judul: Pingsan Together

Seri: Lupus Kecil

Penulis: Hilman Hariwijaya & Boim Lebon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 112 halaman

Terbit Perdana: Oktober 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Oktober 2003

ISBN: 9789792205136

cooltext1660180343

Mami dan Papi ketiban sial. Mami ditipu dua laki-laki yang mengaku tukang servis jok. Dan yang bikin kesel, Papi juga ditipu dua lelaki yang menipu Mami itu. Keluarga Lupus kompak pingsan sama-sama alias pingsan together!

Dalam buku ini juga ada cerita-cerita menarik lainnya, seperti cerita tentang Lulu yang nyaris hilang terbawa bus, atau tentang Lupus yang mau kabur dari rumah, dan masih banyak lagi!

Yang jelas, di setiap cerita selalu ada tebakan konyol dan… ada bonus dahsyatnya, yaitu kom…mik! Seru deh pokoknya!

cooltext1660176395

Ini merupakan buku seri Lupus kecil yang pertama dan satu-satunya yang saya miliki. Dalam buku ini terdapat sepuluh cerita yang memiliki keunikan masing-masing. Cerita yang paling menarik bagi saya adalah “Kerja di Hari Minggu? Oh, No!”.

Jadi dalam cerita ini, entah kenapa tiba-tiba Mami memberikan titah kepada Lupus dan Lulu untuk membereskan rumah. Kebetulan itu adalah hari Minggu. Tentu saja Lupus dan Lulu (yang berstatus anak kecil nan imut) ngomel-ngomel karena tak rela hari libur mereka terganggu.

 ”Nah, ini yang belum kami ngerti. Maksudnya beres-beres rumah itu gimana? Soalnya rumah kita ini kelihatannya beres-beres aja, tidak kurang suatu apa,” tanya Lupus bergaya pejabat. (hal. 23)

Tentu saja Mami memiliki jawaban jitu (dan iming-iming imbalan) bagi kedua anaknya agar bersedia membantu dalam rangka kebersihan rumah. Apakah hanya segitu saja? Tentu tidak. Meski awalnya berjalan cukup lancar, lambat laun hari bersih-bersih itu menjadi malapetaka dan berujung membuat Papi murka.

Cerita yang sangat menghibur juga bisa ditemukan pada kisah “Pingsan Together” yang merupakan judul di bagian cover. Sebenarnya cerita ini bersambung dengan kisah berjudul “Memburu Mobil yang Hilang”. Sesuai yang dicantumkan pada blurb diatas, sepertinya keluarga Lupus sedang tertimpa cobaan berat. Mulai dari Mami yang ditipu tukang servis jok hingga Papi yang mobilnya hilang dicuri. Apesnya lagi, penipu Mami dan pencuri mobil Papi adalah orang yang sama. Tentu saja hal ini membuat uang simpanan mereka menipis. Padahal Lupus & Lulu sudah dijanjikan piknik.

“Tenang.. Tenang…,” Papi masih berusaha menenangkan. “Kita semua akan tenang, karena sebentar lagi kita pasti… Pingsan together…” (hal. 63)

Alih-alih lapor polisi, mereka sekeluarga pergi ke dukun demi menemukan sang pelaku. Hal ini dikarenakan STNK mobil Papi sudah kadaluwarsa. Takutnya disita polisi kalo ketahuan. Di tempat dukun itupun juga tidak terlepas dari kekonyolan yang dialami hingga akhirnya pulang dengan sebuah jawaban mengejutkan atas permasalahan mereka.

Lupus merupakan buah karya kolaborasi Hilman Hariwijaya & Boim Lebon. Seri Lupus sempat melejit dan digandrungi remaja pada tahun 90-an. Bahkan sampai muncul serial televisinya juga. Saya pribadi tidak tahu tentang bekennya Lupus, karena saya masih usia SD saat itu (dan anggapan Lupus adalah nama penyakit membuat saya tidak peduli).

Di buku ini, Lupus kecil digambarkan sebagai anak yang suka main tebak-tebakan. Entah mengapa kebiasaan ini dimunculkan sebagai hobi Lupus. Eh adiknya, Lulu, juga demen main tebakan juga. Jadi sangat lumayan saya bisa menemukan berbagai tebakan menarik dalam sepuluh kisah yang disajikan. Selain itu, konflik yang disuguhkan setiap cerita sungguh sederhana sehingga mudah dimengerti. Penyelesaian dan pesan moral setiap cerita bisa dipetik untuk segala usia.

Meskipun tebakannya sangat banyak, saya rasa hal ini menjadi bumerang bagi jalannya cerita itu sendiri. Karena saya rasa beberapa tebakan terkesan dipaksakan untuk masuk dalam cerita, alih-alih mendukung kisah yang disajikan. Selain itu, karena buku ini terbit akhir 2003 membuatnya seolah-olah (memang) jadul sehingga ketika saya membacanya di masa kini menjadi “aneh dan kuno” karena perbedaan kebiasaan.

Satu lagi yang menurut saya kelemahan buku ini adalah kurangnya eksplorasi tokoh dan penokohan. Hampir pasti di setiap cerita hanya berkutat pada Lupus, Lulu, Mami, dan Papi. Selang-seling sampai bosen. Memang sih saya tau mereka adalah tokoh utama. Tapi saya rasa menghadirkan keempat tokoh terus-terusan malah jadi membosankan. Padahal tokoh lain juga bisa dijelaskan secara menarik, misalnya teman-teman Lupus atau tetangga Mami.

Secara umum, pantas saja kisah Lupus Kecil bisa dijadikan bacaan mendidik bagi anak-anak. Selain itu, setiap cerita ada bosmik alias bonus sisipan komik dua halaman sehingga membuat pembaca mudah menggambarkan situasi cerita yang didominasi teks. Anak-anak bisa menangkap maksud setiap cerita dengan mudah karena permasalahan yang diangkat sangat bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Telepon Umum & Kecoak Nungging

coverlupusa

Judul: Telepon Umum & Kecoak Nungging

Seri: Lupus ABG

Penulis: Hilman Hariwijaya & Boim Lebon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 96 halaman

Terbit Perdana: Oktober 1999

Kepemilikan: Cetakan Keempat, September 2004

ISBN: 9789796554194

cooltext1660180343

Lupus jail!

Semua orang tau!

Lupus usil!

Semua orang ngerti!

Lupus centil!

Semua orang juga, eh, enggak ding!

Gara-gara ber-ail-ria dengan kecoak nungging, si Lupus bisa mesra ama Prudence!

“Cayangku, kamu tau nggak hewan bersel satu?”

“Amuba, honey.”

“Kalo hewan bersel banyak?”

“Enggak tau, tuh.”

“Amuba lagi kampanye! Hehehe!”

Tapi gara-gara kecoak nungging itu ngedatenya juga jadi berantakan!

Apa istimewanya kecoak nungging itu, kok bisa-bisanya bikin Lupus senang sekaligus sengsara? Pengen tau? Baca aja!

cooltext1660176395

Lupus sekarang sudah ABG alias Anak Baru Galau *eh. Maksudnya Anak Baru Gede, atau bahasa resminya sih Remaja. Ketika masih remaja, saya teringat dengan perilaku seenaknya sendiri dan semau gue, tapi tak jarang menimbulkan penyesalan ataupun malapetaka. Kalo istilah jaman sekarang sih, ababil kali ya. Begitu pula yang dialami oleh Lupus.

Di buku ini ada delapan cerita mengenai kehidupan Lupus yang beranjak remaja. Mulai dari mengenal cinta-cintaan, pacaran, pergaulan diluar sekolah, dan sebagainya. Dari sekian kisah tersebut, saya suka dengan cerita berjudul “Biasa, Tujuh Belasan Lagi”. Cerita ini mengangkat problema Lupus yang tergabung dengan Karang Taruna kompleks rumahnya. Lupus dan anak muda sekompleks berencana mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia (aduh jadi kangen masa-masa di karang taruna desa saya dulu).

Tetapi masalahnya, selain anak muda, bapak-bapak dan ibu-ibu komplek rumah Lupus juga mengadakan acara peringatan kemerdekaan pula. Otomatis dana yang diperoleh Lupus cs jadi berkurang. Lha donaturnya sibuk bikin acara juga. Bukan Lupus namanya jika tidak kreatif. Ia sukses menemukan ide untuk sokongan dana sebagai bekal acara itu. Meski dengan pinjaman Bang Aziz, sang ketua Karang Taruna. Namun akhirnya malah menemui hal yang sangat menyedihkan bagi Lupus, Bang Aziz, dan anggotanya yang lain.

“Itu juga betul. Tapi, Pus, kamu tau kan kalo pahlawan-pahlawan kita berkorban tanpa pamrih. Mereka rela mengorbankan segala-galanya, dari mulai uang, tenaga, pikiran, ya semuanya dikorbankan demi kemerdekaan bangsa kita. Coba kamu bandingkan dengan pengorbanan kita ini. Nggak ada apa-apanya, kan?” (hal. 43) 

Bagus banget gak sih kata-katanya Bang Aziz itu. Saya sendiri merasa tersindir juga karena kurang (bahkan tidak) bisa menghargai pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Selain kisah diatas, yang menurut saya menarik adalah cerita berjudul “Tamu Tak Diundang Itu Bernama Dadang”. Kisah ini terdiri dari dua bagian yang sekaligus menjadi penutup rangkaian kisah di buku ini. Membaca istilah tamu tak diundang, saya langsung teringat sejenis-setan-yang-kamu-pasti-sudah-tau. Tetapi perkiraan saya meleset sodara-sodara.

Jadi, Dadang itu adalah teman Mami waktu masih SMA dulu. Atau lebih tepatnya mungkin adalah kekasih Mami ketika SMA. Nah, si Dadang ini tiba-tiba muncul di depan rumah Mami setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar. Tentu saja Mami kaget sekaligus senang bisa bertemu dengan cinta masa lalunya *ahem CLBK ni yee*.

Hal ini membuat Papi menjadi jealous. Ya iya lah, suami mana yang gak cemburu coba. Jadi Papi berusaha dengan keras mencari tahu hubungan Mami dan Dadang itu. Yah siapa tau tiba-tiba ada sesuatu yang dirahasiakan. Saya suka dengan kata-kata Papi di akhir cerita ini. Sangat makjleb banget.

“Ya, sebetulnya Papi ngerti kalo Mami sedang berada dalam sebuah kenangan manis. Tapi yang namanya kenangan hanya boleh diingat-ingat aja, nggak usah berharap kenangan itu menjadi nyata lagi.” (hal. 84)

Seperti seri Lupus Kecil, buku ini masih mempertahankan hobi Lupus (dan Lulu) yaitu bermain tebakan. Setiap cerita ada aja tebakan yang bisa saya comot ketika ngumpul bareng teman-teman. Kemajuannya, tebakan yang tersaji di buku ini tidak terlalu banyak dan fokus kepada inti cerita. Konflik dan problematika yang disuguhkan sangat dekat dengan kejadian sehari-hari. Sehingga memahami dan menarik kesimpulan juga sangat terbantu.

Selain itu, setiap kisah pasti ada pesan moralnya, atau minimal ada kata-kata mutiara seperti diatas. Sehingga saya rasa kisah tersebut tidak hanya lucu, namun ada goal yang tercapai. Karikatur yang menhiasi setiap cerita (biasanya dua karikatur) membuat proses membaca jadi happy. Soalnya imut sekali gitu lho hehehe. Oh iya, di bagian tengah buku, ada delapan halaman mengenai tips & trik dalam menghadapi masalah sehari-hari. Tentu saja ditulis hanya untuk lucu-lucuan saja.

Sayangnya, edisi perdana tahun 1999 membuat berbagai macam hal di buku ini menjadi ketinggalan jaman. Contohnya adalah kado yang dibeli Lupus untuk Lulu yaitu sebuah pager seharga dua puluh ribu perak. Saya gak tau ya tingkat nilai rupiah jaman itu seperti apa, tapi hal ini membuat saya jadi berpikir sepertinya buku ini memang untuk generasi om tante saya. Selain itu penyebutan mobil menjadi boil juga sempat membingungkan saya yang tidak mengerti maksudnya. Oh iya, bagaimana dengan cerita “Telepon Umum & Kecoak Nungging” yang tercantum di cover? Sungguh disayangkan, saya sama sekali tidak bisa mengerti kenapa judul cerita itu yang dipilih sebagai headline (selain berada di urutan pertama tentu saja). Karena saya rasa kisah itu justru biasa-biasa saja dan tidak terlalu greget.

Lupus ABG ini menurut saya sangat cocok dibaca bagi segala umur. Karena bahasa yang sangat mudah dipahami dan tidak kaku, serta kelucuan yang dikemukakan juga sesuai dengan jamannya. Sebab meskipun sudah ABG, Lupus masih seorang anak yang baik dan mengutamakan keluarga. Berbeda dengan ABG jaman sekarang yang bertransformasi jadi cabe-cabean dan terong-terongan. *halah malah OOT*

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus